300x250 AD TOP

Wednesday, July 31, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , ,

[Review] The Act of Killing (2013)

"Have I sinned? I did this to many people. Is it all coming back to me?" ~ Anwar Congo

Apa yang anda rasakan ketika mendengar kata 'PKI'? Atau 'komunis'? Ngeri, takut? Well, terlepas dari apa yang anda rasakan, yang jelas kedua kata ini telah mengukir banyak goresan sejarah bagi Indonesia. Sampai-sampai, pemerintah pernah membuat sebuah film propaganda melenceng dari sejarah berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI yang bahkan, dulu selalu diputar setiap tanggal 30 September di stasiun televisi Indonesia. Kali ini, tampaknya film tersebut mendapatkan tandingannya. Memang, cakupannya tak sebesar apa yang kita lihat dalam Pengkhianatan G 30 S/PKI, namun yang pasti film ini tetap hadir dengan segala kontroversinya.

Dengan mengambil judul The Act of Killing, film karya sutradara Denmark, Joshua Oppenheimer, ini lebih memilih menyampaikan kisah kelam ini lewat sebuah dokumenter, mengikuti kisah para mantan pembunuh yang turut berpartisipasi dalam penumpasan jejak-jejak komunis di Indonesia. Joshua memperkenalkan penonton pada Anwar Congo, salah satu pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila yang dulunya juga merupakan salah satu dari pasukan pembunuh komunis. Anwar tak sendiri, Joshua juga 'mengupas' kawan Anwar lainnya, seperti Adi Zulkadry, Herman, hingga ketua Pemuda Pancasila sendiri.


The Act of Killing menyusuri masa lalu kelam seorang Anwar Congo, mantan preman pencatut karcis bioskop yang akhirnya menjadi pasukan pembunuh, setelah PKI dibubarkan pada tahun 1965. Tugasnya, tentu saja membantu para tentara dalam memberantas akar-akar komunis. Tak hanya menumpas orang-orang yang 'diyakini' sebagai pengikut komunis, pasukan ini pun kerap membunuh etnis-etnis Tionghoa. Saking brutalnya, kekejaman Anwar Congo dan kawan-kawannya sampai-sampai telah menyebar seantero Kota Medan, Sumatera Utara. 

Tak hanya menyorot kehidupan Anwar Congo sekarang ini, seperti kiprahanya sebagai salah satu orang yang dihormati dalam organisasi Pemuda Pancasila, yang berakar dari posisinya sebagai pasukan pembunuh. Dalam dokumenter ini, Joshua juga membawa kita tabir-tabir hitam Anwar Congo serta Adi Zulkadry mengenai cara brutal mereka menumpas para komunis. Dengan bantuan kawan lainnya, Anwar merekonstruksikan cara 'sinting' mereka dalam membunuh komunis dengan medium-medium yang unik dan berbeda. Tapi, dari semua itu adakah yang lebih mengagetkan? Mereka menceritakannya dengan penuh kebanggaan.


Jika anda membayangkan rekonstruksi adegan-adegan pembunuhan, maka mungkin apa yang anda pikirkan adalah berliter-liter darah dan potongan tubuh manusia yang dibalut dalam kebrutalan serta keganasan. Itu tak salah, namun sebaliknya, film ini tak memilih menampilkannya dengan cara itu. Justru, The Act of Killing memanfaatkan senjata yang lebih pamungkas daripada itu semua, yaitu dengan menyerang langsung ke mental dan pikiran penonton. Bayangkan, dengan penuh kebanggaan, mereka menceritakan dan memperagakan bagaimana cara mereka menumpas komunis. Caranya memang tak benar-benar eksplisit, seperti mengganti sesosok manusia dengan tumpukan karung yang diinjak lehernya dengan ujung kaki meja dengan para preman bersenandung ria di atasnya, namun hal inilah yang malah membuat penonton meringis: membayangkan dengan pikiran sendiri bahwa yang ada disitu adalah manusia yang sebenarnya.

Hanya di The Act of Killing lah, adegan-adegan cheesy nan corny berubah menjadi sesuatu yang lebih artsy. Ya, jika anda adalah seorang yang merasa jijik dengan hal-hal corny dalam film kebanyakan, maka percayalah, rasa ini tak akan anda temukan dalam The Act of Killing. Ini wajar, karena sesuai dengan permintaan Anwar dan kawan-kawannya, film ini merekonstruksikan kekejaman pemberantas komunis lewat potongan-potongan film yang mereka bintangi sendiri, terinspirasi dari film-film yang mereka gemari saat mereka masih menjadi preman bioskop. Dengan menggabungkan dokumenter juga adegan-adegan film dramatis ala filmnoir, western, dan beragam genre lain ini, malah membuat film ini berhasil membuka tabir-tabir itu dengan cara yang jauh lebih menarik, dan bukan hanya menjadikan The Act of Killing menjadi dokumenter yang memiliki esensi surreal saja, namun memberikan kesan powerful yang tak terlupakan bagi penonton.


