300x250 AD TOP

Tuesday, February 28, 2012

Tagged under: , ,

Inilah Para Pemenang 'Golden Man' di 84th Academy Awards!

"And... The Oscar goes to..."
Ajang penghargaan bagi film-film terbaik tahun 2011, 84th Academy Awards kembali digelar pada tanggal 26 Februari 2012 di Kodak Theatre, Hollywood, California. Academy Awards yang disiarkan langsung oleh siaran ABC kali ini dipandu oleh Billy Crystal. The Artist dan Hugo kali ini merajai Academy Awards dengan memenangkan masing-masing 5 penghargaan. The Artist sendiri berhasil memenangkan manusia emas untuk Best Picture alias film terbaik dan Best Actor untuk Jean Dujardin serta Best Director untuk Michel Hazanavicius. Sedangkan Hugo memenangkan sebagian besar kategori dalam bidang teknis. Meryl Streep yang memerankahn tokoh dunia Margaret Thatcher di The Iron Lady juga kembali menambah satu koleksi manusia emasnya lagi, sehingga sampai saat ini ia mengoleksi sebanyak 3 piala Oscar. Sedangkan untuk film non-bahasa inggris atau Best Foreign Languange Film dimenangkan oleh A Separation, film asal Iran. Inilah daftar para pemenang 84th Academy Awards (para pemenang di-bold):

BEST MOTION PICTURE
The Artist
War Horse
The Tree of Life
Moneyball
Midnight in Paris
Hugo
Extremely Loud and Incredibly Close

BEST DIRECTOR
Michel Hazanavicius - The Artist
Alexander Payne - The Descendants
Martin Scorsese - Hugo
Woody Allen - Midnight in Paris
Terrence Malick - The Tree of Life

BEST ACTOR
Jean Dujardin - The Artist
Demian Bichir - A Better Life
Brad Pitt - Moneyball
George Clooney - The Descendants
Gary Oldman - Tinker Tailor Soldier Spy

BEST ACTRESS
Meryl Streep - The Iron Lady
Glenn Close - Albert Nobbs
Viola Davis - The Help
Rooney Mara - The Girl with the Dragon Tattoo
Michelle Williams - My Week With Marilyn

BEST SUPPORTING ACTOR
Christopher Plummer - Beginners
Kenneth Branagh - My Week With Marilyn
Jonah Hill - Moneyball
Nick Nolte - Warrior
Max von Sydow - Extremely Loud and Incredibly Close

BEST SUPPORTING ACTRESS
Octavia Spencer - The Help
Berenice Bejo - The Artist
Jessica Chastain - The Help
Melissa McCarthy - Bridesmaids
Janet McTeer - Albert Nobbs

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
A Separation - Iran
Bullhead - Belgium
Footnote - Israel
In Darkness - Poland
Monsieur Lazhar - Canada

BEST ANIMATED FILM
Rango
A Cat in Paris
Chico and Rita
Kung Fu Panda 2
Puss in Boots

BEST ORIGINAL SCREENPLAY
Midnight in Paris - Woody Allen
The Artist - Michel Hazanavicius
Bridesmaids - Annie Mumolo and Kristen Wiig
Margin Call - JC Chandor
A Separation - Asghar Farhadi

BEST ADAPTED SCREENPLAY
The Descendants - Alexander Payne, Nat Faxon and Jim Rash
Hugo - John Logan
The Ides of March - George Clooney, Grant Heslov and Beau Willimon
Moneyball - Steven Zaillian and Aaron Sorkin. Story by Stan Chervin.
Tinker Tailor Soldier Spy - Bridget O'Connor and Peter Straughan

BEST ART DIRECTION
Hugo - Dante Ferretti and Francesca Lo Schiavo
The Artist
Harry Potter and the Deathly Hallows part 2
Midnight in Paris
War Horse

BEST CINEMATOGRAPHY
Hugo - Robert Richardson
The Artist
Hugo
The Tree of Life
War Horse

BEST SOUND MIXING
Hugo - Tom Fleischman and John Midgley
The Girl with the Dragon Tattoo
Moneyball
Transformers: Dark of the Moon
War Horse

BEST SOUND EDITING
Hugo - Philip Stockton and Eugene Gearty
Drive
The Girl with the Dragon Tattoo
Transformers: Dark of the Moon
War Horse

BEST ORIGINAL SONG
Man or Muppet, from The Muppets - music and lyrics by Bret McKenzie
Real in Rio from Rio - music by Sergio Mendes and Carlinhos Brown and lyrics by Siedah Garrett

BEST ORIGINAL SCORE
The Artist - Ludovic Bource
The Adventures of Tintin
Hugo
Tinker Tailor Soldier Spy
War Horse

BEST COSTUMES
The Artist - Mark Bridges
Anonymous
Hugo
Jane Eyre
W.E.

