Thursday, December 13, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[List] Nominees for the 70th Golden Globe Awards

"The biopic leads, fake movie and spaghetti western follow."
Setelah selesai dengan penghargaan tertinggin bagi insan perfilman Indonesia, mari kita beralih ke ajang penghargaan tertinggin kedua bagi insan perfilman Hollywood, Golden Globe Awards. Dalam Golden Globe yang ke 70 kalinya ini, pemenang akan diumumkan pada 13 Januari mendatang, sedangkan nominasinya sendiri baru diumumkan kemarin, 13 Desember 2012. Untuk kategori film, Lincoln berhasil merebut 7 nominasi, diikuti Argo dan Django Unchained yang meraih 5 nominasi. Les Misérables, Silver Linings Playbook, dan Zero Dark Thirty mengekor dengan 4 nominasi. Front-runner lainnya, Life of Pi, The Master, dan Salmon Fishing in the Yemen mendapatkan 3 nominasi. Untuk televisi, Game Change meraih nominasi terbanyak dengan total 5 nominasi, sedangkan Homeland meraih 4 nominasi.

FILM

Best Picture, Drama
-  Argo
-  Django Unchained
-  Life of Pi
-  Lincoln
-  Zero Dark Thirty

Best Picture, Musical or Comedy
-  The Best Exotic Marigold Hotel
-  Les Miserables
-  Moonrise Kindgom
-  Salmon Fishing in the Yemen
-  Silver Linings Playbook

Best Director
-  Ben Affleck - Argo
-  Kathryn Bigelow - Zero Dark Thirty
-  Ang Lee - Life of Pi
-  Steven Spielberg, Lincoln
-  Quentin Tarantino, Django Unchained

Best Actor, Musical or Comedy
-  Jack Black - Bernie
-  Bradley Cooper - Silver Linings Playbook
-  Hugh Jackman - Les Miserables
-  Ewan McGregor - Salmon Fishing in the Yemen
-  Bill Murray - Hyde Park on Hudson

Best Actress, Musical or Comedy
-  Emily Blunt - Salmon Fishing in the Yemen
-  Judi Dench - The Best Exotic Marigold Hotel
-  Jennifer Lawrence - Silver Linings Playbook
-  Maggie Smith - Quartet
-  Meryl Streep - Hope Springs

Best Actress, Drama
-  Jessica Chastain - Zero Dark Thirty
-  Marion Cotillard - Rust and Bone
-  Helen Mirren - Hitchcock
-  Naomi Watts - The Impossible
-  Rachel Weisz - The Deep Blue Sea

Best Actor, Drama
-  Daniel Day-Lewis - Lincoln
-  Richard Gere - Arbitrage
-  John Hawkes - The Sessions
-  Joaquin Phoenix - The Master
-  Denzel Washington - Flight


Best Supporting Actress
-  Amy Adams - The Master
-  Sally Field - Lincoln
-  Anne Hathaway - Les Miserables
-  Helen Hunt - The Sessions
-  Nicole Kidman - The Paperboy

Best Supporting Actor
-  Alan Arkin - Argo
-  Leonardo DiCaprio - Django Unchained
-  Philip Seymour Hoffman - The Master
-  Tommy Lee Jones - Lincoln
-  Christoph Waltz - Django Unchained

Best Screenplay
-  Mark Boal - Zero Dark Thirty
-  Tony Kushner - Lincoln
-  David O. Russell - Silver Linings Playbook
-  Quentin Tarantino - Django Unchained
-  Chris Terrio - Argo

Best Animated Feature
-  Brave
-  Frankenweenie
-  Hotel Transvylvania
-  Rise of the Guardians
-  Wreck-It Ralph

Foreign Language Film
-  Amour
-  A Royal Affair
-  The Intouchables
-  Kon-Tiki
-  Rust and Bone

Best Original Score
-  Mychael Danna - Life of Pi
-  Alexandre Desplat - Argo
-  Dario Marianelli - Anna Karenina
-  Tom Tywker - Reinhold Heil - Johnny Klimek - Cloud Atlas
-  John Williams - Lincoln

Best Original Song
-  "For You" by Monty Powell, Keith Urban - Act of Valor
-  "Not Running Anymore" by Jon Bon Jovi - Stand Up Guys
-  "Safe and Sound" by Taylor Swift, John Paul White, Joy Williams, T-Bone           Burnett - The Hunger Games
-  "Skyfall" by Adele, Paul Epworth  - Skyfall
-  "Suddenly" by Claude-Michel Schönberg, Alain Boublil, Herbert Kretzmer -         Les Miserables

TELEVISI

Best Television Comedy or Musical
-  The Big Bang Theory
-  Episodes
-  Girls
-  Modern Family
-  Smash

Best Actress, Television Drama
-  Connie Briton - Nashville
-  Glenn Close - Damages
-  Claire Danes - Homeland
-  Michelle Dockery - Downton Abbey
-  Juliana Margulies - The Good Wife

Best Miniseries or Television Movie
-  Game Change
-  The Girl
-  Hatfields & McCoys
-  The Hour
-  Political Animals

Best TV Drama
-  Breaking Bad
-  Boardwalk Empire
-  Downton Abbey
-  Homeland
-  The Newsroom

Best Actor, Television Drama
-  Bryan Cranston - Breaking Bad
-  Jon Hamm - Mad Men
-  Damien Lewis - Homeland
-  Steve Buscemi - Boardwalk Empire
-  Jeff Daniels - The Newsroom

Best Actor, Television Comedy or Musical
-  Don Cheadle - House of Lies
-  Alec Baldwin - 30 Rock
-  Louis C.K. - Louie
-  Matt LeBlanc - Episodes
-  Jim Parsons - The Big Bang Theory

Best Actress, Television Comedy or Musical
-  Zooey Deschanel - New Girl
-  Julia-Louis Dreyfus - Veep
-  Lena Dunham - Girls
-  Tina Fey - 30 Rock
-  Amy Poehler - Parks and Recreation

Best Actress, Miniseries
-  Nicole Kidman - Hemingway & Gelhorn
-  Jessica Lange - American Horror Story 
-  Sienna Miller - The Girl
-  Julianne Moore - Game Change
-  Sigourney Weaver - Political Animals

Best Actor, Miniseries
-  Kevin Costner - Hatfields & McCoys
-  Benedict Cumberbatch - Sherlock 
-  Woody Harrelson - Game Change 
-  Toby Jones - The Girl
-  Clive Owen - Hemingway & Gelhorn

Best Supporting Actress 
-  Hayden Panettiere - Nashville 
-  Archie Punjabi - The Good Wife 
-  Sarah Paulson - American Horror Story
-  Maggie Smith - Downton Abbey 
-  Sofia Vergara - Modern Family

Best Supporting Actor 
-  Max Greenfield - New Girl 
-  Ed Harris - Game Change 
-  Danny Huston - Magic City
-  Mandy Patinkin - Homeland 
-  Eric Stonestreet - Modern Family

Wednesday, December 12, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Pitch Perfect (2012)

"Even though some of you are pretty thin, you all have fat hearts, and that's what counts." ~ Fat Amy

Pitch Perfect, mendengar judulnya saja pasti telah terbayangkan bagaimana film ini. Tentu saja musikal dan selama durasinya, tentu juga dipenuhi banyaknya penampilan musikal. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Pernah dengar accapella? Ya, menyanyi tanpa intrumen musik apapun, semuanya hanya dari mulut, bahkan hingga musik pengiring sekalipun. Dan kali ini serta untuk pertama kalinya (CMIIW), Pitch Perfect membawa gaya menyanyi tersebut. Pitch Perfect yang disutradarai oleh Jason Moore ini sendiri diadaptasi dari novel karya Mickey Rapkin yang berjudul sama.

