Showing posts with label Psychological Thriller. Show all posts
Showing posts with label Psychological Thriller. Show all posts

Friday, May 30, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Oculus (2014)

"I've met my demons and they are many. I've seen the devil, and he is me." ~ Alan Russell


Berapa banyak film yang mengkambinghitamkan benda mati sebagai medium para makhluk supernatural? Sangat banyak. Oculus, adalah salah satunya. Berasal dari Bahasa Latin yang berarti mata, film horor ini mengangkat cermin sebagai highlight-nya. Disutradarai oleh Mike Flanagan, Oculus didasarkan dari sebuah film pendek yang ia sutradarai pula pada 2006 lalu. Naskahnya, adalah karya kolaborasi Flanagan dengan Jeff Howard. Berbekal itu semua, mampukah Oculus muncul sebagai horor berkualitas di tengah ide kisahnya yang jauh dari kata segar?

Semua fokus tertuju pada sebuah cermin. Berawal dari Alan Russell, seorang pengembang komputer yang pindah ke rumah baru bersama istrinya, Marie, dan kedua anaknya, Tim dan kakanya, Kaylie. Alan sendiri membeli sebuah cermin antik sebagai dekorasi dalam ruang kerjanya. Tragedi besar pun terjadi yang menewaskan Alan dan Marie, sementara Tim harus masuk ke instalasi jiwa. Sebelas tahun kemudian, Tim kembali, dan berkumpul lagi dengan sang kakak, Kaylie, yang rupanya telah menghabiskan bertahun-tahun untuk menyelidiki sejarah cermin tersebut. Berkat pekerjaan Kaylie sebagai pegawai dalam rumah pelelangan, mereka berhasil mendapatkan cermin itu kembali. Sekarang, goal-nya terdengar cukup sederhana: menghancurkan si cermin dan memutuskan segala kutukan dalam benda antik itu.


Lihat baik-baik kisahnya: Apa yang baru dari ide cerita Oculus? Nyaris tak ada, sudah banyak film horor yang mengangkat benda-benda semacam ini. Lantas, apa itu membuat Oculus menjadi film horor yang buruk? Sama sekali tidak! Justru, jujur saja, Oculus adalah salah satu horor terbaik tahun ini. Setelah rilisnya The Conjuring (well, setidaknya), definisi horor modern bagus berubah: mampu meneror seisi bioskop, sekalipun menawarkan cerita usang. Oculus pun, melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari itu, ada hal istimewa lain yang menjadi alasan kuat mengapa Oculus sangat patut untuk diapresiasi. 

Mengembangkan kisah layaknya Oculus memang bukan pekerjaan mudah. Sepanjang 104 menit, hampir semuanya berada di bawah kendali sebuah cermin antik. Selama itu pula, film ini mengambil setting di tempat yang itu-itu saja. Belum lagi, dengan ide cerita yang sebenarnya bukanlah hal baru dan sangat sederhana. Akibatnya, seluruh ruang gerak untuk mengembangkan film ini menjadi horor yang berbeda menjadi sempit dan sangat terbatas. Salah-salah, ia bisa saja tampil mediocre dan berakhir tanpa kesan. Tapi, akal dari duo screenwriter, Mike Flanagan serta Jeff Howard, memiliki ruang gerak tak terbatas. Lewat hal ini, mereka berhasil menawarkan sebuah trik sulap yang menarik: pengemasan narasi secara paralel.


Dengan menerapkan narasi yang secara hampir bersamaan memaparkan dua garis cerita berbeda, masa lampau dan sekarang, Oculus berhasil menarik minat saya. Ini bukan hanya menambal kisah sederhananya, bahkan mampu menutupinya dan membuat saya melupakan betapa usang ceritanya. Sekali, hal ini pun bukanlah hal baru, tapi dengan eksekusi mendekati sempurna, elemen inilah yang terus 'memaksa' saya untuk terus mengarungi sekaligus menikmati perjalanan dua bersaudara ini. Dengan langkah ini, Flanagan dengan cerdas mampu memompa intensitas, menegakkan atmosfer gelapnya, menipu siapa pun dengan berbagai ilusinya, menyuntikkan letupan-letupan yang efektif dan meledak-ledak, dan tentunya meneror penonton.

