300x250 AD TOP

Friday, February 10, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] We Need to Talk About Kevin (2011)

"Mommy was happy before Kevin came along. Now, she wakes up every morning and wishes she was in France!" ~ Eva

Menjadi seorang ibu teryata tak selamanya bahagia. Itulah apa yang ingin diceritakan oleh film ini. We Need to Talk About Kevin ini disutradarai oleh Lynne Ramsay. Di bagian naskahnya, ada nama Lynne Ramsay (lagi) serta Rory Kinnear. Sebagai pemeran utama, terdapat nama Tilda Swinton, aktris senior yang telah memenangkan sebuah Oscar untuk perannya di Michael Clayton (2007).  


Diawal film, tepatnya pada awal tiga menit, kita diperkenalkan pada sang tokoh utama, Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) yang sedang mengikuti sebuah festival tomat dengan ekspresi bahagia. Jujur, awalnya saya kira ini merupakan festival darah. Tiga menit setelahnya, kita dipertontonkan kehidupan Eva kacau balau, seolah ia sudah tak punya lagi semangat hidup. Muka lesu, rumah berantakan, tumpahan cat merah di rumah dan mobilnya, sampai seorang ibu aneh yang tiba-tiba menamparnya tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya tinggal selangkah lagi untuk mengakhiri hidup. Tampaknya, ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya. Apa itu? Yang jelas ini semua akibat ulah anaknya yang kurang ajar, Kevin (Ezra Miller).


We Need to Talk About Kevin memang tak menggambarkan sebuah kehidupan bahagia seorang ibu. Sebaliknya, malah menceritakan sebuah penderitaan sebagai seorang ibu. Alur ceritanya disampaikan dengan maju mundur. Yang membuat penontonnya seakan disuruh untuk menggali apa yang telah terjadi pada Eva, menjadi sebuah misteri yang membuat siapapun penasaran. Misteri ini juga didukung oleh atmosfer depresif berhasil dibangun dengan sempurna oleh Lynne Ramsay. Sebuah film yang sebenarnya tenang, namun berkat Ramsay semuanya bisa menjadi horor dalam sesaat.


Muncul sebagai karakter depresif, Tilda Swinton tampaknya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendalami karakter sarat muka lesu ini. Dan apakah usaha itu sia-sia? Tentu tidak. Seluruh mimik dan ekspresi yang keluar dari wajahnya benar-benar membuat para penontonnya merasa iba dengan karakter ini. Emosinya bener-bener dapet. Mukanya yang lesu dari awal hingga akhir itu seakan menjadi suatu gambaran kesengsaraan Eva selama ini. Tentu sangat layak untuk dinominasikan sebagai Best Actress di Oscar. Tapi tampaknya, ia harus lebih bersabar untuk meraih manusia emas keduanya.


Jika perasaan iba muncul pada Eva, sebaliknya, perasaan kesal dan sebal para penontonnya pasti akan tertuju bagi karakter Kevin. Bukan kesal karena Ezra Miller dan kedua pemain lain yang memainkan tokoh Kevin ini tak mampu berakting maksimal dan meyakinkan, justru sebaliknya, karena saking meyakinkannya ia berakting sebagai Kevin alias tokoh sakit jiwa ini. Mereka mampu memerankan tokoh bermuka dua ini dengan baik. Di satu sisi, ia mungkin akan terlihat baik. Namun, di sisi lain, ia akan berubah menjadi karakter psycho. Lihat saja sikap manisnya terhadap ayahnya yang sangat berbanding terbalik dengan sikapnya terhadap ibunya.


Ramsay menghasilkan kekerasan dalam film ini dengan caranya sendiri. Dengan kata lain, ia tidaklah menampilkan kekerasan tersebut secara eksplisit. Ramsay hanyalah memerlukan tokoh Kevin disini, yang dimainkan oleh Ezra Miller dengan sangat baik. Melalui karakter ini, Ramsay seolah sedang menebar teror-terornya ke seluruh penontonnya. Hanya dengan melalui ekspresi-ekspresi psycho serta senyum-senyum anehnya yang kerap tersungging di bibirnya. Tapi, tentu bukan hanya Kevin saja. Di sinilah otak Ramsay bekerja, ia berhasil membuat sebuah adegan yang sebenarnya biasa menjadi tak biasa dan menjadikannya penaik tensi penontonnya. Coba lihat adegan 'trick or treat' saat Halloween yang sebenarnya biasa namun berubah menjadi sebuah ketakutan bagi Eva.

We Need to Talk About Kevin, diluar dugaan saya mampu tampil dengan memukau. Sayang sekali, film ini seakan ditendang dari seluruh nominasi Oscar, termasuk kategori Best Actress yang sebenarnya sangat pantas jika diberikan pada Tilda Swinton. Siapa sangka, menjadi ibu yang mungkin menjadi cita-cita banyak wanita ini bisa menjadi sebuah mimpi buruk pada akhirnya?

8.0/10

0 comments:

Post a Comment