300x250 AD TOP

Monday, August 27, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Kahaani (2012)

"There's no difference. We do it for the law and he does it against the law. That's why we are right and he's wrong." ~ Mr. Khan 

Apakah anda termasuk salah satu dari orang-orang yang sudah bosan dengan film Bollywood yang kebanyakan merupakan drama musikal? Kahaani merupakan salah satu alternatifnya. Kahaani, yang berarti 'cerita' ini merupakan film thriller yang disutradarai oleh Sujoy Ghosh. Memang bukan film thriller pertama produksi Bollywood, tapi memang Kahaani menawarkan sesuatu yang sangat menarik dan mengejutkan.

Sebenarnya, film dengan konsep seperti Kahaani, yaitu mencari orang yang tak diketahui keberadaanya telah banyak. Bahkan, film Bollywood lain, 3 Idiots, juga menawarkan hal yang kurang lebih sama. Tapi, sepertinya hanya Kahaani yang menawarkan sesuatu yang agak berbeda dari film sejenis, yaitu orang yang mencari adalah seorang ibu hamil.


Vidya Bagchi (Vidya Balan) merupakan seorang insinyur perangkat lunak yang datang jauh-jauh dari London ke Kalkuta seorang diri dan dalam keadaan hamil. Ia datang ke Kalkuta, India hanya untuk mencari keberadaan suaminya yang hilang bagai ditelan bumi. Suaminya, Arnab Bagchi (Indraneil Sengupta) seharusnya telah pulang ke London setelah ditugaskan di National Data Center (NDC). Dua minggu pertama tugasnya, suaminya terus menghubungi Vidya setiap hari. Anehnya, setelah itu kontak mereka langsung terputus. Tak ada kabar, telepon, maupun SMS.

Dibantu oleh Inspektur Satyaki Sinha, atau yang lebih dikenal dengan Rana (Parambrata Chatterjee), Vidya terus menyelidiki keberadaan suaminya. Anehnya, dari semua orang yang mereka tanyakan, termasuk penginapan tempat Arnab tinggal, paman, hingga sekolahnya pun tak mengenal seorang Arnab. Tempat Arnab ditugaskan pun, National Data Center mengatakan bahwa mereka tak mempunyai karyawan bernama Arnab Bagchi. Anehnya, Agnes D'Mello (Colleen Blanche), selaku manager HRD di NDC menyatakan bahwa suaminya mirip dengan Milan Damji, mantan karyawan NDC 2 tahun lalu yang menghilang tiba-tiba. Lebih aneh lagi, karena 2 tahun yang lalu, suaminya berada di London.


Film ini menggabungkan sebuah misteri yang menyangkut konspirasi lalu dibalut dalam ketegangan ala thriller kemudian dengan dibumbui lagi oleh drama termasuk romansa (tak ada musikal kali ini, haha). Kahaani memang seperti film ala-ala detektif. Ghosh akan menyuguhi kita bagaimana Vidya bersama Rana mencari keberadaan Arnab, yang juga sedikit mengingatkan saya akan Extremely Loud & Incredibly Close, namun bedanya, di EL & IC tokoh utamanya mencari pemilik sebuah kunci tua. Satu lagi, Kahaani selevel lebih baik (atau mungkin dua level) dari film Hollywood tersebut. 

Tak hanya itu, Kahaani juga menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar pencarian. Dalam perjalanan mereka mencari petunjuk mengenai suami Vidya, juga diiringi dengan konflik ketegangan dari 'kejar-kejaran' antara Vidya dengan pihak yang entah mengapa merasa terancam dengan pencariannya. Unsur drama yang tampil dengan porsi pas pun ditambahkan dalam Kahaani.


Vidya Balan yang memerankan seorang ibu muda yang sedang hamil bernama Vidya pula berhasil memberi penampilan yang begitu memukau. Ia tampil begitu meyakinkan dari segala segi, termasuk dari sisi emosional dan kesan depresi yang ia alami setelah suaminya menghilang. Chemisty yang terlain antara Vidya dengan Rana (Parambrata Chatarjee) pun terjalin dengan erat. Tak ada karakter yang rasanya hanya dijadikan tempelan alias pemanis saja, layaknya Sandra Bullock di Extremely Loud & Incredibly Close (meski ia berakting dengan sangat baik).

Ada satu hal pula yang tak akan bisa dilupakan dari Kahaani. Selama dua jam kita mengikuti pencarian Vidya, kita akan disuguhi kenyataan yang sangat mengejutkan di akhirnya, yang saya sendiri tak pernah perkirakan. Padahal, sebelumnya pun kita telah disajikan kepingan-kepingan 'puzzle' yang sengaja ditebar, namun anehnya, saya sendiri tidak pernah menyadarinya sampai Sujoy Ghosh menyampaikannya dengan begitu meyakinkan.


Kahaani tampil dengan sinematografi yang cukup apik. Saya suka bagaimana Kahaani menampilkan kekayaan kultur negaranya serta kehidupan masyarakat Kalkuta dalam frame-framenya yang cantik itu. Bukan hanya itu, Kahaani juga menyajikan potret kemiskinan India dalam sinematografinya, yang terasa malah seperti sebuah ironi bagi saya, dimana potret kemiskinan yang disajikan dengan begitu indahnya, namun dengan tetap meninggalkan sedikit kepedihan. Hal itu juga terasa dalam momen-momen kegelisahan dan ketakutan karakter Vidya Bagchi yang juga tak terlepas dari akting meyakinkan Vidya Balan.

Kahaani memang merupakan salah satu contoh dari thriller cerdas produksi Bollywood. Naskah Kahaani memang belum dapat dikatakan sempurna namun tak dapat disangkal bahwa naskahnya memang cerdas. Kahaani juga memiliki porsi thriller yang mendebarkan dan seru, serta departemen akting yang solid. Sujoy Ghosh pun masih menyiapkan satu hal yang lebih menarik lagi, ia memilih menutup 'cerita'-nya dengan misteri yang terpecahkan dengan begitu mengejutkan. Jelaslah sudah Kahaani merupakan salah satu dari kandidat film terbaik tahun ini.

