Showing posts with label Mocku. Show all posts
Showing posts with label Mocku. Show all posts

Saturday, November 24, 2012

Tagged under: , , , , , , , ,

[Review] End of Watch (2012)

"Behind my badge is a heart like yours. I bleed, I think, I love, and yes, I can be killed." ~ Brian Taylor

Pamor polisi akhir-akhir ini memang sedang tak baik. Begitu pula dengan pamor mockumentary yang kerap dianggap sebelah mata sebagai salah satu kedok untuk mendapatkan keuntungan lebih dari budget rendah. Ya, kamera-kamera seadanya yang lengkap dengan embel-embel yang meyakinkan penonton bahwa film  mocku merupakan film dokumenter nyata ini bagaikan alat kamuflase yang bersembunyi dibalik kata khas strategi marketing, 'untung besar'. Kalau sudah bosan dengan segala film mocku bertema haunted house semacam Paranormal Activity dan antek-anteknya atau exorcism macam The Last Exorcism atau Devil Inside, maka film 'dokumenter jadi-jadian' dari sutradara dan penulis naskah, David Ayer ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Entah apa yang dipikirkan David Ayer hingga akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah film berkisah kehidupan polisi. Mungkin saja di Negeri Paman Sam sana pamor polisi juga sedang menurun (seperti halnya di Indonesia), atau apapun itu alasannya. Yang jelas, meski penggunaan sub-genre ini memang sedang merajalela di berbagai belahan dunia (khusunya Hollywood), tapi tetap saja, film berjudul End of Watch  ini harus diakui sedikit menambah angin segar dalam perjudian mockumentary Hollywood. Mengingat bahwa End of Watch bukanlah tipe film yang menakut-nakuti penonton lewat sudut pandang yang tidak biasanya. Dari genrenya saja, End of Watch juga bukanlah film horor.


Ini semua berawal dari ide Brian Taylor (Jake Gyllenhaal), yang ingin mendokumentasikan kegiatan sehari-harinya sebagai polisi bersama dengan partner kerjanya, Mike Zavala (Michael Peña). Meski keduanya punya banyak perbedaan mencolok seperti Brian yang kaukasoid dan Mike yang berdarah Hispanik, tapi tak menutup keduanya untuk menjalin persahabatan yang erat. Setiap hari, seperti kehidupan polisi biasa, terjadi kejar-kejaran, penembakan, gangster, hingga kejadian kriminal lain. Dari kasus kriminal biasa hingga kasus yang terlampau luar biasa. 

Di sisi lain, polisi tetaplah manusia. Mereka tetaplah punya kehidupan pribadi, dan End of Watch juga mengeruk hal itu. Brian Taylor sendiri sedang menjalin hubungan dengan seorang sarjana hidrolik cair, Janet (Anna Kendrick), sedangakan Mike telah menikah dengan Gabby (Natalie Martinez), yang bahkan sedang menunggu kelahrian anak pertama mereka. Sama seperti Mike dan Brian, Gabby dan Janet juga menjalin hubungan yang sangat baik.


Salah satu faktor mengapa saya menyukai film mockumenter adalah bagaimana David Ayer tak berusaha terlalu keras untuk memperlihatkan bahwa film ini benar-benar nyata seperti film found-footage lain. Dari castnya saja, kita sudah bisa lihat. Ada dua orang yang pernah dinominasikan Oscar, Jake Gyllenhaal dan Anna Kendrick, serta Michael Peña dan America Ferrera yang namanya cukup dikenal di Hollywood. Dan sekali lagi, David Ayer bahkan tak memakai nama asli para aktornya, yah meski memang agak konyol jika membayangkan seorang Jake Gyllenhaal ternyata adalah seorang polisi berkepala plontos dan Anna Kendrick merupakan sarjana hidrolik cair.

Selain itu, End of Watch juga tidak hanya tidak memakai nama asli dari para castnya, film ini juga menawarkan pergerakan kamera yang lain dari biasanya. Tak hanya mengandalkan kamera yang bersudut pandang dari sang kameramen yang kerap shaky, End of Watch juga beberapa kali menampilkan pengambilan sudut gambar dari atas yang menampakkan landscape indah, yang mungkin lebih terasa arahan sinematografer profesional dan bukan arahan asal-asalan.


Tapi, dengan begitu, apakah adil rasanya jika kita memvonis bahwa End of Watch adalah film mocku yang sama sekali tak terasa realistis? Tentu tidak. Kembali lagi, bahwa hal yang dilakukan David Ayer ini adalah yang membuat saya jatuh hati pada End of Watch. Meski dari cast hingga penggunaan kamera tidak berstandar pada formula mocku biasa, namun End of Watch masih dapat tampil realistis, bahkan bisa dibilang lebih terasa realistis ketimbang found-footage yang memakai formula film mocku biasa. 