Yang membuat film ini menjadi sebuah dokumenter tak terlupakan adalah karakter. The Act of Killing diisi oleh karakter-karakter penuh kharisma, karakter yang mungkin bisa dibilang karakter-karakter immoral dan 'sakit', dan yang lebih mencengangkan adalah: mereka nyata dan benar-benar ada. Dengan kharisma mereka, kadang kita dapat dibuat tertawa, meringis tak percaya, hingga membelalakkan mata sebesar-besarnya. Dan dari segalanya, The Act of Killing diisi oleh 2 sosok yang mungkin adalah sosok paling absurd yang pernah ada.

Herman, preman berperawakan buntal, dengan mulut vulgar dan senang bercanda ria,  sekaligus sosok yang brutal. Ironisnya, di sepanjang film, ia sering berpakaian wanita dengan dandanan ala ladyboy Thailand. Tapi, bagaimana film ini menampilkan sosok seperti Herman yang menyalonkan diri ke legislatif, rasanya seperti tamparan satir yang cukup keras (thank God, he didn't make it). Tapi, spotlight ada di tangan seorang Anwar Congo. Bayangkan, seorang family-oriented man, yang bahkan memarahi cucunya sendiri karena menyakiti seekor itik, sampai-sampai menyuruh cucunya untuk meminta maaf pada si ternak, namun di sisi lain, ia adalah sosok brutal, tak bermoral, dan bahkan sanggup meregangkan ribuan nyawa lewat tangannya sendiri. Sosok seperti ini membuatnya menjadi bak seorang Vito Corleone, yang menariknya, ada dalam dunia nyata. Undoubtedly 2 absurd (and interesting) characters!


Entah apa yang mereka katakan memang benar-benar terjadi atau tidak, namun The Act of Killing berhasil menjadi sebuah cara baru bagaimana seharusnya dokumenter hebat itu dibuat. Medium rekonstruksinya sangat unik dan berbeda. Tak ada darah, scene-scene gory, namun lebih mengedepankan mental penonton yang terganggu lewat cara-cara anehnya. Film ini juga menyelipkan unsur-unsur surreal dari filmnoir, western, fantasi, dan lainnya, berhasil menjadikan The Act of Killing menjadi sebuah dokumenter yang imaginatif, tidak biasa, dan out-of-the-box.

The Act of Killing bukan hanya sebuah tontonan penuh jaw-dropping moments yang membelalakkan mata, provokatif, dan kontroversial, juga pretty difficult to watch. Di sisi lain, Joshua Oppenheimer berhasil pula menjadikan The Act of Killing menjadi sebuah dokumenter yang begitu powerful, menghasilkan banyak emotionally disturbing moments yang tak pernah dapat dilupakanSuatu presentasi menakjubkan dan extremely well-crafted yang berisi ribuan tanda tanya besar tentang rasa humanis manusia yang mampu membuat anda selalu meringis sepanjang menit, tak ketinggalan pula dengan sentilan-sentilan satir mengenai negeri sendiri yang membuat anda mengelus dada sepanjang film. A great movie, that probably, you never want to watch it again.


Friday, July 12, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Croods (2013)

"I... have... an... idea!" ~ Grug

Selama ini, ada 4 studio besar yang menguasai industri film animasi dunia. Yang pertama, tentu dari Hollywood, Pixar, yang dikenal berkat animasinya yang bertema out-of-the-box, heartfelt, penuh pesan, dan heart-warming, tak ketinggalan kualitas CGI yang fantastis. Yang kedua, ada Disney, rekan Pixar, yang baru-baru ini sukses bangkit lewat Wreck-It Ralph. Yang ketiga, kita meluncur ke Negeri Sakura, di mana ada Studio Ghibli, yang dikenal pula karena produksi-produksi film animasi hand-drawn 2D-nya yang bukan hanya emosional dan penuh moral, namun juga menawarkan kadar fantasi yang (sangat) jauh di atas rata-rata. Terakhir? Lagi-lagi datang dari Hollywood, tentu saja, si rival abadi Pixar, DreamWorks Animation!

Berbeda dengan Pixar yang biasanya lebih heartfelt, maka pada umumnya, kualitas film dari DreamWorks Animation lebih mengedepankan humor, meski tetap tak menghilangkan unsur emosional di dalamnya. Dari tahun ke tahun, film produksi kedua studio ini kerap bersaing ketat. A Bug's Life vs. Antz, Monsters, Inc. vs. Shrek, hingga Toy Story 3 vs. How to Train Your Dragon. Tahun ini pun, DreamWorks yang hadir lewat The Croods kembali bersaing dengan film rilisan Pixar, Monsters University. Namun, tentunya kali ini saya tak akan me-review Monsters University untuk kedua kalinya, melainkan beralih pada film yang baru-baru ini dirilis DreamWorks Animation dan disutradarai oleh Chris Sanders dan Kirk De Micco, The Croods.


