Saturday, January 26, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] Zero Dark Thirty (2012)

"I'm the motherf***er that found this place, sir." ~ Maya

Dua tahun lalu, merupakan tahun emas bagi Jessica Chastain. Jika di tahun-tahun sebelumnya ia membintangi beberapa film seperti Jolene yang hampir tak dikenal, namun di tahun 2011, ia membuat sebuah gebrakan sebagai wanita paling bersinar di Hollywood saat itu (hingga kini, dan nanti). Membintangi film Ralph Fiennes, film indie apocalyptic-vision yang dipuji dimana-mana, hingga film dari sutradara sekaliber Terrence Malick, The Tree of Life yang kaya makna. Puncaknya, saat ia memberikan penampilan hebatnya sebagai wanita kulit putih polos dalam drama rasisme, The Help, yang bahkan menghadiahkannya sebuah nominasi Oscar. Enam film yang ia bintangi dalam 2011 itu hanyalah awal, nominasi Oscar yang diterimanya hanyalah pemanasan, dan perjalanannya masih akan terus berjalan. Dan kini, ia kembali menunjukkan tajinya sebagai aktris berbakat dalam sebuah drama thriller tentang perburuan pemimpin jaringan teroris al-Qaeda, Osama bin Laden. 

Tenang saja, ini bukan Code Name: Geronimo yang (katanya) buruk itu. Ini adalah film hasil kolaborasi sekaligus ajang reuni bagi dua sineas peraih Oscar: sutradara wanita pertama peraih Best Director (sekaligus mantan istri James Cameron), Kathryn Bigelow, serta peraih Oscar untuk Best Original Screenplay, Mark Boal, yang pernah berbagi kemenangan dalam film pemenang Best Picture saat itu, The Hurt Locker.  Dalam Oscar 2010 lalu, The Hurt Locker bukan hanya memenangkan ketiga penghargaan bergengsi itu, namun juga meraih 3 lainnya, yang merupakan penghargaan dalam bidang teknis. Dengan total 6 Oscar dalam 1 malam, menjadikan The Hurt Locker menjadi raja pada malam itu. Sekarang, dengan sutradara, penulis naskah, pemeran utama kelas Oscar, hingga kisah yang masih melibatkan militer, mampukah Zero Dark Thirty menyajikan tontonan yang dapat menyaingi The Hurt Locker dan dapat membawa pulang the golden man (atau bahkan the golden men) lagi?


Film dimulai dengan latar tahun 2003, dimana seorang agen CIA bernama Maya (Jassica Chastain) yang  baru saja dipindahtugaskan ke Pakistan. Maya terus berambisi untuk menemukan pemimpin jaringan teroris Al-Qaeda, Osama bin Laden, setelah terjadinya tragedi 11 September 2001 saat World Trade Center di New York City runtuh. Ia sering menemani Dan (Jason Clarke) ketika mengintrogasi Ammar (Reda Kateb), seorang tahanan yang disebut-sebut terkait jaringan teroris tersebut di sebuah situs terlarang bernama black site. Ya, dan disinilah adegan-adegan kontroversial itu berada. Dalam interogasi, Dan sering kali menyiksa tahanan, salah satunya dengan waterboarding yang memang dikenal sebagai salah satu cara CIA untuk memaksa tahanannya untuk berbicara.

Pada pertengahan tahun 2005, seorang nama dari Al-Qaeda, Abu Faraj (Yoav Levi), berhasil ditangkap oleh polisi Pakistan setempat dan CIA. Identitasnya diketahui setelah beberapa tahanan membocorkan nama Abu Ahmed (Tushaar Mehra) sebagai kurir pribadi untuk bin Laden, dan membocorkan pula bahwa Abu Faraj adalah penghubung mereka berdua. Demi menguak keberadaan Abu Ahmed yang akan menguak pula keberadaan Osama bin Laden, maka Maya pun kembali menginterogasinya. Apakah semua ini berarti Maya dan rekan-rekan CIA-nya berhasil mendekati posisi bin Laden dan akan segera menang, atau malah mereka makin menjauh dari keberadaan bin Laden dan harus pasrah menerima kekalahan?


Tentu saja, menyimak ceritanya tadi, Zero Dark Thirty memang penuh dengan kontroversi. Beberapa orang menyayangkan torture scene dalam film ini, sementara yang lainnya menyerukan bahwa Zero Dark Thirty adalah hanyalah sebuah film propaganda dari Amerika Serikat. Well, saya sebenarnya tak terlalu peduli dengan banyaknya tentangan mengenai film ini, terlebih yang ada nama-nama ternama dalam belakang layar Hollywood seperti Kathryn Bigelow dan Mark Boal yang telah teruji dalam The Hurt Locker, ditambah rising-star Jessica Chastain yang bukan hanya modal tampang, tapi juga talenta luar biasa, dan hasilnya? Yes! They did it again! 

Sekali lagi, kolaborasi Kathryn Bigelow dan Mark Boal kembali berhasil. Dalam screenplay, Mark Boal masih setia memberi kita sebuah naskah cerdas, kuat, nan rapi. Dengan durasi yang lumayan panjang, Mark Boal memberikan jalinan kisah yang penuh suspense bahkan dari awal menitnya yang dibuka oleh torture scene. Tapi itu belum seberapa. Hingga nanti ketika klimaksnya tiba, semuanya bagaikan sebuah bom yang memuntahkan segala suspense utamanya, dan membuat segala hal-hal menegangkan dalam 2 jam pertamanya itu hanyalah appetizer belaka (appetizer yang luar biasa nikmat). Mark Boal sendiri memanfaat kejutan dalam banyak momennya sebagai penggali ketegangan, dan harus diakui ini adalah salah satu yang membuat naskah karyanya menjadi alat pengocok adrenalin yang benar-benar efektif dengan jalinan kisah yang tetap terjalin begitu kuat.


Dalam mengkonversi bentuk lembar demu lembar tulisan kedalam frame-frame film, Kathryn Bigelow mampu mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia berhasil mengemas Zero Dark Thirty menjadi tontonan berkualitas dengan segala ketegangan dan ceritanya itu. Membangun intensitas ketegangan dari awal yang kemudian merambat secara perlahan hingga klimaks luar biasanya, semua itu dilakukannya dengan sangat baik dan benar-benar tak boleh dilewatkan. Ya, kita semua tentu sudah tahu bagaimana film ini berakhir, namun dengan 157 menitnya tersebut, Kathryn Bigelow sangat mampu menaklukkan waktu panjang tersebut dengan brilian yang ia penuhi dengan penyutradaraan yang sama sekali tak boleh diremehkan, yang bahkan membuat kita tetap saja setia duduk menonton, meski sudah tahu apa yang akan terjadi di akhirnya. Pilihannya untuk menjadikan film ini penuh dengan atmosfer dingin dan tak terlalu personal menurut saya sangatlah tepat, karena sesuai dengan dinginnya setiap misi, cerita, serta ambisi dalam Zero Dark Thirty. Tapi, itu tidaklah membuat kita selangkah lebih jauh untuk dapat menyelam ke setiap misi Bigelow secara mendalam, tapi malah selangkah lebih dekat dalam menyelami setiap yang Bigelow sodorkan.

Jessica Chastain adalah harta karun lain dari film ini. Penampilannya sebagai agen CIA, Maya, benar-benar menakjubkan, terlebih Zero Dark Thirty sebenarnya kebanyakan bertumpu pada ceritanya, bukan pada karakternya. Tanpa kehidupan pribadi, (hampir) tanpa teman, tanpa kekasih, dan tanpa keluarga. Apa yang film ini berikan pada karakter Maya hanyalah pekerjaan dan ambisinya yang begitu besar. Ia memang tak pernah menyiksa secara langsung dalam setiap interogasi, ia juga tak pernah secara langsung menyerbu kediaman Osama bin Laden. Tapi, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Jessica Chastain adalah hal paling brilian di depan layar Zero Dark Thirty. Karakternya hidup karena ambisi yang Chastain berikan terasa nyata, dan setiap emosi dan keberanian yang ia gambarkan, itulah nyawa karakter Maya ini, yang membuat karakternya menjadi begitu powerful, bahkan tanpa butuh latar belakang kelam untuk memperkuat karakternya.


Dua jempol juga harus ditujukan pada jajaran aktor lainnya. Jason Clarke mampu memberikan penampilan meyakinkan. Sementara itu, Jennifer Ehle berhasil memberikan ambisi kuat pada karakternya, (sama halnya pada Chastain) sekaligus memberikan sedikit warna dalam kehidupan karakter Maya, karena keduanya digambarkan dekat sebagai rekan kerja dan teman (look at Maya's desktop background!). Di sisi lain, Mark Strong juga tak usah diragukan lagi dan dapat keluar dari karakter villain yang selama ini melekat kuat dalam dirinya. Penampilan lain seperti dari Kyle Chandler, Reda Kateb, Joel Edgerton, hingga Chris Patt, kehadiran mereka juga memperkuat ensemble cast Zero Dark Thirty ini.

Dengan teknikal yang benar-benar mendukung pula, Zero Dark Thirty berhasil 'mendaratkan' namanya menjadi salah satu film terbaik sepanjang tahun 2012. Sinematografinya memang tak terlalu memberikan visual yang indah (lagi pula, siapa yang inging memberikan visual indah dalam film tentang torture dan bin Laden?), namun dengan pergerakannya yang dinamis, khususnya dalam 30 menit terakhir, ikut serta membangun ketegangan yang telah terbangun. Hal yang paling ditekankan dalam omongan teknikal Zero Dark Thirty, tentu saja editing. Dengan memakai orang yang sama yang telah mengedit Argo, William Goldenberg (dimana pekerjaan dalam film itu juga dipuja-puji), ditambah dengan kolaborasi manisnya dengan Dylan Tichenor yang pernah menangani There Will Be Blood, membuat hasilnya juga jauh dari kata mengecewakan.


Zero Dark Thirty adalah salah satu masterpiece yang lahir 2012 lalu. Memang penuh kontroversi, namun Bigelow dan kawan-kawannya mampu menepis seluruh kontroversi dan cercaan tersebut dengan kualitas. Tentu, Kathryn Bigelow tak usah dipertanyakan lagi kemampuannya. Ia masih memiliki kemampuan itu, kemampuan yang membuat Zero Dark Thirty menjadi salah satu film dengan kadar ketegangan dan kekuatan cerita tak terhingga. Mark Boal pun, masih menghantarkan jalinan kisahnya dengan cerdas dan rapi dengan berbagai ketegangan yang ia ciptakan dalam naskahnya lewat kejutan-kejutan. Jessica Chastain kembali bersinar lewat penampilannya yang benar-benar berbeda dengan si polos Celia Foote dalam The Help. Karakternya yang dingin dan ambisius menghantarkan film yang sepenuhnya merupakan misi ini ke level yang lebih tinggi lagi.