8.0/10

Thursday, August 23, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] The Hunger Games (2012)

"Thank you... for your consideration." ~ Katniss 

Masih ingat Battle Royale? Yup, film asal Negeri Sakura ini memang fenomenal. Rilis 12 tahun yang lalu, film ini  mendapat sambutan yang baik. bahkan mendapat nominasi Best Picture di Japanese Academy Awards 2001. Filmnya sendiri dikenal sadis, penuh darah, brutal, dan penuh kekerasan. Yang pasti, Battle Royale menghadirkan premis yang luar biasa menarik dan itu semua berhasil dibayar dengan keseluruhan film yang memang sesuai dengan yang saya harapkan.

Kemudian, apa hubungannya Battle Royale dengan The Hunger Games? Selain sama-sama diangkat dari novel, kedua film ini memiliki tema (termasuk cerita) yang hampir sama, yaitu survival. Kalau Battle Royale merupakan sekelompok siswa sekelas yang dikumpulkan di suatu pulau untuk memainkan suatu 'permainan', maka The Hunger Games bercerita tentang 12 distrik dari sebuah negeri masa depan bernama Panem yang masing-masing distrik mengirimkan 2 wakilnya untuk bermain di suatu 'permainan' pula. Entah ini termasuk plagiarisme atau tidak, yang pasti, kedua film adaptasi ini sama-sama menarik untuk ditonton.



Seperti yang saya katakan tadi, The Hunger Games bercerita tentang suatu 'permainan' hidup-mati. The Hunger Games? Ya, judul yang menurut saya cukup aneh itu merupakan nama 'permainan' mengerikan ini. 'Permainan' ini mengandalkan kemampuan para pesertanya untuk bertahan hidup, termasuk, dalam 'game' ini juga para peserta diperbolehkan (atau mungkin diharuskan) untuk membunuh satu sama lain, yang pada akhirnya nanti akan terpilih 1 orang pemenang. Dengan premis yang mirip dengan Battle Royale, apakah The Hunger Games mampu membuat tontonan yang 'menyenangkan'? Apalagi dengan tambahan yang lebih menarik bahwa 'permainan' sadis ini (The Hunger Games) disiarkan live di televisi!

Naskah The Hunger Games ini ditulis oleh sutradaranya sendiri, Gary Ross, Billy Ray, dan juga novelisnya sendiri, Suzanne Collins. Filmnya sendiri sendiri berpusat pada karakter Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence). Berbeda dengan Battle Royale, para wakil setiap distrik di The Hunger Games dipilih melalui undian. Dari distrik 12, tempat Katniss tinggal, terpilihlah 2 wakil, yaitu Peeta Mellark (Josh Hutcherson) dan Primrose Everdeen (Willow Shields), yang tak lain merupakan adik Katniss. Sebagai seorang kakak, pastilah berkewajiban untuk melindungi adiknya, dan itulah yang dilakukan Katniss. Demi melindungi nyawa adiknya, ia pun akhirnya harus rela berkorban dengan taruhan nyawa. 



Di Capitol, tempat di mana 'permainan' itu diadakan, Katniss dan Peeta diharuskan untuk bertahan hidup, bukan hanya bertahan terhadap alam, tapi juga dari serangan rival-rivalnya seperti Cato (Alexander Ludwig), Clove (Isabelle Fuhrman), Glimmer (Leven Rambin), Marvel (Jack Quaid), Foxface (Jacqueline Emerson), serta perserta lainnya. Meski merupakan film yang menjanjikan kebrutalan, sebagai film yang menjadikan remaja sebagai target penontonnya, tentu saja The Hunger Games tak melupakan rasa remajanya, yaitu percintaan. Bukan antara 2 remaja, melainkan 3 sekaligus, yaitu antara Katniss, Peeta, dan Gale Hawthorne (Liam Hemsworth). 

The Hunger Games nyatanya memang menarik untuk diikuti. Apalagi dengan adanya bumbu romansa cinta segitiganya (plus faktor Jennifer Lawrence pula, haha). Tapi, sebagai film yang menjadikan 'kekerasan' sebagai jualan utamanya, saya rasa agaknya The Hunger Games masih terlalu 'lembek' alias kurang brutal. Bukan dengan maksud membandingkan, tapi dengan cerita yang mirip dengan Battle Royale (dan tentu tanpa disadarari akan terbayangi oleh Battle Royale), The Hunger Games rasanya seperti film 'brutal' yang masih terlalu remaja, meskipun saya sadar The Hunger Games memang ditujukan untuk penonton remaja. Intinya, dalam hal kesadisan dan kebrutalan, The Hunger Games masih kurang 'menggigit'.



Tapi, setidaknya, hal itu masih bisa terbayar dengan Jennifer Lawrence yang menjadi 'rising-star' dalam film ini. Dengan memerankan seorang remaja yang memiliki dua sisi, lembut dan tangguh. Lembut dan emosional  di saat ia menjadi seorang kakak penyayang dari Primrose, termasuk momen-momennya bersama Rue (Amandla Stenberg). Tangguh, saat di mana ia menjelma menjadi sosok yang berani dan seakan tak punya rasa takut. Si aktris cantik yang sempat mendapat nominasi Oscar untuk perannya di Winter's Bone ini berhasil memberikan performa terbaiknya. Sedangkan, para pemain lainnya mampu tampil dengan meyakinkan pula, termasuk Stanley Tucci, Wes Bentley, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Liam Hemsworth, dan Josh Hutcherson.

Sebenarnya, saya suka dengan kostum para penduduk Capitol yang eksentrik, colorful, dan nyeleneh itu. Entah itu memang berasal dari novelnya sendiri atau apa, tapi yang jelas kostumnya sedikit mengingatkan saya akan kostum di A Clockwork Orange, film lawas yang sinting (dalam arti sesungguhnya) dari Stanley Kubrick. Plus, saya juga kaget dengan penampilan yang benar-benar berbeda dari Stanley Tucci dan Elizabeth Banks sebagai Caeser Flickerman dan Effie Trinket. Benar-benar total. Saya bahkan hampir tak menyadari bahwa itu adalah mereka. Ada satu lagi yang menjadi poin plus dari The Hunger Games, yaitu dengan permainan tone-nya yang bagi saya membuat kesan lebih dramatis.



