Tuesday, October 21, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Gone Girl (2014)

"You two are the most f*cked up people I've ever met and I deal with f*cked up people for a living." - Tanner Bolt

Gone Girl, ini bukan sekuel dari Gone Baby Gone, tapi tetap ada nama Ben Affleck meskipun hadir di lini depan sebagai aktor utama. Kali ini, adalah nama seorang David Fincher yang duduk di bangku sutradara. Sejak kemunculan Alien 3 yang dianggap gagal dalam kacamata sekuel, David Fincher nyatanya tak berhenti di situ. Lewat Se7en pada 1995, diikuti oleh The Game, Fight Club, Panic Room, Zodiac, Benjamin Button, The Social Network, hingga The Girl with the Dragoon Tattoo pada 2011. Ini adalah perjalanan karir yang luar biasa. Selama 16 tahun produktif dalam industri dan tanpa pernah sekalipun mendapatkan rapor merah, Fincher tentunya bukan sutradara kemarin sore. Tiga tahun kemudian, dengan dirilisnya Gone Girl, karirnya bertambah cemerlang, dengan kembali mencetak 19 tahun perjalanan karir tanpa satupun kegagalan.

Apa yang akan anda lakukan ketika usia pernikahan anda menginjak tahun ke-5? Sebagian besar orang akan merayakannya, namun pasangan suami-istri Nick Dunne (Ben Affleck) dan Amy Dunne (Rosamund Pike) berbeda. Tahun ke-5 adalah awal dari semua katastrofi. Amy, yang seharusnya berada di rumah ketika sang suami pulang dari kerjanya, malah hilang entah ke mana, meninggalkan hanyalah meja yang pecah dan porak-poranda. Dengan bantuan kepolisian, jangan harapkan segalanya menjadi lebih baik. Yang ada, dengan beragam bukti yang polisi temukan, malah memunculkan spekulasi bahwa Nick-lah dalang di balik semua ini. Layaknya media masa dan masyarakat dalam filmnya, kita dibuat bertanya-tanya, di manakah Amy berada dan siapakah orang yang ada dibaliknya?


Secara garis besar, dengan premisnya yang begitu menarik, kisah yang Gone Girl bawa sebenarnya bukanlah hal paling kompleks yang pernah ada. Ia bisa digambarkan lewat sudut pandang sederhana, namun tentu bukan itu jalan yang Gillian Flynn ramu. Sebaliknya, ia dijabarkan lewat dua buah perspektif, dengan sebuah permainan naratif yang mampu membuat berbagai persimpangan dalam cara penonton menangkap yang ia ceritakan. Lewat permainan penuh teka-teki ini, penonton di ajak menyusuri labirin di mana tiap-tiap twist menunggu di akhirnya (atau di tengah perjalanan), sembari mengumpulkan keping demi keping potongan puzzle yang tersebar sejak menit pertama filmnya bergulir. Bukan hanya soal mystery/psychological thriller saja, ada drama pahit di antaranya, sebuah catastrophic romance dengan banyak bumbu anti-romance di sana-sini. Hasilnya, ini jauh dari kesan memperbelit apa yang seharusnya dapat menjadi sederhana, sebaliknya ini menunjukkan bahwa, dengan bermodal subjek minimalis, bukan berarti ia juga harus dijabarkan dengan jalan yang tak menarik. Gone Girl membuktikannya, ia merupakan sebuah perjalanan menegangkan dengan plot memukau sekaligus intelligent, dengan kisah yang mampu membuat siapapun ikut hanyut ke dalam misterinya.

Sejak Se7en yang rilis 19 tahun lalu, sutradara David Fincher tak pernah gagal. Ia adalah salah satu sineas dengan karir dan kualitas karya paling stabil yang pernah ada (we're looking at you, Woody Allen). Dan, dikali kesembilannya ini, ia kembali membuktikannya eksistensinya. Terbukti, Gone Girl berhasil bukan hanya berkat naskahnya, namun juga berkat peran Fincher yang mampu mengubah Gone Girl menjadi sebuah rollercoaster menegangkan dan penuh teka-teki yang menjaga penonton tetap berada di tempat duduknya. Fincher berhasil menjaga tensi dengan begitu baik dibalik atmosfer gelap yang ia susun serta pengemasannya yang begitu matang dan stylish. Ada banyak tanda tanya di dalamnya, dan bagaimana Fincher menangani semua ini merupakan hal yang luar biasa. Berbekal naskah yang tak kalah baiknya, Fincher bukan hanya berhasil mempertahankan ketegangan, namun juga dalam menyuntikkan dan mempermainkan emosi penonton, memberikan Gone Girl sebuah bone-chilling experience, sejak menit pertama hingga kredit bergulir.


Anda mungkin berpikir bahwa Amy adalah nahkoda dari semuanya. Kisahnya berakar pada Amy yang hilang entah ke mana, sepanjang film anda akan menelusuri perjalanan panjang untuk mengetahui siapa sebenarnya Amy, bahkan hingga judulnya pun merujuk pada karakter ini. Tapi, itu tak sepenuhnya benar. Ada peran media yang besar di baliknya. Tanpa disadari maupun tidak, media adalah penggerak yang berperan besar dalam pergolakan cerita. Gyllian Flynn, yang juga merupakan penulis asli dari novelnya, mampu menuangkan satir mengenai isu media (dan tentunya isu perkawinan) dengan cerdas dan lugas. Mampu menjadikan penonton layaknya masyarakat yang tersetir oleh media, kisahnya terasa dinamis dengan penonton yang dapat membenci suatu karakter, kemudian menyukainya, membenci, dan menyukainya kembali. 

Gone Girl mampu mempermainkan penonton, bukan hanya dengan kisah yang naik turun ataupun pengaruh media yang ia sindir, namun juga karakter-karakter kompleks yang ada di antara dua zona. Ya, tak ada satupun karakter yang hadir dalam zona dengan batas yang jelas. Tak ada hitam, tak ada putih, yang ada hanyalah abu-abu. Dengan sebuah opening shot yang cantik, Gone Girl mampu memancing rasa penasaran, menampilkan Amy dengan tatapan manis dan misterius, yang bahkan hanya dengan itu, telah dapat membuat anda merasakan kompleksitasnya. Sementara Nick, terlebih dengan senyumnya yang media sebut sebagai 'the killer smile' dan segala rahasia pernikahannya yang ia pendammampu memikat atensi dengan begitu baik dengan permainan kisah yang Flynn tulis. Sekalipun kebenaran telah terkuak, tiap penonton pun tak akan memihak pada karakter yang itu-itu saja. Anehnya, sekalipun kebanyakan karakter yang hadir dalam Gone Girl adalah karakter 'kusut', flawed, dan bermasalahtak ada satupun bagi saya yang hadir sebagai 'the unlikeable one', bahkan karakter yang 'seharusnya' anda benci mampu menjadi karakter mudah disukai audiens.



One of many aspects that makes Gone Girl as one of the best films in 2014 is: how perfectly casted the film is. Siapa sangka bahwa Nick alias Ben Affleck, dulunya pernah berlakon dalam Gigli, Pasti, penampilannya telah banyak mengalami peningkatan beberapa tahun sebelumnya, namun Gone Girl merupakan career-defining bagi peraih 2 Oscar ini. Ia flawed namun mudah disukai, bukan manusia suci namun jelas bukan seseorang untuk dibenci (well, sometimes). Sementara itu, Rosamund Pike bersinar. Lewat oscar-buzz yang mengelilinginya, ia tampil luwes, mengisi tiap ruang yang David Fincher dan Gillian Flynn berikan lewat betapa kompleks karakter yang ia miliki. Misterius, seduktif, namun juga innocent sekaligus memikat, layaknya setiap wajah yang muncul dalam film ini. Gelar salah satu penampilan terbaik tahun ini pun sama sekali tak berlebihan jika disematkan padanya.