The Croods adalah nama sebuah keluarga manusia purbakala, yang terdiri dari si ayah, Grug Crood (Nicolas Cage), beserta istrinya Ugga (Catherine Keener), dan anak-anaknya Eep (Emma Stone), Thunk (Clark Duke), juga si kecil Sandy (Randy Thom), tak ketinggalan ibu Ugga, Gran (Cloris Leachman). Grus sendiri adalah seorang ayah yang oveprotective, ia selalu mengajarkan bahwa hal-hal baru itu buruk dan akan berakibat fatal dan segala macam remeh-temeh lain yang ia sebut sebagai 'peraturan', yang intinya bermakna, gua adalah segalanya. Namun, sebenarnya itu semua untuk kebaikan keluarganya, dan keluarganya juga bertahan hingga sekarang berkat usaha dirinya untuk menutup keluarganya dari dunia luar dan selalu mengikuti aturan yang ada.

Namun, ada kalanya ketika aturan-aturan tersebut tidak berlaku lagi. Di kekang oleh tumpukan aturan, Eep yang merupakan seorang adventurou, rebellious, dan punya ribuan rasa ingin tahu, menemukan seberkas cahaya dari luar gua, dan memberanikan diri untuk keluar gua di malam hari. Cahaya itu mempertemukan dirinya dengan seorang caveman lain, Guy (Ryan Reynolds). Berbeda dengan Eep dan keluarganya yang primitif, Guy adalah sosok yang cerdas dan selalu memiliki ide-ide cemerlang di otaknya. Guy jugalah yang memberitahu Eep bahwa ia akan mengelana jauh, karena dunia akan mencapai titik akhirnya. Dan sampai di sini, keluarga Crood tampaknya harus segera melepaskan atribut 'aturan' yang selama ini mengekang mereka.


Mengenai naskah yang juga merupakan hasil kerja duo Sanders-De Micco, sebenarnya tak ada yang benar-benar baru di dalamnya. Dari cerita yang dihadirkan, terasa sangat familiar. Pernah menonton The Flintstones, kan? Bagaimana dengan Ice Age? Kalau sudah pernah menonton keduanya, maka saya jamin, anda akan merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa kisah dalam The Croods bagaikan sebuah déjà vu. Bagaimana tidak? Dengan karakter-karakter manusia purbakala ala Fred dan Wilma, namun dengan latar yang kurang lebih mengingatkan kita pada Ice Age, minus tumpukan salju itu, tentunya. Karakter-karakter yang dihadirkan pun, lahir dengan pengkarakteran yang konvensional dan tak segar lagi.

Namun, apakah dengan begitu, naskah ini menjadi sebuah naskah gagal? Sama sekali tidak! Di balik kekurangannya, The Croods berhasil bertahan lewat kelebihan-kelebihannya yang begitu memikat. Salah satunya? Mari berteriak bersama-sama: humor! Ya, dari menit pertama hingga kreditnya muncul, yang penonton lakukan adalah tertawa, tertawa, dan tertawa, terbahak-bahak kalau perlu. Naskahnya saya akui memang cerdas dalam menghadirkan runtutan dialog witty dan humor slapstick yang bertubi-tubi, dan hebatnya, hampir seluruhnya mampu mengantarkan penonton dalam lautan penuh gelak tawa. Di sisi lain, The Croods juga menghadirkan beberapa momen emosional, meski dengan porsi yang jungkir-balik jika dibandingkan dengan humornya. Meski sedikit, momen-momen ini saya akui tetap berhasil dalam menyelesaikan misinya.


Salah satu kelebihan lain The Croods adalah bagaimana duo sutradara Sanders-De Micco mengemasnya dengan pacing yang tergolong cepat, sehingga membuat The Croods menjadi tontonan yang sama sekali tak lelah untuk terus disaksikan. Film ini memang punya segalanya untuk sebuah animasi fast-paced, bahkan termasuk adegan-adegan action yang dikemas dengan sangat baik, hasilnya adalah scene-scene yang thrilling, entertaining, dan... lucu. Siapa sih, yang tak terhibur dengan scene 'breakfast time' itu? The Croods juga cukup cerdas dengan menempatkan scene tersebut di paruh awal, sehingga sedari awal, sebenarnya penonton telah 'dirantai' di kursinya masing-masing, sehingga takkan ada yang bisa kabur sepanjang durasinya. Lagi pula, untuk apa kabur? Karena saya pun tak menemukan alasan untuk kabur dari tontonan mengasyikkan ini.

