Showing posts with label TV Series. Show all posts
Showing posts with label TV Series. Show all posts

Friday, December 12, 2014

Tagged under: , , , , , , , ,

[List] Golden Globes 2015 Nominations!


Tak terasa kita telah berada di bulan Desember lagi, dan itu artinya: awards season resmi dimulai! Setelah Screen Actor Guild Awards yang baru saja mengumumkan para nominee calon penerima 'The Actor', kini giliran Golden Globes untuk membuka amplop nominasi. And, this time, much love for Selma! Selepas SAG yang sama sekali mengacuhkannya, Golden Globes menunjukkan hal sebaliknya. Ia berhasil mendapatkan 3 nominasi untuk Best Drama Film, Best Drama Actor, dan Best Director. Sementara Boyhood dan Birdman, two current frontrunners, dinominasikan untuk masing-masing 5 dan 7 kategori, termasuk Best Drama Film untuk Boyhood, Best Comedy Film untuk Birdman, serta Best Director dan Best Screenplay. Di lain sisi, meskipun Gone Girl berhasil mendapatkan nominasi Best Director, Best Actress, serta Best Screenplay, namun namanya hilang di tengah jajaran Best Drama Film. Where's the logic?

Kabar baik bagi sang redhead, Julianne Moore is a double nominee! Tahun ini hingga awal tahun depan nanti mungkin adalah tahun di mana akhirnya Julianne Moore dapat membawa pulang Oscar pertamanya. Dari penghargaan Best Actress dari Cannes Film Festival untuk Maps to the Stars hingga buzz besarnya untuk the defining career performance-nya dalam Still Alice, Julianne Moore is the one to beat. Sementara itu, Meryl Streep, lagi, lagi, dan lagi, mencetak rekor baru dengan nominasi ke-29-nya dengan kategori Best Supporting Actress dalam musikal Into the Woods. Bersama Streep, Jessica Chastain, yang sekalipun gagal mendapatkan nominasi Best Drama Actress untuk film The Disappearance of Eleanor Rigby, namanya juga menjadi salah satu nonimee dalam kategori Best Supporting Actress dalam A Most Violent Year. Di ranah aktor, nama Jake Gyllenhaal yang awalnya tak terlalu dielu-elukan, nyatanya kembali dinominasikan untuk Best Drama Actor, selepas SAG yang juga menominasikannya dalam Best Actor (dan menyisihkan Timothy Spall, Bradley Cooper, bahkan David Oyelowo). Is it a sign for his second Oscar nomination?


FILM AWARDS
BEST DRAMA FILM
Boyhood
Foxcatcher
The Imitation Game
Selma
The Theory of Everything


BEST DRAMA ACTOR
Steve Carell - Foxcatcher
Benedict Cumberbatch - The Imitation Game
Jake Gyllenhaal - Nightcrawler
David Oyelowo - Selma
Eddie Redmayne - The Theory of Everything


BEST DRAMA ACTRESS
Jennifer Aniston - Cake
Felicity Jones - The Theory of Everything
Julianne Moore - Still Alice
Rosamund Pike - Gone Girl
Reese Witherspoon - Wild


BEST MUSICAL/COMEDY FILM
Birdman
The Grand Budapest Hotel
Into the Woods
Pride
St. Vincent


BEST MUSICAL/COMEDY ACTOR
Ralph Fiennes - The Grand Budapest Hotel
Michael Keaton - Birdman
Bill Murray - St. Vincent
Joaquin Phoenix - Inherent Vice
Christoph Waltz - Big Eyes


BEST MUSICAL/COMEDY ACTRESS
Amy Adams - Big Eyes
Emily Blunt - Into the Woods
Helen Mirren - The Hundred-Foot Journey
Julianne Moore - Maps to the Stars
Quvenzhane Wallis - Annie


BEST FILM SUPPORTING ACTOR
Robert Duvall - The Judge
Ethan Hawke - Boyhood
Edward Norton - Birdman
Mark Ruffalo - Foxcatcher
J.K. Simmons - Whiplash


