Sunday, June 9, 2013

Tagged under: , , , , ,

[Review] Star Trek Into Darkness (2013)

"I have no idea what I'm supposed to do! I only know what I can do!" ~ James T. Kirk

Akhir-akhir ini seluruh trekkie dari seluruh dunia sedang bergembira, sekuel Star Trek yang berjudul sama hanya kali ini dengan tambahan 'Into Darkness' di dalamnya. Dimulai dengan Trek yang lahir kembali 2009 lalu, franchise saingan utama Star Wars ini rasanya makin melanda dunia saja. Apalagi ditambah dengan penghasilan film yang disutradarai J.J. Abrams ini sangat tinggi, dengan meraup 385 juta dolar dalam tangga box-office. Belum cukup, kritikus pun ikut menyambut hangat film ini. Dan kini, Star Trek kembali hadir di layar lebar, dan tentu saja, siapa yang tak akan semangat dengan sekuel ini?

Euforia para trekkie juga rasanya makin membludak, apalagi kalau bukan karena kembalinya J.J. Abrams dalam kursi sutradara. Belum lagi 2 penulis dari prekuelnya, Roert Orci dan Alex Krutzman juga ikut kembali sebagai penulis naskah, ditambah lagi dengan Damon Lindelof yang kemampuannya pernah ia buktikan kala menulis screenplay untuk Prometheus karya Ridley Scott. Dalam jajaran cast-nya, Chris Pine dan Zachary Quinto masih berperan sebagai James T. Kirk dan Spock, sementara itu ada pula Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, dan Anton Yelchin yang masih setia pada franchise ini.


Sehabis sebuah tregedi yang hampir merenggut nyawa si manusia Vulcan, Spock (Zachary Quinto), seluruh awak kapal antariksa Enterprise yang dipimpin oleh James. T. Kirk (Chris Pine) kini menghadapi misi baru. Ditemani kru lain seperti Spock, Uhura (Zoe Saldana), Scotty (Simon Pegg), Bone (Karl Urban), Sulu (John Cho), dan Chekov (Anton Yelchin), mereka sekarang harus mengejar seorang buronan bernama John Harrison (Benedict Cumberbatch), yang awalnya merupakan agen Starfleet yang akhirnya membelot.

Setelah diteliti lebih lanjut, buronan yang telah meneror Starfleet bahkan menghancurkan Section 31 ini ternyata kabur ke planet lain melalui sebuah teleporter. Masalah makin runyam setelah diketahui bahwa Harrison kabur ke Klingon, yang memang selama ini memiliki hubungan tak baik dengan USS Enterprise. Namun, demi mengejar sang pembelot ini, Kapten Kirk beserta kawan-kawannya mau tak mau harus ikut dalam misi hidup-mati dan terbang ke Kronos, planet para Klingon, meski taruhannya adalah nyawa.


Terutama bagi sebuah film blockbuster, tentu hal-hal cliché tak dapat dihindari, termasuk di dalam naskah Star Trek Into Darkness. Meski ada beberapa momen cliché serta cukup predictable, namun hal ini mampu ditutupi dengan banyaknya kejutan-kejutan yang menanti, yang mungkin saja dapat datang setiap menit. Banyaknya kejutan ini memang benar-benar berhasil bagi saya, meski ada beberapa di antaranya yang tak terlalu 'waw'. Namun, tentu saja naskah ini tak mau hanya diangkat oleh twist-nya belaka. Lalu, apa lagi yang mampu digali dari naskah ini?

Dibalik kejutannya, naskah yang ditulis 3 orang sekaligus ini tak hanya bertumpu pada hal ini. Naskah film ini masih mampu mempertahankan karakterisasi yang kuat, meski tak dapat dihindari bahwa dari segi naskah, bagi saya pendahulunya sedikit lebih baik. Naskah ini dengan cerdas menampilkan ikatan emosional mendalam. Tak hanya ikatan emosional antar karakter, namun naskah ini juga memberikan hal kompleks bagi setiap karakternya. Hal ini juga terjadi pada dialogue-nya, terutama beberapa dialogue inspirasional yang berhasil diolah secara baik. Tak hanya berkutat dalam hal-hal serius, ada pula beberapa dialogue komikal sebagai penyegar yang memang menurut saya sangatlah efektif.