Hingga second act-nya, semua terasa baik-baik saja. Arahan dari Flanagan mengalir cukup lancar dan sukses menggiring film ini menjadi pemacu adrenalin mujarab. Oculus mampu menawarkan apa yang harusnya ditawarkan oleh sebuah horor, khususnya horor psikologis: bukan hanya ampuh dalam menakut-nakuti, tapi juga sukses membuat penonton terlarut dalam lautan teka-teki yang penuh tanda tanya sekaligus tertipu dengan trik-triknya. Dengan kejutan yang datang lapis demi lapis, membuat penonton sedikit menutupi mata dengan kedua tangan, tapi secara bersamaan, mata tetap setia menatap layar dengan rasa penasaran yang kian menit makin terusik dan menggebu-gebu. 


Tapi, menjelang akhir, Flanagan terasa kebingungan membawa Oculus ke titik puncak. Ilusi maupun trik-triknya mulai menjadi repetitif dengan narasi yang dibawanya juga mulai berputar-putar. Ini tentu berakibat pada setiap kejutan menjadi less surprising dan ketegangan yang tadinya telah terjaga cukup baik, perlahan mengendur. Pada akhirnya, dengan intensitas yang perlahan menurun, Oculus masih bisa berakhir dengan kejutan yang saya kira cukup mengejutkan, namun sayangnya terlampau sederhana dan straight-forward, sehingga tak mampu menyamai apa yang telah dibangun dengan susah payah dalam first hingga second act-nya. Meskipun, ending seperti ini malah makin menegaskan peran mengerikan cermin keramat ini.

Keseluruhan Oculus memang berada dalam kendali benda mati: sebuah cermin, namun tak berarti departemen cast-nya dapat kita lupakan. Justru, masing-masing dari mereka berhasil besar dalam melakonkan setiap perannya. Karen Gillan tampil meyakinkan sebagai pemimpin cast yang tangguh, penuh persiapan, dan ambisius. Di sisi lain, Annalise Basso serta Garrett Ryan tak kalah andal dalam memainkan duo Russell kecil bersaudara. Tapi, penampilan magnetik datang dari Katee Sackhoff, yang gemilang sebagai seorang ibu dengan dua sisi: sisi lembut dan sisi garang yang ia tampakkan ketika makhluk supernatural mulai merasukinya.


Dari segala hal mengenai Oculus, ada satu hal lain yang begitu krusial bagi film ini. Bukan cermin, cast, naskah, ataupun penyutradaraan. Jika anda telah menonton film ini, pasti anda akan sadar akan hal itu: editing. Ya, film ini memang bergantung banyak pada porsi tersebut, terutama dalam hal menjaga intensitas ketegangan. Dengan suntingan gambar yang dilakukan dari bangku sutradara sendiri, yaitu Mike Flanagan, ia hadir dengan cemerlang dalam membungkus Oculus menjadi sebuah perjalanan 'menyenangkan' penuh lompatan waktu dengan transisi amat halus, bahkan kita bisa saja tak menyadarinya. Bravo!

Memadukan kisah konvensinal dan mengemasnya dalam sebuah konsep yang sebenarnya bukan hal baru, Oculus berhasil menjadi suatu angin segar dengan eksekusinya yang matang. Penampakan hantunya jujur tak terlalu menakutkan, namun arahan dari Flanagan lah yang berhasil membuat Oculus menjadi mesin teror efektif lewat ilusi dan trik-trik tipuannya dengan naskah ditulis mumpuni dan kreatif dengan segala keterbatasan ruang geraknya. Dengan kejutan yang berlapis-lapis, letupan-letupan intens, atmosfer yang begitu dingin di tengah kegelapan, cast-nya yang bertalenta hebat, hingga bintang utamanya, sang cermin, terus menerus mengeluarkan aura misteriusnya, Oculus bukanlah sekadar horor kemarin sore yang sama sekali buta tentang cara menakuti-nakuti, terlepas dari segala kekurangannya, ini adalah horor yang dipupuk dengan cukup solid dan sepenuh hati.

