Sunday, March 29, 2015

Tagged under: , , , , , , , , , , , , ,

[Part 2] 2014: 25 Best Movies


I'm back! Setelah break cukup panjang, kini saatnya saya untuk menutup annual list ini dengan rangkuman film-film terbaik dari yang terbaik. Di bagian pertama, kita telah melihat blockbuster seperti X-Men Days of Future Past, Guardians of the Galaxy, hingga Dawn of the Planet of the Apes. Ada pula oscar-nominated films layaknya The Theory of Everything sampai The Imitation Game. Jangan lupakan karya-karya independet alias indie dari Coherence hingga Calvary, dan karya dari tanah Eropa, Force Majeure. Kali ini, akan ada lebih banyak film berbahasa asing (di luar bahasa Inggris), beberapa komedi, tentunya drama, dan juga, lebih banyak thriller (!). Well, here they are!


#12. Ida | Directed by Pawel Pawlikowski | Written by Pawel Pawlikowski and Rebecca Lenkiewicz
Dengan 2 karakter utama yang saling bertolakbelakang di lini depan, penonton diajak menelusuri sebuah perjalanan pencarian identitas diri. Melewati masa lalu, membuka luka lama, dan menentukan masa depan mereka, Ida tak hanya mampu memberikan sebuah kisah pencarian jati diri yang solid, namun juga tak biasa dalam hal penyampaiannya. Tersaji dalam resolusi 3:1, visualnya begitu cantik dan tak biasa, but overall its the mysterious and gloomy atmosphere that haunts the audience. Ida adalah definisi sempurna untuk sesuatu yang cantik namun menyakitkan. Tapi, dari segalanya, ada satu yang sangat perlu untuk di-highlight. Ya, karena untuk menyajikan semua itu, ia hanya butuh waktu yang begitu singkat: 82 menit.



#11. Two Days, One Night (Deux Jours, Une Nuit) | Directed and Written by Jean-Pierre Dardenne and Luc Dardenne
I have never watched a film that felt this real. Ya, ia mengangkat isu vital dengan kisah yang begitu relevan terhadap masa kini. Di title role, ada Marion Cotillard, menampilkan salah satu penampilan terbaik dalam karirnya setelah La Vie en Rose dan Rust and Bone. Ia adalah seorang istri sekaligus ibu yang tengah depresi berat, berusaha bangkit dan mempertahankan apa yang ia miliki. Drama yang memikat dalam kesederhanaan, cukup menyakitkan namun tak pernah meninggalkan human spirit yang film ini bawa. Sebuah komentar sosial luar biasa dan karakter studi kompleks, siapa sangka mampu tersaji dengan begitu baik dalam satu kisah yang amat sederhana?



#10. Nightcrawler | Directed and Written by by Dan Gilroy
Mengulik kisahnya, Nightcrawler bagi saya mengingatkan terhadap sebuah klasik tahun 1976, Network. Mereka sama-sama mengungkit media, orang-orang di baliknya, serta bagaimana kelamnya dunia ini. But well, story wise, keduanya memang benar-benar berbeda. Nightcrawler mengajak penonton menyelami industri gelap di balik media, lewat kepala seorang 'nightcrawler'. Diperankan dengan tanpa cacat oleh Jake Gyllenhaal, he once again shows he’s an actor with a wider range than you expected, and easily brings one of the best villains in years. Gyllenhaal seketika berubah menjadi pria 'menakutkan', morally qustionable, karakter kunci yang membuat siapapun bergidik. Sementara Dan Gilroy, sukses membawa sebuah kisah yang intens, yang tanpa disadari juga trut menghadirkan sebuah satirikal drama ke dalam sajian thriller kelam yang penuh obsesi. Gripping, dark, and chilling, Nightcrawler crawls us with its maximum vivacity.



#9. The Grand Budapest Hotel | Directed by Wes Anderson | Written by Wes Anderson and Hugo Guinness
Datang dari otak seorang Wes Anderson, membuat The Grand Budapest Hotel bukanlah sebuah karya biasa. Masih dengan kemasan quirky yang telah lama menjadi style sang sineas, The Grand Budapest Hotel adalah komedi yang segar, benar-benar berbeda dari komedi yang marak saat ini. Menontonnya seperti berada di plante yang benar-benar berbeda, visualnya eye candy dan imajinasinya tingkat tinggi. Dramanya penuh cinta dan memikat sekalipun sederhana, dengan humor offbeat, menarik, nonsense, serta karakter-karakter eksentrik yang mudah dicintai, The Grand Budapest Hotel is a whole new level on comedy: a genius work without trying too much to be one.



