300x250 AD TOP

Friday, October 26, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Citizen Kane (1941)

"You're right, I did lose a million dollars last year. I expect to lose a million dollars this year. I expect to lose a million dollars next year. You know, Mr. Thatcher, at the rate of a million dollars a year, I'll have to close this place in... 60 years." ~ Charles Foster Kane

Orson Welles adalah seorang jenius. Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang aktor kawakan, tapi ia juga merupakan seorang sutradara sekaligus penulis naskah. Kiprahnya sebagai seorang sutradara sekaligus screenwriter juga tak dapat diremehkan sama sekali. Sepanjang hidupnya, ia telah membintangi lebih dari 100 judul film. Ia juga telah menyutradarai dan menulis naskah di lebih dari 40 judul film. Sebut saja, Touch of Devil, F for Fake, hingga Mr. Arkadin.

Dari seluruh karyanya, Citizen Kane lah yang terpopuler sekaligus terfenomenal, bahkan mungkin bisa juga dianggap karyanya yang terbaik. Berkat film rilisan 1941 yang juga di produseri sendiri ini, Orson Welles dan Herman J. Mankiewicz sempat membawa pulang sebuah Oscar untuk Best Original Screenplay, dan sempat dinominasikan untuk 8 kategori lain, seperti Best Picture, Best Actor, dan Best Director. 


Kehidupan Charles Foster Kane (Orson Welles) memang merupakan kehidupan idaman bagi setiap orang. Sosoknya benar-benar fenomenal. Ia merupakan seorang pemilik media massa yang kaya raya. Bahkan, ia tinggal di sebuah istana super megah, yang bernama Xanadu. Sampai kematiannya pun, ia masih sempat-sempatnya membuat kehebohan. Namanya terpampang di seluruh headline surat kabar dunia. Tapi, kematian  Kane memang masih menyisakan misteri. Bukan, ia tidak dibunuh seseorang dengan trik yang takkan terpecahkan. Misteri itu datang kata terakhir dari mulutnya sendiri, 'rosebud'. Entah apa arti kata itu, tetapi jelas ini menimbulkan tanda tanya besar.

Seorang wartawan, Jerry Thompson (William Alland), merupakan salah satu yang penasaran dengan kata itu. Ia pun mencoba menyusuri satu-persatu orang dalam kehidupan Foster Kane, dari  manajer bisnis, Mr. Bernstein (Everett Sloane), sahabatnya, Jedediah Leland (Joseph Cotten), mantan istri, Susan Alexander (Dorothy Comingore), hingga kepala pelayannya di Xanadu, Raymond (Paul Stewart), hanya demi mengetahui makna kata 'rosebud' tersebut. Lewat orang-orang tersebut, kita dapat menyelami kehidupan Foster Kane, dari masih kanak-kanak hingga akhri hayatnya. Namun, akhirnya, apakah misteri ini dapat terpecahkan?


Naskah hasil Orson Welles bersama Herman J. Mankiewicz memang menjadi faktor utama kokohnya film ini. Plot awalnya sebenarnya sederhana, mencari arti kata terakhir dari seorang milyuner dunia lewat kisah-kisah masa lalu yang diceritakan oleh orang-orang terdekat Kane. Namun, makin lama kita menontonnya, maka makin dalam pula kita dapat menyelam ke kehidupan seorang Charles Foster Kane. Flashback-flashback tersebut disampaikan dengan begitu detail. Bagaimana Kane menjalani pilihan hidupnya yang kerap kali tak terduga dan aneh. Dari kisahnya sebagai seorang bocah desa, hingga lika-liku percintaannya yang rumit, sampai keterlibatannya dalam dunia politik.

Sudah suatu hal yang pasti, bahwa kisah-kisah masa lalu seorang Kane, tak akan sukses disampaikan tanpa adanya editing yang baik. Lewat tangan dingin seorang Robert Wise, yang kebetulan juga seorang sutradara dari film musikal pemenang Oscar Best Picture 1966, The Sound of Music, semua itu berhasil terwujud. Seluruh jalinan kisah mampu terjalin dengan erat dan tanpa harus membingungkan penonton.


Sinematografi yang ditawarkan Citizen Kane juga tampil dengan sangat menawan nan cantik. Seluruh angle-angle juga pergerakan-pergerakan kamera hasil arahan dari Gregg Toland memang sangat indah, terlebih untuk di zamannya. Dengan perpaduan sinematografi indah dengan format hitam putih, plus pencahayaan yang terasa sangat pas, membuat Citizen Kane menjadi salah satu rekomendasi bagi anda yang mendambakan keindahan sinematik ala film klasik.