Hasil dari semua usaha besar itu, 5 nominasi Oscar dapat diembat film ini, meski tak ada Bigelow dalam kategori Best Director. Pasti masih banyak yang menyayangkan hilangnya nama besar Bigelow dalam Best Director di perhelatan Oscar tahun ini (jangan lupakan Ben Affleck), namun siapa butuh Oscar, jika kualitas yang ia berikan sudah lebih dari cukup dan dapat memuaskan para penikmat film dunia? Apalagi, ia pernah memenangkan penghargaan ini sebelumnya, so, it's not a big deal for her. Dan untuk Jessica Chastain, sepanjang Lawrence dan Riva berhasil ditumbangkan, maka sudah pasti penghargaan pria emas itu akan segera jatuh ke tangan aktris berambut merah ini. Tapi, meski kita belum mengetahui hasilnya, yang jelas Zero Dark Thirty telah berhasil dalam menyelesaikan misi ambisius ini dengan nyaris sempurna. Mission accomplished!


Friday, January 18, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] Les Misérables (2012)

"I had a dream, my life would be... so different from this hell i'm living!" ~ Fantine

Les Misérables, entah sudah novel karya Victor Hugo setebal 1.485 halaman ini difilmkan. Salah satu hasil adaptasinya adalah film berjudul sama yang rilis tahun 1998, yang dibintangi beberapa aktor papan atas Hollywood seperti Liam Neeson, Uma Thurman, Geoffrey Rush, dan Claire Danes. Meski tak dapat berbicara banyak dalam tangga finansialnya, namun film ini dapat memperlihatkan tajinya lewat sambutan positif yang diterima. Baru-baru ini, tepatnya pada hari natal lalu, film berjudul sama juga rilis. Bedanya, kali ini bukan hanya sambutan yang diterimanya cukup positif, tapi juga berhasil meraih keuntungan luar biasa. Kalau anda sudah bosan dengan adaptasi sebuah novel yang sudah terlalu banyak difilmkan seperti Les Misérables, maka mungkin Les Misérables versi 2012 ini dapat mematahkan opini anda. Alasannya? Apalagi kalau bukan versi yang teranyar ini hadir dengan inovasi lain. Memang bukan inovasi baru, tapi setidaknya cukup berbeda dari yang adaptasi lainnya.

Ya, Les Misérables hadir dalam cara yang sedikit berbeda. Tentu saja, maksud saya bukan pada posternya yang mungkin lebih mirip seperti film horor atau thriller. Tak seperti kebanyakan adaptasinya yang merupakan adaptasi langsung dari novel karya Victor Hugo tersebut, namun kali ini, Les Misérables hadir dengan mengadaptasi versi drama musikalnya. Bersama William Nicholson yang duduk sebagai penulis naskah, ada pula nama yang sudah tak asing lagi di telinga, Tom Hooper, sutradara yang sukses merebut Oscar berkat The King's Speech lalu, ditunjuk menjadi sutradara yang duduk sambil mengarahkan cast-cast kelas satu, seperti Hugh Jackman, Anne Hathaway, Russel Crowe, Helena Bonham Carter, Sacha Baron Cohen, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, dan masih banyak lagi. Ya, dan tentu saja, mereka semua akan bernyanyi dalam film yang satu ini. Para bintang Hollywood besar bernyanyi dalam sebuah musikal? Siapa yang bisa menolak kesempatan itu?


Dalam hal cerita, tak ada yang benar-benar baru. Ceritanya masih bersentral pada karakter Jean Valjean (Hugh Jackman), seorang tahanan yang diadili hanya karena mencuri sepotong roti untuk anak saudarinya sekarat. Sembilan belas tahun berlalu, Valjean akhirnya dibebaskan secara bersyarat oleh Inspektur Javert (Russel Crowe). Itu artinya, ia bebas, namun dengan satu kondisi, ia dilengkapi oleh surat yang menandakan bahwa ia adalah seseorang yang berbahaya. Suatu hari, ia akhirnya memutuskan untuk hidup dengan identitas baru dan melepaskan sosok Jean Valjean dari dirinya. Delapan tahun kemudian, ia telah berhasil menjadi seorang pemilik pabrik dan walikota dari Montreuil-sur-Mer. Tapi, masalah kembali datang ketika Inspektur Javert kembali datang dalam kehidupannya.

Di sisi lain, ada seorang wanita pekerja di pabrik milik Jean Valjean bernama Fantine (Anne Hathaway) yang dipecat dari pekerjaannya karena kedapatan telah memiliki anak, dan akhirnya difitnah oleh pekerja lainnya sebagai seorang pelacur. Demi menghidupi anaknya, Cosette (Isabelle Allen), yang hidup bersama keluarga penjaga sebuah penginapan, keluarga Thénardier (Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter), ia akhirnya harus terjerumus dalam dunia pelacuran, dan membuat fitnahan para pekerja lainnya menjadi kenyataan. Beruntung, di tengah penderitaannya, muncullah sosok Jean Valjean yang secara tak sengaja bertemu dengannya dan berjanji akan mengurus anak perempuan kesayangannya itu.



Lalu, apakah inovasi yang ditawarkan Les Misérables kali ini berhasil dengan baik? Tentu saja. Sejumlah penampilan musikal yang ia arahkan oleh Tom Hooper ini dapat tersaji dengan baik dengan lagu-lagu yang memorable. Saya juga menyukai lagu asli Les Misérables, yaitu Suddenly yang dinyanyikan Hugh Jackman. Tenang dan orkestra yang benar-benar megah, namun hasilnya malah menghipnotis. Tapi, ucapan terima kasih terbesar tentu terletak pada para pemeran yang mampu menyajikan setiap penampilan musikal tersebut dengan baik, bahkan mampu membuat kita lupa bahwa sebagian besar durasinya dihabiskan dengan bernyanyi, yang membuat sedikitnya ruang bagi dialog-dialog non-musikal. Mungkin akan membosankan bagi yang bukan penyuka musikal (terlebih dengan durasi panjangnya), namun bagi saya itu sama sekali tak menjadi masalah, karena apa yang tersaji dalam setiap lagu-lagu tersebut sudah mewakili dialog-dialog biasa, yang malah membuat film ini selevel lebih megah lagi, terlebih dengan orkestranya dahsyat.

Apa yang mesti menjadi highlight utama dari Les Misérables? Hugh Jackman? Ya, itu salah satunya, tapi ada sesuatu yang lebih besar dan megah, siapa? Anne Hathaway! Siapa sih dapat membuang pikiran dari hebatnya seorang Anne Hathaway dalam Les Misérables? Lewat perannya yang serba tertindas, Hathaway dengan sangat berhasil meniupkan setiap emosi ke dalam sosok Fantine. Setiap ekpresi, setiap mimik, setiap emosi, setiap nyanyian, apa yang kita tahu adalah: Fantine benar-benar menderita, dan Hathaway dengan sempurna merefleksikannya. Saksikan aksinya saat menyanyikan I Dreamed A Dream, atau kalau perlu dengarkan saja audionya, dan kita bisa merasakan apa yang Fantine rasakan hanya dengan mendengarnya. Tanpa perlu berpaku pada 'trying too hard to sound good', Anne Hathaway lebih memilih untuk menyanyikannya dengan penuh emosi. Hanya dalam kemunculannya yang mungkin hanya sekitar 30 menit dari keseluruhan film yang 156 menit, Hathaway sudah mampu menyihir, membius, menghantui, dan kawan-kawannya, lewat penampilannya yang luar biasa itu. Salah satu penampilan terhebat yang pernah saya lihat, dan sebuah Oscar adalah ganjaran termanis dan terpantas untuknya.


Hugh Jackman, seperti yang saya bilang tadi, memang merupakan salah satu mutiara lagi dalam Les Misérables. Penampilannya tentu tak boleh dilupakan sedikit pun. Dengan cemerlang, ia membuktikan bahwa Wolverine juga bisa tampil begitu hangat, emosional, dan powerful (dan dapat bernyanyi pula). Nominasi Oscar yang didapatkannya tentu bukanlah hal yang berlebihan. Eddie Redmayne juga merupakan salah satu cast dengan penampilan cemerlang lainnya. Penampilan solonya dalam Empty Chair yang heart-breaking adalah yang terbaik. Sementara itu, Samantha Barks yang tampil dalam film perdananya, juga mampu membuat kita simpati terhadap karakter yang cintanya tak tersampaikan lewat On My Own. Russel Crowe, meski vokal yang dimilikinya tak sebaik cast lain, namun ia tetap harus diapresiasi lebih lewat aktingnya. At least, he can carry a tune.

Sebagai penyegar, hadir pula duo Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter yang konyol. Tentu, untuk karakter-karakter serba unik dan aneh, mereka adalah jagonya. Kedua karakternya yang bukan hanya antagonis dan konyol, tapi juga kleptomaniak, jail, sinting, dan usil, berhasil membangun dan menyegarkan suasana, dan membuat saya jatuh hati pada karakter mereka, sekalipun karakter Baron Cohen dan Bonham Carter merupakan antagonis. Untungnya, mereka bukan hanya sekedar tempelan sebagai penyegar saja, mereka juga memiliki kontribusi cerita yang jelas, selain hanya menebarkan humor-humor segar dan komikalnya itu.



Les Misérables bukan tanpa kekurangan, saya sedikit terganggu dengan pergantian scene yang begitu cepat, namun mungkin juga karena banyaknya cerita yang dibawa oleh film ini. Tapi, setidaknya Tom Hooper berhasil mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Hal yang ia terapkan seperti para cast yang bernyanyi secara live tentu harus diacungi jempol. Ini membuat berbagai penampilan musikal yang saya sebutkan sebelumnya menjadi lebih mantap dalam menyampaikan emosinya dengan cara yang berbeda-beda, entah itu berbisik, sambil menangis, atau pun lainnya. Salah satu yang saya suka adalah bagaimana Hathaway menambahkan teknik bernyanyi yang 'salah', yaitu dengan menambahkan efek throaty ke dalam chest voice-nya di beberapa scene, yang malah membuat musikal ini tampil lebih miserable. Lalu, apa lagi impact-nya? Akhirnya, semua itu juga berimbas pada karakter mereka yang lebih tereksplorasi, dan membuat para cast juga dapat berakting secara maksimal. Dan yah, I Dreamed A Dream yang dinyanyikan Hathaway memang dinyanyikan secara langsung dan bukanlah hasil rekaman studio. Sudah bisa merasakan impact-nya, kan?

Les Misérables bukanlah apa-apa tanpa urusan teknisnya. Art-direction yang ada begitu kelam dan menjanjikan, sama halnya dengan yang terjadi pada costume design. Dalam urusan makeup, tentu juga merupakan unsur terpenting dalam film seperti ini. Departemen makeup-nya mampu dengan sangat baik mengubah tampilan wajah menjadi lebih meyakinkan, terutama dalam tampilan wajah kumalnya. Sinematografinya juga begitu cantik dalam menangkap setiap momen yang ada, meski sempat terganggu dengan beberapa angle dalam film ini, juga dalam beberapa scene, kamera terasa shaky alias bergoyang-goyang. Visual-effects pun jangan sampai dilupakan. Meski tak terlalu banyak dipakai karena fungsinya juga tak terlalu vital, namun apa yang ditampilkan cukup impresif, terutama yang ada dalam opening film.