Hal ini berkat David Ayer yang membuat karakter-karakter dalam film ini lebih humanis dan manusiawi. Meski berkisah tentang polisi yang selalu berhadapan dengan kekerasan yang bahkan bisa terjadi setiap harinya, David Ayer juga menambahkan sisi personal dari kisah kehidupan polisinya ini. Ia menyisipkan sebuah romansa kuat yang tercipta dari hubungan Brian-Janet dan Mike-Gabby. Tak lupa, Ayer juga memberikan hubungan bromance yang tak kalah kuat antara karakter Brian dengan Mike. Selain ada  romansa dan buddy-cop-nya yang manis, End of Watch juga merambah drama yang mengalir dengan begitu emosional.


Meski punya unsur drama yang sangat kuat, End of Watch tentu tak melupakan unsur thrilling yang sebenarnya merupakan hal wajib dalam setiap film berkisah serupa. Bahkan, diawal film saja, kita telah disambut adegan kejar-kejaran super seru yang ditemani narasi dengan monolog cerdas dari Jake Gyleenhaal. Suasana menegangkan ini juga ada dalam setiap adegan tembak-tembakannya. Dalam hal kasus kriminal lain, End of Watch juga menampilkan kasus-kasus tak biasa yang bahkan terasa mengejutkan.

Setiap orang pasti tak akan melupakan sebuah film jika film tersebut diakhiri oleh ending yang benar-benar memorable. Sama halnya dengan End of Watch, di akhir film, David Ayer mempersembahkan sebuah klimaks yang benar-benar menegangkan, berdarah, memacu adrenalin, namun tetap emosional dan sekali lagi, terasa lebih humanis. Ending seru yang melibatkan darah bermuncratan, timah panas yang dapat meluncur dari mana saja, hingga suara tembakan memekakkan telinga yang dapat datang tiba-tiba.


Dalam jajaran aktingnya, Jake Gyllenhall dan Michael Peña dapat menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Mereka dapat menghidupkan setiap sisi seorang polisi, waktu dimana saatnya mereka beraksi, hingga di waktu mana mereka dapat menjadi manusia normal kembali dan melupakan segala pekerjaan berat mereka. Chemistry bromance yang mereka bangun juga mampu berjalan dengan sangat kuat dan tak terlepaskan. 

Jake Gyllenhaal juga mampu menghadirkan chemistry erat dengan Anna Kendrick yang juga mampu menampilkan penampilan yang sama baiknya, meski memang tidaklah sekuat penampilannya dalam Up in the Air. Hal sama juga mampu dihadirkan Michael Peña dan Natalie Martinez yang dapat menghadirkan chemistry solid yang menghasilkan suasana hangat di antara hubungan suami-istri yang begitu harmonis dan bahagia.


Jika kita lebih menilik End of Watch dari sudut yang lebih dalam, maka dapat terlihat bahwa sebenarnya End of Watch punya segala sesuatu yang lebih dari kata-kata kotor dan senjata tajam. Film ini sebenarnya mengangkat makna yang cukup sensitif, yaitu tentang rasisme, namun dengan cerdasnya, David Ayer mampu menyampaikannya secara inplisit lewat pergulatan dua gangster. Ketika End of Watch berakhir, dapat terlihat juga bagaimana arti sebuah persahabatan yang sebenarnya, kisah kesetiaan cinta, dendam, kepedihan, hingga ketragisan. 

End of Watch adalah kisah yang sangat kompleks dalam setiap emosinya. Sebuah drama yang dalam, menyentuh, dan romantis. Sebuah thriller yang memacu adrenalin sekaligus mengundang rasa penasaran. Naskah kuat dengan dialog cerdas, penceritaan yang tak kalah kuat, karakterisasi gemilang, akting dan chemistry solid, seluruhnya telah dimiliki oleh mockumentary ini. Meski memang, gerakan shaky camera membuat sedikit pusing, namun masih dalam kadar dimaafkan, dan sama sekali tak berpengaruh terhadap keseluruhan film. Ini adalah surat cinta dari David Ayer yang menghanyutkan. Salah satu found-footage terbaik yang pernah ada? Sangat mungkin.

