Showing posts with label Fantasy. Show all posts
Showing posts with label Fantasy. Show all posts

Sunday, March 29, 2015

Tagged under: , , , , , , , , , , , , ,

[Part 2] 2014: 25 Best Movies


I'm back! Setelah break cukup panjang, kini saatnya saya untuk menutup annual list ini dengan rangkuman film-film terbaik dari yang terbaik. Di bagian pertama, kita telah melihat blockbuster seperti X-Men Days of Future Past, Guardians of the Galaxy, hingga Dawn of the Planet of the Apes. Ada pula oscar-nominated films layaknya The Theory of Everything sampai The Imitation Game. Jangan lupakan karya-karya independet alias indie dari Coherence hingga Calvary, dan karya dari tanah Eropa, Force Majeure. Kali ini, akan ada lebih banyak film berbahasa asing (di luar bahasa Inggris), beberapa komedi, tentunya drama, dan juga, lebih banyak thriller (!). Well, here they are!


#12. Ida | Directed by Pawel Pawlikowski | Written by Pawel Pawlikowski and Rebecca Lenkiewicz
Dengan 2 karakter utama yang saling bertolakbelakang di lini depan, penonton diajak menelusuri sebuah perjalanan pencarian identitas diri. Melewati masa lalu, membuka luka lama, dan menentukan masa depan mereka, Ida tak hanya mampu memberikan sebuah kisah pencarian jati diri yang solid, namun juga tak biasa dalam hal penyampaiannya. Tersaji dalam resolusi 3:1, visualnya begitu cantik dan tak biasa, but overall its the mysterious and gloomy atmosphere that haunts the audience. Ida adalah definisi sempurna untuk sesuatu yang cantik namun menyakitkan. Tapi, dari segalanya, ada satu yang sangat perlu untuk di-highlight. Ya, karena untuk menyajikan semua itu, ia hanya butuh waktu yang begitu singkat: 82 menit.



#11. Two Days, One Night (Deux Jours, Une Nuit) | Directed and Written by Jean-Pierre Dardenne and Luc Dardenne
I have never watched a film that felt this real. Ya, ia mengangkat isu vital dengan kisah yang begitu relevan terhadap masa kini. Di title role, ada Marion Cotillard, menampilkan salah satu penampilan terbaik dalam karirnya setelah La Vie en Rose dan Rust and Bone. Ia adalah seorang istri sekaligus ibu yang tengah depresi berat, berusaha bangkit dan mempertahankan apa yang ia miliki. Drama yang memikat dalam kesederhanaan, cukup menyakitkan namun tak pernah meninggalkan human spirit yang film ini bawa. Sebuah komentar sosial luar biasa dan karakter studi kompleks, siapa sangka mampu tersaji dengan begitu baik dalam satu kisah yang amat sederhana?



#10. Nightcrawler | Directed and Written by by Dan Gilroy
Mengulik kisahnya, Nightcrawler bagi saya mengingatkan terhadap sebuah klasik tahun 1976, Network. Mereka sama-sama mengungkit media, orang-orang di baliknya, serta bagaimana kelamnya dunia ini. But well, story wise, keduanya memang benar-benar berbeda. Nightcrawler mengajak penonton menyelami industri gelap di balik media, lewat kepala seorang 'nightcrawler'. Diperankan dengan tanpa cacat oleh Jake Gyllenhaal, he once again shows he’s an actor with a wider range than you expected, and easily brings one of the best villains in years. Gyllenhaal seketika berubah menjadi pria 'menakutkan', morally qustionable, karakter kunci yang membuat siapapun bergidik. Sementara Dan Gilroy, sukses membawa sebuah kisah yang intens, yang tanpa disadari juga trut menghadirkan sebuah satirikal drama ke dalam sajian thriller kelam yang penuh obsesi. Gripping, dark, and chilling, Nightcrawler crawls us with its maximum vivacity.



#9. The Grand Budapest Hotel | Directed by Wes Anderson | Written by Wes Anderson and Hugo Guinness
Datang dari otak seorang Wes Anderson, membuat The Grand Budapest Hotel bukanlah sebuah karya biasa. Masih dengan kemasan quirky yang telah lama menjadi style sang sineas, The Grand Budapest Hotel adalah komedi yang segar, benar-benar berbeda dari komedi yang marak saat ini. Menontonnya seperti berada di plante yang benar-benar berbeda, visualnya eye candy dan imajinasinya tingkat tinggi. Dramanya penuh cinta dan memikat sekalipun sederhana, dengan humor offbeat, menarik, nonsense, serta karakter-karakter eksentrik yang mudah dicintai, The Grand Budapest Hotel is a whole new level on comedy: a genius work without trying too much to be one.



#8. Under the Skin | Directed by Jonathan Glazer | Written by Walter Campbell and Jonathan Glazer
Under the Skin mungkin merupakan tipe film that you either love it or hate it. It's segmented, yes, namun tentu ia tidak segmented dalam bagaimana cara seorang Jonathan Glazer mengemas Under the Skin. Didasari novel berjudul sama, Glazer berhasil menjadikan Under the Skin sebagai adaptasi lain dari yang lain. Mengadaptasi premis novelnya, kemudian sisanya adalah kemampuan Glazer. Ia mengambil banyak influens dari para filmmaker berpengaruh dunia seperti Stanley Kubrick hingga david Lynch, dan hasilnya, sebuah kisah yang tak biasa, dingin, haunting, yet effective. Anyway, let's talk about Scarlett Johansson's mesmerizing performance. Seduktif, misterius, she's the real definition of femme fatale. Easily her best performance yet. Dengan performa maksimal dari Glazer maupun Johansson, Under the Skin takes alien invasion themed films to another level. Clever, boundless, thought provoking, while beautifully done and precisely made, Under the Skin is a timeless masterpiece.



#7. Gone Girl | Directed by David Fincher | Written by Gillian Flynn
David Fincher, is surely one of the best filmmaker with a great filmography.  Ya, ia memang punya rapor merah dengan Alien 3, tapi lihat apa yang ia hasilkan setelahnya: Se7en, Fight Club, The Social Network, and now, this. Dengan sang novelis sendiri sebagai penulis naskah, Gone Girl berhasil menjadi salah satu film paling sinting tahun ini. Rosamund Pike berlakon sebagai pemain kunci, the Amazing Amy, misterius sekaligus charming. Membuat penonton bergidik meskipun tak ada yang menyangkal that she is our favorite character of the year. Kisahnya adalah 'romantisme' paling gila tahun ini, dengan penceritaan  maju-mundur, dihiasi banyak kejutan yang mampu memutarbalikkan semuanya. Sementara Fincher membuat Gone Girl begitu kelam, intens, sekaligus membawa Gone Girl at its maximum entertaining point. 'Sakit', penuh ketegangan, dan kejutan, there is no way that we're going to ignore this another Fincher's masterwork.



#6. Interstellar | Directed by Christopher Nolan | Written by Jonathan Nolan and Christopher Nolan
It might not be his best work ever, but Nolan's not-really-his-best-work is everyone's best. Mungkin saya terlalu melebih-lebihkan, tapi Interstellar memang merupakan karya yang serba 'grande' dari segala sisi: kisahnya non-linear dengan tema yang butuh banyak pemikiran, cast-nya bertabur bintang, sisi teknikal yang luar biasa megah dari visual hingga musik. Ya, Interstellar adalah rangkaian goosebumps dari awal hingga akhir. It's not on his Dark Knight level, tapi setidaknya, Nolan kembali dengan comeback yang memukau. Tunggu sampai ia mengeluarkan amunisi pada penghujungnya, rangkaian musik menggetarkan, visual fantastis, dan lapis demi lapis twist mengejutkan sekaligus emosional. And, yes, it's not even his strongest work.



#5. Winter Sleep (Kis Uykusu) | Directed by Nuri Bilge Ceylan | Written by Ebru Ceylan and Nuri Bilge Ceylan
Cannes got it right. Layaknya pemenang tahun lalu, Palme d'Or tahun ini lagi-lagi jatuh di tangan film berdurasi 3 jam. Tapi, menonton Winter Sleep, film asal Turki ini nyatanya bukanlah pengalaman melelahkan. It's simple yet effective in execution, but you can never take the subtle subject in a simplest way. Winter Sleep adalah tipe film 'cerewet', ia memaparkan banyak dialog, dan intensitas film terbangun akan perang argumen, di mana anda terhipnotis dan larut dalam tiap argumen, menyelami isi kepala tiap karakter lewat apa yang keluar dari mulut mereka. Melalui karakter-karakter ini pula, sutradara mengajak penonton untuk melebarkan perspektif mereka, menelusuri dunia mereka yang merupakan miniatur dari sistem kesenjangan sosial.  It's a talking pictures, a talkative one but somehow feels very quite, provokes mind with its very clever subject while giving audience one of the best cinematic journey they've ever had.



