300x250 AD TOP

Wednesday, June 4, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] The Grand Budapest Hotel (2014)

"I go to bed with all my friends." ~ M. Gustave

Tak banyak film yang dapat kita ketahui secara langsung siapa sutradara di baliknya hanya dengan menontonnya dengan cukup seksama. Salah satu di antaranya adalah Quentin Tarantino. Selama ini, Tarantino memang dikenal dengan dialog-dialognya yang ceplas-ceplos, penuh dengan humor hitam, dan yang pasti: penuh kekerasan. Sementara Alfred Hitchcock, di samping film-filmnya yang kebanyakan melibatkan 3 formula wajib: intensitas tinggi, romansa matang, dan wanita pirang, ia juga dikenal cukup narsistik, karena sering muncul sebagai cameo di sebagian besar film-filmnya. Tapi, mungkin ada lagi sutradara lain yang dapat dikenali karyanya bukan lagi dengan menontonnya secara seksama, melainkan cukup dengan melihatnya saja: Wes Anderson.

Bagi para penggemar karyanya, pasti tahu mengapa film-film hasil racikannya mampu diidentifikasi dengan sangat mudah. Bagi yang belum, kami akan membicarakannya nanti. Yang jelas, ia memang dikenal lewat komedi-komedi yang digarapnya. Ia adalah orang dibalik suksesnya Fantastic Mr. Fox, The Royal Tenenbaums, hingga Rushmore. Dua tahun yang lalu, ia sempat kembali lewat salah satu film terbaik di tahun itu, Moonrise Kingdom, komedi tentang anak pramuka yang kabur bersama kekasihnya, di mana filmnya dipuji habis-habisan berkat kemasana dan komedinya yang unik dan memanjakan mata. Kini, masih setia dengan komedinya yang khas, ia hadir lagi dengan The Grand Budapest Hotel.


Jangan tertipu namanya, The Grand Budapest Hotel bukan terletak di Budapest, melainkan sebuah republik bernama Republik Zubrowka. Dikelola oleh seorang concierge profesional bernama Monsieur Gustave (Ralph Fiennes), di tangannya ia mampu menjadikan hotel ini menjadi hotel kenamaan dengan fasilitas bintang lima. Dengan ketertarikannya dengan wanita yang jauh (sangat jauh) lebih tua, ia menjalin hubungan dengan nenek berusia 84 tahun, Madame D. (Tilda Swinton). Tragedi datang ketika Madame D. ditemukan tewas diracun, dan anak Madame yang gila harta, Dmitri (Adrien Brody), menuduh Gustave telah membunuhnya. Bersama anak buah kepecayaannya, seorang lobby boy baru bernama Zero Moustafa (Tony Revolori), mereka memulai petualangan dan lari dari kejaran sang pembunuh berdarah dingin suruhan Dmitri, Jopling (Willem Dafoe).

Salah satu kekuatan Wes Anderson dalam mengemas setiap filmnya adalah visual storytelling. Tak sekadar dengan naskah baik dan cast yang mumpuni, setiap aspek dalam film terasa begitu krusial. Setiap unsur dalam film turut ambil bagian dalam menceritakan setiap kisah. Jadi, bagi anda yang masih asing dengan namanya, jangan heran kalau The Grand Budapest Hotel dikemas dengan visual tingkat tinggi. Ya, bukan hanya dikenal karena narasinya yang identik dengan kata 'quirky', signature work khas Anderson juga memiliki hal lain yang begitu mencolok, yaitu visualnya yang memanjakan mata, tapi tanpa meninggalkan kata 'quirky' itu sendiri.


Sekalipun Budapest memang merupakan ibukota Hungaria, tapi Grand Budapest Hotel memang hotel fiktif di wilayah fiktif, Republik Zubrowka. Dari sini, itu hanyalah awal bagi Anderson untuk menghidupkan dunia fiktifnya menjadi sebuah dunia yang sesak akan imajinasi liar. Ya, dunia dongeng a la Anderson dalam The Grand Budapest Hotel lagi-lagi hadir dengan tone yang unik, terkesan vintage namun digarap secara fresh dan hangat. Sinematografinya melibatkan angle-angle rupawan yang menawarkan banyak side tracking shot cantik dengan proporsi simetris sempurna. Production design hingga costume design dikemas dengan penuh warna dan seksama. Musiknya muncul untuk memeriahkan suasana '60an yang telah kental dengan lantunan nada orkestra penuh permainan musik old-fashioned Eropa karya Alexander Desplat yang makin mengukuhkan suasananya. Hasilnya? Sebuah perpaduan visual menawan, cantik, antik, tapi tetap unik.

