300x250 AD TOP

Sunday, May 19, 2013

Tagged under: , , , , , ,

[Review] What Ever Happened to Baby Jane? (1962)

"Oh... Blanche? You know we've got rats in the cellar?" ~ Baby Jane Hudson

Tahun 1962 tentu merupakan salah satu tahun penting bagi perfilman Hollywood. Lihat saja para nominator Oscar dalam kategori Best Picture kala itu. Ada The Music Man, The Longest Day, Mutiny on the Bounty, dan tentu saja dua film yang mungkin paling diingat, To Kill a Mockingbird serta pemenang film terbaik kala itu, Lawrence of Arabia. Tak hanya sampai nominator Best Picture saja, beberapa film diluar nominasi pun tak bisa dianggap sebelah mata. Di tahun ini pula, Stanley Kubrick merilis sebuah drama romansa Lolita, dan tentu saja film psychological thriller horror ini, What Ever Happened to Baby Jane?

'What Ever Happened to Baby Jane?' merupakan sebuah adaptasi novel berjudul sama karya Henry Farrell. Nama Robert Aldrich hadir sebagai sutradara, sementara naskah film ini ditulis oleh Lukas Heller. Filmnya sendiri menandai kolaborasi 2 aktris besar pemenang Oscar, Bette Davis dan Joan Crawford, yang kabarnya memang berseteru di dunia nyata, bahkan jauh sebelum dibuatnya film ini. Film ini membawa pulang 1 Oscar dalam kategori Best Costume Design khusus film hitam-putih, dan hampir saja menggondol piala emas kategori Best Actress untuk Bette Davis, setelah dikalahkan oleh Anne Bancroft dalam film The Miracle Worker. 


Apa yang pernah terjadi terhadap Baby Jane? Tunggu dulu, sebelum menjawab pertanya tersebut, mungkin seharusnya dibuka dengan pertanyaan seperti ini, "Siapa Baby Jane?". Di masa kecilnya, Baby Jane Hudson (Julie Allred), adalah seorang bintang cilik yang terkenal. Saking terkenalnya nama Baby Jane, bahkan pernah dirilis sebuah boneka yang hampir seukuran dirinya dengan wajah dan penampilan yang sama. Namun, ketenaran Baby Jane tak diiringi dengan sifatnya yang baik. Di sisi lain, Baby Jane juga memiliki seorang saudari, Blanche Hudson (Gina Gillespie) yang ternyata menyimpan rasa iri terhadapnya.

Ketika beranjak dewasa, Baby Jane dan Blanche tumbuh menjadi aktris. Namun, nasib telah berbalik, Blanche menjadi seorang aktris yang lebih sukses dan tenar, sementara film-film yang dibintangi Baby Jane gagal di pasaran. Hal ini tentu kembali menumbuhkan tabiat buruk Jane, puncaknya, saat ia menabrak Blanche dengan mobil, yang mengakibatkan Blanche menjadi lumpuh. Sampai hari tuanya pun, Jane (Bette Davis) yang telah menjadi alkoholik berat, ternyata masih menyimpan dendam besar terhadap Blanche (Joan Crawford), terlebih saat ia harus repot-repot mengurus saudaranya itu. Ditambah dengan kondisi kejiwaan Jane yang goyah, ia pun mulai melakukan tindakan-tindakan kasar terhadap Blanche.


Plot dalam What Ever Happened to Baby Jane? sebenarnya tak terlalu berliku. Sepanjang film, ia hanya menyorot kehidupan 2 bersaudari yang salah satunya menderita gangguan jiwa akut. Namun, kita harus berterima kasih pada Lukas Heller, yang menulis naskah hebat untuk film ini. Berbekal naskah tanpa celahnya ini, What Ever Happened to Baby Jane? pun berhasil melenggang mulus dalam setiap durasinya. Satu-satunya yang saya rasakan sebagai kelemahan dari naskah garapan Heller ini adalah naskahnya yang terasa terlalu berlama-lama dalam 2/3 bagiannya yang lebih cenderung ke psychological drama, sebelum beralih tone menjadi lebih menegangkan. Ya, meski begitu, tentu hal ini juga makin mempertajam karakterisasi, khususnya bagi karakter Baby Jane serta Blanche, dan akhirnya malah berbalik menjadi suatu kekuatan tersendiri.

Bagaimana Robert Aldrich mengarahkan film ini juga begitu luar biasa. Dibalik kisahnya yang sebenarnya tak terlalu kompleks, ia berhasil mengubahnya menjadi sebuah tontonan drama thriller yang lumayan panjang,  namun tetap dapat membuat saya duduk setia hingga akhir film, dan yang terpenting, selama 133 menit, film ini tak kehilangan its depth. Perubahan tone yang ia lakukan dari bagian drama ke porsi thriller/horror juga dilakukannya dengan sangat meyakinkan, namun tetap dengan pergerakan yang halus dan cukup perlahan. Penggambaran Aldrich guna membangun intensitas juga harus diacungi jempol. Tak ada banyak darah yang ia ekspos, namun dengan lebih memfokuskan kisahnya pada konflik dan hal-hal psikologis.


