Showing posts with label Asia. Show all posts
Showing posts with label Asia. Show all posts

Thursday, August 8, 2013

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Sympathy for Lady Vengeance (2005)

"An angel, could that be true? Do you really think an angel resides in me? If so, where was that angel when I was committing such an evil act? I always wondered about this after hearing what the preacher said, and then I realized, that the angel inside me only reveals itself when I invoke it." ~ Lee Geum-ja

Kita pernah disajikan apa saja oleh seorang sutradara berbakat asal Korea Selatan ini. Ia pernah membuat kita ngeri 'hanya' dengan memotong achilles tendon seorang pria berambut hijau, kemudian kita dikejutkan lagi oleh sebuah balas dendam tersakit yang pernah ada, yang kemudian tak hanya menggemparkan perfilman Korea saja, tapi juga Asia, bahkan dunia. Selain itu, ia juga pernah membawa dunia vampir ke ranah Korea. Terakhir, ia hijrah ke Hollywood, sukses menjadikan sebuah naskah thriller berdarah nan familiar menjadi sebuah sajian yang berkelas dan mengagumkan. Siapa dia?

Park Chan-wook! Sutradara yang angkat nama berkat adaptasi lepas sebuah manga berjudul Oldboy ini memang dikenal sebagai salah satu pelopor film penuh kekerasan di Korea. Oldboy sendiri adalah salah satu bagian dari Vengeance Trilogy, tiga film yang bertema balas dendam, namun dengan cerita yang tak terkait satu sama lain. Sebelum Oldboy, ia telah mengarahkan seri pertama, berjudul Sympathy for Mr. Vengeance yang slow-paced, namun efektif dalam membuat gigi ngilu. Setelah Oldboy, ia menutup trilogi ini lewat pacing lebih cepat dan less-glory namun indah, Sympathy for Lady Vengeance.


Sympathy for Lady Vengeance, atau yang dikenal pula dengan Lady Vengeane saja masih berkutat pada misi balas dendam. Kali ini, seorang wanita yang memegang seluruh kendali. Adalah Lee Geum-ja (Lee Yeong-ae), seorang wanita cantik, mantan narapidana yang dihukum penjara selama 13 tahun atas kejahatan yang ia sendiri tak lakukan. Ia dituduh telah menculik dan membunuh seorang anak berusia 6 tahun, bernama Won-mo. Selepas dari tahanan, ia pun akan menuntut balik, sebuah balas dendam yang tak biasa terhadap pelaku sebenarnya, Mr. Baek (Choi Min-sik). 

Sebelum terjebak dalam jurang penuh pujian, mungkin ada baiknya jika kita mulai dari kekurangan dulu. Mungkin kekurangan yang saya rasakan adalah banyaknya karakter yang dihadirkan (sebagian besar merupakan karakter dari masa lalu Geum-ja saat masih di penjara). Sebenarnya, ini mungkin tak akan menjadi kekurangan kalau karakter yang dihadirkan dapat digali dengan cukup dalam. Namun, Park tampaknya mengalami sedikit kesulitan dalam menangani dan menggali karakter-karakter ini jauh lebih dalam. Akibatnya, walau tak bisa dibilang fatal, membuat penonton sedikit kehilangan fokus dengan apa yang Park coba sajikan.


Meski begitu, saya akui film ini memang menghadirkan tokoh sentral dengan karakterisasi yang luar biasa. Lee Geum-ja sudah dijamin merupakan karakter yang amat menarik dan kompleks. Seorang gadis innocent yang harus menghadapi suatu konsekuensi terhadap sesuatu yang tidak ia lakukan, yang akhirnya menjadi gerbang baginya untuk terjun dalam hal penuh kekerasan dan dosa. Belum lagi, ia seorang wanita dan ibu, yang tetap saja memiliki batas-batas emosional. Dengan segala hal yang dimilikinya, Park menyajikan tokoh sentral yang subtle, saling kontradiktif, a victim of society. Mr. Baek, juga hadir dengan karakter absurd dan kontradiktif, seorang guru yang seharusnya merupakan sosok penyayang, di balik semua itu, ia adalah psikopat berdarah dingin tanpa punya rasa iba.