Di baliknya ada wanita lain, Carrie Coon yang tak kalah kuat. Hadir di peran supporting, ia mewakili penonton dengan jalan pemikirannya, sekaligus mewarnai perjalanan kelam ini dengan secuil humor yang ia bawa. Sekalipun awalny mengundang tanda tanya besar setelah Fincher merekrut Tyler Perry, namun ia nyatanya berhasil mematahkan spekulasi buruk penonton sebagai lawyer yang juga hadir mewarnai suasana. Satu lagi yang mengejutkan untuk tampil dalam kredit adalah Neil Patrick Harris yang benar-benar keluar dari komedi yang dikenal sebagai comfort zone-nya selama (where he's also good at it). Sebagai mantan kekasih Amy, ia creepy dan tajam, sekalipun pada beberapa bagian terkesan trying too hard, namun secara garis besar, ia mampu melakonkan Desi dengan baik.


Ditengah tone yang kelam, ia tetap mampu mempesona lewat visualnya yang stylish, sebagaimana tiap karya David Fincher. Sinematografinya harus diakui cantik, dengan angle-angle dari Jeff Cronenweth yang memanjakan mata sekalipun hadir dengan tone yang gloomy. Scoring dari Trent Reznor dan Atticus Ross juga tampil sebagai top-notch, dengan melodi-melodi yang menggetarkan, membangun tensi sedikit demi sedikit. Editing juga hadir dengan kisah yang setali tiga uang. Sebagai salah satu contender utama dalam Best Editing di sesi musim penghargaan nantinya, ia solid dan kokoh, terlebih didukung narasi filmnya yang berlapis-lapis, memberikan banyak ruang bagi Kirk Baxter untuk tampil meyakinkan lewat potongan-potongan gambar.

Ada banyak career-defining performances dalam Gone Girl. Ini adalah akting terbaik Tyler Perry dan penampilan pertama Harris di luar zona nyamannya, sementara Gone Girl juga membawa nama ketiga aktornya ke puncak, Carrie Coon dan (terutama) bagi dua lead-nya, Ben Affleck dan Rosamund Pike yang mungkin saja berbuah sebuah nominasi Oscar bagi Pike. Tapi, career-defining performance paling utama datang dari seorang David Fincher. Dengan plot mempesona dari Gillian Fylnn, David Fincher kembali mencapai strike untuk kesekian kalinya dengan nilai yang jauh di atas rata-rata. It's crystal clear: Gone Girl bukan hanya tentang seorang wanita yang hilang, lebih dari itu, ia menggelitik dengan isu-isu satir yang ia kemukakan, sekaligus memberikan pengalaman sinematik memukau yang membawa film serupa ke level yang lebih tinggi dari yang sudah-sudah.

Friday, October 17, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] Calvary (2014)

"There's too much talk about sins and not enough of virtues." - Father James

Film bertema religi tentunya bukan hal asing lagi di tahun 2014. Sutradara sekaliber Darren Aronofsky pun sempat menelurkan kisah biblikal Noah. Bukan hanya Aronofsky, sineas veteran penghasil Alien, juga akan merilis Exodus: Gods and King yang mengangkat kisah Nabi Musa dengan Christian Bale di lini depan aktingnya. Di lain sisi, ada pula film-film non blockbuster seperti Son of God, Heaven is For Real, hingga God's Not Dead. Datang dari tanah Irlandia, ada Calvary, sekalipun bukanlah kisah biblikal dan hanya mengambil agama sebagai latar belakang dan alat agar kisahnya mampu bekerja dengan baik. Dan yah, harus diakui, kisahnya dapat berkerja dengan baik, bahkan sangat baik.

"I first tasted semen when I was 7 years old," kalimat inilah yang mengawali Calvary, sebuah dialog yang benar-benar aneh untuk mengawali sebuah film, bukan hanya bagi film yang mengangkat agama dan keimanan seperti Calvary, tapi literally, semua film. Well, it would be very weird for The Avengers to have this first dialogue, right? Dan, saya yakin reaksi penonton akan sama dengan dialog setelahnya, "That's certainly a startling opening line," well, certainly it is. Kembali lagi, ini adalah satu cara disturbing untuk mengawali sebuah filmnamun sukses mengumpan rasa penasaran yang begitu besar.  Jujur. saya begitu terkesima dengan opening dari Calvary: kalimat ini muncul dari balik sebuah bilik pengakuan dosa yang gelap, dengan Father James yang terlihat sedih dan seorang pria sakit jiwa misterius yang 'mengakui' dosanya dan tiba-tiba mengancam akan membunuh sang pastur. One minute, and you'll be hooked for 99 more minutes.


Ini benar-benar jarang terjadi. Ancaman pembunuhan bukan hal yang baru lagi, tapi menujukannya pada seorang pemuka agama yang benar-benar innocent? Ini mungkin saja yang pertama. Berangkat dari sini, Calvary terasa seperti perpaduan yang absurd, namun di situlah Calvary mampu tampil kuat. Ada banyak unsur agama di dalamnya, namun ia diawali oleh sebuah misteri dan rasa penasaran yang mencengangkan. Tapi, semakin konfliknya melebar, maka ini bukan hanya berbicara tentang misteri, dan Calvary juga bukanlah agama melulu. Ada banyak hal lain di baliknya.

Ketika dramanya mulai mendominasi, misteri di sini hanyalah semacam medium, perantara yang sutradara berikan untuk menyampain pesan sebenarnya film ini. Dari dialog awal percakapan Father James dengan 'sang calon pembunuh', "There's no point killing a bad priest, but killing a good one! That would be a shock!", McDonagh telah memberikan sedikit clue tentang apa sebenarnya Calvary. Di menit-menit setelahnya. begitu banyak karakter berseliweran, mondar-mandir dengan kisah-kisah dan kelakuannya tersendiri. Ya, it's a character study and social commenatary, likely a representation of seven deadly sins, and a pretty good one. Sekalipun durasi 100 menit begitu singkat untuk menjabarkan tiap kisahnya, yang mungkin membutuhkan lebih dari 2 jam untuk memadatkan tiap subplot, tapi tak dapat dipungkiri, subplot-subplot ini menarik, dengan karakter-karakter yang eksentrik, yang membuatnya menjadi lebih atraktif. Batu sandungan itu memang ada dengan subplot yang begitu banyak dan beberapa di antaranya kurang dapat berkembangtapi toh saya tetap terkesima selama 100 menitya berjalan.


Ini mengingatkan saya terhadap Gosford Park, but much more interesting. Beralur lambat, and filled with talking, talking, and just talking, banyak hal yang sebenarnya terjadi di baliknya. Ya, sekalipun begitu dominan, tak lantas Calvary berubah haluan menjadi film yang tak menarik dengan hanya ada kata-kata di dalamnya. Sebaliknya, berterimakasihlah kepada John Michael McDonagh yang berjasa dalam menyusun dialog-dialog berbobot dan cerdas, tapi pada saat yang sama, ia juga bisa bercanda, mengeluarkan baris dialog yang bukan hanya membuat kita tersenyum simpul, tapi juga 'mengunyahnya' terlebih dahulu.

