300x250 AD TOP

Saturday, October 27, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Coming Soon] Django Unchained (2012)

"I like the way you die, boy." ~ Django 

Bagi sebagian besar orang, momen natal mungkin adalah saat-saat yang cocok untuk merilis film komedia bertema keluarga. Tapi tidak bagi Quentin Tarantino. Di 25 Desember nanti, Tarantino dijadwalkan akan merilis film terbaru yang merupakan film kedelapannya, Django Unchained. Tentu saja Django Unchained bukanlah sebuah film keluarga. Film ini juga bukanlah remake dari Django (1966), meski memang keduanya sering dikait-kaitkan. Tarantino sendiri mengatakan bahwa  film ini dibuat dengan gaya spaghetti western, yang ia sebut dengan genre southern.

Sutradara yang pernah berjaya berkat Pulp Fiction ini menggandeng Jamie Foxx sebagai pemeran utamanya dalam Django Unchained. Juga ada nama Leonardo DiCaprio yang memerankan peran antagonis. Jangan lupakan pula kembalinya nama Samuel L. Jackson yang dulu pernah membintangi Pulp Fiction yang legendaris itu. Selain Samuel L. Jackson, Django Unchained juga kembali diramaikan Christopher Waltz, yang saat 2010 lalu pernah membawa pulang Oscar berkat perannya di Inglourious Basterds milik Taranitno



Django Unchained berpusat pada tokoh Django (Jamie Foxx), yang merupakan seorang budak di wilayah Deep South, Amerika Serikat. Django sendiri telah dipisahkan dengan istrinya, Broomhilda (Kerry Washington). Suatu ketika, Django mencoba kabur dari dunia perbudakannya, dan kebetulan bertemu dengan seorang pengejar buronan asal Jerman, Dr. King Schultz (Christopher Waltz). Pengejar buronan ini memberi Django pilihan, yaitu untuk membunuh Brittle Brothers, geng pembunuh kejam yang hanya pernah dilihat oleh Django. Sebagai imbalannya, Dr. King Schultz berjanji akan membebaskan Django sepenuhnya dari perbudakan dan membantunya membebaskan istrinya dari tangan seorang seorang penjahat kejam, Calvin Candle (Leonardo DiCaprio).

Filmnya memang masih rilis 2 bulan lagi, itupun untuk wilayah AS dan Kanada, tapi, tentu saja hal ini tak menyurutkan semangat para penggemar film-film Tarantino. Lalu, apakah Quentin Tarantino akan kembali berjaya, seperti saat ia dulu pernah memenangkan Oscar untuk naskah Pulp Fiction? Kita tunggu saja. Ya, sembari menunggu Tarantino selesai dengan proyek "main course"-nya, Kill Bill: Vol. 3, tampaknya kita dapat menikmati dulu "appetizer" dari Tarantino ini.

Tagged under: , , , , , ,

[The Amazing Trilogy] The Godfather


Tak ada yang menampik bahwa trilogi kisah keluarga mafia Italia ini merupakan salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Trilogi yang terdiri dari The Godfather, The Godfather: Part II, dan The Godfather: Part III ini tercatat telah memborong total 9 Oscar, termasuk dua kali meraih Best Picture (The Godfather dan The Godfather: Part II), plus 20 nominasi Oscar lainnya. Tampaknya itu telah cukup menggambarkan kualitas trilogi yang disutradarai Francis Ford Coppola dan diangakat dari novel karya Mario Puzo. Dan rasanya, tak ada salahnya pula kalau saya mereview ketiga seri film ini.

The Godfather (1972)
"You talk about vengeance. Is vengeance going to bring your son back to you? Or my boy to me?" ~ Vito Corleone

Inilah yang menjadi awal mula karya abadi ini, yang takkan tergerus oleh zaman sekalipun. Berkisah tentang seorang pemimpin kelompok mafia bernama Vito Carleone (Marlon Brando). Sosok yang kerap dipanggil "Godfather" ini memang punya kekuasaan luar biasa yang akhirnya membuat ia disegani dan ditakuti oleh banyak orang. Vito sendiri telah memiliki 4 orang anak, yaitu Santino "Sonny" Corleone (James Caan), Federico "Fredo" Corleone (John Cazale), Michele "Michael" Corleone (Al Pacino) dan Constanzia "Connie" (Talia Shire) Corleone serta 1 anak angkat, Tom Hagen (Robert Duvall). 

Di antara kelima anaknya tersebut, Michael merupakan anak paling akhir. Michael, yang saat itu tengah kasmaran dengan seorang gadis berambut pirang bernama Kay Adams (Diane Keaton) pernah terang-terangan menyatakan bahwa ia tak akan menjadi penerus atau menjadi bagian dari bisnis ayahnya. Namun, janjinya itu harus diingkarinya, saat ayahnya tertembak, ia pun akhirnya harus memegang kendali terhadap bisnis ayahnya. Michael, yang awalnya merupakan tokoh protagonis pun sekejap berubah menjadi seorang pemimpin mafia yang tak segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya.


The Godfather merupakan film yang nyaris sempurna. Hampir seluruh aspek-aspeknya digarap dengan sangat mengedepankan perfeksionitas. Di jajaran aktingnya, seluruh castnya mampu tampil dengan begitu luar biasa. Baik itu Marlon Brando, Al Pacino, James Caan, hingga Robert Duvall berhasil memainkan setiap porsi mereka dengan sangat baik. Al Pacino misalnya, yang sukses bertransformasi menjadi sosok pemimpin mafia berdarah dingin, atau Marlon Brando yang sukses memerankan pemimpin jaringan mafia yang bijaksana dalam mengambil sikap. Tapi, yang lebih mencengangkan dari Marlon Brando adalah ekspresinya, saya tak tahu bagaimana caranya ia membentuk ekspresi wajah ikonik seperti itu.