Segala hal dalam naskah Sympathy for Lady Vengeance bukan melulu tentang pembalasan dendam saja. Di balik sisi emosional dan beberapa kekerasan yang ia punya, naskah film ini juga menghadirkan humor-humor gelap. Ada beberapa humor yang hadir lewat dialog-dialog yang witty dan komikal, membuat saya sendiri tak percaya, bahwa saya tertawa menonton film bertema balas dendam. Dengan takaran yang lebih dibanding 2 pendahulunya, humor-humor ini bekerja dengan baik dalam membangun atmosfer film yang menyeret tema berat menjadi lebih bisa dinikmati.


Tak hanya disampaikan dengan begitu gamblang, ada juga beberapa scene, yang entah tujuannya untuk menyalurkan tawa atau bukan, yang jelas momen-momen ini memang cukup komikal. Dalam 'the deer hunter' scene, sekalipun terasa begitu absurd, tetap saja saya sedikit menyunggingkan kedua ujung bibir. Tak sampai disitu, momen di mana para orang tua berfoto bersama juga berhasil membuat saya sejenak melupakan ke-immoral-an film ini. Siapa yang ingin berfoto bersama setelah melakukan suatu kejahatan? Ada satu lagi. Kalau yang satu ini, akan terasa komikalnya kalau sebelumnya anda telah menonton Sympathy for Mr. Vengeance. Apa itu? Well, silakan lihat dan tebak sendiri.

Meski jika dilihat dari cara pengemasan, Sympathy for Lady Vengeance adalah yang paling ringan, namun dibanding kedua 'kakaknya', film inilah yang hadir dengan kadar simbolisme terbanyak. Dalam perjalanannya, Park menyisipkan beberapa simbolisasi untuk menghantarkan tema rumitnya dalam bentuk banyaknya penggunaan 2 warna, putih dan merah yang menyimbolkan kekontradiktifan 2 sifat. Warna putih diwakili lewat salju serta tahu, dan merah yang dilambangkan lewat eyeshadow, interior kamar, dan tentu saja, darah, atau bahkan keduanya sekaligus, seperti yang telah diperkenalkan dalam opening credits. Tapi, yang paling menarik justru terletak dalam bagaimana Park menggabungkan 2 warna ini dalam unsur-unsur religius.


Tak sampai disitu, Park memang terkesan banyak mengebiri unsur agama di sini. Ia memanfaatkan kereligiusan Lee Geum-ja dan menghadirkan 2 periode waktu sebagai simbol dari 2 sifat yang bertolakbelakang dan kemunafikan. Bukan menyalahkan agama itu sendiri, namun lebih berfokus pada pikiran manusia yang rusak dan penuh noda. Namun, jika dilihat lagi dengan sudut pandang yang lebih luas, kita akan melihat apa yang sebenarnya Park inginkan lewat simbolisasi ini, dan mungkin akan menjawab mengapa ia menempatkan Lady Vengeance sebagai penutup trilogi ini. Ia mengawali Lady Vengeance dengan dominasi warna putih yang melambangkan kesucian, yang perlahan mulai dikotori dengan darah dan kekerasan, yang pada akhirnya, ia mengembalikan semua itu ke tempat di mana semua itu pantas mendapatkannya, ia mengakhiri dengan hujan salju dan sebuah tofu.

Sekalipun tak mempunyai kadar kekerasan sebanyak pendahulunya, terlebih Sympathy for Mr. Violence, namun Park, yang terkenal karena kekerasan dalam setiap filmnya, tetap dapat membungkus setiap adegan dengan intensitas tinggi. Tak hanya itu, lain daripada film lain yang hanya menjadikan kekerasan sebagai ajang unjuk gigi dan bersenang-senang, maka Lady Vengeance (serta Mr. Vengeance dan Oldboy) menjadikan kekerasan-kekerasan tersebut sebagai nyawa dalam plotnya. Mereka adalah dua hal yang saling berkegantungan, tanpa kekerasan yang ia bawa, plot akan terasa mentah dan tak hidup, begitu pula sebaliknya.


Jika mengibaratkan ketiga film dari trilogi balas dendam ini dengan satu sifat, maka Sympathy for Mr. Vengeance memiliki mindless violence, Oldboy adalah definisi dari insanity, maka Lady Vengeance merupakan emotional rollercoaster. Ya, Lady Vengeance adalah segalanya tentang wanita, dan wanita tanpa emosinalitas bukanlah sepenuhnya wanita, bukan? Di sini, Park berhasil menyusun esensi-esensi emosional ini tanpa dosis berlebihan. Bukan dengan hasil unsur emosional tanpa emosi sedikitpun, atau sebaliknya, menghasilkan sebuah sajian manipulatif dangkal yang meninggalkan bergalon-galon air mata.