BEST DOCUMENTARY FEATURE
Undefeated
Hell and Back Again
If a Tree Falls: A Story of the Earth Liberation Front
Paradise Lost 3: Purgatory
Pina

BEST DOCUMENTARY SHORT
Saving Face
The Barber of Birmingham: Foot Soldier of the Civil Rights Movement
God is the Bigger Elvis
Incident in New Baghdad
The Tsunami and the Cherry Blossom

BEST FILM EDITING
The Girl with the Dragon Tattoo - Kirk Baxter and Angus Wall
The Artist
The Descendants
Hugo
Moneyball

BEST ANIMATED SHORT FILM
The Fantastic Flying Books of Mr Morris Lessmore
Dimanche/Sunday
La Luna
A Morning Stroll
Wild Life

BEST LIVE ACTION SHORT FILM
The Shore
Pentecost
Raju
Time Freak
Tuba Atlantic

BEST VISUAL EFFECTS
Hugo - Rob Legato, Joss Williams, Ben Grossman and Alex Henning
Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2
Real Steel
Rise of the Planet of the Apes
Transformers: Dark of the Moon

BEST MAKE-UP
The Iron Lady - Mark Coulier and J Roy Helland
Albert Nobbs
Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2

Friday, February 24, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] Precious (2009)

"The other day, I cried. But you know what? F*** that day. That's why God, or whoever, makes other days." ~ Clareece 'Precious' Jones

Precious merupakan film keluaran tahun 2009 yang disutradarai oleh Lee Daniels dan ditulis oleh Geoffry Fletcher. Film ini sendiri merupakan adaptasi dari sebuah novel karya Sapphire berjudul Push. Selain itu, juga terdapat nama Oprah Winfrey dalam jajaran produsernya. Film ini juga sempat dinominasikan untuk 6 nominasi Oscar 2010 termasuk Best Picture dan Best Actress dan berhasil memenangkan 2 diantaranya, yaitu Best Supporting Actress untuk Mo'Nique dan Best Writing, Adapted Screenplay. Sebelumnya, Precious juga telah berjaya di Sundance Film Festival 2009 dengan memenangkan 3 penghargaan termasuk Grand Jury Award dan Audience Award.


Clareece 'Precious' Jones (Gabourey Sidibe) lah namanya. Berlatar di Harlem tahun 1987, saat itu ia berusia sekitar 16 tahun. Ia merupakan seorang pemimpi. Ia ingin memilik pacar berkulit pucat dengan rambut bagus, ia juga ingin wajahnya terpampang di cover majalah. Tak ketinggalan, ia juga ingin tampil di salah satu video di saluran BET, bahkan ia mengandaikan suaminya adalah guru matematikanya. Ya, tapi hanyalah sekedar mimpi. Kenyataannya, kehidupan Precious tidaklah se-'precious' namanya. Ia punya berat diatas rata-rata manusia pada umumnya. Ia dijauhi di sekolahnya. Ibu kandungnya, Mary (Mo'Nique) yang bahkan lebih mirip ibu tiri juga bahkan memperlakukannya bagai budak. Belum selesai, ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia hamil anak keduanya akibat dinodai ayahnya sendiri, yang menyebabkan ia dikeluarkan dari sekolahnya.


Tapi, tentu saja sekolahnya tak akan membuangnya begitu saja, terlebih nilaninya selama ini memang bagus terlebih matematika (meskipun ia buta huruf), ia kemudian dimasukkan ke sebuah sekolah alternatif, Each One Teach One. Bersama dengan Ms. Rain (Paula Patton), Precious mulai membangun kembali mimpinya yang sebelumnya telah hancur bersama dengan teman-teman di sekolah barunya.

Tokoh Precious digambarkan sebagai karakter yang tegar dan kuat, berhasil dengan baik diperankan Gabourey Sidibe. Bagaimana ia tetap tegar terhadap semua halangan yang menghadangnya, hingga saat Precious mulai menggertak semuanya digambarkan Gabourey dengan sangat baik. Pastinya, membuat semua orang tak terkecuali, merasa iba terhadap kehidupannya yang suram. Sekaligus membuat orang kagum akan karakter Precious yang kuat ini.


Tapi, tentu saja akting paling memukau ditunjukkan oleh Mo'Nique. Memerankan ibu Gabourey yang mungkin mengingatkan kita akan ibu-ibu jahat yang biasanya merupakan karakter yang 'harus ada' dalam sinetron-sinetron Indonesia. Perbedaanya mungkin hanyalah  jika kita berbicara tentang performa aktingnya, perbedaannya bagaikan langit dan bumi. Sungguh menyebalkan memang melihat karakter Mary ini. Sebagai karakter yang bisa dibilang berhati batu, Mo'Nique memang terlihat benar-benar menampilkan kemampuannya. Ah, kata siapa dia hanya bisa memerankan karakter nenek sihir dalam film ini, coba lihat adegan saat Mary menangis. Sungguh realistis. Keren!


Menggambarkan sebuah kisah tentang seorang gadis kulit hitam di Amerika, Precious juga menyelipkan berbagai masalah-masalah sosial yang kerap terjadi. Kemiskinan, pendidikan, kekerasan fisik, seksual, verbal, segalanya ada di sini. Ya, tentu saja sebab Precious memanglah film drama berat. Penceritaannya diceritakan lewat dua cara, yaitu narasi dan dialog. Dialog dan narasinya sendiri memang panjang, namun tak berefek rasa bosan yang amat besar bagi saya. Sebaliknya, saya malah lebih menikmati alur drama ini lewat dialog dan narasinya yang panjang itu.