Dalam scipt hasil Francis Ford Coppola bersama Mario Fuzo, juga terbukti berperan penting dalam jalannya film ini. Naskahnya berjalan dengan sangat kuat dengan segala unsur yang menyinggung pengkhianatan, keluarga, cinta, amarah, hingga kriminalitas, yang juga didukung penyutradaraan maha hebat dari Francis Ford Coppola. Ya, bayangkan saja, di saat durasinya ternyata telah berjalan 1 jam, malah lebih terasa bahwa film baru berjalan selama 20 menit, dan itu, hanya bisa dilakukan oleh seorang Francis Coppola. Nino Rota juga berhasil menghasilkan sebuah scoring yang sangat Italia dan meninggalkan kesan mendalam. Sebuah 175 menit yang tak terlupakan, bahkan sangat sulit menemukan kekurangan dalam film ini. Sebuah drama yang powerful, haunting, dan sangat mencengangkan.

9.5/10





The Godfather: Part II (1974)
 "If anything in this life is certain, if history has taught us anything, it is that you can kill anyone." ~ Michael Corleone

Masih mengekor kesuksesan besar pendahulunya, The Godfather, Francis Ford Coppola melanjutkan kembali karyanya setelah 2 tahun. Di sekuelnya, ceritanya kembali berkembang tentang kehidupan keluarga Corleone setelah Vito "Godfather" Corleone meninggal. Di antara kisah ini, juga terselip kisah hidup Vito Corleone atau yang sebenarnya bernama asli Vito Andolini. Bermula dari bagaimana ia, yang awal mulanya merupakan seorang bocah asal Corleone, yang kedua orangtuanya dibunuh oleh mafia setempat dan akhirnya ia pun harus merantau ke benua seberang, Amerika, sendirian dan memulai kehidupannya seperti semula lagi, hingga akhirnya Vito menjadi seorang pemimpin mafia yang sangat disegani. 

Sama seperti prekuelnya, film yang sebenarnya berada di luar novel Mario Fuzo ini juga tetap saja sangat susah untuk ditemukan kekurangannya. Dalam The Godfather: Part II, Francis Ford Coppola masih ditemani oleh sang novelis asli, Mario Fuzo dalam penulisan naskahnya. Dan masih sama seperti pendahulunya, naskah yang mereka berdua hasilkan, tetap menjadi sebuah naskah yang sangat kuat dalam segala sudutnya, dan ya, masih juga ditemani oleh gaya penyutradaraan seorang Francis Ford Coppola yang sederhana, namun akhirnya sangat berhasil membuat sebuah film dengan kompleksitas tinggi. Dua kisah yang dirangkai dengan non-linier itu juga berhasil dijalin dengan sangat erat.


Dalam ensemble castnya yang masih setia diisi oleh pemeran-pemeran dari film sebelumnya, juga tampil dengan sangat baik. Tapi, tentu saja, Robert De Niro lah yang paling bersinar alias scene stealer. Sebagai Vito muda yang hidup sederhana, ia berhasil memberikan aura yang benar-benar meyakinkan. Al Pacino, juga masih setia dengan pembawaannya yang sangat dingin. Begitu pula penampilan menakjubkan dari Michael V. Gazzo dan Lee Strasberg yang sama-sama menampilkan dua karakter berperawakan unik dengan baiknya. Jangan lupakan pula Talia Shire yang sangat mengagumkan sebagai Connie.

Di scoringnya, masih duduk Nino Rota yang ditemani Carmine Coppola yang dapat meracik scoring yang menghanyutkan, lembut, dan megah. The Godfather: Part II merupakan sekuel yang mungkin hanya ada 100 tahun sekali, sebuah sekual yang dapat menyamai, atau bahkan di atas film sebelumnya. Dengan naskah, ensemble cast, directing, scoring, editing, segalanya dapat hadir tanpa cela. Dengan durasi super lama, 200 menit, seluruh aspek film dapat dimanfaatkan dengan sangat baik. Bravo Coppola!

9.5/10


The Godfather: Part III (1990)
"Just when I thought I was out... they pull me back in." ~ Michael Corleone

Inilah final chapter dari trilogi fenomenal milik Coppola. Setelah 14 tahun, ia kembali menghidupkan kisah keluarga mafia ini. Di bagian ketiga ini, cerita beralih ke tahun 1979, di mana kedua anak Michael Corleone, Mary Corleone (Sofia Coppola) dan Anthony Vito Corleone (Frank D'Ambrosio) telah beranjak dewasa, sedangkan Michael sendiri juga telah menua dan sakit-sakitan. Sama seperti ayahnya di waktu muda, Anthony juga tak ingin melanjutkan bisnis keluarganya, dan lebih memilih menjadi seorang penyanyi opera. Selain itu, muncul pula anak dari saudara Michael, Sonny, yaitu Vincent Mancini (Andy Garcia) yang berandal. Di sisi lain, satu-satunya anak perempuan Michael, Mary, lama kelamaan terlibat cinta dengan Vincent yang tak lain merupakan sepupunya sendiri. 

Bisakah kita melupakan bahwa sekuel terakhir ini merupakan film yang berdiri sendiri? Sayangnya, tak bisa. Andai saja bisa, mungkin The Godfather: Part III akan saya puji habis-habisan. Tapi, sebuah sekuel, mau tak mau juga harus dibandingkan dengan prekuelnya. Sebagai sebuah sekuel, jujur, installment ketiga ini sedikit mengecewakan. Saya tak dapat merasakan feel mafia yang dulu pernah saya rasakan dalam kedua film sebelumnya. Francis malah lebih memilih untuk menggeser kisah mafianya menjadi sebuah kisah drama keluarga dengan plot mafia yang tak terlalu istimewa. Dalam durasinya pun, terdapat beberapa adegan yang terkesan tak masuk akal dan terkesan dipaksakan.


