300x250 AD TOP

Saturday, January 28, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Suicide Club (2001)

"They're not the enemy." ~ Toshiharu Kuroda

Siapa yang tak kenal Shion Sono? Sutradara Jepang ini memang terkenal karena kesintingannya dalam menyutradarai film, salah satnya adalah Suicide Club. Tap, tenang, 'sinting' disini bukanlah arti sebenarnya. Sama seperti sutradaranya, Suicide Club juga merupakan satu film asal Jepang yang sinting. Jepang memang dikenal dengan industri perfilmannya yang kreatif dari segi ide cerita. Entah mengapa sineas-sineas film dari negeri sakura ini tak pernah kehabisan akal untuk memuaskan para penontonnya. Tak terkecuali bagi Suicide Club. Plot yang unik dan super duper absurd plus gore gila-gilaan menjadi satu paket lengkap yang dimiliki Suicide Club.


Film dibuka dengan opening scene paling memorable yang pernah saya liat. Sekumpulan pelajar dari berbagai sekolah berkumpul di sebuah stasiun kereta api. Tak ada yang aneh dari mereka, mereka terlihat seperti remaja Jepang biasa. Hm, tapi tunggu dulu, saat kereta api hampir sampai di stasiun tersebut, tiba-tiba ke-54 gadis-gadis tersebut berbaris di depan rel kereta, kemudian saling berpegangan tangan, lalu berhitung dengan nada childish. Saat kereta lewat, saat itu juga kesemua pelajar tersebut tiba-tiba meloncat ke rel, dan....... "Blam!", muncratan darah, kepala pecah, potongan-potongan tubuh dan berbagai adegan sadis lainnya seketika itu juga memenuhi layar. Wow, what a beautiful way to die.

Tapi ternyata peristiwa mengerikan ini bukanlah yang terakhir. Kisah tersebut masih berlanjut. Puluhan bahkan ratusan remaja mengikuti jejak mereka tanpa alasan yang jelas. Apa yang ada dibalik ini semua?


Suicide Club atau Jisatsu S√Ękuru dalam bahasa Jepang, memang merupakan film yang cerdas. Shion Sono selaku sutradara tahu betul bagaimana cara membuat film ini menjadi aneh, absurd, gila, tapi tetap membekas di hati penontonnya. Tapi, dengan satu syarat, putar otak. Jalan cerita yang disajikan Sono memang membuat penontonnya bingung (termasuk saya). Tapi, disitulah sensasinya. Kita seolah diajak untuk bermain puzzle rumit dan harus menyusunnya kembali ke tempat yang benar. Dan itu bukan hanya sekali, hampir disetiap menitnya, Sono menebarkan misteri-misteri yang bagi beberapa orang memang tak masuk diakal. Tapi, jangan disangka kita akan mengetahui seluruh kenyataan di akhir film, justru sebaliknya, ia tetep saja menebar misteri-misteri absurd. Sono ternyata memang benar-benar sinting (kali ini dalam arti sebenarnya), seolah tak mau peduli dengan keadaan penontonnya yang mungkin sedang memutar otak dengan keras. Tapi tenang, jika anda gagal, Sono masih berbaik hati kepada anda, karena ia juga telah memberikan sedikit clue kepada kita lewat Noriko's Dinner Table, sekuel sekaligus prekuel bagi Suicide Club.


Yang pasti, Suicide Club merupakan film yang luar biasa. Atmosfer yang dibangun Sono benar-benar kelam dan misterius. Sejalan dengan itu, plotnya pun tak mungkin bisa kita lupakan. Sinting dan absurd. Tapi, justru itulah daya tarik Suicide Club. Tapi, sekeras apapun anda memutar otak, pada akhirnya, masih banyak beberapa bagian yang masih menjadi misteri.

Entah dari mana pula datangnya ilham mengenai ide cerita super gila ini. Tak ada yang tahu apa yang ada di dalam otak Shion Sono, termasuk saya. Namun, mungkinkah Shion Sono memiliki sel otak abu-abu layaknya Hercule Poirot? Hm, mungkin saja. 

0 comments:

Post a Comment