Namun, adalagi poin minusnya, yaitu di beberapa adegan menggunakan pergerakan kamera yang shaky, yang sebenarnya membuat saya sedikit pusing. Satu lagi, dengan durasi yang lebih dari 2 jam yang cukup menyenangkan, The Hunger Games malah diakhiri oleh ending yang sedikit mengecewakan. Bukan, ini bukan masalah happy atau sad ending, tapi lebih ke arah Gary Ross yang tampaknya belum bisa mengeksekusi endingnya dengan begitu baik, sehingga terkesan agak hambar bagi saya, atau mungkin saja itu sengaja agar para penonton makin penasaran akan sekuelnya? 

The Hunger Games masih jauh dari kata sempurna memang, dengan kebrutalan yang terlalu remaja dan kurang menggigit serta eksekusi ending yang kurang baik hingga terasa hambar dan kurang dramatis serta di beberapa tempat pergerakan kamera yang cukup shaky yang sedikit membuat saya pusing. Namun, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki termasuk isu plagiarisme, The Hunger Games tetap mampu menyajikan tontonan yang menarik, menghibur, dan tak membosankan untuk ditonton. Can't wait for Catching Fire!


7.5/10

Wednesday, August 22, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Witness for the Prosecution (1957)

"Wilfrid the Fox! That's what they call him, and that's what he is!" ~ Miss Plimsoll

Siapa pun para maniak misteri pasti tahu sosok Agatha Christie. Siapa pun pula para penggemar Agatha Christie (termasuk saya) pasti tahu pula karakter ciptaannya yang sangat terkenal, Hercule Poirot, si detektif berkepala bulat dengan sel otak abu-abu. Karya-karyanya, mulai dari novel hingga cerpen banyak yang diangkat ke drama-drama bahkan juga film layar lebar dan tv series. Mulai dari Murder on the Orient Express hingga Ten Little Indians.

Di antara seluruh karyanya, cerpen Witness for the Prosecution merupakan salah satunya. Film adaptasi ini disutradarai oleh Billy Wilder dan naskahnya ditulis Billy Wilder pula serta Harry Kurnitz. Sebelum diangkat menjadi film, cerpen ini terlebih dahulu diangkat menjadi sebuah drama teater. Sama seperti versi dramanya, versi film dari cerpen ini juga mendapat respon yang bagus, bahkan sempat mendapat 6 nominasi Oscar, termasuk Best Picture dan Best Director.


Seorang pengacara terkenal, Wilfrid Robart (Charles Laughton) baru saja (hampir) sembuh dari sakitnya. Meski belum sembuh total, ia memutuskan untuk menerima Leonard Vole (Tyrone Power) sebagai kliennya. Leonard Vole dituduh telah melakukan pembunuhan atas wanita tua kaya Emily French (Norma Varden). Dengan terus ditemani oleh suster privatnya, Miss Plimsoll (Elsa Lanchester), ia pun menjalani persidangan menemani sang terdakwa, Leorand Vole.

Konfilk dalam persidangan makin menjadi setelah istri Vole, seorang aktris asal Jerman bernama Christine Vole (Marlene Dietrich) yang secara mengejutkan dijadikan saksi, karena sebelumnya Wilfrid memutuskan untuk tak menjadikan ia saksi. Lebih mengejutkan lagi, karena sang istri ternyata menyampaikan kesaksian palsu, berbeda 180 derajat dengan apa yang ia sampaikan ketika ia datang ke rumah Wilfrid. Kemudian, apakah Vole bersalah? Apalagi setelah sang istri memberikan kesaksian palsu yang makin memberatkan Vole.


Film ini didukung oleh ensemble cast yang luar biasa. Ada Charles Laughton yang tampil dengan sangat meyakinkan dengan memerankan tokoh pengacara hebat yang banyak bicara dan agak konyol (ya, hebat tapi sedikit konyol, sangat Poirot). Belum lagi si suster privat, Miss Plimsoll yang juga tak kalah banyak bicaranya yang diperankan Elsa Lanchester juga tampil dengan sangat baik. Hasilnya? Chemistry antara kedua tokoh yang sering bertengkar ini terjalin dengan sangat klop. Oh, jangan pula lupakan dua nominasi Oscar untuk mereka. 

Di sisi lain, ada Tyrone Power sebagai terdakwa yang menghasilkan penampilan dengan baik. Jangan lupakan Marlene Dietrich yang memerankan tokoh istri yang penuh kebohongan yang dapat diperankan dengan sangat baik pula. Yang jelas, bersama dengan Laughton dan Lanchester, Dietrich berhasil memberikan penampilan terbaiknya.


Film ini sedikit mengingatkan saya akan 12 Angry Men. Sama seperti 12 Angry Men, Witness for the Prosecution sama-sama menawarkan dialog panjang di setiap scene-nya (meski Witness for the Prosecution ini lebih 'cerewet', mungkin juga karena karakter utamanya yang cerewet). Sisamping karena dialognya yang cerdas, namun juga disampaikan oleh aktor-aktris kelas satu, menjadikan film ini tak membosankan sama sekali.

Dimulai dengan perkenalan dua tokoh, Wilfrid dan susternya, Plimsoll, kita sudah disuguhkan sesuatu yang menarik di sini. Saya suka dengan karakter keduanya yang sama-sama keras kepala dan banyak bicara, sehingga sering kali berakhir pertengkaran yang sedikit konyol. Menarik pula (dan konyol) ketika Wilfrid sesekali berhasil mengelabui Plimsoll. Yah, lumayan untuk sedikit menghibur kita, apalagi mengingat konflik di tengah pengadilan yang cukup berat.


Jika diawali dengan apik, maka Witness for the Prosecution pastinya harus diakhiri pula dengan apik, bukan hanya apik, tapi juga harus dikemas dengan sangat baik, dan itulah yang terjadi. Film ini diakhiri dengan sesuatu yang begitu mengejutkan. Saya yakin semua penontonnya (yang belum pernah membaca cerpen maupun menonton dramanya), akan merasa terkejut dengan ending ini. Ini semua tak terlepas dari bagaimana Billy Wilder menutup semuanya rapat-rapat dan mengungkapkan kenyataan di akhirnya dengan sangat meyakinkan.

