Sebelum terjebak dalam jurang penuh pujian, mungkin ada baiknya jika kita mulai dari kekurangan dulu. Mungkin kekurangan yang saya rasakan adalah banyaknya karakter yang dihadirkan (sebagian besar merupakan karakter dari masa lalu Geum-ja saat masih di penjara). Sebenarnya, ini mungkin tak akan menjadi kekurangan kalau karakter yang dihadirkan dapat digali dengan cukup dalam. Namun, Park tampaknya mengalami sedikit kesulitan dalam menangani dan menggali karakter-karakter ini jauh lebih dalam. Akibatnya, walau tak bisa dibilang fatal, membuat penonton sedikit kehilangan fokus dengan apa yang Park coba sajikan.
Meski begitu, saya akui film ini memang menghadirkan tokoh sentral dengan karakterisasi yang luar biasa. Lee Geum-ja sudah dijamin merupakan karakter yang amat menarik dan kompleks. Seorang gadis
innocent yang harus menghadapi suatu konsekuensi terhadap sesuatu yang tidak ia lakukan, yang akhirnya menjadi gerbang baginya untuk terjun dalam hal penuh kekerasan dan dosa. Belum lagi, ia seorang wanita dan ibu, yang tetap saja memiliki batas-batas emosional. Dengan segala hal yang dimilikinya, Park menyajikan tokoh sentral yang
subtle, saling kontradiktif,
a victim of society. Mr. Baek, juga hadir dengan karakter absurd dan kontradiktif, seorang guru yang seharusnya merupakan sosok penyayang, di balik semua itu, ia adalah psikopat berdarah dingin tanpa punya rasa iba.
Segala hal dalam naskah Sympathy for Lady Vengeance bukan melulu tentang pembalasan dendam saja. Di balik sisi emosional dan beberapa kekerasan yang ia punya, naskah film ini juga menghadirkan humor-humor gelap. Ada beberapa humor yang hadir lewat dialog-dialog yang
witty dan komikal, membuat saya sendiri tak percaya, bahwa saya tertawa menonton film bertema balas dendam. Dengan takaran yang lebih dibanding 2 pendahulunya, humor-humor ini bekerja dengan baik dalam membangun atmosfer film yang menyeret tema berat menjadi lebih bisa dinikmati.
Tak hanya disampaikan dengan begitu gamblang, ada juga beberapa
scene, yang entah
tujuannya untuk menyalurkan tawa atau bukan, yang jelas momen-momen ini memang cukup komikal. Dalam
'the deer hunter' scene, sekalipun terasa begitu absurd, tetap saja saya sedikit menyunggingkan kedua ujung bibir. Tak sampai disitu, momen di mana para orang tua berfoto bersama juga berhasil membuat saya sejenak melupakan ke-
immoral-an film ini. Siapa yang ingin berfoto bersama setelah melakukan suatu kejahatan? Ada satu lagi. Kalau yang satu ini, akan terasa komikalnya kalau sebelumnya anda telah menonton Sympathy for Mr. Vengeance. Apa itu?
Well, silakan lihat dan tebak sendiri.
Meski jika dilihat dari cara pengemasan, Sympathy for Lady Vengeance adalah yang paling ringan, namun dibanding kedua 'kakaknya', film inilah yang hadir dengan kadar simbolisme terbanyak. Dalam perjalanannya, Park menyisipkan beberapa simbolisasi untuk menghantarkan tema rumitnya dalam bentuk banyaknya penggunaan 2 warna, putih dan merah yang menyimbolkan kekontradiktifan 2 sifat. Warna putih diwakili lewat salju serta tahu, dan merah yang dilambangkan lewat
eyeshadow, interior kamar, dan tentu saja, darah, atau bahkan keduanya sekaligus, seperti yang telah diperkenalkan dalam
opening credits. Tapi, yang paling menarik justru terletak dalam bagaimana Park menggabungkan 2 warna ini dalam unsur-unsur religius.
Tak sampai disitu, Park memang terkesan banyak mengebiri unsur agama di sini. Ia memanfaatkan kereligiusan Lee Geum-ja dan menghadirkan 2 periode waktu sebagai simbol dari 2 sifat yang bertolakbelakang dan kemunafikan. Bukan menyalahkan agama itu sendiri, namun lebih berfokus pada pikiran manusia yang rusak dan penuh noda. Namun, jika dilihat lagi dengan sudut pandang yang lebih luas, kita akan melihat apa yang sebenarnya Park inginkan lewat simbolisasi ini, dan mungkin akan menjawab mengapa ia menempatkan Lady Vengeance sebagai penutup trilogi ini. Ia mengawali Lady Vengeance dengan dominasi warna putih yang melambangkan kesucian, yang perlahan mulai dikotori dengan darah dan kekerasan, yang pada akhirnya, ia mengembalikan semua itu ke tempat di mana semua itu pantas mendapatkannya, ia mengakhiri dengan hujan salju dan sebuah tofu.
