300x250 AD TOP

Wednesday, September 12, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Keramat (2009)

"Balikin Migi! Gue bilang balikin Migi!" ~ Poppy

Ada banyak film horor produksi Indonesia. Itu pasti. Kebanyakan, hanya mengumbar sensualitas dengan penampakan yang muncul setiap detik. Hasilnya? Tak usah ditanya lagi. Sebaliknya, tidak banyak film yang benar-benar memberikan teror-teror horor yang sebenarnya. Dalam ingatan kita, ada Jelangkung, Pocong 2, hingga horor omnibus macam Takut dengan Dara-nya yang berdarah-darah dan FISFiC dengan Taksi yang sempit dan kelam juga Rumah Babi yang meneror lewat isu diskriminasi ras. Kesemua film itu bisa dibilang merupakan pure horror-nya Indonesia, dan tampaknya, saya harus menambahkan satu film lagi (maklum, saya baru nonton, haha) ke dalam jajaran horor asli Indonesia, Keramat.

Di tahun 2009, sutradara sekaligus screenwriter Monty Tiwa muncul dengan film Keramat-nya. Keramat sendiri mengadaptasi film horor dengan gaya found-footage ala The Blair Witch Project dan Paranormal Activity yang fenomenal itu. Filmnya sendiri dibintangi Poppy Sovia dan sejumlah nama baru seperti Migi Prahita, Miea Kusuma, Sadha Triyudha, Dimas Projosujadi, Diaz Ardiawan, dan Brama Sutasara.


Keramat dimulai dengan interview yang mengenalkan kita pada Migi, pemeran utama di sebuah film berjudul Menari di Atas Angin. Di film itu, ia akan berperan sebagai seorang atlet lari yang kehilangan satu kakinya. Kemudian, kita juga akan dikenalkan pada karakter lain seperti sang sutradara, Miea (Miea Kusuma), asisten sutradara, Sadha (Sadha Triyudha), manajer produksi, Dimas (Dimas Projosujadi), lawan main Migi, Diaz (Diaz Ardiawan), juga kedua kru behind the scene, Poppy (Poppy Sovia) dan Cungkring (Monty Tiwa). Rencananya, mereka semua akan berangkat ke Bantul, Yogyakarta dalam rangka pre-production. Selama pre-production, segala sesuatunya akan direkam untuk behind the scene.

Di Yogyakarta, mereka sempat mengalami beberapa kejadian aneh seperti seseorang yang tiba-tiba mengetuk kaca mobil semari berkata-kata aneh, suara tangisan, hingga cahaya dari bola-bola api. Puncaknya, terjadi saat Migi merasa tidak enak badan. Awalnya, sakitnya seperti sakit pada umumnya, namun suatu saat Migi mulai bertingkah aneh seperti orang yang kerasukan makhluk halus. Mereka pun memutuskan untuk memanggil seorang paranormal. Masalah berhasil di atasi, roh yang mengaku bernama Nyi Pramodawerdani itu akhirnya berhasil dikeluarkan dari tubuh Migi. Masalah belum selesai, ketika sesaat setelah itu, Migi hilang tanpa jejak dibawa "mereka" ke dunianya.


Setahu saya, film dengan gaya found-footage atau mockumentary (mocku) asal Indonesia hanya ada dua, yaitu te[rekam] dan Keramat. Kebetulan, kedua film ini bisa dibilang mewakili dua sisi horor Indonesia. Di sisi horor abal-abal, ada te[rekam] yang dibintangi Julia Perez. Ya, dari judulnya saja kita sudah tahu bahwa te[rekam] merupakan judul imitasi {REC], film mocku Spanyol yang fenomenal (dan salah satu favorit saya). Di sisi pure horror, ada Keramat yang tampil dengan mengerikan dan terjaga rapi tanpa harus terjebak untuk menampilkan hantu narsis yang selalu muncul di depan kamera setiap waktu. 

Adalah hal yang unik mengingat karakter Cungkring alias si cameraman diperankan oleh Monty Tiwa sendiri. Ini membuat Keramat seolah merupakan sebuah film yang benar-benar real. Pada akhirnya pun, Keramat tetap tampil dengan mencekam, bukan hanya karena Cungkring yang diperankan Monty Tiwa saja, tapi juga karena Monty Tiwa berhasil membuat sebuah horor mencekam.


Ada lagi satu hal yang menarik dari Keramat. Untuk membuat suasana "real" makin terasa, film ini sama sekali tak memakai musik latar. Hanya dengan bermodalkan suara alam dan ketegangan yang terbangun dengan kokoh, ternyata sudah lebih dari cukup untuk menampilkan beberapa penampakan mengerikan (tanpa narsis tentunya) yang membuat Keramat tampil dengan meyakinkan. 

"Don't judge the book by its cover." Ya, memang kita tak bisa men-judge sesuatu berdasarkan tampilan luarnya, tapi untuk sebuah film, poster menarik merupakan salah satu hal yang penting, terlebih untuk menarik minat masyarakat. Meski didalamnya Keramat menawarkan horor yang berkualitas, namun sayangnya, film ini malah dibalut kemasan luar yang terkesan murahan. Posternya malah terlihat seperti poster film horor abal-abal dengan penggarapan asal-asalan karya anak ingusan.


