300x250 AD TOP

Wednesday, September 19, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Prometheus (2012)

"I don't (know), but it's what I choose to believe" ~ Elizabeth Shaw

Usia memang tak dapat menghalangi sesseorang untuk berkarya. Hal itu juga berlaku pada seorang sutradara kenamaan, Ridley Scott. Hebatnya lagi, sutradara yang lahir sebelum Indonesia merdeka ini (1937), tetap mampu menampilkan film-film yang tetap punya kualitas bahkan hingga film terakhirnya yang baru-baru ini rilis, Prometheus. Ya, di umurnya yang menginjak 75 tahun ini, ia bahkan masih mempunyai dua proyek film lagi, The Counselor dan proyek dari Blade Runner yang belum diberi judul.

Hampir dari kita pasti tahu film Alien yang melegenda itu. Awalnya, Prometheus direncanakan akan menjadi prekuel dari Alien, meski akhirnya Scott memutuskan untuk membuat Prometheus sebagai film yang berdiri sendiri. Meski sebenarnya, saya lebih suka menyebut Prometheus sebagai reboot dengan unsur-unsur Alien, tapi hadir dengan cerita baru. Ibaratnya, franchise Alien merupakan saudara tiri jauh dari Prometheus.


Di awali dengan opening yang cukup ambigu, yang kelihatannya bukan bertempat di bumi. Sosok putih besar mirip manusia yang 'mengorbankan diri' lewat sesuatu misterius yang ia minum. Secepat kilat, kita kembali ke bumi, lalu segera dipertemukan dengan sepasang kekasih yang sama arkeolog, Dr. Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Dr. Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) yang menemukan sebuah lukisan gua yang menggambarkan sebuah rasi bintang, yang anehnya, rasi ini sama dengan beberapa peninggalan kuno dunia lainnya.. Kemudian, film ini akan mengajak penonton terbang lagi ke angkasa, memasuki sebuah pesawat penjelajah ilmiah yang juga mengenalkan kita ke sebuah android (robot berbentuk manusia), David (Michael Fassbender).

Pertanyaannya, untuk apa pesawat ini? Usut punya usut, ternyata pesawat berawak 17 yang dibiayai oleh Weylan Corp. ini bertujuan untuk meneliti sebuah bulan bernama LV-223 yang terletak begitu jauh dari Planet Bumi. Kembali lagi, penelitian ini berakar dari penemuan Shaw dan Holloway tadi, yang mereka sebut sebagai sebuah 'undangan' dari para Engineer. Engineer? Ya, mereka meyakininya sebagai pencipta manusia, dan dari LV-223-lah, mereka dapat mencari tahu tentang apa dan siapa pencipta manusia. 


Satu hal yang harus anda tahu sebelum menonton film ini: jangan samakan franchise Alien dengan Prometheus. Jika anda merupakan penggemar nomor 1 dari franchise Alien dan para penerusnya, sebaiknya jangan terlalu berharap dan menargetkan ekspetasi super tinggi pada Prometheus, apalagi Scott sama-sama menyutradarai Alien dan Prometheus. Di Prometheus, jangan harap anda akan banyak menemukan adegan 'kucing-kucingan' antara makhluk jelek, Xenomorph dengan para 'calon korban' di Alien', apalagi 'kucing-kucingan' ala sekuelnya, Aliens yang brutal. Tapi, bukan berarti Prometheus menjadi film yang buruk, justru, Scott malah menawarkan sesuatu yang dapat membayar lunas semua itu. Apa itu?

Tuhan memberikan suatu sifat yang ada pada diri manusia: rasa penasaran. Di Prometheus, itulah yang ingin dikembangkan di dalam cerita. Dalam comeback-nya, Ridley Scott lebih menawarkan pendalaman cerita daripada pendalaman kadar thriller, apalagi action, terlebih dalam ceritanya berfokus pada pendalaman filosofis-filosofisnya. Agak kontroversial dan provokatif memang bagi sebagian orang, tapi itulah yang menjadi nilai plus. Bagaimana tidak kontroversial? Lewat cerita petualangan para manusia yang hendak mencari penciptanya, film ini banyak menyinggung tentang keyakinan dan kepercayaan seseorang yang kemudian digabungkan dengan imajinasi liar manusia, juga ketika umat manusia dihadapkan pada suatu kenyataan yang kadang bertentangan dengan keyakinannya. 