Selain Jason Moore yang memulai debut film bioskopnya lewat Pitch Perfect, ada juga nama Kay Cannon yang juga memulai debut scriptwriting-nya dalam film bioskop setelah menulis script untuk serial TV, 30 Rock, dan bahkan pernah dinominasikan untuk 3 Emmy Awards. Sedangkan, Jason Moore juga pernah dinominasikan untuk Best Dircetor dalam Tony Award dalam teater musikal berjudul Avenue Q. Dalam jajaran cast, Pitch Perfect memiliki nama besar Anna Kendrick yang pernah tampil cemerlang dalam Up in the Air yang membuahkan nominasi Oscar untuk Best Supporting Actress. Ada pula Brittany Snow yang telah punya pengalaman dalam musikal Hairspray, Skylar Astin, Rebel Wilson, dan Anna Camp.


Pitch Perfect dibuka oleh penampilan memukau dari Treblemakers, grup accappela pria dari Universitas Barden yang mengikuti kompetisi International Championship of Collegiate A Cappella (ICCA) di Lincoln Center. Penampilan itu dilanjutkan oleh peserta lain yang juga berasal dari Universitas Barden, The Barden Bellas, yang kesemua anggotanya merupakan wanita. Berbanding terbalik dengan penampilan Treblemakers yang mengundang tepuk tangan penonton, kali ini dalam penampilan Barden Bellas, penonton malah dikejutkan dengan sebuah tragedi memalukan.

Satu tahun kemudian, kisah beralih ke Beca (Anna Kendrick), seorang freshman di Universitas Bardem. Iaadalah seorang DJ yang dengan terpaksa masuk kuliah karena dorongan ayahnya. Suatu saat, ia memutuskan untuk bergabung dengan Berden Bellas, bersama dengan dua senior Aubrey (Anna Camp) dan Chloe (Brittany Snow), serta Fat Amy (Rebel Wilson), Cynthia Rose (Ester Dean), Stacie (Alexis Knapp), dan lainnya. Sampai saat itu, Treblemakers, yang dipimpin Bumper (Adam DeVine) si menyebalkan, masih menjadi rival terberat. Untuk membayar kesalahan Barden Bellas tahun lalu, Aubrey, yang menjadi pemimpin dalam grup ini bertekad untuk mengikuti kompetisi ICCA dan berniat kembali ke final di Lincoln Center hingga akhirnya meraih juara dalam kompetisi tersebut. Tapi, tentu saja mereka harus melewati jalan berliku dan menyingkirkan Treblemakers terlebih dahulu untuk menjadi juara.


Salah satu hal yang patut diacungi jempol dalam Pitch Perfect adalah dialog. Skenario hasil racikan Kay Cannon yang diadaptasi dari novel non-fiksi Mickey Rapkin ini dapat menghadirkan dialog-dialog cemerlang dan segar sepanjang durasinya. Berterimakasih juga lah pada Rebel Wilson, yang kali ini memegang peranan terpenting dalam menyampaikan setiap dialog-dialog kocak tersebut, apalagi sebelumnya ia telah mendapatkan pengalaman lewat Bridesmaids. Tentu saja, siapa yang tak mengingat perannya dalam Bridesmaids? Perannya memang kecil, tapi sangat mudah untuk diingat.

Sayang, karakterisasi yang ada dalam Pitch Perfect sendiri tergolong terbatas. Para karakternya tak diberi ruang lebih untuk dapat digali lebih dalam. Belum lagi dengan karakter-karakter yang stereotip yang berseliweran, meski yah, karakter mereka sangat menarik. Plot dalam film ini juga sebenarnya sangat khas film musikal zaman sekarang dan predictable. Namun, meski terasa seperti mash-up antara Glee dan Step Up, tapi tetap saja Pitch Perfect adalah film yang sangat mudah untuk dicintai, atau bahkan diputar berulang-ulang.


Terlepas betapa stereotipnya karakter-karakter yang ada dan terbatasnya karakterisasi, tapi tetap saja tak dapat menghalangi departemen aktingnya. Rebel Wilson (Rebel, it's her real given name. What a name!) muncul sebagai scene stealer. Dengan dialog-dialog ajaib, kelakuan-kelakuan aneh dan konyol, serta kharisma kuatnya, membuat siapa saja jatuh hati dengan karakternya. Karakter ini benar-benar mengingatkan saya dengan Melissa McCarthy dalam Bridesmaids. Fisik yang sama, dialog yang juga sama-sama cerdasnya. Untungnya, Anna Kendrick, sang pemeran utama, juga tak tenggelam, meski Rebel Wilson sangat cemerlang dalam film ini. Ia juga dapat mengimbangi Rebel Wilson yang konyol.

Karakter yang memerankan seorang pemimpin yang terlalu terobsesi dengan kemenangan hingga akhirnya malah bergaya  bak diktator berhasil digambarkan dengan sangat baik oleh Anna Camp. Brittany Snow juga ikut mengekor Anna Camp, dengan memerankan senior yang ramah dan selalu baik kepada siapa saja, meski di beberapa momen saya sempat bingung dengan karakternya yang rasanya terlalu perhatian terhadap Beca. Kalau di Barden Bellas ada Rebel Wilson sebagai Fat Amy yang konyol, maka di Treblemakers ada Utkarsh Ambudkar sebagai Donald yang juga sangat menarik perhatian. Karakter yang cool, ditambah lagi dengan dialog kaya humor namun tak kalah dinginnya.


Pitch Perfect tak hanya berbicara tentang pitch sempurna dan humor cerdas, ia juga berbicara tentang kisah cinta. Dalam hal ini, Pitch Perfect menghadirkan kisahnya dengan cukup baik, meski kisahnya sendiri tak terlalu istimewa. Chemistry yang dibentuk Anna Kendrick dan Skylar Astin dapat terjalan dengan kuat, yang menjadikannya kekuatan utama dalam porsi romansa ini. Selain itu, jangan lupakan chemistry ayah-anak antara Anna Kendrick dengan John Benjamin Hickey yang juga berjalan tak kalah kuatnya.

