300x250 AD TOP

Tuesday, January 31, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] American Psycho (2000)

"I killed Paul Allen. And I liked it." ~ Patrick Bateman

Christian Bale merupakan seorang aktor yang memang telah malang melintang di dunia perfilman sejak tahun 1986 dan mulai dikenal publik lewat perannya di Empire of the Sun pada tahun 1987. Selama ini, kita mengenal peran Christian Bale, kita mungkin hanya mengenal perannya sebagai seorang pahlawan heroik, Batman, dalam dua filmnya, Batman Begins dan The Dark Knight. Namun, sebelum memerankan karakter Batman di kedua film ini, ternyata ia pernah memerankan seorang karakter tamak kaya ray yang super psycho di film American Psycho. Dan tahukah anda nama karakter itu? Patrick Bateman. Bateman atau Batman? Wow, kebetulan kah?


Sekilas, Patrick Bateman terlihat sempurna. Wajah rupawan, kaya raya, punya jabatan tinggi, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Satu lagi, ia memiliki selera musik yang baik. Namun, semua orang pasti memiliki sisi hitam dibalik sisi putih. Tak terkecuali bagi Bateman. Dibalik itu semua, ia mempunyai sifat tamak, munafik, obsesif, selalu ingin menjadi sempurna, tak suka jika orang lain melebihi dirinya, dan selalu ingin menang sendiri. Sifat-sifat itulah yang kemudian mendorong Patrick Bateman bisa berubah menjadi karakter psycho dalam sekejap. Ia bisa membunuh seseorang tanpa ampun dengan cara yang tergolong sadis. Namun, dalam sekejap itu pula, ia bisa berubah menjadi karakter 'sempurna' tadi.

 

Tentu saja American Psycho bukan lah tipikal film psycho pada umumnya. Film ini juga tergolong tak terlalu sadis jika dibandingkan dengan film-film psycho lain layaknya Saw series. Tapi, tentu saja itu bukanlah kekurangan bagi film ini. Sebaliknya, American Psycho dapat memberikan 'sesuatu' yang lebih sadis daripada tumpahan darah yang berlebihan. Meski bagi golongan film psycho sejenis, film seperti ini tergolong film yang tak terlalu banyak adegan sadis dan tanpa banyak mengekspos darah, ada sesuatu yang lebih sadis daripada darah disini, akting Bale.


Siapa pun pasti akan mengakui kemampuan akting Christian Bale. Di American Psycho pun, Bale berakting dengan sinting. Sangat sinting malah. Di sini, Bale mengerahkan seluruh kemampuannya. Salah satu performanya yang paling maksimal jika dibandingkan dengan film-film lain yang ia bintangi. Ia berhasil memerankan sebuah karakter 'monster berwajah dua' dengan begitu memukau. Ekspresi dan mimik psycho-nya bener-bener dapet! Sayang, kala itu, tampaknya Oscar tak berpihak padanya. Padahal, dengan akting seperti ini, sangat pantas jika Oscar jatuh ke tangannya.


Ada lagi yang unik dari film ini. Sang sutradara, Mary Harron, ternyata tak lupa untuk menyisipkan porsi komedi satir sebagai pemanis diantara porsi psycho thriller yang mendominasi. Selain itu, tak lupa juga, film ini disampaikan dengan narasi yang cukup unik. Ingat bagaimana narasi Bateman tentang tahapan 'ritual' selama pagi hari? 'Ritual' yang aneh memang.


American Psycho diakhiri dengan ending yang seolah mengajak kita untuk berpikir. Ya, endingnya memang tak digambarkan secara gamblang dan pasti. Masih ada berbagai pertanyaan yang sebenarnya muncul di benak saya saat penghujung cerita. Apalagi ada karakter nenek misterius yang pernah mengucapkan kata-kata aneh. Tak jelas memang. Tapi itulah bagian menariknya.