Dengan bantuan production design, makeup, dan teknis lainnya itu, Tom Hooper membawa kita ke sebuah dunia penuh nyanyian dan musik, namun hadir dengan isu yang cukup berat dan banyak juga dengan atmosfer kelam. Membawa beberapa banyak isu yang diangkat di dalamnya, termasuk cinta segitiga, ganasnya hukum, kekejaman hidup, perbudakan, kesenjangan sosial, perang, politik, hingga revolusi Perancis. Semuanya tergabung dalam sebuah musikal ini, dan Hooper dengan handal merangkumnya menjadi kesatuan utuh dalam 156 menit, dan sekali lagi, semuanya disampaikan lewat nyanyian-nyanyian khas musikal yang membuat isu-isu berat ini terasa lebih ringan, meskipun untuk ukuran musikal sekalipun, Les Misérables bukanlah Hairspray yang cenderung ringan dan ceria.

Dengan durasinya yang super panjang, Les Misérables berhasil menghadirkan penampilan menakjubkan dari cast-nya dengan jajaran musik yang begitu megah. Bagi yang tak suka musikal, apalagi bagi yang tak tahan dengan film yang berdurasi panjang, mungkin akan kebosanan, namun secara keseluruhan Les Misérables adalah musikal hebat, salah satu yang terbaik tahun ini. Tom Hooper kembali menunjukkan kembali kemampuannya, meskipun tak sekuat King's Speech, namun ia tetap mampu menyajikan sebuah kisah pahit manis kehidupan dalam kemasan musikal dengan sangat baik. Sementara, Hugh Jackman sebagai leading actor tampil cemerlang dan memberikan salah satu penampilan terbaik dalam perjalanan karirnya. Dan terakhir, ada Anne Hathaway memperlihatkan bagaimana transformasi seorang aktris Disney, Putri Genovia dalam The Princess Diaries, yang akhirnya menjelma menjadi salah satu aktris dengan talenta terbesar dalam generasinya, yang ia buktikan lewat penampilan jeniusnya dalam Les Misérables ini. Salute!


Wednesday, January 16, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , , , , ,

[Part 2] 2012: 20 Best Movies


Looper, The Cabin in the Woods, Moonrise Kingdom, Frankenweenie, hingga Cloud Atlas, merupakan sedikit dari banyak film terbaik tahun lalu dalam list bagian pertama. Dan kini? Berikut film-film terbaik dalam 2012 lalu dari urutan 10 hingga sang jawara, dari musikal hingga komedi, dari thriller hingga drama, dari petualangan sampai biopik. Dan sekali lagi, karena saya di sini sekaligus memberi review singkat untuk setiap film, maka maaf kalau beberapa ulasan terlalu panjang. By the way, who will be the winner?


10. Silver Linings Playbook

"I was a big sl*t, but I'm not any more. There's always going to be a part of me that's sloppy and dirty, but I like that. With all the other parts of myself. Can you say the same about yourself f*cker? Can you forgive? Are you any good at that?" ~ Tiffany (Jennifer Lawrence)
Di tahun 2010 lalu, David O. Russell pernah menelurkan The Fighter, drama biopik yang menghasilkan 2 Oscar (Christian Bale dan Melissa Leo). Kini, ia kembali dengan drama romansa komedi ringan, Silver Linings Playbook, yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama dari Matthew Quick. Dengan script cerdas yang penuh tawa, David O. Russell yang juga menjelma menjadi scriptwriter mampu menggiring kita ke sebuah kehidupan penuh intrik, namun dikemas dengan cara yang ringan, penuh tawa, namun juga penuh hati. Didukung oleh departemen akting yang sangat kuat. Di lini depan, ada Bradley Cooper sebagai Pat yang jiwanya sedikit terganggu karena hubungan dengan istrinya, rasanya nominasi Oscar yang didapatkannya lewat peran Pat sudah bisa menggambarkan aktingnya. Jennifer Lawrence malah lebih keren lagi. Dingin, depresif (dalam cara komedi tentunya), dan unik, membuat karakternya lah yang paling melekat di ingatan. Dan ketika mereka berdua disatukan, telah membuat mereka seperti seikat rantai yang tak pernah lepas dengan chemistry unik dan berjalan dengan sangat baik. Robert DeNiro dan Jacki Weaver sekali lagi memberikan penampilan yang tak kalah baiknya dibanding dua juniornya tadi. Kombinasi David O. Russell yang hadir sebagai salah satu storyteller terbaik tahun ini, dengan cast yang bahkan dapat meraih nominasi Oscar untuk aktor, aktris, aktor pendukung, dan aktris pendukung dalam Oscar mampu menjadikan Silver Linings Playbook berada di barisan terdepan film terbaik dalam 2012. Romcom terbaik tahun ini? No doubt. 

Best moment(s): Cooper thinks Lawrence is crazier than him.


9. Django Unchained

"D-J-A-N-G-O. The D is silent." ~ Django (Jamie Foxx)
Pembalasan dendam, banyak dialog, penuh kata-kata kotor, karakter bernama Butch, Christoph Waltz, Samuel L. Jackson, Quentin Tarantino menjadi aktor dalam filmnya sendiri, musik yang berhenti tiba-tiba, pistol, tembakan, peluru, dan... darah bermuncratan dimana-mana! Ya, semua itu memang khas film Tarantino. Ingat adegan konyol tentang penembakan dalam mobil secara tak sengaja dalam Pulp Fiction? Ya, darah dimana-mana, tapi di Django Unchained, darah lebih banyak bermuncratan! Masih dengan screenplay kuat dengan dialog khas dan directing yang tak kalah kuat, Tarantino kembali membuktikan bahwa ia sama sekali belum kehilangan cita rasa sintingnya. Apalagi dengan kehadiran Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, Samuel L. Jackson, juga Kerry Washington yang berhasil memberikan kesatuan cast yang luar biasa. DiCaprio tampil badass, meski muncul satu jam setelah film di mulai, ia berhasil menjadi scene-stealer, sementara Christoph Waltz tentu sudah teruji dalam Inglorious Basterds, tapi kali ini versi protagonis. Samuel L. Jackson yang juga telah terbukti dalam Pulp Fiction kembali menunjukkan performanya dengan menjadi kaki tangan yang manipulatif. Dalam pengemasannya, Django Unchained juga dikemas dengan gaya western jadul, seperti dengan zoom-in tiba-tiba, yang membuat Django menjadi sebuah penghormatan khusus atau homage dari Tarantino pada film western. Surat cinta berdarah yang sinting pangkat miring dengan kadar kekerenan yang tak terhingga.

Best moment(s): Massacre, yeah!


8. The Dark Knight Rises

"When Gotham is ashes, then you have my permission to die." ~ Bane (Tom Hardy)
Bayangkan, Batman Begins adalah makanan pembukaThe Dark Knight adalah menu utama, sedangkan The Dark Knight Rises adalah penutupnya. Di pembuka, kita diberikan suguhan menakjubkan, tapi itu baru awal. Di menu utama, kita kembali disuguhkan menu nikmat yang super grande. Dan akhirnya, semua ini ditutup oleh makanan penutup yang serba manis. Ya, dan itulah yang Christopher Nolan berikan dari trilogi hebatnya ini. Dengan cerita, script, directing, dan cast yang menghipnotis, mampu membuat The Dark Knight Rises menjadi sebuah action cerdas dan spektakuler yang tak hanya memanfaatkan aksi-aksi seru saja. Tom Hardy, meski harus bersembunyi dibalik masker, namun aura villain-nya sudah tak terbantahkan lagi, walau masih belum bisa mengalahkan Joker versi Heath Ledger yang luar biasa. Anne Hathaway pun dapat tampil dengan sensualitas tingkat tinggi sebagai Catwoman yang abu-abu. Di awali dengan opening yang sangat thrilling dan ditutup oleh sebuah ending yang tak akan bisa dilupakan dan akan terus melekat dalam pikiran. Sebuah konklusi trilogi Batman epic dari seorang Nolan yang juga diakhiri oleh konklusi maha dahsyat yang memiliki kadar twist di dalamnya. Masih sedikit di bawah The Dark Knight yang luar biasa, namun karya ambisius Nolan ini tetap saja menjelma sebagai alat hipnotis yang fantastis.

Best moment(s): Save the best for last... and first.


7. Beasts of the Southern Wild

"Everybody loses the thing that made them. The brave men stay and watch it happen. They don't run." ~ Hushpuppy (Quvenzhané Wallis)
Beasts of the Southern Wild, mungkin merupakan film paling kumuh dan gembel dalam beberapa tahun terakhir, namun juga sekaligus paling down-to-earth dan imajinatif. Sedikit absurd, sedikit fantasi, sedikit survival, sedikit keluarga, dan banyak drama ayah-anak. Itu hanyalah sekelumit hal yang membuat Beasts of the Southern Wild begitu fantastis dan luar biasa. Dan siapa sangka, aktris muda Quvenzhané Wallis, mampu bersinar dengan segala kepolosan dan imajinasinya yang luar biasa luas, yang juga bernarasi penuh filsafat namun disampaikan tetap dalam kepolosannya. Dwight Henry juga tak kalah, karakternya memang keras dan kasar, namun kita semua dapat merasakan rasa cintanya yang teramat dalam pada anaknya Hushpuppy yang diperankan Wallis. Salah satu hal yang membuat Beasts of the Southern Wild istimewa pastinya terletak pada keberhasilan Benh Zeitlin mengiring kita hingga terhanyut dalam cerita, namun dengan sudut pandang seorang anak kecil, yang membuatnya menjadi lebih sederhana dan down-to-earth. Beasts of the Southern Wild adalah film indah tentang kegigihan dan ambisi yang luar biasa dalam kehidupan manusia, bahkan terjadi di saat paling susah sekalipun. 

Best moment(s): "Beast! Beast it! Beast it! Beast it!"


6. Life of Pi

"I can eat biscuits, but God made tigers carnivorous, so I must learn to catch fish. If don't, I'm afraid his last meal would be a skinny vegetarian boy." ~ Pi Patel (Suraj Sharma)
Tahun ini memang tahunnya film-film adaptasi dari novel unfilmable. Setelah ada Cloud Atlas dalam daftar ini, selanjutnya ada Life of Pi. Judulnya sederhana, Life of Pi, pastinya kisah tentang tokoh bernama Pi. Tapi, apakah memang filmnya sesederhana itu? Jelas tidak, apalagi untuk seorang Ang Lee. Kisah yang ada malah begitu indah, megah,  hebat, dan imajinatif. Secara keseluruhan, Life of Pi adalah sebuah perjalanan spiritual yang dijabarkan dengan cara yang sangat unik. Life of Pi dengan sangat cerdas menujukan perjalanan ini bukan hanya pada satu agama saja, tapi bisa dibilang pada semua agama alias berwujud universal. Ang Lee masih belum kehilangan pesonanya sebagai sutradara hebat, sementara David Magee dengan baik menangani screenplay-nya. Kolaborasi keduanya membuat kisah Life of Pi menjadi sangat luar biasa, dengan mempertahankan plot imajinasi tingkat tinggi, dialog-dialog penyegar tawa, beserta ending yang bukan hanya imajinatif, tapi juga memiliki cita rasa twist di dalamnya. Tapi, apresiasi besar juga mesti diberikan pada Suraj Sharma juga berhasil dalam perannya sebagai Pi, juga dalam membangun chemistry kuatnya dengan makhluk yang hampir full-CGI, si harimau bengal, Peter Parker. Berbicara soal Peter Parker, maka tak akan lepas dari tata visual film yang sangat indah. Dengan sinematografi mantap dan visual-effect hebat, mampu memberikan Life of Pi amunisi untuk menjadi satu kesatuan yang begitu powerful.