Voice-cast untuk The Croods sendiri diisi oleh para mega bintang Hollywood, seperti Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, serta Catherine Keener. Di lini depan, ada Nicolas Cage, yang dapat mengelus dada juga, karena setelah sekian lama, ia akhirnya mendapat peran yang tepat untuknya, meski yah.. di film animasi, dan itu berarti, dalam memilih peran di film live-action, mungkin masih bisa dipertanyakan. Anyway, Cage sanggup menginterpretasikan sosok ayah yang overprotective dan terlalu terpaku pada aturan dengan sangat baik. Sementara itu, ada karakter Eep yang memukau berkat keberhasilan Emma Stone dalam menyuarakan seorang wanita pemberontak yang berperilaku super tomboy dan pemberani, meski sebenarnya ia memiliki hati yang sangat perempuan.


Ryan Reynolds, di sisi lain, mampu memerankan seorang inovator, sumber segala ide yang 'memiliki otak', serta membentuk chemistry lucu dan manis bersama Emma Stone, yang mampu dikuasainya dengan begitu meyakinkan, meski hanya lewat suara. Last but not least, karakter Gran yang disuarakan oleh aktris pemenang Oscar, Cloris Leachman, mampu mencuri perhatian setiap kali ia muncul di frame. Dengan karakternya yang merupakan seorang nenek, ia mampu hadir dengan perangai yang konyol, lincah, namun kuat. Meski kehadirannya di sini hanya bagaikan sebuah 'alat' The Croods untuk melontarkan humor-humornya, lagi dengan porsi yang dirasa terlalu sedikit, namun karakter ini sangat berhasil menjadi sebuah 'alat' yang begitu efektif dan memikat.

Layaknya produksi DreamWorks Animation lain, The Croods tampil dengan kualitas CGI yang mempesona. Tak hanya itu, dunia versi The Croods juga dihadirkan dengan begitu cantik, memikat, dan penuh warna. Binatang-binatang purbakalanya dibuat seimaginatif dan semenarik mungkin. Dari kura-kura terbang bersayap burung nuri, gajah yang serupa dengan pohon, kawanan burung cantik nan mematikan, kodok berlidah bunga, hingga harimau raksasa dengan belang pelangi. Tak hanya itu, tumbuhan-tumbuhan juga muncul dengan warna yang sangat memikat, dan dengan bentuk yang beragam pula.


Overall, The Croods adalah tontonan yang sama sekali bukanlah hal baru. Plotnya sangatlah familiar, lebih tampak seperti peleburan antara The Flintstones dengan Ice Age. Yah, karakternya memang konvensional pula, namun satu-persatunya mampu memikat lewat lontaran-lontaran dialog yang super witty. Selain itu, The Croods mampu tampil memikat lewat pacing yang cepat serta humor slapstick yang sukses mengundang berton-ton gelak tawa, tak ketinggalan dengan sedikit sentuhan-sentuhan emosional di paruh akhirnya. Voice cast-nya pun, mampu tampil dengan memukau, terutama Nicolas Cage yang akhirnya dapat menemukan film tepat baginya.

Saran saya, lupakan hal-hal cliche dalam The Croods, nikmati saja, karena sekali anda menikmatinya, maka anda tak akan pernah lepas dari rantaian penuh keseruan yang telah dibuat oleh duo Chris Sanders dan Kirk De Micco. Dan ketika anda telah terjebak dalam kandang dengan keseruan tak terkira, seketika itu juga, The Croods mampu menyihir anda dan segera berkata, 'whoaaa, this is a very, very fun rollercoaster!' Sebuah film animasi yang benar-benar menghibur dan super lucu, sanggup menahan anda untuk terus duduk dengan tenang selagi filmnya masih berputar, walau sebenarnya tak ada hal yang benar-benar baru di dalamnya. Manis dan bikin ketagihan!

Wednesday, July 10, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] Trance (2013)

"No piece of art is worth a human life." ~ Simon

Menilik sepak terjang seorang Danny Boyle, rasanya tak ada yang perlu dikhawatirkan ketika  kita mendengar ia akan menelurkan setiap film baru. The Beach hanyalah setitik nilai merah dalam rapornya, selebihnya? Slumdog Millionaire mengangkat namanya di podium Oscar, namun Trainspotting yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu filmmaker terdepan di generasinya. Di sisi lain, ia mampu membuktikan dirinya dengan membuat salah satu film zombie terbaik dan tercerdas yang pernah ada, 28 Days Later, sementara lewat Sunshine, ia menaikkan taraf film sci-fi ke level yang lebih tinggi, yah, meskipun saya akui, third-act-nya memang... aneh.