Witness for the Prosecution adalah semua tentang kejujuran, kebohongan, dan pengkhianatan. Seluruh aspek berhasil dimanfaatkan oleh Billy Wlider semaksimal mungkin melalui sebuah persidangan yang rumit. Dengan menghadirkan ensemble cast luar biasa, dialog cerdas, penyutradaraan yang sangat baik, karakter menarik, dan yang pada akhirnya ditutup oleh ending yang unpredictable (dan terdapat sesuatu yang lebih gila di credit-nya), Witness for the Prosecution berhasil menyuguhkan segalanya dengan sempurna yang membuat saya tak ingin beranjak dari tempat duduk, dan yang terpenting, membuat saya tak akan pernah melupakan film ini.

9.0/10

Tuesday, August 21, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] The Cabin in the Woods (2012)

"Any of army of nightmares, huh? Let's get this party started." ~ Dana

Film horor yang satu ini termasuk salah satu yang saya tunggu-tunggu dalam tahun 2012. Tentu saja karena melihat rating di IMDb dan tomatometer di Rotten Tomatoes yang menggiurkan. Bukan hanya itu, berangkat pula dari Joko Anwar yang memuji film ini habis-habis di akun twitternya, membuat hasrat saya untuk menonton film ini semakin menggebu-gebu.untuk menonton film ini. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah rating tinggi film ini  dan pujian dari sutradara sekelas Joko Anwar mampu mengatakan segalanya?

Seberapa banyak film horor yang menyajikan cerita tentang beberapa anak muda yang pergi berlibur ke suatu tempat? Banyak! Sudah tak terhitung lagi, bahkan film horor slasher legendaris tahun 1975, Texas Chainsaw Massacre pun telah memakai formula yang sama. Selanjutnya? Mudah ditebak. Satu-persatu dari mereka pasti akan tewas, entah itu diserang oleh seorang psychopath berdarah dingin atau bahkan makhluk halus sekalipun. Akhirnya, pasti akan tersisa satu/dua orang yang pulang dengan selamat sentosa.


Itu pula formula yang ditawarkan oleh The Cabin in the Woods. Film ini tak menawarkan premis yang sangat menarik. Sesuai judulnya, filmnya bercerita tentang sekelompok 5 mahasiswa, Dana (Kristen Connolly), Curt (Chris Hemsworth), Jules (Anna Hutchison), Marty (Fran Kanz), dan Holden (Jesse Williams). pergi berlibur ke sebuah kabin tua di tengah hutan. Klise, stardar, dan nothing special. Kelima mahasiswa ini memiliki kepribadian yang berbeda-beda, Holden merupakan seorang kutubuku, Marty merupakan pecandu mariyuana, Curt merupakan seorang pria yang atletis karena ia memang atlit, Jules merupakan tipe wanita yang agak b*tchy, sebaliknya Dana merupakan wanita yang kalem.

Saat sedang bermain suatu permainan, mereka menemukan sebuah basement yang penuh dengan barang usang berdebu. Marty menemukan roll-roll film tua, Holden menemukan sebuah music box, Jules menemukan sebuah liontion, Curt menemukan suatu benda mirip rubik namun berbentuk bola, dan yang paling menarik, Dana menemukan sebuah buku harian tua tahun 1903 milik Anne Patience Buckner. Tulisan-tulisannya sangat mengerikan. Darah,  Di akhir buku tersebut, terdapat dua kalimat dalam bahasa latin. Dana memutuskan untuk membacanya, meski Marty tak ingin kalimat itu dibaca. "Dolor supervivo caro. Dolor sublimis caro. Dolor ignio animus," itulah bunyi kalimat tersebut. Tanpa mereka ketahui, ternyata kalimat tersebut akan mengubah hidup mereka, atau... 


Plot yang super klise itu mungkin akan menimbulkan kepesimisan penonton akan film ini. Eits, tapi jangan remehkan film ini. Tentu saja dan screenwriternya Drew Goddard (yang juga.menyutradarai film ini) serta Joss Whedon tak akan membiarkan hal itu terjadi. The Cabin in the Woods merupakan sebuah horor dengan balutan komedi satir yang secara tak langsung menyinggung film-film horor masa kini yang terbilang sangat klise dan tak kreatif. Tak ada yang salah sebenarnya dengan sesuatu yang klise, tapi dengan dialog dangkal, naskah buruk, akting amatiran, dan hanya mengumbar tubuh wanita? No, no, no, no.

Nah, inilah apa yang dicoba oleh duo director-screenwriter ini. Mereka mencoba untuk out of boundaries. Tapi, cara mereka lain daripada yang lain. Bukan dengan cara membuat cerita yang tak pernah orang lain pakai, tapi dengan memakai cerita yang kita anggap sebagai formula klise tersebut. Unik bukan? Tentu.


Departemen aktingnya, walau tidaklah terlalu istimewa, tapi tentu saja tetap menarik untuk dikupas. Jajaran castnya dipimpin oleh si wanita kalem berambut cokelat, Dana alias Kristen Connolly yang mampu menghasilkan penampilan yang terbilang baik. Begitu pula dengan seluruh cast dibelakangnya yang juga memberikan penampilan yang sama-sama baiknya dan ikut pula memperkuat departemen akting yang tampil cukup solid. Tapi, tak pas rasanya jika saya tak punya karakter favorit dalam film ini.

Saya rasa hampir semua orang akan menyebut Marty sebagai karakter favorit mereka. Dia mungkin saja merupakan seorang pecandu mariyuana dan yang terbodoh diantara semua, tapi karakternya memang sangat mencuri perhatian. Ia sangat sering muncul dengan dialog-dialog alias celetukan ringan nan kreatif dan pastinya memancing tawa. Siapa sangka pula bahwa karakter yang awalnya terlihat tak penting ini sebenarnya memegang peranan yang sangat penting dalam film? Ya, inilah salah satu bentuk dari apa yang saya maksud dengan 'keluar dari batas-batas', keluar dari formula horor yang biasanya menempatkan karakter bodoh sebagai sekedar lewat saja.


