Showing posts with label Indie. Show all posts
Showing posts with label Indie. Show all posts

Saturday, September 20, 2014

Tagged under: , , , ,

[Review] Boyhood (2014)

"Samantha! Why don't you say goodbye to that little horseshit attitude, okay, because we're not taking that in the car." ~ Mom

Dari banyaknya sineas bertalenta yang dimiliki Hollywood, rasanya tak akan terlalu sulit mengenali karya seorang Richard Linklater: narasi sederhana yang dibalut dengan permainan waktu. Kegemarannya bermain dengan waktu memang telah dibuktikan dari trilogi 'Before' yang rilis tiap 9 tahun dan masing-masing dari serinya bersetting dalam waktu yang begitu pendek. Di Before Sunrise, ia mengubah waktu sehari di Viena menjadi kisah manis yang tak lekang waktu bagi dua pasang muda mudi. Before Sunset adalah lain cerita, sebuah reuni singkat sederhana, berisi, dan romantis ditengah suasana canggung setelah lama tak bertemu, sekaligus menjadi terbaik di jajarannya. Kemudian 9 tahun kemudian, Before Midnight mengungkap sebuah kisah cinta penuh kerikil konflik bagi yang sudah tak muda lagi.

Kini, dengan Boyhood, Richard Linklater kembali dengan konsep yang lebih matang, lebih segar, dan lebih mencengangkan. Menghabiskan waktu pembuatan 12 tahun, Linklater bukan hanya membuat sebuah film, tapi lebih dari itu, ia 'mendokumentasikan' waktu, membuat penonton tercengang dan mungkin akan setengah percaya bahwa apa yang terjadi di layar benar-benar terjadi, sekalipun semuanya telah tahu bahwa Boyhood tetaplah sebuah film.


Melalui sudut pandang seorang anak berumur 5 tahun, Mason (Ellar Coltrane), kita menyaksikan sebuah kisah tumbuh dan kembang manusia. Bersama saudarinya, Samantha (Lorelei Linklater), Boyhood 'mendokumentasikan' fase ini lewat pembuatannya yang mengahabiskan waktu lebih dari 12 tahun. Mereka diasuh oleh ibu mereka, Olivia (Patricia Arquette) yang merawat kedua bocah ini sendiri setelah perceraiannya dengan Mason Sr. (Ethan Hawke). Dengan durasi yang hampir mencapai 3 jam, Boyhood bertutur tentang kisah yang familiar selagi kita menyaksikan pertumbuhan Mason dan Samantha serta perjuangan Olivia yang begitu berat dalam mengasuh kedua anaknya.

Silakan lihat situs IMDb, dan baca apa yang tertera di situ: "The life of a young man, Mason, from age 5 to age 18." Sebenarnya hanya butuh satu kalimat itu, sudah mampu mendeskripsikan apa yang film ini ceritakan. Bahkan, tak hanya satu kalimat, film ini pun dapat diceritakan lewat satu kata, 'Boyhood', sesuai apa yang anda lihat di judulnya. Ya, Boyhood memang sesederhana itu di kulitnya, tapi ia tak pernah sesederhana yang anda pikirkan di dalamnya, karena apa yang anda lihat sebenarnya cukup complicated: sebuah kisah fiktif yang terbalut dalam konsep realita kehidupan.


Naskah hasil kerja keras Linklater, sekalipun menyorot kehidupan 'sederhana' layaknya kehidupan orang lain pada umumnya, Boyhood bukanlah sebuah karya seperti yang sudah-sudah. Hal yang paling istimewa tentang Boyhood adalah kisahnya merupakan sebuah pandangan lebih jauh mengenai satu fase terpenting dalam kehidupan manusia, dan hebatnya lagi, hadir tanpa embel-embel drama konvensional Hollywood. Tak ada dramatisasi besar dalam caranya bertutur, anda tak akan melihat mereka berubah menjadi remaja psikopat atau remaja kurang ajar dalam We Need to Talk About Kevin dan Spring Breakers. Kisahnya bergulir seperti air yang mengalir di sebuah sungai. Ada kalanya ia berarus lambat dan ada kalanya di mana ia harus 'berlari' kencang, namun kembali lagi, minus apa yang biasa kita lihat dalam Hollywood..

Ya, segala tentang Boyhood adalah segala sesuata yang kita tahu akan terjadi. Seorang single mom yang merawat 2 anaknya, apa yang anda ekspektasikan? Pernikahan, perceraian, romansa monyet, graduation, college, pernikahan lagi, dan perceraian lagi, Sama sekali bukan masalah membeberkan kisahnya dan bahkan tak akan pula merusak pengalaman menonton anda, karena setiap orang juga telah tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya. Apakah ini membuat Boyhood adalah karya yang biasa-biasa saja? Sama sekali tidak. Inilah yang membedakan Boyhood dengan yang lainnya, sekalipun kontennya bukan hal yang baru, bagaimana Linklater membuat Boyhood tetap menarik adalah caranya bercerita dengan begitu akrab dan intim kepada penonton. Ini bukan hubungan guru-murid dengan batas di antaranya. ini adalah hubungan yang terjalin persis seperti ketika Patricia Arquette 'mendongengkan' novel Harry Potter kepada 2 anaknya: tulus dan tanpa penghalang.