BEST FILM SUPPORTING ACTRESS
Patricia Arquette - Boyhood
Jessica Chastain - A Most Violent Year
Keira Knightley - The Imitation Game
Emma Stone - Birdman
Meryl Streep - Into the Woods


BEST DIRECTOR
Wes Anderson - The Grand Budapest Hotel
Ava Duvernay - Selma
David Fincher - Gone Girl
Alejandro Gonzalez Inarritu - Birdman
Richard Linklater - Boyhood


BEST SCREENPLAY
Birdman
Boyhood
Gone Girl
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game


BEST ANIMATED FEATURE
Big Hero 6
The Book of Life
The Boxtrolls
How to Train Your Dragon 2
The Lego Movie


BEST SCORE
Birdman
Gone Girl
The Imitation Game
Interstellar
The Theory of Everything


BEST SONG
Big Eyes from Big Eyes (Lana Del Ray)
Glory from Selma (John Legend, Common)
Mercy Is from Noah (Patty Smith, Lenny kaye)
Opportunity from Annie
Yellow Flicker Beat from The Hunger Games - Mockingjay Part 1 (Lorde)
 

TV AWARDS
BEST DRAMA SERIES
The Affair
Downton Abbey
Game of Thrones
The Good Wife
House of Cards


BEST DRAMA ACTOR
Clive Owen - The Knick
Liev Schrieber - Ray Donovan
Kevin Spacey - House of Cards
James Spader - The Blacklist
Dominic West - The Affair


BEST DRAMA ACTRESS
Claire Danes - Homeland
Viola Davis - How to Get Away with Murder
Julianna Margulies - The Good Wife
Ruth Wilson - The Affair
Robin Wright - House of Cards


BEST COMEDY SERIES
Girls
Jane the Virgin
Orange is the New Black
Silicon Valley
Transparent


BEST COMEDY ACTOR
Louis C.K. - Louie
Don Cheadle - House of Lies
Ricky Gervais - Derek
William H. Macy - Shameless
Jeffrey Tambor - Transparent


BEST COMEDY ACTRESS
Lena Dunham - Girls
Edie Falco - Nurse Jackie
Julia Louis-Dreyfus - Veep
Gina Rodriguez - Jane the Virgin
Taylor Schilling - Orange is the New Black


BEST TV MOVIE/LIMITED SERIES
Fargo
The Missing
The Normal Heart
Olive Kitteridge
True Detective


BEST TV MOVIE/LIMITED ACTOR
Martin Freeman - Fargo
Woody Harrelson - True Detective
Matthew McConaughey - True Detective
Mark Ruffalo - The Normal Heart
Billy Bob Thornton – Fargo


BEST TV MOVIE/LIMITED ACTRESS
Maggie Gyllenhaal - The Honourable Woman
Jessica Lange - American Horror Story: Freak Show
Frances McDormand - Olive Kitteridge
Frances O'Connor - The Missing
Allison Tolman – Fargo


BEST TV SUPPORTING ACTOR
Matt Bomer - The Normal Heart
Alan Cumming - The Good Wife
Colin Hanks - Fargo
Bill Murray - Olive Kitteridge
Jon Voight - Ray Donovan


BEST TV SUPPORTING ACTRESS
Uzo Aduba - Orange is the New Black
Kathy Bates - American Horror Story: Freak Show
Joanne Froggatt - Downton Abbey
Allison Janney - Mom
Michelle Monaghan - True Detective



Thursday, June 19, 2014

Tagged under: , , , , ,

[TV Review] Fargo (Season 1)

"He's not gonna stop. You know that, right? A man like that, maybe not even a man." ~ Molly

Tahun ini, jujur merupakan tahun di mana TV series berkualitas tumbuh menjamur. Sekalipun saya tak mengikuti seluruhnya, namun tentu beberapa di antaranya. Salah satunya, adalah Fargo. Dari namanya, tentu anda dapat menebak bahwa series ini didasari dan berlatar sama dengan sebuah film berjudul sama, Fargo, karya Coen Brothers, yang sampai sekarang dikenal sebagai salah satu dark comedy terbaik, if not the best. Well, show ini telah mencapai penghujung episodenya, dan layaknya sang pendahulu, Fargo versi modern adalah salah satu TV show terbaik yang pernah ada, and here's why. Oops, dan satu lagi peringatan, spoilers bertebaran di mana-mana. 