Sebagai sebuah horor komedi satir, tentu The Cabin in the Woods sangat berhasil. The Cabin in the Woods merupakan tontonan horor yang menghibur namun cerdas dan kreatif. Sangat jarang ada film horor yang seperti ini, karena saat ini memang perfilman horor selalu diisi dengan cerita yang meh.. itu-itu saja. Kalau pun ada film horor yang benar-benar cerdas (bukan hanya horor satir saja), mungkin kita harus mundur lagi berpuluh-puluh tahun ke jajaran film-film horor klasik, contohnya film-film yang diangkat dari novel Stephen King. Horor 1990an? Ada Scream milik Wes Craven yang dahulu sukses mengolok-olok horor mainstream, atau kalau tak mau mundur terlalu lama alias horor masa kini, mungkin Saw juga bisa dijadikan contoh. Ya, meski filmnya sendiri keluaran 8 tahun yang lalu.

Film ini merupakan proyek sinting dari duo Goddard-Whedon. Dimulai dengan premis yang jujur saja tak menjanjikan dan sudah basi. Namun perlahan, ternyata mampu menjadi sebuah tontonan yang apik. Apalagi dengan balutan science-fiction-nya yang makin menambah ketegangan yang ada dari horor berdarah ini. Science-fiction-nya juga mendapat nilai plus dengan penggunaan CGI-nya yang cukup menawan. Belum cukup? Sekarang, silahkan nikmati 20 menit terakhir film ini dan rasakan sensasinya! Tentu, belum termasuk dengan twist yang ada dalam film. Ah, jangan pula lupakan pula endingnya yang menurut saya salah satu ending terbaik yang pernah saya tonton, dan yang paling saya suka, ending ini pun juga out of boundaries


The Cabin in the Woods merupakan mimpi buruk. Ya, mimpi buruk bagi kelima orang tersebut, namun menjadi mimpi indah yang menjadi kenyataan bagi dunia perfilman, khususnya film horor. Seluruh aspek mampu memainkan bagiannya masing-masing dengan lumayan baik. Entah itu dari cerita yang tak terduga, intensitas film yang berhasil terbangun dengan baik, hingga ke bagian teknisnya sekalipun, seperti visual-effect dan scoring-nya yang setia menemani intens yang terbangun. 

Jelas bukan tipe Best Picture ala Oscar, tapi apalah artinya Oscar, jika The Cabin in the Woods ini telah bisa memenangkan hati jutaan dari penggila horor di seluruh dunia? Tapi yang jelas, The Cabin in the Woods merupakan gebrakan baru (namun dengan menggunakan cara lama) dalam perfilman horor. Sebuah horor yang awalnya terlihat sangat konvensional dan mainstream, membuat anda akan berpikir bahwa film ini nantinya akan menjadi sebuah horor bodoh pada umumnya, namun seiring dengan berjalannya waktu, ia akan membuka sedikit demi sedikit lembaran-lembaran rahasianya dan... bam! Bagaikan sebuah bom, ia akan meledakkan anda semua. Film ini merupakan angin segar yang mungkin akan memulai berbagai horor cerdas lain yang nantinya akan banyak bermunculan. Ya, mungkin saja. Satu lagi, untuk menjawab pertanyaan di akhir paragraf pertama tadi, saya harus mengatakan, Ya! 

You think you know the story? Think again.

8.5/10

Monday, August 20, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Hot Fuzz (2007)

"I may not be a man of God, but I know right and I know wrong and I have the good grace to know which is which." ~ Nicholas Angel

Setelah pada tahun 2004 Edgar Wright menyutradarai film horor zombie komedi, Shaun of the Dead yang sukses secara kritik maupun finansial (khususnya untuk Inggris dan Amerika Serikat), 3 tahun kemudian ia muncul kembali lewat Hot Fuzz. Kali ini, tak ada zombie lagi, namun ia masih bekerja dengan dua pemeran dalam Shaun of the Dead, Simon Pegg, yang merangkap sebagai pemeran utama sekaligus penulis naskah bersama dengan Edgar Wright serta Nick Frost, yang lagi-lagi sebagai partner Simon Pegg.

Hidup Nicholas Angel sebagai seorang polisi rasanya sangatlah sempurna. Bagaimana tidak? Unggul latihan medan khususnya dalam hal keamanan kota dan kontrol kerusuhan, unggul pula dalam bidang akademis, mendapat 9 penghargaan khusus dalam 12 bulan terakhir, cepat membangun kefektifan dan popularitas di masyarakat, jago dalam hal mengendarai mobil dan sepeda, pemegang rekor lari 100m hingga kini, dan yang terpenting, merupakan petugas dengan rekor penangkapan penjahat tertinggi, 400% diatas petugas lainnya. Sayangnya, kehidupan percintaannya tidaklah sesempurna kehidupan profesinya.


Suatu hari, berita baik datang. Ia diangkat menjadi sersan. Tapi, ada pula berita buruknya. Ia dimutasi dari London ke sebuah desa bernama Sanford, Gloucestershire. Sandshire sendiri merupakan sebuah desa kecil yang memenangkan Village of the Year berkali-kali serta memiliki tingkat kriminalitas yang sangat rendah. Tentu saja awalnya Angel (ya, mungkin sebaiknya kita panggil Nicholas saja, haha) tak setuju akan ini, namun tak ada pilihan lain, ia harus pindah ke Sandford. 

Di Sandford, ia bekerja dengan rekan-rekan kerja baru, seperti PC Danny Butterman (Nick Frost), polisi berbadan subur yang nantinya (seperti biasa) akan menjadi partner Nicholas. Selain Danny, juga ada ayah Danny, Inspektur Frank Butterman (Jim Broadbent). Selain keluarga polisi ini, ada pula PC Doris Thatcher (Olivia Colman), PC Bob Walker (Karl Johnson), Detektif Sersan Wainwright (Paddy Considine), Detektif Constable Cartwright (Rafe Spall), dan Sersan Tony Fisher (Kevin Eldon).