Precious merupakan film yang menyentuh tanpa harus bercucuran berliter-liter air mata. Film yang mengajak kita mensyukuri hidup ini tanpa kesan menggurui sama sekali. Diawali dengan narasi menakjubkan dan diakhiri dengan ending yang menyentuh, sepanjang durasinya Precious menyajikan suatu pelajaran hidup berharga bagi kita.  Jangan lupakan pula fakta bahwa Precious didukung oleh akting para pemainnya yang begitu fantastis. Semuanya menjadikan Precious menjadi salah satu film drama terbaik bagi saya.

8.0/10

Tuesday, February 21, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] The Iron Lady (2011)

"Watch your thoughts for they become words. Watch your words for they become actions. Watch your actions for they become... habits. Watch your habits, for they become your character. And watch your character, for it becomes your destiny! What we think we become." ~ Margaret Thatcher

The Iron Lady bukanlah film adaptasi komik Marvel bertema superhero yang menceritakan seorang Ironman versi wanita. Bukan, bukan itu. The Iron Lady ini tidaklah punya kekuatan super. Ia tak bisa terbang, berlari dengan kecepatan cahaya, mengangkat beban yang beratus kali lipat dari berat tubuhnya, atau bahkan dapat mengeluarkan jaring laba-laba dari jarinya. The Iron Lady juga tak ada hubungannya sama sekali dengan setrika (loh?). The Iron Lady justru menceritakan sesosok wanita tua kontroversial namun disegani oleh orang banyak. Tidak lain dan tidak bukan, ialah Margaret Thatcher, perdana menteri wanita pertama Britania Raya.

Siapa yang tak kenal dengan Margaret Thatcher? Saya pun, yang bahkan hidup bukan dijamannya saja tahu dan mengenalnya. Ia merupakan perdana menteri wanita pertama dalam sejarah Britania Raya. Ia menjabat sebagai perdana menteri selama 11 tahun, menjadikannya masa jabatan terpanjang di abad 20, dari tahun 1979 hingga tahun 1990 saat ia digulingkan oleh rekan-rekan separtainya. Sebuah akhir yang tragis untuk seorang pemimpin kontroversial seperti Margaret Thatcher. Margaret Thatcher memang dikenal sebagi pemimpin yang terkenal akan keputusan-keputusannya yang kerap mengundang kontroversi.


The Iron Lady diawali seorang nenek tua yang sedang membeli sekotak susu di sebuah minimarket. Ya, dialah sosok Margaret Thatcher (Meryl Streep) di masa tua. Diceritakan, di masa tuanya, Margaret mengidap penyakit dementia yang menyebabkan ia sering berhalusinasi mengenai suaminya yang telah tiada. Suaminya, Denis Thatcher (Jim Broadbent) sendiri merupakan sosok yang kocak dan jenaka. Melalui flashbak-flashback yang disajikan Lloyd, yang tak lain merupakan ingatan-ingatan masa muda Margaret, kita diperlihatkan masa sebelum, saat, dan sesudah menjabat sebagai penguasa Inggris. Melalui ini pula, kita diperkenalkan dengan ego Margaret yang mungkin akan meninggalkan kesan 'sesuatu' bagi penontonnya.


Mungkin hal yang dapat diacungi jempol adalah akting Meryl Streep yang benar-benar juara. Memang tak salah jika Oscar menominasikannya untuk Best Actress, bahkan Golden Globes pun tak ragu lagi untuk menghadiahkan satu awardnya ke tangan Meryl Streep karena perannya ini. Tak mudah memang untuk memerankan suatu karakter dalam film, terlebih karakter ini merupakan tokoh non-fiksi alias benar-benar ada. Ia benar-benar hebat dalam memerankan seorang tokoh dunia seperti Margaret Thatcher. Aura Margaret Thatcher benar-benar terpancar dari dalam diri Meryl Streep. Apalagi didukung fakta bahwa ia adalah aktris kelahiran Amerika Serikat yang memerankan tokoh penting asal Britania Raya.


Tata rias dalam film ini juga harus diacungi jempol. Lihat saja penampilan Meryl Streep yang seakan menjadi saudara kembar Margaret Thatcher yang telah berpisah bartahun-tahun lamanya (loh?). Entah apa itu, yang pasti para penata riasnya benar-benar berhasil dalam menghadirkan sosok Margaret Thatcher secara fisik.  Coba lihat penampilan Margaret di masa tuanya. Streep, sebagai pemeran Margaret benar-benar dipermak habis-habisan hingga nampak tua, renta, keriput, dan lemah. Kemudian, saat kita ditampilkan Margaret yang masih berada di puncak kejayaannya, kesan tua renta itu seketika hilang dalam sekejap. Tapi, tentu saja ini tak terlepas dari peran Meryl sendiri yang berakting dengan memukau, seperti biasanya.


Ah, seperti kata pepatah "tak ada yang sempurna di dunia ini", The Iron Lady tidaklah tampil dengan sempurna. Masih banyak lubang-lubang yang mengisi durasi film ini. Mulai dari alur filmnya yang maju mundur. Saya sebenarnya tak mempersalahkan alurnya, hanya saja pemotongan gambar dalam film ini memang tak menarik. Tentu saja, tak semua film dengan penceritaan alur maju mundur tak menarik untuk diikuti penontonnya. Coba lihat Memento yang tampil memukau karena salah satunya lewat alurnya yang maju mundur itu. Yah, tapi itu tidaklah terjadi dalam The Iron Lady.