Tapi, jangan lupakan satu lagi langkah menarik dari Linklater yang sukses membuat penonton merasakan apa yang telah terjadi selama 12 tahun pembuatannya. Ya, jangan kaget ketika ia menyisipkan begitu banyak referensi kultur pop yang erat hubungannya dengan zaman tertentu yang membuat banyak senyum simpul tercipta: dari demam Harry Potter, Britney Spears' ...Baby One More Time, Aaliyah's Try Again, Lady Gaga's Telephone, hingga Gotye's Somebody That I Used to Know, Boyhood rupanya bukan hanya sukses berkat betapa revolusioner narasinya, tapi juga berkat nilai nostalgianya yang begitu besar dalam alurnya yang dinamis dengan waktu, Semua itu, berhasil mengembalikan waktu, layaknya mesin waktu yang membuat para penonton tumbuh lagi untuk kedua kalinya.

Tidak sulit menentukan apa saja hal yang membuat kita berdecak kagum akan Boyhood. Dari kisah, nostalgia, hingga kesederhanaannya, tapi jangan lupakan bagaimana Boyhood menghadirkan tiap jajaran karakternya. Ada chemistry kokoh yang terjalin dari tiap karakter. Ya, waktu 12 tahun itu tentu berkontribusi banyak, tapi tak sampai di situ, karena berkat hal ini, ada hubungan erat yang terjalin antara karakter dengan penonton. Akting dua objek dari studi karakter ini memang bukanlah akting terbaik yang anda lihat dalam dekade ini, bukan hal luar biasa namun bukan itu yang kita cari. Semua tentang Boyhood adalah kesederhanaan, dan kejujuran berakting dari Ellar Coltrane dan Lorelei Linklater serta apa yang terjalin di antara mereka adalah apa yang dibutuhkan dalam kisah seperti ini.


Tapi, seberapa besar fokus film tertuju pada proses menuju dewasa seorang remaja, penampil terbaik tetaplah dipegang oleh sang ibu, diperankan aktris indie veteran, Patricia Arquette, yang mampu membuat judul alternatif 'motherhood' sebenarnya merupakan ide yang bagus. Sebagai single-mom Olivia, Patricia tak hanya mampu tampil memukau dengan akting kelas satu saja, di tengah keterbatasan waktunya, ia bahkan berhasil membuat tema 'motherhood' hadir dengan tegas tanpa harus tertutupi porsi 'boyhood'-nya yang jauh lebih dominan. Selain anggota keluarga Arquette tersebut, Ethan Hawke, aktor langganan Richard Linklater juga hadir memberi warna. Ia, keceriaan, selera humor, dan kegemarannya terhadap musik hadir menyeimbangkan kisah, membuatnya mungkin merupakan salah satu sosok ayah terkeren dalam sejarah perfilman.

Ya, Boyhood bukan lah sekedar film coming-of-age indie biasa. Berangkat dari idenya yang luar biasa, Linklater membawa tema sederhananya mencapai level baru dalam industri perfilman yang belum pernah dicapai sebelumnya, menyentuh realitas dengan caranya yang sederhana namun berbeda. Boyhood mampu membuat bubuhan makeup terasa begitu old-fashioned dan penuaan alami merupakan trend terbaru, membuat siapapun tersenyum simpul lewat nostalgia yang Linklater tabur sekaligus menegaskan bahwa Boyhood adalah film ter-up-to-date yang pernah ada. Nafasnya sederhana, kisahnya pernah (atau setidaknya akan dialami) oleh 7 milyar manusia di bumi. Tapi, apa yang mampu membuat Boyhood berada di zona berbeda adalah bahwa Richard Linklater tahu semua itu, membiarkannya mengalir begitu saja tapi tanpa pernah membiarkan ritme kisah jatuh, dan masih dengan dihiasi konflik-konflik tajam meski konteksnya tetaplah sederhana. Ini semua, sukses membuat 3 jam durasinya sama sekali bukanlah pengalaman yang melelahkan, melainkan menawarkan sebuah pengalaman sinematik penting yang jarang, atau bahkan tak akan pernah anda temui lagi. Ya, Boyhood dinamai 'Boyhood' karena suatu alasan, dan itu sama sekali bukan alasan yang salah, karena sesuai judulnya, Boyhood mampu membawa kembali waktu, dan membuat kita terjun ke dalamnya. Simply amazing.



Saturday, March 1, 2014

Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , ,

[List] Spirit Awards 2014: The Winners!


Sehari lagi menuju Oscar! Tapi, sebelum ke benar-benar ke puncak sekaligus penutup musim penghargaan, ada Spirit Awards yang digelar tepat sehari sebelum kita melihat Ellen Degeneres membuka Oscar untuk kedua kalinya. Di penghargaan 'Oscar' bagi film-film independen ini, 12 Years a Slave kembali menguasai satu lagi ajang penghargaan, dengan total raihan 5 tropi, termasuk Best Feature dan Best Director. Sekali lagi pula, Cate Blanchett makin mengukuhkan namanya dengan memenangkan penghargaan bagi aktris terbaik tanpa sekalipun kalah dalam Golden Globe, SAG, CCA, BAFTA, Spirit, dan kemungkinan akan kembali naik podium untuk menerima Oscar keduanya. Hal yang serupa juga terjadi pada Matthew McCounaghey yang memenangkan Best Male Lead, meski di BAFTA ia harus mengalah pada Chiwetel Ejiofor. 