Keadaan antara London dengan Sandford tentulah sangat berbeda. Ini pula lah yang dirasakan oleh Nicholas. Tak ada kasus-kasus besar seperi biasanya, paling-paling hanya kasus kehilangan, dan yang hilang pun bukan manusia, melainkan seekor angsa. Sampai suatu hari, pengacara kondang Martin Blower dan selingkuhannya Eve Draper yang merupakan seorang pekerja di dewan lokal, ditemukan terpenggal kepalanya. Nicholas meyakininya sebagai pembunuhan daripada kecelakaan, apalagi setelahnya banyak lagi kasus 'kecelakaan' bermunculan, tapi sayangnya, polisi lain malah menganngap ini hanyalah sebuah kecelakaan.

Hot Fuzz mungkin salah satu film komedi yang tak hanya menjual kekonyolan, tapi juga mengajak penontonnya berpikir, layaknya film komedi lawas sejenis tahun 1985, Clue. Tak hanya menonjolkan sisi misteri dan crime yang membuat kita penasaran sekaligus berpikir, Hot Fuzz juga menggabungkan unsur action ke dalam film ini, unsur yang tak ada dalam film Clue.


Awalnya, Hot Fuzz memang terlihat film tentang polisi yang paling manusiawi: tak ada penjahat besar, kejar-kejaran dengan buronan, maupun baku tembak antar polisi dengan pelaku kriminal. Namun perlahan, Hot Fuzz mulai menampakkan batang hidungnya. Jika diibaratkan, Hot Fuzz bagaikan sebuah bom waktu, yang dapat meledak sesuai dengan waktu yang ditentukan dan ketika waktunya tiba, maka BLAM! 'Bom' tersebut akan mengeluarkan segalanya, sekaligus action seru dan layaknya film detektif-detektifan lainnya: twist, meski memang tak se-shocking Incendies ataupun The Prestige.

Hot Fuzz sebenarnya mengingatkan saya kepada Shaun of the Death, selain karena adanya trio Wright, Pegg, serta Frost, juga terutama pada teknik hip-hop montage dinamisnya yang mendominasi. Selain di Shaun of the Death, hip-hop montage pernah dipakai oleh Darren Aronofsky dalam film Requiem for a Dream (2000) yang kemudian menjadikan teknik ini populer. Hip-hop montage sendiri merupakan teknik yang merupakan hasil dari pemotongan editing yang cepat, close-up (sesekali juga memakai frantic zoom), serta suara tajam. Bukan hanya itu, film ini juga memakai match cut yang juga pernah dipakai dalam 2001: A Space Odyssey milik Stanley Kubrick.


Frost, sebagai penyumbang porsi komedi terbanyak terbilang berhasil dalam membuat penontonnya untuk tak menahan tawanya. Tak hanya Frost tentunya, aksi-aksi konyol karakter lain juga cukup membuat tawa membludak, tak terkecuali para rekan Danny dan Nicholas. Belum cukup? Tampaknya action yang dibawakan Hot Fuzz juga efektif untuk membuat anda tertawa. Dalam hal komedi, Hot Fuzz tidaklah menawarkan komedi yang kasar, kotor, dan brengsek, namun lebih menawarkan komedi yang lebih sopan namun berhasil mengundang tawa. Salah satu yang saya suka adalah scene 'not Janine'.

Wright dan Pegg selaku screenwriter ternyata belum mau melepas unsur dari Shaun of the Dead yang satu ini. Darah, potongan tubuh, mayat, dan segala hal yang berbau gory. Meski menawarkan komedi yang terbilang sopan, unsur gorynya justru tampil lebih sadis dan eksplisit, meski tidak kebagian banyak porsi. Semua kesadisan ini juga berkat andil special effectnya yang sangat bagus, khususnya untuk film dengan budget 8 juta euro. Sebenarnya jejak Shaun of the Dead bukan hanya sentuhan gory, masih ingat pub?


Berbicara tentang Hot Fuzz maupun Shaun of the Dead tentu tak akan afdol jika tak membicarakan bromace dari Pegg dan Frost. Chemistry yang dihasilkan keduanya tampil dengan sangat solid sebagai sepasang partner. Bukan hanya tampil solid dalam setiap adegan komedi serta action, namun juga dalam porsi emosional yang ditampilkan. Di Hot Fuzz bukan hanya ada bromance antara Nicholas dan Danny, tapi juga antara duo Andes, meski sayangnya tak terlalu dikembangkan.

Hot Fuzz, memang belum sefenomenal si horor zombie Shaun of the Dead, namun tetap saja Hot Fuzz sangat berhasil bukan hanya dalam hal membuat penonton tertawa, namun juga dalam actionnya yang seru dan bagaikan bom waktu itu. Jangan pula lupakan chemistry kuat antara Pegg dan Frost plus nuansa gory yang ditawarkan. Sungguh suatu perpaduan yang luar biasa.

8.0/10

Thursday, August 16, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Dark Knight Rises (2012)

"I do fear death. I fear dying in here, while my city burns, and there's no one there to save it." ~ Bruce Wayne

Batman dan Christopher Nolan. Suatu hal yang sampai saat ini kita tahu tak akan dapat terpisahkan. 'Kolaborasi' ini memang begitu fenomenal. Karirnya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah dimulai pada tahun 1997 dengan film pendek Doodlebug. Doodlebug merupakan film yang aneh, mungkin salah satu film paling aneh yang pernah saya tonton. Di balik kata 'aneh'-nya itu, sebenarnya Doodlebug memiliki cerita yang sangat-sangat sederhana, bahkan mungkin semua orang pernah melakukannya. Oke, saya mulai out of the topic

Semua kisah Batman yang legendaris itu dimulai saat tahun 2005, saat film berjudul Batman Begins yang dibintangi Christian Bale sebagai Batman rilis. Film ini tentu mendapatkan sambutan yang sangat hangat. Di tahun 2008, akhirnya rilis sekuel dari Batman Begins, yaitu The Dark Knight. Dalam film ini, muncullah The Joker yang diperankan oleh mendiang Heath Ledger. Semua orang pasti tahu dengan karakter y ang tak terlupakan ini. Sesuai judul film yang pertama, yaitu Batman Begins, pastilah akan ada sebuah penutup. Ya, sebagai penutup dari trilogi Batman ini, pada tahun 2012, rilislah The Dark Knight Rises.