Tentu, setiap penampilan musikal dalam film ini tak boleh dilupakan.sedikitpun. Dari opening, kita sudah dipukau oleh penampilan dari Treblemakers, meski akhirnya harus diakhiri dengan tragedi tak terlupakan Barden Bellas. Penampilan musikal mulai dari audisi, riff-off, hingga final ICCA dapat dengan mudah memukau kita. Setiap aransemen dan medleynya benar-benar matangBeberapa performance juga dilengkapi dengan koreografi yang sama-sama sangat dipersiapkan dengan baik. Pilihan lagunya juga tergolong tepat dan seimbang, tak hanya berakar pada pop masa kini. Ada pula lagu-lagu jadul, seperti Mickey, Hit Me with Your Best Shot, sampai Like A Virgin yang legendaris itu.


Simak bagaimana para peserta audisi menyanyikan 'Since U Been Gone' milik Kelly Clarkson, Barden Bellas yang menyanyikan 'No Diggity' dari Backstreet Boys feat. Dr. Dre dan Queen Pen yang super groovy dengan sedikit sentuhan perkusi yang mengingatkan saya dengan 'Rolling in the Deep', atau bagaimana mereka meramu 'Price Tag', 'Don't You', 'Party in the USA', 'Give Me Everything', 'Just the Way You Are', dan 'Turn the Beat Around' menjadi sebuah medley yang benar-benar cool. Semua itu tentu merupakan sihir mujarab yang dapat dengan mudahnya membuat kepala bergoyang menikmati setiap alunan lagu. Extremely ear-catching!

Pitch Perfect memang belum sempurna, ibaratnya dalam hal menyanyi, masih ada beberapa bagian yang pitchy, meski film ini sendiri memilik banyak momen dengan 'pitch' sempurna. Plotnya juga tergolong sudah dipakai ratusan kali. Namun, dengan departemen akting memukau yang dipimpin Anna Kendrick serta Rebel Wilson yang mencuri perhatian, dialog humor nan cerdas, dan berbagai penampilan musikal dengan pilihan lagu catchy yang dikemas, diaransemen, lalu di-mash-up dengan sangat baik, membuat Pitch Perfect menjadi salah satu musikal paling menghibur yang pernah ada. Sangat formulatic dan predictable, tapi juga sangat menyenangkan. Are you ready to get pitch slapped?!

Tuesday, December 11, 2012

Tagged under: , , , ,

[FFI 2012] Who Owns the Night?


"Tanah Surga... Katanya wins big, Rumah di Seribu Ombak takes home three awards."
Festival Film Indonesia 2012 baru saja digelar di 8 Desember kemarin. Para pemenangnya telah diumumkan. Tanah Surga... Katanya berhasil merajai FFI kali ini, dengan meraih 4 penghargaan paling prestisius, Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Cerita Asli Terbaik, dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik, serta 2 penghargaan lainnya. Donny Damara berhasil membawa pulang piala Citra berkat perannya sebagai pria transgender dalam Lovely Man. Acha Septriasa yang menjadi pemeran utama dalam Test Pack: You're My Baby juga sama beruntungnya. Ia berhasil mengalahkan Atiqah Hasiholan dan aktris lain, bahkan hingga aktris senior, Jajang C. Noer. Debut Mak Gondut dalam film yang bahkan belum rilis, Demi Ucok, juga mampu menghantarkannya menjadi yang teratas dalam Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Namun, malam ini bukan hanya malam bagi 4 film di atas, masih banyak lagi pemenang dalam FFI kali ini, dan berikut merupakan daftar lengkapnya.

Film Terbaik
-  Tanah Surga... Katanya

Sutradara Terbaik
-  Herwin Novianto - Tanah Surga... Katanya

Pemeran Utama Pria Terbaik
-  Donny Damara - Lovely Man

Pemeran Utama Wanita Terbaik
-  Acha Septriasa - Test Pack You`re My Baby

Pemeran Pendukung Pria Terbaik
-  Fuad Idris - Tanah Surga... Katanya

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
-  Mak Gondut - Demi Ucok

Penulis Cerita Asli Terbaik
-  Danial Rifki - Tanah Surga... Katanya

Penulis Skenario Terbaik
-  Jujur Pranato - Rumah di Seribu Ombak

Sinematografi Terbaik
-  Yudi Datau - Dilema

Penyunting Gambar Terbaik
-  Cesa David Luckmansyah - Rumah di Seribu Ombak

Penata Suara Terbaik
-  Satrio Budiono - Rumah di Seribu Ombak

Penata Musik Terbaik
-  Thoersi Argeswara - Tanah Surga... Katanya

Tata Artistik Terbaik
-  Ezra Tampubolon - Tanah Surga... Katanya

Film Pendek Terbaik
-  Wan An - Yandy Laurens, FFTV IKJ

Film Dokumenter Terbaik
-  Di Batas Kekuasaan - Nur Fitriah Napiz

Friday, December 7, 2012

Tagged under: , , , , , , ,

[The Amazing Trilogy] The Lord of the Rings


Selain trilogi The Godfather, The Lord of the Rings adalah salah satu dari sedikit trilogi yang dapat terus mempertahankan kualitasnya. The Lord of the Rings merupakan trilogi film fantasi yang diadaptasi dari trilogi novel karya J.R.R. Tolkien yang berjudul sama. Sama seperti novelnya, trilogi ini sendiri terdiri dari The Fellowship of the Ring, The Two Towers, dan The Return of the King. Trilogi yang ketiga serinya disutradarai oleh Peter Jackson ini memang sangat sukses di tangga box-office, bahkan jika ditotal, seluruh pendapatan worldwide-nya mencapai 2,9 milyar dolar dengan The Return of the King yang meraup lebih dari 1 milyar dolar. Tak hanya sukses dalam pundi-pundi dolar, trilogi ini juga sangat sukses dalam kritikan. Dengan selang rilis setahun setiap filmnya, film ini mampu memborong total 17 Oscar dari Academy Awards 2002, 2003, dan 2004. 

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001)
"My dear Frodo. Hobbits really are amazing creatures. You can learn all there is to know about their ways in a month, and yet after a hundred years they can still surprise you." ~ Gandalf

Inilah yang menjadi awal 'dongeng' sukses ini. Kisahnya diawali oleh prolog dari Galadriel (Cate Blanchett) yang menarasikan tentang penempaan cincin sakti yang daat digunakan untuk menaklukkan bangsanya masing-masing. Cincin-cincin itu diberikan pada para peri, kurcaci, dan manusia. Tapi, tanpa mereka ketahui, penguasa kegelapan, Sauron, ternyata telah menempa satu lagi cincin (The One Ring) di kawah Gunung Doom, negeri Mordor. Cincin ini digunakan Sauron untuk mengendalikan dan menguasai cincin lainnya. Satu persatu mulai takluk pada kekuatannya. Persekutuan terakhir antara manusia dengan peri melakukan perlawanan hinga akhirnya Sauron dapat dibunuh dan cincin itu jatuh ke tangan Isildur. Cincin itu terus turun ke tangan-tangan lainnya, mulai dari makhluk menyedihkan, Gollum, seorang Hobbit, Bilbo Baggins (Ian Holm, yang akhirnya turun ke tangan keponakannya, Frodo Baggins (Elijah Wood).