Friday, September 28, 2012

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] Diabolique (1955)

"Don't you believe in hell?" ~ Christina Delassalle

Ah, siapa bilang kalau seluruh suspense klasik brilian hanya dihasilkan oleh sutradara Alfred Hitchcock? Memang sebagian besar suspense masterpiece klasik merupakan karyanya, tapi jangan lupakan film yang satu ini. Diabolique asal Perancis yang disutradarai Henri-Georges Clouzot ini memang bukanlah karya Hitchcock, tapi ternyata Diabolique punya andil besar dalam satu karya Hitchcock. Ya, rupanya film ini lah yang menginspirasi salah satu karya terpopulernya, Psycho.

Film ini bisa dibilang punya andil besar dalam perkembangan indutri film suspense/thriller, meski belum sebesar film-film Hitchcock. Diablique atau The Devils and the Fiends yang berjudul asli Les Diabolique ini mengambil genre psychological thriller dalam format hitam-putih. Suspense yang diangkat dari novel berjudul Celle qui n'était plus (She Who Was No More) karya Pierre Boileau dan Thomas Narcejac ini naskahnya ditulis oleh sang sutradara sendiri bersama dengan Jérôme Géronimi.


Henri-Georges Clouzot membawa kita ke sebuah boarding school yang dikepalai oleh kepala sekolah yang kejam dan kasar, Michel Delassalle (Paul Meurisse). Ia memiliki seorang istri sekaligus guru di sekolah tersebut, Christina Delassalle (Vera Clouzot), yang kerap ia semena-menakan. Di sisi lain, Michel juga punya hubungan tersendiri dengan guru wanita pula di sekolah itu, Nicole Horner (Simone Signoret), yang bahkan sering mempertontonkan kemesraan mereka di depan Christina sendiri. Di film lain, dua karakter ini pastinya akan digambarkan saling bermusuhan. Tapi, Diabolique malah memilih untuk tampil berbeda. Clouzot malah menggambarkan sosok Christina dan Nicole mempunya hubungan dekat yang hangat.

Didasarkan pada kebencian mendalam mereka terhadap Michel yang kerap berlaku kasar, Nicole kemudian merencanakan sesuatu untuk Michel. Apa itu? Tentu saja membunuh. Christina, yang awalnya ragu-ragu pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dan bersama-sama menyusun rencana untuk membunuh Michel dengan cara Christina mengancam akan meminta cerai pada Michel dan mengajak bertemu di apartemen Nicole. Rencana berhasil, Michel dapat terbunuh dan mayatnya dapat dibawa ke sekolah mereka dan membuangya di sebuah kolam renang. Tinggal menunggu hingga mayatnya mengapung secara tiba-tiba dan tada! Alibi pun terbentuk. Tapi, ada satu pertanyaan yang mengganjal, benarkah mayat Michel berada dalam kolam renang tersebut?


Satu hal yang menarik dari Diabolique, tugas kita bukanlah menebak-nebak siapakah pembunuhnya dan apakah trik yang digunakan si pembunuh. Bahkan, di Diabolique pun, Clouzot telah menjabarkan dengan jelas siapa pembunuhnya dan bagaimana cara mereka membunuhnya. Lalu? Kita akan disuguhkan dengan sesuatu yang tak kalah menarik. Ke mana perginya mayat yang telah mereka bunuh? Apakah ada seseorang yang melihat pembunuhan tersebut dan mencoba memeras mereka? Atau mayat itu bergentayangan dan akan membalaskan dendamnya? Atau kah malah mayat tersebut berubah menjadi zombie yang menjijikkan?