Satu hal yang membuat Lady Vengeance mengingatkan saya dengan Oldboy adalah lead yang tak terlupakan. Lee Yeong-ae memberikan kharisma yang luar biasa hebat. Ia berhasil mengeksplorasi seorang karakter wanita yang dingin, tangguh, kharismatik, namun emosional, religius, serta feminin. Dengan karakter kompleks dan absurd tersebut, Yeong-ae berhasil mengisi setiap sisi dengan penampilan oscar-worthy. Choi Min-sik, yang kembali bereuni dengan Park juga mampu berubah menjadi seorang psikopat sakit dengan karakter yang saling kontradiktif. Performa baik ini tak hanya sampai pada lead-nya saja, tapi hingga akar-akarnya. Lihat akting para orangtua korban di klimaks film, lihat pula rekan Geum-ja sesama tahanan.


Secara technical level, film ketiga ini benar-benar menunjukkan tajinya. Dengan konsep multi-layered, editing mumpuni adalah keharusan. Ditemani oleh camerawork super cantik, angle-angle unik, dengan tone-tone indah, editing ini terasa intens, namun tetap moving. Berbeda dengan Mr. Vengeance yang tak terlalu banyak memakai scoring dan tenang, musik latar dalam Lady Vengeance terasa lebih agresif lewat gubahan orkestra barok yang menghipnotis, membuat film ini selevel lebih megah dan grande.

Stylish dan beautifully-shot, Sympathy for Lady Vengeance memang tak se-grande dan setragis Oldboy, namun tetap dengan sukses menutup trilogi balas dendam Park Chan-wook dengan dongeng balas dendam yang masih ditulis dengan baik dan sangat unik dan indah dalam pengemasannya. Dibanding dengan kedua prekuelnya, film ini memang tak sekeras kedua pendahulunya, namun bukan berarti Lady Vengeance hadir tanpa kekerasan. Sympathy for Lady Vengeance tidak memanfaatkan kekerasan sebagai pemanis saja, film ini menjadikan kekerasan itu sendiri menjadi untuk memberikan nyawa bagi plotnya. Diisi dengan karakter kompleks dalam sebuah society berliku, Lee Yeong-ae hadir dengan penampilan menawan, hampir tanpa celah sedikit pun. Cantik, menawan, emosional, dingin, keras, dan absurd, dari awal Sympathy for Lady Vengeance menyajikan dongeng fantastis dari segala sisi, dan ketika ia berakhir, ia melimpahkan banyak hal penuh tanya. Tak perlu dijawab, hanya perlu dipikirkan.


Monday, August 27, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Kahaani (2012)

"There's no difference. We do it for the law and he does it against the law. That's why we are right and he's wrong." ~ Mr. Khan 

Apakah anda termasuk salah satu dari orang-orang yang sudah bosan dengan film Bollywood yang kebanyakan merupakan drama musikal? Kahaani merupakan salah satu alternatifnya. Kahaani, yang berarti 'cerita' ini merupakan film thriller yang disutradarai oleh Sujoy Ghosh. Memang bukan film thriller pertama produksi Bollywood, tapi memang Kahaani menawarkan sesuatu yang sangat menarik dan mengejutkan.

Sebenarnya, film dengan konsep seperti Kahaani, yaitu mencari orang yang tak diketahui keberadaanya telah banyak. Bahkan, film Bollywood lain, 3 Idiots, juga menawarkan hal yang kurang lebih sama. Tapi, sepertinya hanya Kahaani yang menawarkan sesuatu yang agak berbeda dari film sejenis, yaitu orang yang mencari adalah seorang ibu hamil.


Vidya Bagchi (Vidya Balan) merupakan seorang insinyur perangkat lunak yang datang jauh-jauh dari London ke Kalkuta seorang diri dan dalam keadaan hamil. Ia datang ke Kalkuta, India hanya untuk mencari keberadaan suaminya yang hilang bagai ditelan bumi. Suaminya, Arnab Bagchi (Indraneil Sengupta) seharusnya telah pulang ke London setelah ditugaskan di National Data Center (NDC). Dua minggu pertama tugasnya, suaminya terus menghubungi Vidya setiap hari. Anehnya, setelah itu kontak mereka langsung terputus. Tak ada kabar, telepon, maupun SMS.