The Dark Knight Rises bercerita tentang kehidupan Kota Gotham setelah jaksa Harvey Dent, yang dianggap sebagai pahlawan Kota Gotham tewas di tangan Bruce Wayne alias Batman (Christian Bale). Delapan tahun sejak kematiannya, delapan tahun pula Batman tak pernah menampakkan batang hidungnya. Delapan tahun pula, Batman terus-terusan dianggap sebagai penyebab utama tewasnya Harvey Dent. Di sisi lain, muncullah Bane (Tom Hardy), teroris sekaligus villain baru bagi Kota Gotham. Keadaan inilah yang akhirnya memaksa Batman untuk keluar dari persembunyiannya.

Selain itu, terdapat pula Selina Kyle alias Catwoman. Karakter 'abu-abu' ini diperankan oleh Anne Hathaway. Tak ketinggalan, terdapat pula aktor veteran dari Inception, seperti Joseph Gordon-Levitt yang berperan sebagai polisi muda yatim piatu John Blake serta Marion Cotillard sebagai Miranda Tate, salah seorang anggota Wayne Enterprises. Sementara karakter Alfred dan Lucius Fox masih diperankan oleh dua aktor kawakan, Michael Caine dan Morgan Freeman.


Memang, tak akan ada yang dapat menggantikan karakter Joker versi Heath Ledger. Bahkan, sampai-sampai Oscar pun mengapresiasi peran mendiang Heath Ledger ini dengan memberinya penghargaan Best Supproting Actor. Karakternya yang licik, gila, sintang, namun cerdas memang sangat melekat di ingatan kita. Apalagi didukung oleh penampilannya yang khas itu: tubuh berbalut overcoat ungu dengan mulut robek dan make-up ala badut yang amburadul plus rambut acak-acakan. Lalu, apakah karakter villain gila dari film sebelumnya ini tetap ada dalam The Dark Knight Rises?

Ya, tentu saja. Seperti yang saya bilang sebelumnya, terdapat tokoh villain baru dalam The Dark Knight Rises, yaitu Bane. Lantas, bagaimana dengan Bane ini, mampukah ia menandingi Joker? Karakter yang diperankan oleh Tom Hardy ini jelas belum dapat mengungguli kesintingan Joker di The Dark Knight. Bane juga mempunya penampilan khas: kepala plontos, tubuh besar kekar, serta pengubah suara berbentuk aneh yang terpasang di kepalanya. Ya, meski tetap saja penampilannya yang super sangar itu masih belum dapat  mengalahkan kharisma Joekr yang bertubuh jauh lebih kecil itu. Tapi, tak dapat dipungkiri bahwa tetap saja Bane mampu meneror seluruh isi bioskop, sekaligus seluruh penduduk Kota Gotham pastinya.


Selain ada Bane, ada dua karakter lagi yang dapat kita highlight. Ada Selina Kyle si Catwoman serta John Blake si polisi muda. Di balik muka cantiknya, Selina Kyle merupakan seorang pencuri ulung. Karakter ini  unik, karena merupakan karakter 'abu-abu' dalam film. Di satu sisi, ia memang seorang pencuri serta kerap membantu Bane. Di sisi lain, ia juga kerap membantu Batman dalam setiap aksinya. Ya, bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda.

Nah, selain pencuri 'abu-abu' ini, juga terdapat John Blake, polisi muda yang kebetulan juga sama seperti Bruce Wayne yang yatim piatu. Awalnya, memang John Blake terasa tak terlalu ikut andil dalam film ini, alias tak terlalu penting. Namun, perlahan bersamaan dengan durasinya yang terus bergulir, siapa sangka bahwa tokoh protagonis ini menyimpan sesuatu? Ada lagi satu tokoh yang misterius, yang ternyata juga menyimpan rahasia, untuk kali ini, saya rahasiakan, haha.


Memang belum dapat mengalahkan masterpiece trilogi ini, The Dark Knight Rises. Namun, The Dark Knight tentu bukanlah The Dark Knight Rises. Kita tak dapat membandingkannya secara gamblang, apalagi mengingat The Dark Knight Rises hanya bertugas untuk menutup trilogi fenomenal Nolan ini. Tentulah ceritanya tak akan menandingi kakaknya, The Dark Knight.

Untuk masalah teknis, tentu anda akan puas dengan sajian Batman khas Nolan ini. Kendaraan serta senjata-senjata yang super duper canggih serta visual-effect yang juga tak kalah canggih, apalagi setiap momen itu ditemani oleh scoring-scoring jenius yang membahana karya Hans Zimmer, partner setia Nolan. Ya, semua itu makin terasa sempurna apalagi kalau bukan dilengkapi oleh teknologi sekelas IMAX. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, bukan?


The Dark Knight Rises saya akui merupakan sebuah penutup trilogi yang luar biasa. Christopher Nolan berhasil memberikan sebuah salam perpisahan yang sangat manis, pilu, sekaligus masih menyisakan misteri. Huh, sesuatu yang sangat khas Nolan. Terlebih The Dark Knight Rises ini merupakan film penutup yang juga ditutup oleh twist yang mengejutkan. Benar-benar perpaduan yang pas.

Ya, ternyata waktu yang saya butuhkan untuk menonton film ini, yaitu selama hampir 3 jam, tak terbuang dengan sia-sia. Nah, apakah proyek selanjutnya Nolan sebagai penulis naskah di kisah Superman, Man of Steel yang disutradarai Zack Snyder, yang rilis tahun depan akan sefenomenal kisah Batman ini? Atau bahkan akan ada pula trilogi dari Man of Steel? Well, kita tunggu saja.