Prometheus merupakan film sci-fi yang seimbang. Selain solid di bagian ceritanya, ia juga kokoh di visualnya. Prometheus punya opening yang sangat indah dan berkelas, sedikit mengingatkan kita pada 2001: A Space Odyssey dan The Tree of Life yang sama-sama miskin dialog dan kaya visualisasi. Di efek visualnya, Prometheus juga dapat tampil menawan. Setidaknya, Prometheus telah mengubah pakem mainstream sci-fi modern.

Meski Scott sendiri mengungkapkan bahwa film ini merupakan sebuah standalone, namun memang rasanya tetap saja terdapat hubungan antara Alien dengan Prometheus. Di samping Prometheus terjadi sebelum tragedi Nostromo Alien (yang makin mengidikasikan bahwa Prometheus merupakan prekuel Alien), ada pula beberapi misteri di Alien yang sedikit demi sedikit terbuak di sini. Meski, memang banyak pula misteri yang sengaja ditinggalkan Scott. 


Prometheus sendiri dibintangi oleh banyak aktor yang cukup punya nama. Ada mantan gadis punk asal Swedia bertato naga yang bertransformasi menjadi arkeolog dengan kalung salib yang selalu berada di lehernya (Noomi Rapace), duplikat Tom Hardy yang pernah terjebak dalam lift (Logan Marshall-Green), si supervillain Magneto (Michael Fassbender), pemenang Oscar sekaligus mantan wanita prostitusi yang bertransformasi menjadi pembunuh berantai (Charlize Theron), hingga pengidap short-term memory loss (Guy Pearce) yang entah mengapa tiba-tiba menjadi seorang kakek keriput di film ini.

Lantas, apakah para castnya tersebut mampu menjalankan tugasnya dengan baik? Ya, tentu. Di barisan terdepan, ada Noomi Rapace yang mirip dengan karakter Ripley-nya Sigourney Weaver. Sifatnya memang bertentangan dengan Ripley yang tangguh, tapi tetap karakter Shaw yang religius dan lebih feminim ini berhasil hidup berkat tiupan roh dari Noomi Rapace, sangat bertolakbelakang dengan seorang Lisbeth Salander (karakternya di The Girl with the Dragon Tattoo) yang eksentrik dan jauh dari kata religius. Scott juga masih menggunakan beberapa unsurnya dalam Alien selain karakter utama wanita, seperti dengan kemunculan kembali karakter android, namun dengan porsi dan kontribusi cerita yang lebih banyak. Sebagai David si robot android tanpa emosi, ada Michael Fassbender yang tampil dengan sangat meyakinkan.


Anda dapat menyebut film ini apa saja. Reboot hingga prekuel, terserah anda. Film ini memang tak punya banyak adegan thrilling seperti saudara-saudara tirinya. Meski begitu, Prometheus tetaplah sebuah thriller yang asyik dikendarai dan dinikmati, dengan cerita yang lebih dalam dan mengalir lambat, castnya yang mampu tampil baik, dan intensitas yang juga terjalin pelan, hingga misteri-misteri menarik yang ditinggalkannya, meski memang ada beberapa adegan yang sedikit membingungkan penonton. 

Jelasnya, Prometheus mampu mengubah pandangan anda yang selalu menganggap film fiksi sains dan 3D masa kini hanyalah sekedar buang-buang dollar lewat teknologi CGI dan 3D-nya. Ya, anda akan beranggapan sama seperti saya, jika saja membuang jauh-jauh ekspektasi tinggi yang mengharapkan sebuah film full-action. Jika anda berhasil melupakannya, percayalah, anda akan menikmati petualangan para pencari tuhan ini. Dengan segala yang ia punya, Prometheus mampu menjelma menjadi salah satu science fiction terbaik di tahun ini!

8.0/10

2 comments:

  1. Kemarin saya sempet nonton film ini, ampe di akhir film ternyata masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Ane masih penasaran tentang asal-usul Xenomorph dan hubungannya dengan The Engineer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya sekuelnya baru keluar 2 tahun lagi, jadi sabar2 nunggu aja dulu hehe. Kelihatannya jg, untuk tahu semua jawabannya harus menunggu lg Prometheus-Prometheus yang lain ya :)

      Delete