Dibantu oleh Inspektur Satyaki Sinha, atau yang lebih dikenal dengan Rana (Parambrata Chatterjee), Vidya terus menyelidiki keberadaan suaminya. Anehnya, dari semua orang yang mereka tanyakan, termasuk penginapan tempat Arnab tinggal, paman, hingga sekolahnya pun tak mengenal seorang Arnab. Tempat Arnab ditugaskan pun, National Data Center mengatakan bahwa mereka tak mempunyai karyawan bernama Arnab Bagchi. Anehnya, Agnes D'Mello (Colleen Blanche), selaku manager HRD di NDC menyatakan bahwa suaminya mirip dengan Milan Damji, mantan karyawan NDC 2 tahun lalu yang menghilang tiba-tiba. Lebih aneh lagi, karena 2 tahun yang lalu, suaminya berada di London.


Film ini menggabungkan sebuah misteri yang menyangkut konspirasi lalu dibalut dalam ketegangan ala thriller kemudian dengan dibumbui lagi oleh drama termasuk romansa (tak ada musikal kali ini, haha). Kahaani memang seperti film ala-ala detektif. Ghosh akan menyuguhi kita bagaimana Vidya bersama Rana mencari keberadaan Arnab, yang juga sedikit mengingatkan saya akan Extremely Loud & Incredibly Close, namun bedanya, di EL & IC tokoh utamanya mencari pemilik sebuah kunci tua. Satu lagi, Kahaani selevel lebih baik (atau mungkin dua level) dari film Hollywood tersebut. 

Tak hanya itu, Kahaani juga menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar pencarian. Dalam perjalanan mereka mencari petunjuk mengenai suami Vidya, juga diiringi dengan konflik ketegangan dari 'kejar-kejaran' antara Vidya dengan pihak yang entah mengapa merasa terancam dengan pencariannya. Unsur drama yang tampil dengan porsi pas pun ditambahkan dalam Kahaani.


Vidya Balan yang memerankan seorang ibu muda yang sedang hamil bernama Vidya pula berhasil memberi penampilan yang begitu memukau. Ia tampil begitu meyakinkan dari segala segi, termasuk dari sisi emosional dan kesan depresi yang ia alami setelah suaminya menghilang. Chemisty yang terlain antara Vidya dengan Rana (Parambrata Chatarjee) pun terjalin dengan erat. Tak ada karakter yang rasanya hanya dijadikan tempelan alias pemanis saja, layaknya Sandra Bullock di Extremely Loud & Incredibly Close (meski ia berakting dengan sangat baik).

Ada satu hal pula yang tak akan bisa dilupakan dari Kahaani. Selama dua jam kita mengikuti pencarian Vidya, kita akan disuguhi kenyataan yang sangat mengejutkan di akhirnya, yang saya sendiri tak pernah perkirakan. Padahal, sebelumnya pun kita telah disajikan kepingan-kepingan 'puzzle' yang sengaja ditebar, namun anehnya, saya sendiri tidak pernah menyadarinya sampai Sujoy Ghosh menyampaikannya dengan begitu meyakinkan.


Kahaani tampil dengan sinematografi yang cukup apik. Saya suka bagaimana Kahaani menampilkan kekayaan kultur negaranya serta kehidupan masyarakat Kalkuta dalam frame-framenya yang cantik itu. Bukan hanya itu, Kahaani juga menyajikan potret kemiskinan India dalam sinematografinya, yang terasa malah seperti sebuah ironi bagi saya, dimana potret kemiskinan yang disajikan dengan begitu indahnya, namun dengan tetap meninggalkan sedikit kepedihan. Hal itu juga terasa dalam momen-momen kegelisahan dan ketakutan karakter Vidya Bagchi yang juga tak terlepas dari akting meyakinkan Vidya Balan.

Kahaani memang merupakan salah satu contoh dari thriller cerdas produksi Bollywood. Naskah Kahaani memang belum dapat dikatakan sempurna namun tak dapat disangkal bahwa naskahnya memang cerdas. Kahaani juga memiliki porsi thriller yang mendebarkan dan seru, serta departemen akting yang solid. Sujoy Ghosh pun masih menyiapkan satu hal yang lebih menarik lagi, ia memilih menutup 'cerita'-nya dengan misteri yang terpecahkan dengan begitu mengejutkan. Jelaslah sudah Kahaani merupakan salah satu dari kandidat film terbaik tahun ini.

