300x250 AD TOP

Thursday, August 23, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] The Hunger Games (2012)

"Thank you... for your consideration." ~ Katniss 

Masih ingat Battle Royale? Yup, film asal Negeri Sakura ini memang fenomenal. Rilis 12 tahun yang lalu, film ini  mendapat sambutan yang baik. bahkan mendapat nominasi Best Picture di Japanese Academy Awards 2001. Filmnya sendiri dikenal sadis, penuh darah, brutal, dan penuh kekerasan. Yang pasti, Battle Royale menghadirkan premis yang luar biasa menarik dan itu semua berhasil dibayar dengan keseluruhan film yang memang sesuai dengan yang saya harapkan.

Kemudian, apa hubungannya Battle Royale dengan The Hunger Games? Selain sama-sama diangkat dari novel, kedua film ini memiliki tema (termasuk cerita) yang hampir sama, yaitu survival. Kalau Battle Royale merupakan sekelompok siswa sekelas yang dikumpulkan di suatu pulau untuk memainkan suatu 'permainan', maka The Hunger Games bercerita tentang 12 distrik dari sebuah negeri masa depan bernama Panem yang masing-masing distrik mengirimkan 2 wakilnya untuk bermain di suatu 'permainan' pula. Entah ini termasuk plagiarisme atau tidak, yang pasti, kedua film adaptasi ini sama-sama menarik untuk ditonton.



Seperti yang saya katakan tadi, The Hunger Games bercerita tentang suatu 'permainan' hidup-mati. The Hunger Games? Ya, judul yang menurut saya cukup aneh itu merupakan nama 'permainan' mengerikan ini. 'Permainan' ini mengandalkan kemampuan para pesertanya untuk bertahan hidup, termasuk, dalam 'game' ini juga para peserta diperbolehkan (atau mungkin diharuskan) untuk membunuh satu sama lain, yang pada akhirnya nanti akan terpilih 1 orang pemenang. Dengan premis yang mirip dengan Battle Royale, apakah The Hunger Games mampu membuat tontonan yang 'menyenangkan'? Apalagi dengan tambahan yang lebih menarik bahwa 'permainan' sadis ini (The Hunger Games) disiarkan live di televisi!

Naskah The Hunger Games ini ditulis oleh sutradaranya sendiri, Gary Ross, Billy Ray, dan juga novelisnya sendiri, Suzanne Collins. Filmnya sendiri sendiri berpusat pada karakter Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence). Berbeda dengan Battle Royale, para wakil setiap distrik di The Hunger Games dipilih melalui undian. Dari distrik 12, tempat Katniss tinggal, terpilihlah 2 wakil, yaitu Peeta Mellark (Josh Hutcherson) dan Primrose Everdeen (Willow Shields), yang tak lain merupakan adik Katniss. Sebagai seorang kakak, pastilah berkewajiban untuk melindungi adiknya, dan itulah yang dilakukan Katniss. Demi melindungi nyawa adiknya, ia pun akhirnya harus rela berkorban dengan taruhan nyawa. 



Di Capitol, tempat di mana 'permainan' itu diadakan, Katniss dan Peeta diharuskan untuk bertahan hidup, bukan hanya bertahan terhadap alam, tapi juga dari serangan rival-rivalnya seperti Cato (Alexander Ludwig), Clove (Isabelle Fuhrman), Glimmer (Leven Rambin), Marvel (Jack Quaid), Foxface (Jacqueline Emerson), serta perserta lainnya. Meski merupakan film yang menjanjikan kebrutalan, sebagai film yang menjadikan remaja sebagai target penontonnya, tentu saja The Hunger Games tak melupakan rasa remajanya, yaitu percintaan. Bukan antara 2 remaja, melainkan 3 sekaligus, yaitu antara Katniss, Peeta, dan Gale Hawthorne (Liam Hemsworth). 

The Hunger Games nyatanya memang menarik untuk diikuti. Apalagi dengan adanya bumbu romansa cinta segitiganya (plus faktor Jennifer Lawrence pula, haha). Tapi, sebagai film yang menjadikan 'kekerasan' sebagai jualan utamanya, saya rasa agaknya The Hunger Games masih terlalu 'lembek' alias kurang brutal. Bukan dengan maksud membandingkan, tapi dengan cerita yang mirip dengan Battle Royale (dan tentu tanpa disadarari akan terbayangi oleh Battle Royale), The Hunger Games rasanya seperti film 'brutal' yang masih terlalu remaja, meskipun saya sadar The Hunger Games memang ditujukan untuk penonton remaja. Intinya, dalam hal kesadisan dan kebrutalan, The Hunger Games masih kurang 'menggigit'.



Tapi, setidaknya, hal itu masih bisa terbayar dengan Jennifer Lawrence yang menjadi 'rising-star' dalam film ini. Dengan memerankan seorang remaja yang memiliki dua sisi, lembut dan tangguh. Lembut dan emosional  di saat ia menjadi seorang kakak penyayang dari Primrose, termasuk momen-momennya bersama Rue (Amandla Stenberg). Tangguh, saat di mana ia menjelma menjadi sosok yang berani dan seakan tak punya rasa takut. Si aktris cantik yang sempat mendapat nominasi Oscar untuk perannya di Winter's Bone ini berhasil memberikan performa terbaiknya. Sedangkan, para pemain lainnya mampu tampil dengan meyakinkan pula, termasuk Stanley Tucci, Wes Bentley, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Liam Hemsworth, dan Josh Hutcherson.

Sebenarnya, saya suka dengan kostum para penduduk Capitol yang eksentrik, colorful, dan nyeleneh itu. Entah itu memang berasal dari novelnya sendiri atau apa, tapi yang jelas kostumnya sedikit mengingatkan saya akan kostum di A Clockwork Orange, film lawas yang sinting (dalam arti sesungguhnya) dari Stanley Kubrick. Plus, saya juga kaget dengan penampilan yang benar-benar berbeda dari Stanley Tucci dan Elizabeth Banks sebagai Caeser Flickerman dan Effie Trinket. Benar-benar total. Saya bahkan hampir tak menyadari bahwa itu adalah mereka. Ada satu lagi yang menjadi poin plus dari The Hunger Games, yaitu dengan permainan tone-nya yang bagi saya membuat kesan lebih dramatis.



Namun, adalagi poin minusnya, yaitu di beberapa adegan menggunakan pergerakan kamera yang shaky, yang sebenarnya membuat saya sedikit pusing. Satu lagi, dengan durasi yang lebih dari 2 jam yang cukup menyenangkan, The Hunger Games malah diakhiri oleh ending yang sedikit mengecewakan. Bukan, ini bukan masalah happy atau sad ending, tapi lebih ke arah Gary Ross yang tampaknya belum bisa mengeksekusi endingnya dengan begitu baik, sehingga terkesan agak hambar bagi saya, atau mungkin saja itu sengaja agar para penonton makin penasaran akan sekuelnya? 

The Hunger Games masih jauh dari kata sempurna memang, dengan kebrutalan yang terlalu remaja dan kurang menggigit serta eksekusi ending yang kurang baik hingga terasa hambar dan kurang dramatis serta di beberapa tempat pergerakan kamera yang cukup shaky yang sedikit membuat saya pusing. Namun, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki termasuk isu plagiarisme, The Hunger Games tetap mampu menyajikan tontonan yang menarik, menghibur, dan tak membosankan untuk ditonton. Can't wait for Catching Fire!


7.5/10

0 comments:

Post a Comment