300x250 AD TOP

Wednesday, October 17, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] How to Train Your Dragon (2010)

"The only problems are the pests. You see, most places have mice or mosquitoes... We have... dragons!" ~ Hiccup

Seperti yang telah kita tahu, Pixar dan DreamWorks memang merupakan dua studio besar yang menguasai pangsa film animasi dunia. Lain dari Pixar yang kerap membuat sebuah film animasi dengan plot orisinil sederhana yang lebih emosional namun tetap humoris, yang menjadikan film-film Pixar menjadi tolak ukur sebuah film animasi berkualitas (bersamaan dengan Studio Ghibli asal Jepang), bukan hanya dalam animasinya, tapi juga cerita dan unsur lainnya. Sedangkan, DreamWorks lebih sering membuat film animasi yang juga tetap didominasi porsi komedi, namun lebih punya nilai jual, alias film yang sangat komersil. 

DreamWorks yang berjaya berkat Shrek, pada tahun 2010 juga sempat menelurkan sebuah film berjudul How to Train Your Dragon. Meski saya sendiri lebih menyukai film produksi Pixar dibanding dengan DreamWorks, tapi rasanya How to Train Your Dragon rasanya cukup sayang untuk ditinggalkan. Meski, jujur saja, saat pertama kali mendengar judulnya saya sudah punya perasaan yang tidak enak. Ya, How to Train Your Dragon yang disutradrai Dean DeBlois dan Chris Sanders ini memang menceritakan bagaimana cara anda bisa melatih naga. Tak ada satupun metafora yang terdapat di judulnya. Terlihat tak ada yang istimewa dari film yang berangkat dari sebuah cerita anak-anak ini. Tapi, apakah kenyataannya memang seperti itu?


Berlatar di sebuah pulau bernama Berk, yang telah menjadi sebuah desa Viking selama tujuh generasi, namun setiap bangunan di sana merupakan bangunan baru. Mengapa? Di desa ini tinggalah Hiccup (Jay Baruchel), seorang pemuda yang tak lain merupakan anak kepala suku desa tersebut, Stoick the Vast (Gerard Butler). Ketika desa lain bermasalah dengan hama seperti tikus, maka lain lagi dengan desa yang satu ini. Masalah utama mereka adalah... naga.  Naga-naga ini selalu merampas ternak-ternak desa Berk dan memporakporandakan desa. Nah, inilah alasannya mengapa bangunan di sana selalu baru. Tentu saja, seperti yang kita tahu, Viking merupakan bangsa yang tangguh, termasuk terhadap naga. Tapi, Hiccup lain, ia tidaklah setangguh Viking lain, meski dalam dirinya, ia selalu ingin membunuh naga, untuk pembuktian diri katanya, kalau tak mau dibilang untuk menarik perhatian Astrid (America Ferrera), gadis Viking yang tangguh dalam menghadapi naga. 

Dari semua naga, yang paling misterius dan ditakuti adalah Night Fury. Suatu hari, tanpa sengaja Hiccup berhasil menemukan seekor Night Fury dan menembaknya hingga jatuh, sayang tak ada satupun yang melihatnya, dan tentu saja tak ada yang percaya dengannya, bahkan termasuk ayahnya. Ketika sedang berjalan-jalan di hutan, kebetulan lagi ia berjumpa lagi dengan Night Fury yang jatuh tak berdaya di tengah hutan. Tentu ini sebuah kesempatan besar untuk membunuhnya, tapi semua manusia tentu punya hati nurani, bukan? Ya, itu pasti, namun yang masih menjadi misteri adalah, untuk apa para naga ini sering menyerang perkampungan warga? Untuk mencari makan dan menghidupi diri? Ataukah hanya naluri alamiah? Bisa saja, tapi apakah itu yang sebenarnya terjadi?


Saya salah besar. How to Train Your Dragon ternyata merupakan sebuah film animasi yang sangat patut diperhitungkan. Meski di awalnya sempat goyah dan terlihat sedikit tak menjanjikan, namun perlahan tapi pasti, How to Train Your Dragon mulai menunjukkan taringnya. Seperti halnya yang terjadi pada salah satu karakternya, film yang satu ini juga berhasil menunjukkan kemampuannya yang awalnya merupakan seorang Viking yang kerap disepelekan dan berkembang menjadi seorang penakluk naga tangguh.

How to Train Your Dragon punya naskah yang kuat. Naskahnya yang ditulis oleh kedua sutradara plus William Davies ini berhasil mengantarkan anda ke sebuah petualangan menakjubkan dan penuh keseruan. Sebuah film tentang persahabatan dan kasih sayang yang dijabarkan lain daripada yang lain, lewat sebuah cerita Bangsa Viking yang terkenal akan ketangguhannya. Jelas, How to Train Your Dragon mempunyai pesan moral bermakna kuat yang juga terselip rapi dalam dialog-dialognya yang kocak.


Dalam pengisi suara, kesemua dubber mampu menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Jay Baruchel tampil memuaskan sebagai pemuda Viking yang berbeda dari yang lain. Gerard Butler juga berhasil sebagai kepala suku berbadan besar yang sangat tangguh, terlebih dalam menghadapi naga. Ada pula America Ferrera, yang mengisi suara Astrid, gadis pemberani yang menjadi love interest Hiccup. Selain nama-nama tersebut, juga ada Kristen Wiig, Jonah Hill, Christopher Mintz-Plasse, Craig Ferguson, hingga T.J. Miller.

Musik merupakan salah satu aspek terpenting dalam How to Train Your Dragon. Scoring hasil karya John Powell dalam film ini memang mampu memberikan kontribusi terhadap intensitas yang terbangun. Tentu saja, sambil menikmati nikmatnya melayang-layang di udara, harus ditemani scoring megah bukan? Dan harus saya katakan, John Powell sangat berhasil dalam hal itu. Terbukti pula, scoring heroik ini berhasil menembus nominasi Academy Awards untuk Best Original Score. 


Mungkin satu-satunya kekurangan film yang satu ini hanyalah animasinya yang di bawah ekspektasi. Tidak mengecewakan, hanya saja di bawah animasi yang kita kenal dari DreamWorks. Di tengah kisahnya yang luar biasa, animasi yang dihasilkan saingan utama Pixar ini malah tampil biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin bagi beberapa orang tak akan menyangka bahwa film ini merupakan produksi studio sebesar dan sepopuler DreamWorks. 

Bagaikan seekor naga, How to Train Your Dragon berhasil membawa anda terbang bermain-main dan beraktraksi di angkasa luas, kemudian mendarat dengan pendaratan sempurna. Tentu aktraksi ini tak akan berjalan sempurna tanpa bantuan dari 'sang pengendara naga', Chris Sanders dan Dean Dublois. Sebuah film animasi yang jauh di atas ekspekstasi. Dapat menyentuh segala aspek, dari aspek komedi, petualangan, keseruan, romansa, drama, bahkan hingga sisi emosional. Tak ada salahnya memang jika menobatkan How to Train Your Dragon sebagai film terbaik yang pernah diproduksi DreamWorks Animation. Obviously.


8.5/10

0 comments:

Post a Comment