300x250 AD TOP

Tuesday, June 18, 2013

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Man of Steel (2013)

"It's not an S. On my world, it means hope." ~ Clark Kent  

Setelah selesai dan sukses berat dengan kelahiran kembali manusia kelelawar, Batman, yang dipelopori Christopher Nolan, sampai-sampai dibuat menjadi sebuah trilogi, kini DC Comics mulai mencoba hal yang sama: melahirkan kembali tokoh legendaris mereka. Namun, Bruce Wayne tak perlu repot-repot digambarkan 'bangkit' dari kematian seperti yang dilakukan franchise Fast & Furious dengan 'membangkitkan' Letty dalam serinya yang ke-6, karena kali ini yang mereka akan bangkitakan adalah Kal-El alias Clark Kent alias... Superman!

Dalam proyek terbaru DC Comics ini, Christopher Nolan masih terlibat, namun tidak lagi duduk di kursi sutradara, melainkan menjelma menjadi produser. Untuk bangku sutradara, dipercayakan pada Zack Snyder, yang sebelumnya pernah membuat Watchmen. Bekerja sama dengan Snyder selau sutradara, David S. Goyer bertugas untuk menulis naskah film ini. Sementara itu, tokoh Superman sendiri tidak lagi diperankan Brandon Routh, namun kali ini berpindah ke tangan Henry Cavill, lalu sebagai Lois Lane, ada Amy Adams, future Oscar-winner.


Di sebuah planet bernama Krypton sedang berada dalam ambang kehancuran karena inti yang tidak stabil. Tidak itu saja, terbentuk pula kaum pemberontak yang dipimpin oleh Jenderal Zod (Michael Shannon) yang berhasil menaklukkan dewan penguasa. Di sisi lain, lahirlah seorang bayi laki-lai bernama Kal-El, anak dari ilmuwan Jor-El (Russel Crowe) serta istrinya Lara (Ayelet Zurer). Di tengah kehancuran tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk mengirim Kal-El ke bumi demi menyelamatkan anak mereka sekaligus ras Krypton sendiri. Setelah membunuh Jor-El, Jenderal Zod serta pasukannya berhasil ditangkap dan dijebloskan ke Zona Bayangan.

Di bumi, Kal-El yang telah berganti nama menjadi Clark Kent, diasuh oleh Jonathan Kent (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane). Karena lingkungan dan gaya gravitasi yang berbeda dengan Krypton, membuat Clark menjadi lebih kuat ketimbang manusia lainnya. Semasa kecilnya, ia pun menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya, yang membuat Clark kerap dijauhi dan terasingkan dari teman-temannya. Namun, ini semua hanyalah awal dari segalanya, awal dari sesosok pahlawan legendaris (yah, meski fiksi).


Masalah utama yang ada pada film ini adalah script dari David Goyer. Ceritanya sendiri tidak terlalu kompleks dan original, namun saya lebih menekankan masalah pada pengembangan karakter yang harusnya dapat dikembangkan lebih lagi. Meskipun langkah Goyer untuk menjadi Lois Lane menjadi pemeran utama merupakan langkah yang tepat bagi saya, namun di dalam naskahnya, nampaknya Goyer lupa untuk menambahkan kadar-kadar romansa manis di dalam naskahnya. Hasilnya, sebagus apa pun usaha Henry Cavill dan Amy Adams dalam memerankan karakternya, tetap saja hubungan mereka tak sekuat film-film Superman lainnya.

Namun, apakah lantas ini menjadikan naskah Goyer menjadi naskah buruk? Tidak juga. Selain menjadikan Lois Lane menjadi karakter utama wanita dalam film ini, masih ada beberapa kelebihan yang patut diapresiasi. Ia masih memiliki hal-hal yang bagi saya terbilang kreatif. Contohnya, sepanjang film, hampir tak pernah ada kata 'superman' yang diucapkan. Kata 'superman' ini hanya diucapkan sekali saja selama lebih dari 2 jamnya, meski sebenarnya karakter Lois Lane juga pernah hampir mengatakan kata ini, walau akhirnya diinterupsi. Ya, kedengarannya hal sepele, namun, jujur saja, hal ini tak pernah terlintas di dalam otak saya: film tentang Superman dimana hanya ada 1 dialog 'superman' di film yang bahkan judulnya tak memajang nama 'superman'?


Hadirnya Man of Steel dengan gaya penceritaan yang non-linear bagi saya kurang cocok dengan film ini sendiri. Dengan adegan yang lompat sana-sini, malah membuat beberapa detail yang seharusnya dapat makin memperkuat cerita yang dihadirkan, malah hilang. Contohnya saja ketika Kal-El dikirim ke bumi, tak ditampilkan bagaimana Kal-El ditemukan oleh orang tua angkatnya di bumi. Padahal hal ini mampu mengokohkan esensi emosional yang akhirnya malah memantapkan keseluruhan film.