American Psycho merupakan film yang fun, unik, sekaligus sakit. Bale juga sangat maksimal dalam film ini. American Psycho membuktikan, film dengan psikopat sebagai karakter utama tak perlu terlalu banyak mengekspos adegan sadis dan berliter-liter darah. Egoisme dan narsistik berhasil dipadukan dengan karakter Bale yang notabene merupakan seorang psikopat. Sebuah paket yang lengkap, terutama untuk penyuka psychological thriller. Sekali lagi, film ini sakit!

8.0/10



Saturday, January 28, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] The Descendants (2011)

"Paradise? Paradise can go **** itself." ~ Matt King

Setelah baru-baru ini 'muncul' di film Ideas of March di Oktober 2011, kini George Clooney kembali lagi pada Desember 2011 lewat film The Descendants. Tapi bukan lagi merangkak sebagai sutradara dan penulis sekaligus aktor, melainkan hanya sebagai aktor saja. Sebagai sutradara dan penulis, ada Alexander Payne yang dulu pernah menelurkan film-film seperti Sideways (2004), About Schmidt (2002), dan Election (1999). Pertanyaannya, apakah kali ini mereka berdua berhasil menghasilkan kolaborasi yang apik? I'm sure about it!


The Descendants merupakan sebuah film drama komedi keluarga yang diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Kaui Hart Hemmings. Kali ini, George Clooney berperan sebagai Matt King, seorang pengacara sukses dan sangat sibuk, sekaligus seorang suami dan ayah. Karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia akhirnya melupakan keluarganya. Alhasil, anak-anak perempuannya, Scottie (Amara Miller) dan Alex (Shailene Woodley), yang masing-masing berusia 10 dan 17 tahun menjadi anak yang bisa dibilang cukup bermasalah. Di lain sisi, ternyata istrinya, Elizabeth King (Patricia Hastie) harus mengalami koma akibat  kecelakaan saat menaiki perahu motor. Terpaksa, Matt akhirnya harus mengurus kedua anaknya yang bermasalah ini. Beberapa lama sebelum semua kejadian itu terjadi, Elizabeth sempat bercekcok dengan Alex selama natal. Apa yang mereka pertengkarkan? Yang pasti, itu merupakan sebuah rahasia yang Matt tidak ketahui sama sekali, apa itu?


Selama 115 menit, The Descendants menyajikan porsi drama yang pas tanpa perlu tangisan berlebih-lebihan di tengah latar belakang panorama indah Hawaii yang bagaikan menjadi 'penenang' diantara konflik-konflik drama yang terjadi. Namun perlu diingat, film ini juga merupakan film komedi yang tak akan melupakan porsi komedi sebagai pemanis diantara porsi drama yang menyentuh. 


Jangan lupakan pula George Clooney yang berakting prima sebagai ayah dan suami yang gagal. Juga ada si cantik Shailene Woodley sebagai Alex dan si kecil Amara Miller sebagai Scottie sebagai dua kakak-beradik bermasalah. Alexandra atau Alex merupakan seorang alkoholik, sedangkan Scottie merupakan gadis kecil yang kerap tak bisa menjaga omongannya. Lalu, ada lagi karakter Sid yang diperankan Nick Krause, sebagai teman Alex (atau pacar?) yang gak tahu kenapa tiba-tiba nimbrung aja di keluarga King. Sudahlah, lupakan saja tentang itu. Yang jelas, yang harus tidak kita lupakan adalah semua pemain dapat memerankan perannya dengan prima dan natural. 


Tapi, kesuksesan film ini dalam menghibur penontonnya juga tak terlepas dari penyutradaraan Alexander Payne. Tak salah jika Oscar dan Golden Globe meliriknya sebagai salah satu sutradara terbaik di tahun ini. Dilihat dari segala unsur yang memukau, pastinya The Descendants menjadi sebuah drama komedi keluarga yang epik! Salah satu yang terbaik di tahun 2011!