#4. Selma | Directed by Ava DuVernay | Written by Paul Webb
Lima menit pertamanya will definitely leave you speechless, and actually, so is the rest. Mengangkat kisah salah satu orator sekaligus pahlawan paling berpengaruh di dunia, Selma mengangkat kisah Martin Luther King Jr. dengan  pengemasan yang tak main-main. Berada di bawah kendali Ava DuVernay, Selma just couldn't go any wrong. Di lini depan, sosok Martin Luther King Jr. yang diperankan oleh David Oyelowo. Berkharisma, penuh spirit, dan berapi-api, Oyelowo is in his finest form. Dalam waktu 127 menit, Selma menyajikan kisah yang emosional sekaligus dramatis, bukan sekedar merekonstruksi kisah, tapi juga menghidupkan kembali kisah, spirit, dan momen-momen bersejarah bagi Amerika, dan mungkin dunia. Perfectly captures every detail, courage, emotion, and spirit, Selma is a biopic at its best.



#3. Whiplash | Directed and Written by Damien Chazelle
This is something that's not really new, but somehow it feels really fresh. Ya, Whiplash adalah sebuah film tentang musik, menelusuri seorang remaja 19 tahun dan obsesinya terhadap drum. Terdengar bukan suatu premis yang menawarkan hal baru,  namun apa yang Damien Chazelle lakukan untuk mengemas Whiplash adalah hal yang menyegarkan. Intens, tapi ini bukanlah sebuah thriller. "Menakutkan", tapi ini juga bukanlah sebuah horor. Chazelle mampu membawa Whiplash menjadi film musik yang membawa genre sejenis pada standar yang tak biasanya. Di sini, kekuatan setiap instrumen nada benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebuah gabungan antara perjalanan sinematik dan permainan musik kelas wahid yang tak ada tandingannya. A pitch perfect.



#2. Boyhood | Directed and Written by Richard Linklater
Boyhood, well, like it says in the title, is about boyhood. Kisahnya sederhana, tapi esensinya kuat, dalam. Dengan kerja keras selama 12 tahun, hasilnya adalah Boyhood, an almost-3-hour vivid-look of everyone's childhood. Waktu 12 tahun pembuatannya bukanlah sekedar gimmick, Linklater mampu membuktikannya lewat bagaimana ia mengemasnya, menyajikan tiap potongan-potongan waktu dengan nilai nostalgianya masing-masing, membuat Boyhood bukan sekedar film tentang tumbuh kembang seorang manusia, tapi ia berhasil mendokumentasikan waktu, menjadikan waktu sebagai bintang utama. Pada akhirnya, Boyhood adalah kisah yang sederhana namun padat dalam isi, monumental, dan esensial. Karya sinematik yang luar biasa.



#1. Birdman | Directed by Alejandro González Iñárritu | Written by Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, and Armando Bo
Birdman mungkin terdengar seperti kisah superhero, well that's not entirely true. Memang ada sedikit tentang itu, tapi apa yang ingin diungkapkan Birdman bukanlah sang superhero, melainkan orang dibaliknya. Ya, ia menelusuri kisah seorang aktor yang ingin kembali mengklaim kejayaan masa lalunya, sembari memberikan humor satir yang menyentuh berbagai isu. Lewat tangan dingin Iñárritu, Birdman berhasil menjadi film paling imajinatif tahun ini, mengaburkan batas antara fantasi dan realita dengan sempurna, dengan career-defining performance dari Michael Keaton dan segala level teknikal yang dihadirkan secara brilian. Some say it's pretentious, while some others say it's too ambitious, well not for me. Selama dua jam, Iñárritu menyajikan dunia teater versinya sendiri lewat perspektif yang kocak, unik, puzzling, surreal, satirikal, sekaligus penuh nilai filosofis. Visually dazzling, narratively imaginative, perfectly casted, and entirely spectacular, Birdman is one of a kind, a tour de force!

_____________________________________________________________________________________________________

Friday, June 13, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Maleficent (2014)

"Oh dear, what an awkward situation." ~ Maleficent

Siapa tak kenal tahu Sleeping Beauty? Kisah klasik yang pernah difilmkan oleh Disney pada tahun 1959 ini sampai sekarang memang dikenang sebagai salah satu film terbaik Disney. Tahun ini, kisah itu kembali, namun hadir dengan sudut pandang berbeda. Bukan lagi berpusat pada kisah Aurora, melainkan memusatkannya pada perspektif sang antagonis, Maleficent. Dengan kulit hijau, penampilan gothic, serta rasa tak kenal ampunnya, Maleficent memang dikenal sebagai salah satu villain tersohor dari universe Disney. Dan, kini ia hadir lewat naskah dari Linda Woolverton dan arahan dari sutradara Robert Stromberg.

Di awal kisah, narasi yang dibacakan Janet McTeer memperkenalkan penonton dengan seorang peri kecil baik hati bernama Maleficent (Isobelle Molloy) yang tinggal di Moors, wilayah penuh makhluk aneh yang memisahkan mereka dengan dunia manusia. Suatu hari, ia bertemu seorang anak manusia bernama Stefan, di mana hubungan mereka akhirnya berkembang dari pertemanan menjadi percintaan. Tapi, ketika keduanya telah dewasa, ambisi Stefan untuk menaklukkan kerajaan manusia membuatnya berhenti mengunjungi Maleficent (Angelina Jolie). Tak sampai disitu, demi menjadi seorang raja dan membalaskan dendam King Henry yang sakit-sakitan kepada Maleficent yang menggagalkan langkahnya dalam menaklukkan Moors, ia akhirnya memotong sayap Maleficent dan meninggalkan Maleficent dalam dendam.


Maleficent yang kehilangan sayap, kini larut dalam sakit hati dan kesedihan, yang membuat hatinya menjadi hitam dan penuh dendam terhadap manusia, khususnya King Stefan. Rasa sakit hati dan dendamnya makin menjadi, saat Stefan menikah dengan putri King Henry, apalagi ketika ia diberitahu oleh tangan kanannya, Diaval (Tom Riley), bahwa kerajaan akan mengadakan pembaptisan besar-besaran terhadap Aurora, anak King Stefan yang baru saja lahir. Di tengah meriahnya acara, Maleficent datang secara tiba-tiba dan memberikan 'hadiah' kepada Aurora, bahwa ia akan jatuh tertidur selamanya dan hanya dapat dibangunkan oleh true love's kiss.

Breaking the rules dalam industri film sekarang ini memang sedang marak. Lihat Frozen, Despicable Me, atau yang sangat ekstrim: The Cabin the Woods. Hal yang sama dilakukan pula oleh Maleficent, meski reaksinya memang campur aduk. Yeah, i mean, it's Maleficent. Who's supposed to be evil as hell, who's supposed to have no heart, who's supposed to be a villain. Perubahan signifikan yang ada dalam filmnya mungkin mengganggu bagi sebagian orang, tapi mungkin yang ingin melihat Maleficent sebagai sosok antihero yang belum pernah kita lihat sebelumnya, pasti dapat menerimanya. Lagipula, perubahan ini dimaksudkan untuk mencapai nilai moralnya tentang true love dan sebelumnya kita telah diwarnai latar belakang sang peri jahat yang dulunya merupakan seorang innocent little fairy. Bagaimana dengan saya? Well, i don't really mind it anyway, it's kind of fun to see Maleficent as a nicer person, as a human, and as a villain, all at once. Am i the only one? 


But, here's one thing. Kalau menarik ide aslinya yang berasal dari Sleeping Beauty, idenya mungkin terlampau lancang dan berani dalam membongkar-pasang kisah Maleficent yang telah kita kenal selama ini. Tapi, kembali lagi, hal itu sebenarnya kembali ke penilaian penonton yang bisa menerimanya maupun tidak. Saya sendiri, cukup menerima kelembutan yang ditawarkan Maleficent, meski sayangnya, hal itu terkesan ditambahkan dalam porsi yang berlebihan, hingga banyak merenggut sisi villain kejam yang selama ini selalu (dan harus) identik dengan sosok Maleficent. Ya, sekalipun tapi Maleficent tetap saja berhasil meraih simpati saya sebagai sisi hero maupun sisi villain, penampilan sangar dari sang villain sejati terkesan terabaikan dengan sisi humanis yang mungkin terlalu manis.