Dalam departemen akting, Citizen Kane juga sangat unggul. Tentu, Orson Welles, yang menjadi pemeran utama memberikan kontribusi paling dominan di antara lainnya. Isi kepalanya yang sulit ditebak memang selalu menarik perhatian siapa pun. Perannya sebagai milyuner super kaya ini pun, dinominasikan Best Actor di ajang perhelatan Oscar 1942. Selain Orson Welles, Citizen Kane juga dilengkapi oleh berbagai aktor lain. Hebatnya, sebagian aktor ini merupakan orang yang baru mengenal film. Bukan hanya peran kecil saja, tetapi juga untuk peran-peran yang lumayan besar.


Di antaranya adalah Joseph Cotten, Dorothy Comingore, William Alland, Paul Stewart, Ruth Warrick, Ray Collins, hingga Everett Sloane. Meskipun terbilang merupakan nama baru di perfilman Hollywood pada masa itu, nama-nama ini rupanya mampu memberikan penampilan baik, yang dapat mengimbangi sang aktor utama, Orson Welles. Sebut saja Joseph Cotten sebagai Jedediah, sahabat sakaligus rekan Kane, meski akhirnya hubungan mereka sempat retak, memberikan penampilan yang baik. Si istri kedua Kane, Susan Alexander yang diperankan Dorothy Comingore juga mampu memberikan penampilan menariknya sebagai seorang penyanyi opera yang sering mendapat cercaan dari ulasan Jedediah di surat kabar atas penampilannya.

Dalam menyelami setiap potongan-potongan kehidupan Charles Foster Kane, kekuatan make-up tentu sangat diperlukan. Makeup hasil karya Maurice Seiderman memang memukau. Dari masa-masa Kane sewaktu muda, hingga Kane tua berhasil diinterpretasikan dengan baik. Begitu pula hampir keseluruhan aktor film yang juga mendapatkan penampilan meyakinkan dalam makeupnya, seperti Joseph Cotten dan Dorothy Comingore. 


Xanadu, dengan segala isinya yang super mewah memang merupakan satu dari sekian banyak art-direction memukau dalam Citizen Kane. Sama seperti aspek lainnya, seluruh art-directionnya juga dapat ditawarkan dengan sangat baik dan meyakinkan. Rasanya tak akan ada yang menyangkal bahwa set decoration dalam film yang satu ini memang luar biasa. Tak heran, jika Oscar saja memberikannya 1 nominasi untuk Best Art-Direction

Tak hanya itu, scoring yang ada dalam Citizen Kane juga memukau. Bernard Herrmann memang selalu juara dalam hal scoring film. Scoring hasil karyanya pun tak terkesan monoton, terkadang, scoring film ini dapat terdengar komikal, namun terkadang pula, dapat terderngar dramatik, lembut, bahkan hingga menggebu-gebu sampai sedikit mencekam. Sebuah perpaduan berbagai jenis scoring ini jelas mampu membantu membangun intensitas dan konflik mendalam.


Mungkin, hal yang paling menarik dari Citizen Kane adalah endingnya. Ya, siapa sih yang tak ingin mengetahui makna kata 'rosebud' sebenarnya? Dalam hal ini, Orson Welles lebih memilih sebuah ending terbuka untuk mengakhiri petualangan Thompson. Ya, Welles membiarkan penontonnya menginterpretasinya sendiri dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di akhirnya. Sebenarnya, jawaban yang Welles berikan pada penonton tidaklah terlalu rumit, namun rupanya punya arti dan moral yang sangat mendalam.

Citizen Kane memang hampir sempurna dari segala sisi. entah itu art direction, departemen akting, naskah, make-up, sinematografi, editing, musik, hingga ending yang digarap dengan begitu baik. Citizen Kane bukan hanya sekedar bercerita tentang perjalanan hidup seseorang, lebih dari itu, Citizen Kane telah berhasil memberikan suatu esensi mendalam di setiap rangkaian ceritanya. Sebuah hakikat tentang kebahagiaan manusia yang terbungkus dalam seorang Kane. Itu semua menjadikan Citizen Kane menjadi salah satu tonggak sejarah terpenting dalam sejarah perfilman dunia, khususnya, masa emas Hollywood. Juga menjadikan Orson Welles menjadi seorang legenda, yang jasanya tak akan pernah terlupakan hingga kapanpun.



2 comments:

  1. #SPOILER ARLET
    mas admin, maksut endingnya itu apa toh? itu papan seluncur waktu dia masih miskin kan?

    ReplyDelete
  2. #SPOILER ALERT!
    Iya, itu emg slednya wkt kecil. Maksudnya, meski dia udah punya harta yg gk bakal abis, rumah segede istana, plus istri super cantik, tapi ia sampai hari kematiannya (hampir) gak pernah bahagia. sled yg ada tulisan 'rosebud' disini melambangkan memori masa kecilnya yg bahagia, sama kyk snowglobenya. Makanya waktu di scene dia hancurin smw barang, cm snowglobe yg dia gk hancurin, krn itu ngingetin dia sm masa kecilnya. Sampai akhir hayatnya pun, memori yg diingat Kane cm masa kecilnya itu alias rosebud, hehe :)

    ReplyDelete