#8. Under the Skin | Directed by Jonathan Glazer | Written by Walter Campbell and Jonathan Glazer
Under the Skin mungkin merupakan tipe film that you either love it or hate it. It's segmented, yes, namun tentu ia tidak segmented dalam bagaimana cara seorang Jonathan Glazer mengemas Under the Skin. Didasari novel berjudul sama, Glazer berhasil menjadikan Under the Skin sebagai adaptasi lain dari yang lain. Mengadaptasi premis novelnya, kemudian sisanya adalah kemampuan Glazer. Ia mengambil banyak influens dari para filmmaker berpengaruh dunia seperti Stanley Kubrick hingga david Lynch, dan hasilnya, sebuah kisah yang tak biasa, dingin, haunting, yet effective. Anyway, let's talk about Scarlett Johansson's mesmerizing performance. Seduktif, misterius, she's the real definition of femme fatale. Easily her best performance yet. Dengan performa maksimal dari Glazer maupun Johansson, Under the Skin takes alien invasion themed films to another level. Clever, boundless, thought provoking, while beautifully done and precisely made, Under the Skin is a timeless masterpiece.



#7. Gone Girl | Directed by David Fincher | Written by Gillian Flynn
David Fincher, is surely one of the best filmmaker with a great filmography.  Ya, ia memang punya rapor merah dengan Alien 3, tapi lihat apa yang ia hasilkan setelahnya: Se7en, Fight Club, The Social Network, and now, this. Dengan sang novelis sendiri sebagai penulis naskah, Gone Girl berhasil menjadi salah satu film paling sinting tahun ini. Rosamund Pike berlakon sebagai pemain kunci, the Amazing Amy, misterius sekaligus charming. Membuat penonton bergidik meskipun tak ada yang menyangkal that she is our favorite character of the year. Kisahnya adalah 'romantisme' paling gila tahun ini, dengan penceritaan  maju-mundur, dihiasi banyak kejutan yang mampu memutarbalikkan semuanya. Sementara Fincher membuat Gone Girl begitu kelam, intens, sekaligus membawa Gone Girl at its maximum entertaining point. 'Sakit', penuh ketegangan, dan kejutan, there is no way that we're going to ignore this another Fincher's masterwork.



#6. Interstellar | Directed by Christopher Nolan | Written by Jonathan Nolan and Christopher Nolan
It might not be his best work ever, but Nolan's not-really-his-best-work is everyone's best. Mungkin saya terlalu melebih-lebihkan, tapi Interstellar memang merupakan karya yang serba 'grande' dari segala sisi: kisahnya non-linear dengan tema yang butuh banyak pemikiran, cast-nya bertabur bintang, sisi teknikal yang luar biasa megah dari visual hingga musik. Ya, Interstellar adalah rangkaian goosebumps dari awal hingga akhir. It's not on his Dark Knight level, tapi setidaknya, Nolan kembali dengan comeback yang memukau. Tunggu sampai ia mengeluarkan amunisi pada penghujungnya, rangkaian musik menggetarkan, visual fantastis, dan lapis demi lapis twist mengejutkan sekaligus emosional. And, yes, it's not even his strongest work.



#5. Winter Sleep (Kis Uykusu) | Directed by Nuri Bilge Ceylan | Written by Ebru Ceylan and Nuri Bilge Ceylan
Cannes got it right. Layaknya pemenang tahun lalu, Palme d'Or tahun ini lagi-lagi jatuh di tangan film berdurasi 3 jam. Tapi, menonton Winter Sleep, film asal Turki ini nyatanya bukanlah pengalaman melelahkan. It's simple yet effective in execution, but you can never take the subtle subject in a simplest way. Winter Sleep adalah tipe film 'cerewet', ia memaparkan banyak dialog, dan intensitas film terbangun akan perang argumen, di mana anda terhipnotis dan larut dalam tiap argumen, menyelami isi kepala tiap karakter lewat apa yang keluar dari mulut mereka. Melalui karakter-karakter ini pula, sutradara mengajak penonton untuk melebarkan perspektif mereka, menelusuri dunia mereka yang merupakan miniatur dari sistem kesenjangan sosial.  It's a talking pictures, a talkative one but somehow feels very quite, provokes mind with its very clever subject while giving audience one of the best cinematic journey they've ever had.



