300x250 AD TOP

Wednesday, December 11, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Reviews] Frances Ha, Prisoners, & The Way Way Back (2013)


Tak ada kesamaan dari film-film ini sehingga saya memuatnya dalam satu post sekaligus, kecuali ketiga film ini rilis di tahun yang sama, dan ketiganya muncul dengan kualitas memuaskan. Tapi, karena lebih dari 1 bulan saya tak pernah menulis apapun, maka kali ini, tak ada salahnya jika saya menggabungkan ketiganya, kan?

Frances Ha
"Sometimes it's good to do what you're supposed to do when you're supposed to do it." ~ Frances
Banyak film yang terasa terlalu menuhankan kata New York, apalagi Manhattan. Tapi, yang satu ini beda. Dengan judul anehnya, Frances Ha, film ini mendeskripsikan kehidupan di kota apel raksasa ini lewat sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi lewat seseorang penuh ambisi terhadap New York ataupun kisah sosialita penuh keglamoran. Ya, itu semua sudah basi. Ini adalah saatnya bagi seorang wanita 'semi tunawisma' yang berbicara.

Frances Halloway (Great Gerwig) mungkin merupakan satu di antara beberapa orang di New York yang tak seberuntung orang New York lain. Ia adalah seorang penari yang tinggal di sebuah apartemen, berdua dengan sahabat karibnya, Sophie (Mickey Sumner). Kehidupan mereka berdua memang terasa hangat tanpa ada masalah apapun, hingga pada suatu saat, salah satunya malah membuat masalah. Sophie memutuskan untuk pindah dengan kekasihnya, dan meninggalkan Frances di padang pasir luas tanpa tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Masalah keuangan yang kian hari makin membelitnya pun, membuat ia hampir tak berdaya. Sayangnya, bukan hanya ini masalahnya.


Cukup sulit memang untuk mengkategorikan film ini sebagai kisah 'coming-of-age', mengingat seluruh karakternya pun telah mencapai umur matang, namun rasanya tak ada yang mampu mendeskripsikan kisah seorang Frances Halloway ketimbang subgenre tersebut. Tapi, tak sulit bagi saya untuk langsung mencintai film ini, meski memang, film ini bukanlah everybody's cup of tea. Di posisi depan, ada Greta Gerwig yang bersinar, bukan hanya lewat peran utamanya sebagai wanita dewasa yang terperangkap dalam kisah 'pencarian' jati diri kompleks yang serba minimalis, namun juga menjadi bintang dalam naskah yang ia tulis bersama sang sutradra, Noah Baumbach. Di luar banyaknya drift-drift dalam naratif yang mungkin sedikit membingungkan, duo Baumbach dan Gerwig ini sukses menelurkan naskah dengan cerita penuh permasalahan pahit-manis, yang terbungkus dalam sebuah komedi sederhana dengan dialog-dialog jempolan. Tak hanya itu, dengan kemampuan duo ini, mereka juga berhasil menulis rangkain kisah sederhana, yang anehnya, tidak gampang untuk diterka. Di lapangan pun, Baumbach mampu mengemas Frances Ha menjadi tontonan yang menarik, energetic, dan witty, namun pada saat yang bersamaan pula, menjadi tontonan yang pada akhirnya memaksa otak untuk bekerja 'sedikit'. Datang silih berganti, Baumbach sekali lagi berhasil membungkus setiap lapisan kisah dengan kemasan simple yet sophisticated, tanpa membuat setiap konflik yang datang hanyalah terasa berfungsi sebagai tempelan magnet penghias kulkas belaka.

Dengan mengambil judul nama sang karakter utama, layaknya Annie Hall dari Woody Allen, Frances Ha memang mengambil sedikit terinspirasi dari film-film Woody Allen, walaupun tentu tak ada monolog ikonik seorang karakter yang berbicara 'langsung' pada penonton itu. Meskipun bukanlah sebuah romcom, pengaruh Woody Allen yang cukup kental dapat dilihat dari penggunaan dialog-dialog alami plus sengatan komedi natural nan awkward, ditambah dengan usahanya yang tanpa berusaha terlalu keras untuk menjadi lucu. Dari segala aspek tersebut, Frances Ha bukan hanya sukses mengembalikan nostalgia dan semata berperan sebagai homage, namun sebagai sebuah karya, Frances Ha adalah sebuah potret kisah 'coming-of-age' khusus orang berumur yang menyenangkan, manis-pahit, penuh liku dan pergulatan, charming, mampu bersinar dengan kesederhanaannya, dan yang terpenting, dikemas dengan penuh kejujuran.