8.0/10

Tagged under: , , , ,

[Review] Suicide Club (2001)

"They're not the enemy." ~ Toshiharu Kuroda

Siapa yang tak kenal Shion Sono? Sutradara Jepang ini memang terkenal karena kesintingannya dalam menyutradarai film, salah satnya adalah Suicide Club. Tap, tenang, 'sinting' disini bukanlah arti sebenarnya. Sama seperti sutradaranya, Suicide Club juga merupakan satu film asal Jepang yang sinting. Jepang memang dikenal dengan industri perfilmannya yang kreatif dari segi ide cerita. Entah mengapa sineas-sineas film dari negeri sakura ini tak pernah kehabisan akal untuk memuaskan para penontonnya. Tak terkecuali bagi Suicide Club. Plot yang unik dan super duper absurd plus gore gila-gilaan menjadi satu paket lengkap yang dimiliki Suicide Club.


Film dibuka dengan opening scene paling memorable yang pernah saya liat. Sekumpulan pelajar dari berbagai sekolah berkumpul di sebuah stasiun kereta api. Tak ada yang aneh dari mereka, mereka terlihat seperti remaja Jepang biasa. Hm, tapi tunggu dulu, saat kereta api hampir sampai di stasiun tersebut, tiba-tiba ke-54 gadis-gadis tersebut berbaris di depan rel kereta, kemudian saling berpegangan tangan, lalu berhitung dengan nada childish. Saat kereta lewat, saat itu juga kesemua pelajar tersebut tiba-tiba meloncat ke rel, dan....... "Blam!", muncratan darah, kepala pecah, potongan-potongan tubuh dan berbagai adegan sadis lainnya seketika itu juga memenuhi layar. Wow, what a beautiful way to die.

Tapi ternyata peristiwa mengerikan ini bukanlah yang terakhir. Kisah tersebut masih berlanjut. Puluhan bahkan ratusan remaja mengikuti jejak mereka tanpa alasan yang jelas. Apa yang ada dibalik ini semua?


Suicide Club atau Jisatsu S√Ękuru dalam bahasa Jepang, memang merupakan film yang cerdas. Shion Sono selaku sutradara tahu betul bagaimana cara membuat film ini menjadi aneh, absurd, gila, tapi tetap membekas di hati penontonnya. Tapi, dengan satu syarat, putar otak. Jalan cerita yang disajikan Sono memang membuat penontonnya bingung (termasuk saya). Tapi, disitulah sensasinya. Kita seolah diajak untuk bermain puzzle rumit dan harus menyusunnya kembali ke tempat yang benar. Dan itu bukan hanya sekali, hampir disetiap menitnya, Sono menebarkan misteri-misteri yang bagi beberapa orang memang tak masuk diakal. Tapi, jangan disangka kita akan mengetahui seluruh kenyataan di akhir film, justru sebaliknya, ia tetep saja menebar misteri-misteri absurd. Sono ternyata memang benar-benar sinting (kali ini dalam arti sebenarnya), seolah tak mau peduli dengan keadaan penontonnya yang mungkin sedang memutar otak dengan keras. Tapi tenang, jika anda gagal, Sono masih berbaik hati kepada anda, karena ia juga telah memberikan sedikit clue kepada kita lewat Noriko's Dinner Table, sekuel sekaligus prekuel bagi Suicide Club.


Yang pasti, Suicide Club merupakan film yang luar biasa. Atmosfer yang dibangun Sono benar-benar kelam dan misterius. Sejalan dengan itu, plotnya pun tak mungkin bisa kita lupakan. Sinting dan absurd. Tapi, justru itulah daya tarik Suicide Club. Tapi, sekeras apapun anda memutar otak, pada akhirnya, masih banyak beberapa bagian yang masih menjadi misteri.