Di antara banyaknya kekurangan film ini, mungkin yang merupakan kesalah terbesar adalah, terpilihnya anak Francis Coppola, Sofia Coppola sebagai Mary. Jujur, aktingnya dalam film ini benar-benar kaku dan tanpa emosi sama sekali, dan setiap kali ia muncul dalam layar, saya selalu merasa terganggu dengan kehadirannya. Ia bahkan sempat memenangkan Razzie untuk perannya yang satu ini. Ya, sepertinya jalan Sofia bukanlah di depan layar, melainkan di belakang layar. Terbukti, ia malam pernah memenangkan Oscar untuk Best Original Screenplay lewat film Lost in Translation. Beruntung, Francis Coppola menggandeng Andy Garcia dan Al Pacino yang menjadi pemimpin terkuat di jajaran castnya.

Meski begitu, film yang satu ini memang juara dalam visualnya. Sinematografinya indah, dengan angle-angle yang terasa sangat nyaman di mata. Sebenarnya, film ini tidaklah seburuk apa yang orang-orang bilang. Bahkan, saya pikir, film ini sedikit under-rated. Memang merupakan bagian terlemah dari ketiga serinya, tapi bagian ketiga The Godfather ini tetaplah sebuah film yang baik, hanya saja memang jauh jika dibandingkan dengan pendahulunya. Sekuel yang agak mengecewakan, tapi tak bisa pula dikatakan buruk.

7.5/10
_______________________________________________________________

Well, dari ketiga itu, tentu dua film pertama lah yang terbaik. Lalu, di antara keduanya, mana yang lebih baik? Hm, sebenarnya sangat sulit untuk menentukan, namun bagi saya sendiri, saya lebih suka dengan The Godfather: Part II. Tapi, terlepas dari mana yang terbaik mana yang tidak, yang jelas ketiga seri film ini tetaplah merupakan karya prestisius dari Coppola. Sebuah trilogi yang tak akan lekang oleh waktu. Salah satu trilogi terbaik yang pernah ada.

Friday, October 26, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Citizen Kane (1941)

"You're right, I did lose a million dollars last year. I expect to lose a million dollars this year. I expect to lose a million dollars next year. You know, Mr. Thatcher, at the rate of a million dollars a year, I'll have to close this place in... 60 years." ~ Charles Foster Kane

Orson Welles adalah seorang jenius. Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang aktor kawakan, tapi ia juga merupakan seorang sutradara sekaligus penulis naskah. Kiprahnya sebagai seorang sutradara sekaligus screenwriter juga tak dapat diremehkan sama sekali. Sepanjang hidupnya, ia telah membintangi lebih dari 100 judul film. Ia juga telah menyutradarai dan menulis naskah di lebih dari 40 judul film. Sebut saja, Touch of Devil, F for Fake, hingga Mr. Arkadin.

Dari seluruh karyanya, Citizen Kane lah yang terpopuler sekaligus terfenomenal, bahkan mungkin bisa juga dianggap karyanya yang terbaik. Berkat film rilisan 1941 yang juga di produseri sendiri ini, Orson Welles dan Herman J. Mankiewicz sempat membawa pulang sebuah Oscar untuk Best Original Screenplay, dan sempat dinominasikan untuk 8 kategori lain, seperti Best Picture, Best Actor, dan Best Director. 


Kehidupan Charles Foster Kane (Orson Welles) memang merupakan kehidupan idaman bagi setiap orang. Sosoknya benar-benar fenomenal. Ia merupakan seorang pemilik media massa yang kaya raya. Bahkan, ia tinggal di sebuah istana super megah, yang bernama Xanadu. Sampai kematiannya pun, ia masih sempat-sempatnya membuat kehebohan. Namanya terpampang di seluruh headline surat kabar dunia. Tapi, kematian  Kane memang masih menyisakan misteri. Bukan, ia tidak dibunuh seseorang dengan trik yang takkan terpecahkan. Misteri itu datang kata terakhir dari mulutnya sendiri, 'rosebud'. Entah apa arti kata itu, tetapi jelas ini menimbulkan tanda tanya besar.

Seorang wartawan, Jerry Thompson (William Alland), merupakan salah satu yang penasaran dengan kata itu. Ia pun mencoba menyusuri satu-persatu orang dalam kehidupan Foster Kane, dari  manajer bisnis, Mr. Bernstein (Everett Sloane), sahabatnya, Jedediah Leland (Joseph Cotten), mantan istri, Susan Alexander (Dorothy Comingore), hingga kepala pelayannya di Xanadu, Raymond (Paul Stewart), hanya demi mengetahui makna kata 'rosebud' tersebut. Lewat orang-orang tersebut, kita dapat menyelami kehidupan Foster Kane, dari masih kanak-kanak hingga akhri hayatnya. Namun, akhirnya, apakah misteri ini dapat terpecahkan?


Naskah hasil Orson Welles bersama Herman J. Mankiewicz memang menjadi faktor utama kokohnya film ini. Plot awalnya sebenarnya sederhana, mencari arti kata terakhir dari seorang milyuner dunia lewat kisah-kisah masa lalu yang diceritakan oleh orang-orang terdekat Kane. Namun, makin lama kita menontonnya, maka makin dalam pula kita dapat menyelam ke kehidupan seorang Charles Foster Kane. Flashback-flashback tersebut disampaikan dengan begitu detail. Bagaimana Kane menjalani pilihan hidupnya yang kerap kali tak terduga dan aneh. Dari kisahnya sebagai seorang bocah desa, hingga lika-liku percintaannya yang rumit, sampai keterlibatannya dalam dunia politik.

Sudah suatu hal yang pasti, bahwa kisah-kisah masa lalu seorang Kane, tak akan sukses disampaikan tanpa adanya editing yang baik. Lewat tangan dingin seorang Robert Wise, yang kebetulan juga seorang sutradara dari film musikal pemenang Oscar Best Picture 1966, The Sound of Music, semua itu berhasil terwujud. Seluruh jalinan kisah mampu terjalin dengan erat dan tanpa harus membingungkan penonton.