Lewat naskah, kita dapat melihat apa yang McDonagh ingin sampaikan ke permukaan. Film ini mengambil sebuah tanda tanya besar terhadap, well literally everything that's been questioned by many people: religion, faith, church sexual issue, human nature, honesty, hope, and forgiveness, which we can see in each story and each character. Tapi, apa yang membuat Calvary bahkan lebih baik lagi, adalah sang pemain utama itu sendiri. The priest, is flawed. Dia seseorang yang jujur, tenang, penuh keyakinan, meski pada beberapa bagian air mukanya menunjukkan keputusasaan. Ia adalah observer, mata dan hati penonton dalam mengamati kelakuan manusia. Dan, layaknya kita sebagai penonton, ia juga bukan karakter sempurna, dan Brendan Gleeson dengan bantuan McDonagh berhasil membuat karakter ini layaknya seorang manusia biasa.


Dari menit awal, Calvary dengan berani telah menyinggung isu pelecehan dalam tubuh gereja. Tak seperti Doubt yang memilih menyinggungnya dengan penyampaian yang lebih halus dalam 'keraguan', maka McDonagh mengambil jalan yang lain, mengungkapkannya lewat latar kisah dan jalannya dialog yang pada beberapa bagian cukup eksplisit. Jangan bayangkan seperti Primal Fear yang brutal, karena pembawaan Calvary yang menenangkan di keadaan apapun. Di satu sisi, ini adalah penggambaran yang cukup disturbing dan 'sakit', memaksa penonton mendengarkan dialognya yang menyakitkan, meski tak pernah secara langsung 'memamerkan kesakitan' tersebut.

Ya, dengan segudang kelakuan immoral yang ia gambarkan, apa yang ia bawa justu sebaliknya: apa itu moralitas, Anda mungkin akan bergidik akan isu pelecehan seksual dan kekerasannya, namun Calvary tetap menyentuh di hampir semua bagian. Lewat sang pemain utama, ada kejujuran dan nilai moral lain, dan lewat tiap subplot, selalu ada yang dapat kita ambil tanpa harus merasa digurui. Sebelum kredit bergulir, McDonagh juga sempat menyajikan salah satu momen penutup paling epik yang pernah ada. Tanpa perlu berkata-kata dan bermodalkan permainan visual, ia mampu menyentuh penonton, memberikan pelajaran terakhir yang berharga dan tak terlupakan: hope and forgiveness.


Kesimpulannya? Topik yang ia bawa kurang lebih apa yang kita lihat dalam Se7en minus box misterius itu, dengan konsep pengemasan yang mengingatkan kita akan Gosford Park, tapi dengan misteri yang lebih mempesona. Meski begitu, Calvary masih memiliki spark-nya sendiri. Temanya banyak dan berat, namun penyajiannya cenderung tidak terlalu berat, dan ia juga tak pernah menggampangkan tema krusialnya. Hasilnya, sebuah drama pilu dan menyentuh, humor cerdas, yang disajikan dengan begitu cantik, baik dari segi naratif maupun visual. Berbicara tentang visual, di balik kegelapan temanya, Calvary juga menyimpan sinematografi apik. Ia turut membuka Calvary dengan atmosfer yang gloomy, menyorot lanskap Irlandia yang begitu cantik, menyajikan kepedihan dengan visaul memukau, hingga yang terpenting: ia juga ambil bagian dalam menyampaikan emosi dalam bentuk visual ke penonton.

Dibuka oleh percakapan yang cukup mengejutkan, ditengahi oleh karakter-karakternya yang menarik, hingga diakhiri oleh momen yang menggetarkan, nyaris membuat saya melupakan kekurangan Calvary, yang sebenarnya juga bukanlah hal yang terlalu besar. Selama 100 menit, Calvary mampu memberikan sebuah dunia yang tak biasa, mengeksplorasinya lewat sebuah misteri yang mempesona, memberikan penonton sebuah suplemen otak dengan kecerdasannya mengambil banyak hal ke permukaan dan keberaniannya menertawakan isu-isu moral. Diisi oleh lead tak terlupakan dari Brendan Gleeson, makin mampu menegaskan Calvary sebagai sebuah silent pleasure, tontonan mengenai kesedihan yang disajikan dengan cantik dan tenang. Salah satu yang terdepan di tahun ini, bahkan sejak menit pertamanya,

Sunday, October 12, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] Guardians of the Galaxy (2014)

"I am Groot." - Groot

Okay, I get it. I saw this like a month ago, and this review is just so overdue. Well, forgive me for having such a busy time, plus writing a review actually needs high level of mood, and i wasn't in the right mood. But, don't worry, i am right now. So, here we go: this time it's about the lost brother of The Avengers from the same universe. It's Marvel's time again, ladies and gentlemen! But wait, Guardians of the Galaxy is no The Avengers. Ya, mereka tentu jauh dari pinang yang di belah dua, keduanya lebih seperti kakak beradik yang tidak akur, mirip secara konsep tapi berbeda jauh dalam pengemasannya. The Avengers adalah kakak yang serius dan lebih populer, sementara adiknya Guardians of the Galaxy adalah adik yang bawel, punya selera humor tinggi plus selera musik renyah, dan jauh lebih rebellious.  

Diawali oleh opening yang cukup emosional, Guardians of the Galaxy menyorot Peter Quill kecil yang baru saja kehilangan ibunya, diculik oleh kaum pembajak angkasa, Ravagers. Dibesarkan oleh kaum pembajak membuat Peter Quill dewasa (Chris Pratt) menjadi seorang pencuri. Salah satu yang ia curi adalah bola misterius orb, yang rupanya juga merupakan incaran penjahat berbahaya galaksi, Ronan (Lee Pace). Quill yang tanpa pernah mengetahui apa bola misterius itu, tak mampu menghindari perkelahian perebutan orb antara utusan Ronan yang akhirnya membelot, Gamora (Zoe Saldana) dan 2 kriminal lain, Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel), yang berujung pada penjeblosan keempatnya ke dalam bui. Bersama Drax (Dave Bautista) yang mereka temui di penjara, mereka berlima yang akhirnya mengetahui kekuatan bola itu memutuskan untuk menjualnya demi materi. Tapi, ada satu hal yang tak mereka sadari: bahwa sebenarnta mereka juga sedang menyelamatkan galaksi dari kehancuran.


Nyatanya, film teranyar Marvel ini bukan hanya berbeda dari The Avengers, Guardians of the Galaxy juga berbeda dari kisah Marvel yang sudah-sudah. Ini bukan lagi sekedar film action pahlawan super dengan sisipan dialog menggelitik di antaranya, ini sudah layaknya sebuah komedi yang bercampur sempurna dengan sisi maskulinnya yang kental serta sisi emosional yang tak terlupakan. Tak ada lagi yang namanya 'sisipan', seluruh sisinya mampu hadir dengan porsi berimbang, menjadikan Guardians of the Galaxy bukan hanya sebagai film paling seru dan paling cool tahun ini, tapi secara mengejutkan, juga sebagai yang paling konyol di jajaran film 2014.

Ya, anda jelas tak akan melengkungkan bibir semata, tapi lebih dari itu, akan ada banyak tawa besar yang menghiasi 2 jamnya. Ya, selama 2 jam itu pula, anda akan puas dengan para 'superhero' yang memiliki bakat tersembunyi sebagai komedian. Dari Drax si algojo besar yang berada di batas abu-abu antara polos dan bodoh; Rocket, rakun bawel yang tak pernah bisa menutup mulut; Groot si manusia akar yang tak pernah menambah satu kosa kata baru pun dalam kamus bahasanya, Gamora, wanita yang tangguh dan, err, berkulit hijau; hingga Peter Quill yang sok asik meski hadir dengan selera musik paling asyik di antara seluruh karakter Marvel. 