Di Best Supporting Male maupun Best Supporting Female, tak ada yang terlalu mengejutkan. Sesuai prediksi, Jared Leto dan Lupita Nyong'o berhasil membawa pulang piala Spirit untuk perannya dalam Dallas Buyers Club dan 12 Years a Slave. Hal yang sama juga tejadi dalam ranah naskah, di mana 12 Years a Slave memenangkan Best Screenplay, sedangkan Nebrasi membawa pulang penghargaan Best First Screenplay. Dan, meski tak dinominasikan untuk Best Foreign Languange Film dalam Oscar karena Prancis tidak memasukkan film ini sebagai official entry-nya, Blue is the Warmest Color yang juga pemenang Palme d'Or dalam Cannes Film Festival ini tetap bisa mengeluarkan senyum kemenangannya dalam Best International Film. Berikut daftar lengkap para pemenang piala Spirit kali ini, dan sampai ketemu di Oscar besok!

BEST FEATURE
12 Years A Slave
All Is Lost
Frances Ha
Inside Llewyn Davis
Nebraska

BEST DIRECTOR
Shane Carruth, Upstream Color
J.C. Chandor, All Is Lost
Steve McQueen - 12 Years A Slave
Jeff Nichols, Mud
Alexander Payne, Nebraska

BEST FEMALE LEAD
Cate Blanchett - Blue Jasmine
Julie Delpy, Before Midnight
Gaby Hoffmann, Crystal Fairy
Brie Larson, Short Term 12
Shailene Woodley, The Spectacular Now

BEST MALE LEAD
Bruce Dern, Nebraska
Chiwetel Ejiofor, 12 Years A Slave
Oscar Isaac, Inside Llewyn Davis
Michael B. Jordan, Fruitvale Station
Matthew McConaughey - Dallas Buyers Club
Robert Redford, All Is Lost

BEST SCREENPLAY
Woody Allen, Blue Jasmine
Julie Delpy, Ethan Hawke & Richard Linklater, Before Midnight
Nicole Holofcener, Enough Said
Scott Neustadter & Michael H. Weber, The Spectacular Now
John Ridley - 12 Years A Slave

BEST SUPPORTING FEMALE
Melonie Diaz, Fruitvale Station
Sally Hawkins, Blue Jasmine
Lupita Nyong'o - 12 Years a Slave
Yolonda Ross, Go For Sisters
June Squibb, Nebraska

BEST SUPPORTING MALE
Michael Fassbender, 12 Years a Slave
Will Forte, Nebraska
James Gandolfini, Enough Said
Jared Leto - Dallas Buyers Club
Keith Stanfield, Short Term 12

BEST FIRST SCREENPLAY
Lake Bell, In A World
Joseph Gordon-Levitt, Don Jon
Bob Nelson - Nebraska
Jill Soloway, Afternoon Delight
Mike Starrbury, The Inevitable Defeat of Mister and Pete

BEST CINEMATOGRAPHY
Sean Bobbitt - 12 Years A Slave
Benoit Debie, Spring Breakers
Bruno Delbonnel, Inside Llewyn Davis
Frank G. Demarco, All Is Lost
Matthias Grunsky, Computer Chess

BEST EDITING
Shane Carruth & David Lowery, Upstream Color
Jem Cohen & Marc Vives, Museum Hours
Frank G. Demarco, All Is Lost
Matthias Grunsky, Computer Chess
Nat Sanders - Short Term 12

BEST DOCUMENTARY
20 Feet From Stardom - Director/Producer: Morgan Neville, Producers: Gil Friesen & Caitrin Rogers
After Tiller, Directors/Producers: Martha Shane & Lana Wilson
Gideon’s Army, Director/Producer: Dawn Porter, Producer: Julie Goldman
The Act of Killing, Director/Producer: Joshua Oppenheimer, Producers: Joram Ten Brink, Christine Cynn, Anne Köhncke, Signe Byrge Sørensen, Michael Uwemedimo
The Square, Director: Jehane Noujaim, Producer: Karim Amer

BEST INTERNATIONAL FILM
A Touch of Sin (China)
Blue is the Warmest Color (France)
Gloria (Chile)
The Great Beauty (Italy)
The Hunt (Denmark)

BEST FIRST FEATURE
Blue Caprice, Director/Producer: Alexandre Moors; Producers: Kim Jackson, Brian O’Carroll, Isen Robbins, Will Rowbotham, Ron Simons, Aimee Schoof, Stephen Tedeschi; Concussion, Director: Stacie Passon, Producer: Rose Troche
Fruitvale Station - Director: Ryan Coogler; Producers: Nina Yang Bongiovi, Forest Whitaker
Una Noche, Director/Producer: Lucy Mulloy, Producers: Sandy Pérez Aguila, Maite Artieda, Daniel Mulloy, Yunior Santiago
Wadjda, Director: Haifaa Al Mansour, Producers: Gerhard Meixner, Roman Paul