Sinematografi yang ditawarkan Citizen Kane juga tampil dengan sangat menawan nan cantik. Seluruh angle-angle juga pergerakan-pergerakan kamera hasil arahan dari Gregg Toland memang sangat indah, terlebih untuk di zamannya. Dengan perpaduan sinematografi indah dengan format hitam putih, plus pencahayaan yang terasa sangat pas, membuat Citizen Kane menjadi salah satu rekomendasi bagi anda yang mendambakan keindahan sinematik ala film klasik.

Dalam departemen akting, Citizen Kane juga sangat unggul. Tentu, Orson Welles, yang menjadi pemeran utama memberikan kontribusi paling dominan di antara lainnya. Isi kepalanya yang sulit ditebak memang selalu menarik perhatian siapa pun. Perannya sebagai milyuner super kaya ini pun, dinominasikan Best Actor di ajang perhelatan Oscar 1942. Selain Orson Welles, Citizen Kane juga dilengkapi oleh berbagai aktor lain. Hebatnya, sebagian aktor ini merupakan orang yang baru mengenal film. Bukan hanya peran kecil saja, tetapi juga untuk peran-peran yang lumayan besar.


Di antaranya adalah Joseph Cotten, Dorothy Comingore, William Alland, Paul Stewart, Ruth Warrick, Ray Collins, hingga Everett Sloane. Meskipun terbilang merupakan nama baru di perfilman Hollywood pada masa itu, nama-nama ini rupanya mampu memberikan penampilan baik, yang dapat mengimbangi sang aktor utama, Orson Welles. Sebut saja Joseph Cotten sebagai Jedediah, sahabat sakaligus rekan Kane, meski akhirnya hubungan mereka sempat retak, memberikan penampilan yang baik. Si istri kedua Kane, Susan Alexander yang diperankan Dorothy Comingore juga mampu memberikan penampilan menariknya sebagai seorang penyanyi opera yang sering mendapat cercaan dari ulasan Jedediah di surat kabar atas penampilannya.

Dalam menyelami setiap potongan-potongan kehidupan Charles Foster Kane, kekuatan make-up tentu sangat diperlukan. Makeup hasil karya Maurice Seiderman memang memukau. Dari masa-masa Kane sewaktu muda, hingga Kane tua berhasil diinterpretasikan dengan baik. Begitu pula hampir keseluruhan aktor film yang juga mendapatkan penampilan meyakinkan dalam makeupnya, seperti Joseph Cotten dan Dorothy Comingore. 


Xanadu, dengan segala isinya yang super mewah memang merupakan satu dari sekian banyak art-direction memukau dalam Citizen Kane. Sama seperti aspek lainnya, seluruh art-directionnya juga dapat ditawarkan dengan sangat baik dan meyakinkan. Rasanya tak akan ada yang menyangkal bahwa set decoration dalam film yang satu ini memang luar biasa. Tak heran, jika Oscar saja memberikannya 1 nominasi untuk Best Art-Direction

Tak hanya itu, scoring yang ada dalam Citizen Kane juga memukau. Bernard Herrmann memang selalu juara dalam hal scoring film. Scoring hasil karyanya pun tak terkesan monoton, terkadang, scoring film ini dapat terdengar komikal, namun terkadang pula, dapat terderngar dramatik, lembut, bahkan hingga menggebu-gebu sampai sedikit mencekam. Sebuah perpaduan berbagai jenis scoring ini jelas mampu membantu membangun intensitas dan konflik mendalam.


Mungkin, hal yang paling menarik dari Citizen Kane adalah endingnya. Ya, siapa sih yang tak ingin mengetahui makna kata 'rosebud' sebenarnya? Dalam hal ini, Orson Welles lebih memilih sebuah ending terbuka untuk mengakhiri petualangan Thompson. Ya, Welles membiarkan penontonnya menginterpretasinya sendiri dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di akhirnya. Sebenarnya, jawaban yang Welles berikan pada penonton tidaklah terlalu rumit, namun rupanya punya arti dan moral yang sangat mendalam.

Citizen Kane memang hampir sempurna dari segala sisi. entah itu art direction, departemen akting, naskah, make-up, sinematografi, editing, musik, hingga ending yang digarap dengan begitu baik. Citizen Kane bukan hanya sekedar bercerita tentang perjalanan hidup seseorang, lebih dari itu, Citizen Kane telah berhasil memberikan suatu esensi mendalam di setiap rangkaian ceritanya. Sebuah hakikat tentang kebahagiaan manusia yang terbungkus dalam seorang Kane. Itu semua menjadikan Citizen Kane menjadi salah satu tonggak sejarah terpenting dalam sejarah perfilman dunia, khususnya, masa emas Hollywood. Juga menjadikan Orson Welles menjadi seorang legenda, yang jasanya tak akan pernah terlupakan hingga kapanpun.



Tuesday, October 23, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Let the Right One In (2008)

"I'm twelve. But i've been twelve for a long time." ~ Eli

Bicara soal film tentang drama percintaan vampir dengan manusia, pasti yang terbersit di pikiran anda adalah seri film Twilight Saga yang punya banyak penggemar meski kerap dicerca kritikus itu. Walaupun tema film semacam ini kerap disepelekan, tapi tentu saja tema ini sama sekali tak bisa dianggap remeh hanya karena satu saga itu. Selain Si Negeri Paman Sam yang mempunyai romance vampir-manusia, ternyata di bagian bumi Eropa, tepatnya Swedia juga punya film semacam ini, Let the Right One In, yang disutradarai oleh Tomas Alfredson.