Prisoners
"Do me a favor, Captain. Go f*** yourself." ~ Detective Loki
Prisoners, boleh jadi judulnya cukup pendek dan terdiri dari 1 kata saja, tapi jangan salah, soal durasi, Prisoners punya durasi yang cukup untuk membuat anda tertidur, kecuali bagi film yang benar-benar bagus. Di sisi lain, film ini disilaukan oleh banyaknya pemain bintang di dalamnya. Dari Hugh Jackman, Jake Gyllenhaal, Paul Dano, Viola Davis, hingga Terrence Howard. Tapi, apakah Prisoners dengan durasi panjanganya, Prisoners mampu membuat anda tidur dalam sekejap dan melupakan kegemerlapan cast-nya? Mari cari tahu.

Semua terlihat berjalan sebagaimana mestinya, saat Keller Dover (Hugh Jackman) dan Grave Dover serta Franklin Birch (Terrence Howard) dan Nancy Birch (Viola Davis) saling berkumpul dan bercengkrama seperti biasanya, sambil melihat kedua anak dari keluarga berbeda tersebut bermasin dan akrab satu sama lain. Tapi, semua menjadi kacau ketika kedua anak mereka yang kebetulan sama-sama berusia 6 tahun, hilang tanpa jejak. Dan dari titik itu, segala hal yang  datang selanjutnya terdengar kacau pula.


Apa yang paling menonjol dari film ini? Tentu saja departemen akting yang diisi nama-nama beken Hollywood, yang membuat Prisoners punya banyak potensi dalam sekor ini, dan potensi itu tidak disia-siakan. Hugh Jackman yang baru saja mendapat nominasi Oscar pertamanya awal 2013 lalu, makin menunjukkan taring beraktingnya. Ia hadir dengan penuh emosi yang menggebu-gebu, membuat penonton geregetan sekaligus simpati terhadap setiap langkahnya sebagai ayah yang hampir kehilangan akal sehatnya. Sekali lagi, sebuah penampilan Oscar-worthy, jangan kaget melihat namanya di daftar nominasi tahun depan. Di sisi lain, Jake Gyllenhaal juga memukau dengan tensi yang ia berikan sepanjang film. Paul Dano, yang juga pernah tampil dengan menakjubkan lewat There Will Be Blood (dan akhirnya dicampakkan begitu saja oleh Oscar), berhasil berbicara banyak lewat emosi yang dikeluarkannya tanpa harus banyak omong di sepanjang film. Acungan jempol juga harus diberikan pada Aaron Guzikowski yang sukses memberikan karakterisasi kompleks pada setiap wajah, menunjukkan bahwa orang selurus apapun, dapat bertindak diluar akal sehat hanya karena sebuah tragedi besar. Kudos to all of them!

Hadir dengan kisah yang mengingatkan saya dengan salah satu film Swedia, The Vanishing dengan nafas ala film Jepang populer, Memories of Murder minus kekocakannya, Prisoners adalah tontonan memukau. Penuh kegelapan, dengan injeksi suspensi di sana-sini, meski dikemas dengan pace cenderung lambat. Sukses mengemas, menggabungkan, sekaligus menyentil berbagai masalah sosial, dilema, aspek religius, hingga kebobrokan moral yang tersaji dengan sangat kompleks dalam sebuah rentetan konflik American society versi Villeneuve. Biarkan film ini menyebarkan kepingan-kepingan puzzle-nya, mengajak anda menyusuri kisah tragis yang sesekali disturbing-to-watch, 'memaksa' untuk memperhatikan setiap lapis cerita, bahkan menyesatkan anda ke sebuah labirin penuh tanda tanya, karena pada akhirnya, 2,5 jam anda tidaklah terbuang dengan sia-sia. Memang, twist di akhir ceritanya tak terlalu mengejutkan saya, walau bukanlah tipe twist yang predictable juga (and I never saw it coming), namun dengan kemampuan Villeneuve mengemasnya dengan penuh kegelapan, ketegangan secara emosional, dan atmosfer disturbing yang tak henti-henti, maka menjadikan memaafkan menjadi hal termudah yang pernah ada. Dua setengah jam memang termasuk lama bagi sebuah film, tapi kalau sebuah film seperti Prisoners ini dapat menyebarkan pesonanya selama itu pula, siapa yang dapat menolak?