Kinerja J.J. Abrams juga sangatlah mendukung keberhasil Star Trek Into Darkness sebagai sebuah sekuel. Porsi aksi mampu dibagi Abrams dengan adil bersama porsi drama dan lainnya. Tak hanya itu, ia juga dengan lihai dapat membuat sekuen aksi ini menjadi sebuah sekuen seru dengan tensi tinggi. Dengan dukungan efek visual yang apik pula, petualangan dengan aksi dimana-mana ini mampu dikembangkan dengan sangat baik oleh sang sutradara, sehingga akhirnya tak ada kata 'bosan' yang rasanya dapat keluar dari mulut penonton, yang ada hanyalah kata 'wow' dan kawan-kawannya.

Hal yang paling menonjol dalam Star Trek Into Darkness bagi saya bukanlah sekuen aksi seru dan visualnya yang menakjubkan (meskipun itu termasuk 'salah duanya'), namun bagaimana J.J. Abrams menunjukkan ikatan emosional mendalam dari setiap karakternya, yang memberikan ruang yang begitu luas bagi setiap karakternya untuk berkembang. Ini tidak ditunjukkan beberapa kali dalam film saja, namun terdapat dari awal hingga film ini berakhir. Dari awal, kita diperlihatkan langkah 'bodoh' Spock yang hampir saja membunuh nyawanya. Belum lagi di akhir film, ketika Spock yang kaku akhirnya meledak-ledak.


Ikatan emosional ini juga berhasil berkat chemistry manis bromance Spock-Kirk dari Zachary Quinto serta Chris Pine. Selain itu, sebagai sebuah individu, keduanya juga tetap berhasil. Chris Pine mampu memerankan kapten berwibawa tinggi, meski masih seorang player sejati. Di sisi lain, Zachary Quinto bersinar dengan peran terpopulernya bersamaan dengan Skylar dari seri Heroes ini. Quinto dengan baik berhasil tampil sebagai seorang Vulcan yang terlalu jujur dan taat peraturan yang akhirnya malah menjatuhkan dirinya sendiri, meski di baliknya solidaritas Spcok tak perlu dipertanyakan lagi. Kedua karakter yang benar-benar berbeda ini (bahkan dari planet berbeda) justru makin memperkaya chemistry mereka berdua.

Selain kuat dalam dua pemimpinnya, Enterprise juga diisi kru-kru yang mampu bermain dengan baik, mulai dari Zoe Saldana sebagai Uhura si tough girl hingga Sulu yang diperankan John Cho. Hadir pula Simon Pegg yang tentunya tak hanya tahu bagian humornya dengan baik saja, namun juga berhasil dalam bagian di mana ketika ia harus menjadi seorang yang serius. Simon Pegg tidaklah sendiri, karakter yang cukup komikal juga hadir dalam Bones yang diperankan Karl Urban. Ada yang terlewat? Tentu saja, Benedict Cumberbatch! Dengan kharisma super tinggi, Cumberbatch mampu memerankan villain John Harrison dengan hasil yang mind-blowing dan memorable. Belum lagi dengan adanya twist dibalik karakternya, meski bagi para trekkie, sebelumnya telah dapat memprediksinya.


Star Trek Into Darkness adalah sebuah sekuel yang dinanti-nantikan. Bukan karena film ini menyandang nama 'Star Trek' dengan jutaan fans setia di dalamnya, namun lebih kepada bagaimana film ini dapat mempertahankan kualitas yang ada dalam predecessor-nya. Naskahnya masih kokoh dengan berbagai kejutan di dalamnya yang akhirnya dikemas dengan pengarahan presisi dari J.J. Abrams. Pendalaman tiap karakternya mampu membuat sekuel ini menjadi sebuah tontonan yang bukan hanya menghibur dengan sekuen aksi yang menegangkan dan memacu adrenalin, namun juga menjadi tontonan yang tak pernah melupakan sisi emosionalnya, tanpa menjadi sebuah karya yang sentimental. Cast-nya sangatlah gemilang, terlebih dengan villain-nya yang  memorable pula.

Ya, secara keseluruhan Star Trek Into Darkness tak dapat dibilang se-mind-blowing dan sedahsyat pendahulunya. Namun, tetap saja Star Trek Into Darkness tak pernah kehilangan intelegensia, kecerdasan, tensi tinggi, karaktersasi, akting, dan naskah yang pernah dibawakan Star Trek versi 2009, meskipun tak banyak melibatkan porsi 'loncat waktu' sebanyak prekuelnya (oke, kalau ini memang personal). Dengan film ini pula, J.J. Abrams kembali dengan mudah menghancurkan tanggapan bahwa sebuah blockbuster hanyalah film edge-of-your-seat bermodal visual hebat dan berorientasi pada profit belaka, ia juga bisa menjadi sebuah tontonan kokoh, asalkan dengan satu syarat: dibuat dengan hati.


0 comments:

Post a Comment