Perfilman Swedia mungkin saja salah satu yang termaju di Eropa. Sebelum digemparkan oleh The Girl with the Dragon Tattoo, dunia lebih dahulu dikenalkan lewat Let the Right One In atau yang berjudul asli Låt den rätte komma in. Film yang satu ini memang bisa dibilang merupakan kembaran Twilight Saga. Selain memiliki tema yang persis, kedua film ini juga sama-sama diangkat dari novel. Kalau Twilight Saga diangkat dari novel karya Stephanie Meyer, maka Let the Right One In diangkat dari novel karya John Ajvide Lindqvist yang rilis tahun 2004 lalu. Mungkin perbedaan yang mencolok dari keduanya hanyalah film Swedia ini berkisah tentang kisah vampir dan manusia yang usianya masih sangat belia, 12 tahun. Selain itu, jika Twilight Saga memiliki unsur fantasy di dalamnya, maka Let the Right One In malah punya nuansa horor yang mencekam.


Oskar (Kåre Hedebrant), merupakan seorang remaja Swedia berusia 12 tahun. Kehidupannya terlihat tak terlalu bahagia. Di sekolah, ia tak memiliki teman, apalagi ada beberapa teman sekelasnya yang kerap mem-bully Oskar. Bahkan, ia terlihat menyimpan dendam besar terhadap teman-temannya itu. Orangtuanya juga telah bercerai, dan Oskar saat itu tinggal bersama ibunya. Ya, Oskar memang tak mempunyai teman sama sekali, sampai akhirnya, seorang anak perempuan, Eli (Lina Leandersson), bersama 'ayahnya', Håkan (Per Ragnar), pindah ke apartemen di samping apartemen miliknya.

Suatu malam, seperti biasa, ia selalu melampiaskan kekesalan dan dendamnya dengan menusukkan pisau ke sebuah pohon. Di malam itulah ia bertemu dengan Eli. Hari demi hari, hubungan pertemanan mereka semakin dekat. Tapi, memang ada yang aneh dengan Eli. Jendela rumahnya selalu ditutupi, ia hanya keluar saat malam hari, dan 'ayahnya' juga sering membunuh orang untuk kemudian diambil darahnya. Ya, tentu anda sudah dapat menebak makhluk apa ia sebenarnya.


Let the Right One In boleh saja punya karakter utama yang masih remaja, namun jangan harap menemukan hal-hal berbau remaja di sini. Bahkan, kalau bisa dibandingkan dengan Twilight Saga yang PG-13, film ini malah terlihat jauh lebih dewasa. Let the Right One In memang sangat berbeda dengan film-film vampir lainnya, ia memang tak menawarkan sebuah kisah tentang vampir yang berburu mangsa dengan ganas dan dengan bebasnya meneror manusia-manusia di sekelilingnya. Film ini malah menawarkan jalan cerita yang jauh berbeda dan terkesan lebih nyata: seorang vampir yang tertutup, penyendiri, dan hanya hidup di sebuah apartemen kecil dengan perabotan seadanya, bahkan untuk mendapatkan darah saja, Eli harus menunggu 'sang ayah' membawakan darah segar untuknya.

Inilah yang mungkin membuat Let the Right One In menjadi sebuah drama horor menarik. Ia tak hanya mengandalkan nuansa horornya yang benar-benar mencekam, tapi juga dengan cerita yang unik dan diselami dengan begitu mendalam. Ya, untuk urusan drama, Let the Right One In juga punya naskah yang kuat, sekuat porsi horornya. Siapa sangka bahwa kisah cinta remaja berbeda wujud ini mampu tampil lebih kuat dan dewasa dibandingkan kembarannya?


Dari awal credit, sudah terlihat jelas bagaimana Let the Right One In akan mengalir. Ya, kesan pertama yang muncul dari film ini memang sunyi. Benar-benar sunyi, namun ditemani dengan kadar mencekam yang luar biasa. Sudah jelas, sang sutradara, Tomas Alfredson memang sangat berhasil membangun dan menyebarkan teror-terornya yang sunyi ke seluruh penonton dengan perlahan-lahan.

Tentu Tomas Alfredson tidaklah sendiri. Di belakangnya ada Hoyte van Hoytema yang menentukan angle-angle terbaik dalam dalam film ini. Sama seperti gaya penyutradaraan Tomas, gaya sinematografi Hoyte selain indah dan menawan, juga berhasil membawa suasana kekelaman yang pekat ke dalamnya. Ditambah lagi dengan penggunaan tone dan lighting yang terasa benar-benar pas untuk ukuran film sesunyi ini. Plus, latar musim dingin juga terlihat cocok untuk Let the Right One In.


Tomas Alfredson juga ditemani oleh Johan Söderqvist yang menjadi orang dibalik scoring Let the Right One In. Scoring arahannya tidaklah terdengar heroik, apalagi pyschedelic. Yang ada, hanyalah scoring yang mengalun dengan pelan, lembut, dan melankolis, meski ada beberapa yang terdengar menggebu-gebu. Mungkin tak terdengar cocok bagi sebuah film horor, tapi percayalah, scoring inilah yang malah menjadi salah satu pendorong utama hadirnya atmosfer horor itu sendiri.

Dalam jajaran aktingnya, Kåre Hedebrant dan Lina Leandersson berhasil menjalankan tugasnya masing-masing dengan sangat baik. Kåre Hedebrant dapat menampilkan penampilan natural tanpa paksaan sebagai remaja korban bullying. Lina Leandersson juga berhasil menghidupkan karakter vampir yang kesepian. Terkadang, ia dapat menjadi seorang gadis manis, namun dalam sekejap pula, ia dapat berubah menjadi pemburu darah. Jika disatukan pun, keduanya juga mampu menjalin chemistry yang sangat kuat.


Jangan lupakan pula bahwa film horor yang satu ini membawa sebuah moral kuat yang berangkat dari sebuah kritik sosial. Tentu, moralnya bukan seputar bunuh-membunuh seperti yang terlihat dari kemasannya. Ya, apalagi kalau bukan tentang bullying. Itu semua terlihat dari perlakuan teman-teman sekolah Oskar yang selalu berlaku tak baik terhadapnya. Bisakah anda membayangkan, rasanya dicambuk dengan ranting pohon? Atau bahkan... ah, lupakan saja. Setidaknya, bagi anda para pem-bully, berhati-hatilah, karena bisa saja orang yang anda bully mempunyai sahabat seperti Eli.