Di produksi teranyarnya ini, ia mencicipi genre misteri kriminal dengan sentuhan neo-noir di sana-sini, lengkap dengan judul yang cukup asing, Trance, yang artinya sendiri adalah keadaan setengah sadar, antara tidur dan bangun. Mengingatkan dengan Inception memang, namun jelas ini berbeda. Salah satu perbedaan paling mencoloknya tentu saja terletak pada genre Trance yang mengambil sebuah genre heist movie. Namun, jangan samakan lagi film ini dengan Fast Six. Jauh berbeda dengan Fast and Furious 6 yang mengandalkan banyak aksi tanpa otak nan seru, Trance adalah heist movie yang lebih berotak, dan lebih twisty.


Trance diawali oelh narasi dari Simon (James McAvoy), seorang juru lelang lukisan yang mendemonstrasikan pekerjaannya, termasuk apa yang harus ia lakukan dan tak boleh ia lakukan dalam situasi darurat. Tentu saja, maksudnya adalah pencurian lukisan. Suatu hari, situasi darurat tersebut terjadi di tengah-tengah pelelangan. Tentu, Simon dengan tegap dan tanpa rasa takut, melakukan apa yang harus ia lakukan, menyelamatkan lukisan dari tangan-tangan jahat. Namun, situasi menjadi di luar kendali ketika salah satu pencuri tersebut, Franck (Vincent Cassel), berhasil merebut lukisan dari tangan Simon. Simon akhirnya melanggar peraturannya sendiri, yaitu dengan berlagak sok pahlawan, yang akhirnya menyebabkan dirinya roboh dihajar pencuri tersebut.

Namun, masalah melebar ketika apa yang pencuri tersebut dapatkan hanyalah bingkai kosong, dan lukisan tersebut akhirnya hilang tanpa jejak. Franck dan kawan-kawannya pun memutuskan untuk menyandera dan menyiksa Simon untuk mengatakan di mana lukisan itu sebenarnya. Namun, Simon sama sekali tak ingat akan keberadaan mereka. Akhirnya, Franck menyewa seorang hipnoterapis, Elizabeth Lamb (Rosario Dawson), untuk membantu Simon mendapatkan ingatannya kembali.


Apa yang terjadi dalam naskah Trance yang ditulis oleh duo Joe Ahearne serta John Hodge, dimulai dengan premis yang amat menarik bagi saya. Kita disuguhkan pencurian lukisan yang gagal yang berujung pada hilangnya lukisan tersebut, tanpa jejak sama sekali, yang akhirnya mempertemukan mereka dengan seorang hipnoterapis. Dari pondasi menarik itu, Trance dapat membangun sebuah jalinan dinding yang terbilang kokoh. Perlahan, Trance berjalan dengan keyakinan yang terus bertambah. Karena Trance menyangkut hipnosis, tentu naskah Trance harus menyajikan porsi-porsi scene hipnosis yang meyakinkan. Untungnya, kedua penulis naskah, mampu menyajikannya dengan baik, termasuk bagaimana perubahan sudut pandang ketika memasuki beberapa scene-scene tersebut. Tak hanya itu, bagaimana naskahnya menggambarkan setiap karakter tanpa ada batasan yang jelas antara baik-buruk merupakan kelebihan tersendiri. Protagonisnya tidak digambarkan sebaik itu, begitu pula sebaliknya. Bahkan, ada kalanya ketika kita sudah tak dapat membedakan yang mana protagonis maupun antagonis.

Selagi bermain-main dengan amnesia dan hipnosis yang makin menjanjikan seiring penonton yang mulai pula untuk menikmatinya, naskah ini mulai membuka tabir-tabir rahasianya yang mengejutkan. Ini memaksa penonton untuk memperhatikan segala detail di dalamnya, karena sekecil apapun yang naskah hasil kolaborasi ini berikan, adalah sebuah petunjuk vital untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Hasilnya, Trance menjadi sebuah sajian cerdas yang penuh akan kejutan yang berlipat-lipat. Sayangnya, ketika Trance mencapai konklusinya, apa yang ternyata penonton dapatkan hanyalah hasil yang tak dapat diselami lebih mendalam lagi, memberi kesan effort yang diberikan lebih besar dari apa yang nanti didapatkan. Beruntung sekali, hal ini masih dapat diimbangi, bahkan tertutupi dengan baik lewat lapisan demi lapisan kejutan di akhirnya.