Selesai? Belum. Entah apa, saya merasakan cerita film ini tidak detail dalam menjelaskan kehidupan Margaret Thatcher. Sangat banyak sebenarnya peristiwa-peristiwa yang bisa dibilang menjadi suatu peristiwa penting bagi kehidupan Margaret terlewat. Kita tidak diperlihatkan apa yang dilakukan Thatcher selama 11 tahun masa jabatannya. Kita juga tak diceritakan perjalanan Margaret untuk akhirnya dapat menginjakkan kakinya pertama kali di Westminster Hall. Tak ada juga perjalanan masa kecilnya hingga akhirnya bisa diterima di Universitas Oxford. Ceritanya datar dan tak fokus bahkan cenderung dibiarkan mengambang begitu saja sepanjang durasinya.


Terang saja, semua itu diceritakan berasal dari ingatan Margaret yang telah menginjak usia tua yang tentu saja memorinya sudahlah tak sekuat dulu. Mungkin agak sedikit unik dengan gaya penceritaan seperti ini. Namun, bagi saya, ini bukan lah langkah yang tepat, apalagi mengingat bahwa film ini merupakan film biografi yang seharusnya dapat menceritakan sesuatu yang lebih banyak lagi tentang sosok Margaret Thatcher. Ya, Lloyd seakan tak memberikan kita waktu untuk mengenal lebih dekat tokoh ini dalam durasi film yang tergolong cukup singkat ini.

The Iron Lady memang tak sesuai seperti yang saya ekspektasikan. Film ini memanglah tidak jelek, yah lumayanlah menurut saya. Tapi sebagai film biografi yang baik? Mungkin tidak. Mungkin anda tak akan dapat menggali lebih dalam lagi kehidupan Margaret Thatcher melalui film ini. Bukan salah satu film terbaik di tahun 2011 memang. Beruntunglah bagi The Iron Lady, karena ia masih mempunyai Meryl Streep serta departemen tata riasnya. Penampilan dari Meryl Streep sebagai Margaret Thatcher dan tata riasnya memang benar-benar fantastis!

6.5/10

Sunday, February 12, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Take Shelter (2011)

"It's hard to explain, because it's not just a dream, it's a feeling." ~ Curtis LaForche

Setelah sebelumnya menyutradarai film perdananya, Shotgun Stories (2007), kini Jeff Nichols kembali lewat film keduanya, Take Shelter. Untuk pemeran utama, Jeff Nichols menunjuk Michael Shannon sebagai Curtis yang sebelumnya pernah bermain di film sebelumnya, Shotgun Stories, dan juga membintangi proyek Jeff selanjutnya yang berjudul Mud, yang kabarnya akan rilis tahun 2013. Jeff juga merekrut Jessica Chastain untuk memerankan Samantha, istri Jeff. Jessica Chastain sendiri telah memerankan peran untuk 6 film dalam 2011 ini. Dan berkat perannya dalam film The Help, yaitu sebagai Celia Foote, ia juga berhasil dinominasikan untuk Oscar tahun 2012. Tentu merupakan sebuah prestasi yang cukup membanggakan, apalagi untuk golongan aktris yang baru berkecimpung di dunia film pada tahun 2008

Ada yang sering bilang bahwa "mimpi merupakan sebuah pertanda di kehidupan nyata". Itulah hal yang diyakini oleh Curtis LaForche (Michael Shannon). Akhir-akhir ini, ia sering bermimpi buruk akan terjadinya sebuah badai dahsyat yang akan menerjang kota tempat ia tinggal. Mungkin bagi sebagian orang hal itu mungkin hanya akan diabaikan, tapi tidak bagi Curtis. 


Demi melindungi istrinya, Samantha (Jessica Chastain) dan anaknya yang tunawicara atau bisu, Hannah (Tova Stewart), ia akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah banker alias tempat perlindungan kalau-kalau mimpi buruk itu benar-benar terjadi. Tentu saja, orang-orang di sekitarnya akan meragukan akal sehatnya dan menganggap Curtis gila, tak terkecuali bagi Samantha istrinya. Terlebih saat Samantha tahu bahwa Curtis mendapat biaya untuk membangun sesuatu yang belum tentu terjadi ini ia dapatkan dari pinjaman perbaikan rumah dari bank tanpa memberitahunya terlebih dahulu.  Siapa yang tak akan menganggap bahwa Curtis ini tak waras? Apalagi didorong oleh fakta bahwa ibunya pernah didiagnosa menderita paranoid schizophrenia pada awal usia 30 tahunan. Siapapun, termasuk penontonnya, mungkin akan menganggap Curtis ini mengalami gangguan jiwa seperti ibunya.


Meskipun tak mendapatkan satu pun nominasi Oscar, bukan berarti film ini tak mampu memikat penontonnya. Seluruh castnya, tanpa terkecuali mampu menampilkan penampilan yang maksimal. Special mention juga berhak kita beri untuk Michael Shannon dan Jessica Chastain. 