Entah dari mana pula datangnya ilham mengenai ide cerita super gila ini. Tak ada yang tahu apa yang ada di dalam otak Shion Sono, termasuk saya. Namun, mungkinkah Shion Sono memiliki sel otak abu-abu layaknya Hercule Poirot? Hm, mungkin saja. 

Tagged under: , , , ,

[Review] Noriko's Dinner Table (2005)

"Everyone wants to be the champagne, not the glass. Everyone wants to be the flower, not the vase. But the world needs glasses and vases. These roles need to be filled" ~ Kumiko

Masih ingatkah anda dengan tragedi berdarah di sebuah stasiun kereta api pada tahun 2001? Tapi, tunggu dulu. Ini bukanlah kejadian nyata. Ini merupakan tragedi yang terjadi di sebuah film Jepang, Suicide Club. Setelah dibuat puas sekaligus kebingungan oleh Suicide Club, Shion Sono kembali menghadirkan sekuel dari Suicide Club, Noriko's Dinner Table yang menceritakan awal mula penyebab 'virus' bunuh diri yang sebelumnya pernah diceritakan di Suicide Club, yang membuat Noriko's Dinner Table ini menjadi sebuah prekuel dari Suicide Club. Berbeda dengan Suicide Club yang super sadis, Shion Sono lebih memilih menyajikan Noriko's Dinner Table ini dengan lebih "lembut" dan "sopan" dengan sentuhan drama.


Cerita bermula saat Noriko (Kazue Fukiishi) merasa bosan dengan hidupnya yang datar. Apalagi ia tak dibolehkan untuk kuliah di universutas di Tokyo karena ayahnya takut Noriko hamil. Hidup Noriko memang datar, itu-itu saja, tapi akhirnya dia menemukan dunia yang sebenarnya di dunia maya dimana dia bisa berteman dengan siapa saja di sebuah situs, yaitu www. haikyo.com. Salah seorang teman di haikyo.com, dengan username Ueno Eki 54. Ueno Eki 54, memang terdengar seperti sebuah username biasa. Tapi ternyata, dibalik itu semua tersimpan sebuah misteri yang amat kelam.


Layaknya Suicide Club dan film Shono lainnya, plot cerita film ini memanglah kompleks dan sangat susah dimengerti, terlebih bagi penonton awam. Lalu, dengan penyampaian cerita yang hampir seluruhnya disampaikan dengan narasi, apakah berhasil memcahkan misteri dibalik film sebelumnya? Tergantung. Seperti halnya Suicide Club, alur cerita tidaklah disampaikan secara gamblang dan terang-terangan. Ya, Shion Sono yang dulu telah susah payah menyutradarai Suicide Club tentu saja tak mau teka teki filmnya yang terdahulu itu menjadi hancur begitu saja. Bisa dibilang Noriko's Dinner Table ini hanyalah salah satu dari potongan puzzle yang telah dihamburkan Shion Sono sebelumnya. Jika anda ingin benar-benar mengerti, maka  hanya ada satu syarat yang harus anda lakukan, yaitu memutar otak (lagi). Tapi, bagi anda yang tak mau berpikir keras, selamat ber-google ria!


Dilihat dari segi aktingnya, masing-masing aktor dan aktrisnya mampu menampilkan performa yang memukau sekaligus misterius. Setiap karakternya mampu bermetamorfosis dengan sempurna. Ini juga tak lepas dari campur tangan Shion Sono yang membangun film dengan suasana hitam mencekam. Suasana misteri bahkan tetap bertahan hingga film berakhir.

Menonton film ini bagaikan berada di persimpangan antara logika dan di luar logika. Di satu sisi, Noriko's Dinner Table memang tidak bisa diterima akal sehat. Namun di sisi lain, Noriko's Dinner Table juga bisa diterima logika. Sesuatu yang memang menjadi ciri Shion Sono.