#4. Selma | Directed by Ava DuVernay | Written by Paul Webb
Lima menit pertamanya will definitely leave you speechless, and actually, so is the rest. Mengangkat kisah salah satu orator sekaligus pahlawan paling berpengaruh di dunia, Selma mengangkat kisah Martin Luther King Jr. dengan  pengemasan yang tak main-main. Berada di bawah kendali Ava DuVernay, Selma just couldn't go any wrong. Di lini depan, sosok Martin Luther King Jr. yang diperankan oleh David Oyelowo. Berkharisma, penuh spirit, dan berapi-api, Oyelowo is in his finest form. Dalam waktu 127 menit, Selma menyajikan kisah yang emosional sekaligus dramatis, bukan sekedar merekonstruksi kisah, tapi juga menghidupkan kembali kisah, spirit, dan momen-momen bersejarah bagi Amerika, dan mungkin dunia. Perfectly captures every detail, courage, emotion, and spirit, Selma is a biopic at its best.



#3. Whiplash | Directed and Written by Damien Chazelle
This is something that's not really new, but somehow it feels really fresh. Ya, Whiplash adalah sebuah film tentang musik, menelusuri seorang remaja 19 tahun dan obsesinya terhadap drum. Terdengar bukan suatu premis yang menawarkan hal baru,  namun apa yang Damien Chazelle lakukan untuk mengemas Whiplash adalah hal yang menyegarkan. Intens, tapi ini bukanlah sebuah thriller. "Menakutkan", tapi ini juga bukanlah sebuah horor. Chazelle mampu membawa Whiplash menjadi film musik yang membawa genre sejenis pada standar yang tak biasanya. Di sini, kekuatan setiap instrumen nada benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebuah gabungan antara perjalanan sinematik dan permainan musik kelas wahid yang tak ada tandingannya. A pitch perfect.



#2. Boyhood | Directed and Written by Richard Linklater
Boyhood, well, like it says in the title, is about boyhood. Kisahnya sederhana, tapi esensinya kuat, dalam. Dengan kerja keras selama 12 tahun, hasilnya adalah Boyhood, an almost-3-hour vivid-look of everyone's childhood. Waktu 12 tahun pembuatannya bukanlah sekedar gimmick, Linklater mampu membuktikannya lewat bagaimana ia mengemasnya, menyajikan tiap potongan-potongan waktu dengan nilai nostalgianya masing-masing, membuat Boyhood bukan sekedar film tentang tumbuh kembang seorang manusia, tapi ia berhasil mendokumentasikan waktu, menjadikan waktu sebagai bintang utama. Pada akhirnya, Boyhood adalah kisah yang sederhana namun padat dalam isi, monumental, dan esensial. Karya sinematik yang luar biasa.



#1. Birdman | Directed by Alejandro González Iñárritu | Written by Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, and Armando Bo
Birdman mungkin terdengar seperti kisah superhero, well that's not entirely true. Memang ada sedikit tentang itu, tapi apa yang ingin diungkapkan Birdman bukanlah sang superhero, melainkan orang dibaliknya. Ya, ia menelusuri kisah seorang aktor yang ingin kembali mengklaim kejayaan masa lalunya, sembari memberikan humor satir yang menyentuh berbagai isu. Lewat tangan dingin Iñárritu, Birdman berhasil menjadi film paling imajinatif tahun ini, mengaburkan batas antara fantasi dan realita dengan sempurna, dengan career-defining performance dari Michael Keaton dan segala level teknikal yang dihadirkan secara brilian. Some say it's pretentious, while some others say it's too ambitious, well not for me. Selama dua jam, Iñárritu menyajikan dunia teater versinya sendiri lewat perspektif yang kocak, unik, puzzling, surreal, satirikal, sekaligus penuh nilai filosofis. Visually dazzling, narratively imaginative, perfectly casted, and entirely spectacular, Birdman is one of a kind, a tour de force!

_____________________________________________________________________________________________________