Lewat performa meyakinkan dari Michael Shannon sebagai seorang suami sekaligus ayah  berwajah sendu, ia berhasil mengekplorasi karakternya yang berkeyakinan kuat dan family-oriented.Sebagai karakter istri yang pengertian, Jessica Chaistan juga mampu memerankan perannya dengan sangat baik. Emosi, mimik, ekspresi, semuanya dapat diekspresikan Jessica dengan baik, sama baiknya seperti apa yang diekspresikan oleh Michael Shannon. What a cast!


Cerita dalam Take Shelter merangkak dengan agak lambat. Ceritanya mengalir selama sekitar 2 jam (plus kredit tentunya), dan itu tidaklah membosankan bagi saya sama sekali. Malahan jalan ceritanya yang lambat   itu malah membuat rasa penasaran ini semakin besar. Apakah yang dialami oleh Curtis? Apakah memang akan terjadi sebuah badai dahsyat? Atau memang apa yang dikatakan orang-orang terhadapnya memang benar, bahwa itu semua hanyalah halusinasi belaka dan ia sudah tak waras? 


Take Shelter berhasil memukau saya lewat jalan ceritanya yang lambat namun membuat penasaran. Sebuah film drama dengan kombinasi film thriller yang luar biasa. Menggabungkan kehidupan pelik Curtis dengan kondisi kejiwaannya yang dipertanyakan. Berkat film ini, saya tak ragu lagi untuk memasukkan nama Jeff sebagai salah satu sutradara favorit saya. Tak lupa pula nama Michael Shannon dan Jessica Chastain sebagai salah satu aktor dan aktris favorit saya. Nasib, sama seperti yang dialami oleh We Need to Talk About Kevin (2011), film ini juga seperti diacuhkan begitu saja oleh Oscar.

8.0/10

Friday, February 10, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] We Need to Talk About Kevin (2011)

"Mommy was happy before Kevin came along. Now, she wakes up every morning and wishes she was in France!" ~ Eva

Menjadi seorang ibu teryata tak selamanya bahagia. Itulah apa yang ingin diceritakan oleh film ini. We Need to Talk About Kevin ini disutradarai oleh Lynne Ramsay. Di bagian naskahnya, ada nama Lynne Ramsay (lagi) serta Rory Kinnear. Sebagai pemeran utama, terdapat nama Tilda Swinton, aktris senior yang telah memenangkan sebuah Oscar untuk perannya di Michael Clayton (2007).  


Diawal film, tepatnya pada awal tiga menit, kita diperkenalkan pada sang tokoh utama, Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) yang sedang mengikuti sebuah festival tomat dengan ekspresi bahagia. Jujur, awalnya saya kira ini merupakan festival darah. Tiga menit setelahnya, kita dipertontonkan kehidupan Eva kacau balau, seolah ia sudah tak punya lagi semangat hidup. Muka lesu, rumah berantakan, tumpahan cat merah di rumah dan mobilnya, sampai seorang ibu aneh yang tiba-tiba menamparnya tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya tinggal selangkah lagi untuk mengakhiri hidup. Tampaknya, ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya. Apa itu? Yang jelas ini semua akibat ulah anaknya yang kurang ajar, Kevin (Ezra Miller).


We Need to Talk About Kevin memang tak menggambarkan sebuah kehidupan bahagia seorang ibu. Sebaliknya, malah menceritakan sebuah penderitaan sebagai seorang ibu. Alur ceritanya disampaikan dengan maju mundur. Yang membuat penontonnya seakan disuruh untuk menggali apa yang telah terjadi pada Eva, menjadi sebuah misteri yang membuat siapapun penasaran. Misteri ini juga didukung oleh atmosfer depresif berhasil dibangun dengan sempurna oleh Lynne Ramsay. Sebuah film yang sebenarnya tenang, namun berkat Ramsay semuanya bisa menjadi horor dalam sesaat.


Muncul sebagai karakter depresif, Tilda Swinton tampaknya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendalami karakter sarat muka lesu ini. Dan apakah usaha itu sia-sia? Tentu tidak. Seluruh mimik dan ekspresi yang keluar dari wajahnya benar-benar membuat para penontonnya merasa iba dengan karakter ini. Emosinya bener-bener dapet. Mukanya yang lesu dari awal hingga akhir itu seakan menjadi suatu gambaran kesengsaraan Eva selama ini. Tentu sangat layak untuk dinominasikan sebagai Best Actress di Oscar. Tapi tampaknya, ia harus lebih bersabar untuk meraih manusia emas keduanya.


Jika perasaan iba muncul pada Eva, sebaliknya, perasaan kesal dan sebal para penontonnya pasti akan tertuju bagi karakter Kevin. Bukan kesal karena Ezra Miller dan kedua pemain lain yang memainkan tokoh Kevin ini tak mampu berakting maksimal dan meyakinkan, justru sebaliknya, karena saking meyakinkannya ia berakting sebagai Kevin alias tokoh sakit jiwa ini. Mereka mampu memerankan tokoh bermuka dua ini dengan baik. Di satu sisi, ia mungkin akan terlihat baik. Namun, di sisi lain, ia akan berubah menjadi karakter psycho. Lihat saja sikap manisnya terhadap ayahnya yang sangat berbanding terbalik dengan sikapnya terhadap ibunya.