Sekalipun tak mempunyai kadar kekerasan sebanyak pendahulunya, terlebih Sympathy for Mr. Violence, namun Park, yang terkenal karena kekerasan dalam setiap filmnya, tetap dapat membungkus setiap adegan dengan intensitas tinggi. Tak hanya itu, lain daripada film lain yang hanya menjadikan kekerasan sebagai ajang unjuk gigi dan bersenang-senang, maka Lady Vengeance (serta Mr. Vengeance dan Oldboy) menjadikan kekerasan-kekerasan tersebut sebagai nyawa dalam plotnya. Mereka adalah dua hal yang saling berkegantungan, tanpa kekerasan yang ia bawa, plot akan terasa mentah dan tak hidup, begitu pula sebaliknya.
Jika mengibaratkan ketiga film dari trilogi balas dendam ini dengan satu sifat, maka Sympathy for Mr. Vengeance memiliki
mindless violence, Oldboy adalah definisi dari
insanity,
maka Lady Vengeance merupakan
emotional rollercoaster. Ya, Lady Vengeance adalah segalanya tentang wanita, dan wanita tanpa emosinalitas bukanlah sepenuhnya wanita, bukan? Di sini, Park berhasil menyusun esensi-esensi emosional ini tanpa dosis berlebihan. Bukan dengan hasil unsur emosional tanpa emosi sedikitpun, atau sebaliknya, menghasilkan sebuah sajian manipulatif dangkal yang meninggalkan bergalon-galon air mata.
Satu hal yang membuat Lady Vengeance mengingatkan saya dengan Oldboy adalah
lead yang tak terlupakan. Lee Yeong-ae memberikan kharisma yang luar biasa hebat. Ia berhasil mengeksplorasi seorang karakter wanita yang dingin, tangguh, kharismatik, namun emosional, religius, serta feminin. Dengan karakter kompleks dan absurd tersebut, Yeong-ae berhasil mengisi setiap sisi dengan penampilan
oscar-worthy. Choi Min-sik, yang kembali bereuni dengan Park juga mampu berubah menjadi seorang psikopat sakit dengan karakter yang saling kontradiktif. Performa baik ini tak hanya sampai pada
lead-nya saja, tapi hingga akar-akarnya. Lihat akting para orangtua korban di klimaks film, lihat pula rekan Geum-ja sesama tahanan.
Secara
technical level, film ketiga ini benar-benar menunjukkan tajinya. Dengan konsep
multi-layered, editing mumpuni adalah keharusan. Ditemani oleh
camerawork super cantik,
angle-angle unik, dengan
tone-tone indah, editing ini terasa intens, namun tetap
moving. Berbeda dengan Mr. Vengeance yang tak terlalu banyak memakai
scoring dan tenang, musik latar dalam Lady Vengeance terasa lebih agresif lewat gubahan orkestra barok yang menghipnotis, membuat film ini selevel lebih megah dan
grande.
Stylish dan
beautifully-shot, Sympathy for Lady Vengeance memang tak se-
grande dan setragis Oldboy, namun tetap dengan sukses menutup trilogi balas dendam Park Chan-wook dengan dongeng balas dendam yang masih ditulis dengan baik dan sangat unik dan indah dalam pengemasannya. Dibanding dengan kedua prekuelnya, film ini memang tak sekeras kedua pendahulunya, namun bukan berarti Lady Vengeance hadir tanpa kekerasan. Sympathy for Lady Vengeance tidak memanfaatkan kekerasan sebagai pemanis saja, film ini menjadikan kekerasan itu sendiri menjadi untuk memberikan nyawa bagi plotnya. Diisi dengan karakter kompleks dalam sebuah
society berliku, Lee Yeong-ae hadir dengan penampilan menawan, hampir tanpa celah sedikit pun.
Cantik, menawan, emosional, dingin, keras, dan absurd, dari awal Sympathy for Lady Vengeance menyajikan dongeng fantastis dari segala sisi, dan ketika ia berakhir, ia melimpahkan banyak hal penuh tanya. Tak perlu dijawab, hanya perlu dipikirkan.