Best moment(s): Who doesn't love the ending?!


5. Lincoln

"No one ever been loved so much by the people. Don't waste that power!" ~ Mary Todd Lincoln (Sally Field)
Tenang, tentu saja ini bukan Abraham Lincoln sang pemburu vampir yang hasilnya buruk itu. Ini adalah Lincoln, murni tanpa bumbu fantasi, dan tidak disutradarai oleh sembarang orang, siapa lagi kalau bukan Steven Spielberg. Mengisahkan tentang upaya Abraham Lincoln untuk menghapuskan perbudakan dan mendamaikan negerinya dari perang, yang kisahnya dapat terjalin dengan sangat kuat. Kekuatan ini belum ditambah oleh penampilan cast-nya yang bertabur bintang. Dipimpin oleh Daniel Day-Lewis yang tampil dengan penampilan sangat heart-warming sebagai Lincoln. "Behind every great man there's a great woman," begitu kata orang-orang. Hal itu juga terjadi dalam hidup Lincoln. Dengan chemistry yang sangat erat, Sally Field sebagai Mary Todd Lincoln menyajikan kualitas akting luar biasa. Ada pula Tommy Lee Jones yang tampil kalem dan tak kalah berkharismanya dengan Daniel Day-Lewis. Kredit pada makeup yang luar biasa, seketika menyulap Day-Lewis menjadi salah satu presiden kebanggaan AS dengan sangat akurat. Lincoln berhasil merangkum sebuah kisah sejarah dan biopik hebat hanya dalam 2,5 jam. Well done, Mr. Spielberg! You did it, AGAIN.

Best moment(s): Ketika semua orang dapat menerbangkan topi bersama dalam "Aye! Nay! Aye!", maka semua orang juga bisa larut dalam "Tragedi Teater Ford" yang emosional.


4. Holy Motors

"Nothing makes us feel so alive as to see others die. That's the sensation of life, the feeling that we remain." ~ Monsieur Oscar (Denis Lavant)
Holy Motors? Film jenis apa itu? Tenang, jika anda sama sekali belum mendengar judulnya, itu bukan karena anda yang kurang up-to-date mengenai film terbaru, tapi karena Holy Motors mungkin merupakan satu-satunya film yang paling tak dikenal dalam list ini. Jelas, karena film ini sama sekali bukan produksi Hollywood, melainkan merupakan film asal Prancis-Jerman yang disutradarai dan ditulis oleh sineas Prancis, Leos Carax. Dengan membawa aroma David Lynch di dalamnya yang penuh surrealisme, Carax mengemas sebuah tontonan love-it-or-hate-it dengan begitu menghipnotis. Cerita yang ditawarkan sangatlah sederhana (kalau tak mau dibilang aneh): bagaimana Monsieur Oscar (Denis Lavant), seorang aktor dalam 'kehidupan nyata', menjalani hidupnya dari pagi hingga malam. Namun, hal yang istimewa adalah cara Carax menawarkannya dengan penuh keanehan dan keunikan, bagaimana Oscar berpindah dari hidup satu ke hidup lainnya yang memiliki kejutannya masing-masing, juga bagaimana ia menggabungkan kisah ini dengan sebuah kisah romantisme. Sementara Carax menghasilkan tontonan hebat, Denis Lavant menghasilkan penampilan luar biasa, bagaimana ia bertransformasi dari satu karakter ke karakter lainnya, it's just amazing! Di lain sisi, Edith Scob berhasil mengisi karakternya dengan nyawa, dengan membawa chemistry hangat dengan Denis Lavant. Holy Motors adalah batasan abu-abu antara surrealisme dengan kerealistisan, dimana seorang Leos Carax membawa kita ke dunia penuh keanehan, namun dengan tetap tak meninggalkan sisi humanisnya, yang pada akhirnya meninggalkan penonton dengan interpretasi mereka masing-masing. Entah apa yang ia coba bawa dalam Holy Motors, tapi satu yang paling jelas: ini adalah sebuah masterpiece.

Best moment(s): Motion-capture biasanya dipakai dalam film-film Hollywood berbudget tinggi, yang kemudian nanti diubah ke dalam bentuk animasi. Tapi, dalam Holy Motors, motion-capture ini sudah berubah fungsi, dan tentu saja, penuh keanehan.


3. Zero Dark Thirty

"I'm the motherf*cker that found this place, sir." ~ Maya (Jessica Chastain)
Film-film Kathryn Bigelow memang tipikal film yang sangat dicintai kritikus (94% di RT dan 95 dari Metacritic), tapi kerap dibenci penonton awam, meski hanya beberapa saja. Beberapa menyebut film-film buatannya adalah propaganda. Well, we're talking about movies right now, jadi saya tak peduli ini adalah propaganda atau bukan, saya di sini hanya berbicara tentang kualitas film yang bercerita tentang perburuan Osama bin Laden ini. Sutradara yang sukses lewat The Hurt Locker tersebut memang selalu bisa membangun tensi-tensi ketegangan maksimumdan hal itu juga ia buktikan lagi dalam Zero Dark Thirty. Dibuka dengan torture scene yang banyak dicerca orang karena dianggap tak layak lewat waterboarding, meski saya menganggap lebih banyak film, khususnya slasher yang lebih sadis daripada itu, namun lewat scene itu, Bigelow mulai membangun tensinya dengan perlahan, dan terus menjaganya hingga klimaks dimulai. Meski tak telalu berpondasi pada karakter, melainkan pada ceritanya sendiri, namun Jessica Chastain sebagai leading actress, menampilkan penampilan menakjubkan sebagai seorang CIA yang ambisius yang membuatnya seketika muncul sebagai front-runner untuk Best Actress di Oscar nanti, bersama Jennifer Lawrence. Sedikit tak berperikemanusiaan, tapi Bigelow berhasil mengemasnya menjadi sebuah 157 menit yang penuh suspense dengan naskah yang benar-benar kokohtak ketinggalan dengan jajaran cast yang tak usah diragukan lagi, khususnya Jessica Chastain yang brilian.

Best moment(s): Ini adalah kisah yang diangkat dari perburuan Bin Laden, jadi sudah bisa menebak apa momen terbaiknya?


2. Argo

"Ar-go f*ck yourself!" ~ Lester Siegel (Alan Arkin)
Setelah terlewatkan oleh Oscar untuk Gone Baby Gone dan The Town, maka tahun ini setelah buzz dan kans yang begitu besar, sayangnya ia kembali gagal ketika namanya tak muncul dalam nominasi Best Director dalam langkahnya memfilmakan dramatisasi kisah nyatan yang berjalan dengan penuh ketegangan yang memacu adrenalin ini. Uniknya, Ben Affleck tidak membangun intensitas ketegangannya lewat muntahan timah panas bertubi-tubi atau ledakan-ledakan bom. Coba perhatikan bagaimana Affleck memberikan setiap momen thrilling lewat demo masa, paspor, runway pesawat, atau bahkan lewat telepon. Alan Arkin tampil kocak sebagai karakter paling memorable dalam film ini. Sedikit mengingatkan dengan peran gokilnya sebagai kakek berpikiran ngeres dalam Little Miss Sunshine, meski kali ini tampaknya ia telah bertobat, walaupun dialog-dialog gokilnya belum hilang sama sekali. Supporting cast lainnya juga memberikan penampilan yang sangat baik, bahkan hingga para aktor yang bukan kelas A sekalipun. Argo berhasil menyajikan setiap momen thrilling dan humor-humor gelapnya ke dalam sebuah film yang didasarkan atas kejadian nyata ini, lengkap dengan ensemble cast memukau. Bukan jenis thriller yang hanya menjual ketegangan, tapi juga kualitas cerita dan cast-nya.

Best moment(s): Cukup satu potong kalimat: "Ladies and Gentleman, alcoholic beverages can be served now...", sudah cukup membuat satu bioskop berteriak riang.


1. Amour

"Things will go on as they have done up until now. They'll go from bad to worse. Things will go on, and then one day it will all be over." ~ Georges (Jean-Louis Trintignant)
Michael Haneke, namanya memang tak setenar Nolan, Spielberg, atau Jackson, tapi jangan ragukan kemampuannya. Namun, dalam berbagai festival film dunia, kemampuan dan prestasinya memang sudah menyebar kemana-mana. Dengan gaya penyutradaraan yang setenang air dalam kolam, memang bukan untuk semua orang yang lebih menyukai film dengan fast-paced. Hal itu pulalah yang ia kembali tampilkan lewat Amour, film yang mungkin merupakan kompetitor terberat dalam Oscar dan bahkan rasanya sudah fix bahwa film ini akan pulang dengan mengantongi Oscar untuk Best Foreign Languange Film, meski nominasinya sendiri belum diumumkan. Sangat lambat, namun juga sangat kuat. Kekuatan cinta Emmanuelle Riva dan Jean-Louis Trintignant benar-benar tercipta dengan hebat dan realistis. Riva sangat mengagumkan di usia tuanya, dengan mempersembahkan salah satu penampilan terbaik sepanjang tahun 2012. Salah satu kisah cinta paling manusiawi yang pernah ada, yang mungkin saja dapat terjadi pada beberapa orang. Amour bukan hanya presentasi mengenai arti cinta sebenarnya, tapi juga tentang ketika semua yang telah kita lalui mengalami jalan buntu dan tanpa solusi. Tanpa menjadikan Amour sebagai tearjerker, Haneke telah membuktikan, bahwa film romansa bukan hanya melulu tentang penguras air mata dan komedi.

Best moment(s): Dieksekusi dengan tempo yang super lambat, namun akhirnya diakhiri oleh sesuatu yang benar-benar shocking. 

Monday, January 14, 2013

Tagged under: , , , , , , , ,

[List] The 70th Golden Globe Awards Winners!

"Les Miserables leads the show with Argo, while Lincoln just takes home one award."
Entah kebetulan atau tidak, yang malam penganugrahan insan film terbesar kedua dalam Hollywood ini tampak seperti sedang mengejek Oscar, dengan dimenangkannya Argo dalam dua kategori: Best Motion Picture - Drama dan Best Director, sementara Lincoln hanya bisa pasrah setelah membawa pulang satu berkat peran menakjubkan dari Daniel Day-Lewis sebagai Abraham Lincoln. Les Miserables, musikal dari Tom Hooper juga menang besar, dengan memborong 3 piala, termasuk Best Motion Picture untuk komedi atau musikal, Best Actor dalam komedi atau musikal untuk Hugh Jackman, dan (seperti yang telah diprediksi banyak orang), Best Supporting Actress untuk Anne Hathaway.