Lewat mulut Gandalf (Ian McKellen), sahabat lama Bilbo, Frodo akhirnya tahu bahwa cincin itu kembali bangun, ia memanggil Sauron, tuannya, yang arwahnya masih terikat dengan cincin itu. Bersama tukang kebun Frodo, Samwise Gamgee (Sean Astin), mereka berdua lari dari Shire agar para pasukan Sauron tak dapat menemukan cincin itu, mengingat Gollum yang ditangkap pasukan Sauron telah membeberkan nama Baggins sebagai pencuri cincin itu. Dari hari ke hari, rintangan semakin berat dan segala kemungkinan bisa saja terjadi.


Sebagai sebuah pembuka, The Fellowship of the Ring merupakan sebuah film yang luar biasa. Visual yang ditawarkannya benar-benar menakjubkan. Visual-effect yang dipimpin oleh 'empat serangkai', Jim Rygiel Randall William Cook, Richard Taylor, dan Mark Stetson, begitu halus dan tampil hampir tanpa celah sedikit pun. Tak hanya itu, departemen lainnya juga tak kalah baiknya. Makeup (Peter Owen dan Richard Taylor) yang meyakinkan, art-direction (Grant Major dan Dan Hennah) serta kostum (Ngila Dickson dan Richard Taylor) yang kental akan fantasi, juga sinematografi (Andrew Lesnie) yang hadir dengan angle-angle cantik dan tone menawan. Jangan lupakan musik latar dari Howard Shore. Seluruh lapisan melodinya mampu menghantui jiwa dengan segala unsur menggebu-gebu lewat orkestra ajaibnya. Epik!

Sejalan dengan berbagai departemen bidang teknis yang luar biasa, di tonggak utamanya, The Fellowship of the Ring juga dapat memaksimalkan segala aspek yang ada. Ian McKellen dapat bersinar. Viggo Mortensen juga ikut mengekor Ian McKellen dengan penampilan dingin dan serba cool. Begitu pula John Rhys Davies, Elijah Wood, Orlando Bloom, Sean Bean, Billy Boyd, dan Dominic Monaghan yang sama-sama menampilkan performa yang tak kalah baiknya. Tentu saja, film ini tak hadir dengan cerita so-so yang datar. Dengan modal naskah kuat dengan dialog cerdas dari Fran Walsh, Philippa Boyens, dan Peter Jackson sendiri, Peter Jackson mampu menggiring kita ke sebuah awal perjalanan yang sangat mendebarkan. Ya, ini masih awal, dan sudah mendebarkan seperti ini, bagaimana dengan penerusnya?

9.0/10



The Lord of the Rings: The Two Towers (2002)
"He was twitching because he's got my axe embedded in his nervous system!" ~ Gimli

Kisah ini belum berakhir. Para anggota persaudaraan cincin masih punya banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Kisah dalam The Lord of the Rings bahkan terbelah menjadi dua (bahkan tiga). Ada Frodo dan Sam masih harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapai Gunung Doom. Begitu pula lainnya, yang masih harus menyelamatkan Pippin dan Merry. Ceritanya makin berkembang menjadi lebih rumit dan menarik. Juga lebih menegangkan dan menghibur. Bahkan, kini dengan lebih banyak karakter yang kesemuanya mendapatkan porsi dan karakterisasi pas. Untuk menambah ke'greget'-an dalam film, ada pula tambahan kisah cinta segitiga antara Aragorn, Arwen, dan Eowyn. Semua menbuat pondadi cerita dalam The Two Towers menjadi lebih dalam dan kuat.

Peter Jackson masih belum kehilangan citarasanya dalam The Two Towers, bahkan kali ini, semua itu makin menguat. Kemampuannya diuji dalam membuat setiap potongan kisah dalam The Lord of the Rings kedua ini tetap menarik. Ia dapat merangkai ketiga cerita tersebut dengan kekuatannya masing-masing. Meski, tak dapat dipungkiri, kisah Aragorn, Legolas, Gimli, dan kawan-kawannya lah yang paling menarik perhatian. Hadir dengan komedi kocak dari chemistry Gimli dan Legolas dan epic battle seru: pedang, panah, kapak, dan darah di mana-mana, siapa yang akan menolaknya?


Viggo Mortensen, Ian McKellen, Elijah Wood, Orlando Bloom, John Rhys-Davies, dan cast lainnya, seperti biasa, masih dapat membawa penampilan yang sangat baik. Tunggu, ada yang terlupa? Andy Serkis! Meski bersembunyi dibalik kecanggihan teknologi, ia tetap saja punya kekuatan tersendiri dalam menghadirkan karakter ambigu, abu-abu, dan selalu labil, Gollum. Sayang, tampaknya Oscar memang tak memberikan kesempatan bagi aktor motion-capture.

The Two Towers, seperti pendahulunya adalah blockbuster yang mengandalkan teknologi canggih. Dan kali ini, segala hal berbau CGI itu juga masih tampil memuaskan, ah menakjubkan. Sinematografinya masih hebat, meski entah mengapa namanya hilang daftar Oscar 2003 lalu. Musik latarnya bertambah intens yang didukung pula oleh banyaknya adegan yang juga bertambah intens. Hal yang sama menakjubkan juga ada dalam art-direction, kostum, dan makeupnya. Dalam hal editing, The Two Towers juga kuat. Tentu bukanlah sebuah pekerjaan mudah untuk meracik sebuah kisah epik, dan tentu akan lebih sulit lagi jika ada 3 cerita berbeda dengan tetap tidak mengurangi segala ketegangannya?

9.0/10



The Lord of the Rings: The Return of the King (2003)
"My friends, you bow to no one." ~ Aragorn

Setelah melewati perjalan yang begitu panjang, kini tiba akhirnya bagi Frodo dan para anggota persaudaraan cincin lain untuk mengakhiri semua kejahatan dalam The Lord of the Rings: The Return of the King. TLOTR: The Return of the King boleh berbangga, sebab selain merupakan satu-satunya seri The Lord of the Rings yang mencapai penghasilan di atas 1 milyar dolar, film ini juga berhasil menyapu bersih seluruh nominasi Oscar yang ia dapatkan. Dari kesebelas itu, 3 diantaranya merupakan penghargaan paling prestisius dan ditunggu-tunggu dalam Oscar, yaitu Best Picture, Best Director, dan Best Adapted Screenplay, sedangkan sisanya ada Best Visual-Effect, Best Makeup, Best Original Score, hingga Best Costume Design. Ini memperpanjang daftar film yang pernah meraih 11 Oscar dalam satu malam, bersama dengan Ben-Hur dan Titanic.