8.5/10

Sunday, August 12, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Psycho (1960)

"Mother! Oh God, mother! Blood! Blood!" ~ Norman Bates

Memang sangat tak salah jika menyebut Alfred Hitchcock sebagai 'The Master of Suspense'. Sutradara kelahiran 13 Agustus 1899 ini memang mendunia berkat karya-karya suspensenya. Tercatat, ia bahkan telah menyutradarai lebih dari hampir 70 judul film dan tv series. Dari seluruh karyanya, ada beberapa yang begitu diingat para pecinta film, seperti Rear Window, Vertigo, The Bird, Dial M for Murder, serta North by Northwest merupakan film-film thriller klasik jenius yang sampai sekarang pun tak tergerus oleh jaman. 

Dari kesemua karyanya tersebut, mungkin Psycho merupakan karya jeniusnya yang paling diingat. Selain disutradari oleh Hitchcock, naskah film ini ditulis oleh Joseph Stefano. Filmnya sendiri merupakan adaptasi dari novel tahun 1959 berjudul sama karya Robert Bloch. Film yang rilis tahun 1960 dan berformat hitam putih ini mungkin memang memiliki momen momen paling memorable dari Hitchcock. Ada dua momen paling memorable sebenarnya dalam film ini, yaitu shower scene-nya serta... ah, tak istimewa rasanya jika saya beritahu secara blak-blakan di sini.


Wajah cantik dan tubuh langsing terawat, masih muda pula seakan merupakan senjata utama yang dapat membuat setiap wanita iri pada Marion (Janet Leigh). Tapi jangan tertipu dengan wajah cantik serta pakaian   putinya yang terasa begitu angelic itu. Seminggu sudah ia menghilang setelah mencuri uang milik klien bosnya.  Lila Crane (Vera Miles), kakaknya serta kekasih Marion, Sam Loomis (John Gavin) mencarinya. Bersama dengan seorang detektif swasta, Milton Arbogast (Martin Balsam), mereka berusaha mencari keberadaan Marion.

Penyelidikan Milton membawanya ke sebuah motel kecil yang dimilik sekaligus dikelola oleh Norman Bates (Anthony Perkins) yang tinggal berdua bersama ibunya di rumah besar yang terletak di belakang motel. Motelnya sendiri biasanya saja, tak ada sesuatu yang terlalu misterius. Kesan misterius malah ditampakkan oleh rumah besar 3 lantai milik keluarga Bates yang hanya ditempati Norman dan ibunya. Bukan hanya rumahnya, penghuninya, Norman serta ibunya pun tak kalah misteriusnya.


Di sisi lain, Lili bersama Sam memutuskan untuk berdiri sendiri untuk mencari keberadaan Marion. Dengan menyamar menjadi suami istri, mereka menginap di motel kecil milik Norman tadi. Mereka pun akhirnya menyelidiki kamar Marion dan menemukan sesuatu yang misterius. Tetapi, itu belum seberapa misteriusnya ketimbang apa yang akan mereka lihat nantinya.

Jenius. Setelah 109 menit menonton film ini, hanya kata itulah yang terucap dalam hati saya. Rasanya memang tak berlebihan orang-orang di luar sana yang mengelu-elukan film ini. Film ini memang tipe film yang mengajak penontonnya berpikir dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun saya yakin, bagi yang menonton film ini tanpa mengetahui spoilernya terlebih dahulu serta tak pernah menonton film sejenis, akan menebaknya dengan tidak tepat.


Setiap adegan thrill-nya selalu ditemani dengan tata musik yang psychedelic (ya, akhirnya saya tahu namanya) yang apik. Tata musik karya Bernard Herrmann yang membuat detak jantung bertambah cepat itu berhasil membawa saya ke sebuah suasana yang begitu menegangkan. Apalagi, scoring yang berada di ending juga shower scene. Tak hanya karena psychedelicnya yang begitu terasa, namun juga scene itu merupakan salah satu scene yang paling memorable, mengejutkan, sekaligus membuat penasaran. Ah, tapi bagi saya shower scene-nya memang merupakan scene yang paling fenomenal.

Tak hanya itu, sinematografi yang didukung oleh formatnya yang hitam putih itu juga turut andil dalam memberikan suasana menegangkan. Ya, meski sebenarnya Hitchcock mengaku bahwa alasan mengapa film ini berformat hitam putih adalah untuk menekan budget film serta mengurangi unsur gory dalam film. Hasilnya, film ini 'hanya' berbudget US$800.000, namun berpendapatan berkali-kali lipatnya, yaitu di atas angka 40 juta, dalam dollar tentunya.


Namun, entah mengapa, saya malah merasakan bahwa efek hitam putih ini sangat berperan untuk menambah ketegangan dan suasana misteriusnya. Efek hitam putih ini dapat dirasakan di endingnya, bahkan sinematografi tersebut lebih 'menggigit' lagi dapat anda temui saat 'shower scene', terlebih didukung oleh angle-angle yang tampak begitu apik di mata penonton. Tak ayal lagi, sinematografi arahan John L. Russell berhasil masuk nominasi Best Cinematography di ajang Oscar 1961, meski harus mengakui keunggulan sinematografi dari Sons and Lovers.

Tentu saja saya tak akan lupa membahas departemen aktingnya. Seluruh jajaran pemainnya berhasil bermain dengan sangat baik, terlebih bagi Janet Leigh serta Anthony Perkins. Janet Leigh bahkan dinominasikan untuk Best Supporting Actress, tentu saja di Oscar 1961. Anthony Perkins? Best momentnya sendiri berada di menit terakhir film. 


Psycho merupakan pelopor film-film thriller psikologis. Setelah film ini rilis dan mendapat sambutan hangat dari banyak orang, banyak bermunculan film-film yang thriller serupa bahkan hingga saat ini. Namun, tetap saja tak ada yang mampu mengalahkan pesona film ini sendiri, bahkan sekuel dan juga remakenya. 

Film ini seakan menjadi legenda yang tak akan tergerus oleh jaman, yang akan diingat terus bahkan sampai berabad abad kemudian. Ending mengejutkan, murder scene yang begitu memorable, scoring juara, sinematografi apik, hingga akting ciamik semua menjadi satu dalam film ini. Ah, tentu saja, penyutradaraan yang juga tak kalah apiknya. Sebuah karya jenius dari seorang sutradara jenius pula, Alfred Hitchcock. 

9.0/10