8.0/10

Saturday, January 28, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Suicide Club (2001)

"They're not the enemy." ~ Toshiharu Kuroda

Siapa yang tak kenal Shion Sono? Sutradara Jepang ini memang terkenal karena kesintingannya dalam menyutradarai film, salah satnya adalah Suicide Club. Tap, tenang, 'sinting' disini bukanlah arti sebenarnya. Sama seperti sutradaranya, Suicide Club juga merupakan satu film asal Jepang yang sinting. Jepang memang dikenal dengan industri perfilmannya yang kreatif dari segi ide cerita. Entah mengapa sineas-sineas film dari negeri sakura ini tak pernah kehabisan akal untuk memuaskan para penontonnya. Tak terkecuali bagi Suicide Club. Plot yang unik dan super duper absurd plus gore gila-gilaan menjadi satu paket lengkap yang dimiliki Suicide Club.


Film dibuka dengan opening scene paling memorable yang pernah saya liat. Sekumpulan pelajar dari berbagai sekolah berkumpul di sebuah stasiun kereta api. Tak ada yang aneh dari mereka, mereka terlihat seperti remaja Jepang biasa. Hm, tapi tunggu dulu, saat kereta api hampir sampai di stasiun tersebut, tiba-tiba ke-54 gadis-gadis tersebut berbaris di depan rel kereta, kemudian saling berpegangan tangan, lalu berhitung dengan nada childish. Saat kereta lewat, saat itu juga kesemua pelajar tersebut tiba-tiba meloncat ke rel, dan....... "Blam!", muncratan darah, kepala pecah, potongan-potongan tubuh dan berbagai adegan sadis lainnya seketika itu juga memenuhi layar. Wow, what a beautiful way to die.

Tapi ternyata peristiwa mengerikan ini bukanlah yang terakhir. Kisah tersebut masih berlanjut. Puluhan bahkan ratusan remaja mengikuti jejak mereka tanpa alasan yang jelas. Apa yang ada dibalik ini semua?


Suicide Club atau Jisatsu Sâkuru dalam bahasa Jepang, memang merupakan film yang cerdas. Shion Sono selaku sutradara tahu betul bagaimana cara membuat film ini menjadi aneh, absurd, gila, tapi tetap membekas di hati penontonnya. Tapi, dengan satu syarat, putar otak. Jalan cerita yang disajikan Sono memang membuat penontonnya bingung (termasuk saya). Tapi, disitulah sensasinya. Kita seolah diajak untuk bermain puzzle rumit dan harus menyusunnya kembali ke tempat yang benar. Dan itu bukan hanya sekali, hampir disetiap menitnya, Sono menebarkan misteri-misteri yang bagi beberapa orang memang tak masuk diakal. Tapi, jangan disangka kita akan mengetahui seluruh kenyataan di akhir film, justru sebaliknya, ia tetep saja menebar misteri-misteri absurd. Sono ternyata memang benar-benar sinting (kali ini dalam arti sebenarnya), seolah tak mau peduli dengan keadaan penontonnya yang mungkin sedang memutar otak dengan keras. Tapi tenang, jika anda gagal, Sono masih berbaik hati kepada anda, karena ia juga telah memberikan sedikit clue kepada kita lewat Noriko's Dinner Table, sekuel sekaligus prekuel bagi Suicide Club.


Yang pasti, Suicide Club merupakan film yang luar biasa. Atmosfer yang dibangun Sono benar-benar kelam dan misterius. Sejalan dengan itu, plotnya pun tak mungkin bisa kita lupakan. Sinting dan absurd. Tapi, justru itulah daya tarik Suicide Club. Tapi, sekeras apapun anda memutar otak, pada akhirnya, masih banyak beberapa bagian yang masih menjadi misteri.

Entah dari mana pula datangnya ilham mengenai ide cerita super gila ini. Tak ada yang tahu apa yang ada di dalam otak Shion Sono, termasuk saya. Namun, mungkinkah Shion Sono memiliki sel otak abu-abu layaknya Hercule Poirot? Hm, mungkin saja. 

Tagged under: , , , ,

[Review] Noriko's Dinner Table (2005)

"Everyone wants to be the champagne, not the glass. Everyone wants to be the flower, not the vase. But the world needs glasses and vases. These roles need to be filled" ~ Kumiko

Masih ingatkah anda dengan tragedi berdarah di sebuah stasiun kereta api pada tahun 2001? Tapi, tunggu dulu. Ini bukanlah kejadian nyata. Ini merupakan tragedi yang terjadi di sebuah film Jepang, Suicide Club. Setelah dibuat puas sekaligus kebingungan oleh Suicide Club, Shion Sono kembali menghadirkan sekuel dari Suicide Club, Noriko's Dinner Table yang menceritakan awal mula penyebab 'virus' bunuh diri yang sebelumnya pernah diceritakan di Suicide Club, yang membuat Noriko's Dinner Table ini menjadi sebuah prekuel dari Suicide Club. Berbeda dengan Suicide Club yang super sadis, Shion Sono lebih memilih menyajikan Noriko's Dinner Table ini dengan lebih "lembut" dan "sopan" dengan sentuhan drama.