Zero Dark Thirty juga membawa pulang sebuah Golden Globe untuk Best Actress - Drama, berkat peran Jessica Chastain yang ambisius, sementara Jennifer Lawrence bisa berbangga diri karena mengalahkan aktris sekaliber Meryl Streep setelah memenangkan Best Actress - Musical or Comedy. Sementara film western penuh darah, Django Unchained dari Quentin Tarantino memenangkan Best Screenplay serta Best Supporting Actor untuk Christoph Waltz. Dalam ranah animasi, Brave akhirnya dapat membuktikan bahwa Pixar telah bangkit dan dapat menari-nari bebas di atas dua kompetitor terkuatnya, Frankenweenie dan Wreck-It Ralph. Berikut ini daftar lengkap pemenang Golden Globe tahun ini (pemenang ditebalkan).

- Best Motion Picture – Drama
Argo
Django Unchained
Life of Pi
Lincoln
Zero Dark Thirty

- Best Picture – Comedy or Musical
Les Misérables
The Best Exotic Marigold Hotel
Moonrise Kingdom
Salmon Fishing in the Yemen
Silver Linings Playbook

- Best Director
Ben Affleck (Argo)
Kathryn Bigelow (Zero Dark Thirty)
Ang Lee (Life of Pi)
Steven Spielberg (Lincoln)
Quentin Tarantino (Django Unchained)

Best Actor – Drama
Daniel Day-Lewis (Lincoln)
Richard Gere (Arbitrage)
John Hawkes (The Sessions)
Joaquin Phoenix (The Master)
Denzel Washington (Flight)

Best Actress – Drama
Jessica Chastain (Zero Dark Thirty)
Marion Cotillard (Rust and Bone)
Helen Mirren (Hitchcock)
Naomi Watts (The Impossible)
Rachel Weisz (The Deep Blue Sea)

Best Actor – Comedy or Musical
Hugh Jackman (Les Misérables)
Jack Black (Bernie)
Bradley Cooper (Silver Linings Playbook)
Ewan McGregor (Salmon Fishing in the Yemen)
Bill Murray (Hyde Park on Hudson)

Best Actress – Comedy or Musical
Jennifer Lawrence (Silver Linings Playbook)
Emily Blunt (Salmon Fishing in the Yemen)
Judi Dench (The Best Exotic Marigold Hotel)
Maggie Smith (Quartet)
Meryl Streep (Hope Springs)

Best Supporting Actor
Christoph Waltz (Django Unchained)
Alan Arkin (Argo)
Leonardo DiCaprio (Django Unchained)
Philip Seymour Hoffman (The Master)
Tommy Lee Jones (Lincoln)

Best Supporting Actress
Anne Hathaway (Les Misérables)
Amy Adams (The Master)
Sally Field (Lincoln)
Helen Hunt (The Sessions)
Nicole Kidman (The Paperboy)

Best Screenplay
Quentin Tarantino (Django Unchained) 
Chris Terrio (Argo)
Tony Kushner (Lincoln)
David O. Russell (Silver Linings Playbook)
Mark Boal (Zero Dark Thirty)

Best Animated Feature
Brave
Frankenweenie
Hotel Transylvania
Rise of the Guardians
Wreck-it Ralph

Best Foreign Language Film
Amour (Austria)
A Royal Affair (Denmark)
The Intouchables (France)
Rust and Bone (France)
Kon-Tiki (Norway)

Best Original Score
Mychael Danna (Life of Pi)
Dario Marianelli (Anna Karenina)
Alexandre Desplat (Argo)
John Williams (Lincoln)
Tom Tykwer, Johnny Klimek & Reinhold Heil (Cloud Atlas)

Best Original Song
Skyfall (Skyfall) – Adele, Paul Epworth
For You (Act of Valor) – Monty Powell, Keith Urban
Not Running Anymore (Stand Up Guys) – Jon Bon Jovi
Safe & Sound (The Hunger Games)  Taylor Swift, John Paul White, Joy Williams, T-Bone Burnett
Suddenly (Les Misérables)  Claude-Michel Schönberg, Alain Boublil, Herbert Kretzmer

Sunday, January 13, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , , ,

[Part 1] 2012: 20 Best Movies


Tahun 2012 telah berlalu, banyak di antaranya menyisakan film-film yang tak terlupakan, namun beberapa ada pula film yang akhirnya dilupakan. Banyak sutradara ternama Hollywood kembali menelurkan karyanya, sebut saja Steven Spielberg, Kathryn Bigelow, Ben Affleck, Ang Lee, Wachowski bersaudara, David O. Russell, maupun Quentin Tarantino, yang untungnya tampil dengan hasil yang memuaskan. Selain itu, ada pula beberapa sutradara debutan yang hasilnya memuaskan pula. Dan dari film-film itu, saya merangkum 20 film terbaik dan tak terlupakan selama 2012, dan inilah 10 dari mereka (list ini updatable)By the way, maaf kalau ulasan untuk setiap filmnya terlalu panjang, karena saya juga sekaligus mereviewnya sedikit, hehe.


20. Cloud Atlas

"Our lives are not our own. We are bound to others. Past and present. And by each crime; and every kindness we birth our future." ~ Sonmi-451 (Doona Bae)
Penerimaan dari adaptasi novel unfilmable ini tak cukup baik, meski masih bisa dibilang cukup positif. Namun, saya malah begitu menyukai film ini, dan tak habis pikir Time menempatkannya sebagai film terburuk dalam 2012, bahkan lebih buruk dari Abraham Lincoln: Vampire Hunter, saya dapat mengerti kalau ada yang tak menikmatinya, tapi menempatkannya sebagai yang terburuk sangatlah berlebihan. Cloud Atlas sendiri terdiri dari 6 cerita yang berbeda dengan latar waktu dan genre yang saling bertolak belakang pula. Sains fiksi, drama, romansa, hingga komedi. Uniknya, setiap segmen hampir semuanya memiliki aktor yang sama, namun dengan karakter berbeda-beda. Menonton Cloud Atlas memang lebih terasa seperti sedang bermain puzzle. Kita sendirilah yang menyusun kepingan-kepingan puzzle itu menjadi puzzle lengkap. Akhirnya? Ketika kita selesai menyusunnya, seluruhnya menjadi satu kesatuan utuh, dan itulah yang saya rasakan ketika menonton Cloud Atlas, meski beberapa kisah bahkan tak berhubungan sama sekali. Film ini makin mantap dengan visual-effect dan sinematografi. Tapi, pekerjaan terberat pastinya berada di pundak departemen makeup dan editing-nya. Tak mudah mendandani aktor yang sama dalam karakter yang berbeda-beda. Saya bahkan pernah tak sadar bahwa di salah satu cerita, Halle Berry menjadi seorang wanita berkulit putih dan Ben Whisaw menjadi wanita! Hal yang sama juga terjadi pada editing. Tak ada yang tak setuju, bahwa menyatukan 6 cerita berbeda adalah hal yang teramat sulit. Screw the critics, i love this movie!

Best moment(s): Sekelompok manula melarikan diri! Lucu, konyol, sekaligus menghibur. Belum cukup? Para manula itu masih beraksi di sebuah cafe. Kekonyolan kembali dimulai. Jujur, bukan cerita terbaik, tapi paling menghibur.


19. Frankenweenie

"They like what science gives them but not the questions no, not the questions the science asks." ~ Mr. Rzykruski (Martin Landau)
Tim Burton, sutradara eksentrik ini memang dikenal lewat karya-karyanya yang tak kalah eksentriknya. Bukan hanya dalam film-film live action-nya saja, bahkan keeksentrikan tersembut juga merambah dalam karya-karya animasinya. Corpse Bride adalah contohnya. Namun, Corpse Bride kedatangan teman baru, Frankenweenie yang masih membawa aroma nyeleneh Burton dengan sangat kuat. Frankenweenie sendiri adalah remake dari karya film pendek live-action-nya terdahulu yang berjudul sama dan dirilis tahun 1984. Ya, meremake karyanya sendiri dan menjadikannya sebuah film animasi stop-motion? Bukankah itu adalah hal yang sangat berani, sama halnya denga kembali ke masa lalu? Well, untungnya ia mampu mengisi langkah berani itu dengan kualitas. Tim Burton rupanya masih gemar untuk menggambarkan karakter animasinya dengan gaya gothic, yang mungkin saja dapat menakutkan bagi anak-anak, apalagi Tim Burton rupanya lebih memilih untuk membuat Frankenweenie dalam format hitam-putih. Itu juga belum termasuk dengan langkah Burton yang mengambil sedikit inspirasi dari film horor klasik ternama, Frankenstein. Dari dubbing, tak ada yang dapat dicela, semuanya tersa begitu pas. Animasi? Tak ada pula, malah animasi hitam-puti dari stop-motion ini begitu menghibur mata. Dari cerita, Tim Burton mampu membuat kisah dalam Frankenweenie begitu menyentuh namun juga menghibur. Sederhana, namun dikemas dengan sepenuh hati.

Best moment(s): Pernah lihat godzilla dalam bentuk kura-kura? Kalau sudah pernah menonton Frankenweenie, tentunya sudah. Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi!


18. Prometheus

"Big things have small beginnings." ~ David (Michael Fassbender)
Masih lekat diingatan kita, sosok Ripley oleh Sigourney Weaver yang ikonik dengan monster Alien menyeramkan (batas menyeramkan dan menjijikkan memang sangat tipis) dalam Alien, film yang telah dirlis beberapa dekade lalu. Dan Ridley Scott adalah dalang dibalik teror itu. Kini, ia kembali lagi dengan film yang mirip dengan Alien, entah itu sebuah reboot atau prequel, Prometheus. Bedanya, tak ada lagi monster menjijikkan yang dulu kita kenal, melainkan misi gila sekelompok peneliti yang meneliti "The Engineers", begitu mereka menyebut sosok yang menurut mereka telah menciptakan manusia. Noomi Rapace yang berkharisma hadir menggantikan sosok Weaver, namun dalam versi yang lebih feminim dan religius. Prometheus memang tak menjual aksi-aksi hebat pemacu adrenalin, meski itu menjadi salah satu bagian penting film ini. Lain dari Alien atau sekuelnya Aliens, Prometheus memberikan cerita yang memiliki hakikat lebih dalam dari pendahulunya. Masih menimbulkan beberapa pertanyaan di akhirnya, namun saya sudah sangat puas dengan Prometheus ini, mungkin ada baiknya kita menunggu jawaban Scott dalam sekuel Prometheus nantinya, yang menurut saya mungkin akan menyambungkan kisah Alien dengan Prometheus. Jadi, prekuel atau reboot? Belum ada yang tahu pasti, both, maybe?

Best moment(s): Operasi caesar di atas pesawat luar angkasa? Well, setidaknya Noomi Rapace pernah mengalaminya. Tapi, kali ini benar-benar jauh berbeda dari biasanya. Salah satu adegan tercerdas, terkreatif, dan paling thrilling dalam tahun 2012. 


