300x250 AD TOP

Friday, June 13, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Maleficent (2014)

"Oh dear, what an awkward situation." ~ Maleficent

Siapa tak kenal tahu Sleeping Beauty? Kisah klasik yang pernah difilmkan oleh Disney pada tahun 1959 ini sampai sekarang memang dikenang sebagai salah satu film terbaik Disney. Tahun ini, kisah itu kembali, namun hadir dengan sudut pandang berbeda. Bukan lagi berpusat pada kisah Aurora, melainkan memusatkannya pada perspektif sang antagonis, Maleficent. Dengan kulit hijau, penampilan gothic, serta rasa tak kenal ampunnya, Maleficent memang dikenal sebagai salah satu villain tersohor dari universe Disney. Dan, kini ia hadir lewat naskah dari Linda Woolverton dan arahan dari sutradara Robert Stromberg.

Di awal kisah, narasi yang dibacakan Janet McTeer memperkenalkan penonton dengan seorang peri kecil baik hati bernama Maleficent (Isobelle Molloy) yang tinggal di Moors, wilayah penuh makhluk aneh yang memisahkan mereka dengan dunia manusia. Suatu hari, ia bertemu seorang anak manusia bernama Stefan, di mana hubungan mereka akhirnya berkembang dari pertemanan menjadi percintaan. Tapi, ketika keduanya telah dewasa, ambisi Stefan untuk menaklukkan kerajaan manusia membuatnya berhenti mengunjungi Maleficent (Angelina Jolie). Tak sampai disitu, demi menjadi seorang raja dan membalaskan dendam King Henry yang sakit-sakitan kepada Maleficent yang menggagalkan langkahnya dalam menaklukkan Moors, ia akhirnya memotong sayap Maleficent dan meninggalkan Maleficent dalam dendam.


Maleficent yang kehilangan sayap, kini larut dalam sakit hati dan kesedihan, yang membuat hatinya menjadi hitam dan penuh dendam terhadap manusia, khususnya King Stefan. Rasa sakit hati dan dendamnya makin menjadi, saat Stefan menikah dengan putri King Henry, apalagi ketika ia diberitahu oleh tangan kanannya, Diaval (Tom Riley), bahwa kerajaan akan mengadakan pembaptisan besar-besaran terhadap Aurora, anak King Stefan yang baru saja lahir. Di tengah meriahnya acara, Maleficent datang secara tiba-tiba dan memberikan 'hadiah' kepada Aurora, bahwa ia akan jatuh tertidur selamanya dan hanya dapat dibangunkan oleh true love's kiss.

Breaking the rules dalam industri film sekarang ini memang sedang marak. Lihat Frozen, Despicable Me, atau yang sangat ekstrim: The Cabin the Woods. Hal yang sama dilakukan pula oleh Maleficent, meski reaksinya memang campur aduk. Yeah, i mean, it's Maleficent. Who's supposed to be evil as hell, who's supposed to have no heart, who's supposed to be a villain. Perubahan signifikan yang ada dalam filmnya mungkin mengganggu bagi sebagian orang, tapi mungkin yang ingin melihat Maleficent sebagai sosok antihero yang belum pernah kita lihat sebelumnya, pasti dapat menerimanya. Lagipula, perubahan ini dimaksudkan untuk mencapai nilai moralnya tentang true love dan sebelumnya kita telah diwarnai latar belakang sang peri jahat yang dulunya merupakan seorang innocent little fairy. Bagaimana dengan saya? Well, i don't really mind it anyway, it's kind of fun to see Maleficent as a nicer person, as a human, and as a villain, all at once. Am i the only one? 


But, here's one thing. Kalau menarik ide aslinya yang berasal dari Sleeping Beauty, idenya mungkin terlampau lancang dan berani dalam membongkar-pasang kisah Maleficent yang telah kita kenal selama ini. Tapi, kembali lagi, hal itu sebenarnya kembali ke penilaian penonton yang bisa menerimanya maupun tidak. Saya sendiri, cukup menerima kelembutan yang ditawarkan Maleficent, meski sayangnya, hal itu terkesan ditambahkan dalam porsi yang berlebihan, hingga banyak merenggut sisi villain kejam yang selama ini selalu (dan harus) identik dengan sosok Maleficent. Ya, sekalipun tapi Maleficent tetap saja berhasil meraih simpati saya sebagai sisi hero maupun sisi villain, penampilan sangar dari sang villain sejati terkesan terabaikan dengan sisi humanis yang mungkin terlalu manis.