Cerita bermula saat Noriko (Kazue Fukiishi) merasa bosan dengan hidupnya yang datar. Apalagi ia tak dibolehkan untuk kuliah di universutas di Tokyo karena ayahnya takut Noriko hamil. Hidup Noriko memang datar, itu-itu saja, tapi akhirnya dia menemukan dunia yang sebenarnya di dunia maya dimana dia bisa berteman dengan siapa saja di sebuah situs, yaitu www. haikyo.com. Salah seorang teman di haikyo.com, dengan username Ueno Eki 54. Ueno Eki 54, memang terdengar seperti sebuah username biasa. Tapi ternyata, dibalik itu semua tersimpan sebuah misteri yang amat kelam.


Layaknya Suicide Club dan film Shono lainnya, plot cerita film ini memanglah kompleks dan sangat susah dimengerti, terlebih bagi penonton awam. Lalu, dengan penyampaian cerita yang hampir seluruhnya disampaikan dengan narasi, apakah berhasil memcahkan misteri dibalik film sebelumnya? Tergantung. Seperti halnya Suicide Club, alur cerita tidaklah disampaikan secara gamblang dan terang-terangan. Ya, Shion Sono yang dulu telah susah payah menyutradarai Suicide Club tentu saja tak mau teka teki filmnya yang terdahulu itu menjadi hancur begitu saja. Bisa dibilang Noriko's Dinner Table ini hanyalah salah satu dari potongan puzzle yang telah dihamburkan Shion Sono sebelumnya. Jika anda ingin benar-benar mengerti, maka  hanya ada satu syarat yang harus anda lakukan, yaitu memutar otak (lagi). Tapi, bagi anda yang tak mau berpikir keras, selamat ber-google ria!


Dilihat dari segi aktingnya, masing-masing aktor dan aktrisnya mampu menampilkan performa yang memukau sekaligus misterius. Setiap karakternya mampu bermetamorfosis dengan sempurna. Ini juga tak lepas dari campur tangan Shion Sono yang membangun film dengan suasana hitam mencekam. Suasana misteri bahkan tetap bertahan hingga film berakhir.

Menonton film ini bagaikan berada di persimpangan antara logika dan di luar logika. Di satu sisi, Noriko's Dinner Table memang tidak bisa diterima akal sehat. Namun di sisi lain, Noriko's Dinner Table juga bisa diterima logika. Sesuatu yang memang menjadi ciri Shion Sono.


Noriko's Dinner Table saya rekomendasikan untuk yang suka dengan film berplot kompleks dan absurd. Tapi, bagi yang lebih suka menonton film ringan, jangan coba-coba menonton film ini kalau tidak mau merasakan sensasi kepala pecah. Nah, bagi anda yang tertarik ingin menonton dan mengerti film ini, saya sarankan untuk menonton film pertamanya, Suicide Club. Ya, meskipun akhirnya juga sama saja, membingungkan (tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya, di dunia ini ada yang namanya 'google', bukan?).

Wednesday, January 25, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] A Separation (2011)

"What is wrong is wrong, no matter who said it or where it's written." ~ Nader 

Sebenarnya, saya tidak terlalu tahu tentang industri film Iran. Mungkin inilah satu-satunya film Iran yang pernah saya tonton. Tapi berkat film inilah saya jadi penasaran dengan industri film Iran dan mengagumi sosok sutradaranya, Asghar Farhadi. 

A Separation mengisahkan tentang sepasang suami istri, Simin (Leila Hatami) dan Nader (Peyman Moadi) yang memutuskan untuk bercerai. Ini semua bermula saat Simin ingin pindah ke luar negeri untuk masa depan Termeh (Sarina Farhadi) putri mereka, sedangkan Nader menolaknya, dengan alasan bahwa ia tidak bisa meninggalkan ayahnya yang sedang mengalami alzheimer. Tapi, ternyata akibat dari semua ini tidaklah sesepele alasannya. Karena, dibaik ini semua, masih ada konflik besar yang 'menunggu' mereka. Semua itu bermula dari kejadian tersebut.