The Return of the King masih mempertahankan apa yang telah 'diwariskan' oleh para 'pendahulunya'. Visual-effect menawan, makeup ajaib, sinematografi cantik, musik latar menusuk, kostum dan art-direction yang lebih meyakinkan. Bedanya, kali ini semuanya diolah dengan lebih matang. Kali ini pula, The Lord of the Rings hadir dengan original song, Into the West, yang dinyanyikan Annie Lennox, yang juga menulis lagu ini bersama Fran Walsh dan Howard Shore. Into the West sendiri mempunyai suasana yang sangat sunyi, syahdu, damai, namun poweful dan magical dengan vokal lembut sesekali garang dari Annie Lennox dan alunan gitarnya yang menawan. Sederhana, emosional, dan indah.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, Ian McKellen, Vigo Mortensen, Elijah Wood, Sean Bean, Billy Boyd, dan Dominic Monaghan tetap dapat mempertahankan sinarnya. Begitu pula John Rhys Davies yang menjadi favorit dengan dialog kocak khas dengan segala keangkuhannya. Bersama Orlando Bloom, Davies rupanya dapat pula menghadirkan sebuah bromance yang unik (aneh?) dan kocak. Lupakan Sauron, Gollum rules again! Ya, meski hanyalah villain 'tambahan', namun kharisma Andy Serkis yang bersembunyi di balik Golum memang tak terhindarkan. Selain dapat membuat siapa saja merasa iba dibalik fisiknya yang menyedihkan, ia juga dapat membuat siapa saja tersulut amarah. Ia sukses mengocok-ngocok emosi penonton lewat karakternya itu. Manipulatif, bermulut racun, penuh memori pahit, egois, namun juga manis. Ah, sungguh sifat yang sangat manusia.

Tapi, kredit besar tentu harus disematkan pada para screenwriter juga sutradara. Dengan cerita yang makin bertambah kuat, segmen-segmen cerita yang bertambah menarik, dan konflik berlipat ganda, membuat The Return of the King menjadi sebuah klimaks yang mendebarkan, nikmat, heroik, sekaligus membuat siapa saja sedih dengan berakhirnya trilogi ini. Satu lagi, Jamie Selkirk sebagai editor film memang harus diberi kredit lebih. Seperti yang kita tahu, The Lord of the Rings ini punya duan cerita penting. Lewat tangan Jamie Kirk, ia mampu meracik segala segmen tersebut dan menumbuhkan rasa penasaran penonton, dan hingga akhirnya tiba, seluruh cerita itu akan bersatu dan 'meledak' bersamaan. Secara keseluruhan, The Lord of the Rings: The Return of the King adalah paket komplit, bahkan hampir sempurna. Sebuah blockbuster yang bukan hanya menawarkan keindahan visual maupun audio, tapi juga membawa cast yang bersinar serta penceritaan apik dari sebuah akhir kisah epik yang menakjubakan dan heroik.

9.0/10

______________________________________________________________

The Lord of the Rings merupakan karya yang benar-benar hebat. Peter Jackson dan departemen lainnya mampu mempertahankan kekuatan magisnya dari tahun ke tahun, bahkan makin membaik. Jangan lupakan juga, akhir tahun ini, akan dirilis prekuel The Lord of the Rings berjudul The Hobbits: An Unexpected Journey, yang juga akan dijadikan sebuah trilogi. Mungkin tak akan semegah trilogi The Lord of the Rings, tapi tentu sangat patut ditunggu dan sayang untuk dilewatkan. Sambil menunggu rilisnya The Hobbits, ada baiknya kita menonton kembali trilogi menakjubkan ini, terlebih setelah munculnya versi extended yang menambahkan banyak scene yang tak ditampilkan dalam versi bioskopnya. Jadi, theatrical atau extended version? Extended version for sure!

Thursday, November 29, 2012

Tagged under: , , , ,

[FFI 2012] Film Kita, Wajah Kita

"The biggest appreciation in Indonesian film industry is about to begin, and here are the nominees..."
Festival Film Indonesia atau yang lebih sering disebut dengan FFI saja kini akan kembali digelar. Wujud apresiasi tertinggi dalam perfilman Indonesia ini akan diselenggarakan pada kali ke-57 pada tanggal 8 Desemberr 2012. FFI sendiri akan bertempat di pelataran Benteng Vredeburg, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan akan hadir dengan tema "Film Kita, Wajah Kita". Dari total 47 film yang ikut berkompetisi dalam proses, akhirnya terpilih 14 film yang masuk dalam tiap kategori. Dari 14 film itu, terdapat 5 film yang menyabet nominasi untuk film terbaik, yaitu Lovely Man, Rumah di Seribu Ombak, Soegija, Tanah Surga... Katanya, serta Demi Ucok. Demi Ucok? Terkejut? Belum pernah dengar? Ya, itu wajar saja, karena Demi Ucok yang meraih 8 nominasi ini, sejatinya belum rilis ke publik ini, dan baru akan tayang pada 3 Januari tahun depan. Tanah Surga... Katanya dan Rumah di Seribu Ombak berhasil meraup nominasi terbanyak, sebesar 9 nominasi, diikuti Lovely Man juga Soegija yang sama-sama mendapatkan 7 nominasi. Pengumuman nominasinya sendiri telah diumumkan pada 26 Novemer lalu, dan inilah nominasinya.

Film Terbaik
-  Demi Ucok
-  Lovely Man
-  Rumah di Seribu Ombak
-  Soegija
-  Tanah Surga... Katanya

Sutradara Terbaik
-  Erwin Arnada - Rumah di Seribu Ombak
-  Hanung Bramantyo - Perahu Kertas
-  Herwin Novianto - Tanah Surga... Katanya
-  Sammaria Simanjuntak - Demi Ucok
-  Teddy Soeriaatmadja - Lovely Man

Pemeran Utama Pria Terbaik
-  Donny Damara - Lovely Man
-  Emir Mahira - Garuda Di Dadaku 2
-  Muhammad Syihab - Cita-Citaku Setinggi Tanah
-  Reza Rahadian - Test Pack You`re My Baby
-  Tio Pakusadewo - Raya "Cahaya Di Atas Cahaya"

Pemeran Utama Wanita Terbaik
-  Acha Septriasa - Test Pack You`re My Baby
-  Atiqah Hasiholan - Hello Goodbye
-  Annisa Hertami - Soegija
-  Geraldine Sianturi - Demi Ucok
-  Jajang C. Noer - Mata Tertutup

Pemeran Pendukung Pria Terbaik
-  Butet Kertaredjasa - Soegija
-  Dedey Rusma - Rumah di Seribu Ombak
-  Fuad Idris - Tanah Surga... Katanya
-  Lukman Sardi - Rumah di Seribu Ombak
-  Rio Dewanto - Garuda Di Dadaku 2

