300x250 AD TOP

Monday, August 12, 2013

Tagged under: , , , ,

[Review] The Conjuring (2013)

"Want to play a game of hide and clap?" ~ The Spirit

Sebenarnya, jarang ada film horor yang mampu dikategorikan sebagai 'film horor'. Bingung? Well, maksud saya, kebanyakan film horor gagal dalam mencapai tujuan utama mereka, memberikan segenap ketakutan bagi penonton. Tahun lalu, untungnya kita kedatangan horor berkualitas, Sinister dari Scott Derrickson. Kali ini, kita kedatangan teror dari salah satu the new master of horror. Kalau berbicara tentang master of horror, kita pasti langsung teringat nama Wes Craven (A Nightmare on Elm Street franchise, Scream series), John Carpenter (Halloween, Assault on Precinct 13), atau Dario Argento (Suspiria, Opera, Deep Red). Lalu, di abad 21 ini, siapa yang bisa kita sebuah sebagai salah satu master horor?  

James Wan. Sutradara Australia yang lahir dan berdarah Malaysia ini memang dikenal karena karya-karya horornya. Saya sendiri, suka dengan Saw yang kaya akan twists and turns. Sebaliknya, saya tak menyukai Dead Silence, apalagi mata saya juga sedikit sakit karena tone-nya yang sangat-sangat gelap (bahkan siang pun dibuat gelap, haha). Tapi, 2010 lalu, James Wan menggebrak industri film horor lewat Insidious yang sukses berat, dan harus saya akui saya sampai sekarang 'sedikit' menunduk ketika menonton momen di mana muka demon merah muncul dibalik kepala Patrick Wilson. Tahun ini, James melalukan comeback dengan merilis 2 film, Insidious: Chapter 2 dan The Conjuring. Jujur, saya tak terlalu tertarik dengan sekuel Insidious, namun The Conjuring? Dengan hype yang begitu besar, film ini tak boleh terlewatkan.


Didasarkan oleh kisah nyata dari duo paranormal terkenal, pasangan suami-istri Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga), film ini menceritakan tentang keluarga Perron di tahun 1971, di mana Roger (Ron Livingston) dan istrinya Carolyn (Lili Taylor), berpindah ke Harrisville, Rhode Island, beserta kelima anaknya, Andrea (Shanley Caswell), Nancy (Hayley McFarland), Christine (Joey King), Cindy (Mackenzie Foy), dan April (Kyla Deaver). Awalnya, tak ada sesuatu yang salah dengan rumah baru mereka, kecuali anjing mereka yang tak mau masuk rumah, dan sebuah basement tersembunyi yang mereka temukan secara tak sengaja. Kian hari, gangguan-gangguan itu mulai muncul, mulai dari anjing mereka yang mati secara misterius, hingga seluruh jam yang berhenti pada 3.07 malam.

Di saat itu, nama Ed dan Lorraine memang dikenal lewat kasus-kasus supranaturalnya. Maka dari itu, ketika gangguan tersebut telah mencapai puncaknya, Carolyn memutuskan untuk memanggil pasangan ini untuk menginvestigasi rumahnya. Ketika menginvestigasi rumah keluarga Perron, Ed dan Lorraine menemukan fakta bahwa di rumah ini pernah menjadi milik seorang penyihir, Bathsheba yang mengorbankan anaknya sebagai persembahan untuk iblis dan akhirnya membunuh dirinya sendiri. Kejadian ini membuat rumah tersebut, hingga sekarang dikuasia oleh arwah-arwah gaib jahat, yang mencoba untuk menyerang keluarga Perron. Di kejar oleh waktu dan resiko nyawa melayang, mereka harus melakukan semuanya dengan cepat.


Dalam The Conjuring, naskah filmnya memiliki andil besar dalam membangun definisi horor yang sebenarnya. Chad dan Carey Hayes, sebagai penulis naskah, berhasil melebur 2 kisah horor konvensional, yaitu kisah 'rumah hantu' dan 'pengusiran setan' dengan hasil yang memuaskan, sembari mengembalikan memori kita terhadap horor 1970an seperti The Amityville Horror dan The Exorcist. Ditambah dengan kejutan-kejutan horor yang seiring menit berlalu, makin diisi oleh intrik-intrik yang melebar dan terus melebar, plus fakta bahwa film ini based on true story, yang dibalut lagi oleh banyaknya feel a la horor klasik. Sebuah naskah homage yang tight dan membuat bulu kuduk merinding!

Tak sampai di situ, naskah ini tak hanya berhenti pada teror-meneror saja. Dengan mengambil hubungan antar anggota keluarga sebagai spotlight, khususnya hubungan ibu dengan anak-anaknya, The Conjuring lewat naskahnya juga menyentuh sisi-sisi emosional. Walaupuan saya rasa di awal hingga menjelang akhir hal-hal ini terasa kurang tergali dan harusnya dapat dikembangkan lagi, namun entah mengapa, saya dapat merasakan feel emosional yang dalam ketika The Conjuring mulai melewati fase klimaks. Namun, seandainya hal itu lebih digali lagi oleh Wan dan Hayes bersaudara, saya yakin hasilnya pasti akan lebih dalam, emosional, dan menyentuh.


Ya, secara materi naskah, memang tak ada yang terbilang benar-benar baru, namun screenplay hasil karya Hayes bersaudara yang didasari rekaman dari Ed Warren ini memang benar-benar efektif untuk sebuah film horor. Lagipula, bukankah sebuah film horor sukses adalah film yang mampu meneror penontonnya, membuat sesak serta nafas tertahan sembari menunggu kejutan yang akan datang, hingga membuat seluruh ruangan bioskop berteriak? Tak perlu hal yang macam-macam, toh penonton pun tak mengharap apa-apa selain berharap akan diteror habis-habisan (yah, kecuali kalau Joss Whedon ada dibalik naskahnya, maka saya berharap akan dicipratkan ide tak terduga sebanyak mungkin).