17. Rust and Bone

"Can't a wh*re train whales?" ~ Stephanie (Marion Cotillard)
Tahun 2007 lalu, aktris cantik asal Prancis, Marion Cotillard berhasil membawa pulang Oscar sebagai penyanyi Edith Piaf dalam biopik Le Vie en Rose. Kini, ia kembali memperlihatkan kemampuan aktingnya dalam sebuah melodrama romantis berjudul Rust and Bone. Ia sudah bukan seorang penyanyi Prancis ternama lagi, melainkan menjadi Stephanie, seorang pelatih paus pembunuh yang karena sebuah kecelakaan, akhirnya harus kehilangan kedua kakinya. Sebelum kecelakaan, ia pernah bertemu dengan Ali (Matthias Schoenaerts), seorang penjaga klub malam (yang nantinya menjadi streetfighter) sekaligus seorang ayah penyayang meski kadang kurang hati-hati, yang meleraikan perkelahiannya dengan seorang lelaki. Setelah kecelakaan, ia menelepon Ali, yang ternyata akan merubah kehidupan cinta Stephanie untuk selamanya. Seperti yang saya bilang tadi, penampilan Marion Cotillard memang sangat menakjubkan: emosional namun kuat. Chemistry erat yang dijaliinya bersama Matthias Schoenaerts juga menjadi salah satu faktor penting. Memang ada beberapa momen yang mengganggu, seperti penggunaan lagu Katy Perry yang janggal, meski tak terlalu menjadi masalah. Pada akhirnya, Rust and Bone berhasil menjadi melodrama dengan perpaduan yang sangat unik. Di satu sisi, ia indah, emosional, penuh cinta, dan hati, tapi di sisi lain, ia kaya akan segala kekerasan.

Best moment(s): Jangan pernah melepaskan pandangan saat anak sedang bermain, jangan pernah. 


16. Looper

"This time travel crap, just fries your brain like an egg." ~ Abe (Jeff Daniels)
Joseph Gordon Levitt adalah Bruce Wiliis dan Bruce Willis adalah Joseph Gordon Levitt. Keren? Sudah pasti, apalagi akting mereka juga sudah tidak usah diragukan lagi. Kolaborasi aktor dari dunia mimpi dengan aktor dari franchise yang tak pernah mati bersama sutradara indie ini mampu melahirkan karya yang hebat dan cerdas dari segi cerita, meski sebenarnya Looper berbicara tentang sesuatu yang sudah tak asing lagi dalam telinga, yaitu perjalanan lintas waktu. Meski  sempat kehilangan intensnya karena transisi dari action ke drama dalam pertengahan, setidaknya ini memberikan Emily Blunt kesempatan untuk mengembangkan karakternya, dan untungnya Blunt berhasil dengan menakjubkan. Aktor cilik Pierce Gagnon, secara mengejutkan, ternyata mampu memberikan akting super creepy, namun tetap manis. Ini membuat dirinya menjadi salah satu aktor cilik dengan penampilan terkuat dalam tahun 2012, bersanding dengan Wallis. Sebuah drama hebat yang dikemas secara unik dalam science fiction dan action yang cukup membuat adrenalin terpacu, yang didukung pula oleh 2 aktor lintas generasi serta cast lainnya yang membntuk penampilan kuat. Ini adalah blockbuster, namun dengan rasa indie.

Best moment(s): "Mommy loves you", dan best moment itu pun berakhir. Eh, ternyata tidak, masih ada lagi yang bahkan cukup mengejutkan.


15. The Cabin in the Woods

"Ok, I'm drawing a line in the f*cking sand. Do not read the Latin!" ~ Marty (Fran Kranz)
Masih ingat Scream? Film horor satir ini memang sukses mempermalukan horor di zamannya. Dalam 2012 ini, kita kedatangan satu lagi horor serupa, The Cabin in the Woods. Ini adalah proyek film gila dari Drew Goddard (Cloverfield) dan Joss Whedon (The Avengers). The Cabin in the Woods adalah wujud bahan olokan mereka berdua kepada ranah horor yang makin hari makin payah dan basi. Ide cerita di awal sangatlah klise dan kadaluarsa, sekelompok mahasiswa yang berlibur ke sebuah kabin di tengah hutan, yang selanjutnya sudah bisa ditebak jalan ceritanya, meski akhirnya salah. The Cabin in the Woods sejak awal memang dimaksudkan untuk menjadi olok-olokkan, tapi duo Goddard dan Whedon tentu tak pernah main-main dalam filmnya ini, meski sebatas olok-olokkan. Mereka mampu meramu horor, komedi gelap, fiksi sains, dan misteri menjadi kesatuan yang terasa begitu pas. Cast-nya memang tak istimewa, tapi semuanya mampu menjalankan perannya dengan sangat baik. Ditutup dengan twist berlapis, membuktikan bahwa The Cabin in the Woods adalah satir yang luar biasa. Horor satir hebat terhadap horor klise yang dibuat dengan penuh keklisean pula, namun malah membuat kadar satir yang ada terasa lebih kuat dan tepat sasaran. Kreatif, unik, aneh, gila, sinting, dan kawan-kawannya. Masih berpikir bahwa horor hanya itu-itu saja? Kalau iya, saya sarankan untuk cepat-cepat menonton The Cabin in the Woods, karena ia akan membuktikan bahwa pendapat anda salah besar.

Best moment(s): Hanya dengan mantra, "Let's get the party started!", dan tada! Ada kejutan dibalik semua pintu.


14. Skyfall

"Enjoying death. 007 reporting for duty." ~ James Bond (Daniel Craig)
Daniel 'Bond' Craig is back! Sam Mendes is back! Dan mereka berkolaborasi di film yang sama! The tough guy tampil dalam film yang diarahkan oleh sutradara pemenang Oscar dari American Beauty? Wow, tentu sebuah kesalahan besar untuk tak pernah menontonnya, dan merupakan salah satu 143 menit termahal dalam hidup yang telah menontonnya. Daniel Craig masih tak kehilangan kharismanya yang dingin dan manusiawi sebagai sebagai agen MI6, serta penuh magnet bagi para bond girls. Judi Dench kembali menunjukkan kemampuan aktingnya yang emas, sementara Javier Bardem sukses menjadi villain mega-sinting (dalam arti sebenarnya ataupun kiasan, bagi saya keduanya sama saja). Lalu, Ben Wishaw juga sukses menjelma menjadi Q, mungkin Q termuda yang pernah ada. Sam Mendes juga kembali menunjukkan taringnya, dan memberi ruang luas bagi setiap karakternya, yang membuahkan karakterisasi luar biasa, terutama bagi Dench yang membuat penampilan emosional di akhir film. Action yang dihadirkan begitu intens dan membuat adrenalin berpacu cepat, berkejaran dengan visual indah yang dinamis. Di hari jadi James Bond yang ke-50 ini, sudah pasti Skyfall adalah kado terindah.

Best moment(s): Daniel 'Bond' Craig berkelahi di atas kereta api! Jatuh tertembak, dan suara Adele tiba-tiba terdengar dengan begitu menyihir. Tapi, Bond tak pernah mati, kan? Anyway, cool opening.


13. Les Misérables


"I had a dream, my life would be so different from this hell I'm living!" ~ Fantine (Anne Hathaway)
Adaptasi drama musikal yang sebenarnya diadaptasi dari novel karya Victor Hugo ini memang sudah berulang kali difilmkan. Yang paling dikenal mungkin Les Misérables yang rilis tahun 1998, apalagi karena filmnya bertabur bintang Hollywood papan atas seperti Uma Thurman dan Liam Neeson, meski tak terlalu sukses dalam finansial. Namun, nampaknya film tersebut harus bergeser sedikit, dan memberi Les Misérables karya Tom Hooper ini menjadi  yang paling banyak dikenal, dengan raihan box-office hingga 190 juta dollar, yang pastinya masih akan terus bertambah. Bukan hanya yang paling populer, mungkin juga yang terbaik. Tom Hooper tentu tak usah diragukan lagi, apalagi setelah kemampuan yang ditunjukkannya dalam King's Speech. Kekuatan terbesar Les Misérables sebenarnya terletak pada jajaran cast. Hugh Jackman memberikan penampilan yang heart-warming, while Anne Hathaway gives a very, very, very heart-breaking performance. Eddie Redmayne tampil dengan penuh kekuatan. Hal yang sama terjadi pada Russel Crowe (meski suaranya tak sebagus cast lain), Samantha Barks, Amanda Seyfried, dan cast lainnya. Salah satu film dengan ensemble cast terbaik sepanjang 2012, terutama Jackman dan Hathaway. Selain itu, Hooper yang menerapkan seluruh cast untuk menyanyi live juga tepat, sehingga para aktor dapat menyesuaikan setiap emosi dengan setiap lirik dan nada. Hasilnya? Dapat dilihat saat Hathaway menyanyikan I Dreamed a Dream. Les Misérables adalah salah satu musikal terbaik dalam 2012 dengan penampilan para cast yang pitch-perfect, menghasilkan kekuatan magis yang dapat membius dan menghantui anda kapan saja.

Best moment(s): Anne Hathaway dreamed a very emotional dream. Inilah yang terjadi ketika menyanyi dengan berakting dilebur menjadi satu dengan sepenuh hati.


12. The Perks of Being Wallflower

"And in this moment I swear, we are infinite." ~ Charlie (Logan Lerman)
Setelah tidak lagi menjadi anak Poseidon, setelah lulus dari Hogwarts, dan setelah tak lagi menjadi remaja psycho; Logan Lerman, Emma Watson, dan Ezra Miller bertemu dalam sebuah drama SMA berjudul The Perks of Being Wallflower yang disutradarai Stephen Chbosky. Uniknya, The Perks of Being Wallflower diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Stephen Chbosky sendiri. Dalam drama remaja ini, karakter-karakter yang dihadirkan cukup berbeda dan menarik, namun tetap dapat terlihat realistis.  Logan Lerman merefleksikan karakter remaja canggung dengan masa lalu kelam dengan sangat baik. Emma Watson sebagai seorang senior yang punya hubungan dengan Lerman juga bermain baik dengan chemistry erat. Ada pula saudara tiri Emma yang penuh rahasia besar yang diperankan Ezra Miller. Ia kembali menunjukkan kemampuan aktingnya selepas We Need to Talk About Kevin. Dengan screenplay hasil adaptasi novel yang kuat, makin menambah kualitas The Perks of Being Wallflower. Jarang-jarang saya melihat drama remaja seperti The Perks of Being Wallflower ini. Complicated dan lebih kelam dari drama sekolah lainnya, namun anehnya, justru dengan begitu, The Perks of Being Wallflower terasa lebih realistis dan dekat dengan kehidupan nyata. Drama yang banyak mengangkat isu-isu sosial remaja yang mengalir dengan begitu kuat dan emosional. Salah satu yang terbaik di antara drama SMA yang lainnya. 

Best moment(s): The sweet ending.