8.0/10



Wednesday, September 12, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Keramat (2009)

"Balikin Migi! Gue bilang balikin Migi!" ~ Poppy

Ada banyak film horor produksi Indonesia. Itu pasti. Kebanyakan, hanya mengumbar sensualitas dengan penampakan yang muncul setiap detik. Hasilnya? Tak usah ditanya lagi. Sebaliknya, tidak banyak film yang benar-benar memberikan teror-teror horor yang sebenarnya. Dalam ingatan kita, ada Jelangkung, Pocong 2, hingga horor omnibus macam Takut dengan Dara-nya yang berdarah-darah dan FISFiC dengan Taksi yang sempit dan kelam juga Rumah Babi yang meneror lewat isu diskriminasi ras. Kesemua film itu bisa dibilang merupakan pure horror-nya Indonesia, dan tampaknya, saya harus menambahkan satu film lagi (maklum, saya baru nonton, haha) ke dalam jajaran horor asli Indonesia, Keramat.

Di tahun 2009, sutradara sekaligus screenwriter Monty Tiwa muncul dengan film Keramat-nya. Keramat sendiri mengadaptasi film horor dengan gaya found-footage ala The Blair Witch Project dan Paranormal Activity yang fenomenal itu. Filmnya sendiri dibintangi Poppy Sovia dan sejumlah nama baru seperti Migi Prahita, Miea Kusuma, Sadha Triyudha, Dimas Projosujadi, Diaz Ardiawan, dan Brama Sutasara.


Keramat dimulai dengan interview yang mengenalkan kita pada Migi, pemeran utama di sebuah film berjudul Menari di Atas Angin. Di film itu, ia akan berperan sebagai seorang atlet lari yang kehilangan satu kakinya. Kemudian, kita juga akan dikenalkan pada karakter lain seperti sang sutradara, Miea (Miea Kusuma), asisten sutradara, Sadha (Sadha Triyudha), manajer produksi, Dimas (Dimas Projosujadi), lawan main Migi, Diaz (Diaz Ardiawan), juga kedua kru behind the scene, Poppy (Poppy Sovia) dan Cungkring (Monty Tiwa). Rencananya, mereka semua akan berangkat ke Bantul, Yogyakarta dalam rangka pre-production. Selama pre-production, segala sesuatunya akan direkam untuk behind the scene.

Di Yogyakarta, mereka sempat mengalami beberapa kejadian aneh seperti seseorang yang tiba-tiba mengetuk kaca mobil semari berkata-kata aneh, suara tangisan, hingga cahaya dari bola-bola api. Puncaknya, terjadi saat Migi merasa tidak enak badan. Awalnya, sakitnya seperti sakit pada umumnya, namun suatu saat Migi mulai bertingkah aneh seperti orang yang kerasukan makhluk halus. Mereka pun memutuskan untuk memanggil seorang paranormal. Masalah berhasil di atasi, roh yang mengaku bernama Nyi Pramodawerdani itu akhirnya berhasil dikeluarkan dari tubuh Migi. Masalah belum selesai, ketika sesaat setelah itu, Migi hilang tanpa jejak dibawa "mereka" ke dunianya.


Setahu saya, film dengan gaya found-footage atau mockumentary (mocku) asal Indonesia hanya ada dua, yaitu te[rekam] dan Keramat. Kebetulan, kedua film ini bisa dibilang mewakili dua sisi horor Indonesia. Di sisi horor abal-abal, ada te[rekam] yang dibintangi Julia Perez. Ya, dari judulnya saja kita sudah tahu bahwa te[rekam] merupakan judul imitasi {REC], film mocku Spanyol yang fenomenal (dan salah satu favorit saya). Di sisi pure horror, ada Keramat yang tampil dengan mengerikan dan terjaga rapi tanpa harus terjebak untuk menampilkan hantu narsis yang selalu muncul di depan kamera setiap waktu. 

Adalah hal yang unik mengingat karakter Cungkring alias si cameraman diperankan oleh Monty Tiwa sendiri. Ini membuat Keramat seolah merupakan sebuah film yang benar-benar real. Pada akhirnya pun, Keramat tetap tampil dengan mencekam, bukan hanya karena Cungkring yang diperankan Monty Tiwa saja, tapi juga karena Monty Tiwa berhasil membuat sebuah horor mencekam.


Ada lagi satu hal yang menarik dari Keramat. Untuk membuat suasana "real" makin terasa, film ini sama sekali tak memakai musik latar. Hanya dengan bermodalkan suara alam dan ketegangan yang terbangun dengan kokoh, ternyata sudah lebih dari cukup untuk menampilkan beberapa penampakan mengerikan (tanpa narsis tentunya) yang membuat Keramat tampil dengan meyakinkan. 