Tapi, masalah utama bagi saya bukanlah datang dari lancang atau tidaknya perubahan yang dilakukan, namun terlalu bertele-telenya naskah racikan Linda Woolverton. Narasi yang dibacakan Janet McTeer dengan berwibawa di awal film memang amat memikat, bagian awalnya memperlihatkan sisi Maleficent kecil yang tentu masih asing bagi kita terasa manis, kisah bagaimana seorang Maleficent kehilangan sayapnya penuh kepedihan, hingga di saat sang villain mengutuk Aurora di acara pembaptisannya dengan bahasa tubuh khas villain. Tapi, dari situ Linda mulai menawarkan rangkaian kisah yang cukup bertele-tele. Entah mungkin maksudnya hanya untuk mengisi durasi 97 menitnya atau menumbuhkan chemistry Aurora-Maleficent, namun memang cukup mengganggu melihat Maleficent yang hanya duduk dan melihat Aurora kecil yang tumbuh sambil mengerjai 3 peri kecil yang merawatnya (it's funny though).


Hal repetitif ini jelas dapat menghalangi banyak hal, terutama dalam memberikan ruang bagi karakter lain untuk berkembang. Pangeran Phillip yang diperankan Brendon Thwaites hanya sekedar muncul dan 'sekali lewat' saja. Akibatnya, chemistry yang terjalin dengan Aurora pun hanya 'sekali lewat' pula, dan twist yang coba dihadirkan pun dapat diterka sebelumnya (meski twist-nya sendiri memang tak baru dan ide dibaliknya memang pernah dipakai dalam salah satu film Disney). Sementara itu, King Stefan yang harusnya menjadi villain sebenarnya dan menjadi motivasi terkuat Maleficent dalam membalaskan dendamnya, hadir dengan waktu yang kurang dalam menunjukkan tajinya sebagai seorang raja haus kekuasaan.

Ya, dan banyaknya kekurangan ini, kekuatan seorang Angelina Jolie bekerja. Ia jelas merupakan bagian terbaik dari semua yang Maleficent bisa tawarkan. Lengkap dengan penampilan yang begitu mendukung: tanduk spiral panjang berbalut headdress hitam yang menawan, mata tajamnya yang cantik namun menunjukkan citranya sebagai seorang villain, lipstick merah merona yang makin menegaskan posisinya, hingga tulang pipi menonjol itu, Jolie jelas tak menyia-nyiakan hal itu dengan menunjukkan performa luar biasa, yang kalau boleh jujur, performa terbaik yang pernah saya lihat di tahun ini, dan pastinya salah satu performa terbaik yang pernah pemenang Oscar ini tawarkan (even though i haven't watched Changeling and Girl, Interrupted yet, what a shame).


Angelina Jolie adalah nyawa dan bintang yang bersinar terang. Ya, tak ada yang mampu menghidupkan setiap dialog, termasuk dialog sesederhana 'Well, well,' dan memberikan aroma gloomy yang luar biasa. Di awal, kita diperlihatkan ketangguhan Jolie dengan gaya bicaranya yang tegas dan garang namun tetap anggun dengan kedua sayap cantiknya. Kita dapat melihat dengan jelas betapa pedihnya ia ketika harus menerima kenyataan bahwa sayapnya telah dicuri, tapi bukan sekadar itu, kita juga dapat melihat kepedihan setelah dirinya dikhianati. Lalu, lihat bagaimana ia bertransformasi menjadi peri jahat berbalut pakaian serba hitam, dengan tatapan tajam dan senyumnya yang infeksius, lengkap dengan intonasi yang mampu membuat siapapun bergidik hanya dengan mendengarnya. A+ for you, Jolie!

Sekalipun saya tak terlalu mempermasalahkan langkah Linda Woolverton dalam mengubah konstruksi kisah aslinya, sayangnya langkah untuk mengubah Maleficent menjadi antihero ini terlalu jauh dengan porsi yang mampu menutupi sisi jahat Maleficent itu sendiri. Tapi, masalah utama ada dalam cara film ini mengantarkan penonton menuju konklusinya. Awalnya tergolong sukses, namun lama-kelamaan, langkahnya sangat repetitif dan bertele-tele, yang mengakibatkan beberapa karakter menjadi mentah dan twist-nya cukup predictable, karena keputusan Robert Stromberg yang terlalu asyik bermain-main dengan Maleficent-nya. But, thank God, ada Angelina Jolie yang bermain sangat apik dan magical sebagai Maleficent yang didukung pula oleh kekuatan CGI yang megah. Ya, potensinya begitu besar: sebuah penghidupan kembali kisah klasik yang diambil dari perspektif berbeda, bukan sembarang sudut pandang, namun datang dari perspektif sang antagonis. Sayang, potensinya terenggut dengan naskah mentah, tapi, untungnya Angelina Jolie hadir sebagai penyelamat di tengah potensi yang tak berhasil dieksekusi dengan baik.


Thursday, May 29, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] X-Men: Days of Future Past (2014)

"You're afraid. I remember." ~ Professor Charles Xavier

Pamor X-Men, dengan tokoh andalannya Wolverine, boleh jadi tak seterang Spider-Man, Superman, Batman, atau komik superhero lainnya. Tapi, perlu diingat, eksistensi selama 13 tahun dalam industri perfilman itu bukan main-main. Di mulai dari X-Men (2000) yang pertama kali mempertemukan kita dengan Wolverine, Professor X, dan Magneto, kemudian berlanjut pada sekuel-sekuelnya hingga dihidupkannya kembali franchise ini lewat X-Men: First Class (2011), dan yang teranyar, sebuah standalone dari Wolverine dan tentunya sekuel bagi X-Men: First Class dan X-Men: The Last Stand sekaligus, yaitu X-Men: Days of Future Past.

Tak hanya dibintangi Jennifer Lawrence, James McAvoy, dan Michael Fassbender dari X-Men: First Class, kini bergabung pula Hugh Jackman, Ian McKellen, Patrick Stewart, dan Halle Berry dari X-Men sebelum-sebelumnya. Untuk menangani proyek krusial ini, mengingat ada beban berat yang dipikulnya, tentu bukan sembarang orang yang dipilih. Dengan menggaet kembali Bryan Singer, orang yang berada di balik kesuksesan X-Men serta X-Men 2, di bangku sutradara, dan gagasan cerita dari trio Jane Goldman, Simon Kinberg, dan Matthew Vaughn, yang sebelumnya berjasa dalam menghasilkan X-Men: First Class, ini adalah winning team yang benar-benar ampuh. Namun, benarkah?


Dibuka dengan penuh ketegangan, kita diperkenalkan dengan dunia dystopian di mana mesin pembunuh bernama Sentinel berkeliaran untuk membasmi para mutan serta menindas para keturunan mutan-manusia. Ketika populasi mutan telah terancam, sekelompok kecil mutan, yang terdiri dari Bishop (Omar Sy), Blink (Fan Bingbing), Sunspot (Adan Canto), Warpath (Booboo Stewart), Colossus (Daniel Cudmore), serta Iceman (Shawn Ashmore), selamat berkat bantuan Kitty Pryde (Ellen Page), mutan yang mampu memproyeksikan pikiran seseorang ke masa lalu.

Untuk menyelatkan mutan dari ancaman Sentinel, kelompok ini kemudian bertemu dengan Wolverine (Hugh Jackman), Professor X (Patrick Stewart), Magneto (Ian McKellen), serta Storm (Halle Berry) di sebuah biara di Cina. Caranya, adalah dengan mengirim kesadaran Wolverine kembali ke tahun 1973 dan menggagalkan usaha Mystique (Jennifer Lawrence) untuk membunuh Dr. Bolivar Trask (Peter Dinklage), otak dibalik terciptanya Sentinel, yang sebenarnya tercipta berkat DNA Mystique yang diambil setelah ia membunuh Trask. Untuk mencegah Sentinel diciptakan dan mencegah kepunahan para mutan di masa mendatang, Wolverine juga membutuhkan bantuan versi muda dari Professor X (James McAvoy) dan Magneto (Michael Fassbender).