Noriko's Dinner Table saya rekomendasikan untuk yang suka dengan film berplot kompleks dan absurd. Tapi, bagi yang lebih suka menonton film ringan, jangan coba-coba menonton film ini kalau tidak mau merasakan sensasi kepala pecah. Nah, bagi anda yang tertarik ingin menonton dan mengerti film ini, saya sarankan untuk menonton film pertamanya, Suicide Club. Ya, meskipun akhirnya juga sama saja, membingungkan (tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya, di dunia ini ada yang namanya 'google', bukan?).

Friday, January 27, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] 12 Angry Men (1957)

"It's not easy to raise my hand and send a boy off to die without talking about it first." ~ Juri #8

Simple, sederhana, tapi menakjubkan. Kalimat yang pantas untuk 12 Angry Men. Sebuah film klasik tahun 1957 yang tak akan pernah lupa dalam ingatan. Memang tak ada yang lebih menyenangkan daripada menonton film klasik hitam putih seperti 12 Angry Man ini. 12 Angry Men, yang termasuk film low-budget ini memang benar-benar luar biasa, bahkan berhasil menerima 3 nominasi Oscar, termasuk Best Picture. Tanpa kita sadari, film ini juga seakaan menjadi sebuah bukti, bahwa tidak semua film bagus harus diiringi juga dengan budget besar-besaran.


'Menentukan' hidup mati seseorang. Ya, itulah tugas 12 juri sebuah persidangan tentang seorang remaja yang dituduh telah menikam ayahnya hingga tewas. 12 juri ini bertugas untuk merundingkan apakah remaja ini bersalah atau tidak, yang pastinya, seluruh juri ini terdiri atas latar belakang yang berbeda-beda. Oke, waktu voting dimulai. Sebelas juri menyatakan bahwa anak itu bersalah, sampai akhirnya satu suara menyatakan bahwa anak itu tak bersalah. Dia adalah Juri #8 (Henry Fonda). Ya, disaat hampir seluruh juri mengatakan remaja tersebut bersalah beserta berbagai bukti yang makin menguatkannya, Juri #8 malah menyatakan bahwa anak tersebut tak bersalah. Satu kontra sebelas. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Bagaimana nasib anak tersebut?

Memang, film ini hanya bersetting di satu tempat. Kita juga hanya disajikan dialog antar pemainnya selama 96 menit penuh. Tapi, apakah itu membosankan? Tidak. Sidney Lumet, selaku sutradara benar-benar tahu bagaimana mengarahkan film yang sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi membosankan ini menjadi tontonan yang menarik tanpa kehilangan rasa kesederhanaan itu sendiri.  Yang pasti , Sidney Lumet sangat berhasil untuk ini.


Satu lagi bagian yang menarik dari 12 Angry Men, jajaran pemainnya. Seluruh aktornya mampu bermain dengan begitu emosional dan maksimal. Lihat saja Henry Fonda sebagai Juri #8, yang seolah menjadi pahlawan penyelamat diantara keseluruh juri. Lalu si temperamen sekaligus karakter paling menyebalkan, Juri #3 yang diperankan Lee J. Cob. Tak ada yang perlu dikritik dari seluruh akting pemainnya. Sangat memukau.


Tentu saja, bukan hanya jajaran pemainnya yang layak untuk disimak. Masih ada dialog yang sebenarnya sangat memagang peranan penting dalam film klasik ini. Tak ada dialog yang sia-sia disini. Sama sekali. Cerdas, brilian, jenius. Apalagi ditambah para pemerannya yang memaikan setiap karakter dengan begitu meyakinkan dan emosional. Cerita simpel yang dibalut dengan performa para pemainnya yang maksimal dan  dialognya yang brilian. Lengkaplah sudah.