"Don't judge the book by its cover." Ya, memang kita tak bisa men-judge sesuatu berdasarkan tampilan luarnya, tapi untuk sebuah film, poster menarik merupakan salah satu hal yang penting, terlebih untuk menarik minat masyarakat. Meski didalamnya Keramat menawarkan horor yang berkualitas, namun sayangnya, film ini malah dibalut kemasan luar yang terkesan murahan. Posternya malah terlihat seperti poster film horor abal-abal dengan penggarapan asal-asalan karya anak ingusan.


Di dalamnya sendiri, Keramat juga tak terlepas daris segala kekurangan. Salah satu kekurangan yang menonjol adalah hubungan cerita dengan ajakan untuk menjaga alam. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan apa moral cerita tersebut (meski di sisi lain, ajakan seperti ini memang terdengar aneh dan sedikit tidak nyamung), namun lebih kepada bagaimana Monty Tiwa mengajak seluruh penonton untuk menjaga alam secara eksplisit alias terang-terangan, hingga terkesan kita sedang berada di sebuah kelas SD dengan Monty Tiwa sebagai guru dan penonton sebagai murid-muridnya.

Terlepas dari segala kekurangan, Keramat tentu saja tetap tampil dengan mengerikan, terlebih dengan jajaran castnya yang dipimpin oleh trio wanita, yaitu Poppy Sovia, Migi Prahita, dan Miea Kusuma yang mampu tampil dengan memukau. Lihat Poppy, wanita tomboy yang ternyata jago dalam akting tangis-menangis, Migi yang dapat menyampaikan teror mendalam hanya dengan satu tatapan mata, dan Miea yang temperamental dan ambisius yang sepertinya doyan memarahi para kru dan casti film yang ia sutradarai.

Dalam perjalanannya, Keramat tak hanya menawarkan suasana mencekam saja, tapi juga dibumbui oleh komedi. Komedinya sendiri juga terbilang natural tanpa terkesan dibuat-buat, terlebih komedinya juga tampil dengan porsi yang pas, tak berlebihn namun tak kekurangan pula. Lumayan, di sela-sela ketegangan, masih ada sesuatu yang setidaknya membuat kita menaikkan kedua sudut bibir.


Meski ide film dengan gaya mockumentary terbilang tidaklah orisinil, namun ternyata Monty Tiwa membayarnya memberikan sentuhan-sentuhan khas Indonesia (khususnya Jawa) yang klenik dan mistis. Terlebih filmnya sendiri bertempat di daerah sekitaran Yogyakarta yang kental suasana mistis. Dalam memberikan sentuhan ala Indonesia, Monty Tiwa bahkan menyajikan kebudayaan Jawa seperti wayang kulit dan gamelan sebagai alat untuk menggentayangi penontonnya.

Keramat merupakan "penampakan" di tengah film horor negeri sendiri yang kebanyakan sebenarnya merupakan film-film bodoh berbalut hantu dimana-mana. Tanpa harus mengobral nama-nama besar, ternyata film ini mampu hadir dengan kualitas yang dari dulu kita idam-idamkan dari jagat film Indonesia, bukan hanya dari film horor, tapi juga genre lainnya. Keramat memang belum dapat mengalahkan kengerian dari misteri yang kompleks dan ending apik dari Noroi atau teror-teror makhluk-makhluk aneh khas [REC], namun tentu saya akan lebih memilih Keramat dibandingkan Paranormal Activity. Dengan segala kengerian dan ketegangan yang dibaurkan dengan budaya Indonesia lewat sebuah bentuk dokumenter fiksi, membuatnya menjadi film horor berkualitas dengan gaya barat namun tetap tak melupakan kampung halamannya.

7.5/10

Wednesday, September 21, 2011

Tagged under: , , , ,

[Review] Noroi - The Curse (2005)


"No matter how terrifying, I want the truth." ~ Masafumi Kobayashi


Mockumentary, sebutan bagi film fiksi yang dikemas ala film dokumenter. Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan agar filmnya terlihat lebih realistis. Bukan itu saja, pengemasan film ala film dokumenter ini juga bisa menjadi solusi bagi film low-budget untuk menarik perhatian masyarakat. Sebut saja [REC], Noroi, Lake Mungo, Paranormal Activity, The Blair Witch Project, Haunted Changi, hingga film horor asal Indonesia sendiri, Keramat yang memakai konsep film mockumentary. Meski kerap dicibir, bukan berarti setiap film mockumentary memiliki kualitas buruk. [REC] contohnya, saking bagusnya film mocku asal Spanyol ini, sampai-sampai Hollywood membuat versi mereka sendiri dengan judul Quarantine. Bukan hanya [REC] yang memiliki kualitas bagus, film-film mocku yang saya sebut diatas tadi kesemuanya merupakan film mocku berkualitas. Di Indonesia sendiri, selain Keramat, juga terdapat satu lagi film mocku (yang sayangnya sampah) berjudul te[rekam] (deja vu? judulnya saja sudah nyontek abis film [REC]).


