300x250 AD TOP

Wednesday, July 31, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , ,

[Review] The Act of Killing (2013)

"Have I sinned? I did this to many people. Is it all coming back to me?" ~ Anwar Congo

Apa yang anda rasakan ketika mendengar kata 'PKI'? Atau 'komunis'? Ngeri, takut? Well, terlepas dari apa yang anda rasakan, yang jelas kedua kata ini telah mengukir banyak goresan sejarah bagi Indonesia. Sampai-sampai, pemerintah pernah membuat sebuah film propaganda melenceng dari sejarah berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI yang bahkan, dulu selalu diputar setiap tanggal 30 September di stasiun televisi Indonesia. Kali ini, tampaknya film tersebut mendapatkan tandingannya. Memang, cakupannya tak sebesar apa yang kita lihat dalam Pengkhianatan G 30 S/PKI, namun yang pasti film ini tetap hadir dengan segala kontroversinya.

Dengan mengambil judul The Act of Killing, film karya sutradara Denmark, Joshua Oppenheimer, ini lebih memilih menyampaikan kisah kelam ini lewat sebuah dokumenter, mengikuti kisah para mantan pembunuh yang turut berpartisipasi dalam penumpasan jejak-jejak komunis di Indonesia. Joshua memperkenalkan penonton pada Anwar Congo, salah satu pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila yang dulunya juga merupakan salah satu dari pasukan pembunuh komunis. Anwar tak sendiri, Joshua juga 'mengupas' kawan Anwar lainnya, seperti Adi Zulkadry, Herman, hingga ketua Pemuda Pancasila sendiri.


The Act of Killing menyusuri masa lalu kelam seorang Anwar Congo, mantan preman pencatut karcis bioskop yang akhirnya menjadi pasukan pembunuh, setelah PKI dibubarkan pada tahun 1965. Tugasnya, tentu saja membantu para tentara dalam memberantas akar-akar komunis. Tak hanya menumpas orang-orang yang 'diyakini' sebagai pengikut komunis, pasukan ini pun kerap membunuh etnis-etnis Tionghoa. Saking brutalnya, kekejaman Anwar Congo dan kawan-kawannya sampai-sampai telah menyebar seantero Kota Medan, Sumatera Utara. 

Tak hanya menyorot kehidupan Anwar Congo sekarang ini, seperti kiprahanya sebagai salah satu orang yang dihormati dalam organisasi Pemuda Pancasila, yang berakar dari posisinya sebagai pasukan pembunuh. Dalam dokumenter ini, Joshua juga membawa kita tabir-tabir hitam Anwar Congo serta Adi Zulkadry mengenai cara brutal mereka menumpas para komunis. Dengan bantuan kawan lainnya, Anwar merekonstruksikan cara 'sinting' mereka dalam membunuh komunis dengan medium-medium yang unik dan berbeda. Tapi, dari semua itu adakah yang lebih mengagetkan? Mereka menceritakannya dengan penuh kebanggaan.


Jika anda membayangkan rekonstruksi adegan-adegan pembunuhan, maka mungkin apa yang anda pikirkan adalah berliter-liter darah dan potongan tubuh manusia yang dibalut dalam kebrutalan serta keganasan. Itu tak salah, namun sebaliknya, film ini tak memilih menampilkannya dengan cara itu. Justru, The Act of Killing memanfaatkan senjata yang lebih pamungkas daripada itu semua, yaitu dengan menyerang langsung ke mental dan pikiran penonton. Bayangkan, dengan penuh kebanggaan, mereka menceritakan dan memperagakan bagaimana cara mereka menumpas komunis. Caranya memang tak benar-benar eksplisit, seperti mengganti sesosok manusia dengan tumpukan karung yang diinjak lehernya dengan ujung kaki meja dengan para preman bersenandung ria di atasnya, namun hal inilah yang malah membuat penonton meringis: membayangkan dengan pikiran sendiri bahwa yang ada disitu adalah manusia yang sebenarnya.