Film berjudul panjang ini juga didukung oleh cast yang hampir sempurna (kalau tak mau dibilang sempurna). Bette Davis mencuri setiap scene di mana ia muncul, apalagi didukung oleh karakternya yang sangatlah memorable. Bette Davis bukan lagi memerankan seseorang antagonis dengan mental goyah, manipulatif, pembual, obsesif, egois, diktator, dan tampak kuat (meski sebenarnya rapuh), namun ia sudah mampu menjadikan tabiat-tabiat buruk itu layaknya telah menjadi bagian dari dirinya, terlihat dari pergerakan mata, mimik wajah, gesture, gaya bicara, dan segalanya. Seandainya saja The Miracle Worker (di mana Anne Bancroft memenangkan Oscar untuk Best Actress) dirilis di tahun yang berbeda dengan film ini, maka sudah pasti Bette Davis akan memenangkan Oscar ketiganya dalam nominasi Oscar terakhirnya ini. Anyway, you nailed it, Ms. Davis!

Joan Crawford yang tampil lebih emosional juga mampu menghidupkan karakternya dengan sangat baik. Meski kerap kali Bette Davis terlihat lebih menonjol ketika mereka berdua muncul di layar, namun Joan Crawford tetap dapat mengimbanginya dengan kemampuan akting yang tak perlu diragukan lagi. Joan Crawford pun dengan sukses mampu menjalin chemistry kokoh dengan Bette Davis. Dengan karakter yang harus berada di atas kursi roda hampir sepanjang film, tentu membatasi ruang gerak Joan Crawford, karena tak bisa melakukan beberapa gesture yang mungkin akan membuatnya tampil lebih baik dan emosional, namun nyatanya, tanpa harus meninggalkan kursi rodanya. Dan apa yang terjadi saat Crawford meninggalkan kursi rodanya dan mengeluarkan seluruh kemampuannya? Even better!


Selain Davis dan Crawford, ada pula doplegรคnger dari Jason Segel, Victor Buono, yang memerankan Edwin Flagg, juga tak kalah bagusnya. Chemistry yang dibangunnya bersama Bette Davis juga terjalin dengan sangat erat. Porsinya sendiri memang kecil, namun kontribusi yang perannya berikan dalam film ini sangatlah besar, terutama dalam pengokohan karakter Baby Jane. Hasilnya pun memuaskan, ia berhasil membuahkan sebuah nominasi Oscar untuk Best Supporting Actor. Jangan lupakan pula Maidie Norman sebagai pembantu mereka, Elvira Stitt, serta Marjorie Bennett sebagai ibu Edwin Flagg, Dehlia Flagg. Meski sekali lagi, perannya kecil, tetapi saja mereka tetap dapat menunaikan tugasnya dnegan sangat baik.

What Ever Happened to Baby Jane? tak hanya berhasil membuat tontonan berkualitas berkat cast, pengarahan, dan naskah saja. Ia juga berhasil dalam urusan-urusan yang bagi sebagian orang mungkin tak terlalu penting, teknis. Desain kostumnya tentu tak usah dibacarakan, kemenangan Oscarnya telah berbicara banyak, walaupun kostumnya mungkin akan dianggap biasa saja kalau filmnya rilis akhir-akhir ini. Namun, hal yang paling outstanding dari film ini tentu saja dari original score karya Frank De Vol. Seperti kebanyak film klasik, film ini memang menggunakan score-score yang bukan hanya dramatis, namun juga menghentak. 


Apa yang dicapai Robert Aldrich dalam What Ever Happened to Baby Jane? tentu merupakan pencapaian yang luar biasa, film ini mampu me-raise the bar high dengan pendekatan psikologisnya yang digabungkan dengan atmosfer horor, namun tanpa adanya kemunculan makhluk halus sama sekali, serta tak menawarkan terlalu banyak darah dan hanya mengandalkan isi otak seorang manusia, namun hasilnya malah mampu membuat sebuah drama thriller horor psikologis yang sangat efektif. Dibarengi oleh naskah solid, membuat film ini selangkah lebih maju dalam keefektifannya.

Ya, secara keseluruhan memang tidak terlalu sempurna, namun pengarahan dan naskahnya saja sudah lebih dari cukup untuk membuat What Ever Happened to Baby Jane menjadi salah satu film terbaik dalam genrenya. Belum cukup? Hampir saja lupa dengan penampilan cast yang benar-benar memuaskan. Bette Davis bersinar sepanjang film, sementara Crawford, Buono, Norman, serta yang lainnya mampu mengimbangi dengan sangat baik. Karya yang solid, namun sakit. Jadi, setelah mengenal diri Jane lebih dalam, dapatkah kita menanyakan pertanyaan ini sekarang? What ever happened to Baby Jane? 

8.0/10

0 comments:

Post a Comment