Beruntung, film ini masih memiliki Zack Snyder. Karena, Man of Steel masih mampu menangkap momen-momen emosional yang dapat disampaikan dengan baik oleh Zack Snyder.  Saya sangat menyukai scene dimana saat terjadi tornado di kampung halaman Clark Kent, yang akhirnya membuat ayahnya menemui ajal, walaupun kalau dicermati, kisah emosional ini memang kurang masuk di akal (sekali lagi, naskah), namun Snyder dengan lihai mampu mengemasnya menjadi sebuah momen yang sangat memorable dan menyentuh.


Kemampuan Zack Snyder dalam mengemas aksi demi aksi tentu tak usah dipermasalahkan, karena sebelumnya, ia pernah teruji ketika menangani Watchmen. Sejak awal film, kita telah disajikan sekuen aksi yang sangat seru dan menegangkan. Menuju akhir, kita disajikan lagi aksi yang lebih fantastis. Walau akhirnya harus mengorbankan durasi yang lebih lama lagi, namun tetap saja aksi ini mampu membuat siapa pun duduk di kursi bioskop masing-masing dengan perasaan tegang dan dengan jantung berdegup kencang. Tak sampai disitu, Snyder juga berhasil dalam melahirkan sebuah atmosfer yang gelap, sebuah atmosfer yang tak pernah saya temukan dalam film Superman lainnya. Tentu, hal ini tak segelap apa yang kita temukan dalam The Dark Knight, karena dari segi cerita pun, Man of Steel tidak terlalu berliku dan kompleks.

Penyutradaraan Zack Snyder yang baik ini didukung pula oleh tata produksi yang begitu rapi. Untuk sebuah summer-blockuster seperti Man of Steel, tentu visual-effects menjadi salah satu aspek terpenting, dan untuk urusan ini, Man of Steel mampu menyajikan sebuah sajian visual yang sangat menakjubkan. Original score? Jika ada tangan dingin Hans Zimmer di belakangnya, maka itu artinya tak ada sesuatu pun yang perlu dipermasalahkan.


Soal cast, sebenarnya tak ada alasan untuk mencela jajaran aktor ternama ini. Henry Cavill mampu tampil cool dan dingin sebagai Superman. Amy Adams, meskipun umurnya terlampau jauh dengan Cavill, namun ia berhasil memerankan Lois Lane setelah beban yang diberikan padanya, yaitu menjadi lead character, walaupun perannya bukan tipe-tipe Oscar-worthy yang biasa peraih 3 nominasi Oscar ini perankanMichael Shannon, juga berhasil meyakinkan sebagai Jenderal Zod, meski rasanya aneh, karena ini pertama kalinya saya melihat ia sebagai antagonis (entah ini peran antagonis pertamanya atau tidak).

Kevin Costner, mampu menjelma menjadi Jonathan Kent yang merupakan salah satu karakter terpenting dalam film ini, karena memiliki hubungan emosional mendalam dengan tokoh sentral, meski sebenarnya tak memiliki hubungan darah sama sekali. Kevin Costner dan Henry Cavill beserta pemeran Clark Kent di usia lainnya mampu membangun sebuah chemistry yang erat. Sama halnya dengan Costner, ikatan yang terjalin antara Diane Lane dengan Henry Cavill pun terasa begitu kokoh.



Film ini tak seburuk yang kritikus katakan, namun memang tidaklah sempurna. Zack Snyder mampu mengemasnya menjadi sebuah tontonan yang menghibur, dan membawa sosok pahlawan ini ke sebuah tingkat yang lebih gelap dari biasanya. Namun, kendala terbesar terletak pada naskah dari David Goyer yang membutuhkan lebih banyak character development dan kurangnya romansa Clark-Lane. Namun, ada banyak hal yang sebenarnya patut diacungi jempol dan menjadi kekuatan naskahnya, seperti usaha Goyer untuk membuat karakter Lois Lane menjadi lead female character, dialog yang tak bermasalah, dan masih banyak lagi. Menurut saya, naskahnya jauh dari kata buruk, materinya bagus dan meyakinkan, walau dalam pengembangannya memang ada hal-hal yang mengganjal, namun saya masih dapat menikmati sebagian besar naskah tersebut.

Selain itu? Rasanya tak ada yang perlu dikritik dari Man of Steel, cast-nya mampu tampil baik dengan Henry Cavill yang bagi saya cocok sebegai Superman baru kita. Saya suka dengan tone gelap yang film ini bawa (meski tak segelap trilogi Batman dari Nolan), kostum barunya, dan sekuen aksi (meski kata beberapa orang berlebihan) dan visualnya. Sebuah permulaan yang meski tak sempurna, namun jauh dari kata buruk (setidaknya layak mendapatkan nilai di atas 56% dalam Rotten Tomatoes). Akhirnya, Man of Steel adalah sebuah momen kelahiran kembali sosok Superman yang sangat seru dan mengasyikkan! Can't wait for the sequel!  


0 comments:

Post a Comment