Ramsay menghasilkan kekerasan dalam film ini dengan caranya sendiri. Dengan kata lain, ia tidaklah menampilkan kekerasan tersebut secara eksplisit. Ramsay hanyalah memerlukan tokoh Kevin disini, yang dimainkan oleh Ezra Miller dengan sangat baik. Melalui karakter ini, Ramsay seolah sedang menebar teror-terornya ke seluruh penontonnya. Hanya dengan melalui ekspresi-ekspresi psycho serta senyum-senyum anehnya yang kerap tersungging di bibirnya. Tapi, tentu bukan hanya Kevin saja. Di sinilah otak Ramsay bekerja, ia berhasil membuat sebuah adegan yang sebenarnya biasa menjadi tak biasa dan menjadikannya penaik tensi penontonnya. Coba lihat adegan 'trick or treat' saat Halloween yang sebenarnya biasa namun berubah menjadi sebuah ketakutan bagi Eva.

We Need to Talk About Kevin, diluar dugaan saya mampu tampil dengan memukau. Sayang sekali, film ini seakan ditendang dari seluruh nominasi Oscar, termasuk kategori Best Actress yang sebenarnya sangat pantas jika diberikan pada Tilda Swinton. Siapa sangka, menjadi ibu yang mungkin menjadi cita-cita banyak wanita ini bisa menjadi sebuah mimpi buruk pada akhirnya?

8.0/10

Thursday, February 9, 2012

Tagged under: , , ,

[Trailers] 5 Most Anticipated Action Movies in 2012

Jujur saja, saya memang tidak terlalu sering menonton film bergenre action. Tapi, mengingat tahun ini kita akan dihujani banyak sekali film-film action, maka tak ada salahnya bukan menyusun 5 trailer film paling ditunggu tahun ini, bukan? (NB: Link download trailer saya sediakan dibawah)

The Dark Knight Rises
Christopher Nolan is back! Dan dia lagi-lagi dengan kembali dengan kisah Batmannya yang fenomenal itu. Tentu saja, masih bersama mitra setia Nolan, Christian Bale sebagai Batman. Juga ada Tom Hardy dan Joseph Gordon Levitt yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Nolan dalam film Inception. Oh, tentu saja kita tak akan melupakan Anne Hathaway sebagai Catwoman. Well, sudah siap digebrak oleh Nolan pada Juli ini?


The Avengers


Apa jadinya jika Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan superhero lainnya bersatu? Hasilnya adalah The Avengers. Film yang diangkat dari kisah komik Marvel ini disutradarai oleh Joss Whedon, yang juga merangkap sebagai penulis naskah. Untuk pemerannya, ada Robert Downey Jr, Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, dll.


Battleship
Kabar gembira bagi seluruh Rihanna Navy diseluruh dunia! Pasalnya, film yang disutradarai Peter Berg dan dibintangi Liam Neeson dan Alexander Skarsgård ini juga ternyata dibintangi oleh penyanyi R&B asal Amerika, Rihanna. Dan, sudah dapat dipastikan, film ini pastilah memakai CGI super canggih, lihat saja trailernya yang 'wow' itu.



The Bourne Legacy

Tak ada lagi yang namanya Jason Bourne yang diperankan oleh Matt Damon dalam sekuel keempat dari The Bourne ini. Kali ini, yang ada hanyalah Aaron Cross yang diperankan Jeremy Renner. Tentu ini mengundang sedikit kekecewaan di hati para penggemar The Bourne series. Tapi, apakah Jeremy Renner mampu menggantikan posisi Matt Damon? Tunggu saja tanggal mainnya. 



The Amazing Spider-Man
Sama halnya The Bourne Legacy yang berganti pemeran, kini Spiderman yang dulunya diperankan oleh Tobey Maguire, kini diperankan oleh Andrew Garfield. Selain Andrew Garfield, film yang disutradarai oleh Marc Webb ini juga dibintangi aktris oleh Emma Stone.

Wednesday, February 8, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] The Girl with the Dragon Tattoo (2011)

"You need to stop talking." ~ Lisbeth Salander

Tahun 2011 kemarin mungkin menjadi tahun dimana kita dihujani film-film berkualitas. Tahun 2011 kemarin kita juga kembali disuguhkan oleh satu lagi karya David Fincher. Sutradara kawakan Hollywood yang terlebih dahulu telah terkenal lewat film-film thrillernya seperti Se7en, Fight Club, dan Zodiac. Dan kali ini, Fincher kembali lagi dengan The Girl with the Dragon Tattoo yang mengadaptasi sebuah seri novel pertama berjudul sama dari sebuah trilogi yang ditulis oleh Stieg Larsson (bisa juga dibilang remake dari sebuah film Swedia, Män som hatar kvinno yang juga telah terlebih dahulu mengadaptasi novel ini).


Film ini menceritakan tentang seorang wartawan majalah Millenium, Mikael Blomkvist (Daniel Craig), yang terpaksa harus terlibat dengan hukum dan dituntut untuk membayar bayaran sebesar 600.000 kronor akibat dituduh memfitnah seorang pengusaha sekaligus milyuner, Hans-Erik Wennerström. Sesuai judulnya, The Girl with the Dragon Tattoo memang menceritakan seorang gadis bertato naga. Disamping ada kisah Mikael ini, di lain sisi, ada kisah tentang seorang hacker wanita, Lisbeth Salander (Rooney Mara). Ya, dialah si wanita bertato naga ini. Wanita ini memang berpenampilan berbeda dengan manusia lainnya. Rambut yang sering dimodel dengan model rambut aneh-aneh, wajah penuh tindikan, gaya berpakaian yang 'punk', dan caranya bergaul dengan orang lain yang cenderung cuek serta sifatnya yang cenderung sembrono namun juga cerdas. Terlepas dari penampilannya yang nyeleneh, tersimpan sebuah masa lalu kelam yang tersembunyi.