Goal-nya sederhana: menghentikan langkah Raven yang dapat membahayakan dunia mutan di masa depan. Tapi, tak sesederhana kedengarannya: narasi sesak akan puzzle yang terpecah, penuh layer, dan lompatan waktu di sana-sini. Dalam merangkai tiap bagian dalam naskahnya, upaya Simon Kinberg terbilang sukses besar dengan mengangkat drama matang yang dikelilingi kekuatan super plus humor-humor komikal, sekalipun tak sepenuhnya mulus. Tak sampai di situ, upayanya untuk membuat para fanboy berteriak histeris patut diacungi jempol, dari mengirim Wolverine, karakter paling dikenal dari universe X-Men, ke masa lalu ketimbang Kitty seperti dalam komik aslinya, merangkul karakter-karakter lintas generasi sekaligus, hingga mempertemukan Charles Xavier dengan Charles Xavier dalam 1 frame! Dengan mengambil latar belakang perjalanan waktu yang dihiasi suasana dystopian yang juga membawa banyak aroma humanity di dalamnyaX-Men: Days of Future Past hadir tidak hanya dengan narasi menghentak dan serba besar a la film superhero tipikal, tapi juga cerdas dan thought-provoking. The smartest X-Men film to date!

Sebagai sebuah film action, aksinya begitu infeksius. Tak sekadar menghancurkan apapun yang ada di depan mata, tapi lebih dari itu, ketegangan ditingkatkan pula secara intensif. Bryan Singer secara cerdas berhasil menawarkan porsi berimbang bagi aksinya, tanpa menutupi narasinya secara keseluruhan. Mencapai bagian klimaks, mungkin tak akan ada pertarungan yang benar-benar masif seperti film-film sejawatnya (sekalipun pertarungan itu tetap ada dan melibatkan sebuah stadion), namun tak berarti klimaks yang dihadirkan begitu mentah. Bukan Bryan Singer namanya kalau ia tak dapat mengemasnya secara apik dan epic. Dengan pengemasan penuh lapisan dari 2 waktu sekaligus serta suntikan emosional yang bertubi-tubi, klimaks ini tak hanya mampu dibungkus dengan penuh keseruan, tapi juga meninggalkan emosi yang mendalam. Sebuah hal yang mungkin jarang kita temui di tengah serbuan film pahlawan super akhir-akhir ini yang meninggalkan penonton hanya dengan keseruan belaka.


Adalah tugas berat bagi Bryan Singer untuk menggabungkan sebuah cast raksasa dalam 131 menit. Bahkan lebih berat ketimbang The Avengers yang menggabungkan 6 pahlawan super sekaligus, X-Men menawarkan jauh lebih banyak mutan, dan tak tanggung-tanggung, mereka hadir dalam 2 generasi yang berbeda. Ya, dan Bryan Singer sukses memberi ruang bagi para aktornya untuk berkembang, meski halangan itu tak bisa dipungkiri. Ada banyak aktor langganan Oscar di sini. Dari Wolverine, Magneto, Mystique, Kitty, Storm, hingga Rogue, beberapa dari mereka setidaknya hampir merasakan rasanya memegang Oscar statue, bahkan beberapa telah membawanya pulang (Jennifer Lawrence, Halle Berry, dan Anna Paquin), meski sayang, Halle Berry dan Anna Paquin terkesan dihadirkan hanya untuk menghapus rasa haus para diehard fans

Jennifer Lawrence, tentu menjadi fokus, karena posisi vitalnya dalam narasi. Sebagai Raven/Mystique yang hidup dalam ketakutan dan kehilangan arah, ia dingin, manipulatif, tangguh, dan tak banyak omong. Hugh Jackman sebagai si easy-going Wolverine, James McAvoy sebagai Professor X versi putus asa, Michael Fassbender sebagai mutan abu-abu, hingga Peter Dinklage si villain mungil juga hadir memuaskan. Namun, dari sekian banyak mutan berseliweran, Quicksilver alias Evan Peters adalah sang scene stealer. Dengan pembawaan eksentrik, penampilan komikal, hingga kemampuannya yang membuat siapapun berdecak kagum, ia mungkin merupakan everybody's favorite now. Mungkin hanya satu kekurangannya: screentime yang harusnya lebih banyak!


Sedikit berbeda dengan film superhero pada umumnya, tak ada karakter yang benar-benar berada di jalur hitam. Mystique, sekalipun ia merupakan ancaman besar bagi dunia mutan, ia tetaplah tak lebih dari sekedar gadis yang kehilangan jati dirinya. Sama halnya dengan Magneto, di luar mindset 'kill-or-be-killed'-nya, kita selalu tahu hubungan frenemy-nya dengan Professor X. Sedangkan villain lain dalam film ini, Bolivar Trask, pria di balik mesin pembunuh Sentinel, juga tak bisa dikatakan sebagai villain sejati. Di balik tubuh 4 kakinya, ia bukan seseorang yang benar-benar hidup dalam area hitam. Ia hanyalah seorang manusia yang tak mampu memahami para mutan, dan terperangkap dalam ketakutan. Dengan memanfaatkan batas hitam-putih ini, Bryan Singer dengan cerdik mampu meraih simpati dari siapapun karakternya, termasuk dari sang antagonis itu sendiri.

Lewat Days of Future Past, X-Men kembali membuktikan eksistensinya di tengah serbuan para karakter Marvel Comics lain seperti Avengers, Guardians of the Galaxy, hingga si individualis Spider-Man. Tajam, namun menyenangkan. Garang, namun emosional. Ini jelas bukan lah kualitas Bryan Singer yang kita temukan pada Superman Returns apalagi Jack the Giant Slayer, ini adalah Bryan Singer baru yang pernah kita lihat di karya-karya terdahulunya. Didampingi departemen teknikal kelas wahid dan labelnya yang serba lebih; lebih besar hingga lebih kacau (in a good way), X-Men kali ini bukan hanya sebuah pengeruk dollar di tengah musim panas, di saat yang sama ia juga menawarkan keseruan tak terbatas dalam drama mutannya yang kompleks dan penuh pemikiran serta emosi, pacing cepat dan tepat dari Bryan Singer, sampai mega-cast bertabur bintang yang mampu bersinar tanpa henti. Epic, epic, epic!



Friday, January 17, 2014

Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , , ,

[List] Critics' Choice Awards 2014: And the Winners are...

Gravity floats away with 7 trophies, while American Hustle takes 4 prizes and 12 Years a Slave owns the main category: Best Picture.
Hampir bersamaan dengan pengumuman para nominasi Oscar untuk tahun ini, Critics' Choice Movie Awards kembali digelar. Dengan dipandu Aisha Tyler yang tak kalah lucunya dengan duo Amy Poehler dan Tina Fey, meski dengan monolog yang lebih cepat,  Broadcast Film Critics Association (BFCA), organisasi kritikus film terbesar di Amerika Serikat, kembali menganugrahi film-film terbaik dari tahun 2013 pilihan mereka. Sekalipun 12 Years a Slave adalah pilihan para kritik untuk 3 tropi termasuk penghargaan utama Best Picture juga penerima nominasi terbanyak, yaitu 13 nominasi, yang diikuti dengan 12 nominasi oleh American Hustle, memenangkan Best Ensemble Cast dan 3 penghargaan lain, bintang paling bersinar di pagelaran kali ini adalah space thriller Gravity, yang memenangkan 7 tropi, termasuk untuk Best Director. 

Tapi, ketiga film ini bukanlah film yang menerima lebih dari 1 tropi saja, masih ada 5 film lain yang masing-masing memenangkan 2 penghargaan, termasuk romasa asal Prancis, Blue is the Warmest Color serta potret para pengidap AIDS dalam Dallas Buyers Club. Duo Matthew McConaughey dan Jared Leto dalam Dallas Buyers Club, yang baru saja memenangkan Golden Globe mereka, makin membuktikan taringnya di musim penghargaan kali ini, dengan membawa pulang Best Actor dan Best Supporting Actor. Di ranah aktris, Cate Blanchett tetap tak terkalahkan di Best Actress, sementara kali ini ada Lupita Nyong'o yang naik podium untuk Best Supporting Actress, selagi saling kejar-kejaran dengan Jennifer Lawrence dalam Oscar nanti, terlebih setelah kemenangan Larence di Golden Globe. Dan, inilah daftar para pemenang Critics' Choice Movie Awards 2014.