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
-  Christine Hakim - Raya "Cahaya Di Atas Cahaya"
-  Kenes Andari - Hello Goodbye
-  Mak Gondut - Demi Ucok
-  Meriam Bellina - Test Pack You`re My Baby
-  Wulan Guritno - Dilema

Penulis Cerita Asli Terbaik
-  Danial Rifki - Tanah Surga... Katanya
-  Emha Ainun Nadjib - Rayya "Cahaya Di Atas Cahaya"
-  Sammaria Simanjuntak - Demi Ucok
-  Salman Aristo - Garuda Di Dadaku 2
-  Teddy Soeriaatmadja - Lovely Man

Penulis Skenario Terbaik
-  Daniel Rifki - Tanah Surga... Katanya
-  Jujur Pranato - Rumah di Seribu Ombak
-  Sammaria Simanjuntak - Demi Ucok
-  Teddy Soeriaatmadja - Lovely Man
-  Titien Wattimena - Hello Goodbya

Sinematografi Terbaik
-  Anggi Frisca - Tanah Surga... Katanya
-  Faozan Rizal - Perahu Kertas
-  Padri Nadeak - Rumah Di Seribu Ombak
-  Yunus Pasolang - Hello Goodbye
-  Yudi Datau - Dilema

Penyunting Gambar Terbaik
-  Cesa David Luckmansyah - Rumah di Seribu Ombak
-  Robby Barus - Hello Goodbye
-  Sastha Sunu - Dilema
-  Waluyo Ichwandiardono - Lovely Man
-  Wawan I Wibowo - Soegija

Penata Suara Terbaik
-  Adityawan Susanto - Tanah Surga... Katanya
-  Andri Yargana - Demi Ucok
-  Khikmawan Santosa - Modus Anomali
-  Satrio Budiono - Rumah di Seribu Ombak
-  Satrio Budiono dan Trisno - Soegija

Penata Musik Terbaik
-  Andhika Triyadi - Perahu Kertas
-  Djadoek Ferianto - Soegija
-  Thoersi Argeswara dan Gung Alit Bona - Rumah di Seribu Ombak
-  Thoersi Argeswara - Tanah Surga... Katanya
-  Tya Subiakto Satrio - Dilema

Tata Artistik Terbaik
-  Allan Triyana Sebastian - Soegija
-  Ezra Tampubolon - Tanah Surga... Katanya
-  Fauzi - Perahu Kertas
-  Rezki Ridha - Demi Ucok
-  Richard Sibuea - Lovely Man

Film Pendek Terbaik
-  Langka Receh - Miftakhatun & Eka Susilawati, SMP 4 Karangmoncol,                Purbalingga
-  Long Imagine - Satria Adiyasa, Forum Filmmaker Pelajar Bandung
-  Memburu Harimau - Arman Dewarti, Mediatif Film Workshop
-  Rahasia - Nindya Raras Nareswari, Karya Set Film
-  Wan An - Yandy Laurens, FFTV IKJ

Film Dokumenter Terbaik
-  A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman - Subiyanto, FFTV IKJ
-  Bandung Lintas Masa - Kompas TV
-  Bena Eksotika Megalitik - LPP TVRI
-  Di Batas Kekuasaan - Nur Fitriah Napiz
-  Wae Rebo Menjaga - Kompas TV

Monday, November 26, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Argo (2012)

"The whole country is watching you, they just don't know it." ~ Jack O'Donnell

Hampir semua orang punya bakat terpendam. Tak terkecuali bagi aktor Ben Affleck. Malang melintang di dunia seni peran sejak tahun 1981 hingga akhirnya menjadi salah satu aktor kondang Hollywood. Kemudian, lewat film Good Will Hunting yang rilis 1997, ia mencoba peruntungan menjadi seorang screenwriter bersama dengan Matt Damon. Hasilnya? Di luar dugaan, di debutnya itu, ia langsung diganjar Oscar untuk Best Original Screenplay. Merasa belum puas, ia memulai debutnya menjadi setingkat lebih tinggi, yaitu menjadi seorang sutradara. Dalam debutnya ini, ia menyutradarai film berjudul Gone Baby Gone. Dan sekali lagi, ia mendapat sambutan yang luar biasa hangat. Sambutan yang sama juga diekor oleh film-film Affleck setelahnya, seperti The Town dan yang paling 'bungsu' yang diangkat dari peristiwa sejarah, Argo.

Tentu, mengkonversi sebuah peristiwa sejarah ke dalam 'gulungan' film memang selalu menjadi bahan yang menarik, menantang, sekaligus menjadi pekerjaan berat. Selain butuh hal-hal pokok dalam film non-sejarah lainnya, juga butuh detail yang sebenarnya menjadi nyawa film itu sendiri. Tanpa detail yang mendalam, maka film sejarah ini malah akan terkesan hambar dan mubazir, seakan mengabaikan begitu banyak hal kecil dalam  sebuah perisitwa penting. Chris Terrio, sang penulis naskah, tentu memikul beban berat dalam hal ini. Mampukah ia menjadikan kisah sejarah menarik menjadi suatu hal yang lebih menarik dan intens?


Berlatar di Tehran, Iran, pada akhir 1979, tepatnya 4 November, di saat revolusi Iran telah mencapai puncaknya, militan Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Iran dan menyandera lebih dari 50 staf kedutaan. Namun rupanya, masih ada yang selamat dari peristiwa itu. Mereka adalah Bob Anders (Tate Donovan), Mark Lijek (Christopher Denham) dan istrinya, Cora Lijek (Clea DuVall), Joe Stafford (Scoot McNairy) serta istinya, Kathy Stafford (Kerry Bishé ), dan Lee Schatz (Rory Cochrane). Sebagai tempat pelarian, mereka pun akhirnya bersembunyi di rumah duta besar Kanada, Ken Taylor (Victor Garber).

Dengan situasi yang dirahasiakan, Departemen Luar Negeri AS mencoba mencari cara untuk menngeluarkan 6 orang ini dari Iran. Untuk itu, didatangkalah seorang spesialis CIA, Tony Mendez (Ben Affleck) untuk membantu penyelamatan. Inspirasi Tony Mendez mulai muncul ketika menonton Plante of the Apes di televisi. Dari situ, ia mengeluarkan ide yang sebenarnya agak gila namun cerdas, menyelamatkan sisa 6 orang staf kedutaan tersebut dengan membuat mereka seolah-olah merupakan kru asal Kanada yang berniat membuat sebuah film sci-fi palsu, Argo, yang akan memulai syutingnya di Iran.