JOHN CASSAVETES AWARD
Computer Chess, Writer/Director: Andrew Bujalski, Producers: Houston King & Alex Lipschultz
Crystal Fairy, Writer/Director: Sebastiàn Silva, Producers: Juan de Dios Larrain & Pablo Larrain
Museum Hours, Writer/Director: Jem Cohen, Producers: Paolo Calamita & Gabriele Kranzelbinder
Pit Stop, Writer/Director: Yen Tan, Writer: David Lowery, Producers: Jonathan Duffy, James M. Johnston, Eric Steele, Kelly Williams
This is Martin Bonner - Writer/Director: Chad Hartigan, Producer: Cherie Saulter

PIAGET PRODUCERS AWARD
Toby Halbrooks & James M. Johnston - Jacob Jaffke, Andrea Roa, Frederick Thornton

SOMEONE TO WATCH AWARD
My Sister's Quinceañera, Director: Aaron Douglas Johnston
Newlyweeds - Director: Shaka King
The Foxy Merkins, Director: Madeline Olnek

TRUER THAN FICTION AWARD
Kalyanee Mam, A River Changes Course
Jason Osder - Let the Fire Burn
Stephanie Spray & Pacho Velez, Manakamana

ROBERT ALTMAN AWARD

Mud - Director: Jeff Nichols, Casting Director: Francine Maisler, Ensemble Cast: Joe Don Baker, Jacob Lofland, Matthew McConaughey, Ray McKinnon, Sarah Paulson, Michael Shannon, Sam Shepard, Tye Sheridan, Paul Sparks, Bonnie Sturdivant, Reese Witherspoon

Sunday, February 24, 2013

Tagged under: , , , , , , , , ,

[List] Spirit Awards 2013: The Winners

"A big night for Silver Linings Playbook! But, how about tomorrow? Will this bipolar movie lead again?"
Satu hari sebelum Oscar diadakan, ajang penghargaan tertinggi bagi film-film independen alias Oscar ala indie ini telah memulai pestanya terlebih dahulu. Hasilnya, seperti yang telah dapat ditebak, Silver Linings Playbook memimpin dengan membawa pulang 4 penghargaan, termasuk Best Feature. Sementara, David O. Russell serta Jennifer Lawrence sukses melenggang bersama memenangkan 3 penghargaan lain, Best Director dan Screenplay untuk Russell, dan Best Female Lead untuk Jennifer Lawrence yang juga berhasil mengalahkan aktris cilik dari Beasts of the Southern Wild, Quvenzhané Wallis. 

Meski Wallis harus mengakui kehebatan Jennifer Lawrence, bukan berarti film fantasi unik ini harus pulang dengan tangan kosong. Di kategori sinematografi, film ini berhasil mengalahkan film lain dengan visual menakjubkan seperti Moonrise Kingdom. Bukan hanya kedua film ini yang berpesta ria, ada pula film biografi 'aneh' tentang penderita polio, The Sessions, yang mampu membawa pulang sekaligus menyapu bersih kedua nominasi yang film ini dapatkan. Apa saja yang The Sessions menangkan? Berikut daftar lengkapnya. 



BEST FEATURE

Beasts of the Southern Wild - Producers: Michael Gottwald, Dan Janvey and Josh Penn

Bernie - Producers: Liz Glotzer, Richard Linklater, David McFadzean, Dete Meserve, Judd Payne, Celine Rattray, Martin Shafer, Ginger Sledge, Matt Williams

Keep the Lights On - Producers: Marie Therese Guirgis, Lucas Joaquin, Ira Sachs

Moonrise Kingdom - Producers: Wes Anderson, Jeremy Dawson, Steven Rales, Scott Rudin 

Silver Linings Playbook - Producers: Bruce Cohen, Donna Gigliotti, Jonathan Gordon


BEST DIRECTOR

Wes Anderson - Moonrise Kingdom 

David O. Russell - Silver Linings Playbook

Julia Loktev - The Loneliest Planet

Ira Sachs - Keep the Lights On

Benh Zeitlin - Beasts of the Southern Wild


BEST SCREENPLAY

Wes Anderson - Moonrise Kingdom  

David O. Russell - Silver Linings Playbook

Ira Sachs - Keep the Lights On

Zoe Kazan - Ruby Sparks

Martin McDonagh - Seven Psychopaths


BEST FIRST FEATURE

Fill the Void - Director: Rama Burshtein; Producer: Assaf Amir

Gimme the Loot - Director: Adam Leon; Producers: Dominic Buchanan, Natalie Difford, Jamund Washington

Safety Not Guaranteed - Director: Colin Trevorrow; Producer: Derek Connolly, Stephanie Langhoff, Peter Saraf, Colin Trevorrow, MarcTurtletaub

Sound of My Voice - Director: Zal Batmanglij; Producers: Brit Marling, Hans Ritter, Shelley Surpin

The Perks of Being a Wallfower - Director: Stephen Chbosky; Producers: Lianne Halfon, John Malkovich, Russell Smith