BEST PICTURE
American Hustle
Captain Phillips
Dallas Buyers Club
Gravity
Her
Inside Llewyn Davis
Nebraska
Saving Mr. Banks
12 Years a Slave
The Wolf of Wall Street

BEST ACTOR
Christian Bale - American Hustle
Bruce Dern - Nebraska
Chiwetel Ejiofor - 12 Years a Slave
Tom Hanks - Captain Phillips
Matthew McConaughey - Dallas Buyers Club
Robert Redford - All Is Lost

BEST ACTRESS
Cate Blanchett - Blue Jasmine
Sandra Bullock - Gravity
Judi Dench - Philomena
Brie Larson - Short Term 12
Meryl Streep - August: Osage County
Emma Thompson - Saving Mr. Banks

BEST SUPPORTING ACTOR
Barkhad Abdi - Captain Phillips
Daniel Bruhl - Rush
Bradley Cooper - American Hustle
Michael Fassbender - 12 Years a Slave
James Gandolfini - Enough Said
Jared Leto - Dallas Buyers Club

BEST SUPPORTING ACTRESS
Scarlett Johansson - Her
Jennifer Lawrence - American Hustle
Lupita Nyong'o - 12 Years a Slave
Julia Roberts - August: Osage County
June Squibb - Nebraska
Oprah Winfrey - Lee Daniels' The Butler

BEST YOUNG ACTOR/ACTRESS
Asa Butterfield - Ender's Game
Adele Exarchopoulos - Blue Is the Warmest Color
Liam James - The Way Way Back
Sophie Nelisse - The Book Thief
Tye Sheridan - Mud

BEST ACTING ENSEMBLE
American Hustle
August: Osage County
Lee Daniels' The Butler
Nebraska
12 Years a Slave
The Wolf of Wall Street

BEST DIRECTOR
Alfonso Cuaron - Gravity
Paul Greengrass - Captain Phillips
Spike Jonze - Her
Steve McQueen - 12 Years a Slave
David O. Russell - American Hustle
Martin Scorsese - The Wolf of Wall Street

BEST ORIGINAL SCREENPLAY
Eric Singer and David O. Russell - American Hustle
Woody Allen - Blue Jasmine
Spike Jonze - Her
Joel Coen & Ethan Coen - Inside Llewyn Davis
Bob Nelson - Nebraska

BEST ADAPTED SCREENPLAY
Tracy Letts - August: Osage County
Richard Linklater & Julie Delpy & Ethan Hawke - Before Midnight
Billy Ray - Captain Phillips
Steve Coogan and Jeff Pope - Philomena
John Ridley - 12 Years a Slave
Terence Winter - The Wolf of Wall Street

BEST CINEMATOGRAPHY
Emmanuel Lubezki - Gravity
Bruno Delbonnel - Inside Llewyn Davis
Phedon Papamichael - Nebraska
Roger Deakins - Prisoners
Sean Bobbitt - 12 Years a Slave

BEST ART DIRECTION
Andy Nicholson (Production Designer), Rosie Goodwin (Set Decorator) - Gravity
Catherine Martin (Production Designer), Beverley Dunn (Set Decorator) - The Great Gatsby
K.K. Barrett (Production Designer), Gene Serdena (Set Decorator) - Her
Dan Hennah (Production Designer), Ra Vincent (Set Decorator) - The Hobbit: The Desolation of Smaug
Adam Stockhausen (Production Designer), Alice Baker (Set Decorator) - 12 Years a Slave

BEST EDITING
Alan Baumgarten, Jay Cassidy, Crispin Struthers - American Hustle
Christopher Rouse - Captain Phillips
Alfonso Cuarón, Mark Sanger - Gravity
Daniel P. Hanley, Mike Hill - Rush
Joe Walker - 12 Years a Slave
Thelma Schoonmaker - The Wolf of Wall Street

BEST COSTUME DESIGN
Michael Wilkinson - American Hustle
Catherine Martin - The Great Gatsby
Bob Buck, Lesley Burkes-Harding, Ann Maskrey, Richard Taylor - The Hobbit: The Desolation of Smaug
Daniel Orlandi - Saving Mr. Banks
Patricia Norris - 12 Years a Slave

BEST MAKEUP
American Hustle
The Hobbit: The Desolation of Smaug
Lee Daniels' The Butler
Rush
12 Years a Slave

BEST VISUAL EFFECTS
Gravity
The Hobbit: The Desolation of Smaug
Iron Man 3
Pacific Rim
Star Trek into Darkness

BEST ANIMATED FEATURE
The Croods
Despicable Me 2
Frozen
Monsters University
The Wind Rises

BEST ACTION MOVIE
The Hunger Games: Catching Fire
Iron Man 3
Lone Survivor
Rush
Star Trek into Darkness

BEST ACTOR IN AN ACTION MOVIE
Henry Cavill - Man of Steel
Robert Downey Jr. - Iron Man 3
Brad Pitt - World War Z
Mark Wahlberg - Lone Survivor

BEST ACTRESS IN AN ACTION MOVIE
Sandra Bullock - Gravity
Jennifer Lawrence - The Hunger Games: Catching Fire
Evangeline Lilly - The Hobbit: The Desolation of Smaug
Gwyneth Paltrow - Iron Man 3

BEST COMEDY
American Hustle
Enough Said
The Heat
This Is the End
The Way Way Back
The World's End

BEST ACTOR IN A COMEDY
Christian Bale - American Hustle
Leonardo DiCaprio - The Wolf of Wall Street
James Gandolfini - Enough Said
Simon Pegg - The World's End
Sam Rockwell - The Way Way Back

BEST ACTRESS IN A COMEDY
Amy Adams - American Hustle
Sandra Bullock - The Heat
Greta Gerwig - Frances Ha
Julia Louis-Dreyfus - Enough Said
Melissa McCarthy - The Heat

BEST SCI-FI/HORROR MOVIE
The Conjuring
Gravity
Star Trek into Darkness
World War Z

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
Blue Is the Warmest Color
The Great Beauty
The Hunt
The Past
Wadjda

BEST DOCUMENTARY FEATURE
The Act of Killing
Blackfish
Stories We Tell
Tim's Vermeer
20 Feet from Stardom

BEST SONG
Atlas - Coldplay - The Hunger Games: Catching Fire
Happy - Pharrell Williams - Despicable Me 2
Let It Go - Robert Lopez and Kristen Anderson-Lopez - Frozen
Ordinary Love - U2 - Mandela: Long Walk to Freedom
Please Mr. Kennedy - Justin Timberlake/Oscar Isaac/Adam Driver - Inside Llewyn Davis
Young and Beautiful - Lana Del Rey - The Great Gatsby

BEST SCORE
Steven Price - Gravity
Arcade Fire - Her
Thomas Newman - Saving Mr. Banks
Hans Zimmer - 12 Years a Slave
Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

[List] Academy Awards 2014: the Nominees!


I can see snubs everywhere! Inside Llewyn Davis hampir saja pulang dengan tangan hampa, kalau saja ia tak dinominasikan untuk Best Sound Mixing dan Best Cinematography. Sisanya? Tak ada Best Picture, Best Actor, Best Original Screenplay, hingga Best Director. Berbicara tentang Best Director, kalau tahun lalu Ben Affleck secara mengejutkan tak menjadi salah satu nominator, maka kali ini Paul Greengrass (Captain Phillips) lah yang juga menjadi tumbal. Beralih ke Best Actor, absennya Robert Redford mungkin tak terlalu mengejutkan, karena ia pun absen dalam SAG. Namun, yang paling mengejutkan adalah hilangnya nama Tom Hanks (Captain Phillips) dalam daftar nonimasi tersebut. Tak hanya itu, dalam Best Actress, Emma Thompson (Saving Mr. Banks) yang selama ini diunggulkan dalam kategori Best Actress, nyatanya juga tak hadir dalam daftar. Dalam ranah animasi, meskipun bukanlah tahun yang terlalu baik bagi film animasi, termasuk bagi Pixar, tetap saja Monsters University yang absen tetaplah salah satu kejutan terbesar bagi saya. Duo frontrunners, Stories We Tell serta Blackfish yang juga dianggap sebagian orang bahwa mereka pasti akan mendapat nominasi dalam Best Documentary, ternyata salah besar. Dan, yah, setidaknya ini membuat kesempatan lebar bagi film-film lain untuk bersinar di kategori ini, termasuk my favorite, The Act of Killing.

