300x250 AD TOP

Sunday, August 12, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Psycho (1960)

"Mother! Oh God, mother! Blood! Blood!" ~ Norman Bates

Memang sangat tak salah jika menyebut Alfred Hitchcock sebagai 'The Master of Suspense'. Sutradara kelahiran 13 Agustus 1899 ini memang mendunia berkat karya-karya suspensenya. Tercatat, ia bahkan telah menyutradarai lebih dari hampir 70 judul film dan tv series. Dari seluruh karyanya, ada beberapa yang begitu diingat para pecinta film, seperti Rear Window, Vertigo, The Bird, Dial M for Murder, serta North by Northwest merupakan film-film thriller klasik jenius yang sampai sekarang pun tak tergerus oleh jaman. 

Dari kesemua karyanya tersebut, mungkin Psycho merupakan karya jeniusnya yang paling diingat. Selain disutradari oleh Hitchcock, naskah film ini ditulis oleh Joseph Stefano. Filmnya sendiri merupakan adaptasi dari novel tahun 1959 berjudul sama karya Robert Bloch. Film yang rilis tahun 1960 dan berformat hitam putih ini mungkin memang memiliki momen momen paling memorable dari Hitchcock. Ada dua momen paling memorable sebenarnya dalam film ini, yaitu shower scene-nya serta... ah, tak istimewa rasanya jika saya beritahu secara blak-blakan di sini.


Wajah cantik dan tubuh langsing terawat, masih muda pula seakan merupakan senjata utama yang dapat membuat setiap wanita iri pada Marion (Janet Leigh). Tapi jangan tertipu dengan wajah cantik serta pakaian   putinya yang terasa begitu angelic itu. Seminggu sudah ia menghilang setelah mencuri uang milik klien bosnya.  Lila Crane (Vera Miles), kakaknya serta kekasih Marion, Sam Loomis (John Gavin) mencarinya. Bersama dengan seorang detektif swasta, Milton Arbogast (Martin Balsam), mereka berusaha mencari keberadaan Marion.

Penyelidikan Milton membawanya ke sebuah motel kecil yang dimilik sekaligus dikelola oleh Norman Bates (Anthony Perkins) yang tinggal berdua bersama ibunya di rumah besar yang terletak di belakang motel. Motelnya sendiri biasanya saja, tak ada sesuatu yang terlalu misterius. Kesan misterius malah ditampakkan oleh rumah besar 3 lantai milik keluarga Bates yang hanya ditempati Norman dan ibunya. Bukan hanya rumahnya, penghuninya, Norman serta ibunya pun tak kalah misteriusnya.


Di sisi lain, Lili bersama Sam memutuskan untuk berdiri sendiri untuk mencari keberadaan Marion. Dengan menyamar menjadi suami istri, mereka menginap di motel kecil milik Norman tadi. Mereka pun akhirnya menyelidiki kamar Marion dan menemukan sesuatu yang misterius. Tetapi, itu belum seberapa misteriusnya ketimbang apa yang akan mereka lihat nantinya.

Jenius. Setelah 109 menit menonton film ini, hanya kata itulah yang terucap dalam hati saya. Rasanya memang tak berlebihan orang-orang di luar sana yang mengelu-elukan film ini. Film ini memang tipe film yang mengajak penontonnya berpikir dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun saya yakin, bagi yang menonton film ini tanpa mengetahui spoilernya terlebih dahulu serta tak pernah menonton film sejenis, akan menebaknya dengan tidak tepat.


Setiap adegan thrill-nya selalu ditemani dengan tata musik yang psychedelic (ya, akhirnya saya tahu namanya) yang apik. Tata musik karya Bernard Herrmann yang membuat detak jantung bertambah cepat itu berhasil membawa saya ke sebuah suasana yang begitu menegangkan. Apalagi, scoring yang berada di ending juga shower scene. Tak hanya karena psychedelicnya yang begitu terasa, namun juga scene itu merupakan salah satu scene yang paling memorable, mengejutkan, sekaligus membuat penasaran. Ah, tapi bagi saya shower scene-nya memang merupakan scene yang paling fenomenal.

Tak hanya itu, sinematografi yang didukung oleh formatnya yang hitam putih itu juga turut andil dalam memberikan suasana menegangkan. Ya, meski sebenarnya Hitchcock mengaku bahwa alasan mengapa film ini berformat hitam putih adalah untuk menekan budget film serta mengurangi unsur gory dalam film. Hasilnya, film ini 'hanya' berbudget US$800.000, namun berpendapatan berkali-kali lipatnya, yaitu di atas angka 40 juta, dalam dollar tentunya.


Namun, entah mengapa, saya malah merasakan bahwa efek hitam putih ini sangat berperan untuk menambah ketegangan dan suasana misteriusnya. Efek hitam putih ini dapat dirasakan di endingnya, bahkan sinematografi tersebut lebih 'menggigit' lagi dapat anda temui saat 'shower scene', terlebih didukung oleh angle-angle yang tampak begitu apik di mata penonton. Tak ayal lagi, sinematografi arahan John L. Russell berhasil masuk nominasi Best Cinematography di ajang Oscar 1961, meski harus mengakui keunggulan sinematografi dari Sons and Lovers.

Tentu saja saya tak akan lupa membahas departemen aktingnya. Seluruh jajaran pemainnya berhasil bermain dengan sangat baik, terlebih bagi Janet Leigh serta Anthony Perkins. Janet Leigh bahkan dinominasikan untuk Best Supporting Actress, tentu saja di Oscar 1961. Anthony Perkins? Best momentnya sendiri berada di menit terakhir film. 


Psycho merupakan pelopor film-film thriller psikologis. Setelah film ini rilis dan mendapat sambutan hangat dari banyak orang, banyak bermunculan film-film yang thriller serupa bahkan hingga saat ini. Namun, tetap saja tak ada yang mampu mengalahkan pesona film ini sendiri, bahkan sekuel dan juga remakenya. 

Film ini seakan menjadi legenda yang tak akan tergerus oleh jaman, yang akan diingat terus bahkan sampai berabad abad kemudian. Ending mengejutkan, murder scene yang begitu memorable, scoring juara, sinematografi apik, hingga akting ciamik semua menjadi satu dalam film ini. Ah, tentu saja, penyutradaraan yang juga tak kalah apiknya. Sebuah karya jenius dari seorang sutradara jenius pula, Alfred Hitchcock. 

9.0/10

1 comments: