Showing posts with label Crime. Show all posts
Showing posts with label Crime. Show all posts

Thursday, October 26, 2023

Tagged under: , , , , , , , , ,

[Review] Killers of the Flower Moon (2023)

"Can you find the wolves in this picture?" - Ernest Burkhart

With an incredibly delicate subject matter to handle, tackling Killers of the Flower Moon is no easy feat. This is true particularly for Martin Scorsese, a white American man telling a chapter of the great suffering endured by the Osage nation, a series of murder that’s product of the systemic greed and corruption of power by white Americans. Throughout the film, it’s well-expressed that he’s aware of his limitation, as this idea is woven attentively in the fabric of the narrative. The film keens to avoid exploitative sensationalism in favor of a cinematic rhythm that’s expressive in its restraint, grounded by the incredible weight of its devastating tragedy. The violence depiction—like what’s depicted in his later works e.g. The Irishman or Silence—is especially interesting. In contrast to his early works, Scorsese is more interested in the destructive nature of violence and its grim repercussions rather than the action itself. He intentionally keeps catharsis at bay, brimming the frames with understated anguish and grief that creep their way under the audience’s skin and lingers there. At times, the film may feel cold and distant, but in order for this film to work, it’s also necessary. There’s no solace or sense of finality offered. Instead, he acknowledges the film’s and his limitation loud and clear, serving as as a moving reflection for him and us as spectators, that we’re all complicit in this crime—or to quote Scorsese himself from his press interviews, this “sin by omission”. 

The film marks another Leonardo DiCaprio and Robert De Niro collaboration with Scorsese, and another peak in their respective careers. Amidst the formidable turns by DiCaprio and De Niro, in the eye of the hurricane there’s Lily Gladstone’s Mollie Burkhart—fantastically played by Gladstone who rightfully deserves an Oscar for this performance—whose life, along with that of the Osage nation, were forever afflicted and destroyed. As Mollie, Gladstone’s grief-stricken delivery of pain and resilience is unbelievably nuanced and palpable. Her piercing glares alone speak volumes, louder than any words could. She stands as the cornerstone of Osage nation’s experience: left aside and hurt by the injustice, yet whose fortitude remains intact and powerful. The film excels in this depiction and she stands above her material, but the script does face setbacks. Having to split focus between Gladstone’s, DiCaprio’s and De Niro’s points of view, her absence at times results in a less comprehensive portrayal of the Osage perspective. Yet, even when she isn’t physically gracing the screen, her profound strength continues to resonate and impact the narrative. Still, this doesn’t diminish Scorsese’s genuine commitment in bringing this tragedy into consciousness. Despite this narrative challenge, the sprawling 3.5-hour Killers of the Flower Moon is a monumentally riveting achievement, firmly rooted in impeccable, sensitive storytelling by Scorsese and colossal performances from its three leads. It’s one achievement that proves how even a decorated filmmaker in his ever-growing 60-year old career, like Scorsese, can still hit new heights of honesty and maturity. It’s also one aching reminder of the many ways in which systemic atrocities of evil operate and propagate, spanning from the brutal inhumane acts to subtle shades of their inherently commonplace existence.

Tuesday, October 21, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Gone Girl (2014)

"You two are the most f*cked up people I've ever met and I deal with f*cked up people for a living." - Tanner Bolt

Gone Girl, ini bukan sekuel dari Gone Baby Gone, tapi tetap ada nama Ben Affleck meskipun hadir di lini depan sebagai aktor utama. Kali ini, adalah nama seorang David Fincher yang duduk di bangku sutradara. Sejak kemunculan Alien 3 yang dianggap gagal dalam kacamata sekuel, David Fincher nyatanya tak berhenti di situ. Lewat Se7en pada 1995, diikuti oleh The Game, Fight Club, Panic Room, Zodiac, Benjamin Button, The Social Network, hingga The Girl with the Dragoon Tattoo pada 2011. Ini adalah perjalanan karir yang luar biasa. Selama 16 tahun produktif dalam industri dan tanpa pernah sekalipun mendapatkan rapor merah, Fincher tentunya bukan sutradara kemarin sore. Tiga tahun kemudian, dengan dirilisnya Gone Girl, karirnya bertambah cemerlang, dengan kembali mencetak 19 tahun perjalanan karir tanpa satupun kegagalan.

Apa yang akan anda lakukan ketika usia pernikahan anda menginjak tahun ke-5? Sebagian besar orang akan merayakannya, namun pasangan suami-istri Nick Dunne (Ben Affleck) dan Amy Dunne (Rosamund Pike) berbeda. Tahun ke-5 adalah awal dari semua katastrofi. Amy, yang seharusnya berada di rumah ketika sang suami pulang dari kerjanya, malah hilang entah ke mana, meninggalkan hanyalah meja yang pecah dan porak-poranda. Dengan bantuan kepolisian, jangan harapkan segalanya menjadi lebih baik. Yang ada, dengan beragam bukti yang polisi temukan, malah memunculkan spekulasi bahwa Nick-lah dalang di balik semua ini. Layaknya media masa dan masyarakat dalam filmnya, kita dibuat bertanya-tanya, di manakah Amy berada dan siapakah orang yang ada dibaliknya?


Secara garis besar, dengan premisnya yang begitu menarik, kisah yang Gone Girl bawa sebenarnya bukanlah hal paling kompleks yang pernah ada. Ia bisa digambarkan lewat sudut pandang sederhana, namun tentu bukan itu jalan yang Gillian Flynn ramu. Sebaliknya, ia dijabarkan lewat dua buah perspektif, dengan sebuah permainan naratif yang mampu membuat berbagai persimpangan dalam cara penonton menangkap yang ia ceritakan. Lewat permainan penuh teka-teki ini, penonton di ajak menyusuri labirin di mana tiap-tiap twist menunggu di akhirnya (atau di tengah perjalanan), sembari mengumpulkan keping demi keping potongan puzzle yang tersebar sejak menit pertama filmnya bergulir. Bukan hanya soal mystery/psychological thriller saja, ada drama pahit di antaranya, sebuah catastrophic romance dengan banyak bumbu anti-romance di sana-sini. Hasilnya, ini jauh dari kesan memperbelit apa yang seharusnya dapat menjadi sederhana, sebaliknya ini menunjukkan bahwa, dengan bermodal subjek minimalis, bukan berarti ia juga harus dijabarkan dengan jalan yang tak menarik. Gone Girl membuktikannya, ia merupakan sebuah perjalanan menegangkan dengan plot memukau sekaligus intelligent, dengan kisah yang mampu membuat siapapun ikut hanyut ke dalam misterinya.

Sejak Se7en yang rilis 19 tahun lalu, sutradara David Fincher tak pernah gagal. Ia adalah salah satu sineas dengan karir dan kualitas karya paling stabil yang pernah ada (we're looking at you, Woody Allen). Dan, dikali kesembilannya ini, ia kembali membuktikannya eksistensinya. Terbukti, Gone Girl berhasil bukan hanya berkat naskahnya, namun juga berkat peran Fincher yang mampu mengubah Gone Girl menjadi sebuah rollercoaster menegangkan dan penuh teka-teki yang menjaga penonton tetap berada di tempat duduknya. Fincher berhasil menjaga tensi dengan begitu baik dibalik atmosfer gelap yang ia susun serta pengemasannya yang begitu matang dan stylish. Ada banyak tanda tanya di dalamnya, dan bagaimana Fincher menangani semua ini merupakan hal yang luar biasa. Berbekal naskah yang tak kalah baiknya, Fincher bukan hanya berhasil mempertahankan ketegangan, namun juga dalam menyuntikkan dan mempermainkan emosi penonton, memberikan Gone Girl sebuah bone-chilling experience, sejak menit pertama hingga kredit bergulir.


Anda mungkin berpikir bahwa Amy adalah nahkoda dari semuanya. Kisahnya berakar pada Amy yang hilang entah ke mana, sepanjang film anda akan menelusuri perjalanan panjang untuk mengetahui siapa sebenarnya Amy, bahkan hingga judulnya pun merujuk pada karakter ini. Tapi, itu tak sepenuhnya benar. Ada peran media yang besar di baliknya. Tanpa disadari maupun tidak, media adalah penggerak yang berperan besar dalam pergolakan cerita. Gyllian Flynn, yang juga merupakan penulis asli dari novelnya, mampu menuangkan satir mengenai isu media (dan tentunya isu perkawinan) dengan cerdas dan lugas. Mampu menjadikan penonton layaknya masyarakat yang tersetir oleh media, kisahnya terasa dinamis dengan penonton yang dapat membenci suatu karakter, kemudian menyukainya, membenci, dan menyukainya kembali. 

Gone Girl mampu mempermainkan penonton, bukan hanya dengan kisah yang naik turun ataupun pengaruh media yang ia sindir, namun juga karakter-karakter kompleks yang ada di antara dua zona. Ya, tak ada satupun karakter yang hadir dalam zona dengan batas yang jelas. Tak ada hitam, tak ada putih, yang ada hanyalah abu-abu. Dengan sebuah opening shot yang cantik, Gone Girl mampu memancing rasa penasaran, menampilkan Amy dengan tatapan manis dan misterius, yang bahkan hanya dengan itu, telah dapat membuat anda merasakan kompleksitasnya. Sementara Nick, terlebih dengan senyumnya yang media sebut sebagai 'the killer smile' dan segala rahasia pernikahannya yang ia pendammampu memikat atensi dengan begitu baik dengan permainan kisah yang Flynn tulis. Sekalipun kebenaran telah terkuak, tiap penonton pun tak akan memihak pada karakter yang itu-itu saja. Anehnya, sekalipun kebanyakan karakter yang hadir dalam Gone Girl adalah karakter 'kusut', flawed, dan bermasalahtak ada satupun bagi saya yang hadir sebagai 'the unlikeable one', bahkan karakter yang 'seharusnya' anda benci mampu menjadi karakter mudah disukai audiens.



One of many aspects that makes Gone Girl as one of the best films in 2014 is: how perfectly casted the film is. Siapa sangka bahwa Nick alias Ben Affleck, dulunya pernah berlakon dalam Gigli, Pasti, penampilannya telah banyak mengalami peningkatan beberapa tahun sebelumnya, namun Gone Girl merupakan career-defining bagi peraih 2 Oscar ini. Ia flawed namun mudah disukai, bukan manusia suci namun jelas bukan seseorang untuk dibenci (well, sometimes). Sementara itu, Rosamund Pike bersinar. Lewat oscar-buzz yang mengelilinginya, ia tampil luwes, mengisi tiap ruang yang David Fincher dan Gillian Flynn berikan lewat betapa kompleks karakter yang ia miliki. Misterius, seduktif, namun juga innocent sekaligus memikat, layaknya setiap wajah yang muncul dalam film ini. Gelar salah satu penampilan terbaik tahun ini pun sama sekali tak berlebihan jika disematkan padanya.

Di baliknya ada wanita lain, Carrie Coon yang tak kalah kuat. Hadir di peran supporting, ia mewakili penonton dengan jalan pemikirannya, sekaligus mewarnai perjalanan kelam ini dengan secuil humor yang ia bawa. Sekalipun awalny mengundang tanda tanya besar setelah Fincher merekrut Tyler Perry, namun ia nyatanya berhasil mematahkan spekulasi buruk penonton sebagai lawyer yang juga hadir mewarnai suasana. Satu lagi yang mengejutkan untuk tampil dalam kredit adalah Neil Patrick Harris yang benar-benar keluar dari komedi yang dikenal sebagai comfort zone-nya selama (where he's also good at it). Sebagai mantan kekasih Amy, ia creepy dan tajam, sekalipun pada beberapa bagian terkesan trying too hard, namun secara garis besar, ia mampu melakonkan Desi dengan baik.


Ditengah tone yang kelam, ia tetap mampu mempesona lewat visualnya yang stylish, sebagaimana tiap karya David Fincher. Sinematografinya harus diakui cantik, dengan angle-angle dari Jeff Cronenweth yang memanjakan mata sekalipun hadir dengan tone yang gloomy. Scoring dari Trent Reznor dan Atticus Ross juga tampil sebagai top-notch, dengan melodi-melodi yang menggetarkan, membangun tensi sedikit demi sedikit. Editing juga hadir dengan kisah yang setali tiga uang. Sebagai salah satu contender utama dalam Best Editing di sesi musim penghargaan nantinya, ia solid dan kokoh, terlebih didukung narasi filmnya yang berlapis-lapis, memberikan banyak ruang bagi Kirk Baxter untuk tampil meyakinkan lewat potongan-potongan gambar.

Ada banyak career-defining performances dalam Gone Girl. Ini adalah akting terbaik Tyler Perry dan penampilan pertama Harris di luar zona nyamannya, sementara Gone Girl juga membawa nama ketiga aktornya ke puncak, Carrie Coon dan (terutama) bagi dua lead-nya, Ben Affleck dan Rosamund Pike yang mungkin saja berbuah sebuah nominasi Oscar bagi Pike. Tapi, career-defining performance paling utama datang dari seorang David Fincher. Dengan plot mempesona dari Gillian Fylnn, David Fincher kembali mencapai strike untuk kesekian kalinya dengan nilai yang jauh di atas rata-rata. It's crystal clear: Gone Girl bukan hanya tentang seorang wanita yang hilang, lebih dari itu, ia menggelitik dengan isu-isu satir yang ia kemukakan, sekaligus memberikan pengalaman sinematik memukau yang membawa film serupa ke level yang lebih tinggi dari yang sudah-sudah.

Friday, October 17, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] Calvary (2014)

"There's too much talk about sins and not enough of virtues." - Father James

Film bertema religi tentunya bukan hal asing lagi di tahun 2014. Sutradara sekaliber Darren Aronofsky pun sempat menelurkan kisah biblikal Noah. Bukan hanya Aronofsky, sineas veteran penghasil Alien, juga akan merilis Exodus: Gods and King yang mengangkat kisah Nabi Musa dengan Christian Bale di lini depan aktingnya. Di lain sisi, ada pula film-film non blockbuster seperti Son of God, Heaven is For Real, hingga God's Not Dead. Datang dari tanah Irlandia, ada Calvary, sekalipun bukanlah kisah biblikal dan hanya mengambil agama sebagai latar belakang dan alat agar kisahnya mampu bekerja dengan baik. Dan yah, harus diakui, kisahnya dapat berkerja dengan baik, bahkan sangat baik.

"I first tasted semen when I was 7 years old," kalimat inilah yang mengawali Calvary, sebuah dialog yang benar-benar aneh untuk mengawali sebuah film, bukan hanya bagi film yang mengangkat agama dan keimanan seperti Calvary, tapi literally, semua film. Well, it would be very weird for The Avengers to have this first dialogue, right? Dan, saya yakin reaksi penonton akan sama dengan dialog setelahnya, "That's certainly a startling opening line," well, certainly it is. Kembali lagi, ini adalah satu cara disturbing untuk mengawali sebuah filmnamun sukses mengumpan rasa penasaran yang begitu besar.  Jujur. saya begitu terkesima dengan opening dari Calvary: kalimat ini muncul dari balik sebuah bilik pengakuan dosa yang gelap, dengan Father James yang terlihat sedih dan seorang pria sakit jiwa misterius yang 'mengakui' dosanya dan tiba-tiba mengancam akan membunuh sang pastur. One minute, and you'll be hooked for 99 more minutes.


Ini benar-benar jarang terjadi. Ancaman pembunuhan bukan hal yang baru lagi, tapi menujukannya pada seorang pemuka agama yang benar-benar innocent? Ini mungkin saja yang pertama. Berangkat dari sini, Calvary terasa seperti perpaduan yang absurd, namun di situlah Calvary mampu tampil kuat. Ada banyak unsur agama di dalamnya, namun ia diawali oleh sebuah misteri dan rasa penasaran yang mencengangkan. Tapi, semakin konfliknya melebar, maka ini bukan hanya berbicara tentang misteri, dan Calvary juga bukanlah agama melulu. Ada banyak hal lain di baliknya.

Ketika dramanya mulai mendominasi, misteri di sini hanyalah semacam medium, perantara yang sutradara berikan untuk menyampain pesan sebenarnya film ini. Dari dialog awal percakapan Father James dengan 'sang calon pembunuh', "There's no point killing a bad priest, but killing a good one! That would be a shock!", McDonagh telah memberikan sedikit clue tentang apa sebenarnya Calvary. Di menit-menit setelahnya. begitu banyak karakter berseliweran, mondar-mandir dengan kisah-kisah dan kelakuannya tersendiri. Ya, it's a character study and social commenatary, likely a representation of seven deadly sins, and a pretty good one. Sekalipun durasi 100 menit begitu singkat untuk menjabarkan tiap kisahnya, yang mungkin membutuhkan lebih dari 2 jam untuk memadatkan tiap subplot, tapi tak dapat dipungkiri, subplot-subplot ini menarik, dengan karakter-karakter yang eksentrik, yang membuatnya menjadi lebih atraktif. Batu sandungan itu memang ada dengan subplot yang begitu banyak dan beberapa di antaranya kurang dapat berkembangtapi toh saya tetap terkesima selama 100 menitya berjalan.


Ini mengingatkan saya terhadap Gosford Park, but much more interesting. Beralur lambat, and filled with talking, talking, and just talking, banyak hal yang sebenarnya terjadi di baliknya. Ya, sekalipun begitu dominan, tak lantas Calvary berubah haluan menjadi film yang tak menarik dengan hanya ada kata-kata di dalamnya. Sebaliknya, berterimakasihlah kepada John Michael McDonagh yang berjasa dalam menyusun dialog-dialog berbobot dan cerdas, tapi pada saat yang sama, ia juga bisa bercanda, mengeluarkan baris dialog yang bukan hanya membuat kita tersenyum simpul, tapi juga 'mengunyahnya' terlebih dahulu.

Lewat naskah, kita dapat melihat apa yang McDonagh ingin sampaikan ke permukaan. Film ini mengambil sebuah tanda tanya besar terhadap, well literally everything that's been questioned by many people: religion, faith, church sexual issue, human nature, honesty, hope, and forgiveness, which we can see in each story and each character. Tapi, apa yang membuat Calvary bahkan lebih baik lagi, adalah sang pemain utama itu sendiri. The priest, is flawed. Dia seseorang yang jujur, tenang, penuh keyakinan, meski pada beberapa bagian air mukanya menunjukkan keputusasaan. Ia adalah observer, mata dan hati penonton dalam mengamati kelakuan manusia. Dan, layaknya kita sebagai penonton, ia juga bukan karakter sempurna, dan Brendan Gleeson dengan bantuan McDonagh berhasil membuat karakter ini layaknya seorang manusia biasa.


Dari menit awal, Calvary dengan berani telah menyinggung isu pelecehan dalam tubuh gereja. Tak seperti Doubt yang memilih menyinggungnya dengan penyampaian yang lebih halus dalam 'keraguan', maka McDonagh mengambil jalan yang lain, mengungkapkannya lewat latar kisah dan jalannya dialog yang pada beberapa bagian cukup eksplisit. Jangan bayangkan seperti Primal Fear yang brutal, karena pembawaan Calvary yang menenangkan di keadaan apapun. Di satu sisi, ini adalah penggambaran yang cukup disturbing dan 'sakit', memaksa penonton mendengarkan dialognya yang menyakitkan, meski tak pernah secara langsung 'memamerkan kesakitan' tersebut.

Ya, dengan segudang kelakuan immoral yang ia gambarkan, apa yang ia bawa justu sebaliknya: apa itu moralitas, Anda mungkin akan bergidik akan isu pelecehan seksual dan kekerasannya, namun Calvary tetap menyentuh di hampir semua bagian. Lewat sang pemain utama, ada kejujuran dan nilai moral lain, dan lewat tiap subplot, selalu ada yang dapat kita ambil tanpa harus merasa digurui. Sebelum kredit bergulir, McDonagh juga sempat menyajikan salah satu momen penutup paling epik yang pernah ada. Tanpa perlu berkata-kata dan bermodalkan permainan visual, ia mampu menyentuh penonton, memberikan pelajaran terakhir yang berharga dan tak terlupakan: hope and forgiveness.


Kesimpulannya? Topik yang ia bawa kurang lebih apa yang kita lihat dalam Se7en minus box misterius itu, dengan konsep pengemasan yang mengingatkan kita akan Gosford Park, tapi dengan misteri yang lebih mempesona. Meski begitu, Calvary masih memiliki spark-nya sendiri. Temanya banyak dan berat, namun penyajiannya cenderung tidak terlalu berat, dan ia juga tak pernah menggampangkan tema krusialnya. Hasilnya, sebuah drama pilu dan menyentuh, humor cerdas, yang disajikan dengan begitu cantik, baik dari segi naratif maupun visual. Berbicara tentang visual, di balik kegelapan temanya, Calvary juga menyimpan sinematografi apik. Ia turut membuka Calvary dengan atmosfer yang gloomy, menyorot lanskap Irlandia yang begitu cantik, menyajikan kepedihan dengan visaul memukau, hingga yang terpenting: ia juga ambil bagian dalam menyampaikan emosi dalam bentuk visual ke penonton.

Dibuka oleh percakapan yang cukup mengejutkan, ditengahi oleh karakter-karakternya yang menarik, hingga diakhiri oleh momen yang menggetarkan, nyaris membuat saya melupakan kekurangan Calvary, yang sebenarnya juga bukanlah hal yang terlalu besar. Selama 100 menit, Calvary mampu memberikan sebuah dunia yang tak biasa, mengeksplorasinya lewat sebuah misteri yang mempesona, memberikan penonton sebuah suplemen otak dengan kecerdasannya mengambil banyak hal ke permukaan dan keberaniannya menertawakan isu-isu moral. Diisi oleh lead tak terlupakan dari Brendan Gleeson, makin mampu menegaskan Calvary sebagai sebuah silent pleasure, tontonan mengenai kesedihan yang disajikan dengan cantik dan tenang. Salah satu yang terdepan di tahun ini, bahkan sejak menit pertamanya,

Thursday, June 19, 2014

Tagged under: , , , , ,

[TV Review] Fargo (Season 1)

"He's not gonna stop. You know that, right? A man like that, maybe not even a man." ~ Molly

Tahun ini, jujur merupakan tahun di mana TV series berkualitas tumbuh menjamur. Sekalipun saya tak mengikuti seluruhnya, namun tentu beberapa di antaranya. Salah satunya, adalah Fargo. Dari namanya, tentu anda dapat menebak bahwa series ini didasari dan berlatar sama dengan sebuah film berjudul sama, Fargo, karya Coen Brothers, yang sampai sekarang dikenal sebagai salah satu dark comedy terbaik, if not the best. Well, show ini telah mencapai penghujung episodenya, dan layaknya sang pendahulu, Fargo versi modern adalah salah satu TV show terbaik yang pernah ada, and here's why. Oops, dan satu lagi peringatan, spoilers bertebaran di mana-mana. 

'THIS IS A TRUE STORY. The events depicted took place in Minnesota in 2006. At the request of the survivors, the names have been changed.' Ya, itulah yang akan anda lihat setiap menonton tiap episode dari Fargo, hal yang sama juga dilakukan Fargo versi Coen Brothers. Tapi, jangan tertipu, karena keduanya sebenarnya murni kisah fiktif. Ya, tak ada Lorne Malvo dan Lester Nygaard, yang artinya pula, tak ada Marge Gunderson, Jerry Lundergaard, dan Carl 'funny-looking-guy' Showalter. Jadi, untuk apa ini semua? Well, Coen Brothers are geniuses. Mereka tahu cara agar penonton dapat lebih terhubung ke dalam suatu cerita, and i must say, this is the way, and it's brilliant! But, it's not the only way.


Dari sisi screenplay, Fargo is pretty much the same with the old Fargo: ia menyampaikan kisah sederhana, namun penuh studi karakter yang mempesona mengenai sekumpulan manusia yang menghadapi sesuatu hal yang tak biasa (bahkan tergolong luar biasa), dan memperlihatkan apa yang akan para karakter itu hadapi, dan bagaimana reaksi mereka terhadapnya. Latar belakang suatu lingkungan yang masih cukup konvensional juga berperan besar dalam membangun tone komedi gelap yang juga kaya akan cucuran darah di tengah shock tragedy yang terjadi dalam masyarakat. Ini bukan sebuah kisah kriminal biasa, ini adalah kisah kejatahatan yang down-to-earth, namun penuh kecerdasan yang luar biasa kompleks.

Tapi, Fargo juga bukan Fargo yang lama, mereka masih punya batas yang jelas di antara keduanya. Noah Hawley selaku penulis naskah tak sekadar menciptakan sebuah penceritaan ulang, namun lebih dari itu, menceritakan kisah berbeda namun masih dengan nafas yang sama dengan pendahulunya. Tentu, kisah ini lebih kompleks dengan 10 episodenya, lebih banyak karakter, lebih banyak darah, lebih sadis, tapi apa yang membuat TV series ini begitu istimewa adalah membawa kisah itu dengan nafas Fargo yang dulu, menggabungkan sebuah kisah modern namun dengan tone penuh nostalgia. 


Perlu diingat, kendati merupakan sebuah kisah kriminal, Fargo tetaplah sebuah dark comedy. And, Fargo still has that vibe, sekalipun dengan porsi yang lebih sedikit dibanding pendahulunya. Dialog-dialog hadir dengan pengemasan cerdas, tetap memancarkan sebuah komedi hitam, namun kadang mempertanyakan berbagai pertanyaan yang memutar otak. Di lain sisi, beberapa scene tampil komikal dan awkward khas dark comedy, tapi di saat yang sama, tetap dapat mempertahankan tone kriminalnya. Yeah, hitting a wife with an axe till death has never been this 'funny'. Tapi, berbicara soal humor seperti ini, rasanya tak akan lengkap tanpa membicarakan sang villain, Lorne Malvo. He has such a great sense of humor! What a villain.

Membicarakan Fargo memang berarti membicarakan para karakternya. Ya, apalah arti Fargo tanpa karakter-karakter yang kaya cerita itu. Fargo memusatkan perhatianya kepada Lester Nygaard, yang boleh jadi merupakan orang tersial yang pernah ada. Berangkat dari seorang lelaki biasa dengan istri bermulut lebar, yang kemudian kehidupannya berubah setelah sebuah tragedi secara 'tak sengaja' terjadi, yang membawanya pada satu sisi yang ia pun tak pernah sangka merupakan bagian dari dirinya. Kita dapat melihat definisi 'good guy gone bad' di dalam dirinya. Martin Freeman adalah orang yang tepat melakonkan Lester. Lester tampak seperti Bilbo Baggins, seorang pengecut dengan gaya bicara gagap, namun dengan keadaan yang memaksa keduanya berubah, Bilbo berubah menjadi seorang antihero yang pemberani, sementara Lester perlahan memunculkan sisi monsternya yang makin terasah.


Meskipun begitu, Lorne Malvo-lah yang menguasai semuanya dan pada dia lah semua mata tertuju. Ia merupakan orang yang mengontrol segalanya, penyebab dari tragedi demi tragedi, dan orang yang selalu mampu mengalihkan perhatian penonton. Dimainkan dengan sempurna oleh Billy Bob Thornton, ia layaknya seorang peneliti yang mempraktekkan langsung teorinya tentang sebuah studi karakter manusia. Ia kriminal yang jenius, tahu apa yang ia lakukan, tapi apa yang paling istimewa dari sosok ini adalah bagaimana cara ia berhadapan dengan tiap masalah, ketenangannya, hingga cara bicaranya yang manipulatif. Dandanannya mungkin menyedihkan, tapi dibalik gaya rambut dengan poni yang buruk itu, terselip salah satu otak kriminal terhebat sepanjang sejarah. It's a good thing he's a fictional character.

Sebagai sutradara, the 5 directors did a great job. Mereka sukses dalam menyeimbang dua tone Fargo yang saling bertolakbelakang. Ini bukan melulu soal kejahatan, ini adalah gabungan dari banyak genre yang saling terdepan dalam tiap sisi. Intensitas mampu terjaga dengan cukup konsisten, meski tak bisa dipungkiri lows itu tetap ada. Tapi, lihat bagaimana semua itu dikemas. Lihat bagaimana (oops, spoiler) Lorne membantai sebuah gedung dengan kamera yang hanya mengikutinya dari luar gedung, bergerak dari lantai ke lantai, hingga diakhiri klimaks fantastis. Lalu, lihat pula bagaimana Lorne mengelabui para pihak berwajib dengan sebuah masterplan luar biasa. Belum cukup, ini hanyalah dua dari banyaknya eksekusi brilian penuh ledakan intens yang mewarnai 10 episode Fargo ini.


Well, Fargo bukan berarti hadir tanpa cacat. Sekalipun screenplay racikan Noah Hawley memang cerdas, padat, dan merupakan salah satu yang terbaik di tahun ini, namun ini tidak membebaskannya dari beberapa detil yang tertinggal dan terasa janggal. Ada beberapa karakter di awal yag terlihat cukup krusial, namun nyatanya memang tak sekrusial itu. Selain itu, mungkin ada beberapa aspek di klimaks yang tak ditemani oleh detail yang lebih jelas. Sure, i'm not going to tell you which aspect. Meski begitu, terlepas dari kekurangan minor tersebut, Fargo tetaplah sebuah penghidupan karya klasik yang sangat berhasil. 

Ya, Fargo telah bangkit kembali, lewat sebuah lika liku kriminalitas yang tak hanya kompleks dan unpredictable seperti kisah crime yang lain, namun juga cerdas sembari tetap sukses dalam menggali tiap sisi humornya. Tone-nya terjaga baik, dengan sisi gelap dan terang yang cukup seimbang, membawa penonton kembali pada karya Coen Brothers. Karakter-karakter hadir dengan ciri tersendiri, lekat di ingatan, dan mampu berkembang dengan baik, dengan Billy Bob Thornton serta Martin Freeman yang berada pada lampu sorot. Lewat screenplay-nya yang berlatar sederhana di tengah masyarakat yang tak terbiasa kasus serupa, ini membuat penonton mudah terhubung dengan kisahnya yang cukup kompleks. Belum lagi, setiap kisah mampu dikemas dengan brilian yang disertai kemampuan teknis level atas, thanks to the wonderful directors. Hats off!


Monday, January 13, 2014

Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , , ,

[Part 1] 2013: 25 Best Movies


Tahun 2013 telah berakhir, dan rupanya mampu menjadi tahun penuh kebaikan bagi industri perfilman. Meski minim film superhero yang meledak di tahun-tahun sebelumnya, 2013 tetap dipenuhi film blockbuster penuh aksi, sekuel yang membawa banyak kisah gembira, komedi pengocok perut, horor yang kembali pada hakikatnya, biopik-biopik megah, drama-drama kompleks nan menyentuh, hingga thriller yang tak pernah kehabisan akal untuk memacu adrenalin. Dan, dari banyaknya film yang rilis tahun lalu, saya telah merangkum bagian 1 dari total 25 film terbaik dari yang terbaik (click here for part 2).



Namun, sebelum memasuki 25 film terbaik 2013 lalu, inilah film-film terbaik lain yang dengan sangat terpaksa, harus saya 'buang', in random order. Ada Frozen, animasi musikal dari Disney yang mampu menggebrak naratif dongeng tentang kekuatan cinta sejati, Saving Mr. Banks, di mana Walt Disney dan P. L. Travers tampil dalam 1 frame dengan Emma Thompson yang sempurna, komedi penuh petualangan menyenangkan yang dikemas dalam akhir dari trilogi Cornetto The World's End, drama southern Mud yang penuh kejujuran dan cast bertalenta, serta The Place Beyond the Pines, sebuah drama 'estafet' memukau yang mengungkap kisah masa lalu.

And, here they are!

#25. The Hobbit: The Desolation of Smaug | Directed by Peter Jackson | Written by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, and Guillermo del Toro
Mengadaptasi sebuah novel menjadi 3 film mungkin bisa dibilang hanyalah langkah untuk menggeruk dollar sebanyak-banyaknya. Memang benar, namun tak ada yang mampu menutup pesona sekuel kedua dari prekuel saga The Lord of the Rings ini. Di samping durasinya yang kelewat panjang dan beberapa keputusannya untuk berlama-lama pada bagian tertentu, Peter Jackson has done his job very well. Strategi 'menyembunyikan' sang naga untuk durasi yang sangat lama jelas berhasil, terlebih dengan karisma Benedict Cumberbatch yang bahkan tak tertutupi meski telah berubah wujud menjadi seekor naga tamak. Dengan aksi yang lebih membabi buta dan menyenangkan ketimbang The Unexpected Journey, Peter Jackson mampu membuat penonton melewati 161 menit tanpa benar-benar merasakan bahwa mereka sebenarnya telah menghabiskan waktu selama itu.


#24. The Conjuring | Directed by James Wan | Written by Chad Heayed and Carey
Secara cerita, The Conjuring memang tak menghadirkan jalan cerita horor modern yang out-of-the-box, sebaliknya, lewat kisahnya, ia mencoba menghidupkan kembali sentuhan-sentuhan horor klasik, dan itu berhasil! Dengan pengarahan yang mampu menyesaki ruangan dengan aroma mistis, James Wan mengarahkan penonton ke sebuah perjalanan mengerikan dan mencekam yang dibangunnya secara solid tiap waktu berlalu dengan menawarkan teror-teror kreatif dan efektif. Dengan denyutan old-school-nya yang mengalir deras, The Conjuring bukanlah hanya homage horor 1970'an untuk bernostalgia ria, tapi juga sebuah karya horor sejati sesak kengerian yang mampu melaksanakan tugas utamanya dengan sangat baik: meneror sekaligus menghibur penonton. 


#23. Rush | Directed by Ron Howard | Written by Peter Morgan
Rush hidup berkat rivalitas antara James Hunt (Chris Hemsworth) dengan Niki Lauda (Daniel Bruhl) yang dibangun Ron Howard dengan begitu mantap. Dengan aksen kentalnya, Daniel Bruhl berhasil memberi nyawa pada karakternya, sekaligus menghidupkan chemistry frenemy-nya dengan Chris Hemsworth yang flamboyan. Tak berhenti di situ, setiap racing sequences mampu dieksekusi dengan penuh hentakan ketegangan yang tertata baik setiap menitnya. Rush adalah rivalitas manis yang menawarkan banyak ketegangan dan keseruan luar biasa, sebuah biopik yang tak hanya mampu menggali setiap karakternya dengan baik, namun juga membawa setiap penonton pada sebuah jalinan antar karakter yang terikat kokoh. Dengan Rush yang extremely lovable and well-executed ini, jangan pernah Anda ragukan kualitas seorang Ron Howard.


#22. Star Trek Into Darkness | Directed by J.J. Abrams | Written by Roberto Orci, Alex Kurtzman, and Damon Lindelof
Seri Star Trek kembali menunjukkan taringnya. Selepas Star Trek yang memukau, kini Star Trek Into Darkness kembali dengan hasil yang tak kalah memukaunya. Masih dengan skrip yang tertata baik, kini Spock mendapat sorotan lebih berkat kesempatannya untuk menunjukkan sisi emosionalnya, selagi membangun persahabatan manis dengan sang Kapten Kirk. Selepas semua itu, ternyata Star Trek masih belum kehilangan 'gigitannya'. Ditambah dengan Cumberbatch yang sesak akan pesona tak terbantahkan, visual yang tak usah dipertanyakan lagi, serta sekuen aksi yang penuh suntikan adrenalin, ini adalah contoh sekuel yang mampu tampil dengan cerdas sekaligus menghibur. Dan, ya, kita juga harus bersyukur, karena pada akhirnya, Star Trek Into Darkness ternyata tak membawa franchise ini ke dalam 'kegelapan' seperti judulnya.


#21. The Hunger Games: Catching Fire | Directed by Francis Lawrence | Written by Simon Beaufoy and Michael Arndt
Oke, di luar sebanyak apa 'inspirasi' film serta novel asalnya ini dari film asal Jepang, Battle Royale, seri pertamanya memang sangat menghibur. Seri kedua, kini ia memberi kejutan. Hadir dengan penceritaan yang lebih dewasa sekaligus matang, sekuel ini mampu memberi karakter yang lebih tereksplorasi, departemen akting yang lebih memukau, serta dengan drama yang lebih humanis plus kisah cinta segitiganya, walaupun ada beberapa bagian yang telah kita lihat sebelumnya di seri pertamanya. Di tengah ritme penceritaan yang lebih lambat dan kelam dibanding pendahulunya, Jennifer Lawrence kembali menunjukkan talentanya yang luar biasa sebagai heroin yang dipuja-puja. Sebuah perpaduan antara drama berbalut satir pemberontakan terhadap penguasa, action-packed, serta science fiction, jelas sudah, ini adalah pencapaian luar biasa jika dibandingkan pendahulunya.


#20. Frances Ha | Directed by Noah Baumbach | Written by Noah Baumbach and Greta Gerwig
Naratifnya yang penuh tikungan tajam mungkin berpotensi untuk membingungkan, namun dengan kesederhanaan dan keluguannya, Frances Ha rupanya mampu menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Menceritakan sisi lain dari kehidupan New York yang jauh dari kesan glamor, Greta Gerwig tak hanya berhasil di naskah yang ia tulis, tapi sebagai Frances yang konyol, awkward, dan penuh kemalangan, rasanya tak ada yang mampu melakukan hal tersebut lebih baik darinya. Dengan banyak pengaruh Woody Allen, Frances Ha tampil unik dengan usahanya yang berhasil menjadi tontonan kocak nan sederhana, tanpa pernah berusaha terlalu keras untuk menjadi kocak. Tak banyak macam-macam, Frances Ha adalah drama komedi penuh kehangatan yang dibungkus dalam kesederhanaan, dan di saat yang sama, mampu membawa aroma nostalgia yang menyenangkan. 


#19. Fruitvale Station | Directed by Ryan Coogler | Written by Ryan Coogler
Kalau anda tanyakan orang-orang momen terbaik dalam film apa saja di tahun 2013 ini, maka hampir dapat dipastikan, adegan penembakan Oscar Grant akan menjadi salah satunya. Bukan hanya karena para cast yang mampu memanfaatkan setiap detik dengan begitu baik, tapi juga karena tangan Ryan Coogler yang dengan cerdas memompa setiap ketegangan ke batas maksimal. Tapi, bukan berarti itu satu-satunya momen yang mampu mengangkat Fruitvale Station. Dari awal hingga akhir, Fruitvale Station mampu menceritakan setiap detiknya yang berharga dengan mulus. Ditambah trio aktingnya yang bersinar: Michael B. Jordan yang menghidupkan kemali Oscar yang tough sekaligus gentle, Melonie Diaz yang membangun chemistry kokohnya dengan Jordan, serta Octavia Spencer yang mampu memaksimalkan kehangatannya walau dengan durasi yang tak banyak. Sebuah 'rekonstruksi adegan' yang lebih dari sekedar mengulang apa yang telah terjadi, sebaliknya memilih untuk kembali menghidupkan kembali momen-momen tersebut dengan penuh kejujuran.


#18. Prisoners | Directed by | Written by Denis Villeneuve | Written by Aaron Guzikowski
Di antara banyaknya drama yang menghiasi 2013, Prisoners adalah salah satunya yang bersinar terang. Meninggalkan setiap penonton pada labirin konflik kompleks penuh tanda tanya di antara manusia-manusia 'tak berdosa', Prisoners membawa segala tema besar tentang dendam, dilema, keputusasaan, hingga kebobrokan moral ke sebuah perjalanan menegangkan bertabur kepingan puzzle yang berteriak untuk dipecahkan. Di jajaran cast-nya, Hugh Jackman tampil bersahaja sekaligus emosional, sementara Jake Gyllenhaal hadir sebagai sang badass. Dengan membawa sedikit aroma The Vanishing yang begitu sesak akan ketragisannya, Prisoners adalah sebuah 'petualangan' emosional betabur injeksi ketegangan yang sama sekali tak melelahkan di 2 jam lebih durasinya,


#17. All is Lost | Directed by J.C. Chandor | Written by J.C. Chandor
Life of Pi? Well, mungkin punya beberapa elemen mirip, namun jelas keduanya berbeda. Tak ada Richard Parker, setumpuk pisang yang mengapung, hingga pulau penuh meerkat. Yang ada, hanyalah Robert Redford yang hampir tak pernah berbicara, dan... lautan yang terhampar luas. Bermodal dialog dan monolognya yang kalau dihitung-hitung bahkan tak mencapai 45 baris dalam durasi 100 menitnya, All is Lost hidup berkat pengarahan penuh tensi dan hati dari J.C. Chandor serta penampilan Robert Redford yang menakjubkan. All is Lost adalah ketika semuanya hilang, hingga yang tersisa adalah jiwa untuk terus hidup, dan Redrofd berhasil untuk itu. Sunyi, sederhana, namun penuh nyawa, All is Lost adalah potret sempurna tentang jiwa setiap manusia.


#16. American Hustle | Directed by David O. Russel | Written by Eric Singer and David O. Russel
Diringi naskah berujung twist serta arahan David O. Russel, American Hustle melangkah dengan penuh percaya diri. Tapi, tetap saja, hal yang paling menarik hati adalah castnya yang begitu kuat. Christian Bale mampu menyajikan penampilan luar biasa plus satu lagi perubahan tubuh drastisnya. Sementara Bradley Cooper mampu membuktikan talentanya sekali lagi, tapi para pencuri scene ada di tangan sang 2 wanita, Amy Adams dan Jennifer Lawrence. Amy Adams, as usual, kembali memukau siapa saja lewat perannya sebagai penipu sensual dan Jennifer Lawrence, meski memerankan peran yang mengingatkan kita akan perannya dalam Silver Linings Playbook, ia tetap menakjubkan dengan peran penuh dialog witty ini. Sebagai sebuah film, ia memaparkan perjalanan manusia yang mendalam pada setiap karakternya, dan sebagai sebuah hiburan, ini adalah 138 menit penuh kekocakan yang energetic dan menyenangkan!


#15. Side Effects | Directed by Steven Soderbergh | Written by Scott Z. Burns
Dilihat dari bagaimana Steven Soderbergh mengemas Side Effects, memang banyak mengingatkan siapa saja terhadap film medical disaster-nya, Contagion. Namun, Side Effects jelas bukanlah Contagion. Dibanding Contagion yang lebih tenang, Side Effects adalah thriller psikologis yang lebih intens. Dengan lapisan-lapisan yang mampu ditata Soderbergh dengan sangat cerdas yang diisi pula oleh sentuhan kental a la Hitchcock, ini adalah sebuah bom waktu yang mampu memuntahkan segala misteri dan kejutan-kejutannya yang pintar dan kapan saja bisa mengelabui anda. Di lini depan, Rooney Mara tampil hebat, menambahkan satu lagi salah satu penampilan terbaik dalam filmografinya, bersamaan dengan performa baik yang juga ditunjukkan oleh Catherine Zeta-Jones, Jude Law, juga Channing Tatum. Penuh pompaan kejutan dan intensitas serta pendekatan psikologis maksimal, Side Effects kembali hadir sebagai salah satu karya terbaik Steven Soderbergh.


 #14. The Wolf of Wall Street | Directed by Martin Scorsese | Written by Terence Winter
Jadi, apa yang dilakukan Martin Scorsese setelah drama keluarga Hugo? Sebuah biografi nakal nan provokatif inilah jawabannya. Ya, memang sangat berbanding terbalik dengan yang ia lakukan sebelumnya, tapi Scorsese memang tak akan pernah bisa berhenti mengejutkan orang. Scorsese lagi-lagi memilih DiCaprio, dan ternyata merupakan keputusan tepat. DiCaprio, dengan kharisma besarnya, adalah seorang maniak sembrono dan penuh kedinamisan, terlebih ia dipasangkan dengan Jonah Hill yang tanpa disangka mampu membangun chemistry bromance yang hangat nan kocak. Naskahnya hadir dengan sentilan-sentilan humor dan dialog-dialog tajam dengan 'bungkus' budaya hedonisme yang melimpah-ruah, sementara Scorsese berhasil mengemasnya menjadi sebuah rollercoaster penuh tawa, infeksius, serta penuh menit-menit eksplosif. Dengan 3 jam durasinya, The Wolf of Wall Street mungkin akan lebih baik lagi jika lebih ringkas dalam bercerita, namun selama 3 jam itu pula, siapapun tak bisa menolak pesonanya.



#13. Blue Jasmine | Directed by Woody Allen | Written by Woody Allen
Di luar raihan 4 Oscarnya, Woody Allen sebenarnya merupakan sineas yang tak selalu konsisten dalam perjalanan karirnya. And, thank God, kali ini Blue Jasmine tak termasuk dalam salah satu karya inkonsistennya, bahkan jauh dari kata itu. Dengan kisah sederhananya, Blue Jasmine terbangun berkat naskahnya yang ditulis dengan sangat baik. Menitikberatkan masa-masa midlife crisis secara non-linear dengan sentuhan humor di sana-sini, Blue Jasmine adalah studi karakter luar biasa, yang diisi oleh cast berkualitas dan mampu dengan kokoh diarahkan oleh Woody Allen. Tapi, dari semua cast, Cate Blanchett lah yang paling bersinar. Dengan peran kompleksnya ini, ia mampu membuat dirinya dibenci, sekaligus dicintai. Penuh kebingungan dengan jiwanya yang labil, Blanchett menyajikan no-one-can-beat-her performance. Well, watch out, ladies, because Ms. Blanchett is coming to get her 2nd Oscar!

Dari sekuel penuh fantasi dan aksi menegangkan, The Hobbit: The Desolation of Samug, di posisi awal hingga kisah tentang wanita diambang kegilaan, Blue Jasmine, yang mendarat di angka 'sial', ini hanyalah segelintir film-film yang mampu menunjukkan kedahsyatannya di 2013. More is coming!


Friday, September 13, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Heat (2013)

"Hey, has anyone seen the captain’s balls? Let me know. They’re about this big. They’re like really, really tiny little girl balls, if little girls had balls." ~ Mullins

Film buddy-cop memang merupakan jenis film yang sering kita temui, terlebih. Dari ranah komedi yang memang paling sering 'mengeksploitasi' sub-genre ini, ada Channing Tatum dan Jonah Hill di 21 Jump Street hingga Mark Wahlberg plus Will Ferrell dalam The Other Guys. Kalau ingin yang lebih 'manusiawi', ada End of Watch yang dengan cerdas menggabungkan drama polisi penuh chemistry kokoh dari Jake Gyllenhaal dengan Michael Peña yang dikemas ala film dokumenter, alias mockumentary. Tahun ini, sub-genre buddy-cop mendapat satu anggota baru, dan lagi-lagi bergenre komedi. Bukan, bukan 2 Guns maksud saya. Yang satu ini, datang dari para wanita, The Heat.

Jangan anggap remeh dulu. Meski tak bisa dipungkiri, bagi beberapa orang, film komedi buddy-cop sudah kadaluarsa, namun coba liht siapa nama-nama dibalik film ini. Sebagai sepasang polisi kocak, ada Sandra Bullock, yang pernah membawa pulang trofi manusia emas dan mengalahkan Gaborey Sidibe, Carey Mulligan, serta Meryl Streep berkat perannya dalam... em....The Blind Side. Oke, lupakan memori lama tersebut. Yang jelas, nobody doubts her acting ability. Di sebelahnya, ada si comedy gold, Melissa McCarthy, yang tenar berkat perannya dalam Bridesmaids. McCarthy bukan satu-satunya. Paul Feig, sutradara Bridesmaids juga ikut bereuni dengannya dan memegang kendali utama The Heat.


Adalah Sarah Ashburn (Sandra Bullock), seorang agen FBI tenar berkat kemampuan dan intelegensianya yang di atas rata-rata serta segudang prestasi yang pernah disabetnya. Karena kemampuannya tersebut, Ashburn juga dikenal sebagai seorang agen yang penuh keseombongan. Suatu hari, ia ditugaskan oleh atasannya untuk memecahkan sebuah kasus sekaligus menangkap seorang kriminal narkoba bernama Larkin di Boston (Boston? Jangan salah sangka, Ben Affleck tak terlibat sama sekali).  Di Boston, ia di-partner-kan dengan seorang polisi wanita bertubuh tambun yang tak bisa menutup mulutnya, Shannon Mullins (Melissa McCarthy), yang memiliki caranya tersendiri untuk membekuk para kriminal.

Seorang agen FBI dengan arogansi tinggi ditambah seorang polisi nyeleneh bermulut 'lebar', apa jadinya? Perseteruan 'tiada akhir' adalah jawabannya. Namun, hubungan 'tiada akhir' ini tak berlangsung lama, karena tetap saja, mereka mempunyai sebuah kasus untuk dipecahkan. Yang jelas, dengan perpaduan antara kemampuan analisis tinggi Ashburn dengan teknik unik Mullins dalam menghadapi kasus, mampukah duo kontradiktif Ashburn-Mullins memecahkan kasus penuh perjalanan konyol ini?


Sebenarnya, plot yang tertulis dalam screenplay hasil tulisan Katie Dippold ini tak ada yang bisa dibilang istimewa. Tak ada hal-hal segar, hanya cerita yang berkutat dalam film buddy-cop, bedanya kali ini wanita memegang kendali. Bagi anda yang tak asing dengan film karya Paul Feig, pastinya tak asing dengan hal-hal tipikal komedi yang kemudian diputarbalikkan dengan 'permainan' gender. Ya, tentu saya berbicara tentang Bridesmaids, film komedi yang sebelumnya membuat ia sukses besar, yang memang memiliki beberapa kemiripan dengan The Hangover. Namun, tak seperti Bridesmaids, yang lebih berliku dan panjang (lebih well-written pula), The Heat adalah film yang lebih straight-forward dalam naskahnya. 

Walaupun secara keseluruhan, The Heat cukup predictable dan tipikal (kecuali untuk twist di akhirnya), namun rupanya itu sama sekali tak menghalangi langkah dalam naskahnya untuk tetap bersinar. Selama durasinya yang lebih singkat ketimbang Bridesmaids, The Heat mampu menebarkan kharisma komikal yang tak bisa dianggap enteng. Katie Dippold dengan cerdas berhasil menuliskan dialog-dialog super lucu, kreatif, dan memorable, lengkap dengan tingkah-tingkah karakter pengocok perut dan joke-joke-nya yang cukup kasar namun sangat efektif. Kalau anda tak pernah tertawa selama menonton film ini, mungkin ada yang salah dengan sense of humor anda, atau mungkin... anda bukan manusia.


Apakah sepanjang film ini anda tertawa bebas? Masih ingat juga ketika penonton dibuat terbahak-bahak dan terguling-guling dengan Bridesmaids? Kalau jawabannya iya, maka anda tak hanya harus berterima kasih dengan Dippold atau duo Kristen Wiig-Annie Mumolo saja, karena Paul Feig lah yang 'mengemudikan' kedua comedy roallercoaster ini. Dan untuk kedua kalinya, ia berhasil! Walaupun pengarahannya tak sekuat yang ia tunjukkan dalam Bridesmaids, namun dengan peluru-peluru pemecah tawa yang selalu mengenai sasaran, lengkap dengan timing-timing sempurna dan pacing pas yang membuatnya sangat enjoyable, The Heat tetaplah film yang makin mengukuhkan nama seorang Paul Feig sebagai salah satu sutradara komedi yang tak mengenal 'hit-and-miss' dalam menyuguhkan guyonan-guyonan juara.

Sebagai sebuah film buddy-cop, The Heat menawarkan chemistry konyol namun hangat (yang cukup unexpected bagi saya) di antara 2 aktris kenamaan di lini depannya, Oscar-winner Sandra Bullock dan comedy-gold Melissa McCarthy. Sandra Bullock, yang memang pernah beberapa kali membintangi film komedi, termasuk Miss Congelianity yang cukup melambungkan namanya, kali ini masih dapat mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Dengan karakter yang cerdas dan terlihat sempurna di kulitnya, Sandra Bullock mampu mengambil simpati penonton, di samping penampilannya yang komikal.


Di lain sisi, Melissa McCarthy adalah scene-stealer sejati. Setelah 'mencuri' Bridesmaids dan membagi spotlight utama dengan Kristen Wiig, yang akhirnya membuahkannya sebuah nominasi Oscar, ia kembali mencuri perhatian. Ya, memang penampilannya tak jauh berbeda dengan perannya dalam Bridesmaids, namun scene-stealer tetaplah scene-stealer. Dengan bantuan Paul Feig, McCarthy mampu mengatur waktu yang sempurna untuk mengeluarkan dialog-dialog witty dari mulut embernya dengan penuh kharisma. Lagi, karakter Mullins hadir dengan penuh keunikan dan segala konflik keluarga yang membuat segalanya menjadi sebuah harta karun penuh tawa.

Sejujurnya, apa yang Paul Feig treatment-kan pada The Heat, memang telah kita kenal sebelumnya dalam Bridesmaids. Tapi, siapa peduli, jika nyatanya film ini punya jutaan jurus untuk menutup lubang-lubangnya dan membuat anda tertawa terguling-guling dengan dialog witty nan kocak serta guyonan kasarnya? Dengan Sandra Bullock yang kembali lagi ke ranah komedi dengan hasil yang sangat memuaskan, juga dengan chemistry kokohnya bersama Melissa McCarthy yang kembali menyerang anda dengan satu lagi peran komedi anti kata 'hit-and-miss', Paul Feig mampu mengeksplorasi dan mengeksekusi setiap canda dan tawa kasar ini dengan pacing yang sangat menghibur dan perfect timing bagi setiap humornya. Well... ya, The Heat memang mudah ditebak dan beberapa momennya memang cliche, tapi itu tidak menghalangi The Heat untuk menjadi film yang super lucu, bukan? In fact, The Heat adalah film terlucu untuk tahun ini! Oke, mungkin ini opini.

Thursday, August 8, 2013

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Sympathy for Lady Vengeance (2005)

"An angel, could that be true? Do you really think an angel resides in me? If so, where was that angel when I was committing such an evil act? I always wondered about this after hearing what the preacher said, and then I realized, that the angel inside me only reveals itself when I invoke it." ~ Lee Geum-ja

Kita pernah disajikan apa saja oleh seorang sutradara berbakat asal Korea Selatan ini. Ia pernah membuat kita ngeri 'hanya' dengan memotong achilles tendon seorang pria berambut hijau, kemudian kita dikejutkan lagi oleh sebuah balas dendam tersakit yang pernah ada, yang kemudian tak hanya menggemparkan perfilman Korea saja, tapi juga Asia, bahkan dunia. Selain itu, ia juga pernah membawa dunia vampir ke ranah Korea. Terakhir, ia hijrah ke Hollywood, sukses menjadikan sebuah naskah thriller berdarah nan familiar menjadi sebuah sajian yang berkelas dan mengagumkan. Siapa dia?

Park Chan-wook! Sutradara yang angkat nama berkat adaptasi lepas sebuah manga berjudul Oldboy ini memang dikenal sebagai salah satu pelopor film penuh kekerasan di Korea. Oldboy sendiri adalah salah satu bagian dari Vengeance Trilogy, tiga film yang bertema balas dendam, namun dengan cerita yang tak terkait satu sama lain. Sebelum Oldboy, ia telah mengarahkan seri pertama, berjudul Sympathy for Mr. Vengeance yang slow-paced, namun efektif dalam membuat gigi ngilu. Setelah Oldboy, ia menutup trilogi ini lewat pacing lebih cepat dan less-glory namun indah, Sympathy for Lady Vengeance.


Sympathy for Lady Vengeance, atau yang dikenal pula dengan Lady Vengeane saja masih berkutat pada misi balas dendam. Kali ini, seorang wanita yang memegang seluruh kendali. Adalah Lee Geum-ja (Lee Yeong-ae), seorang wanita cantik, mantan narapidana yang dihukum penjara selama 13 tahun atas kejahatan yang ia sendiri tak lakukan. Ia dituduh telah menculik dan membunuh seorang anak berusia 6 tahun, bernama Won-mo. Selepas dari tahanan, ia pun akan menuntut balik, sebuah balas dendam yang tak biasa terhadap pelaku sebenarnya, Mr. Baek (Choi Min-sik). 

Sebelum terjebak dalam jurang penuh pujian, mungkin ada baiknya jika kita mulai dari kekurangan dulu. Mungkin kekurangan yang saya rasakan adalah banyaknya karakter yang dihadirkan (sebagian besar merupakan karakter dari masa lalu Geum-ja saat masih di penjara). Sebenarnya, ini mungkin tak akan menjadi kekurangan kalau karakter yang dihadirkan dapat digali dengan cukup dalam. Namun, Park tampaknya mengalami sedikit kesulitan dalam menangani dan menggali karakter-karakter ini jauh lebih dalam. Akibatnya, walau tak bisa dibilang fatal, membuat penonton sedikit kehilangan fokus dengan apa yang Park coba sajikan.