Meski begitu, Trance harus berterima kasih pada sang sutradara, Danny Boyle yang berjasa besar dalam mengemas Trance menjadi sebuah tontonan yang penuh misteri namun tetap menghibur, bahkan berhasil membuat saya sejenak melupakan konkulusi dalam film ini. Sama seperti yang ada dalam Slumdog Millionaire, Danny Boyle masih setia dalam memakai narasi non-linier alias multi-layered. Lewat flashback-flashback serta detail-detail yang Danny Boyle berikan dengan sangat rapi, ia berhasil menyisipkan berbagai petunjuk tersembunyi. Petunjuk ini tak hanya ia sisipkan sekali dua kali saja, namun bisa saja di setiap scene, yang bahkan anda tak sadari sedikit pun. Dengan gaya non-linier pulalah, Boyle dengan lihai menghambur potongan puzzle, dan membiarkan penonton menyusunnya sendiri sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi pada akhirnya. Meski tampak seperti film puzzling nan membosankan, Boyle dapat membuat Trance menjadi sebuah perjalanan yang mengasyikkan dengan terapan pacing dan editing-nya yang cepat.

Bagaimana Boyle mengemas Trance adalah suatu hal yang sangat patut untuk diapresiasi. Ia menggabungkan berbagai gaya ke dalam film ini. Semenjak awal, kita tahu bahwa Boyle telah menginjeksikan unsur-unsur neo-noir ke dalamnya. Belum cukup, ia kemudian mengawinkan unsur neo-noir yang amat kental ini dengan komponen ala B-movie yang terkesan murahan. Namun, hasil kolaborasi ini malah berkata sebaliknya, Trance menjadi sebuah film yang penuh akan darah seni, sebuah heist movie yang berbeda dengan yang lain, presentasi stylish dan artsy.


Sepanjang durasinya, yaitu sekitar 100 menit, Trance dihiasi oleh wara-wirinya 3 aktor yang terlebih dahulu memiliki 'nama', James McAvoy, Rosario Dawson, serta Vincent Cassel. Sepanjang 100 menit ini pula, Boyle mampu memberikan mereka porsi yang hampir sama rata, dan itu saya akui cukup sulit dilakukan.  James McAvoy yang membuka film ini dengan sebuah narasi meyakinkan, sanggup mengisi durasi sisanya dengan akting yang meyakinkan pula. Vincent Cassel, seperti biasa, bad ass! Di sisi lain, sang hipnoterapis, Elizabeth, yang diperankan Rosario Dawson lah yang mampu mencuri perhatian. Bukan hanya karena 'keberaniannya', namun bagaimana ia mengangkat karakternya menjadi suatu karakter yang kompleks, subtle, namun tetap dengan pembawaannya yang elegan dan mempesona.

Sebuah crime mistery dengan balutan neo-noir dan tetap dengan sentuhan kental ala Danny Boyle, Trance berhasil menjadi sebuah presentasi yang cerdas. Mengandalkan medium berbeda dalam mengantarkan bentuk heist ke dalam pikiran penonton dan beragam kejutan sebagai amunisinya, Boyle menghadirkan sebuah heist movie yang unik jika dibandingkan film heist yang lainnya. Ya, hasilnya memang seperti anak hasil perkawinan antara Inception serta Eternal Sunshine of the Spotless Mine, dengan sedikit sekali kromosom Memento, namun bukan berarti Trance tak memiliki keunggulannya sendiri. Dengan gaya Boyle yang banyak menggunakan flashback, narasi nonlinier yang multi-layered, visual penuh warna, dan penampilan apik dari ketiga cast utamanya, ditambah dengan balutan khas B-movie yang terkesan murahan namun dapat dirubah menjadi begitu stylish, sudah mampu membuktikan bahwa Trance merupakan film yang beautifully-crafted. Terlepas dari kekurangannya seperti konklusinya yang tak sehati dengan ekspektasi, Trance sudah memiliki kadar yang lebih dari cukup untuk membuat saya berdecak kagum.


Tuesday, July 9, 2013

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] Monsters University (2013)

"Yes, you can. Stop being a Sullivan and start being you!" ~ Mike Wazowski

Pixar, rasanya setiap menyebut nama ini, semua orang bak mendewakannya. Ini tidak salah, karya-karya anak perusahaan Disney yang satu ini memang melegenda. Trilogi Toy Story, A Bug's Life, Finding Nemo, The Incredibles, Monsters, Inc., Ratatouille, Up, hingga WALL-E. Meski ada beberapa di antaranya yang dianggap biasa-biasa untuk ukuran Pixar, seperti Cars dan sekuelnya. Sepanjang karirnya, Pixar telah mengantarkan 7 filmnya ke atas podium Oscar untuk Best Animated Feature, termasuk bagi Brave, yang kemenangannya tahun lalu cukup banyak disayangkan oleh orang-orang (termasuk saya). Apalagi alasannya kalau bukan Wreck-It Ralph yang rasanya jauh lebih superior dibandingkan dengan Brave.