Let the Right One In merupakan drama percintaan vampir-manusia yang mungkin terlihat usang, namun sesungguhnya film ini menawarkan hal yang terbilang baru. Ceritanya cukup sederhana, namun tak dapat dipungkiri memang sangat menarik untuk diikuti. Perpaduan porsi horor dan drama yang dibuat juga begitu seimbang. Di satu sisi, Let the Right One In merupakan sebuah film yang kuat dalam dramanya, ditambah  lagi dengan chemistry erat dari Kåre Hedebrant Lina Leandersson. Di sisi lain, film ini juga merupakan film horor yang mencekam yang hening namun tetap sadis. Kali ini, Swedia sangat boleh berbangga dengan Let the Right One In. Bahkan, tak ada salahnya untuk menyebut Let the Right One In merupakan film vampir terbaik yang pernah ada.

8.5/10

Sunday, October 21, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Doubt (2008)

"Even if you feel certainty, it's an emotion, not a fact." ~ Brendan Flynn

Judulnya memang sangat singkat, namun dapat menginterpretasikan isi film secara keseluruhan. Doubt, memang bercerita tentang segala keraguan dalam diri manusia. Sebuah hal yang mutlak dimiliki oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Siapa sih yang tak pernah mengalami keraguan? Bahkan hingga hal yang sangat kecil sekali pun. Saya jamin, semua orang pernah mengalaminya.

Film satu ini diangkat dari sebuah drama yang berjudul Doubt: A Parable dari John Patrick Stanley, yang juga menjadi sutradara sekaligus penulis skenario film ini. Dalam film ini, Stanley menggandeng sejumlah nama besar Hollywood, sebut saja Meryl Streep (The Iron Lady), Philip Seymour Hoffman (Synecdoche, New York), Amy Adams (The Fighter), dan Viola Davis (The Help). Meski sempat namanya hilang dalam jajaran Best Picture Oscar 2009, film ini mampu menyabet 5 nominasi Oscar, salah satunya adalah Best Adapted Screenplay.


Doubt berlatar di sebuah sekolah gereja bernama St. Nicholas di Bronx, setahun setelah peristiwa ditembaknya Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, tepatnya pada tahun 1964. Cerita dimulai dengan suasana gereja yang begitu damai, dimana seorang pastor bernama Pastor Brendan Flynn sedang memulai khotbahnya tentang keraguan. Dalam gereja ini, kita juga dikenalkan pada Suster Aloysius Beauvier, kepala sekolah yang galak, yang bahkan tak segan memukul kepala siswanya yang tertangkap sedang mengobrol saat pelayanan.

Suatu hari, seorang guru sejarah muda yang lugu, Suster James (Amy Adams), menangkap perilaku aneh dari Donald Miller (Joseph Foster), anak altar gereja sekaligus satu-satunya siswa negro dalam sekolah itu. Donald mulai bertingkah aneh seusai dipanggil oleh Pastor Flynn. Bahkan, dari mulut Miller, tercium bau alkohol, dan tentu saja, akhirnya ia membicarakan hal ini pada Suster Aloysius. Dengan dalih ingin membahas tentang kontes pada Natal mendatang, mereka berdua memanggil Pastor Flynn dan mempertanyakan hubungan Miller dengan Pastor Flynn. Suster Aloysius menaruh curiga pada Pastor Flynn dan melakukan segala sesuatu untuk membuktikan kecurigaannya.


Doubt tentu bukanlah tipe film yang nikmat ditonton. Cerita yang ditawarkan juga tergolong sederhana. Latar film ini juga hanya itu-itu saja, hanya di sekolah gereja itu, kalaupun harus, paling jauh hanya beberapa ratus kilometer dari gereja St. Nicholas tersebut. Meski bukan film yang enjoyable, namun bukan berarti Doubt merupakan film yang membosankan. Ini semua berkat kemampuan John Patrick Stanley yang mampu mengeksekusi film ini dengan sangat baik. Konflik batin yang ia ciptakan pun terjalin dengan erat dan mampu membuat saya tahan berlama-lama duduk di tempat duduk.

Skenario Doubt memang menjadi salah satu peluru utama film ini. Filmnya boleh jadi memang dipenuhi dialog-dialog panjang. Salah sedikit, fatal akibatnya. Berterimakasihlah pada John Patrick Stanley yang mampu menciptakan sebuah naskah yang kuat dengan dialog-dialog cerdas. Siapa yang dapat menyangkal keindahan khotbah Pastor Flynn ketika ia menyinggung tentang gosip? Tentang bagaiman Flynn menyamakan gosip sebagai bulu-bulu dari bantal yang berterbangan oleh sepoi angin yang sudah tak bisa dikumpulkan lagi karena angin telah membawa bulu-bulu itu pergi. Saya rasa tak ada.


Seperti yang saya bilang tadi, Doubt memang menyentil sebuah hal dalam diri manusia, yaitu keraguan yang menjadi sajian utamanya. Keraguan itu disampaikan lewat sebuah kisah sederhana penuh konflik dalam kehidupan religius di gereja katolik. Ya, Doubt memang menjabarkan sebuah moral yang luar biasa yang berkaitan tentang keraguan, kejujuran, kebohongan, bahkan hingga menyentuh ego seorang manusia yang hanya disampaikan lewat 103 menit, waktu yang sebenarnya cukup singkat untuk drama dengan penceritaan mendalam.