Selera humor Guardians of the Galaxy memang bukan tergolong black comedy atau yang orang-orang sebut sebagai 'komedi khusus orang pintar'. Naskah hasil kolaborasi ini lebih memilih untuk membawa komedinya secara blak-blakan, mengolok-olok James Pollock, mengungkit Kevin Bacon, dan Footloose-nya, membuat suasana heroik menjadi penuh gelak tawa, hingga menertawakan hal-hal lain yang sebelumnya kita pikir tak akan bisa ditertawakan. Kaya akan punch line, naskahnya kapan saja 'meninju' anda dengan komedi tanpa rasa ampun, menggabungkan dialog-dialog witty dengan suasana heroik, dan hasilnya? Sebuah keseruan yang hadir dengan sense of humor yang jauh di atas rata-rata, dan yang lebih mengagumkan: ternyata banyak kekonyolan dan pahlawan super dalam satu frame bukanlah ide yang buruk, sama sekali!

Ada dua hal di mana Marvel tak pernah gagal. Yang pertama, tentunya gagal dalam box-office, US box-office yang mencapai lebih dari 300 juta dollar sudah berbicara banyakYang kedua? Apalagi kalau bukan dalam aksi yang keren dan penuh segmen akrobatik, Marvel can do no wrong in this section. Penuh energi, dinamis, dan menghentak, Guardians of the Galaxy rupanya tetap mampu mengemas aksinya dengan penuh keseruan dan tanpa pernah sekalipun tenggelam di tengah terjangan gelak tawanya. Dan, lewat tangan James Gunn, Marvel kembali membuktikan bahwa studio ini rupanya masih manjur dalam soal perkelahian si baik dan si jahat, sekaligus makin menegaskan namanya sebagai studio spesialis aksi pengundang decak kagum.

Di departemen akting, Guardians of the Galaxy diisi oleh cast yang bersinar yang dihiasi sekumpulan superhero bermoral rusak, dengan Chris Pratt sebagai 'Han Solo' dari ranah Marvel. Ia kharismatik, witty, flamboyan, and he's definitely the star and the heart of the entire movie. Di belakangnya, ada Zoe Saldana yang begitu tangguh sekalipun dalam kulit serupa Shrek dan sebangsanya. Sedangkan, Dave Bautista akhirnya mampu menunjukkan kemampuannya dengan berlakon sebagai Drax, algojo polos yang terbutakan oleh masa lalunya yang kelam. Dan, jangan lupakan pula bahwa ternyata film ini dihiasi oleh nama kondang Vin Diesel dan Bradley Cooper yang bersembunyi di balik efek komputer. Sementara Vin Diesel berhasil mencuri perhatian dengan dialog yang itu-itu saja, Bradley Cooper sukses bermulut kotor dan menjadi filthy mouth of the year lewat figur rakun hasil eksperimen genetik itu.

Soal hati, jangan ditanya lagi. Guardians of the Galaxy memiliki banyak momen emosional. Dari opening yang dramatis, ditambah karakter serta kekonyolonnya yang ternyata membantu penonton dalam memahami latar belakang mereka dan berempati terhadap para mantan kriminal ini. Ya, berbekal dari moral mereka yang telah 'rusak', James Gunn dan Nicole Perlman mampu meramu kisah yang (secara mengejutkan) dipenuhi ruang bebas bagi karakternya untuk berkembang, membuat prostetik dan efek komputer bukan lagi halangan berarti bagi penonton untuk mengenal mereka lebih jauh. Bermodal ini semua, Guardians of the Galaxy mampu menuturkan suatu kisah yang begitu humanis, sekalipun hanya ada satu manusia di jajaran pemain utamanya.


Tak ada yang menyangkal bahwa Guardians of the Galaxy mungkin adalah film paling cool tahun ini. Tapi, ada satu hal lagi yang menjadikan Guardians of the Galaxy jauh lebih cool. Cerita? Humor? Segmen aksi? Karakter? Well, tentunya, but that's not what i'm talking about. Apalagi kalau bukan mixtape Star-Lord dan kegemarannya terhadap musik. Bukan sekedar kegemaran belaka, mixtape ini adalah emotional core yang krusial, satu-satunya kenangan Quill terhadap ibunya dan terhadap rumahnya, bumi. Dengan diisi lagu-lagu oldies dari dekade '60an hingga '70an, James Gunn berhasil mengaplikasikan penggunaan soundtrack terbaik dalam tahun-tahun terakhir ini. Dari Hooked on A Feeling yang terngiang sejak awal film hingga O-O-H Child yang disajikan dengan komikal, Guardians of the Galaxy mampu membuat lagu-lagu bernuansa retro ini terdengar begitu masa kini. Belum cukup, soundtrack-nya membentuk sebuah kolaborasi  manis dengan visual cantiknya yang futuristik. Kolaborasi antar 2 generasi yang tak biasa memang, namun siapapun tak dapat menolak pesonanya.

Dari kemasannya, Guardians of the Galaxy lebih terlihat seperti proyek Marvel yang direaliasasikan hanya karena kesuksesan The Avengers. Tapi, jika kita lihat apa proyek ini sebenarnya, maka Guardians of the Galaxy adalah film yang paling berbeda dari para saudara pahlawan supernya, sekaligus proyek paling beresiko dari yang sudah-sudah. Sebuah film yang aneh untuk ukuran film superhero: karakter-karakternya terlalu ;rusak' dan aneh untuk menjadi pahlawan super, komedinya aneh dan unexpected serta penuh 'punch line' yang siap menginjeksikan anda dengan serum tawanya, hingga perhatiannya yang begitu besar dalam penggunaan soundtrack yang bahkan mendominasi scoring-nya. Ini tentu bukan deskripsi umum bagi film superhero, tapi berkat inilah Guardians of the Galaxy mampu mengukir tempat baru dalam universe Marvel yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Secara tak langsung James Gunn berhasil dalam menggebrak dinding film superhero, menghancurkan stereotype yang kini telah lama melekat pada film serupa, menjadikan Guardians of the Galaxy sebagai angin segar di tengah terjangan karakter pahlawan yang terlalu serius, salah satu film paling mengagumkan tahun ini, dan layaknya apa yang Rocket katakan semuanya datang dari a bunch of jackasses standing in a circle!

Saturday, September 20, 2014

Tagged under: , , , ,

[Review] Boyhood (2014)

"Samantha! Why don't you say goodbye to that little horseshit attitude, okay, because we're not taking that in the car." ~ Mom

Dari banyaknya sineas bertalenta yang dimiliki Hollywood, rasanya tak akan terlalu sulit mengenali karya seorang Richard Linklater: narasi sederhana yang dibalut dengan permainan waktu. Kegemarannya bermain dengan waktu memang telah dibuktikan dari trilogi 'Before' yang rilis tiap 9 tahun dan masing-masing dari serinya bersetting dalam waktu yang begitu pendek. Di Before Sunrise, ia mengubah waktu sehari di Viena menjadi kisah manis yang tak lekang waktu bagi dua pasang muda mudi. Before Sunset adalah lain cerita, sebuah reuni singkat sederhana, berisi, dan romantis ditengah suasana canggung setelah lama tak bertemu, sekaligus menjadi terbaik di jajarannya. Kemudian 9 tahun kemudian, Before Midnight mengungkap sebuah kisah cinta penuh kerikil konflik bagi yang sudah tak muda lagi.

Kini, dengan Boyhood, Richard Linklater kembali dengan konsep yang lebih matang, lebih segar, dan lebih mencengangkan. Menghabiskan waktu pembuatan 12 tahun, Linklater bukan hanya membuat sebuah film, tapi lebih dari itu, ia 'mendokumentasikan' waktu, membuat penonton tercengang dan mungkin akan setengah percaya bahwa apa yang terjadi di layar benar-benar terjadi, sekalipun semuanya telah tahu bahwa Boyhood tetaplah sebuah film.