Salah satu yang membuat Argo menjadi sangat menarik adalah karena modal ceritanya sendiri, sudahlah menarik. Ya, penyelamatan rahasia lewat dalih sedang dalam proses pembuatan film? Siapa pun tak akan menyangkal bahwa ide itu adalah ide yang sangat cemerlang. Dan ya, itu adalah kisah nyata. Konyol? Mungkin iya. Keren? Mungkin juga. Kreatif? Sangat. Tapi, terlepas dari itu, membuat premis menarik ini menjadi sebuah film tentu merupakan keputusan fatal. Salah sedikit, maka hanguslah seluruh premis menarik itu. Beruntung, film ini ditangani oleh tangan-tangan dingin, sebut saja Ben Affleck, George Clooney, hingga Chris Terrio. Hasilnya pun, sangat memuaskan.

Argo adalah film yang sangat istimewa. Ia merupakan salah satu film yang punya kekuatan emosional tersendiri terhadap penontonnya. Argo dapat mengajak penontonnya untuk merasakan apa yang karakter film itu sendiri rasakan. Bagaimana mereka melewati jalanan Kota Teheran sambil menyembunyikan rasa takutnya. Argo dapat mengajak kita bereuforia bersama 'menikmati' setiap adrenalin, hingga kecemasan dan ketakutan dari setiap 'incinya'.


Ya, itu hanyalah satu dari sekelumit faktor yang membuat Argo istimewa, khususnya bagaimana Ben Affleck mengarahkan film ini. Ben Affleck mampu menghadirkan segala suspense menegangkan yang dipadukan dengan momen historis. Meski merupakan perpaduan fiksi dan non-fiksi, namun Argo tetap dapat tampil dengan detail-detail memukau. Segala momen yang thrilling memang benar-benar dimanfaatkan oleh Ben Affleck dengan baik. Hasilnya? Sebuah porsi suspense yang cool, menegangkan, dan 'nail-biting'.

Segala momen-momen menegangkan ini tentu juga merupakan berkat dari editing cemerlang dari William Goldenberg. William Goldenberg memang sangat tahu bagaimana meramu berbagai scene dan menggabungkannya menjadi satu kesatuan, dan hadirlah sebuah adegan suspenseful yang selalu membuat penasaran, mendebarkan, namun tetap dapat menghibur. Ini semua menjadikan Argo menjadi sebuah thriller yang bukan hanya luar biasa, tapi juga sangat memorable.


Selain itu, tak lupa, screenwriter Chris Terrio juga menambahkan porsi komedi segar dan sukses membuat saya, minimal tersenyum. Komedinya itu ditampilkan lewat dialog-dialog kocak yang sebagian besar 'diambilalih' oleh Alan Arkin juga John Goodman. Naskahnya tak hanya jago dalam membuat orang terhibur dengan line-line humornya, dalam dialog lain, ia juga hadir dengan dialog-dialog nan cerdas. Kembali lagi ke tugas Ben Affleck, ia mampu mengarahkan setiap lembaran naskah dan baris dialog ke dalam bentuk audio visual dengan tetap menarik, namun tak kehilangan setiap esensinya.

Ben Affleck telah berhasil dalam penyutradaraannya, ia pun tak ingin sia-sia dalam hal akting. Ben Affleck dapat menghadirkan sesosok karakter 'muka kayu' yang dingin dan tanpa ekspresi dengan sangat baik. Begitu pula keseluruhan cast. John Goodman sekali lagi menampilkan penampilan classy sebagai John Chambers. Jangan lupakan Alan Arkin yang tampil kocak dengan dialog-dialog ajaibnya. Penampilan dari Clea DuVall, Christopher Denham, Kerry Bishé, Kyle Chandler, Rory Cochrane, dan Tate Donovan juga ikut tampil meyakinkan dalam menginterpretasikan segala ketakutan mereka.


Once again, Ben Affleck membuktikan bahwa ia bukanlah sutradara sembarangan. Ia bukanlah aktor yang sekedar curi-curi kesempatan dalam memulai karirnya sebagai sutradara. Ia bukanlah seorang aktor yang merasa kebosanan dan ingin mencoba hal baru dengan setengah-setengah. Dan, Argo lah puncaknya. Lewat Oscar-Buzz yang satu ini, ia mampu menggabungkan segala sesuatunya dengan takaran serba pas, baik itu humor, suspense, hingga dramanya sekalipun. Tentu, itu bukanlah sebuah pekerjaan mudah. His first Oscar nomination for Best Director? Why not?

Argo adalah dramatisasi sejarah yang luar biasa. Seluruh jajaran akting, naskah, penceritaan, suspense, humor, hingga editing mampu tampil sangat memuaskan tanpa celah berarti. Naskahnya tampil kuat didukung dengan cerita yang unik, terlebih seluruh script-nya mampu diterjemahkan dengan baik oleh Ben Affleck. Ensemble cast juga mampu hadir dengan sangat solid. Suspensenya mampu memacu jantung lebih lagi, yang juga didukung kekuatan editing yang mumpuni. Ya, hanya disini jantung saya berdetak kencang hanya karena  sisa mesin penghancur kertas. Semua itu dipermanis lagi dengan porsi humor pas yang menggelitik. Argo is more than thrilling and entertaining, it's powerful and fantastic.

Saturday, November 24, 2012

Tagged under: , , , , , , , ,

[Review] End of Watch (2012)

"Behind my badge is a heart like yours. I bleed, I think, I love, and yes, I can be killed." ~ Brian Taylor

Pamor polisi akhir-akhir ini memang sedang tak baik. Begitu pula dengan pamor mockumentary yang kerap dianggap sebelah mata sebagai salah satu kedok untuk mendapatkan keuntungan lebih dari budget rendah. Ya, kamera-kamera seadanya yang lengkap dengan embel-embel yang meyakinkan penonton bahwa film  mocku merupakan film dokumenter nyata ini bagaikan alat kamuflase yang bersembunyi dibalik kata khas strategi marketing, 'untung besar'. Kalau sudah bosan dengan segala film mocku bertema haunted house semacam Paranormal Activity dan antek-anteknya atau exorcism macam The Last Exorcism atau Devil Inside, maka film 'dokumenter jadi-jadian' dari sutradara dan penulis naskah, David Ayer ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Entah apa yang dipikirkan David Ayer hingga akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah film berkisah kehidupan polisi. Mungkin saja di Negeri Paman Sam sana pamor polisi juga sedang menurun (seperti halnya di Indonesia), atau apapun itu alasannya. Yang jelas, meski penggunaan sub-genre ini memang sedang merajalela di berbagai belahan dunia (khusunya Hollywood), tapi tetap saja, film berjudul End of Watch  ini harus diakui sedikit menambah angin segar dalam perjudian mockumentary Hollywood. Mengingat bahwa End of Watch bukanlah tipe film yang menakut-nakuti penonton lewat sudut pandang yang tidak biasanya. Dari genrenya saja, End of Watch juga bukanlah film horor.