12 Angry Men memang merupakan film dengan cerita yang simpel. Namun melalu tangan dingin Sidney Lumet,  12 Angry Men bukan hanya menjadi sebuah film drama biasa, namun menjadi sebuah masterpiece yang luar biasa. Seperti yang saya bilang tadi, 12 Angry Men memiliki jajaran pemain yang meyakinkan serta dialog yang 'wow'. Satu lagi, yang tak bisa kita lupakan dari film ini, pesan moral. Ya, film ini memang penuh dengan pesan moral yang sangat berarti. Jadi, siapa yang akan bisa melupakan dan melewatkan mahakarya seperti ini? Tentu saja tak ada.

9.0/10

Thursday, January 26, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Dreamgirls (2006)

"You stopped me once, but you'll never stop me again." ~ Effie White

Dreamgirls, merupakan film yang rilis sekitar tahun 2006 yang bersetting sekitar tahun 60an. Film yang berbugdet $ 70 juta ini ini diadaptasi dari sebuah teater musikal yang berjudul sama. Disutradari oleh Bill Condon, yang juga memegang peran sebagai penulis, Dreamgirls menjadi sebuah film yang memukau, meskipun memang masih memiliki berbagai kekurangan.


The Dreamettes, merupakan sebuah grup vokal wanita yang terdiri dari dari Effie White (Jennifer Hudson), sebagai lead-singer, serta Deena Jones (Beyonce Knowles) dan Lorrel Robinson (Anika Noni Rose) sebagai backup-singer. Awalnya, mereka mencoba peruntungan di sebuah kontes menyanyi. Tetapi, ternyata dewi fortuna belum berpihak kepada mereka. Namun, nasib berkata lain. Mereka bertemu dengan Curtis (Jamie Foxx), seorang produser yang menawarkan mereka untuk menyanyi bersama James Early (Eddie Murphy) sebagai backing vocal. Perlahan, mimipi mereka untuk menjadi bintang mulai menjadi kenyataan. Meskipun, memang perjalanan untuk mewujudkan mimpi mereka tidaklah mudah. Sampai akhirnya, Curtis memutuskan untuk mengganti Effie dengan Deena sebagai lead-singer, karena dianggap lebih cantik dan komersial. Di sinilah semuanya bermula.


Departemen akting dari Dreamgirls benar-benar memukau, terutama Jennifer Hudson. Yes, Jennifer Hudson stole the show! Meskipun baru pertama kali bermain dalam sebuah film, sang jebolan American Idol ini berhasil membuktikan bahwa ia memang benar-benar bisa berakting. Tak salah memang,  berkat berakting di Dreamgirls, Jennifer berhasil memenangkan Oscar pertamanya untuk Best Supporting Actress. Penampilan apik juga disajikan Beyonce dan Jamie Foxx. Tentu saja saya tak lupa untuk menyebutkan Eddie Murphy yang juga telah menampilkan performa apiknya.


Dari segi cerita, sebenarnya biasa aja. Tak ada yang benar-benar baru. Ya, tapi tak bisa dipungkiri film ini memang merupakan film yang bagus, 2 penghargaan Oscar pun jatuh ke tangan Dreamgirls. Apalagi, masih ada para pemainnya yang berakting dengan memukau. Bagi beberapa orang, mungkin film ini akan membuat anda sedikit bosan dengan durasinya yang sangat lama untuk ukuran film musikal. Tapi, bagi anda yang memang menyukai film-film musikal seperti, dijamin anda akan terhibur.


Dreamgirls, memang bukan film musikal terbaik yang saya pernah tonton. Tapi, saya jamin anda akan tersihir dengan lagu-lagu dan suara magis para pemainnya. Ya, Dreamgirls juga seakan menjadi ajang unjuk vokal para pemainnya. Jennifer Hudson dengan suaranya yang powerful dan menggelegar. Beyonce dengan melisma-melisma yang menjadi ciri khasnya. Serta Anika Noni Rose, Eddie Murphy, Jamie Foxx, dan Keith Robinson yang juga tak kalah menakjubkan. 