11. Moonrise Kingdom

"We're in love. We just want to be together. What's wrong with that?" ~ Suzy (Kara Hayward)
Wes Anderson kembali dengan Moonrise Kingdom yang merupakan sebuah film keluarga yang berpusat pada karakter Sam yang kabur dari perkemahan pramukanya. Hadir dengan komedi Wes Anderson yang sangat khas, dengan screenplay yang kuat, dialog-dialog cerdas, serta cast pendukung bertabur bintang seperti Edward Norton, Bruce Willis, Frances McDormand, Tilda Swinton, dan Bill Murray yang mampu mendukung kedua kekuatan utama film ini, Jared Gilman dan Kara Hayward, yang juga dapat mengimbangi pemain-pemain bintang ini. Chemistry yang diciptakan Jared Gilman dan Kara Hayward sangatlah erat, membuat kisah cinta monyet ini semakin menarik, belum lagi kelakuan mereka berdua yang aneh-aneh, cukup gila, dan tak lazim untuk umur mereka. Hal yang sama juga terjadi dalam teknis film dari costume design hingga sinematografi. Visualnya begitu indah dengan tone pas, membuat atmosfer film menjadi vintage a la tahun 60anKonyol, lucu, aneh, dan sedikit tak masuk akal, tapi hal itulah yang membuat Moonrise Kingdom masuk dalam daftar ini, dan yang terpenting, Wes Anderson untungnya tak menyia-nyiakan supporting cast kelas papan atasnya tersebut.

Best moment(s): The awkward suicide scene.

Thursday, January 10, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , ,

[List] Nominees for the 85th Academy Awards

"Really, really bad surprises! No woman and 'the next Eastwood' in Best Director! Lincoln leads (again!) with 12 nominations, and Life of Pi follows with 11, while Les Miserables and Silver Lining Playbook get 8, and Argo gets 7 without (once again), Ben Affleck."
Apa jadinya Oscar tanpa kejutan? That will be totally boring, tapi tentu penuh kontroversi. Dan hal yang sama terjadi pada Oscar tahun ini. Di luar dugaan, nama Ben Affleck dan Kathryn Bigelow, sutradara Argo dan Zero Dark Thirty, hilang dari daftar nominasi Best Director. Banyak yang kecewa? Tentu, termasuk saya yang kecewa berat. Untungnya, rasa kekecewaan saya sedikit terbayar (sedikit log, sedikit), karena pengganti mereka, menurut saya juga pantas mendapatkannya. Adalah Benh Zeitlin dan Michael Haneke, untuk Beasts of the Southern Wild dan Amour. Ya! Kejutan lain datang dari Amour. Meski merupakan front-runner untuk Best Foreign Languange, tapi Amour memang termasuk kuda hitam dalam nominasi utama, karena Amour bukanlah film berbahasa Inggris. Seingat saya, terakhir kalinya sebuah film berbahasa asing yang masuk dalam Best Picture dan Best Director adalah Crouching Tiger, Hidden Dragon dari Ang Lee, yang masuk juga karena filmnya termasuk produksi AS. Sedangkan Amour? Sama sekali bukan tak ada ikut campur AS, namun secara mengejutkan berhasil menembus Best Picture, Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Actress. Well, meski Best Director cukup mengecewakan, Best Actress hadir dengan pilihan yang sangat tepat sekaligus paling unik: Chastain, Lawrence, Wallis, Riva, dan Watts. Unik? Ya, dari nominator termuda Wallis, hingga nominator tertua Riva, semuanya mendapatkan tempat tersendiri.

Dan seperti yang orang lain perkirakan, Lincoln kembali mendominasi kali ini dengan 12 nominasi, diikuti oleh Life of Pi yang mengantongi 11. Sedangkan, musikal (Les Miserables) dan komedi (Silver Lining Playbook) mendapat bagian yang sama rata, 8 nominasi. Thriller dari Affleck, Argo berdiri sendiri dengan 7 nominasi. Lima nominasi juga didapatkan oleh Amour, Django Unchained, Zero Dark Thirty, dan Skyfall. Anna Karanina mengantongi 4 nominasi, yang seluruhnya merupakan teknis, berbanding terbalik dengan Beasts of the Southern Wild, yang juga mendapat 4 nominasi pula, namun seluruhnya merupakan penghargaan utama. Dan inilah daftar nominasi selengkapnya beserta prediksi saya (hanya untuk awards non-teknis, bukan film pendek, dan dokumenter, yang bukan hanya didasarkan pendapat saya, tapi juga buzz yang mereka terima), mulai dari Amour dan Argo, hingga Silver Linings Playbook serta Zero Dark Thirty.

Best Picture
Amour
Argo
Beasts of the Southern Wild
Django Unchained
Lincoln
Les Misérables
Life of Pi
Silver Linings Playbook
Zero Dark Thirty

Will win: Lincoln

Best Director
Michael Haneke – Amour
Ang Lee – Life of Pi
David O. Russell – Silver Linings Playbook
Steven Spielberg – Lincoln
Benh Zeitlin – Beasts of the Southern Wild

Will win: Steven Spielberg 

Best Actor
Bradley Cooper – Silver Linings Playbook
Daniel Day-Lewis – Lincoln
Hugh Jackman – Les Misérables
Joaquin Phoenix – The Master
Denzel Washington – Flight

Will win: Daniel Day-Lewis 

Best Actress
Jessica Chastain – Zero Dark Thirty
Jennifer Lawrence – Silver Linings Playbook
Emmanuelle Riva – Amour
Quvenzhané Wallis – Beasts of the Southern Wild
Naomi Watts – The Impossible

Will win: Jennifer Lawrence or Jessica Chastain

Best Supporting Actor
Alan Arkin – Argo
Robert De Niro – Silver Linings Playbook
Philip Seymour Hoffman – The Master
Tommy Lee Jones – Lincoln
Christoph Waltz – Django Unchained

Will win: Philip Seymour Hoffman or Tommy Lee Jones

Best Supporting Actress
Amy Adams – The Master
Sally Field – Lincoln
Anne Hathaway – Les Misérables
Helen Hunt – The Sessions
Jacki Weaver – Silver Linings Playbook

Will win: Anne Hathaway

Best Writing – Original Screenplay
Amour – Michael Haneke
Django Unchained – Quentin Tarantino
Flight – John Gatins
Moonrise Kingdom – Wes Anderson and Roman Coppola
Zero Dark Thirty – Mark Boal

Will win: Django Unchained

Best Writing – Adapted Screenplay
Argo – Chris Terrio
Beasts of the Southern Wild – Lucy Alibar and Benh Zeitlin
Life of Pi – David Magee
Lincoln – Tony Kushner
Silver Linings Playbook – David O. Russell

Will win: Lincoln

Best Animated Feature
Brave
Frankenweenie
ParaNorman
The Pirates! Band of Misfits
Wreck-It Ralph

Will win: Brave, Frankenweenie, or Wreck-It Ralph

Best Foreign Language Film
Amour
Kon-Tiki
No
A Royal Affair
War Witch

Will win: Amour

Best Documentary – Feature
5 Broken Cameras
The Gatekeepers
How to Survive a Plague
The Invisible War
Searching for Sugar Man

Best Documentary – Short Subject
Inocente
Kings Point
Open Heart
Redemption
Mondays at Racine

Best Live Action Short Film
Asad
Buzkashi Boys
Curfew
Death of a Shadow (Dood Van Een Schaduw)
Henry

Best Animated Short Film
Adam and Dog
Fresh Guacamole
Head over Heels
The Longest Daycare
Paperman

Best Original Score
Anna Karenina – Dario Marianelli
Argo – Alexandre Desplat
Life of Pi – Mychael Danna
Lincoln – John Williams
Skyfall – Thomas Newman

Best Original Song
“Before My Time” from Chasing Ice – J. Ralph
“Everybody Needs a Best Friend” from Ted – Walter Murphy and Seth MacFarlane
“Pi’s Lullaby” from Life of Pi – Mychael Danna and Bombay Jayashri
“Skyfall” from Skyfall – Adele Adkins and Paul Epworth
“Suddenly” from Les Misérables – Claude-Michel Schönberg, Herbert Kretzmer and Alain Boublil

Best Sound Editing
Argo – Erik Aadahl and Ethan Van der Ryn
Django Unchained – Wylie Stateman
Life of Pi – Eugene Gearty and Philip Stockton
Skyfall – Per Hallberg and Karen Baker Landers
Zero Dark Thirty – Paul N. J. Ottosson

Best Sound Mixing
Argo – John Reitz, Gregg Rudloff and Jose Antonio Garcia
Les Misérables – Andy Nelson, Mark Paterson and Simon Hayes
Life of Pi – Ron Bartlett, D. M. Hemphill and Drew Kunin
Lincoln – Andy Nelson, Gary Rydstrom and Ronald Judkins
Skyfall – Scott Millan, Greg P. Russell and Stuart Wilson

Best Production Design
Anna Karenina – Sarah Greenwood & Katie Spencer
The Hobbit: An Unexpected Journey – Dan Hennah, Ra Vincent and Simon Bright
Les Misérables - Eve Stewart & Anna Lynch-Robinson
Life of Pi – David Gropman & Anna Pinnock
Lincoln – Rick Carter & Jim Erickson

Best Cinematography
Anna Karenina – Seamus McGarvey
Django Unchained – Robert Richardson
Life of Pi – Claudio Miranda
Lincoln – Janusz Kaminski
Skyfall – Roger Deakins

Best Makeup and Hairstyling
Hitchcock
The Hobbit: An Unexpected Journey
Les Misérables

Best Costume Design
Anna Karenina – Jacqueline Durran
Les Misérables – Paco Delgado
Lincoln – Joanna Johnston
Mirror Mirror – Eiko Ishioka
Snow White and the Huntsman – Colleen Atwood

Best Film Editing
Argo – William Goldenberg
Life of Pi – Tim Squyres
Lincoln – Michael Kahn
Silver Linings Playbook – Jay Cassidy and Crispin Struthers
Zero Dark Thirty – Dylan Tichenor and William Goldenberg

Best Visual Effects
The Hobbit: An Unexpected Journey – Joe Letteri, Eric Saindon, David Clayton and R. Christopher White
Life of Pi – Bill Westenhofer, Guillaume Rocheron, Erik-Jan De Boer and Donald R. Elliott
Marvel’s The Avengers – Janek Sirrs, Jeff White, Guy Williams and Dan Sudick
Prometheus – Richard Stammers, Trevor Wood, Charley Henley and Martin Hill
Snow White and the Huntsman – Cedric Nicolas-Troyan, Philip Brennan, Neil Corbould and Michael Dawson

Sunday, January 6, 2013

Tagged under: , , , ,

[Review] Life of Pi (2012)

"God, thank you for giving me my life. I am ready now." ~ Pi Patel

Ang Lee adalah salah satu sutradara terhebat masa kini yang serba bisa. Coba lihat, film seni bela diri? Crouching Tiger, Hidden Dragon memiliki segalanya. Drama romansa yang agak nyeleneh? Ada Jake Gyllenhaal dan Heath Ledger di Brokeback Mountain. Dan sekarang, adaptasi dari novel unfilmable? Maka Life of Pi lah yang merupakan jawaban paling tepat. Oke, mari sejenak lupakan nilai merahnya dalam Hulk. Bukankah setiap sutradara, bahkan yang sehebat Steven Spielberg sekali pun, punya catatan buruk? Kecuali Stanley Kubrick, mungkin. Kembali ke Life of Pi, rasanya setiap orang harus menghapus setiap embel-embel novel yang tak akan bisa diadaptasi dalam bentuk film. Contoh lain, ada Cloud Atlas yang akhirnya juga muncul dalam layar perak dengan sambutan yang lumayan positif, meski tak sehangat Life of Pi. Atau sebelum-sebelumnya, sebut saja ada Watchmen yang fenomenal dengan durasi panjang itu.