BEST FIRST SCREENPLAY 

Derek Connolly - Safety Not Guaranteed

Rama Burshstein - Fill the Void

Christopher Ford - Robot & Frank

Rashida Jones and Will McCormack - Celeste and Jesse Forever

Jonathan Lisecki - Gayby


JOHN CASSAVETES AWARD

Breakfast with Curtis - Writer/Director/Producer: Laura Colella 

Middle of Nowhere - Writer/Director/Producer: Ava DuVernay; Producers: Howard Barish, Paul Garnes

Mosquita y Mari - Writer/Director:  Aurora Guerrero; Producer: Chad Burris

Starlet - Writer/Director: Sean Baker; Producers: Blake Ashman-Kipervaser, Kevin Chinoy, Patrick Cunningham, Chris Maybach,FrancescaSilvestri

The Color Wheel - Writer/Director/Producer: Alex Ross Perry; Writer: Carlen Altman Lianne Halfon, John Malkovich, Russell Smith


BEST FEMALE LEAD

Linda Cardinelli - Return

Emayatzy Corinealdi - Middle of Nowhere  

Jennifer Lawrence - Silver Linings Playbook

Quvenzhane Wallis - Beasts of the Southern Wild

Mary Elizabeth Winstead - Smashed


BEST MALE LEAD

Jack Black - Bernie

Bradley Cooper - Silver Linings Playbook  

John Hawkes - The Sessions

Matthew McConaughey - Killer Joe

Wendell Pierce - Four

Thure Lindhardt - Keep the Lights On


BEST SUPPORTING FEMALE 

Rosemarie DeWitt - Your Sister's Sister

Ann Dowd - Compliance  

Helen Hunt - The Sessions

Brit Marling - Sound of My Voice

Lorraine Toussaint - Middle of Nowhere


BEST SUPPORTING MALE   

Matthew McConaughey - Magic Mike

David Oyelowo - Middle of Nowhere

Michael Pena - End of Watch

Sam Rockwell - Seven Psychopaths

Bruce Willis - Moonrise Kingdom


BEST CINEMATOGRAPHY 

Yoni Brook - Valley of Saints

Lol Crawley - Here  

Ben Richardson - Beasts of the Southern Wild

Roman Vasyanov - End of Watch

Robert Yeoman - Moonrise Kingdom


BEST DOCUMENTARY 

How to Survive a Plague - Director: David France; Producers: David France, Howard Gertler

Marina Abramovic: The Artist Is Present - Director: Matthew Akers; Producers: Maro Chermayeff, Jeff Dupre

The Central Park Five - Directors/Producers: Ken Burns, Sarah Burns, David McMahon

The Invisible War - Director: Kirby Dick; Producers: Tanner King Barklow, Amy Ziering

The Waiting Room - Director/Producer: Peter Nicks; Producers: Linda Davis, William B. Hirsch


BEST INTERNATIONAL FILM 

Amour - Director: Michael Haneke 

Once Upon a Time in Anatolia - Director:  Nuri Bilge Ceylan

Rust and Bone - Director: Jacques Audiard

Sister - Director: Ursula Meier

War Witch - Director: Kim Nguyen


PIAGET PRODUCERS AWARD 

Nobody Walks - Producer: Alicia Van Couvering

Prince Avalanche - Producer: Derrick Tseng  

Stones in the Sun - Producer: Mynette Louie


SOMEONE TO WATCH AWARD 

Pincus - Director: David Fenster

 Gimme the Loot - Director: Adam Leon

Electrick Children - Director: Rebecca Thomas


 TRUER THAN FICTION AWARD  

Leviathan - Directors: Lucien Castaing-Taylor and Véréna Paravel

The Waiting Room - Director: Peter Nicks

Only the Young - Directors: Jason Tippet & Elizabeth Mims


ROBERT ALTMAN AWARD

Starlet - Director: Sean Baker; Casting Director: Julia Kim; Ensemble Cast: Dree Hemingway, Besedka Johnson, Karren Karagulian, Stella Maeve, James Ransone


Sunday, December 16, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Beasts of the Southern Wild (2012)

"In a million years, when kids go to school, they gonna know: Once there was a Hushpuppy, and she lived with her daddy in The Bathtub." ~ Hushpuppy

Beasts of the Southern Wild, adalah sebuah film independen bergenre drama fantasi yang disutradarai oleh Benh Zeitlin serta naskahnya ditulis oleh Beh Zeitlin pula dan Lucy Alibar. Film ini diangkat dari drama Lucy Alibar sendiri, yang berjudul Juicy and Delicious. Awalnya, film yang menamilkan kemiskinan penduduk ini tampil di beberapa festival-festival bergengsi dunia, seperti Sundance dan Cannes, sebelum dirilis pada 27 Juni lalu di New York dan Los Angeles dan mendapat sambutan yang sangat baik dari kritikus dunia.

Di Cannes Film Festival yang ke 65, Beasts of the Southern Wild sempat menggempar festival film ini dengan memenangkan salah satu penghargaan bergengsi bagi sutradara pendatang baru, Camera d'Or. Begitu ula dalam Sundance Film Festival ke 28, dimana film ini memenangkan Dramatic Grand Jury Prize. Sebagian besar kritik memuji akting aktris belia dalam film ini, Quvenzhané Wallis, pendatang baru yang terpilih dari sekitar 4000 peserta audisi. Ya, kebanyakan dari cast film ini, merupakan pendatang baru, bahkan yang tak punya latar belakang akting sekalipun, seperti Dwight Henry yang memiliki sebuah toko roti.