Meski begitu, saya akui film ini memang menghadirkan tokoh sentral dengan karakterisasi yang luar biasa. Lee Geum-ja sudah dijamin merupakan karakter yang amat menarik dan kompleks. Seorang gadis innocent yang harus menghadapi suatu konsekuensi terhadap sesuatu yang tidak ia lakukan, yang akhirnya menjadi gerbang baginya untuk terjun dalam hal penuh kekerasan dan dosa. Belum lagi, ia seorang wanita dan ibu, yang tetap saja memiliki batas-batas emosional. Dengan segala hal yang dimilikinya, Park menyajikan tokoh sentral yang subtle, saling kontradiktif, a victim of society. Mr. Baek, juga hadir dengan karakter absurd dan kontradiktif, seorang guru yang seharusnya merupakan sosok penyayang, di balik semua itu, ia adalah psikopat berdarah dingin tanpa punya rasa iba.

Segala hal dalam naskah Sympathy for Lady Vengeance bukan melulu tentang pembalasan dendam saja. Di balik sisi emosional dan beberapa kekerasan yang ia punya, naskah film ini juga menghadirkan humor-humor gelap. Ada beberapa humor yang hadir lewat dialog-dialog yang witty dan komikal, membuat saya sendiri tak percaya, bahwa saya tertawa menonton film bertema balas dendam. Dengan takaran yang lebih dibanding 2 pendahulunya, humor-humor ini bekerja dengan baik dalam membangun atmosfer film yang menyeret tema berat menjadi lebih bisa dinikmati.


Tak hanya disampaikan dengan begitu gamblang, ada juga beberapa scene, yang entah tujuannya untuk menyalurkan tawa atau bukan, yang jelas momen-momen ini memang cukup komikal. Dalam 'the deer hunter' scene, sekalipun terasa begitu absurd, tetap saja saya sedikit menyunggingkan kedua ujung bibir. Tak sampai disitu, momen di mana para orang tua berfoto bersama juga berhasil membuat saya sejenak melupakan ke-immoral-an film ini. Siapa yang ingin berfoto bersama setelah melakukan suatu kejahatan? Ada satu lagi. Kalau yang satu ini, akan terasa komikalnya kalau sebelumnya anda telah menonton Sympathy for Mr. Vengeance. Apa itu? Well, silakan lihat dan tebak sendiri.

Meski jika dilihat dari cara pengemasan, Sympathy for Lady Vengeance adalah yang paling ringan, namun dibanding kedua 'kakaknya', film inilah yang hadir dengan kadar simbolisme terbanyak. Dalam perjalanannya, Park menyisipkan beberapa simbolisasi untuk menghantarkan tema rumitnya dalam bentuk banyaknya penggunaan 2 warna, putih dan merah yang menyimbolkan kekontradiktifan 2 sifat. Warna putih diwakili lewat salju serta tahu, dan merah yang dilambangkan lewat eyeshadow, interior kamar, dan tentu saja, darah, atau bahkan keduanya sekaligus, seperti yang telah diperkenalkan dalam opening credits. Tapi, yang paling menarik justru terletak dalam bagaimana Park menggabungkan 2 warna ini dalam unsur-unsur religius.


Tak sampai disitu, Park memang terkesan banyak mengebiri unsur agama di sini. Ia memanfaatkan kereligiusan Lee Geum-ja dan menghadirkan 2 periode waktu sebagai simbol dari 2 sifat yang bertolakbelakang dan kemunafikan. Bukan menyalahkan agama itu sendiri, namun lebih berfokus pada pikiran manusia yang rusak dan penuh noda. Namun, jika dilihat lagi dengan sudut pandang yang lebih luas, kita akan melihat apa yang sebenarnya Park inginkan lewat simbolisasi ini, dan mungkin akan menjawab mengapa ia menempatkan Lady Vengeance sebagai penutup trilogi ini. Ia mengawali Lady Vengeance dengan dominasi warna putih yang melambangkan kesucian, yang perlahan mulai dikotori dengan darah dan kekerasan, yang pada akhirnya, ia mengembalikan semua itu ke tempat di mana semua itu pantas mendapatkannya, ia mengakhiri dengan hujan salju dan sebuah tofu.

Sekalipun tak mempunyai kadar kekerasan sebanyak pendahulunya, terlebih Sympathy for Mr. Violence, namun Park, yang terkenal karena kekerasan dalam setiap filmnya, tetap dapat membungkus setiap adegan dengan intensitas tinggi. Tak hanya itu, lain daripada film lain yang hanya menjadikan kekerasan sebagai ajang unjuk gigi dan bersenang-senang, maka Lady Vengeance (serta Mr. Vengeance dan Oldboy) menjadikan kekerasan-kekerasan tersebut sebagai nyawa dalam plotnya. Mereka adalah dua hal yang saling berkegantungan, tanpa kekerasan yang ia bawa, plot akan terasa mentah dan tak hidup, begitu pula sebaliknya.


Jika mengibaratkan ketiga film dari trilogi balas dendam ini dengan satu sifat, maka Sympathy for Mr. Vengeance memiliki mindless violence, Oldboy adalah definisi dari insanity, maka Lady Vengeance merupakan emotional rollercoaster. Ya, Lady Vengeance adalah segalanya tentang wanita, dan wanita tanpa emosinalitas bukanlah sepenuhnya wanita, bukan? Di sini, Park berhasil menyusun esensi-esensi emosional ini tanpa dosis berlebihan. Bukan dengan hasil unsur emosional tanpa emosi sedikitpun, atau sebaliknya, menghasilkan sebuah sajian manipulatif dangkal yang meninggalkan bergalon-galon air mata.

Satu hal yang membuat Lady Vengeance mengingatkan saya dengan Oldboy adalah lead yang tak terlupakan. Lee Yeong-ae memberikan kharisma yang luar biasa hebat. Ia berhasil mengeksplorasi seorang karakter wanita yang dingin, tangguh, kharismatik, namun emosional, religius, serta feminin. Dengan karakter kompleks dan absurd tersebut, Yeong-ae berhasil mengisi setiap sisi dengan penampilan oscar-worthy. Choi Min-sik, yang kembali bereuni dengan Park juga mampu berubah menjadi seorang psikopat sakit dengan karakter yang saling kontradiktif. Performa baik ini tak hanya sampai pada lead-nya saja, tapi hingga akar-akarnya. Lihat akting para orangtua korban di klimaks film, lihat pula rekan Geum-ja sesama tahanan.


Secara technical level, film ketiga ini benar-benar menunjukkan tajinya. Dengan konsep multi-layered, editing mumpuni adalah keharusan. Ditemani oleh camerawork super cantik, angle-angle unik, dengan tone-tone indah, editing ini terasa intens, namun tetap moving. Berbeda dengan Mr. Vengeance yang tak terlalu banyak memakai scoring dan tenang, musik latar dalam Lady Vengeance terasa lebih agresif lewat gubahan orkestra barok yang menghipnotis, membuat film ini selevel lebih megah dan grande.

Stylish dan beautifully-shot, Sympathy for Lady Vengeance memang tak se-grande dan setragis Oldboy, namun tetap dengan sukses menutup trilogi balas dendam Park Chan-wook dengan dongeng balas dendam yang masih ditulis dengan baik dan sangat unik dan indah dalam pengemasannya. Dibanding dengan kedua prekuelnya, film ini memang tak sekeras kedua pendahulunya, namun bukan berarti Lady Vengeance hadir tanpa kekerasan. Sympathy for Lady Vengeance tidak memanfaatkan kekerasan sebagai pemanis saja, film ini menjadikan kekerasan itu sendiri menjadi untuk memberikan nyawa bagi plotnya. Diisi dengan karakter kompleks dalam sebuah society berliku, Lee Yeong-ae hadir dengan penampilan menawan, hampir tanpa celah sedikit pun. Cantik, menawan, emosional, dingin, keras, dan absurd, dari awal Sympathy for Lady Vengeance menyajikan dongeng fantastis dari segala sisi, dan ketika ia berakhir, ia melimpahkan banyak hal penuh tanya. Tak perlu dijawab, hanya perlu dipikirkan.