'THIS IS A TRUE STORY. The events depicted took place in Minnesota in 2006. At the request of the survivors, the names have been changed.' Ya, itulah yang akan anda lihat setiap menonton tiap episode dari Fargo, hal yang sama juga dilakukan Fargo versi Coen Brothers. Tapi, jangan tertipu, karena keduanya sebenarnya murni kisah fiktif. Ya, tak ada Lorne Malvo dan Lester Nygaard, yang artinya pula, tak ada Marge Gunderson, Jerry Lundergaard, dan Carl 'funny-looking-guy' Showalter. Jadi, untuk apa ini semua? Well, Coen Brothers are geniuses. Mereka tahu cara agar penonton dapat lebih terhubung ke dalam suatu cerita, and i must say, this is the way, and it's brilliant! But, it's not the only way.


Dari sisi screenplay, Fargo is pretty much the same with the old Fargo: ia menyampaikan kisah sederhana, namun penuh studi karakter yang mempesona mengenai sekumpulan manusia yang menghadapi sesuatu hal yang tak biasa (bahkan tergolong luar biasa), dan memperlihatkan apa yang akan para karakter itu hadapi, dan bagaimana reaksi mereka terhadapnya. Latar belakang suatu lingkungan yang masih cukup konvensional juga berperan besar dalam membangun tone komedi gelap yang juga kaya akan cucuran darah di tengah shock tragedy yang terjadi dalam masyarakat. Ini bukan sebuah kisah kriminal biasa, ini adalah kisah kejatahatan yang down-to-earth, namun penuh kecerdasan yang luar biasa kompleks.

Tapi, Fargo juga bukan Fargo yang lama, mereka masih punya batas yang jelas di antara keduanya. Noah Hawley selaku penulis naskah tak sekadar menciptakan sebuah penceritaan ulang, namun lebih dari itu, menceritakan kisah berbeda namun masih dengan nafas yang sama dengan pendahulunya. Tentu, kisah ini lebih kompleks dengan 10 episodenya, lebih banyak karakter, lebih banyak darah, lebih sadis, tapi apa yang membuat TV series ini begitu istimewa adalah membawa kisah itu dengan nafas Fargo yang dulu, menggabungkan sebuah kisah modern namun dengan tone penuh nostalgia. 


Perlu diingat, kendati merupakan sebuah kisah kriminal, Fargo tetaplah sebuah dark comedy. And, Fargo still has that vibe, sekalipun dengan porsi yang lebih sedikit dibanding pendahulunya. Dialog-dialog hadir dengan pengemasan cerdas, tetap memancarkan sebuah komedi hitam, namun kadang mempertanyakan berbagai pertanyaan yang memutar otak. Di lain sisi, beberapa scene tampil komikal dan awkward khas dark comedy, tapi di saat yang sama, tetap dapat mempertahankan tone kriminalnya. Yeah, hitting a wife with an axe till death has never been this 'funny'. Tapi, berbicara soal humor seperti ini, rasanya tak akan lengkap tanpa membicarakan sang villain, Lorne Malvo. He has such a great sense of humor! What a villain.

Membicarakan Fargo memang berarti membicarakan para karakternya. Ya, apalah arti Fargo tanpa karakter-karakter yang kaya cerita itu. Fargo memusatkan perhatianya kepada Lester Nygaard, yang boleh jadi merupakan orang tersial yang pernah ada. Berangkat dari seorang lelaki biasa dengan istri bermulut lebar, yang kemudian kehidupannya berubah setelah sebuah tragedi secara 'tak sengaja' terjadi, yang membawanya pada satu sisi yang ia pun tak pernah sangka merupakan bagian dari dirinya. Kita dapat melihat definisi 'good guy gone bad' di dalam dirinya. Martin Freeman adalah orang yang tepat melakonkan Lester. Lester tampak seperti Bilbo Baggins, seorang pengecut dengan gaya bicara gagap, namun dengan keadaan yang memaksa keduanya berubah, Bilbo berubah menjadi seorang antihero yang pemberani, sementara Lester perlahan memunculkan sisi monsternya yang makin terasah.