Sebelumnya, mungkin bagi beberapa orang yang begitu asing dengan novelnya akan bertanya-tanya, "mengapa orang-orang mengkategorikan Life of Pi sebagai novel unfilmable?". Pertanyaan bagus. Pertama, tema yang penulis novel ini, Yann Martel, sampaikan sebenarnya cukup berat, tentang eksistensi Tuhan, dan ini tentu harus menyinggung persoalan agama. Kedua, siapa yang bisa memfilmkan sebuah novel tentang  seorang remaja yang terjebak di tengah lautan dengan zebra, orangutan (biasa saja?), hyena (mulai terdengar mengerikan..), dan harimau bengal (ini klimaksnya)? Di tengah perjalanan kisahnya pun, banyak terdapat adegan yang membutuhkan visual hebat. Butuh CGI yang benar-benar hebat, tentunya dana yang besar pula. Lalu, siapa yang bisa? Mungkin dulu, jawabannya tak ada, tapi kini, Ang Lee tentu bisa mengadaptasi novel yang bukan hanya secara teknikal sangat sulit, tapi juga ketidakbiasaan novelnya.


Life of Pi, tak usah membaca sinopsis pun, mungkin anda sudah akan tahu akan bercerita tentang apa film ini. Tapi, mungkin harus anda pikirkan lagi kalau anda merasa tahu akan dibawa kemana kisah Pi ini, karena sungguh, kisahnya benar-benar menakjubkan dan sulit dipercaya. Film dibuka oleh opening credits yang menujukkan tenangnya suasana kebun binatang, sambil memamerkan teknologi 3D-nya. Pi Patel (Suraj Sharma) memang merupakan seorang remaja dan anak dari seorang pemilik kebun binatang, Shantosh Patel (Adil Hussain) dan seorang ahli botani, Gita Patel (Tabu). Pi juga memiliki seorang kakak bernama Ravi (Vibish Sivakumar). Pi, sejatinya bukan diambil dari konstanta matematika, tetapi dari nama sebuah kolam renang di Paris, Piscine (bukan pissin') Molitol. Masa kecilnya bukan dihabiskan dengan bermain dan bermain. Berbeda dengan anak seusianya saat itu, ia malah tertarik dengan agama. Meski terlahir sebagai seorang Hindu, namun karena ketertarikannya pada Tuhan dan agama, ia pun akhirnya memeluk 2 agama lain sekaligus, Kristen dan Islam.

Suatu saat, ia dan keluarganya harus pergi ke Kanada, dan menjual binatang-binatang di kebun binatang mereka. Dengan kapal bernama Tsimtsum, mereka pun berlayar mengarungi Samudera Pasifik. Namun, di tengah perjalanan, sebuah badai yang sebenarnya tak terlalu besar terjadi. Meski diperkirakan takkan membuat kapal tersebut karam, akhirnya kapal itu karam juga. Tak banyak yang selamat dari tragedi itu. Yang selamat hanyalah seekor hyena, zebra berkaki patah, Orange Juice (jangan tertipu, ini adalah nama orangutan), Richard Parker (yang sebenarnya merupakan nama seekor harimau bengal), dan remaja India bernama Pi Patel yang semuanya berhasil masuk sekoci. Sisanya? Mereka telah tenggelam ke dasar laut. Tinggalah Pi sendiri sebagai satu-satunya manusia yang selamat. Entah bagaimana hewan-hewan ini bisa lepas, namun Pi harus menghadapi kenyataan, bahwa ia harus bertahan, bertahan hidup dari kerasnya alam dan ganasnya Richard Parker yang dapat menerkamnya kapan saja. Tapi, di atas semua itu dan yang terpenting, kisah ini akan membuat anda percaya akan keberadaan Tuhan.


Jujur, saya tahu novelnya setelah mendengar film ini akan rilis (dan segera membacanya), dan reaksi pertama saya adalah heran. Entah heran atau terkesima, karena bagi saya, cerita yang ditawarkan memang sedikit out-of-the-box. Dengan mengambil sedikit unsur a la James Cameron dalam Titanic dengan Robert Zemeckis dengan Cast Away-nya, namun hasilnya malah sangat unik dan bahkan punya nilai orisinalitasnya tersendiri. Saya juga pernah mendengar bahwa novelnya sendiri menyentil sisi-sisi agama. Mungkin bukan menyentil lagi, tapi sudah menyentuh hampir keseluruhannya, karena tema novelnya sendiri memang tentang itu, hanya saja dengan media kisah Pi tadi. Saya pun, belum tahu nantinya di bagian mana akan ada sisi-sisi agama yang ditonjolkan, dan mungkin saja, akan mengundang kontroversi karena temanya sensitif.

Saya salah total tentang itu. Film ini (dengan novelnya, tentu saja), benar-benar cerdas! Ia memang menampilkan sisi sensitif itu, namun caranya benar-benar cerdas dan berbeda dengan film mainstream bertema sama. Ya, dengan cara memakai sudut pandang seorang anak kecil yang masih lugu, Life of Pi dapat menyampaikannya secara berbeda, dan tentu saja tanpa perlu kontroversi besar-besaran. Mengambil setting India yang kaya akan agama, Pi menjalani masa kecilnya yang 'labil' dalam sebuah perjalanan spiritual yang unik. Dengan 'menjelajahi' satu agama ke agama lain, Pi kecil mencoba untuk mengenal Tuhan secara dekat. Cara yang manis dan lugu, meski di satu sisi, itu aneh.


Sebagai sutradara, Ang Lee sangat berhasil mengarahkan setiap aspek penting dan detail-detail film ini, terutama Suraj Sharma yang untuk pertama kalinya membintangi sebuah film. Dan sekali lagi, ia membuktikan kapasitasnya sebagai seorang sutradara serba bisa, dan (sangat) mungkin merupakan sutradara berdarah Asia terbaik saat ini. Ia kembali memberikan penyutradaraan yang kuat sekaligus emosional, layaknya film-film terdahulunya seperti Brokeback Mountain yang tenang atau Crouching Tger, Hidden Dragon yang indah. Segala kesengsaraan mampu dihadirkan Ang Lee dengan sangat baik lewat atmosfernya yang cukup sepi, namun tak jatuh membosankan karena Ang Lee memang pandai menjaga tensi film ini sendiri.

Tapi, pekerjaan Ang Lee akan terbuang sia-sia jika tak ada skenario yang ditulis oleh David Magee juga sia-sia. Tentu saja ini tidak terjadi. David Magee tetap dapat 'menerjemahkan' lembaran-lembaran kertas menjadi frame demi frame film. Tak lupa, ia tak meninggalkan dialog-dialog pengundang tawa yang ada dalam beberapa dialog dalam novelnya, bahkan kali ini, ia menambahkan lebih banyak lagi dialog-dialog yang cukup membuat anda, minimal tersenyum. Penambahan tokoh Anandi dalam film yang sebenarnya tak ada dalam novel juga merupakan langkah tepat bagi saya. Selain menujukkan sisi remaja Pi, side story ini juga memberikan kontribusi besar bagi cerita serta esensi yang lebih dalam, meski porsi tokoh Anandi ini tak terlalu banyak.


Suraj Sharma, yang terpilih diantara lebih dari 3000 peserta casting lain, memang merupakan pilihan tepat untuk Pi. Ang Lee memang (hampir) selalu benar, kan? Dengan segala emosi dan mimik yang sangat mendukung, Sharma berhasil menghidupkan tokoh Pi. Indikator keberhasilan Suraj Sharma juga terletak pada posisinya yang merupakan sebuah jembatan para penonton untuk mendapatkan setiap materi film ini. Kerasnya alam, kesengsaraan, hingga kesendirian ditumpukan hanya pada karakternya, (meski Richard parker juga ikut andil di dalamnya) sebagai satu-satunya makhluk hidup berakal yang selamat dari tragedi tenggelamnya Kapal Tsimtsum. Lalu, apakah kita dapat merasakan apa yang Sharma berikan? Jawabannya sudah tentu, ya. Dan itu, bagi saya adalah indikator, bahwa Suraj Sharma telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Irrfan Khan, mungkin sebagai satu-satunya aktor yang bukan aktor tak dikenal dalam Life of Pi yang pernah bermain dalam reboot Spiderman, The Amzaing Spider-Man, juga tak pantas dilupakan. Sebagai Pi Patel dewasa, ia dapat merefleksikan Pi muda, meski sifatnya tentu sudah tak liar lagi. Tapi, mungkin Shuraj Sharma harus memberikan rasa terima kasih terbesarnya pada sang harimau bengal, Richard Parker, meski sebagian besar scene yang kita lihat merupakan hasil olahan komputer alias CGI (anyway, it looks very real!). Tapi terbukti, meski hampir full-CGI, namun nyatanya Richard Parker tetap mampu menjalin hubungan erat dengan Suraj Sharma, hubungan dengan makhluk alpha dan omega.


Ya, Life of Pi memang sangat berhutang budi pada visual-effects yang dipimpin oleh Bill Westenhofer, yang telah terbukti kehandalannya lewat The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe; dan bahkan Oscar yang diraihnya lewat The Golden Compass. Sulit dipercaya bahwa Richard Parker adalah makhluk semi-CGI, meski kalaupun dalam semua scene yang melibatkan Richard Parker bukanlah hasil komputer, semuanya malah lebih sulit dipercaya lagi. Bukan hanya Richard Parker kreasi departemen ini, dari makhluk sekecil hyena dan ikan terbang, hingga paus bungkuk dan cumi-cumi raksasa, semuanya adalah CGI. Sulit dipercaya? Huh, sangat sesuai dengan taglinenya, "Believe the unbelievable".

Life of Pi adalah film dengan tema mainstream yang bertutur dengan cara anti-mainstream. Ang Lee dan kawan-kawannya mampu menghadirkan esensi emosional yang ada tanpa kehilangan setiap esensi novelnya, dan memberikan anda sebuah pengalaman sinematik dan visual yang maha dahsyat. Tanpa perlu penuh jajaran aktor yang sangat populer (kecuali Irrfan Khan), Life of Pi ternyata dapat menghadiahkan sebuah performa yang sangat baik dari cast-nya. Kredit terbesar jatuh pada Suraj Sharma yang berhasil menghidupkan karakter Pi dengan sebaik-baiknya, juga Richard Parker dan Irrfan Khan. Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas Life of Pi telah berhasil menghidupkan tema eksistensi Tuhan tanpa menggurui sama sekali yang hadir dengan cara yang unik dan orisinil. Didukung oleh visual-effects dan teknologi 3D yang hebat pula, Life of Pi berhasil menjelma menjadi salah satu film terbaik dalam dekade ini. Sebuah masterpiece langka yang unbelievable, yang bukan hanya muncul sekali dalam beberapa tahun saja, tapi mungkin juga hanya muncul hanya sekali ini, dan tak akan pernah ada lagi.