The Way Way Back
"Oh, the park? Um, I've always been there. Ever since I was a small Cambodian child. Of course, that was after 'Nam. I was in the sh**. Then I joined the circus to become a clown fighter. I know about 46 ways to kill a clown. I hate clowns. I'm kidding except for the part where I really do hate them." ~ Owen
Kalau Frances Ha bisa dibilang hanya mengambil esensi dalam 'coming-of-age story', maka film yang satu ini memang benar-benar film 'coming-of-age story'. Disutradarai oleh kolaborasi dari dua sutradara debutan, Nat Faxon dan Jim Rush, dan ditulis pula oleh keduanya, film ini dibintangi bintang muda Liam James dan dikelilingi talenta dari para seniornya, Sam Rockwell, Toni Collette, hinga Steve Carell. FYI, Steve Carell is the bad guy!

Duncan (Liam James), adalah seorang remaja yang tak banyak omong. Pada liburan musim panas, ia, ibu, Pam (Toni Collette), kekasih ibunya, Trent (Steve Carell), serta anak kekasih ibunya, berlibur ke sebuah kota kecil di pesisir pantai. Duncan, yang awalnya tak terlalu antusias terhadap liburannya, lantas berubah saat ia bertemu dengan seorang manager sebuah waterpark, Owen (Sam Rockwell). Dan ternyata, bukan hanya liburannya yang berubah, karena berkat pertemuan mereka, seluruh kehidupan seorang Duncan pun berubah.


Dibandingkan dengan kisah remaja menuju kedewasaan lainnya, The Way Way Back memang terasa lebih istimewa. Ya, kisahnya memang sudah tak asing di telinga. Tapi, dengan naskah meyakinkannya, The Way Way Back sukses menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Di luar berbagai aspek yang familiar, Nat Faxon dan Jim Rash mampu mengemas bagian-bagian tersebut dengan baik dalam naskahnya (dan berhasil menerjemahkannya ke dalam bentuk film). Lihat, bagaimana film ini dimulai dengan karakter Steve Carell yang dengan kesoktahuannya menilai pribadi anak dari kekasihnya, yang ia bahkan tak terlalu mengenalinya. Cold yet brilliant! Dengan dialog-dialog witty yang kerap menyengat penonton, karakter-karakter 'nyata' dengan latar belakang yang menarik, serta konflik-konflik natural yang dialami oleh para karakternya, mampu membuat The Way Way Back tampil cukup konsisten sepanjang film. Konflik-konfliknya, sekalipun tidak tampil sebagai rentetan konflik penuh kompleksitas, namun mampu meletupkan emosi penonton setiap menitnya. Usahanya untuk sesekali keluar dari pergulatan batin Duncan dan beralih ke konflik karakter-karakter dewasa di sekitarnya juga mampu membuat The Way Way Back tampil lebih kuat dan dewasa.

Film ini tak hanya berhasil hidup lewat naskah dan pengarahan, tapi juga berkat departemen akting jempolan. Salah satunya, juga karena chemistry hangat 'ayah-anak' yang terbangun antara Owen (Sam Rockwell), seorang esentrik dan penuh kelincahan, dan Duncan (Liam James), remaja yang hampa kasih sayang seorang ayah. Tak hanya mereka berdua yang bermain bagus, Toni Collette dan Steve Carell juga hadir dengan penampilan yang sama sekali tak mengecewakan. Tapi, sekali lagi, Sam Rockwell lah yang mencuri lampu sorot. Ia bukan hanya tampil lucu dan hadir di dalam frame sebagai alat pengocok perut, ia juga memberikan penampilan jujur, menghadirkan sebuah karakter nyata yang hidup. Pada akhirnya, dengan  The Way Way Back memang tak sempurna, tapi dengan naskah yang manis-pahit dan menyentuh, serta dengan cast penuh talenta, The Way Way Back mampu membuat siapapun memaafkan kefamiliarannya.


2 comments:

  1. Suka banget sama Frances Ha, gak begitu suka sama Prisoners, kayaknya banyak yg terlalu dipaksain. Nice review btw. :)

    ReplyDelete
  2. bener, frances ha ini unik bgt. suka sm tingkah greta sm dialog2nya. soal prisoners, saya sih suka bgt sm prisoners, walaupun msh kalah sm the vanishing yg rada 'sejenis', ttg org hilang gt, apalg prisoners ini endingnya kurang greget, beda sm the vanishing yg endingnya ikonik bgt hehe :)

    ReplyDelete