Hingga akhirnya muncullah Razieh (Sareh Bayat), pengasuh yang yang disewa Nader untuk mengurus ayahnya sepeninggal Simin ke rumah ibunya. Di sinilah konflik mulai melebar. Ya, siapa sangka, ternyata Asghar telah menyiapkan suatu konflik yang lebih dan lebih lagi di setiap detiknya, yang membuat setiap penontonnya merasa bimbang. Siapa yang salah? Siapa yang benar? Siapa yang telah berbohong? Dan siapa yang berkata jujur? Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu. Yang pasti, A Separation merupakan sebuah film yang sebenarnya bertema cukup simpel, namun dengan plot yang kompleks. Plus dengan kenyataan yang cukup mengejutkan di akhirnya.


Dari jajaran castnya, semuanya mampu bermain dengan memukau. Peyman Moadi berhasil memerankan seseorang dengan sifat egois dan keras kepala. Begitu pula Sareh Bayat yang memerankan seorang pengasuh yang sangat berpegang teguh pada agama. Ia memerankan perannya dengan sangat meyakinkan sekaligus menyentuh.   


Tak ada karakter antagonis dalam film ini. Tapi, tak ada pula tokoh yang benar-benar protagonis dalam film ini. Semuanya digambarkan oleh Ashgar dengan hitam putih. Semuanya memilik sisi hitam dibalik sisi putihnya. Itu semua tak lepas dari ego yang dipertahankan masing-masing tokoh. Lihat saja Razieh, sosok religius diperlihatkan sangat patuh pada ajaran agama namun punya 'sesuatu' dibalik itu. Kemudian Nazer, si keras kepala dan egois, serta memiliki sifat berpendirian keras namun sebenarnya merupakan tokoh penyanyang. Simin, si wanita yang berkeinginan kuat. Hodjat, suami yang sangat temperamen, yang selalu berjuang demi istrinya. Tak ketinggalan pula Termeh, gadis yang juga ikut terhimpit dalam masalah pelik ini. Disaat simpati kita mulai muncul di salah satu tokohnya, sekejap itu pula simpati itu akan hilang. Begitu seterusnya. Tapi, justru itulah yang menjadi daya tarik film ini.

Sekali lagi, di sinilah kehebatan Asghar. Ia berhasil membuat sebuah film yang penuh dengan emosi tanpa menggunakan balutan scoring sama sekali. Tanpa tangisan mendayu-dayu. Tanpa drama yang terlalu didramatisir. Semuanya berjalan begitu tenang, dan tampak begitu nyata dan realistis. 


Jujur. Sebuah kata yang gampang untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Berangkat dari kata 'jujur' inilah Asghar Farhadi kemudian meraciknya menjadi A Separation. Di sinilah kita bisa melihat arti sebuah kata 'jujur' yang sebenarnya. Persimpangan antara kebohongan dan kejujuran. Antara hitam dan putih. Antara ego dan hati nurani. Semuanya digambarkan dengan sempurna. Ketakutan, kecemasan, kejujuran, kebohongan, agama, moral, hukum, menjadi satu. A Separation, tidak seperti yang saya bayangkan, benar-benar tampil dengan memukau!


9.0/10

Wednesday, September 21, 2011

Tagged under: , , , ,

[Review] Noroi - The Curse (2005)


"No matter how terrifying, I want the truth." ~ Masafumi Kobayashi


Mockumentary, sebutan bagi film fiksi yang dikemas ala film dokumenter. Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan agar filmnya terlihat lebih realistis. Bukan itu saja, pengemasan film ala film dokumenter ini juga bisa menjadi solusi bagi film low-budget untuk menarik perhatian masyarakat. Sebut saja [REC], Noroi, Lake Mungo, Paranormal Activity, The Blair Witch Project, Haunted Changi, hingga film horor asal Indonesia sendiri, Keramat yang memakai konsep film mockumentary. Meski kerap dicibir, bukan berarti setiap film mockumentary memiliki kualitas buruk. [REC] contohnya, saking bagusnya film mocku asal Spanyol ini, sampai-sampai Hollywood membuat versi mereka sendiri dengan judul Quarantine. Bukan hanya [REC] yang memiliki kualitas bagus, film-film mocku yang saya sebut diatas tadi kesemuanya merupakan film mocku berkualitas. Di Indonesia sendiri, selain Keramat, juga terdapat satu lagi film mocku (yang sayangnya sampah) berjudul te[rekam] (deja vu? judulnya saja sudah nyontek abis film [REC]).