Melalui sudut pandang seorang anak berumur 5 tahun, Mason (Ellar Coltrane), kita menyaksikan sebuah kisah tumbuh dan kembang manusia. Bersama saudarinya, Samantha (Lorelei Linklater), Boyhood 'mendokumentasikan' fase ini lewat pembuatannya yang mengahabiskan waktu lebih dari 12 tahun. Mereka diasuh oleh ibu mereka, Olivia (Patricia Arquette) yang merawat kedua bocah ini sendiri setelah perceraiannya dengan Mason Sr. (Ethan Hawke). Dengan durasi yang hampir mencapai 3 jam, Boyhood bertutur tentang kisah yang familiar selagi kita menyaksikan pertumbuhan Mason dan Samantha serta perjuangan Olivia yang begitu berat dalam mengasuh kedua anaknya.

Silakan lihat situs IMDb, dan baca apa yang tertera di situ: "The life of a young man, Mason, from age 5 to age 18." Sebenarnya hanya butuh satu kalimat itu, sudah mampu mendeskripsikan apa yang film ini ceritakan. Bahkan, tak hanya satu kalimat, film ini pun dapat diceritakan lewat satu kata, 'Boyhood', sesuai apa yang anda lihat di judulnya. Ya, Boyhood memang sesederhana itu di kulitnya, tapi ia tak pernah sesederhana yang anda pikirkan di dalamnya, karena apa yang anda lihat sebenarnya cukup complicated: sebuah kisah fiktif yang terbalut dalam konsep realita kehidupan.


Naskah hasil kerja keras Linklater, sekalipun menyorot kehidupan 'sederhana' layaknya kehidupan orang lain pada umumnya, Boyhood bukanlah sebuah karya seperti yang sudah-sudah. Hal yang paling istimewa tentang Boyhood adalah kisahnya merupakan sebuah pandangan lebih jauh mengenai satu fase terpenting dalam kehidupan manusia, dan hebatnya lagi, hadir tanpa embel-embel drama konvensional Hollywood. Tak ada dramatisasi besar dalam caranya bertutur, anda tak akan melihat mereka berubah menjadi remaja psikopat atau remaja kurang ajar dalam We Need to Talk About Kevin dan Spring Breakers. Kisahnya bergulir seperti air yang mengalir di sebuah sungai. Ada kalanya ia berarus lambat dan ada kalanya di mana ia harus 'berlari' kencang, namun kembali lagi, minus apa yang biasa kita lihat dalam Hollywood..

Ya, segala tentang Boyhood adalah segala sesuata yang kita tahu akan terjadi. Seorang single mom yang merawat 2 anaknya, apa yang anda ekspektasikan? Pernikahan, perceraian, romansa monyet, graduation, college, pernikahan lagi, dan perceraian lagi, Sama sekali bukan masalah membeberkan kisahnya dan bahkan tak akan pula merusak pengalaman menonton anda, karena setiap orang juga telah tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya. Apakah ini membuat Boyhood adalah karya yang biasa-biasa saja? Sama sekali tidak. Inilah yang membedakan Boyhood dengan yang lainnya, sekalipun kontennya bukan hal yang baru, bagaimana Linklater membuat Boyhood tetap menarik adalah caranya bercerita dengan begitu akrab dan intim kepada penonton. Ini bukan hubungan guru-murid dengan batas di antaranya. ini adalah hubungan yang terjalin persis seperti ketika Patricia Arquette 'mendongengkan' novel Harry Potter kepada 2 anaknya: tulus dan tanpa penghalang.


Tapi, jangan lupakan satu lagi langkah menarik dari Linklater yang sukses membuat penonton merasakan apa yang telah terjadi selama 12 tahun pembuatannya. Ya, jangan kaget ketika ia menyisipkan begitu banyak referensi kultur pop yang erat hubungannya dengan zaman tertentu yang membuat banyak senyum simpul tercipta: dari demam Harry Potter, Britney Spears' ...Baby One More Time, Aaliyah's Try Again, Lady Gaga's Telephone, hingga Gotye's Somebody That I Used to Know, Boyhood rupanya bukan hanya sukses berkat betapa revolusioner narasinya, tapi juga berkat nilai nostalgianya yang begitu besar dalam alurnya yang dinamis dengan waktu, Semua itu, berhasil mengembalikan waktu, layaknya mesin waktu yang membuat para penonton tumbuh lagi untuk kedua kalinya.

Tidak sulit menentukan apa saja hal yang membuat kita berdecak kagum akan Boyhood. Dari kisah, nostalgia, hingga kesederhanaannya, tapi jangan lupakan bagaimana Boyhood menghadirkan tiap jajaran karakternya. Ada chemistry kokoh yang terjalin dari tiap karakter. Ya, waktu 12 tahun itu tentu berkontribusi banyak, tapi tak sampai di situ, karena berkat hal ini, ada hubungan erat yang terjalin antara karakter dengan penonton. Akting dua objek dari studi karakter ini memang bukanlah akting terbaik yang anda lihat dalam dekade ini, bukan hal luar biasa namun bukan itu yang kita cari. Semua tentang Boyhood adalah kesederhanaan, dan kejujuran berakting dari Ellar Coltrane dan Lorelei Linklater serta apa yang terjalin di antara mereka adalah apa yang dibutuhkan dalam kisah seperti ini.


Tapi, seberapa besar fokus film tertuju pada proses menuju dewasa seorang remaja, penampil terbaik tetaplah dipegang oleh sang ibu, diperankan aktris indie veteran, Patricia Arquette, yang mampu membuat judul alternatif 'motherhood' sebenarnya merupakan ide yang bagus. Sebagai single-mom Olivia, Patricia tak hanya mampu tampil memukau dengan akting kelas satu saja, di tengah keterbatasan waktunya, ia bahkan berhasil membuat tema 'motherhood' hadir dengan tegas tanpa harus tertutupi porsi 'boyhood'-nya yang jauh lebih dominan. Selain anggota keluarga Arquette tersebut, Ethan Hawke, aktor langganan Richard Linklater juga hadir memberi warna. Ia, keceriaan, selera humor, dan kegemarannya terhadap musik hadir menyeimbangkan kisah, membuatnya mungkin merupakan salah satu sosok ayah terkeren dalam sejarah perfilman.

Ya, Boyhood bukan lah sekedar film coming-of-age indie biasa. Berangkat dari idenya yang luar biasa, Linklater membawa tema sederhananya mencapai level baru dalam industri perfilman yang belum pernah dicapai sebelumnya, menyentuh realitas dengan caranya yang sederhana namun berbeda. Boyhood mampu membuat bubuhan makeup terasa begitu old-fashioned dan penuaan alami merupakan trend terbaru, membuat siapapun tersenyum simpul lewat nostalgia yang Linklater tabur sekaligus menegaskan bahwa Boyhood adalah film ter-up-to-date yang pernah ada. Nafasnya sederhana, kisahnya pernah (atau setidaknya akan dialami) oleh 7 milyar manusia di bumi. Tapi, apa yang mampu membuat Boyhood berada di zona berbeda adalah bahwa Richard Linklater tahu semua itu, membiarkannya mengalir begitu saja tapi tanpa pernah membiarkan ritme kisah jatuh, dan masih dengan dihiasi konflik-konflik tajam meski konteksnya tetaplah sederhana. Ini semua, sukses membuat 3 jam durasinya sama sekali bukanlah pengalaman yang melelahkan, melainkan menawarkan sebuah pengalaman sinematik penting yang jarang, atau bahkan tak akan pernah anda temui lagi. Ya, Boyhood dinamai 'Boyhood' karena suatu alasan, dan itu sama sekali bukan alasan yang salah, karena sesuai judulnya, Boyhood mampu membawa kembali waktu, dan membuat kita terjun ke dalamnya. Simply amazing.



