300x250 AD TOP

Friday, July 12, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Croods (2013)

"I... have... an... idea!" ~ Grug

Selama ini, ada 4 studio besar yang menguasai industri film animasi dunia. Yang pertama, tentu dari Hollywood, Pixar, yang dikenal berkat animasinya yang bertema out-of-the-box, heartfelt, penuh pesan, dan heart-warming, tak ketinggalan kualitas CGI yang fantastis. Yang kedua, ada Disney, rekan Pixar, yang baru-baru ini sukses bangkit lewat Wreck-It Ralph. Yang ketiga, kita meluncur ke Negeri Sakura, di mana ada Studio Ghibli, yang dikenal pula karena produksi-produksi film animasi hand-drawn 2D-nya yang bukan hanya emosional dan penuh moral, namun juga menawarkan kadar fantasi yang (sangat) jauh di atas rata-rata. Terakhir? Lagi-lagi datang dari Hollywood, tentu saja, si rival abadi Pixar, DreamWorks Animation!

Berbeda dengan Pixar yang biasanya lebih heartfelt, maka pada umumnya, kualitas film dari DreamWorks Animation lebih mengedepankan humor, meski tetap tak menghilangkan unsur emosional di dalamnya. Dari tahun ke tahun, film produksi kedua studio ini kerap bersaing ketat. A Bug's Life vs. Antz, Monsters, Inc. vs. Shrek, hingga Toy Story 3 vs. How to Train Your Dragon. Tahun ini pun, DreamWorks yang hadir lewat The Croods kembali bersaing dengan film rilisan Pixar, Monsters University. Namun, tentunya kali ini saya tak akan me-review Monsters University untuk kedua kalinya, melainkan beralih pada film yang baru-baru ini dirilis DreamWorks Animation dan disutradarai oleh Chris Sanders dan Kirk De Micco, The Croods.


The Croods adalah nama sebuah keluarga manusia purbakala, yang terdiri dari si ayah, Grug Crood (Nicolas Cage), beserta istrinya Ugga (Catherine Keener), dan anak-anaknya Eep (Emma Stone), Thunk (Clark Duke), juga si kecil Sandy (Randy Thom), tak ketinggalan ibu Ugga, Gran (Cloris Leachman). Grus sendiri adalah seorang ayah yang oveprotective, ia selalu mengajarkan bahwa hal-hal baru itu buruk dan akan berakibat fatal dan segala macam remeh-temeh lain yang ia sebut sebagai 'peraturan', yang intinya bermakna, gua adalah segalanya. Namun, sebenarnya itu semua untuk kebaikan keluarganya, dan keluarganya juga bertahan hingga sekarang berkat usaha dirinya untuk menutup keluarganya dari dunia luar dan selalu mengikuti aturan yang ada.

Namun, ada kalanya ketika aturan-aturan tersebut tidak berlaku lagi. Di kekang oleh tumpukan aturan, Eep yang merupakan seorang adventurou, rebellious, dan punya ribuan rasa ingin tahu, menemukan seberkas cahaya dari luar gua, dan memberanikan diri untuk keluar gua di malam hari. Cahaya itu mempertemukan dirinya dengan seorang caveman lain, Guy (Ryan Reynolds). Berbeda dengan Eep dan keluarganya yang primitif, Guy adalah sosok yang cerdas dan selalu memiliki ide-ide cemerlang di otaknya. Guy jugalah yang memberitahu Eep bahwa ia akan mengelana jauh, karena dunia akan mencapai titik akhirnya. Dan sampai di sini, keluarga Crood tampaknya harus segera melepaskan atribut 'aturan' yang selama ini mengekang mereka.


Mengenai naskah yang juga merupakan hasil kerja duo Sanders-De Micco, sebenarnya tak ada yang benar-benar baru di dalamnya. Dari cerita yang dihadirkan, terasa sangat familiar. Pernah menonton The Flintstones, kan? Bagaimana dengan Ice Age? Kalau sudah pernah menonton keduanya, maka saya jamin, anda akan merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa kisah dalam The Croods bagaikan sebuah déjà vu. Bagaimana tidak? Dengan karakter-karakter manusia purbakala ala Fred dan Wilma, namun dengan latar yang kurang lebih mengingatkan kita pada Ice Age, minus tumpukan salju itu, tentunya. Karakter-karakter yang dihadirkan pun, lahir dengan pengkarakteran yang konvensional dan tak segar lagi.

Namun, apakah dengan begitu, naskah ini menjadi sebuah naskah gagal? Sama sekali tidak! Di balik kekurangannya, The Croods berhasil bertahan lewat kelebihan-kelebihannya yang begitu memikat. Salah satunya? Mari berteriak bersama-sama: humor! Ya, dari menit pertama hingga kreditnya muncul, yang penonton lakukan adalah tertawa, tertawa, dan tertawa, terbahak-bahak kalau perlu. Naskahnya saya akui memang cerdas dalam menghadirkan runtutan dialog witty dan humor slapstick yang bertubi-tubi, dan hebatnya, hampir seluruhnya mampu mengantarkan penonton dalam lautan penuh gelak tawa. Di sisi lain, The Croods juga menghadirkan beberapa momen emosional, meski dengan porsi yang jungkir-balik jika dibandingkan dengan humornya. Meski sedikit, momen-momen ini saya akui tetap berhasil dalam menyelesaikan misinya.