Ini semua berawal dari ide Brian Taylor (Jake Gyllenhaal), yang ingin mendokumentasikan kegiatan sehari-harinya sebagai polisi bersama dengan partner kerjanya, Mike Zavala (Michael Peña). Meski keduanya punya banyak perbedaan mencolok seperti Brian yang kaukasoid dan Mike yang berdarah Hispanik, tapi tak menutup keduanya untuk menjalin persahabatan yang erat. Setiap hari, seperti kehidupan polisi biasa, terjadi kejar-kejaran, penembakan, gangster, hingga kejadian kriminal lain. Dari kasus kriminal biasa hingga kasus yang terlampau luar biasa. 

Di sisi lain, polisi tetaplah manusia. Mereka tetaplah punya kehidupan pribadi, dan End of Watch juga mengeruk hal itu. Brian Taylor sendiri sedang menjalin hubungan dengan seorang sarjana hidrolik cair, Janet (Anna Kendrick), sedangakan Mike telah menikah dengan Gabby (Natalie Martinez), yang bahkan sedang menunggu kelahrian anak pertama mereka. Sama seperti Mike dan Brian, Gabby dan Janet juga menjalin hubungan yang sangat baik.


Salah satu faktor mengapa saya menyukai film mockumenter adalah bagaimana David Ayer tak berusaha terlalu keras untuk memperlihatkan bahwa film ini benar-benar nyata seperti film found-footage lain. Dari castnya saja, kita sudah bisa lihat. Ada dua orang yang pernah dinominasikan Oscar, Jake Gyllenhaal dan Anna Kendrick, serta Michael Peña dan America Ferrera yang namanya cukup dikenal di Hollywood. Dan sekali lagi, David Ayer bahkan tak memakai nama asli para aktornya, yah meski memang agak konyol jika membayangkan seorang Jake Gyllenhaal ternyata adalah seorang polisi berkepala plontos dan Anna Kendrick merupakan sarjana hidrolik cair.

Selain itu, End of Watch juga tidak hanya tidak memakai nama asli dari para castnya, film ini juga menawarkan pergerakan kamera yang lain dari biasanya. Tak hanya mengandalkan kamera yang bersudut pandang dari sang kameramen yang kerap shaky, End of Watch juga beberapa kali menampilkan pengambilan sudut gambar dari atas yang menampakkan landscape indah, yang mungkin lebih terasa arahan sinematografer profesional dan bukan arahan asal-asalan.


Tapi, dengan begitu, apakah adil rasanya jika kita memvonis bahwa End of Watch adalah film mocku yang sama sekali tak terasa realistis? Tentu tidak. Kembali lagi, bahwa hal yang dilakukan David Ayer ini adalah yang membuat saya jatuh hati pada End of Watch. Meski dari cast hingga penggunaan kamera tidak berstandar pada formula mocku biasa, namun End of Watch masih dapat tampil realistis, bahkan bisa dibilang lebih terasa realistis ketimbang found-footage yang memakai formula film mocku biasa. 

Hal ini berkat David Ayer yang membuat karakter-karakter dalam film ini lebih humanis dan manusiawi. Meski berkisah tentang polisi yang selalu berhadapan dengan kekerasan yang bahkan bisa terjadi setiap harinya, David Ayer juga menambahkan sisi personal dari kisah kehidupan polisinya ini. Ia menyisipkan sebuah romansa kuat yang tercipta dari hubungan Brian-Janet dan Mike-Gabby. Tak lupa, Ayer juga memberikan hubungan bromance yang tak kalah kuat antara karakter Brian dengan Mike. Selain ada  romansa dan buddy-cop-nya yang manis, End of Watch juga merambah drama yang mengalir dengan begitu emosional.


Meski punya unsur drama yang sangat kuat, End of Watch tentu tak melupakan unsur thrilling yang sebenarnya merupakan hal wajib dalam setiap film berkisah serupa. Bahkan, diawal film saja, kita telah disambut adegan kejar-kejaran super seru yang ditemani narasi dengan monolog cerdas dari Jake Gyleenhaal. Suasana menegangkan ini juga ada dalam setiap adegan tembak-tembakannya. Dalam hal kasus kriminal lain, End of Watch juga menampilkan kasus-kasus tak biasa yang bahkan terasa mengejutkan.

Setiap orang pasti tak akan melupakan sebuah film jika film tersebut diakhiri oleh ending yang benar-benar memorable. Sama halnya dengan End of Watch, di akhir film, David Ayer mempersembahkan sebuah klimaks yang benar-benar menegangkan, berdarah, memacu adrenalin, namun tetap emosional dan sekali lagi, terasa lebih humanis. Ending seru yang melibatkan darah bermuncratan, timah panas yang dapat meluncur dari mana saja, hingga suara tembakan memekakkan telinga yang dapat datang tiba-tiba.


Dalam jajaran aktingnya, Jake Gyllenhall dan Michael Peña dapat menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Mereka dapat menghidupkan setiap sisi seorang polisi, waktu dimana saatnya mereka beraksi, hingga di waktu mana mereka dapat menjadi manusia normal kembali dan melupakan segala pekerjaan berat mereka. Chemistry bromance yang mereka bangun juga mampu berjalan dengan sangat kuat dan tak terlepaskan. 

Jake Gyllenhaal juga mampu menghadirkan chemistry erat dengan Anna Kendrick yang juga mampu menampilkan penampilan yang sama baiknya, meski memang tidaklah sekuat penampilannya dalam Up in the Air. Hal sama juga mampu dihadirkan Michael Peña dan Natalie Martinez yang dapat menghadirkan chemistry solid yang menghasilkan suasana hangat di antara hubungan suami-istri yang begitu harmonis dan bahagia.


Jika kita lebih menilik End of Watch dari sudut yang lebih dalam, maka dapat terlihat bahwa sebenarnya End of Watch punya segala sesuatu yang lebih dari kata-kata kotor dan senjata tajam. Film ini sebenarnya mengangkat makna yang cukup sensitif, yaitu tentang rasisme, namun dengan cerdasnya, David Ayer mampu menyampaikannya secara inplisit lewat pergulatan dua gangster. Ketika End of Watch berakhir, dapat terlihat juga bagaimana arti sebuah persahabatan yang sebenarnya, kisah kesetiaan cinta, dendam, kepedihan, hingga ketragisan. 

End of Watch adalah kisah yang sangat kompleks dalam setiap emosinya. Sebuah drama yang dalam, menyentuh, dan romantis. Sebuah thriller yang memacu adrenalin sekaligus mengundang rasa penasaran. Naskah kuat dengan dialog cerdas, penceritaan yang tak kalah kuat, karakterisasi gemilang, akting dan chemistry solid, seluruhnya telah dimiliki oleh mockumentary ini. Meski memang, gerakan shaky camera membuat sedikit pusing, namun masih dalam kadar dimaafkan, dan sama sekali tak berpengaruh terhadap keseluruhan film. Ini adalah surat cinta dari David Ayer yang menghanyutkan. Salah satu found-footage terbaik yang pernah ada? Sangat mungkin.

8.0/10