Diabolique berjalan dengan ketegangan yang terbangun begitu pelan dan lamban. Clouzot membiarkan filmnya ini mengalir dengan begitu saja, yang malah membuat film ini terlihat lebih realistis. Tak ada adegan kejar-kejaran dan segalanya yang biasanya merupakan sifat mutlak sebuah suspense, bahkan dua wanita memilih membunuh dengan cara yang tergolong halus, bukan dengan merobek-robek isi perutnya, melainkan hanya dengan menenggelamkannya di bathtub saja. Sebagai gantinya, Clouzot membawa kita ke sebuah plot yang penuh kemelut dan misteri yang jujur sejujurnya, sangat sulit untuk ditebak.


Tapi, Clouzot tak ingin filmnya berakhir dengan begitu saja. Ia punya rencana yang ia susun dengan sangat rapi. Sebuah tamparan yang di luar dugaan dan datang secara tiba-tiba. Endingnya juga dikemas dengan sangat baik oleh Clouzot yang menghadirkan atmosfer mencekam efektif. Bahkan, ia sama sekali tak memerlukan musik latar yang psychedelic untuk menjadikan sebuah ending yang menggebu-gebu. Mungkin merupakan ending paling cerdas sekaligus mengejutkan yang pernah ada. Haunting!

Belum cukup? Rupanya Clouzot masih menyiapkan satu rencana terakhir. Ia membuat satu misteri lagi, dan sengaja tak membukanya dan membiarkan penonton mencerna dan mereka-reka sendiri apa yang ingin disampaikan Clouzot. Misteri yang mungkin agak nonsens, namun entah mengapa saya selalu penasaran dengan jawaban misteri tersebut. Dengan semua itu, rasanya tak ada keraguan lagi, Diabolique memang merupakan film suspense dengan misteri-misteri kelam yang benar-benar apik.


Di samping itu, Diabolique juga punya jajaran catsnya yang luar biasa solid. Di barisan terdepan, ada dua wanita, Simone Signoret dan Vera Clouzot. Simone Signoret, berhasil memerankan sosok wanita tangguh yang hampir tak kenal rasa takut. Lalu ada istri Henri-Georges Clouzot, Vera Clouzot yang rapuh dan lemah, namun ternyata punya keberanian yang cukup untuk mencabut nyawa seseorang. Dua karakter yang sangat bertolakbelakang ini dengan ajaibnya mampu Clouzot ubah menjadi perpaduan yang sangat unik dengan chemistry yang erat. Terlebih, mengingat mereka berdua memerankan dua peran yang seharusnya saling bermusuhan.

Meski tampil sebentar, performa Paul Meurisse tentunya harus pula dipuji. Sebagai seorang kepala sekolah yang semena-mena, kasar, dan kejam, ia tampil dengan sangat kuat. Sosoknya saya akui memang benar-benar menyebalkan, tapi kadang juga terlihat romantis namun manipulatif. Sosok menjadi mimpi buruk bagi siapa saja, bahkan bagi yang tak mengenalnya dan hanya melihatnya lewat layar. Bahkan, rasanya semua orang akan setuju untuk membunuh Michel jika kita diibaratkan menjadi dua perempuan tersebut.


Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, Diabolique tak punya banyak musik latar yang mengiringi setiap suspense-nya. Bahkan, seingat saya, musik latarnya hanya terletak di bagian opening dan creditnya saja. Namun, itulah hebatnya film ini. Diabolique tak perlu scoring seperti Psycho yang membahana. Ia hanya perlu teriakan, suara pintu yang terbuka, dan suara langkah kaki untuk membangun ketegangannya. Tapi, ketegangan itu tentu tak akan terwujud jika tidak dibarengi oleh penyutradaraan mumpuni dari Clouzot.

Diabolique, yang kerap disandingkan dan disejajarkan dengan Psycho (meski, jujur, saya lebih suka film ini dibanding Psycho) ini memang sebuah film yang cerdas. Dengan suspense yang merambat pelan, namun pasti dan efektif. Dengan departemen akting luar biasa dan misteri yang benar-benar kompleks. Jangan lupakan juga endingnya yang benar-benar membuat banyak orang mengeluarkan 'bahasa-bahasa kebun binatang-nya'. Sebuah film yang penuh dengan nuansa manipulatif. A truly brilliant suspense that Hitchcock never made!

9.0/10