Kini, mari beralih ke berita bagus. Gravity dan American Hustle, keluar sebagai peraih nominasi terbanyak, yaitu 10 nominasi, termasuk Best Picture, Best Director dan Best Actress. Untuk American Hustle sendiri, Oscar tampaknya memang benar-benar menyayangi David O. Russell, karena setelah setahun lalu ia juga berhasil mendapat seluruh nominasi akting lewat Silver Linings Playbook, tahun ini, American Hustle juga mampu membawa 4 nominasi tersebut. Gravity sendiri, selain sukses di kategori utamanya, ia juga sukses besar dalam kategori teknikal, meraup 7 nominasi, dan kemungkinan besar akan membawa pulang banyak dari kategori teknikal ini. Di belakang Gravity dan American Hustle, ada 12 Years a Slave, yang meraih 9 nominasi, termasuk Best Picture, Best Director, dan seluruh nominasi akting kecuali Best Actress. Masih seputar kabar baik, kejutan besar juga lagi-lagi hadir dalam Oscar kali ini. Ya, siapa sangka bahwa seorang Jonah Hill sekarang adalah 2 kali nominee Oscar? Kabar baik lain yang cukup mengejutkan datang dari Sally Hawkins, yang mendapat nominasi Oscar untuk pertama kalinya berkat perannya dalam Blue Jasmine. Berikut daftar lengkap nominasi Academy Awards 2014 yang akan diselenggarakan 2 Maret nanti.

BEST PICTURE
American Hustle
Captain Phillips
Dallas Buyers Club
Her
Nebraska
Philomena
The Wolf of Wall Street

BEST DIRECTOR
David O. Russell – American Hustle
Alfonso Cuaron – Gravity
Alexander Payne – Nebraska
Steve McQueen – 12 Years a Slave
Martin Scorsese – The Wolf of Wall Street

BEST ACTOR
Christian Bale – American Hustle
Bruce Dern – Nebraska
Leonardo DiCaprio – The Wolf of Wall Street
Chiwetel Ejiofor – 12 Years a Slave
Matthew McConaughey – Dallas Buyers Club

BEST ACTRESS
Amy Adams – American Hustle
Cate Blanchett – Blue Jasmine
Sandra Bullock – Gravity
Judi Dench – Philomena
Meryl Streep – August: Osage County

BEST ORIGINAL SCREENPLAY
American Hustle – Written by Eric Warren Singer and David O. Russell
Blue Jasmine – Written by Woody Allen
Her – Written by Spike Jonze
Nebraska – Written by Bob Nelson
Dallas Buyers Club – Written by Craig Borten & Melisa Wallack

BEST ADAPTED SCREENPLAY
Before Midnight – Written by Richard Linklater, Julie Delpy, Ethan Hawke
Captain Phillips – Screenplay by Billy Ray
Philomena – Screenplay by Steve Coogan and Jeff Pope
12 Years a Slave – Screenplay by John Ridley
The Wolf of Wall Street – Screenplay by Terence Winter

BEST SUPPORTING ACTRESS
Lupita Nyong’o – 12 Years a Slave
Jennifer Lawrence – American Hustle
June Squibb – Nebraska
Julia Roberts – August: Osage County
Sally Hawkins – Blue Jasmine

BEST SUPPORTING ACTOR
Barkhad Abdi – Captain Phillips
Bradley Cooper – American Hustle
Michael Fassbender – 12 Years a Slave
Jonah Hill – The Wolf of Wall Street
Jared Leto – Dallas Buyers Club

BEST ANIMATED FILM
Despicable Me 2
Ernest & Celestine
Frozen
The Wind Rises

BEST CINEMATOGRAPHY
The Grandmaster – Philippe Le Sourd
Gravity – Emmanuel Lubezki
Inside Llewyn Davis – Bruno Delbonnel
Nebraska – Phedon Papamichael
Prisoners – Roger A. Deakins

BEST COSTUME DESIGN
Michael Wilkinson – American Hustle
William Chang Suk Ping – The Grandmaster
Catherine Martin – The Great Gatsby
Michael O’Connor – The Invisible Woman
Patricia Norris – 12 Years a Slave

BEST DOCUMENTARY FEATURE
The Act of Killing – Joshua Oppenheimer and Signe Byrge Sørensen
Cutie and the Boxer – Zachary Heinzerling and Lydia Dean Pilcher
Dirty Wars – Richard Rowley and Jeremy Scahill
The Square – Jehane Noujaim and Karim Amer
20 Feet from Stardom – Nominees to be determined

BEST DOCUMENTARY SHORT SUBJECT
Cave Digger – Jeffrey Karoff
Facing Fear – Jason Cohen
Karama Has No Walls – Sara Ishaq
The Lady in Number 6: Music Saved My Life – Malcolm Clarke and Nicholas Reed
Prison Terminal: The Last Days of Private Jack Hall – Edgar Barens

BEST FILM EDITING
American Hustle – Jay Cassidy, Crispin Struthers, and Alan Baumgarten
Captain Phillips – Christopher Rouse
Dallas Buyers Club – John Mac McMurphy and Martin Pensa
Gravity – Alfonso Cuarón and Mark Sanger
12 Years a Slave – Joe Walker

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
The Broken Circle Breakdown – Belgium
The Great Beauty – Italy
The Hunt – Denmark
The Missing Picture – Cambodia
Omar – Palestine

BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING
Dallas Buyers Club – Adruitha Lee and Robin Mathews
Jackass Presents: Bad Grandpa – Stephen Prouty
The Lone Ranger – Joel Harlow and Gloria Pasqua-Casny

BEST ORIGINAL SCORE
John Williams – The Book Thief
Steven Price – Gravity
William Butler and Owen Pallett – Her
Alexandre Desplat – Philomena
Thomas Newman – Saving Mr. Banks

BEST ORIGINAL SONG
"Alone Yet Not Alone" from Alone Yet Not Alone – Music by Bruce Broughton; Lyric by Dennis Spiegel
"Happy" from Despicable Me 2 – Music and Lyric by Pharrell Williams
"Let It Go" from Frozen – Music and Lyric by Kristen Anderson-Lopez and Robert Lopez
"The Moon Song" from Her – Music by Karen O; Lyric by Karen O and Spike Jonze
"Ordinary Love" from Mandela: Long Walk to Freedom – Music by Paul Hewson, Dave Evans, Adam Clayton and Larry Mullen; Lyric by Paul Hewson

BEST PRODUCTION DESIGN
American Hustle – Judy Becker; Set Decoration: Heather Loeffler
Gravity – Andy Nicholson; Set Decoration: Rosie Goodwin and Joanne Woollard
The Great Gatsby – Catherine Martin; Set Decoration: Beverley Dunn
Her – K.K. Barrett; Set Decoration: Gene Serdena
12 Years a Slave – Adam Stockhausen; Set Decoration: Alice Baker

BEST ANIMATED SHORT FILM
Feral – Daniel Sousa and Dan Golden
Get a Horse! – Lauren MacMullan and Dorothy McKim
Mr. Hublot – Laurent Witz and Alexandre Espigares
Possessions – Shuhei Morita
Room on the Broom – Max Lang and Jan Lachauer

BEST LIVE ACTION SHORT FILM
Aquel No Era Yo (That Wasn’t Me) – Esteban Crespo
Avant Que De Tout Perdre (Just before Losing Everything) – Xavier Legrand and Alexandre Gavras
Helium – Anders Walter and Kim Magnusson
Pitääkö Mun Kaikki Hoitaa? (Do I Have to Take Care of Everything?) – Selma Vilhunen and Kirsikka Saari
The Voorman Problem – Mark Gill and Baldwin Li

BEST SOUND EDITING
All Is Lost – Steve Boeddeker and Richard Hymns
Captain Phillips – Oliver Tarney
Gravity – Glenn Freemantle
The Hobbit: The Desolation of Smaug – Brent Burge
Lone Survivor – Wylie Stateman

BEST SOUND MIXING
Captain Phillips – Chris Burdon – Mark Taylor, Mike Prestwood Smith and Chris Munro
Gravity – Skip Lievsay – Niv Adiri – Christopher Benstead and Chris Munro
The Hobbit: The Desolation of Smaug – Christopher Boyes, Michael Hedges, Michael Semanick and Tony Johnson
Inside Llewyn Davis – Skip Lievsay – Greg Orloff and Peter F. Kurland
Lone Survivor – Andy Koyama – Beau Borders and David Brownlow

BEST VISUAL EFFECTS
Gravity – Tim Webber, Chris Lawrence, Dave Shirk and Neil Corbould
The Hobbit: The Desolation of Smaug – Joe Letteri, Eric Saindon, David Clayton and Eric Reynolds
Iron Man 3 – Christopher Townsend, Guy Williams, Erik Nash and Dan Sudick
The Lone Ranger – Tim Alexander, Gary Brozenich, Edson Williams and John Frazier
Star Trek Into Darkness – Roger Guyett, Patrick Tubach, Ben Grossmann and Burt Dalton

Monday, January 13, 2014

Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , , ,

[Part 1] 2013: 25 Best Movies


Tahun 2013 telah berakhir, dan rupanya mampu menjadi tahun penuh kebaikan bagi industri perfilman. Meski minim film superhero yang meledak di tahun-tahun sebelumnya, 2013 tetap dipenuhi film blockbuster penuh aksi, sekuel yang membawa banyak kisah gembira, komedi pengocok perut, horor yang kembali pada hakikatnya, biopik-biopik megah, drama-drama kompleks nan menyentuh, hingga thriller yang tak pernah kehabisan akal untuk memacu adrenalin. Dan, dari banyaknya film yang rilis tahun lalu, saya telah merangkum bagian 1 dari total 25 film terbaik dari yang terbaik (click here for part 2).



Namun, sebelum memasuki 25 film terbaik 2013 lalu, inilah film-film terbaik lain yang dengan sangat terpaksa, harus saya 'buang', in random order. Ada Frozen, animasi musikal dari Disney yang mampu menggebrak naratif dongeng tentang kekuatan cinta sejati, Saving Mr. Banks, di mana Walt Disney dan P. L. Travers tampil dalam 1 frame dengan Emma Thompson yang sempurna, komedi penuh petualangan menyenangkan yang dikemas dalam akhir dari trilogi Cornetto The World's End, drama southern Mud yang penuh kejujuran dan cast bertalenta, serta The Place Beyond the Pines, sebuah drama 'estafet' memukau yang mengungkap kisah masa lalu.

And, here they are!

#25. The Hobbit: The Desolation of Smaug | Directed by Peter Jackson | Written by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, and Guillermo del Toro
Mengadaptasi sebuah novel menjadi 3 film mungkin bisa dibilang hanyalah langkah untuk menggeruk dollar sebanyak-banyaknya. Memang benar, namun tak ada yang mampu menutup pesona sekuel kedua dari prekuel saga The Lord of the Rings ini. Di samping durasinya yang kelewat panjang dan beberapa keputusannya untuk berlama-lama pada bagian tertentu, Peter Jackson has done his job very well. Strategi 'menyembunyikan' sang naga untuk durasi yang sangat lama jelas berhasil, terlebih dengan karisma Benedict Cumberbatch yang bahkan tak tertutupi meski telah berubah wujud menjadi seekor naga tamak. Dengan aksi yang lebih membabi buta dan menyenangkan ketimbang The Unexpected Journey, Peter Jackson mampu membuat penonton melewati 161 menit tanpa benar-benar merasakan bahwa mereka sebenarnya telah menghabiskan waktu selama itu.


#24. The Conjuring | Directed by James Wan | Written by Chad Heayed and Carey
Secara cerita, The Conjuring memang tak menghadirkan jalan cerita horor modern yang out-of-the-box, sebaliknya, lewat kisahnya, ia mencoba menghidupkan kembali sentuhan-sentuhan horor klasik, dan itu berhasil! Dengan pengarahan yang mampu menyesaki ruangan dengan aroma mistis, James Wan mengarahkan penonton ke sebuah perjalanan mengerikan dan mencekam yang dibangunnya secara solid tiap waktu berlalu dengan menawarkan teror-teror kreatif dan efektif. Dengan denyutan old-school-nya yang mengalir deras, The Conjuring bukanlah hanya homage horor 1970'an untuk bernostalgia ria, tapi juga sebuah karya horor sejati sesak kengerian yang mampu melaksanakan tugas utamanya dengan sangat baik: meneror sekaligus menghibur penonton. 


#23. Rush | Directed by Ron Howard | Written by Peter Morgan
Rush hidup berkat rivalitas antara James Hunt (Chris Hemsworth) dengan Niki Lauda (Daniel Bruhl) yang dibangun Ron Howard dengan begitu mantap. Dengan aksen kentalnya, Daniel Bruhl berhasil memberi nyawa pada karakternya, sekaligus menghidupkan chemistry frenemy-nya dengan Chris Hemsworth yang flamboyan. Tak berhenti di situ, setiap racing sequences mampu dieksekusi dengan penuh hentakan ketegangan yang tertata baik setiap menitnya. Rush adalah rivalitas manis yang menawarkan banyak ketegangan dan keseruan luar biasa, sebuah biopik yang tak hanya mampu menggali setiap karakternya dengan baik, namun juga membawa setiap penonton pada sebuah jalinan antar karakter yang terikat kokoh. Dengan Rush yang extremely lovable and well-executed ini, jangan pernah Anda ragukan kualitas seorang Ron Howard.


#22. Star Trek Into Darkness | Directed by J.J. Abrams | Written by Roberto Orci, Alex Kurtzman, and Damon Lindelof
Seri Star Trek kembali menunjukkan taringnya. Selepas Star Trek yang memukau, kini Star Trek Into Darkness kembali dengan hasil yang tak kalah memukaunya. Masih dengan skrip yang tertata baik, kini Spock mendapat sorotan lebih berkat kesempatannya untuk menunjukkan sisi emosionalnya, selagi membangun persahabatan manis dengan sang Kapten Kirk. Selepas semua itu, ternyata Star Trek masih belum kehilangan 'gigitannya'. Ditambah dengan Cumberbatch yang sesak akan pesona tak terbantahkan, visual yang tak usah dipertanyakan lagi, serta sekuen aksi yang penuh suntikan adrenalin, ini adalah contoh sekuel yang mampu tampil dengan cerdas sekaligus menghibur. Dan, ya, kita juga harus bersyukur, karena pada akhirnya, Star Trek Into Darkness ternyata tak membawa franchise ini ke dalam 'kegelapan' seperti judulnya.


#21. The Hunger Games: Catching Fire | Directed by Francis Lawrence | Written by Simon Beaufoy and Michael Arndt
Oke, di luar sebanyak apa 'inspirasi' film serta novel asalnya ini dari film asal Jepang, Battle Royale, seri pertamanya memang sangat menghibur. Seri kedua, kini ia memberi kejutan. Hadir dengan penceritaan yang lebih dewasa sekaligus matang, sekuel ini mampu memberi karakter yang lebih tereksplorasi, departemen akting yang lebih memukau, serta dengan drama yang lebih humanis plus kisah cinta segitiganya, walaupun ada beberapa bagian yang telah kita lihat sebelumnya di seri pertamanya. Di tengah ritme penceritaan yang lebih lambat dan kelam dibanding pendahulunya, Jennifer Lawrence kembali menunjukkan talentanya yang luar biasa sebagai heroin yang dipuja-puja. Sebuah perpaduan antara drama berbalut satir pemberontakan terhadap penguasa, action-packed, serta science fiction, jelas sudah, ini adalah pencapaian luar biasa jika dibandingkan pendahulunya.


#20. Frances Ha | Directed by Noah Baumbach | Written by Noah Baumbach and Greta Gerwig
Naratifnya yang penuh tikungan tajam mungkin berpotensi untuk membingungkan, namun dengan kesederhanaan dan keluguannya, Frances Ha rupanya mampu menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Menceritakan sisi lain dari kehidupan New York yang jauh dari kesan glamor, Greta Gerwig tak hanya berhasil di naskah yang ia tulis, tapi sebagai Frances yang konyol, awkward, dan penuh kemalangan, rasanya tak ada yang mampu melakukan hal tersebut lebih baik darinya. Dengan banyak pengaruh Woody Allen, Frances Ha tampil unik dengan usahanya yang berhasil menjadi tontonan kocak nan sederhana, tanpa pernah berusaha terlalu keras untuk menjadi kocak. Tak banyak macam-macam, Frances Ha adalah drama komedi penuh kehangatan yang dibungkus dalam kesederhanaan, dan di saat yang sama, mampu membawa aroma nostalgia yang menyenangkan. 