Film ini berkisah tentang seorang anak perempuan Afro-Amerika, Hushpuppy (Quvenzhané Wallis). Ia tinggal berdua dengan ayahnya, Wink (Dwight Henry) yang keras. Mereka tinggal di Louisiana bagian selatan, di sebuah komunitas di daerah rawa (bayou) yang disebut 'Bathtub' oleh penduduk setempat. Meski tempat tinggal mereka diliputi kemiskinan, namun mereka selalu berada dalam kegembiraan dan suka cita. Suatu hari, sebuah badai menerjang komunitas mereka. Begitu banyak penduduk yang memilih untuk melarikan diri. Tapi, tidak dengan Hushpuppy dengan ayahnya. Bersama dengan beberapa penduduk lain yang lebih memilih untuk tetap tinggal, mereka berusaha untuk bertahan hidup dari badai tersebut. Di lain pihak, si kecil Huchpuppy juga harus mulai belajar tentang hidup lewat sudut pandangnya sebagai seorang gadis belia berumur 6 tahun. Selain badai, juga ada satu hal lagi yang mengancam tempat tinggal Hushpuppy. Es-es di Kutub Utara telah mencair, ini membuat makhluk purba raksasa bernama aurochs akhirnya bermigrasi ke Bathtub.

Benh Zeitlin benar-benar tahu bagaimana menggambarkan sebuah film dengan sudut seorang anak kecil. Ia mencampuradukkan segala isu sosial menjadi satu, kemudian digabungkan dengan fantasi luas seorang Hushpuppy. Coba lihat ketika Hushpuppy berbicara dengan baju peninggalan ibunya sendiri (dan ya, baju itu mengeluarkan suara), atau ketika ia bertemu dengan hewan purbakala mirip babi, aurochs. Semua itu hanyalah usaha Benh Zeitlin dan Lucy Alibar untuk menyampaikan segala isi film yang mereka kenalkan pada penonton. Cara hushpuppy yang hampir tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan caranya pula untuk mengatasi rasa takut. Saya akui, itu bukan hanya sebuah cara yang berbeda dari yang lainnya, tapi juga cerdas dan kreatif.


Meski dalam setiap menitnya film ini menampilkan kemiskinan dan kekumuhan, Beasts of the Southern Wild bukan tipe film yang selalu ingin meminta untuk dikasihani. Film ini bukanlah tipe film melodrama yang selalu berakhir dengan seember penuh air mata. Beasts of Southern Wild bahkan tak memanfaatkan faktor Wallis yang sebenarnya, sangat cocok untuk sebuah melodrama. Sebenarnya, memang punya beberapa momen mengharukan, namun tak pernah terjerumus dalam sebuah melodrama berlebihan. Sebaliknya, Beasts of the Southern Wild adalah film yang memaparkan sisi yang lebih kuat dan kokoh, lihat bagaimana Hushpuppy, ayahnya, dan para penduduk kampung yang tersisa melewati segala tantangan, terus berusaha agar dapat terus hidup di Bathtub, apapun yang terjadi.

Narasi yang dibawakan oleh Quvenzhané Wallis menjadi salah satu bagian terkokoh dalm film ini. Bahasa dari monolog yang disampaikan sebenarnya sederhana, namun lugas dan imaginatif. Tak hanya itu, faktor bahwa narasinya disampaikan seorang anak kecil seperti Wallis lah yang juga membuatnya istimewa. Narasi yang disampaikannya begitu lugu dan polos. Salah satu momen terbaiknya adalah saat opening, saat Hushpuppy mencoba merasakan detak jantung hewan-hewan peliharaannya, atau saat Hushpuppy membicarakan tentang para scientist dari masa depan. Sweet and cute! Ya, bagaimana Hushpuppy menjelaskan hal-hal tentang dan yang berada di sekitar kehidupannya yang ia sampaikan lewat narasi itu selalu memikat hati.


Saya rasa, nuansa kekeluargaan erat yang ada dalam Beasts of the Southern Child juga merupakan sebuah satir bagi isu perbedaan warna kulit atau rasisme. Film ini tidak menyampaikannya lewat diskriminasi ras seperti yang dilakukan The Help yang punya ensemble cast gemilang itu, tetapi ia lebih mencoba untuk menciptakan suasana kekeluargaan antara kulit putih dan kulit hitam. Dalam film ini, mereka semua berbaur menjadi satu dan saling bahu-membahu. Tak peduli ras dan warna kulit apa. Misi mereka hanya satu, untuk tetap tinggal di Bathtub, meski bencana menimpa perkampungan mereka. Sungguh suatu kekeluargaan yang manis. 