Hanya di The Act of Killing lah, adegan-adegan cheesy nan corny berubah menjadi sesuatu yang lebih artsy. Ya, jika anda adalah seorang yang merasa jijik dengan hal-hal corny dalam film kebanyakan, maka percayalah, rasa ini tak akan anda temukan dalam The Act of Killing. Ini wajar, karena sesuai dengan permintaan Anwar dan kawan-kawannya, film ini merekonstruksikan kekejaman pemberantas komunis lewat potongan-potongan film yang mereka bintangi sendiri, terinspirasi dari film-film yang mereka gemari saat mereka masih menjadi preman bioskop. Dengan menggabungkan dokumenter juga adegan-adegan film dramatis ala filmnoir, western, dan beragam genre lain ini, malah membuat film ini berhasil membuka tabir-tabir itu dengan cara yang jauh lebih menarik, dan bukan hanya menjadikan The Act of Killing menjadi dokumenter yang memiliki esensi surreal saja, namun memberikan kesan powerful yang tak terlupakan bagi penonton.


Yang membuat film ini menjadi sebuah dokumenter tak terlupakan adalah karakter. The Act of Killing diisi oleh karakter-karakter penuh kharisma, karakter yang mungkin bisa dibilang karakter-karakter immoral dan 'sakit', dan yang lebih mencengangkan adalah: mereka nyata dan benar-benar ada. Dengan kharisma mereka, kadang kita dapat dibuat tertawa, meringis tak percaya, hingga membelalakkan mata sebesar-besarnya. Dan dari segalanya, The Act of Killing diisi oleh 2 sosok yang mungkin adalah sosok paling absurd yang pernah ada.

Herman, preman berperawakan buntal, dengan mulut vulgar dan senang bercanda ria,  sekaligus sosok yang brutal. Ironisnya, di sepanjang film, ia sering berpakaian wanita dengan dandanan ala ladyboy Thailand. Tapi, bagaimana film ini menampilkan sosok seperti Herman yang menyalonkan diri ke legislatif, rasanya seperti tamparan satir yang cukup keras (thank God, he didn't make it). Tapi, spotlight ada di tangan seorang Anwar Congo. Bayangkan, seorang family-oriented man, yang bahkan memarahi cucunya sendiri karena menyakiti seekor itik, sampai-sampai menyuruh cucunya untuk meminta maaf pada si ternak, namun di sisi lain, ia adalah sosok brutal, tak bermoral, dan bahkan sanggup meregangkan ribuan nyawa lewat tangannya sendiri. Sosok seperti ini membuatnya menjadi bak seorang Vito Corleone, yang menariknya, ada dalam dunia nyata. Undoubtedly 2 absurd (and interesting) characters!


Entah apa yang mereka katakan memang benar-benar terjadi atau tidak, namun The Act of Killing berhasil menjadi sebuah cara baru bagaimana seharusnya dokumenter hebat itu dibuat. Medium rekonstruksinya sangat unik dan berbeda. Tak ada darah, scene-scene gory, namun lebih mengedepankan mental penonton yang terganggu lewat cara-cara anehnya. Film ini juga menyelipkan unsur-unsur surreal dari filmnoir, western, fantasi, dan lainnya, berhasil menjadikan The Act of Killing menjadi sebuah dokumenter yang imaginatif, tidak biasa, dan out-of-the-box.

The Act of Killing bukan hanya sebuah tontonan penuh jaw-dropping moments yang membelalakkan mata, provokatif, dan kontroversial, juga pretty difficult to watch. Di sisi lain, Joshua Oppenheimer berhasil pula menjadikan The Act of Killing menjadi sebuah dokumenter yang begitu powerful, menghasilkan banyak emotionally disturbing moments yang tak pernah dapat dilupakanSuatu presentasi menakjubkan dan extremely well-crafted yang berisi ribuan tanda tanya besar tentang rasa humanis manusia yang mampu membuat anda selalu meringis sepanjang menit, tak ketinggalan pula dengan sentilan-sentilan satir mengenai negeri sendiri yang membuat anda mengelus dada sepanjang film. A great movie, that probably, you never want to watch it again.


2 comments:

  1. Ini bener ternyata film yang keren banget.

    Tulisan yang bagus.

    Dan hebatnya lagi, sutradaranya ngasih film ini gratis buat penonton Indonesia.

    Gila total! Revolusi!

    ReplyDelete
  2. Hahaha, bener bgt, cuma Joshua, sutradara yang nyuruh orang2 lewat twitter buat ngebajak karyanya sndr, karena emg film beginian gak bakal muncul dvdnya di Indonesia, sih.

    ReplyDelete