Suatu hari, Henrik Vanger (Christopher Plummer), seorang pengusaha tua kaya memutuskan untuk menyewa Mikael untuk menyelidiki sebuah kasus 40 tahun lalu yang bahkan sampai sekarang belum terungkap. Mikael yang masih berada dibawah bayang-bayang hukum ini ternyata menerimanya dan ia pun terpaksa harus pindah ke Hedestad, tempat dimana keluarga Vanger tinggal. 40 tahun lalu, terjadi sebuah tragedi dimana cucu Henrik Vanger, Harriet menghilang secara tiba-tiba. Henrik sendiri, mengira bahwa cucunya tersebut telah dibunuh oleh salah satu dari anggota keluarga Vanger yang katanya serakah ini. Jika memang benar, maka mungkin saja, pembunuh Harriet masih hidup dan masih berkeliaran di kawasan kediaman keluarga Vanger.


Tak ada yang mengira dan memperkirakan, bahwa karakter Lisbeth Salander berhasil dibawakan dengan sempurna oleh Rooney Mara. Ya, layaknya sebuah twist ending, tapi itulah kenyataannya. Tak kalah dengan Noomi Rapace, pemeran Lisbeth sebelumnya, Mara mampu tampil sebagai karakter hitam dan kelam dengan segala aura misterius yang mengemasnya. Satu hal lagi yang patut diacungi jempol, Rooney Mara dapat menyelami karakter Lisbeth tanpa adanya 'unsur-unsur' Noomi di dalamnya. Selain dari kemampuan aktingnya yang memukau, ia juga rela mengubah penampilannya dengan gila-gilaan. Lihat saja perubahan penampilannya yang benar-benar ekstrim jika dibandingkan dengan film yang sebelumnya ia bintangi, The Social Network dimana ia berpakaian 'normal'. Tentu saja, kerja kerasnya ini sangat pantas untuk diapresiasi, termasuk oleh Oscar yang telah memberinya sebuah nominasi pertamanya dalam penghargaan tertinggi bagi film-film Hollywood ini.


Oh, tak adil rasanya kalau kita hanya memuji Rooney Mara disini. Tentu saja kita tak melupakan Daniel Craig sebagai Mikael Blomkvist. Daniel Craig juga menampilkan performa memukaunya sebagai seorang wartawan sebuah majalah sekaligus detektif, meskipun tak dapat dipungkiri karakternya tak dapat tampil begitu bersinar mengingat disini ada Rooney Mara yang memerankan karakter Lisbeth dengan amat baik.

Fincher memang benar-benar hebat. Dengan penyutradarannya yang tingkat dewa, ia berhasil membawa kisah gadis betato naga di punggungnya ini tampil dengan lebih mencekam dan hitam serta lebih thrilling dari versi Swedianya. Terang saja, ini memang bidangnya, yaitu membuat film-film yang memang berhiaskan tensi-tensi menegangkan. Tak ketinggalan, demi menaikkan tensi ketegangan tersebut, Fincher menambah porsi kekerasan seksual yang dihadirkan dengan kadar yang lebih eksplisit ketimbang Män som hatar kvinn. 


Belum puas? The Girl with the Dragon Tattoo juga menyajikan musik pengiring yang dahsyat dan teatrikal yang juga menjadi pengiring diantara adegan-adegan sarat tensi ketegangan. Diimbagi dengan sinematografinya yang menyajikan visual artistik. Tak ketinggalan dengan editingnya yang mumpuni. Oscar pun tak ragu lagi untuk memberikan 4 nominasinya untuk Sound Mixing, Sound Editing, Cinematography, dan Film Editing kepada film ini. Ah, betapa lengkapnya.

Tak peduli ini merupakan adaptasi novel ataupun remake dari film Swedia, tapi yang pasti Fincher kembali menghasilkan tontonan menghibur dengan tak meninggalkan sesuatu yang memang 'kekhasan' Fincher. Kalau boleh membandingkan, jujur saja, saya lebih menyukai film ini ketimbang versi Swedianya. Namun, tak dapat dipungkiri, versi Swedianya juga tetap memiliki kharismanya sendiri. Yang jelas, Fincher did it again!

8.5/10

Saturday, February 4, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Drive (2011)

"If I drive for you, you get your money. You tell me where we start, where we're going, where we're going afterwards. I give you five minutes when we get there. Anything happens in that five minutes and I'm yours. No matter what. Anything a minute on either side of that and you're on your own. I don't sit in while you're running it down. I don't carry a gun. I drive." ~ Driver

Drive memang tidak seperti film aksi lainnya. Sepanjang durasinya, Drive tidaklah dipenuhi perkelahian dengan kekerasan diatas rata-rata, pertempuran dengan senjata-senjata canggih, atau pun kejar-kejaran dengan mobil sport super mewah. Tidak, Drive tidaklah seperti itu (meskipun yang seperti memang ada di film ini). Apa yang ditawarkan Nicola Winding Refn lebih dari itu. Melalui tangan dinginnya, ia berhasil membuat Drive menjadi film aksi yang lain daripada yang lain. Tak hanya ada adegan action, tapi juga porsi drama yang emosional.


Sebenarnya, Drive memiliki premis yang sangat klise. Menceritakan tentang seorang mekanik mobil (Ryan Gosling) yang bekerja di bengkel milik Shannon (Bryan Cranston), yang juga merupakan seorang supir pro yang sekaligus bekerja sebagai stuntman di film-film Hollywood. Karakter ini memang misterius, semisterius namaya yang tak pernah disebutkan di sepanjang film. Ia merupakan seseorang yang cool, pendiam, tenang, lihai, dan tak banyak omong, namun dibalik topengnya yang tanpa ekspresi itu, ia masih mempunyai sisi lembut.  Driver ini (sebut saja begitu) mempunyai seorang tetangga, Irene (Carey Mulligan), yang tak lain merupakan seorang istri dan ibu satu orang anak. Diam-diam, ternyata si driver ini jatuh cinta kepada Irene. Suatu saat, ia melakukan suatu misi bersama suami Irene yang ternyata berakhir dengan gagal dan tragis yang akhirnya menjerumuskannya ke dalam sebuah masalah besar.


Dibuka dengan opening menjanjikan, yaitu saat Refn memperkenalkan si tokoh utama, driver yang membawa sekawanan perampok untuk melarikan diri. Yup, seperti biasa, aksi kejar-kejaran menegangkan dengan polisi terjadi. Dari awal saja, Refn seolah ingin membuktikan kelihai sekaligus ketenangan si driver ini. Lihat saja akhir openingnya, bagaimana ia dengan ekpresi muka yang datar keluar dari kerumunan polisi dengan enteng dan mudahnya, bahkan tanpa dicurigai sedikit pun.

Drive merupakan film yang tenang, setenang karakter driver. Tanpa terlalu banyak dialog, Drive telah menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekedar dialog panjang yang memenuhi durasi film. Satu lagi yang perlu diacungi jempol dari Drive, yakni Refn menyajikan film ini lebih artistik daripada film aksi lainnya. Lihat saja sinematografinya yang indah. Jangan lupakan pula efek slow-motion yang melengkapi, seperti pada scene lift atau pun scene penembakan di kamar mandi (wow! full of blood! dan... kepala pecah!).


Film ini memang berbeda dari film aksi biasanya, Drive tampil dengan cerita yang lebih kuat, meskipun dengan premis klise. Ya, tapi itulah hebatnya Refn, dengan premis yang klise, sangat klise bahkan, ia berhasil meramunya menjadi sebuah cerita yang solid. Bayangkan bila film ini disutradarai oleh sutradara lain, bisa-bisa film ini hanya bisa menjadi sasaran empuk para kritikus film untuk memaki-makinya. Juga, bukan senyum yang nampak dari wajah penontonnya, namun makian dan lemparan tomat busuk. Dan bisa saja dinominasikan untuk Razzie Awards dan berakhir sebagai salah satu yang terburuk di 2011. Tragis. Beruntunglah kita masih mempunyai sutradara kelahiran Denmark ini yang tidak menjadikan itu semua menjadi kenyataan.


Drive membangun ceritanya dengan perlahan, sedikit-demi sedikit, sehingga bagi yang tak terbiasa mungkin akan jatuh ke dalam rasa bosan (dan itu bukanlah saya). Untuk masalah adegan-adegan menegangkan layaknya film aksi lainnya, Drive pun tak mau ketinggalan. Tentu saja ada kejar-kejaran dan tembak-menembak, meskipun dengan frekuensi yang lebih sedikit daripada film aksi pada umumnya. Rupanya, Refn juga masih punya yang lain. Refn juga melengkapi Drive dengan drama yang emosional dan dengan porsi lebih banyak dari film aksi biasanya.


Semua ini tak lepas dari akting para pemerannya, semuanya berhasil tampil dengan maksimal. Ryan Gosling yang berperan sebagai seseorang dengan muka tanpa ekspresi dan tatapan mata yang sangat tajam setajam elang berhasil tampil dengan memikat. Tanpa banyak bicara, Ryan Gosling berhasil membuktikan bahwa ialah salah satu aktor paling bersinar di tahun 2011 setelah sebelumnya ia hadir di The Ideas of March. Sangat disayangkan, namanya tak muncul dijajaran aktor terbaik di Oscar sana. Ada juga Carey Mulligan yang juga memainkan perannya sebagai seorang ibu satu anak dengan apik dan tak kalah dengan Ryan Gosling.

Refn berhasil menggarap Drive, dan mejadikanya menjadi film aksi yang unik, bahkan cenderung melawan arus. Tak hanya itu, Refn juga menyelipkan balutan film aksi tahun 80-an kedalam Drive. Jajaran pemainnya, berhasil tampil dengan memukau. Refn juga menyuguhkan Drive dengan sinematografi cantik dan tata musik yang jempolan dan artistik. Salah satu film terbaik di tahun 2011, sayangnya, (lagi-lagi) tidak menurut Oscar.

8.5/10