Tapi, semua tentang Grand Budapest Hotel tak terbatas pada bagaimana ia mengemas visual film ini dengan imajinasi ajaib Wes Anderson. Ini juga bagaimana ia menciptakan sebuah kisah komikal tak biasa yang berbalut kemasan absurd. Narasinya cukup unik yang dibuka dengan seorang wanita yang membaca sebuah novel, kemudian point-of-view akan terus berganti, hingga mencapai mata seorang lobby boy bernama Zero. Komedinya menawan dengan dry humor yang offbeat dan unik, ampuh menghasilkan banyak tawa dalam atmosfer yang awkward serta plot yang hadir tanpa memikirkan akal sehat. Porsi 'kucing-kucingan' mampu dibubuhi dengan petualangan menyenangkan dan humor yang meledak-ledak. Ada sedikit kegelapan di dalamnya, di mana Wes melibatkan beberapa kekerasan dan tragedi: dari darah, pembunuhan, potongan jari, hingga kepala yang terpenggal. Tapi, di samping semua itu, ada drama yang emosional dan jujur, memancarkan kehangatan dan hati yang sebenarnya dalam kisah ini.


Goal-nya bukan untuk membuat film dengan kisah serealistis mungkin, melainkan membuatnya seimajinatif mungkin, menyesuaikan dunia liar ajaib yang dibentuk oleh Wes Anderson. Hasilnya, seperti yang kita lihat pada Moonrise Kingdom, beberapa subplot memang tampil nonsense dan terkesan mengabaikan akal sehat. Namun, tentu ini sama sekali bukan masalah, dan bukan pula berarti ia lantas meninggalkan nalar. Ada satu waktu ketika ia membangun suasana satirikal, dengan tetap mempertahankan atmosfer komikal, namun pada akhirnya sukses menyentil isu-isu nyata tersebut dengan lembut. Ya, The Grand Budapest Hotel memang tak hanya bertumpu pada dry humor yang efektif, ia punya segudang amunisi: ide-idenya yang dihiasi parodi, satir komikal, petualangan menyenangkan, tragedi kelam, sejarah hitam Eropa, romansa melankoli, hingga drama jujurnya. Sekalipun tak menghadirkan plot yang benar-benar baru, namun setiap lapisan kisahnya begitu menggigit dengan imajinasi liar dan pacing lembut yang membuat keseluruhan film meniupkan hawa segar.

Tak sampai di situ, ada hal lain yang membuat The Grand Budapest Hotel tampil kokoh: karakter. Lewat narasinya kita diperkenalkan dengan Zero, seorang lobby boy canggung berdarah India yang sangat patuh dengan topi bertuliskan 'lobby boy' yang selalu setia berda di kepalanya, berhasil diperankan dengan baik oleh aktor remaja Tony Revolori. Lewat mata Zero pula, kita dikenalkan dengan sang karakter utama yang lovable, Monsieur Gustave, seorang cocierge sebuah hotel kenamaan, The Grand Budapest Hotel, yang merupakan pribadi tangkas, penuh perhitungan, profesional, harum, dengan gaya bicara cepat dan ceplas-ceplos, namun dengan intonasi yang begitu lembut. Mampu dipotret dengan sempurna oleh Ralph Fiennes, ia adalah sosok charming, eksentrik, sopan meski mulutnya penuh lontaran F-bomb, hati dari keseluruhan film



Sisanya, anda akan melihat para cast langganan Wes Anderson. Nama pertama tentunya adalah Bill Murray, yang entah sudah berapa kali mendapat tempat di film karya Anderson. Porsinya kecil, namun tetap menonjol dengan pembawaan tenangnya. Ada pula Tilda Swinton yang penuh make up, dengan menakjubkan berhasil memerankan seorang nenek 84 tahun, Madame D. yang mencuri perhatian, yang tak lain merupakan kekasih M. Gustave. Di lain pihak, ada Saoirse Ronan, aktris muda pemegang nominasi Oscar yang baru pertama kali ambil bagian dalam film garapan Wes, sebagai Agatha, love interest Zero yang tangguh dengan tanda lahir berbentuk negara Meksiko (yes, literally!). Tak perlu dibahas satu-persatu, tapi dengan cast yang begitu besar dan penuh akan talenta, Wes Anderson mampu memberikan ruang cukup bagi para karakternya. Salah satu ensemble cast terbaik tahun ini!

Kembali, Wes Anderson menghadirkan sebuah karya yang berbalut dunia ciptaannya yang kaya visual maha cantik dan imajinasi tingkat tinggi. Narasinya unik dengan pengemasan quirky yang diisi oleh karakter-karakter loveable dan eksentrik yang mampu dimainkan dengan baik oleh para cast-nya. Sebagai komedi, ia menawarkan sense of humor khas Wes Anderson yang penuh warna dan tak biasa. Katakanlah aneh, tapi berkat keanehannya pula, komedi ini mampu bersinar terang dibanding lainnya. Petualangannya begitu seru dengan segala keabnormalannya yang berhasil dengan gemilang. Namun, dibalik itu semua, ada drama yang memikat, emosional dan penuh cinta, yang menjadi pondasi kokoh dari segala yang Anderson angkat dalam film ini. Nonsense, liar, imaginatif, aneh, cerdas, menyenangkan, memikat, hingga infeksius, itu hanyalah sekian dari banyak alasan mengapa The Grand Budapest Hotel pantas dikatakan sebagai salah satu komedi terbaik yang pernah ada.

2 comments:

  1. Banyak yg review tetang film ini, kayaknya memang menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan hanya 'kayaknya', filmnya memang menarik kok hehe. A must see!

      Delete