Kali ini, saya akan coba me-review salah satu film bergaya mocku asal Jepang, Noroi yang disutradarai oleh Kôji Shiraishi. Siapa tak kenal industri perfilman horor Jepang? Jepang memang dikenal sebagai rajanya Asia (bahkan dunia) soal membuat film-film yang membuat para bulu kuduk penontonnya berdiri. Mulai dari One Missed Call, Ju-On, Audition, Pulse, Suicide Club (Suicide Circle), hingga film yang mempopulerkan hantu berambut panjang mirip kuntilanak bernama Sadako, yaitu Ringu yang bernasib sama dengan [REC], yaitu di-remake oleh Hollywood (meskipun hasilnya tidaklah jelek). 

Memang, Hollywood masa kini dikenal sudah (hampir) tidak bisa membuat film horor lagi. Apalagi dengan munculnya film-film remake yang (sering kali) bukannya lebih berkualitas dari film originalnya, malah (sering kali lagi) tampil dengan memalukan. Dengan budget dan efek gila-gilaan jika dibandingkan dengan film originalnya bahkan tak membantu kualitas film remake pada umumnya. Berbanding terbalik dengan horor Jepang yang tampil lebih sederhana serta tak menghambur-hamburkan uang dapat menghadirkan atmosfer yang lebih mengerikan dan mencekam padahal hantu-hantunya tidaklah narsis (nunjuk film-film horor norak Indonesia).


Noroi dibuka dengan narasi seorang pria yang menjelaskan tentang Masafumi Kobayashi (Jin Muraki), seorang ahli supranatural yang telah menyelidiki berbagai misteri mengerikan dan tak terpecahkan, termasuk sebuah kasus yang sempat ia dokumentasikan sebelum Kobayashi dinyatakan hilang yang berjudul "Noroi". Kemudian film dilanjutkan dengan diputarnya video dokumentasi "Noroi" yang berawal saat Kobayashi dimintai bantuan oleh seorang wanita terhadap tetangganya yang misterius yang sering kali terdengar suara tangisan bayi dari arah rumah tentangganya yang bernama Junko Ishii (Tomono Kuga) tersebut. Belum selesai misteri aneh ini, muncullah misteri lain yang tak kalah misteriusnya, mulai dari hilangnya seorang anak bernama Kana (Rio Kanno), kelakuan aneh seorang paranormal, kejadian-kejadian mengerikan yang dialami seorang aktris, hingga kasus bunuh diri massal yang pada akhirnya mengantarkan kita pada satu titik yaitu sebuah ritual masyarakat setempat bernama "Kagutaba".


Bisa dibilang, Noroi atau The Curse (kutukan) merupakan salah satu film mockumentary terbaik yang pernah ada dan mockumentary terbaik asal Negeri Sakura sekaligus Tanah Asia, dengan menggabungkan kepercayaan mistik penduduk setempat dengan gaya penyampaian ala-ala dokumenter. Memang, gaya penyampaian dengan found-footage ini justru menambah ketegangan dalam film terlebih Noroi tidak takut untuk menambahan scoring musik, yang biasanya dihindari oleh film mocku sejenis karena dapat mengurangi kesan "asli" dalam film.

Noroi memang menyampaikan alur cerita yang cenderung lambat, namun berkat teka-teki misterius membingungkan sekaligus mistik yang terus berdatangan hingga akhir film plus dengan ketegangan yang telah dibangun sejak awal film dimulai membuat saya tak pernah bosan menonton film ini dari awal hingga akhir sambil melongo karena takjub akan kualitas film ini. Akting serta ekspresi para pemainnya pun, benar-benar patut diacungi jempol, terlihat begitu realistis dan benar-benar natural seolah mereka benar-benar mengalami kejadian tersebut yang pastinya turut ikut serta membangun intensitas ketegangan film dan juga memberantas rasa bosan. Penontonnya pun makin dimanjakan matanya dengan pergerakan kamera yang lumayan bersahabat. Belum cukup? Tunggu sampai anda melihat ending-nya yang begitu mengerikan dan tetap saja mengundang tanda tanya besar di kepala para penontonnya. Percayalah, saya jamin anda pasti akan tetap setia duduk berlama-lama untuk menjadi salah satu saksi dari sebuah "kejadian" mengerikan sekaligus mencekam ini.

 8.0/10