#19. Fruitvale Station | Directed by Ryan Coogler | Written by Ryan Coogler
Kalau anda tanyakan orang-orang momen terbaik dalam film apa saja di tahun 2013 ini, maka hampir dapat dipastikan, adegan penembakan Oscar Grant akan menjadi salah satunya. Bukan hanya karena para cast yang mampu memanfaatkan setiap detik dengan begitu baik, tapi juga karena tangan Ryan Coogler yang dengan cerdas memompa setiap ketegangan ke batas maksimal. Tapi, bukan berarti itu satu-satunya momen yang mampu mengangkat Fruitvale Station. Dari awal hingga akhir, Fruitvale Station mampu menceritakan setiap detiknya yang berharga dengan mulus. Ditambah trio aktingnya yang bersinar: Michael B. Jordan yang menghidupkan kemali Oscar yang tough sekaligus gentle, Melonie Diaz yang membangun chemistry kokohnya dengan Jordan, serta Octavia Spencer yang mampu memaksimalkan kehangatannya walau dengan durasi yang tak banyak. Sebuah 'rekonstruksi adegan' yang lebih dari sekedar mengulang apa yang telah terjadi, sebaliknya memilih untuk kembali menghidupkan kembali momen-momen tersebut dengan penuh kejujuran.


#18. Prisoners | Directed by | Written by Denis Villeneuve | Written by Aaron Guzikowski
Di antara banyaknya drama yang menghiasi 2013, Prisoners adalah salah satunya yang bersinar terang. Meninggalkan setiap penonton pada labirin konflik kompleks penuh tanda tanya di antara manusia-manusia 'tak berdosa', Prisoners membawa segala tema besar tentang dendam, dilema, keputusasaan, hingga kebobrokan moral ke sebuah perjalanan menegangkan bertabur kepingan puzzle yang berteriak untuk dipecahkan. Di jajaran cast-nya, Hugh Jackman tampil bersahaja sekaligus emosional, sementara Jake Gyllenhaal hadir sebagai sang badass. Dengan membawa sedikit aroma The Vanishing yang begitu sesak akan ketragisannya, Prisoners adalah sebuah 'petualangan' emosional betabur injeksi ketegangan yang sama sekali tak melelahkan di 2 jam lebih durasinya,


#17. All is Lost | Directed by J.C. Chandor | Written by J.C. Chandor
Life of Pi? Well, mungkin punya beberapa elemen mirip, namun jelas keduanya berbeda. Tak ada Richard Parker, setumpuk pisang yang mengapung, hingga pulau penuh meerkat. Yang ada, hanyalah Robert Redford yang hampir tak pernah berbicara, dan... lautan yang terhampar luas. Bermodal dialog dan monolognya yang kalau dihitung-hitung bahkan tak mencapai 45 baris dalam durasi 100 menitnya, All is Lost hidup berkat pengarahan penuh tensi dan hati dari J.C. Chandor serta penampilan Robert Redford yang menakjubkan. All is Lost adalah ketika semuanya hilang, hingga yang tersisa adalah jiwa untuk terus hidup, dan Redrofd berhasil untuk itu. Sunyi, sederhana, namun penuh nyawa, All is Lost adalah potret sempurna tentang jiwa setiap manusia.


#16. American Hustle | Directed by David O. Russel | Written by Eric Singer and David O. Russel
Diringi naskah berujung twist serta arahan David O. Russel, American Hustle melangkah dengan penuh percaya diri. Tapi, tetap saja, hal yang paling menarik hati adalah castnya yang begitu kuat. Christian Bale mampu menyajikan penampilan luar biasa plus satu lagi perubahan tubuh drastisnya. Sementara Bradley Cooper mampu membuktikan talentanya sekali lagi, tapi para pencuri scene ada di tangan sang 2 wanita, Amy Adams dan Jennifer Lawrence. Amy Adams, as usual, kembali memukau siapa saja lewat perannya sebagai penipu sensual dan Jennifer Lawrence, meski memerankan peran yang mengingatkan kita akan perannya dalam Silver Linings Playbook, ia tetap menakjubkan dengan peran penuh dialog witty ini. Sebagai sebuah film, ia memaparkan perjalanan manusia yang mendalam pada setiap karakternya, dan sebagai sebuah hiburan, ini adalah 138 menit penuh kekocakan yang energetic dan menyenangkan!


#15. Side Effects | Directed by Steven Soderbergh | Written by Scott Z. Burns
Dilihat dari bagaimana Steven Soderbergh mengemas Side Effects, memang banyak mengingatkan siapa saja terhadap film medical disaster-nya, Contagion. Namun, Side Effects jelas bukanlah Contagion. Dibanding Contagion yang lebih tenang, Side Effects adalah thriller psikologis yang lebih intens. Dengan lapisan-lapisan yang mampu ditata Soderbergh dengan sangat cerdas yang diisi pula oleh sentuhan kental a la Hitchcock, ini adalah sebuah bom waktu yang mampu memuntahkan segala misteri dan kejutan-kejutannya yang pintar dan kapan saja bisa mengelabui anda. Di lini depan, Rooney Mara tampil hebat, menambahkan satu lagi salah satu penampilan terbaik dalam filmografinya, bersamaan dengan performa baik yang juga ditunjukkan oleh Catherine Zeta-Jones, Jude Law, juga Channing Tatum. Penuh pompaan kejutan dan intensitas serta pendekatan psikologis maksimal, Side Effects kembali hadir sebagai salah satu karya terbaik Steven Soderbergh.


 #14. The Wolf of Wall Street | Directed by Martin Scorsese | Written by Terence Winter
Jadi, apa yang dilakukan Martin Scorsese setelah drama keluarga Hugo? Sebuah biografi nakal nan provokatif inilah jawabannya. Ya, memang sangat berbanding terbalik dengan yang ia lakukan sebelumnya, tapi Scorsese memang tak akan pernah bisa berhenti mengejutkan orang. Scorsese lagi-lagi memilih DiCaprio, dan ternyata merupakan keputusan tepat. DiCaprio, dengan kharisma besarnya, adalah seorang maniak sembrono dan penuh kedinamisan, terlebih ia dipasangkan dengan Jonah Hill yang tanpa disangka mampu membangun chemistry bromance yang hangat nan kocak. Naskahnya hadir dengan sentilan-sentilan humor dan dialog-dialog tajam dengan 'bungkus' budaya hedonisme yang melimpah-ruah, sementara Scorsese berhasil mengemasnya menjadi sebuah rollercoaster penuh tawa, infeksius, serta penuh menit-menit eksplosif. Dengan 3 jam durasinya, The Wolf of Wall Street mungkin akan lebih baik lagi jika lebih ringkas dalam bercerita, namun selama 3 jam itu pula, siapapun tak bisa menolak pesonanya.



#13. Blue Jasmine | Directed by Woody Allen | Written by Woody Allen
Di luar raihan 4 Oscarnya, Woody Allen sebenarnya merupakan sineas yang tak selalu konsisten dalam perjalanan karirnya. And, thank God, kali ini Blue Jasmine tak termasuk dalam salah satu karya inkonsistennya, bahkan jauh dari kata itu. Dengan kisah sederhananya, Blue Jasmine terbangun berkat naskahnya yang ditulis dengan sangat baik. Menitikberatkan masa-masa midlife crisis secara non-linear dengan sentuhan humor di sana-sini, Blue Jasmine adalah studi karakter luar biasa, yang diisi oleh cast berkualitas dan mampu dengan kokoh diarahkan oleh Woody Allen. Tapi, dari semua cast, Cate Blanchett lah yang paling bersinar. Dengan peran kompleksnya ini, ia mampu membuat dirinya dibenci, sekaligus dicintai. Penuh kebingungan dengan jiwanya yang labil, Blanchett menyajikan no-one-can-beat-her performance. Well, watch out, ladies, because Ms. Blanchett is coming to get her 2nd Oscar!

Dari sekuel penuh fantasi dan aksi menegangkan, The Hobbit: The Desolation of Samug, di posisi awal hingga kisah tentang wanita diambang kegilaan, Blue Jasmine, yang mendarat di angka 'sial', ini hanyalah segelintir film-film yang mampu menunjukkan kedahsyatannya di 2013. More is coming!