7.0/10

Wednesday, January 25, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] A Separation (2011)

"What is wrong is wrong, no matter who said it or where it's written." ~ Nader 

Sebenarnya, saya tidak terlalu tahu tentang industri film Iran. Mungkin inilah satu-satunya film Iran yang pernah saya tonton. Tapi berkat film inilah saya jadi penasaran dengan industri film Iran dan mengagumi sosok sutradaranya, Asghar Farhadi. 

A Separation mengisahkan tentang sepasang suami istri, Simin (Leila Hatami) dan Nader (Peyman Moadi) yang memutuskan untuk bercerai. Ini semua bermula saat Simin ingin pindah ke luar negeri untuk masa depan Termeh (Sarina Farhadi) putri mereka, sedangkan Nader menolaknya, dengan alasan bahwa ia tidak bisa meninggalkan ayahnya yang sedang mengalami alzheimer. Tapi, ternyata akibat dari semua ini tidaklah sesepele alasannya. Karena, dibaik ini semua, masih ada konflik besar yang 'menunggu' mereka. Semua itu bermula dari kejadian tersebut.


Hingga akhirnya muncullah Razieh (Sareh Bayat), pengasuh yang yang disewa Nader untuk mengurus ayahnya sepeninggal Simin ke rumah ibunya. Di sinilah konflik mulai melebar. Ya, siapa sangka, ternyata Asghar telah menyiapkan suatu konflik yang lebih dan lebih lagi di setiap detiknya, yang membuat setiap penontonnya merasa bimbang. Siapa yang salah? Siapa yang benar? Siapa yang telah berbohong? Dan siapa yang berkata jujur? Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu. Yang pasti, A Separation merupakan sebuah film yang sebenarnya bertema cukup simpel, namun dengan plot yang kompleks. Plus dengan kenyataan yang cukup mengejutkan di akhirnya.


Dari jajaran castnya, semuanya mampu bermain dengan memukau. Peyman Moadi berhasil memerankan seseorang dengan sifat egois dan keras kepala. Begitu pula Sareh Bayat yang memerankan seorang pengasuh yang sangat berpegang teguh pada agama. Ia memerankan perannya dengan sangat meyakinkan sekaligus menyentuh.   


Tak ada karakter antagonis dalam film ini. Tapi, tak ada pula tokoh yang benar-benar protagonis dalam film ini. Semuanya digambarkan oleh Ashgar dengan hitam putih. Semuanya memilik sisi hitam dibalik sisi putihnya. Itu semua tak lepas dari ego yang dipertahankan masing-masing tokoh. Lihat saja Razieh, sosok religius diperlihatkan sangat patuh pada ajaran agama namun punya 'sesuatu' dibalik itu. Kemudian Nazer, si keras kepala dan egois, serta memiliki sifat berpendirian keras namun sebenarnya merupakan tokoh penyanyang. Simin, si wanita yang berkeinginan kuat. Hodjat, suami yang sangat temperamen, yang selalu berjuang demi istrinya. Tak ketinggalan pula Termeh, gadis yang juga ikut terhimpit dalam masalah pelik ini. Disaat simpati kita mulai muncul di salah satu tokohnya, sekejap itu pula simpati itu akan hilang. Begitu seterusnya. Tapi, justru itulah yang menjadi daya tarik film ini.

Sekali lagi, di sinilah kehebatan Asghar. Ia berhasil membuat sebuah film yang penuh dengan emosi tanpa menggunakan balutan scoring sama sekali. Tanpa tangisan mendayu-dayu. Tanpa drama yang terlalu didramatisir. Semuanya berjalan begitu tenang, dan tampak begitu nyata dan realistis. 