Kali ini, saya akan coba me-review salah satu film bergaya mocku asal Jepang, Noroi yang disutradarai oleh Kôji Shiraishi. Siapa tak kenal industri perfilman horor Jepang? Jepang memang dikenal sebagai rajanya Asia (bahkan dunia) soal membuat film-film yang membuat para bulu kuduk penontonnya berdiri. Mulai dari One Missed Call, Ju-On, Audition, Pulse, Suicide Club (Suicide Circle), hingga film yang mempopulerkan hantu berambut panjang mirip kuntilanak bernama Sadako, yaitu Ringu yang bernasib sama dengan [REC], yaitu di-remake oleh Hollywood (meskipun hasilnya tidaklah jelek). 

Memang, Hollywood masa kini dikenal sudah (hampir) tidak bisa membuat film horor lagi. Apalagi dengan munculnya film-film remake yang (sering kali) bukannya lebih berkualitas dari film originalnya, malah (sering kali lagi) tampil dengan memalukan. Dengan budget dan efek gila-gilaan jika dibandingkan dengan film originalnya bahkan tak membantu kualitas film remake pada umumnya. Berbanding terbalik dengan horor Jepang yang tampil lebih sederhana serta tak menghambur-hamburkan uang dapat menghadirkan atmosfer yang lebih mengerikan dan mencekam padahal hantu-hantunya tidaklah narsis (nunjuk film-film horor norak Indonesia).


Noroi dibuka dengan narasi seorang pria yang menjelaskan tentang Masafumi Kobayashi (Jin Muraki), seorang ahli supranatural yang telah menyelidiki berbagai misteri mengerikan dan tak terpecahkan, termasuk sebuah kasus yang sempat ia dokumentasikan sebelum Kobayashi dinyatakan hilang yang berjudul "Noroi". Kemudian film dilanjutkan dengan diputarnya video dokumentasi "Noroi" yang berawal saat Kobayashi dimintai bantuan oleh seorang wanita terhadap tetangganya yang misterius yang sering kali terdengar suara tangisan bayi dari arah rumah tentangganya yang bernama Junko Ishii (Tomono Kuga) tersebut. Belum selesai misteri aneh ini, muncullah misteri lain yang tak kalah misteriusnya, mulai dari hilangnya seorang anak bernama Kana (Rio Kanno), kelakuan aneh seorang paranormal, kejadian-kejadian mengerikan yang dialami seorang aktris, hingga kasus bunuh diri massal yang pada akhirnya mengantarkan kita pada satu titik yaitu sebuah ritual masyarakat setempat bernama "Kagutaba".


Bisa dibilang, Noroi atau The Curse (kutukan) merupakan salah satu film mockumentary terbaik yang pernah ada dan mockumentary terbaik asal Negeri Sakura sekaligus Tanah Asia, dengan menggabungkan kepercayaan mistik penduduk setempat dengan gaya penyampaian ala-ala dokumenter. Memang, gaya penyampaian dengan found-footage ini justru menambah ketegangan dalam film terlebih Noroi tidak takut untuk menambahan scoring musik, yang biasanya dihindari oleh film mocku sejenis karena dapat mengurangi kesan "asli" dalam film.

Noroi memang menyampaikan alur cerita yang cenderung lambat, namun berkat teka-teki misterius membingungkan sekaligus mistik yang terus berdatangan hingga akhir film plus dengan ketegangan yang telah dibangun sejak awal film dimulai membuat saya tak pernah bosan menonton film ini dari awal hingga akhir sambil melongo karena takjub akan kualitas film ini. Akting serta ekspresi para pemainnya pun, benar-benar patut diacungi jempol, terlihat begitu realistis dan benar-benar natural seolah mereka benar-benar mengalami kejadian tersebut yang pastinya turut ikut serta membangun intensitas ketegangan film dan juga memberantas rasa bosan. Penontonnya pun makin dimanjakan matanya dengan pergerakan kamera yang lumayan bersahabat. Belum cukup? Tunggu sampai anda melihat ending-nya yang begitu mengerikan dan tetap saja mengundang tanda tanya besar di kepala para penontonnya. Percayalah, saya jamin anda pasti akan tetap setia duduk berlama-lama untuk menjadi salah satu saksi dari sebuah "kejadian" mengerikan sekaligus mencekam ini.

 8.0/10