Salah satu kelebihan lain The Croods adalah bagaimana duo sutradara Sanders-De Micco mengemasnya dengan pacing yang tergolong cepat, sehingga membuat The Croods menjadi tontonan yang sama sekali tak lelah untuk terus disaksikan. Film ini memang punya segalanya untuk sebuah animasi fast-paced, bahkan termasuk adegan-adegan action yang dikemas dengan sangat baik, hasilnya adalah scene-scene yang thrilling, entertaining, dan... lucu. Siapa sih, yang tak terhibur dengan scene 'breakfast time' itu? The Croods juga cukup cerdas dengan menempatkan scene tersebut di paruh awal, sehingga sedari awal, sebenarnya penonton telah 'dirantai' di kursinya masing-masing, sehingga takkan ada yang bisa kabur sepanjang durasinya. Lagi pula, untuk apa kabur? Karena saya pun tak menemukan alasan untuk kabur dari tontonan mengasyikkan ini.

Voice-cast untuk The Croods sendiri diisi oleh para mega bintang Hollywood, seperti Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, serta Catherine Keener. Di lini depan, ada Nicolas Cage, yang dapat mengelus dada juga, karena setelah sekian lama, ia akhirnya mendapat peran yang tepat untuknya, meski yah.. di film animasi, dan itu berarti, dalam memilih peran di film live-action, mungkin masih bisa dipertanyakan. Anyway, Cage sanggup menginterpretasikan sosok ayah yang overprotective dan terlalu terpaku pada aturan dengan sangat baik. Sementara itu, ada karakter Eep yang memukau berkat keberhasilan Emma Stone dalam menyuarakan seorang wanita pemberontak yang berperilaku super tomboy dan pemberani, meski sebenarnya ia memiliki hati yang sangat perempuan.


Ryan Reynolds, di sisi lain, mampu memerankan seorang inovator, sumber segala ide yang 'memiliki otak', serta membentuk chemistry lucu dan manis bersama Emma Stone, yang mampu dikuasainya dengan begitu meyakinkan, meski hanya lewat suara. Last but not least, karakter Gran yang disuarakan oleh aktris pemenang Oscar, Cloris Leachman, mampu mencuri perhatian setiap kali ia muncul di frame. Dengan karakternya yang merupakan seorang nenek, ia mampu hadir dengan perangai yang konyol, lincah, namun kuat. Meski kehadirannya di sini hanya bagaikan sebuah 'alat' The Croods untuk melontarkan humor-humornya, lagi dengan porsi yang dirasa terlalu sedikit, namun karakter ini sangat berhasil menjadi sebuah 'alat' yang begitu efektif dan memikat.

Layaknya produksi DreamWorks Animation lain, The Croods tampil dengan kualitas CGI yang mempesona. Tak hanya itu, dunia versi The Croods juga dihadirkan dengan begitu cantik, memikat, dan penuh warna. Binatang-binatang purbakalanya dibuat seimaginatif dan semenarik mungkin. Dari kura-kura terbang bersayap burung nuri, gajah yang serupa dengan pohon, kawanan burung cantik nan mematikan, kodok berlidah bunga, hingga harimau raksasa dengan belang pelangi. Tak hanya itu, tumbuhan-tumbuhan juga muncul dengan warna yang sangat memikat, dan dengan bentuk yang beragam pula.


Overall, The Croods adalah tontonan yang sama sekali bukanlah hal baru. Plotnya sangatlah familiar, lebih tampak seperti peleburan antara The Flintstones dengan Ice Age. Yah, karakternya memang konvensional pula, namun satu-persatunya mampu memikat lewat lontaran-lontaran dialog yang super witty. Selain itu, The Croods mampu tampil memikat lewat pacing yang cepat serta humor slapstick yang sukses mengundang berton-ton gelak tawa, tak ketinggalan dengan sedikit sentuhan-sentuhan emosional di paruh akhirnya. Voice cast-nya pun, mampu tampil dengan memukau, terutama Nicolas Cage yang akhirnya dapat menemukan film tepat baginya.

Saran saya, lupakan hal-hal cliche dalam The Croods, nikmati saja, karena sekali anda menikmatinya, maka anda tak akan pernah lepas dari rantaian penuh keseruan yang telah dibuat oleh duo Chris Sanders dan Kirk De Micco. Dan ketika anda telah terjebak dalam kandang dengan keseruan tak terkira, seketika itu juga, The Croods mampu menyihir anda dan segera berkata, 'whoaaa, this is a very, very fun rollercoaster!' Sebuah film animasi yang benar-benar menghibur dan super lucu, sanggup menahan anda untuk terus duduk dengan tenang selagi filmnya masih berputar, walau sebenarnya tak ada hal yang benar-benar baru di dalamnya. Manis dan bikin ketagihan!

0 comments:

Post a Comment