Performa para castnya merupakan salah satu yang paling menarik untuk dibahas. Quvenzhané Wallis tampil sangat gemilang. Menampilkan akting hebat lewat baris-baris dialog tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Hal yang sama, bahkan lebih sulit lagi, menampilkan akting hebat tanpa perlu berkata-kata, alias hanya melakukan pendekatan lewat ekspresi dan tatapan mata. Sebagai contoh, lihat akting mengagumkan dari Holly Hunter sebagai Ada, seorang wanita bisu di The Piano. Mau contoh lagi? Tak usah jauh-jauh, Quvenzhané Wallis juga menghadirkan kualitas itu. Satu hal yang harus digarisbawahi lagi, bahwa kedua aspek itu mampu dibawakan oleh aktris cilik ini tanpa harus mengorbakan sisi anak kecilnya. Sangat sulit dipercaya, bahwa ini merupakan debut film pertamnya. Dengan itu semua, Wallis memang punya kans yang sangat besar untuk setidaknya, mendapat nominasi Oscar tahun depan. Lupakan Golden Globe yang tak memberi film ini satupun nominasi termasuk bagi Wallis, kita masih punya Oscar yang mungkin saja lebih berbaik hati. 


Bicara tentang Beasts of the Southern Wild, jangan hanya membicarakan tentang Wallis. Film ini juga punya Dwight Henry yang tak kalah gemilangnya. Meski harus tampil di belakang pesona Wallis yang sangat cemerlang, bukan berarti pesona Dwight Henry harus memudar dan terbayangi Wallis. Karakternya sebagai seorang ayah alkoholik serta sakit-sakitan dengan kemauan dan didikan keras memang kadang sedikit membuat kita tak simpati terhadapnya, namun itulah wujud cintanya terhadap sang anak. Itulah cara dia mengungkapkan rasa sayangnya. Dalam hal ini, Dwight Henry benar-benar berhasil menghidupkan perannya itu dengan sangat baik. Apalagi, hal tersebut juga didukung oleh fakta bahwa di film inilah ia memulai debut akting di layar lebar. Agak sulit dipercaya memang. Jika keduanya disatukan pun, mereka saling berbaur dalam sebuah jalinan chemistry kuat ayah-anak yang bisa dibilang unik.

Kamera yang shaky? Wajar saja, karena film ini menggunakan handheld camera dalam merekam setia scenenya, hal yang sama yang digunakan pula dalam salah satu film Terrence Malick, The Tree of Life (meski dalam The Tree of Life, lebih artistik dan 'wah'). Namun jangan permasalahkan penggunaan kamera ini. Justru, dengan penggunaan kamera seperti ini, malah membuat Beasts of the Southern Wild lebih down-to-earth lagi dalam membawa kisah yang juga tak kalah down-to-earth-nya. Lewat sinematografinya inilah, film ini mampu tampil lebih sederhana dan manis, yang juga menjadikannya lebih bisa menangkap setiap esensi emosional, kemirisan, dan kekeluargaan dalam sebuah perkampungan kumuh yang disajikan Benh Zeitlin di Beasts of the Southern Wild ini. Membuat kita selangkah lebih dekat (atau dua langkah?) ke materi yang Benh coba tawarkan.


Bukan hanya berperan sebagai seorang sutradara dan scenario writer bersama Lucy Alibar, Benh Zeitlin juga berperan sebagai komposer musik latar dalam film ini. Bersama dengan Dan Romer, ia menciptakan sebuah rangkaian musik sederhana dan membumi, benar-benar cocok dengan kehidupan dalam Beasts of the Southern Wild. Musik latar favorit saya jatuh pada saat penduduk Bathtub berpesta pora, bersenang-senang, dan bermain kembang api. Musik hasil racikan duo Dan Romer dan Benh Zeitlin tersebut dapat menangkap segala euforia dan nuansa kekeluargaan penduduk perkampungan. 

Beasts of the Southern Wild adalah salah satu masterpiece tahun ini, sebuah fantasi kelam tentang gadis belia dengan sedikit sentuhan Pan's Labyrinth. Benh Zietlin dapat dengan sukses membuat film yang sebenarnya cukup rumit kalau dipikir-pikir, namun dapat disampaikannya lewat sudut  pandang seorang anak kecil yang lugu dan polos. Wallis? She did a very fantastic job. Ia mampu membawa sebuah penampilan akting kelas A dengan natural dan sempurna. Dwight Henry juga tak mau kalah, dengan penampilannya, ia mampu keluar dari bayang-bayang Wallis yang bisa kapan saja menenggelamkan karakternya. Sebuah surat cinta yang manis dengan gaya 'gado-gado', berhasil menyampurkan segalanya: fantasi seorang anak kecil, bencana alam, kekeluargaan, hingga pertahanan hidup; menjadikannya sebuah karya yang sangat, sangat menakjubkan, liar, penuh imajinasi, sekaligus indah, meski harus tampil dibalik kehidupan yang penuh kumuh. Merupakan sebuah 'dosa' besar jika anda melewatkannya. 

Tuesday, September 4, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Martha Marcy May Marlene (2011)

"I'm a teacher and a leader." ~ Martha

Mungkin Martha Marcy May Marlene merupakan salah satu judul film terunik dan teraneh yang pernah ada (sekaligus lumayan susah untuk diingat). Martha Marcy May Marlene (MMMM) yang memiliki poster unik ini merupakan film panjang debut Sean Durkin yang sebelumnya pernah mengarahkan 2 film pendek. Naskahnya sendiri juga ditulis oleh sang sutradara sendiri. MMMM juga dibintangi oleh adik dari si kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen, yaitu Elizabeth Olsen.

