Saturday, January 28, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Noriko's Dinner Table (2005)

"Everyone wants to be the champagne, not the glass. Everyone wants to be the flower, not the vase. But the world needs glasses and vases. These roles need to be filled" ~ Kumiko

Masih ingatkah anda dengan tragedi berdarah di sebuah stasiun kereta api pada tahun 2001? Tapi, tunggu dulu. Ini bukanlah kejadian nyata. Ini merupakan tragedi yang terjadi di sebuah film Jepang, Suicide Club. Setelah dibuat puas sekaligus kebingungan oleh Suicide Club, Shion Sono kembali menghadirkan sekuel dari Suicide Club, Noriko's Dinner Table yang menceritakan awal mula penyebab 'virus' bunuh diri yang sebelumnya pernah diceritakan di Suicide Club, yang membuat Noriko's Dinner Table ini menjadi sebuah prekuel dari Suicide Club. Berbeda dengan Suicide Club yang super sadis, Shion Sono lebih memilih menyajikan Noriko's Dinner Table ini dengan lebih "lembut" dan "sopan" dengan sentuhan drama.


Cerita bermula saat Noriko (Kazue Fukiishi) merasa bosan dengan hidupnya yang datar. Apalagi ia tak dibolehkan untuk kuliah di universutas di Tokyo karena ayahnya takut Noriko hamil. Hidup Noriko memang datar, itu-itu saja, tapi akhirnya dia menemukan dunia yang sebenarnya di dunia maya dimana dia bisa berteman dengan siapa saja di sebuah situs, yaitu www. haikyo.com. Salah seorang teman di haikyo.com, dengan username Ueno Eki 54. Ueno Eki 54, memang terdengar seperti sebuah username biasa. Tapi ternyata, dibalik itu semua tersimpan sebuah misteri yang amat kelam.


Layaknya Suicide Club dan film Shono lainnya, plot cerita film ini memanglah kompleks dan sangat susah dimengerti, terlebih bagi penonton awam. Lalu, dengan penyampaian cerita yang hampir seluruhnya disampaikan dengan narasi, apakah berhasil memcahkan misteri dibalik film sebelumnya? Tergantung. Seperti halnya Suicide Club, alur cerita tidaklah disampaikan secara gamblang dan terang-terangan. Ya, Shion Sono yang dulu telah susah payah menyutradarai Suicide Club tentu saja tak mau teka teki filmnya yang terdahulu itu menjadi hancur begitu saja. Bisa dibilang Noriko's Dinner Table ini hanyalah salah satu dari potongan puzzle yang telah dihamburkan Shion Sono sebelumnya. Jika anda ingin benar-benar mengerti, maka  hanya ada satu syarat yang harus anda lakukan, yaitu memutar otak (lagi). Tapi, bagi anda yang tak mau berpikir keras, selamat ber-google ria!


Dilihat dari segi aktingnya, masing-masing aktor dan aktrisnya mampu menampilkan performa yang memukau sekaligus misterius. Setiap karakternya mampu bermetamorfosis dengan sempurna. Ini juga tak lepas dari campur tangan Shion Sono yang membangun film dengan suasana hitam mencekam. Suasana misteri bahkan tetap bertahan hingga film berakhir.

Menonton film ini bagaikan berada di persimpangan antara logika dan di luar logika. Di satu sisi, Noriko's Dinner Table memang tidak bisa diterima akal sehat. Namun di sisi lain, Noriko's Dinner Table juga bisa diterima logika. Sesuatu yang memang menjadi ciri Shion Sono.


Noriko's Dinner Table saya rekomendasikan untuk yang suka dengan film berplot kompleks dan absurd. Tapi, bagi yang lebih suka menonton film ringan, jangan coba-coba menonton film ini kalau tidak mau merasakan sensasi kepala pecah. Nah, bagi anda yang tertarik ingin menonton dan mengerti film ini, saya sarankan untuk menonton film pertamanya, Suicide Club. Ya, meskipun akhirnya juga sama saja, membingungkan (tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya, di dunia ini ada yang namanya 'google', bukan?).

0 comments:

Post a Comment