300x250 AD TOP

Saturday, August 3, 2013

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Upstream Color (2013)

"I have to apologize. I was born with a disfigurement where my head is made of the same material as the sun.." ~ Thief

Tahun 2004, Hollywood sempat digemparkan oleh sebuah film berjudul Primer, yang diarahkan oleh seorang sutradara muda debutan berbakat, Shane Carruth. Well, mungkin terdengar hiperbola, namun Primer yang kompleks memang menakjubkan di tangan dingin seorang Shane Carruth. Ia tak hanya menyutradarai Primer, karena ia juga bertanggung jawab dalam hampir segala hal dalam film ini, ia adalah produser, penulis naskah, pemeran utama, komposer musik, hingga editor Primer. Namun, setelah 2004, ia tak produktif lagi. Kata 'produktif' pun rasanya tak tepat, kerena setelah Primer, ia tak pernah menelurkan film lagi.

Setelah 9 tahun lamanya, barulah Shane Carruth membuat sebuah comeback-nya dengan sebuah film berjudul Upstream Color. Sama seperti Primer, Upstream Color masih merupakan sebuah film eksperimental, dengan struktur yang begitu kompleks. Dan lagi, layaknya Primer, ia juga bertanggung jawab dalam hampir seluruh aspek dalam Upstream Color. Selain ada dirinya sendiri dalam jajaran cast, ia juga berkolaborasi dengan beberapa aktor seperti Amy Seimetz, Thiago Martins, dan Andrew Sensenig.


Upstream Color diawali oleh scene-scene yang cukup membingungkan, karena hadir tanpa dialog dan disajikan dengan cukup abstrak. Namun, secara keseluruhan film ini bercerita tentang sepasang kekasih, Jeff (Shane Carruth) dan Kris (Amy Seimetz), di mana kehidupan serta perilaku mereka dipengaruhi oleh suatu parasit kompleks. Perlahan, mereka terjebak dalam sebuah siklus kehidupan yang rumit dan kompleks. 

Semua ini bermula saat Kris, seorang graphics production designer, dibius oleh seorang pencuri (Thiago Martins) di suatu klub. Pencuri tersebut menggunakan berbagai trik aneh dan sugesti untuk mengendalikan pikirannya sekaligus menyembunyikan fakta bahwa ia mengambil sejumlah uang dari Kris. Suatu pagi, Kris bangun dan menemukan nematoda hidup merangkak dibawah kulitanya, yang memang terdapat dalam obat yang digunakan pencuri. Dengan bantuan seorang peternak babi (Andrew Sensenig), ia berhasil mentransfusikan cacing-cacing itu ke dalam tubuh seekor babi. Keesokan harinya, Kris bangun di sebuah van tanpa mengetahui apa yang baru saja terjadi. Ia pun menjalani kehidupan kembali, meski ia harus dipecat karena bolos kerja tanpa informasi. Namun, kehidupan barunya ini baru bermulai, ketika di sebuah kereta, ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Jeff.


Apa yang anda rasakan di menit pertama film ini mulai berjalan? Cantik, itu pasti jawaban semua orang. Layaknya The Tree of Life atau Beasts of the Southern Wild, Upstream Color menggunakan hand-held camera, yang pada beberapa titik, membuat visualnya sedikit shaky. Namun, itulah yang membuat film independen ini menjadi sebuah film yang istimewa secara visual. Kombinasi sinematografi shaky serta warna-warna cantik makin menambah dan mempertebal atmosfer film yang penuh tanda tanya. Sinematografi ciamik ini hadir pula dengan angle-angle rupawan, menangkap momen-momen penuh bahasa tubuh dengan sangat baik.

Dengan visual yang kecantikannya tak terbantahkan lagi, memang pada beberapa sudut, Upstream Color terkesan memasuki teritori seorang Terrence Malick. Namun, tentu saja Shane Carruth bukanlah Terrence Malick, dan mereka juga memiliki identitasnya masing-masing. Berbeda dengan Malick yang biasanya tak terlalu terpaku pada naskah dan lebih sering bermain-main dengan gaya penuyutradaraannya, namun dapat membuatnya menjadi tontonan powerful, maka sedari awal, Upstream Color telah memiliki pondasi naskah sekuat baja dan semenjanjikan... well, entah apa yang lebih menjanjikan dari naskah film ini sendiri. 


Berbicara lebih lanjut mengenai naskah film ini, selain hadir dengan cerita yang di luar pemikiran setiap manusia, naskah dari Shane sendiri ini juga memiliki cerita yang langka dan segar. Naratif yang ia bawa sangatlah kompleks sekaligus abstrak, namun dengan cerdasnya, Shane mampu membawakannya tanpa terlalu banyak dialog. Sebaliknya, ia lebih banyak menggunakan hal-hal imaginatif dengan sedikit dialog (atau bahkan tanpa dialog sama sekali) dalam mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam naskahnya. Ketika naskah ini memilih untuk menampilkan dialog pun, dialog-dialog ini kerap muncul dengan penuh dengan surrealisme. Dengan naskah sekompleks ini, Upstream Color butuh penyutradaraan yang detail dan tidak main-main. Lantas, apakan Shane mampu mengemas naskah eksperimentalnya ini menjadi sebuah karya yang tak terlupakan?