Bagi saya, film horor yang 'malas' adalah film yang setiap detik menampilkan penampakan. Contohnya seperti hantu 'narsis' dalam film-film horor Indonesia atau hantu berdagu panjang dari Mama (walaupun jujur, Mama adalah horor yang lumayan bagus, dan hantunya pun tak muncul setiap detik, hanya terlalu sering). Lalu, apakah The Conjuring adalah film horor yang 'malas'? Sama sekali tidak. James Wan tak memajang penampakan di sana-sini, penampakan sang hantu pun bisa dihitung dengan jari. Sebaliknya, dengan sabar menunggu waktu tepat bagi 'sang iblis' untuk menampakkan batang hidungnya. Sambil memberikan The Conjuring dengan pengarahan penuh kesabaran itu, James Wan mengisi film ini dengan atmosfer yang kental akan aroma mistis dan kelam, yang dibangun dengan intensitas konsisten, sembari memberikan setiap karakter berjalan dengan perlahan, namun pasti. 


Dalam The Conjuring, anda tak akan menemukan adegan gory seperti yang James Wan tampilkan dalam Saw, tak ada pula adegan yang menjurus ke arah seksual, yang ada hanyalah James Wan yang memberikan pendekatan dan gertakan penjatuh mental terhadap penonton. Meski teror yang dihadirkan merupakan homage lewat teror-teror old-school, namun bukan berarti The Conjuring muncul dengan feel horor kadaluarsa. Banyak momen-momen kreatif di sini. Ya, saya tak pernah menyangka, bahwa sebuah tepukan tangan pun dalam membuat satu bioskop berteriak histeris dan menjadi alat efektif dalam menyerang mental. Tak hanya tepukan tangan yang film ini punya. Dari awal sampai akhir, momen-momen penuh histeria ini berhasil James Wan kemas dengan sangat meyakinkan yang membuat ruang bioskop sesak akan injeksi kengerian yang tiada henti dan terjaga rapi. Hasilnya? Creepy as hell!

Keberhasilan film ini bukan hanya bertumpu pada usaha James Wan dan Hayes, departemen akting juga hadir dengan penuh kekuatan di sini. Kita semua tahu bahwa Vera Farmiga adalah aktris yang luar biasa. Dengan sebuah nominasi Oscar di tangannya, maka bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa Vera berhasil mengerahkan seluruh kemampuannya dengan maksimal. Dengan rosario yang selalu melilit di tangan kirinya, ia hadir karakter yang terlihat kuat dan tak gentar, namun ia mampu menggali ketakutan dan kerapuhan seorang Lorraine Warren dengan baik. Di lain sisi, Lili Taylor adalah seorang scene stealer dari semua lini. Dengan penampilan intens, haunting, dan meledak-ledak yang sedikit mengingatkan kita pada peran legendaris Linda Blair dalam The Exorcist itu, ia mampu menyuguhkan ketakutan tersendiri bagi penonton. Selain itu, cast lainnya, seperti Patrick Wilson, Joey King, dan Ron Livingston pun berhasil menghadirkan akting yang meyakinkan.


Dari Insidious hingga The Conjuring, musik latar merupakan salah satu aspek vital. Dengan musik gubahan Joseph Bishara, orang yang juga bertanggung jawab dalam membuat penonton histeris di Insidious, kita kembali merasakan musik latar yang haunting, agresif, intens, sekaligus besar dan mengagumkan, meski saya sedikit terganggu dengan musik yang hadir saat momen romansa ditampilakan. Soal sinematografi, The Conjuring hadir dalam camerawork yang cantik. Bersama sutradara James Wan, sinematografer John R. Leonetti, berhasil menciptakan angle-angle sesak yang dilengkapi dengan lighting 'manipulatif' (well, anda akan mengerti maksud saya jika telah menontonnya... 'clap-clap'), menghasilkan atmosfer kelam yang tak biasa dan tak beres, membuat penonton bertanya-tanya 'what's behind the door? what's behind you?', dan 'what's behind'-'what's behind' lainnya.

James Wan dengan pengalaman mumpuninya dalam meneror penonton, makin menunjukkan bakatnya yang kian hari makin terasah dengan mengajak penonton menelusuri The Conjuring yang sesak akan kengerian. Didukung oleh naskah khas horor, cast yang luar biasa, hingga teknikal level yang tak kalah memuaskan, menjadikan The Conjuring adalah film horor yang to-the-point dan tak muluk-muluk dalam menawarkan kengerian old-school-nya. Selangkah (atau dua langkah?) lebih maju, lebih mengerikan, dan lebih-lebih lainnya daripada Insidious, ini adalah karya yang benar-benar memuaskan, enjoyable (dalam konteks film horor, tentunya), both emotionally and psychologically disturbing, well-constructed and well-crafted. The Conjuring adalah sebuah surat cinta mengerikan dari James Wan serta duo Hayes terhadap horor 1970an, sekaligus penghapus dahaga bagi yang haus akan horor yang menawarkan teror sebenarnya.


2 comments:

  1. Hai Rizky, cuma mau bilang blog EPICinema saya nominasikan di Liebster dan Sunshine Award ya http://manusia-unta.blogspot.com/2013/08/liebster-sunshine-award.html

    ReplyDelete
  2. thanks! serasa dpt oscar *halah* :)

    ReplyDelete