Tahun ini, selepas Brave, Pixar kembali memproduksi sebuah film animasi. Ceritanya sendiri bukanlah original story, melainkan diambil dari salah satu karay terbaik Pixar, Monsters, Inc. Mengambil judul Monsters University, film yang satu ini berpusat pada awal mula persahabatan James P. Sullivan dengan Mike Wazowski. Sebagai pengisi suara, masih diisi aktor yang sama, yaitu John Goodman dan Billy Crystal. Begitu pula dengan Randall yang masih diisi oleh Steve Buscemi. Sayangnya, berhubung ini adalah prekuel, jadi anda tak akan menemukan si imut Boo di sini. Dan, sama seperti film Pixar yang terdahulu, sebelum pemutaran film utamanya, diputar sebuah film pendek karya Pixar pula, yang berjudul The Blue Umbrella.


Kisah dimulai oleh Mike Wazowski yang masih berumur 6 tahun (Noah Johnston) yang mengikuti study tour ke Monsters, Inc., seperti yang kita tahu, sebuah perusahaan yang mengumpulkan sumber energi kota Monstropolis lewat jalan menakut-nakuti anak manusia. Di sana, Wazowski bertemu dengan Frank McCay (John Krasinski), seorang 'scarer'  alumni Monsters University yang sedang akan menjalankan tugasnya. Tanpa ia sadari, Wazowski mengikutinya dan melihat Frank menakuti seorang anak kecil. Hal ini, yang nantinya terus memotivasi Mike Wazowski untuk masuk ke Monsters University, dan akhirnya menjadi seorang 'scarer' sejati.

Tiga belas tahun kemudian, Mike (Billy Crystal) yang ambisius dan cerdas berhasil meraih impiannya untuk masuk Monsters University dan akhirnya, tinggal selangkah lagi untuk menjadi seorang 'scarer', namun rupanya hal itu tidaklah semudah yang ia bayangkan. Terlebih, dengan munculnya seorang mahasiswa baru bernama James P. 'Sulley' Sullivan (John Goodman) yang memang memiliki bakat alami untuk menakuti orang lain. Memakai nama keluarga Sullivan yang legendaris, Sulley menjadi sosok yang arogan dan sombong. Ini memunculkan sebuah persaingan ketat antara Mike dengan Sulley, kecerdasan vs. bakat alami.


Naskah Monsters University ini ditulis keroyokan oleh 3 nama sekaligus, yaitu Daniel Gerson, Robert L. Baird, dan sang sutradara sendiri, Dan Scanlon. Kisahnya cukup familiar bagi kita, namun penuh dengan canda tawa, dialog-dialog witty, serta beberapa benang merah yang mengobati kerinduan penonton terhadap Monsters, Inc, yang membuat skrip film ini sangat mudah untuk dinikmati dari segala kalangan. Seperti film Pixar lain, Monsters University juga menawarkan berbaga pesan moral yang disampaikan tanpa harus menggurui penonton. Seperti yang saya katakan tadi, kisahnya familiar, namun, apakah itu menghalangi Pixar untuk membuat kisah familiar ini nantinya menjadi sebuah hal yang kreatif dan out-of-the-box? Hm...

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mungkin ada baiknya kalau kita membawah pengarahan dari sang sutradara, Dan Scanlon. Dalam langkahnya untuk menerjemahkan naskah yang ia buat sendiri bersama dua lainnya, Scanlon saya akui berhasil membawa Monsters University menjadi tontonan yang membuat siapa saja ingin menontonnya, lagi dan lagi. Dengan pacing yang tepat, ia mampu mengendalikan emosi penonton dengan sangat baik. Menjadikan prekuel sekaligus sekuel Monsters, Inc. ini bukan hanya penuh humor di sana-sini, namun juga penuh hati yang cukup untuk menegakkan kembali kepala Pixar yang mulai tertunduk lesu, yah... walaupun tak terlalu banyak memang.


Dalam first act-nya, Monsters University berjalan cukup mulus, namun bagian itu terlewat tanpa kesan yang terlalu 'wah' khas Pixar. Tidak ada opening menyentuh hati seperti Up misalkan, hal yang paling menonjol  dalam babak pertama ini bagi saya adalah ketika Mike Wazowski kecil yang menyelinap ke dalam pintu. Selebihnya, tak ada yang terlalu istimewa. Namun apakah ini merupakan paruh awal yang buruk? Sama sekali tidak. Act pertama Monsters University ini masih dihibur oleh lelucon-lelucon yang berhasil mengocok perut saya, plus ada pula lelucon 'peninggalan' Monsters, Inc. yang membuat saya senyum-senyum sendiri. Selain itu, ada pula sebuah kejutan kecil tentang teman sekamar Mike, yang jujur saja, saya (agak) terkejut. Singkatnya, paruh awal yang menarik dan lucu, namun tak terlalu memorable.