Jawabannya sudah pasti. Shane Carruth berhasil membawa Upstream Color menjadi karya yang lebih berharga. Dengan naskah minim dialog hasil racikannya, ia mampu mengeksekusi Upstream Color bagaikan karya seni bisu. Indah dan well-crafted, namun disajikan tanpa perlu banyak omong. Dengan gayanya sendiri, Shane Carruth memang banyak menghadirkan scene-scene yang hanya diisi oleh bahasa tubuh para cast-nya. Terlihat 'kosong', namun sebenarnya scene-scene inilah yang sebenarnya berbicara dan hal ini begitu berarti. Jelas, pada akhirnya ini kerap menimbulkan tanda tanya dan membuat Upstream Color menjadi tontonan yang sulit untuk dicerna. Namun, apakah itu menjadi suatu hal buruk? Sama sekali tidak.


Sebenarnya, kalau saja Shane mau menggunakan gaya lain dalam penyutradaraanya, bisa saja film ini menjadi lebih mudah dicerna. Beruntung, ia tak memilih jalan pintas tersebut. Malah, ia membuat Upstream Color dengan penuh tanda tanya dan simbolisasi di sana-sini. Resikonya memang besar, film ini menjadi sebuah film yang sulit dicerna penonton yang lebih menyukai film ringan. Namun, dengan hal ini pula, ia menjadikan Upstream Color sebagai tontonan yang sangat, sangat thought-provoking, bagaikan susunan puzzle setengah jadi. Ia telah menceritakan Upstream Color dengan gayanya yang berat, alias ia telah menyelesaikan setengah dari kumpulan potongan puzzle tersebut. Tugas kita, sebenarnya hanya dengan menyelesaikan sisanya, perhatikan setiap detail dan gunakan otak. Kalau ingin lebih menantang, coba saja menonton tanpa membaca sinopsis. Meskipun resikonya, kemungkinan besar saat film telah berakhir, yang hanya anda bisa lakukan hanyalah geleng-geleng kepala.

Upstream Color sendiri hadir dengan cast yang menawan. Selain Shane Carruth sendiri yang mengisi cast utama dengan baik, ada Amy Seimetz yang bagaikan bintang bersinar. Saya memang belum pernah mendengar namanya sebelum ini dan entah siapa dia, namun penampilannya begitu intens dan memikat. Dengan karakternya yang sangat kompleks, ia dapat menghipnotis siapa saja dengan begitu meyakinkan. Selagi penonton ikut mempertanyakan kondisi kejiwaannya berkat akting memukau Seimetz, ia juga mampu membangun chemistry kuat dengan Shane Carruth.


Selain visual menakjubkan seperti yang telah digubris di atas, film ini juga memiliki jajaran teknis lainnya yang tak kalah fantastisnya. Dalam urusan teknis pun, nama Shane Carruth juga ada dimana-mana. Selain sebagai sinematografer, ia jugalah yang berjasa dalam film editing serta scoring. Dari segi musik latar, Shane Carruth mampu menghasilkan musik-musik minimalis namun haunting dan penuh emosi, membangun atmosfer film dengan begitu sempurna. Soal film editing, mungkin Upstream Color merupakan salah satu film dengan editing paling efektif yang pernah saya lihat. Shane menerapkan gaya editing unik, surealis, dan tajam yang dikemas dengan hasil yang tertata rapi serta brillian, memberikan efek yang sangat besar dalam perjalanan emosi Jeff dan Kris.

Sekali lagi, Shane berhasil menjadikan Upstream Color menjadi karya yang tak terlupakan. Film ekperimental yang tak mempunyai rapor merah di setiap sisinya. Naskahnya berhasil merangkul romansa, drama, fiksi sains, dan misteri bersama dalam menciptakan sebuah kisah yang mungkin hanya ada dalam kepala seorang Shane Carruth. Bagaimana ia mengemas film ini malah menjadikan Upstream Color  berlipat-lipat kali lebih berharga. Ia mengubah naskah racikannya sendiri menjadi kumpulan potongan puzzle, yang mungkin tak akan dapat terpecahkan (kecuali kalau anda membuka Google...). Menjadi lead juga bukan perkara yang sulit untuknya, bersama dengan Amy Seimetz yang intens, mereka mampu membangun sebuah chemistry kokoh. Ditambah pula dengan scoring dan visual gemilang, rasanya Upstream Color bukan hanya sebuah eksperimen sukses saja, ini juga merupakan ajang unjuk gigi Shane Carruth (dan berhasil) lewat sebuah karya penuh keanehan yang disajikan lewat cara yang unik namun indah. Menonton Upstream Color boleh jadi merupakan pengalaman yang cukup melelahkan, namun pada saat yang sama pula, menontonnya merupakan pengalaman yang sangat berharga.


1 comments:

  1. Overrated sih kl nurut sya. Dia egois nyiptain film cuma utk dirinya sndiri. Sya ga anggap dia jenius, mlainkan hnya trlalu ambisius utk trliat jenius. Sya sdh tonton Primer jg. Sama aja. Dlm kedua filmnya byk scene dieditnya jd sdmikian ga nyambungnya. Byk kok film jenius laen yg sulit dimengerti tp pd akhirnya pnonton bs mmahami, sprti 2001 oddisey, Fountain, Dr. Parnassus, Enemy ato Under The Skin. Tp tidak film2 Carruth ini, ga mmberikan kesan apa2 sprti angin lalu.

    ReplyDelete