Di dalamnya sendiri, Keramat juga tak terlepas daris segala kekurangan. Salah satu kekurangan yang menonjol adalah hubungan cerita dengan ajakan untuk menjaga alam. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan apa moral cerita tersebut (meski di sisi lain, ajakan seperti ini memang terdengar aneh dan sedikit tidak nyamung), namun lebih kepada bagaimana Monty Tiwa mengajak seluruh penonton untuk menjaga alam secara eksplisit alias terang-terangan, hingga terkesan kita sedang berada di sebuah kelas SD dengan Monty Tiwa sebagai guru dan penonton sebagai murid-muridnya.

Terlepas dari segala kekurangan, Keramat tentu saja tetap tampil dengan mengerikan, terlebih dengan jajaran castnya yang dipimpin oleh trio wanita, yaitu Poppy Sovia, Migi Prahita, dan Miea Kusuma yang mampu tampil dengan memukau. Lihat Poppy, wanita tomboy yang ternyata jago dalam akting tangis-menangis, Migi yang dapat menyampaikan teror mendalam hanya dengan satu tatapan mata, dan Miea yang temperamental dan ambisius yang sepertinya doyan memarahi para kru dan casti film yang ia sutradarai.

Dalam perjalanannya, Keramat tak hanya menawarkan suasana mencekam saja, tapi juga dibumbui oleh komedi. Komedinya sendiri juga terbilang natural tanpa terkesan dibuat-buat, terlebih komedinya juga tampil dengan porsi yang pas, tak berlebihn namun tak kekurangan pula. Lumayan, di sela-sela ketegangan, masih ada sesuatu yang setidaknya membuat kita menaikkan kedua sudut bibir.


Meski ide film dengan gaya mockumentary terbilang tidaklah orisinil, namun ternyata Monty Tiwa membayarnya memberikan sentuhan-sentuhan khas Indonesia (khususnya Jawa) yang klenik dan mistis. Terlebih filmnya sendiri bertempat di daerah sekitaran Yogyakarta yang kental suasana mistis. Dalam memberikan sentuhan ala Indonesia, Monty Tiwa bahkan menyajikan kebudayaan Jawa seperti wayang kulit dan gamelan sebagai alat untuk menggentayangi penontonnya.

Keramat merupakan "penampakan" di tengah film horor negeri sendiri yang kebanyakan sebenarnya merupakan film-film bodoh berbalut hantu dimana-mana. Tanpa harus mengobral nama-nama besar, ternyata film ini mampu hadir dengan kualitas yang dari dulu kita idam-idamkan dari jagat film Indonesia, bukan hanya dari film horor, tapi juga genre lainnya. Keramat memang belum dapat mengalahkan kengerian dari misteri yang kompleks dan ending apik dari Noroi atau teror-teror makhluk-makhluk aneh khas [REC], namun tentu saya akan lebih memilih Keramat dibandingkan Paranormal Activity. Dengan segala kengerian dan ketegangan yang dibaurkan dengan budaya Indonesia lewat sebuah bentuk dokumenter fiksi, membuatnya menjadi film horor berkualitas dengan gaya barat namun tetap tak melupakan kampung halamannya.

7.5/10

10 comments:

  1. Barusan baru nonton film keramat, gue kirain itu film kisah nyata soalnya di akhir film kan kaya ada koran yg tulisannya 'terjadi gempa bumi disebabkan oleh manusia dan ditemukan handycam yg isinya para crew film blablabla' ternyata cuma film mockumenyatary wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sampai ketipu gitu, bravo lah buat Monty Tiwa bisa buat mockunya se-'real' itu wkwkwk

      Delete
    2. nonton nya dimana ya kalo boleh tau? udah nyari kemana mana gaketemu link nya:(

      Delete
    3. @Olivia: download, tp lupa download dimana hehe. coba deh cari di idws, mungkin ada :)

      Delete
  2. Yg paling mengerikan adalah saatt tiba2 terdengar suara orang lagi nembang jawa dari kamar migi,dan ekspresi wajah migi saat itu.ampuuun deeh

    ReplyDelete
  3. Yg paling mengerikan adalah saatt tiba2 terdengar suara orang lagi nembang jawa dari kamar migi,dan ekspresi wajah migi saat itu.ampuuun deeh

    ReplyDelete
  4. Kemarin Aq datang kemusium borobudur.....baru nyadar, ternyata latar film keramat berada ditempat itu.......mulai dari tempat gamelan, sampai kamar yg ditempati mereka.....jadi ngeri sendiri pas keliling2 kemarin

    ReplyDelete
  5. Gue juga sempet kena tipu duku sama film keramat. Gue pikirnya beneran lo sampe akhirnya gue ketemu pemainnya main di sebuah film trus gue bilang "loh gak mati ya, bukannya udah mati si diaz". Akhirnya nyari si google ehh trnyata keramat cuman film. Pdhl ceritanya sumpah real banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo sampe ketipu kaya anda mah berarti beneran bluun :D soalnya rata2 orang ketipu pada jalan ceritanya beneran pernah terjadi apa engga :D nah kalo sampean sampe nyangka pemerannya mati beneran mah itu bluun tingkat dewa wkwkwkwk

      Delete