Tapi, masalah utama bagi saya bukanlah datang dari lancang atau tidaknya perubahan yang dilakukan, namun terlalu bertele-telenya naskah racikan Linda Woolverton. Narasi yang dibacakan Janet McTeer dengan berwibawa di awal film memang amat memikat, bagian awalnya memperlihatkan sisi Maleficent kecil yang tentu masih asing bagi kita terasa manis, kisah bagaimana seorang Maleficent kehilangan sayapnya penuh kepedihan, hingga di saat sang villain mengutuk Aurora di acara pembaptisannya dengan bahasa tubuh khas villain. Tapi, dari situ Linda mulai menawarkan rangkaian kisah yang cukup bertele-tele. Entah mungkin maksudnya hanya untuk mengisi durasi 97 menitnya atau menumbuhkan chemistry Aurora-Maleficent, namun memang cukup mengganggu melihat Maleficent yang hanya duduk dan melihat Aurora kecil yang tumbuh sambil mengerjai 3 peri kecil yang merawatnya (it's funny though).


Hal repetitif ini jelas dapat menghalangi banyak hal, terutama dalam memberikan ruang bagi karakter lain untuk berkembang. Pangeran Phillip yang diperankan Brendon Thwaites hanya sekedar muncul dan 'sekali lewat' saja. Akibatnya, chemistry yang terjalin dengan Aurora pun hanya 'sekali lewat' pula, dan twist yang coba dihadirkan pun dapat diterka sebelumnya (meski twist-nya sendiri memang tak baru dan ide dibaliknya memang pernah dipakai dalam salah satu film Disney). Sementara itu, King Stefan yang harusnya menjadi villain sebenarnya dan menjadi motivasi terkuat Maleficent dalam membalaskan dendamnya, hadir dengan waktu yang kurang dalam menunjukkan tajinya sebagai seorang raja haus kekuasaan.

Ya, dan banyaknya kekurangan ini, kekuatan seorang Angelina Jolie bekerja. Ia jelas merupakan bagian terbaik dari semua yang Maleficent bisa tawarkan. Lengkap dengan penampilan yang begitu mendukung: tanduk spiral panjang berbalut headdress hitam yang menawan, mata tajamnya yang cantik namun menunjukkan citranya sebagai seorang villain, lipstick merah merona yang makin menegaskan posisinya, hingga tulang pipi menonjol itu, Jolie jelas tak menyia-nyiakan hal itu dengan menunjukkan performa luar biasa, yang kalau boleh jujur, performa terbaik yang pernah saya lihat di tahun ini, dan pastinya salah satu performa terbaik yang pernah pemenang Oscar ini tawarkan (even though i haven't watched Changeling and Girl, Interrupted yet, what a shame).


Angelina Jolie adalah nyawa dan bintang yang bersinar terang. Ya, tak ada yang mampu menghidupkan setiap dialog, termasuk dialog sesederhana 'Well, well,' dan memberikan aroma gloomy yang luar biasa. Di awal, kita diperlihatkan ketangguhan Jolie dengan gaya bicaranya yang tegas dan garang namun tetap anggun dengan kedua sayap cantiknya. Kita dapat melihat dengan jelas betapa pedihnya ia ketika harus menerima kenyataan bahwa sayapnya telah dicuri, tapi bukan sekadar itu, kita juga dapat melihat kepedihan setelah dirinya dikhianati. Lalu, lihat bagaimana ia bertransformasi menjadi peri jahat berbalut pakaian serba hitam, dengan tatapan tajam dan senyumnya yang infeksius, lengkap dengan intonasi yang mampu membuat siapapun bergidik hanya dengan mendengarnya. A+ for you, Jolie!

Sekalipun saya tak terlalu mempermasalahkan langkah Linda Woolverton dalam mengubah konstruksi kisah aslinya, sayangnya langkah untuk mengubah Maleficent menjadi antihero ini terlalu jauh dengan porsi yang mampu menutupi sisi jahat Maleficent itu sendiri. Tapi, masalah utama ada dalam cara film ini mengantarkan penonton menuju konklusinya. Awalnya tergolong sukses, namun lama-kelamaan, langkahnya sangat repetitif dan bertele-tele, yang mengakibatkan beberapa karakter menjadi mentah dan twist-nya cukup predictable, karena keputusan Robert Stromberg yang terlalu asyik bermain-main dengan Maleficent-nya. But, thank God, ada Angelina Jolie yang bermain sangat apik dan magical sebagai Maleficent yang didukung pula oleh kekuatan CGI yang megah. Ya, potensinya begitu besar: sebuah penghidupan kembali kisah klasik yang diambil dari perspektif berbeda, bukan sembarang sudut pandang, namun datang dari perspektif sang antagonis. Sayang, potensinya terenggut dengan naskah mentah, tapi, untungnya Angelina Jolie hadir sebagai penyelamat di tengah potensi yang tak berhasil dieksekusi dengan baik.


0 comments:

Post a Comment