Meski punya segala kelebihan dari segala sisi, namun tak ada yang mampu mengalahkan kekuatan ensemble cast Doubt yang menakjubkan. Sangat tak mengejutkan memang, jika film ini bahkan mendapatkan 5 nominasi Oscar, dan 4 diantaranya merupakan penghargaan untuk aktor dan aktris terbaik. Di jajaran terdepan, peraih Oscar tiga kali, Meryl Streep, mampu menjelma menjadi suster berkepala batu yang tegas dan galak yang seakan tak memiliki keraguan sedikit pun dalam benaknya. Tak usah diragukan lagi memang, ia memang selalu mampu memberikan sebuah penampilan luar biasa dalam setiap perannya. Di lain pihak, Philip Seymour Hoffman juga berhasil menghidupkan karakter seorang 'tertuduh' dengan penuh  ketenangan, namun dapat meledak sewaktu-waktu.


Di posisi Suster James, terdapat Amy Adams yang juga dapat tampil meyakinkan sebagai suster polos yang penuh kesabaran. Karakternya yang sederhana itu memang dapat menarik hati siapa pun juga. Terakhir, ada Viola Davis, seorang ibu dari Donald Miller. Kemunculan boleh jadi hanya sekitar 10 menit, itupun di bagian menjelang akhir film. Namun, Viola Davis memang cerdas memanfaatkan durasi yang ia miliki dan seketika menyihir penonton dengan kemampuan aktingnya yang sangat emosional. Penampilan meyakinkan dari keempat aktor ini, bahkan mampu membuahkan 4 nominasi Oscar untuk mereka.  

Lewat cerita yang cukup sederhana, namun dengan pengemasan yang luar biasa dari John Patrick Stanley. Ditemani dengan kualitas akting yang juga tak kalah luar biasanya dari Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, Amy Adams, dan Viola Davis. Doubt merupakan sebuah contoh bagaimana sebuah film yang berangkat dari cerita sederhana, namun dalam perjalanannya dapat tumbuh menjadi intrik yang begitu kuat. Memang bukan contoh film drama yang enjoyable, tapi jelas, Doubt merupakan contoh film yang berhasil menyampaikan setiap esensi-esensi yang ia miliki dengan sangat baik.

8.0/10

Wednesday, October 17, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] How to Train Your Dragon (2010)

"The only problems are the pests. You see, most places have mice or mosquitoes... We have... dragons!" ~ Hiccup

Seperti yang telah kita tahu, Pixar dan DreamWorks memang merupakan dua studio besar yang menguasai pangsa film animasi dunia. Lain dari Pixar yang kerap membuat sebuah film animasi dengan plot orisinil sederhana yang lebih emosional namun tetap humoris, yang menjadikan film-film Pixar menjadi tolak ukur sebuah film animasi berkualitas (bersamaan dengan Studio Ghibli asal Jepang), bukan hanya dalam animasinya, tapi juga cerita dan unsur lainnya. Sedangkan, DreamWorks lebih sering membuat film animasi yang juga tetap didominasi porsi komedi, namun lebih punya nilai jual, alias film yang sangat komersil. 

DreamWorks yang berjaya berkat Shrek, pada tahun 2010 juga sempat menelurkan sebuah film berjudul How to Train Your Dragon. Meski saya sendiri lebih menyukai film produksi Pixar dibanding dengan DreamWorks, tapi rasanya How to Train Your Dragon rasanya cukup sayang untuk ditinggalkan. Meski, jujur saja, saat pertama kali mendengar judulnya saya sudah punya perasaan yang tidak enak. Ya, How to Train Your Dragon yang disutradrai Dean DeBlois dan Chris Sanders ini memang menceritakan bagaimana cara anda bisa melatih naga. Tak ada satupun metafora yang terdapat di judulnya. Terlihat tak ada yang istimewa dari film yang berangkat dari sebuah cerita anak-anak ini. Tapi, apakah kenyataannya memang seperti itu?


Berlatar di sebuah pulau bernama Berk, yang telah menjadi sebuah desa Viking selama tujuh generasi, namun setiap bangunan di sana merupakan bangunan baru. Mengapa? Di desa ini tinggalah Hiccup (Jay Baruchel), seorang pemuda yang tak lain merupakan anak kepala suku desa tersebut, Stoick the Vast (Gerard Butler). Ketika desa lain bermasalah dengan hama seperti tikus, maka lain lagi dengan desa yang satu ini. Masalah utama mereka adalah... naga.  Naga-naga ini selalu merampas ternak-ternak desa Berk dan memporakporandakan desa. Nah, inilah alasannya mengapa bangunan di sana selalu baru. Tentu saja, seperti yang kita tahu, Viking merupakan bangsa yang tangguh, termasuk terhadap naga. Tapi, Hiccup lain, ia tidaklah setangguh Viking lain, meski dalam dirinya, ia selalu ingin membunuh naga, untuk pembuktian diri katanya, kalau tak mau dibilang untuk menarik perhatian Astrid (America Ferrera), gadis Viking yang tangguh dalam menghadapi naga. 

Dari semua naga, yang paling misterius dan ditakuti adalah Night Fury. Suatu hari, tanpa sengaja Hiccup berhasil menemukan seekor Night Fury dan menembaknya hingga jatuh, sayang tak ada satupun yang melihatnya, dan tentu saja tak ada yang percaya dengannya, bahkan termasuk ayahnya. Ketika sedang berjalan-jalan di hutan, kebetulan lagi ia berjumpa lagi dengan Night Fury yang jatuh tak berdaya di tengah hutan. Tentu ini sebuah kesempatan besar untuk membunuhnya, tapi semua manusia tentu punya hati nurani, bukan? Ya, itu pasti, namun yang masih menjadi misteri adalah, untuk apa para naga ini sering menyerang perkampungan warga? Untuk mencari makan dan menghidupi diri? Ataukah hanya naluri alamiah? Bisa saja, tapi apakah itu yang sebenarnya terjadi?