Film indie karya sutradara muda kelahiran 1981 ini memang mendapat sambutan hangat dari para kritikus film  juga cukup banyak memenangkan penghargaan, diantaranya adalah penghargaan Directing Award dari Sundance Film Festival juga nominasi dari Cannes Film Festival. Suatu hal yang terbilang langka, terlebih bagi film pertama (dalam hal ini film panjang) bagi seorang sutradara muda, film indie pula.


Adalah Martha (Elizabeth Olsen), salah satu anggota dari sekte ajaran sesat yang dipimpin oleh seorang pria tua bernama Patrick (John Hawkes). Sekte ini mengajarkan hal-hal yang memang aneh dan menyimpang dari yang lainnya, termasuk adanya ritual 'pembersihan' sampai menyelinap ke rumah orang asing. Martha sendiri telah mengikuti sekte ini selama dua tahun, dan selama itu, ia tak pernah memberi kabar kepada kakaknya sekaligus keluarga Martha satu-satunya,  Lucy (Sarah Paulson). Karena tidak kuat dengan tekanan yang ada, Martha pun memutuskan untuk kabur dan menetap di rumah kakaknya.

Masalah belum selesai. Martha, yang selama dua tahun otaknya 'dicuci' dengan kebiasaan-kebiasaan aneh ternyata masih membawa sedikit kebiasaan itu ke kehidupan normal. Bukan hanya itu, yang lebih parah, ia pun merasakan depresi dan paranoid berat karena merasu ketakutan dan terbayang-bayang terhadap kelompok tersebut. Ia kadang berteriak, meronta-ronta, bahkan mengira orang lain sebagai anggota sekte sesat itu.


Martha Marcy May Marlene memang sengaja dibuat dengan suasana yang sangat kelam, hitam, sunyi, dan depresif, salah satunya dengan memakai tone yang tak terlalu cerah juga dengan dukungan sinematografi yang tenang, pelan, sunyi, damai, indah, dan terasa begitu angelic. Hasilnya, penonton pun bahkan dapat merasakan apa yang Martha rasakan, berkat andil dari akting Elizabeth Olsen juga pastinya. Kehidupan Martha di sekte tersebut sendiri ditampilkan melalui flashback-flashback yang disajikan diantara alur majunya.

Soal jajaran cast, para pemerannya menghadirkan akting yang lumayan baik. Tentu saja penampilan terbaik berada di tangan Elizabeth Olsen. Mungkin memang namanya tak setenar duo kakaknya, tapi soal akting? Elizabeth jelas berada di atas kedua kakaknya tersebut. Ia berhasil memberikan segalanya dengan begitu emosional, ketakutan, penderitaan, paranoid, dan depresi dengan amat baik. Karakternya memang menarik, lihat saja bagaimana ia dapat dengan tiba-tiba 'meledak-ledak' bagaikan orang yang jiwanya terganggu, namun seketika itu pula ia dapat berubah menjadi seorang gadis yang ramah.


Dibelakangnya, ada John Hawkes yang juga berhasil memerankan seorang pemimpin sekte dengan baiknya. Karakternya memang menarik, mungkin karena karakternya yang seperi 'musang berbulu domba', diawalnya, ia seperti orang baik-baik dengan kehidupana baik pula, namun lama-kelamaan ia dapat berubah menjadi 'monster' dengan segala ajarannya yang menyimpangnya itu.

MMMM penuh dengan ambiguitas. Ini merupakan salah satu yang saya suka dari film ini. Karakter bahkan hingga endingnya pun sengaja dibuat begitu ambigu. Endingnya itu memang unik dan bisa juga dikatakan aneh. Sangat mewakili apa yang kita sebut dengan ambiguitas. Sean Durkin tampaknya memang sengaja membuat MMMM diakhiri dengan ending yang ambigu, tak terlalu tegas, dan terbuka, hingga para penontonnya sendirilah yang akhirnya menyimpulkan apa yang terjadi.


MMMM jelas bukanlah merupakan tipe film yang fun to watch, bahkan mungkin bagi beberapa orang film ini sangat membosankan. Namun, MMMM berhasil menghadirkan sebuah tontonan yang menyerang sisi psikologis seorang manusia dengan atmosfer dingin serta penuh dengan ambiguitas namun dengan cara yang begitu anggun. Dengan ini semua, pastinya akan membuat siapapun dapat tenggelam dalam keparanoid-an yang luar biasa dari sosok Martha.

Memang belum dapat dikatakan benar-benar sempurna, namun terlepas dari segala kekurangannya, MMMM mampu tetap tampil dengan memukau, terlebih lagi di barisan terdepan castnya ada Elizabeth Olsen juga John Hawkes yang mempersembahkan penampilan terbaiknya disini. Sean Durkin juga berhasil memberikan segala sentuhannya dengan sangat maksimal. Yang jelas, Martha Marcy May Marlene merupakan semua tentang kegelapan dan kekelaman dalam balutan keindahan.

8.0/10