Jujur. Sebuah kata yang gampang untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Berangkat dari kata 'jujur' inilah Asghar Farhadi kemudian meraciknya menjadi A Separation. Di sinilah kita bisa melihat arti sebuah kata 'jujur' yang sebenarnya. Persimpangan antara kebohongan dan kejujuran. Antara hitam dan putih. Antara ego dan hati nurani. Semuanya digambarkan dengan sempurna. Ketakutan, kecemasan, kejujuran, kebohongan, agama, moral, hukum, menjadi satu. A Separation, tidak seperti yang saya bayangkan, benar-benar tampil dengan memukau!


9.0/10

Monday, January 23, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] The Help (2011)

"18 people were killed in Jackson that night. 10 white and 8 black. I don't think God has color in mind when He sets a tornado loose" ~ Aibileen Clark

The Help, merupakan film drama yang diangkat dari sebuah novel bestseller yang berjudul sama. Film dengan penghasilan $ 170 juta ini kembali menyinggung tema diskriminasi ras yang berpusat di sebuah kota kecil di Missisipi, Jackson yang ber-setting sekitar tahun 60an. Di saat ibu-ibu kulit putih sedang berarisan ria, para pembatu mereka, yang nota bene merupakan orang kulit hitam, malah menjaga anak-anak mereka. Di saat majikan kulit putih memakai toilet nyaman dan bersih, para pembantu kulit hitam hanya bisa memakai toilet kecil yang berada diluar rumah majikannya, meski diluar sedang ada badai dahsyat sekalipun. Menyakitkan memang.


Tapi kaum kulit putih tidaklah sebengis itu. Masih ada orang-orang yang peduli terhadap nasib para kulit hitam. Adalah Skeeter Phelan (Emma Stone), seorang penulis yang bertekad untuk menulis sebuah buku curahan hati para pembantu di Jackson. Bersama dengan dua orang pembantu sekaligus narasumber yang bisa dibilang sangat berani, Aibileen Clark (Viola Davis) dan Minny Jackson (Octavia Spencer). Tak salah jika Golden Globe menghadiahi penghargaan aktris pendukung terbaik bagi Octavia Spencer. The Help tentu tak hanya menceritakan ketiga tokoh tersebut. Masih ada Celia Foote (Jessica Chastain), majikan baru Minny Jackson yang baik hati namun lugu. Untuk peran antagonis, ada Hilly Hillbrook (Bryce Dallas Howard), majikan yang dulu pernah memecat Minny hanya karena alasan sepele, toilet.


Dilihat dari jajaran pemainnya, The Help mampu tampil dengan mempesona. Viola Davis dan Octavia Spencer dapat mendalami perannya dengan begitu baik. Tak mau ketinggalan, Jessica Chastain yang memerankan seorang majikan yang baik dan lugu (bisa juga dibilang blo'on) tampil dengan meyakinkan. Emma Stone, yang memerankan Skeeter juga berperan tak kalah baiknya. Begitu pula dengan Bryce Dallas Howard yang memerankan tokoh antagonis sebagai majikan yang super nyebelin.


Melihat temanya, diskriminasi ras, mungkin orang-orang akan mengira bahwa film ini merupakan film berat. Sebaliknya film dengan tema seperti ini mampu dikemas dengan lebih ringan dengan naskahnya yang sederhana dan tambahan humor-humor menggelitik. Untuk bagian humor ini, peran Celia Foote-lah yang paling menonjol dengan keluguannya. Tapi, dengan tema diskriminasi, The Help tentu tak akan melupakan takaran drama sarat pesan moral dengan tetap memiliki kesan tanpa menggurui. Drama menyentuh yang dibumbui dengan scene-scene yang mengundang tawa penontonnya. Sebuah perpaduan yang sangat pas.


Tapi, The Help tidaklah serapi itu. Ending-nya malah tampil dengan sedikit mengecewakan, yang seharusnya bisa disajikan oleh Tate Taylor dengan lebih baik. Ya, meskipun ditutup dengan ending yang agak kurang nendang, tak bisa dipungkiri lagi, The Help tetap mampu tampil menawan di jajaran film-film terbaik di tahun 2011. Well done!

8.0/10