Monday, July 21, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Dawn of the Planet of the Apes (2014)

"Apes do not want war!" ~ Caesar

Di tengah maraknya summer blockbuster konvensional berbalut teknologi super modern, kita beruntung ketika proyek reboot sekaligus prekuel dari klasik Planet of the Apes ini diluncurkan. Meredam tiap ekspektasi negatif setelah kegagalan Tim Burton mengeksekusi remake-nya, Rise of the Planet of the Apes berhasil secara kualitas maupun kuantitas. Kini, dengan pergantian sutradara, yaitu Matt Reeve, sekuelnya, Dawn of the Planet of the Apes hadir membawa angin baru. Membawa aroma kelam dan bermain di daerah penuh resiko bagi sebuah sekuel, kita kedatangan Star Wars: The Empire Strikes Back dan The Dark Knight versi pertempuran manusia vs. kera!

Bermula dari 2016, ketika virus ALZ-113 mewabah seluruh dunia, melumpuhkan aktivitas ekonomi, hingga mematikan jutaan jiwa. Sepuluh tahun kemudian, ketika populasi manusia sudah makin menipis, Caesar (Andy Serkis) telah menjadi seorang pemimpin dari sebuah komunitas kera berjumlah besar. Bukan hanya pemimpin, ia juga merupakan suami dari Cornelia (Judy Greer) serta ayah dari Blue Eyes (Nick Thurston) dan adiknya yang baru saja lahir. Secara tak sengaja, Blue Eyes serta Ash (Doc Shaw) bertemu dengan segerombolan manusia, yang dipimpin Malcolm (Jason Clarke). Caesar, yang rupanya masih menyimpan memorinya terhadap manusia, menyuruh mereka pergi. Tapi, itu tidak cukup bagi Koba (Toby Kebbell), seekor simpanse yang menaruh dendam besar terhadap manusia. Menganggap Caesar bukanlah pemimpin tegas, ia pun menyiapkan master plan yang memantik konflik besar antar 2 kubu primata ini.


Ya, Dawn of the Planet of the Apes bukan sekadar film tentang perang. Ini adalah karya yang penuh substansi di tengah kemegahan bungkus teknologi. Ia menyinggung apapun yang berkaitan dengan kemanusiaan lewat konflik perebutan spesies superior. Di departemen karakter, ketiga screenwriter, Mark Bomback, Rick Jaffa and Amanda Silver, tak hanya menghadirkan Caesar, sang pelakon utama, primata yang menjunjungtinggi nilai kemanusiaan dan kedamaian, tapi juga primata lain, Koba, seekor primata yang hatinya telah buta akan kebencian terhadap manusia, yang secara perlahan justru menunjukkan sifat-sifat identik manusia. Di balik kedua primata utama ini, ada nilai yang ingin dihadirkan, sebuah isu penuh kemanusiaan yang sukses diangkat, yang anehnya justru muncul dari kaum simpanse.

Sebuah revolusi di tengah evolusi, Dawn of the Planet of the Apes menawarkan narasi yang sekilas mungkin tak akan mungkin terjadi (talking apes, etc.), namun secara bersamaan ini adalah narasi yang berbicara banyak tentang humanity yang sangat relevan. Tapi, itu semua tak dihadirkan secara gamblang begitu saja, narasinya membawa penonton terhanyut dalam pendalaman emosi yang mangaduk-aduk. Matt Reeves mampu menyetir tiap emosi, membawa karya satu ini menjadi sebuah rollercoaster emosional. Sama sekali tak cengeng dan tak akan ada air mata yang akan keluar, namun Reeves dengan ahli mampu memetik tiap simpati yang penonton berikan pada tiap karakter, sembari menelurkan lebih banyak lagi karakterisasi simpanse maupun manusia dan mengisinya dengan sisi protagonis di kedua kubu, hingga akhirnya mengantarkan tiap penonton pada persimpangan 'siapa yang harusnya dibela?'.


Untuk melihat peperangan besar itu, memang dibutuhkan sedikit kesabaran. Tapi, keputusan untuk lebih memperdalam drama serta emosi ketimbang dengan langsung mengekspos konflik secara besara-besaran tentu merupakan keputusan tepat. Karena, selain pendalaman emosi dilakukan dengan sangat, sangat baik dan hal ini juga efektif dalam membangun substansi cerdas dalam dramanya, semuaa ini memang terbayar ketika Reeves perlahan menunjukkan taji puncak konfliknya, sebuah peperangan yang intens sekaligus memaksa otak untuk bekerja. Bagi penggila action yang kaya akan speciel effects, mungkin akan menganggap film ini terlalu statis. Tentu, itu bila anda membandingkannya dengan Transformers yang menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Dawn of the Planet of the Apes memang menampilkan chaos yang 'megah', namun ia masih 'berotak' dengan banyak hal yang mampu dipetik, tak sekadar meluluhlantakkan San Fransisco yang sejatinya memang telah hancur sejak awal.

Tak hanya berjasa di situ, seperti yang ada pada judulnya, Matt Reeves mampu membawa atmosfer yang kaya akan kekelaman. Menggunakan tone gelap dalam sinematografi hingga menciptakan bumi yang kaya kehancuran, ia bukan hanya membawa suasana dystopian yang meyakinkan, tapi juga memberi penonton sebuah dunia penuh konflik berkepanjangan dan berhasil menuntun tiap orang untuk hanyut di dalamnya. Hasilnya, Dawn of the Planet of the Apes merupakan perjalanan yang epik dari awal hingga kredit bergulir, tak hanya kelam di permukaan namun juga kelam hingga ke akar-akarnya. Sebuah pengarahan gemilang dari seorang Matt Reeves yang dengan berani mengambil berbagai resiko ketimbang bermain aman.


Tak pernah ada yang meragukan kualitas Andy Serkis dalam melakoni karakter-karakter berbalut CGI. Perannya sebagai Caesar pun telah teruji dalam Rise of the Planet of the Apes, tapi kini ia membawa aroma baru dalam karakternya. Sebagai seekor kera, ia penuh kedewasaan dan wibawa, lengkap dengan jalannya yang tegap. Ia merupakan 'seekor' saint alias orang suci yang pada beberapa kaumnya dianggap sebagai kegagalan dalam memimpin sementara yang lain menganggapnya sebagai bagian dari kebijaksanaan. Kemunculannya di awal dan perpisahan di akhir selalu mengundang decak kagum, membuat siapapun tak akan mampu melupakan si pemimpin. Ini berhasil membuktikan bahwa mocap performance bukanlah tentang berakting di bawah bayang-bayang teknologi, melainkan memberikan sentuhan-sentuhan teknologi tersebut jiwa dan nyawa, yang kita sebut 'kehidupan'.

Andy Serkis tentu tak sendiri. Dibaliknya, ada segenap talenta berbakat lain. Ada Toby Kebbell yang tak kalah briliannya sebagai Koba, kera yang perlahan berubah menjadi mesin pembunuh. Di balik kostum motion capture dan bintik-bintik di wajahnya, ia mampu menjalankan 2 tugas utamanya dengan sangat baik. Sebagai kera, ia memiliki segalanya dari gesture hingga teknologi yang turut membantunya. Sebagai antagonis, ia kejam, tak kenal ampun, dan buta akan kebencian. Sementara itu, dari klan manusia, ada Jason Clarke dan Gary Oldman yang menonjol. Meski harus diakui peran mereka tak semenantang para kera, namun tak akan ada yang menampik bahwa keduanya berlakon memuaskan.


Dawn of the Planet of the Apes tak akan pernah lepas dari teknologi motion-capture-nya, ini artinya tak akan pernah lepas pula dari departemen special effects. Seperti pendahulunya, film ini masih hadir dengan special effects rumit dan kaya detail khas Weta, yang bahkan hadir dengan penampilan lebih matang. Para primata hadir dengan penampilan meyakinkan, tampak nyata dengan tekstur kulit serta rambut-rambut yang terlihat begitu rumit. Ini menjadi seperti yang kita lihat dalam Gravity, di mana tiap CGI menjadi bagian krusial, bukan hanya sebagai ajang unjuk budget tinggi. Anda mungkin sudah tak dapat mengenali mana yang asli dan mana yang hasil gubahan komputer, atau anda bahkan tak mengenali bahwa yang di depan mata anda adalah rekayasa teknologi. Meski begitu, semua ada batasnya. Apa yang anda lihat adalah efek komputer di sana-sini, namun hal ini tak pernah menutupi tiap emosi dan narasinya yang 'berotak'.

Dawn of the Planet of the Apes bukan hanya bekerja dengan baik di sisi blockbuster, penuh ledakan dan keseruan. Tapi di sisi lainnya, film ini tetap membawa substansi besar yang mampu hadir menonjol dan tak pernah sekalipun tertutup special-effects yang tak kalah besar itu. Matt Reeves berhasil membangun ikatan emosional mendalam pada tiap 'spesies', memberikan tiap dari mereka ruang lega untuk berkembang dan sekaligus bagi substansi itu sendiri untuk melangkah lebih jauh, menyentil tiap isu yang 'sayangnya' memang relevan untuk saat ini. Dengan diisi oleh salah satu cast berbasis teknologi motion-capture, Dawn of the Planet of the Apes hadir dengan kualitas yang terbaik di jajarannya, lengkap dengan Andy Serkis yang lagi-lagi begitu brilian sebagai Caesar. Menolak bermain aman, ini adalah sebuah perkawinan manis antara kulit serta isi yang penuh kecerdasan, emosi, drama, visual cantik, serta keseruan yang hadir saling melengkapi. Dawn of the Planet of the Apes is 'officially' the best summer blockbuster of the year, and one of the best of all time!


Tuesday, July 1, 2014

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Fault in Our Stars (2014)

"That’s the thing about pain. It demands to be felt." ~ Gus

Ada banyak film yang mengambil sebuah sudut pandang penderita kanker. Tahun ini, mereka kedatangan anggota baru, The Fault in Our Stars. Diadaptasi dari novel berjudul sama dari John Green, The Fault in Our Stars adalah sebuah romcom pahit-manis tentang romasa dua remaja pederita kanker, yang naskahnya ditulis oleh kolaborasi Scott Neustadter dan Michael H. Weber. Di bangku sutradara, ada nama Josh Boone, yang mungkin terdengar cukup asing, mengingat ini adalah karya kedua sang sutradara muda setelah romcom Stuck in Love. Sementara itu, lini cast-nya dipimpin oleh dua bintang muda, Shailene Woodley dan Ansel Elgort, plus pelakon veteran yang juga merupakan anak aktor Bruce Dern, Laura Dern.

Mengambil latar di Indianapolis, Indiana, The Fault in Our Stars adalah kisah dari sudut pandang seorang gadis 16 tahun, Hazel Graze Lancaster (Shailene Woodley). Ia bukanlah gadis biasa, di tengah usianya yang belia, ia harus berjuang melawan kanker tiroid yang kini telah menjalar hingga paru-parunya, yang memaksa Hazel untuk terus bernapas melalui selang dari tabung oksigen yang selalu ia bawa kemanapun. Ibunya, Frannie Lancaster (Laura Dern), percaya bahwa Hazel tengah mengalami depresi, dan memutuskan untuk memasukkan Hazel ke dalam support group di mana orang-orang seperti dia berkumpul. Meski Hazel awalnya menolak, dengan terpaksa ia pun bergabung dengan kelompok tersebut, hanya agar ibunya senang.


Ketika telah bergabung dengan support group tersebut, ia tak merasa banyak perubahan dalam kehidupannya yang ia anggap membosankan, kecuali ia harus pergi ke support group, yang menurutnya malah membuat hidupnya tambah membosankan. Tapi, itu tak bertahan lama. Hidupnya seketika berubah, setelah pertemuannya dengan anggota baru kelompok tersebut, Augustus 'Gus' Walters (Ansel Elgort), seorang penderita kanker tulang yang berhasil bertahan hidup setelah ia mengamputasi kaki kirinya. Tak seperti lainnya, Gus adalah pribadi menyenangkan, yang membuat mereka berdua menjadi cepat akrab. Mereka bertukar pikiran, hingga bertukar hobi masing-masing. Salah satunya adalah saat Hazel memberi Gus novel favoritnya yang berjudul An Imperial Affliction karya Peter Van Houten (Willem Dafoe). Sampai di titik ini, Hazel mungkin saja akan mendapatkan kejutan terbesar dalam hidupnya.

Ya, sebagai romansa remaja berbumbu drama pilu, ini mungkin sedikit cheesy. Tapi, apakah ini dangkal? Sama sekali tidak. Naskahnya begitu sederhana, tak banyak kompleksitas secara cerita, namun itu sama sekali bukan masalah, karena kisahnya sendiri telah menawarkan kompleksitas secara emosi yang mampu digali dengan baik. Di tengah tragedi yang datang silih berganti, ia rupanya masih punya banyak kekuatan untuk membawa humor-humornya yang penuh tawa. Takaran pengaduk emosi hadir dengan porsi pas, tanpa pernah terasa dikemas dengan berlebihan. Akhirnya, ini bukan melodrama yang luar biasa manipulatif, memang banyak mengunang air mata, namun The Fault in Our Stars lebih memilih membawa semuanya dengan kejujuran, membiarkan penonton hanyut dalam tiap karakter. The Fault in Our Stars memang dekat dengan kematian, namun ini sama sekali bukan tentang itu.


Tapi, meski memang tak memiliki struktur teramat kompleks, The Fault in Our Stars tetaplah menyimpan sebuah belokan tajam yang seketika merubah pandangan penonton. Awalnya, ini memang terlihat kisah tentang bagaimana agar permintaan terakhir Hazel dapat terpenuhi, namun ketika kita hampir sampai di titik itu, semuanya seketika berubah. Well, not that kind of shock you got from The Prestige, but still pretty shocking. Ada perubahan atmosfer yang benar-benar drastis, namun di sisi lain, ini membuat segala hal menjadi lebih berwarna, membuat The Fault in Our Stars tak melulu menyampaikan sebuah kisah yang itu-itu saja. Meski memang, secara keseluruhan naskahnya bukanlah hal yang luar biasa.

Arahan seorang Josh Boone sejujurnya, juga bukanlah suatu hal yang sangat istimewa. Tapi, perlu diakui, bahwa ia telah melakukan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Boone mampu membawa The Fault in Our Stars sebagai kisah yang bukan hanya dipenuhi kisah pilu dan kematian, tapi tetaplah sebuah romansa manis dan penuh cinta. Ia mampu bertutur sebuah kisah tentang sekumpulan manusia yang bergelut dan mencoba bertahan dari penyakitnya, namun di satu sisi tetap mampu menuturkan kisah yang kaya akan spirit positif dan ketika mencoba menggali sisi romansa, ia mampu membuat siapapun tersenyum sednri. Ini tetaplah sebuah tearjerker sejati, namun arahan Boone selalu ampuh dalam mengundang tawa yang hadir dengan ruang yang cukup banyak.