Saya salah besar. How to Train Your Dragon ternyata merupakan sebuah film animasi yang sangat patut diperhitungkan. Meski di awalnya sempat goyah dan terlihat sedikit tak menjanjikan, namun perlahan tapi pasti, How to Train Your Dragon mulai menunjukkan taringnya. Seperti halnya yang terjadi pada salah satu karakternya, film yang satu ini juga berhasil menunjukkan kemampuannya yang awalnya merupakan seorang Viking yang kerap disepelekan dan berkembang menjadi seorang penakluk naga tangguh.

How to Train Your Dragon punya naskah yang kuat. Naskahnya yang ditulis oleh kedua sutradara plus William Davies ini berhasil mengantarkan anda ke sebuah petualangan menakjubkan dan penuh keseruan. Sebuah film tentang persahabatan dan kasih sayang yang dijabarkan lain daripada yang lain, lewat sebuah cerita Bangsa Viking yang terkenal akan ketangguhannya. Jelas, How to Train Your Dragon mempunyai pesan moral bermakna kuat yang juga terselip rapi dalam dialog-dialognya yang kocak.


Dalam pengisi suara, kesemua dubber mampu menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Jay Baruchel tampil memuaskan sebagai pemuda Viking yang berbeda dari yang lain. Gerard Butler juga berhasil sebagai kepala suku berbadan besar yang sangat tangguh, terlebih dalam menghadapi naga. Ada pula America Ferrera, yang mengisi suara Astrid, gadis pemberani yang menjadi love interest Hiccup. Selain nama-nama tersebut, juga ada Kristen Wiig, Jonah Hill, Christopher Mintz-Plasse, Craig Ferguson, hingga T.J. Miller.

Musik merupakan salah satu aspek terpenting dalam How to Train Your Dragon. Scoring hasil karya John Powell dalam film ini memang mampu memberikan kontribusi terhadap intensitas yang terbangun. Tentu saja, sambil menikmati nikmatnya melayang-layang di udara, harus ditemani scoring megah bukan? Dan harus saya katakan, John Powell sangat berhasil dalam hal itu. Terbukti pula, scoring heroik ini berhasil menembus nominasi Academy Awards untuk Best Original Score. 


Mungkin satu-satunya kekurangan film yang satu ini hanyalah animasinya yang di bawah ekspektasi. Tidak mengecewakan, hanya saja di bawah animasi yang kita kenal dari DreamWorks. Di tengah kisahnya yang luar biasa, animasi yang dihasilkan saingan utama Pixar ini malah tampil biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin bagi beberapa orang tak akan menyangka bahwa film ini merupakan produksi studio sebesar dan sepopuler DreamWorks. 

Bagaikan seekor naga, How to Train Your Dragon berhasil membawa anda terbang bermain-main dan beraktraksi di angkasa luas, kemudian mendarat dengan pendaratan sempurna. Tentu aktraksi ini tak akan berjalan sempurna tanpa bantuan dari 'sang pengendara naga', Chris Sanders dan Dean Dublois. Sebuah film animasi yang jauh di atas ekspekstasi. Dapat menyentuh segala aspek, dari aspek komedi, petualangan, keseruan, romansa, drama, bahkan hingga sisi emosional. Tak ada salahnya memang jika menobatkan How to Train Your Dragon sebagai film terbaik yang pernah diproduksi DreamWorks Animation. Obviously.


8.5/10

Monday, October 15, 2012

Tagged under: , , ,

[Coming Soon] Hitchcock (2012)

"Well, her breasts were rather large. It's a challenge not to show them." ~ Hitchcock

Memang sosok seorang Alfred Hitchcock telah tiada, tapi karyanya sampai sekarang pun tetap terjaga. Sutradara yang dijuluki "The Master of Suspense" ini memang telah menelurkan begitu banyak film bergenre suspense. Di antara banyak karyanya seperti Rear Window, Vertigo, The Birds, North by Northwest, Dial M for Murder, hingga Rope, mungkin Psycho (1960), merupakan yang paling populer. Memang bukan yang terbaik dari Hitchcock, tapi saya akui, film yang berformat hitam-putih merupakan film paling ikonik dari Hitchcock.

Di tahun 2012 ini, sutradara sekaligus screenwriter, Sacha Gervasi, akan muncul dengan Hitchcock, yang masih berhubungan erat dengan Psycho. Tunggu dulu, Hitchcock bukanlah sebuah remake dari Psycho yang juga sebelumnya pernah dibuat tahun 1998, melainkah sebuah biopik yang berlatar proses pembuatan film Psycho. Ya, bisa dibilang film yang diangkat dari sebuah novel karya Stephen Rebello berjudul Alfred Hitchcock and the Making of Psycho ini seperti My Week with Marilyn, tapi dalam versi Hitchcock. Jika di My Week with Marilyn juga bercerita tentang kisah cinta ambigu Monroe dengan Colin Clark, lantas di Hitchcock? Tentu saja bercerita tentang kisah cinta dirinya dengan sang istri, Alma Reville.


Tokoh seorang Hitchcock sendiri diperankan oleh Anthony Hopkins, yang dulu pernah berjaya di Academy Awards 1992 berkat perannya sebagai Dr. Hannibal Lecter di The Silence of the Lambs. Di karakter sang isrti, Alma Reville, duduklah Helen Mirren yang juga pernah membawa pulang Oscar berkat perannya di film biopik pula yang berjudul The Queen. Sedangkan, ada pula Scarlett Johansson, Jessica Biel, dan James D'Arcy yang akan memerankan Janet Leigh, Vera Miles, dan Anthony Perkins.

Well, bagaimana kira-kira biopik yang satu ini? Jika dilihat-lihat, tampaknya saya dapat mencium aroma Oscar dalam Hitchcock. Sayang, tampaknya anda harus bersabar sebentar, karena film ini baru dijadwalkan rilis 23 November nanti. Tapi, bagi yang sudah tak sabar untuk segera menontonnya, silakan nikmati dulu secuil filmnya lewat trailer berikut ini. Layak tonton? Pasti!