Meskipun begitu, Lorne Malvo-lah yang menguasai semuanya dan pada dia lah semua mata tertuju. Ia merupakan orang yang mengontrol segalanya, penyebab dari tragedi demi tragedi, dan orang yang selalu mampu mengalihkan perhatian penonton. Dimainkan dengan sempurna oleh Billy Bob Thornton, ia layaknya seorang peneliti yang mempraktekkan langsung teorinya tentang sebuah studi karakter manusia. Ia kriminal yang jenius, tahu apa yang ia lakukan, tapi apa yang paling istimewa dari sosok ini adalah bagaimana cara ia berhadapan dengan tiap masalah, ketenangannya, hingga cara bicaranya yang manipulatif. Dandanannya mungkin menyedihkan, tapi dibalik gaya rambut dengan poni yang buruk itu, terselip salah satu otak kriminal terhebat sepanjang sejarah. It's a good thing he's a fictional character.

Sebagai sutradara, the 5 directors did a great job. Mereka sukses dalam menyeimbang dua tone Fargo yang saling bertolakbelakang. Ini bukan melulu soal kejahatan, ini adalah gabungan dari banyak genre yang saling terdepan dalam tiap sisi. Intensitas mampu terjaga dengan cukup konsisten, meski tak bisa dipungkiri lows itu tetap ada. Tapi, lihat bagaimana semua itu dikemas. Lihat bagaimana (oops, spoiler) Lorne membantai sebuah gedung dengan kamera yang hanya mengikutinya dari luar gedung, bergerak dari lantai ke lantai, hingga diakhiri klimaks fantastis. Lalu, lihat pula bagaimana Lorne mengelabui para pihak berwajib dengan sebuah masterplan luar biasa. Belum cukup, ini hanyalah dua dari banyaknya eksekusi brilian penuh ledakan intens yang mewarnai 10 episode Fargo ini.


Well, Fargo bukan berarti hadir tanpa cacat. Sekalipun screenplay racikan Noah Hawley memang cerdas, padat, dan merupakan salah satu yang terbaik di tahun ini, namun ini tidak membebaskannya dari beberapa detil yang tertinggal dan terasa janggal. Ada beberapa karakter di awal yag terlihat cukup krusial, namun nyatanya memang tak sekrusial itu. Selain itu, mungkin ada beberapa aspek di klimaks yang tak ditemani oleh detail yang lebih jelas. Sure, i'm not going to tell you which aspect. Meski begitu, terlepas dari kekurangan minor tersebut, Fargo tetaplah sebuah penghidupan karya klasik yang sangat berhasil. 

Ya, Fargo telah bangkit kembali, lewat sebuah lika liku kriminalitas yang tak hanya kompleks dan unpredictable seperti kisah crime yang lain, namun juga cerdas sembari tetap sukses dalam menggali tiap sisi humornya. Tone-nya terjaga baik, dengan sisi gelap dan terang yang cukup seimbang, membawa penonton kembali pada karya Coen Brothers. Karakter-karakter hadir dengan ciri tersendiri, lekat di ingatan, dan mampu berkembang dengan baik, dengan Billy Bob Thornton serta Martin Freeman yang berada pada lampu sorot. Lewat screenplay-nya yang berlatar sederhana di tengah masyarakat yang tak terbiasa kasus serupa, ini membuat penonton mudah terhubung dengan kisahnya yang cukup kompleks. Belum lagi, setiap kisah mampu dikemas dengan brilian yang disertai kemampuan teknis level atas, thanks to the wonderful directors. Hats off!