Memasuki tahap kedua, Dan Scanlon mulai menaikkan intensitas film, ditandai dengan masuknya duo Wazowski-Sullivan dengan kelompok persaudaraan Oozam Kappa yang berisi para nerds aneh plus perjanjian mereka dengan Dean Hardscrabble. Setiap cara yang kelompok ini lakukan dalam melewati setiap babak dalam Scare Games pastinya selalu mengundang tawa pengocok perut lewat aksi konyol mereka, namun di sisi lain, ini adalah proses kedewasaan from zero to hero. Mungkin terdengar cliche dan sebenarnya pun, babak ini tak menawarkan sesuatu hal yang baru, namun dengan kesederhanaan serta kekonyolannya itu lah, babak kedua ini menjelma menjadi babak yang super seru dan menegangkan, yang akhirnya, second act yang satu ini ditutup oleh teriakan riuh para mahasiswa Monsters University, dan... penonton bioskop. Namun, rupanya Pixar hanya menjadikan act kedua ini sebagai jembatan, yang di ujungnya, terdapat sebuah kejutan yang menanti anda. Kejutan yang benar-benar khas Pixar!


Ketika saya tak terlalu terkesan dengan first act-nya, dan ketika saya sangat menikmati dan sangat terhibur oleh second act film ini, hal paling jauh lebih memorable justru ada dalam bagaimana Dan Scanlon mengemas paruh akhirnya. Seperti yang ada pada film-film mahakaryanya, Pixar memang kerap mengakhiri kisah-kisah mereka dengan cara yang tak biasa, termasuk dalam Monsters University. Di sini, Pixar tidak secara gamblang mengakhiri kisahnya dengan cara memaksakan jalan cerita yang telah ia bangun. Yang jelas, Pixar kembali mengeluarkan amunisinya yang imaginatif dan di luar pakem. Di third-act-nya, Monsters University mengalami peningkatan yang sangat drastis, terlebih jika kita bandingkan dengan act pertamanya. Hasilnya? Monsters University menutup kisah manis persahabatan ini dengan sebuah perpisahan yang diluar pemikiran siapapun, out-of-the-box, inovatif, kreatif, dan tentunya tak meninggalkan hal yang sangatlah Pixar, emosional.

Soal, voice acting, kedua lead-nya, Billy Crystal dan John Goodman, plus Steve Buscemi, tentunya telah teruji dalam Monsters, Inc. Billy Crystal serta John Goodman mampu mempertahankan chemistry kokoh  dengan humor-humor dan dialog-dialog segar nan tajam, yang pernah mereka bangun dalam Monsters, Inc. Tapi, dari kesemua voice actor dalam film ini, yang melakukan pekerjaan terbaik bagi saya adalah Helen Mirren. Ia bukan lagi seorang ratu kerajaan Inggris, melainkan dapat bertransformasi menjadi seorang kepala  Monsters University yang skeptikal dengan penuh atmosfer dingin, 'angker', 'horor', serta intimidatif. Lagi, lagi, dan lagi, you did it, Dame Helen Mirren!


Visual? Sebenarnya kalau soal ini, tak ada yang perlu dibahas, toh semua juga sudah tahu bagaimana visual hasil kerja tim Pixar. Pastinya, jika dibandingkan pendahulunya, Monsters, Inc., Monsters University punya segalanya. Apalagi, di dalam film ini, kita disajikan beragam karakter penuh warna dalam berbagai macam bentuk yang aneh dan unik. Monster bermata satu hingga puluhan, berkaki berapapun yang anda mau, berkepala hingga lebih banyak dari jumlah jari? Ya, Pixar memang selalu terdepan soal visualnya yang memanjakan mata itu.

Jujur, saya terkejut, dengan fakta bahwa saya sangat menyukai film ini. Secara keseluruhan, Monsters University bukan mahakarya terbaik dari Pixar, namun prekuel yang satu ini sangat ampuh mengobati rasa rindu penggemar berat Pixar yang rindu akan sentuhan lama Pixar dengan third act-nya. Tak hanya membuat penonton senyum-senyum sendiri dengan akhir kisah ini (bukan karena kelucuannya, tapi karena Pixar telah kembali!), namun juga mampu membuat penonton jatuh emosional, tanpa tenggelam dalam kesentimentalisan berlebihan tak berarti. Di sisi lain, Monsters University juga menawarkan lelucon-lelucon jenaka yang sukses membuat saya benar-benar terhibur. Dengan voice acting yang superb dan visual yang top-notch, Monsters University adalah sebuah prekuel yang penuh tawa, decak kagum, hiburan, moral, dan kenangan. It could've been better, namun Monsters University mulai membuka gerbang menuju Pixar yang kita impi-impikan. Memang bukan yang terbaik dari Pixar, namun kalau berbicara film animasi terbaik tahun ini? Rasanya, Monsters University dapat berjalan dengan cukup mulus.