Sebagai sentral film ini, ada Shailene Woodley, yang telah teruji lewat The Descendants, sekali lagi memberikan penampilan manis dan memilukan sebagai Hazel Grace. Dengan tabung oksigen yang ia bawa kemanapun, ia bukan tipe wanita cengeng yang hanya ingin dikasihani, Woodley berhasil mendefinisikan sosok wanita pemberani dalam dunia 'nyata', tanpa harus bergulat dengan stereotip wanita berfisik sempurna, tanpa perlu terus terjebak dengan karakter sejenis Erin Brockovich atau Natasha Romanoff. Well, although the buzz is not that strong, this role might give her another chance for her first Oscar nomination, after AMPAS failed to recognize her in The Descendants.

Shailene Woodley bukan satu-satunya penampil memukau di sini. Ya, di lain sisi, karakter Shailene Woodley sendiri juga hidup berkat kharisma Ansel Elgort. Lewat Augustus, Elgort mampu membawa tiap keceriaan dalam kisah pedih ini. Diluar keadaannya, ia adalah sosok kharismatik, ceria, doyan berkelakar dengan senyuman pembunuh. Ia adalah penggombal luar biasa dengan perkataan-perkataan puitis, namun kita tahu bahwa itu semua memang datang dari dalam dirinya. Bagian terbaiknya ada ketika Woodley dan Elgort berada dalam satu frame. Tak hanya kokoh, chemistry yang terbentuk terasa sangat tulus, yang mungkin mampu membuat siapun lupa bahwa apa yang ada di depan mata mereka bukanlah sesuatu yang nyata.


Tapi, adalah Laura Dern yang memberikan penampilan 'menyakitkan', meski ia merupakan salah satu karakter yang hadir dengan keadaan sempurna. Seperti yang Hazel katakan sendiri, "the only thing worse than biting it from cancer was having a kid bite it from cancer," dan ia memang benar. Look at her facial expressions. Setiap saat, ia mungkin terlihat ceria. Ia selalu tersenyum, tapi tentu senyum itu semua hanyalah cerminan dari apa yang ia telah lewati selama ini. Semua tahu bahwa di wajahnya tersembunyi sakit yang luar biasa, namun ajaibnya senyum dan optimisme itu tetap ada. Screentime yang ia miliki boleh jadi tak lama, tapi dengan penampilan memukaunya, ia mampu membekas di hati siapa saja.

Ini memang bukan romansa coming-of-age terbaik yang pernah ada. Sebagai tontonan coming-of-age pula, ini belum bisa menyentuh level yang pernah diraih The Spectacular Now atau pun The Perks of Being Wallflower. Tapi, sebagai sebuah romansa tearjerker khas remaja, The Fault in Our Stars is an emotional rollercoaster anyone could ask for. Cengeng? Ya. Tapi, apa salahnya? Toh, ia tak pernah melakukannya dengan berlebihan. Hadir dengan porsi cukup seimbang, banyak tawa yang tercipta di perjalanannya menuju sebuah kisah cinta manis-pahitnya. Cast-nya gemilang dengan chemistry Shailene Woodley dan Ansel Elgort yang tak terpisahkan serta Laura Dern yang tak boleh dilewatkan. Naskahnya mungkin bukan sebuah terobosan, tapi sebagai sebuah adaptasi novel, kesetiannya sudah lebih dari cukup. Sementara itu, arahan dari Boone juga mampu membawa penonton terhanyut dalam kisahnya, merasakan apa yang mereka rasakan, bersuka cita dan berduka bersama para karakternya. And, that's what matters most.



Saturday, June 28, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] Under the Skin (2014)

"You think I'm pretty?" ~ the Alien

Jika ditanya film apa yang paling saya tunggu di tahun ini? Maka inilah jawabannya. Under the Skin tak hanya membawa pesona-pesona film pemikir lain, ia juga membawa tema yang sebenarnya lebih pas dengan tipe film blockbuster yang kaya aksi. Ya, tak seperti film alien lain, ini adalah murni sebuah karya arthouse yang merupakan adaptasi lepas dari novel berjudul sama karya Michael Faber. Under the Skin sendiri ditangani oleh sineas Jonathan Glazer, dengan naskah adaptasi dari Walter Campbell. Di jajaran cast, Under the Skin dipimpin oleh nama Scarlett Johansson sebagai sang alien yang bersembunyi di bawah kulit seorang wanita cantik.

Under the Skin bertutur tentang seorang wanita (Scarlett Johansson), yang rupanya merupakan seorang alien berwujud wanita cantik yang sedang menyamar di suatu daerah di Skotlandia. Ia ditugaskan memerangkap para pria yang tergoda dengan kecantikannya, dengan sebuah perangkap berupa cairan hitam kental yang mampu 'memanen' tubuh mereka. Modusnya, dengan berpura-pura tersesat, menanyakan alamat pada para pria, dan menawarkan tumpangan pada mereka. Tapi, ia dihadapi keraguan akan tugasnya ketika ia bertemu dengan seorang calan korban yang merupakan penderita neurofibromatosis. Dari situ, sang alien yang awalnya hanya merupakan alat tanpa emosi, kini perlahan menumbuhkan sifat-sifat manusianya.


Dari distrik penulisan, Under the Skin memiliki screenplay yang rumit. Ia hadir dengan membawa kisah seorang alien di bumi, tapi bukan kisah alien biasa. Bahkan, mungkin saja ini tak berhubungan dengan alien sama sekali. Ya, banyak kemungkinan yang muncul jika membicarakan kisahnya. Bergelimpahan metafora yang kerap membingungkan, yang dibarengi dengan dialog miskinnya yang kalau dihitung-hitung hanya terdiri atas 300 baris saja, Under the Skin jelas mempunyai naskah yang tidak dapat dilahap begitu saja. Naskah gubahan Walter Campbell ini memang butuh tenaga yang benar-benar ekstra untuk dimengerti, tapi tak lantas ini membuat Under the Skin menjadi film yang tak tentu arah hanya karena naskahnya. Justru, naskah ini tahu persis arah yang ia tuju, dan hal ini lah yang mampu membuat Under the Skin bersinar terang, menjadi salah satu film terbaik tahun ini.

Sebenarnya, Walter Campbell memiliki waktu kapan saja untuk memberikan penjelasan bagi tiap anak sungai plotnya. Fortunately, he didn't do it. Sebaliknya, ia lebih memilih untuk bermain-main dengan temanya. Dengan dialog yang sepi, banyak ruang yang terbuka baginya untuk mengembangkan tiap simbolisme yang bukan hanya bekerja sebagai ornamen yang mempercantik cerita, tapi menjadi bagian krusial yang membangun sebuah cerita. Ya, pondasi film ini adalah interpretasi dari tiap mata yang menontonnya, inilah yang membedakan Under the Skin dengan film bertema serupa. Para penonton dituntut untuk terus melihat tiap detail dalam cerita. Apa yang terjadi ketika Johansson memakan cake-nya? Siapa wanita yang pakaiannya ia lucuti? Mengapa ia mengangis? Siapa si pengendara motor itu? Mengapa setelah beberapa waktu ia memutuskan untuk berjalan kaki ketimbang mengendarai vannya? Kita memang tak pernah diberitahu apa yang sedang terjadi, namun hal-hal kecil tersebut sebenarnya dapat menuntun kita dalam perjalanan menelusuri labirin ini.


Di tangan Glazer lah karya jenius itu dapat tercipta. Dimulai sejak opening sequence, Under the Skin telah menghipnotis saya. Dibuka dengan cahaya dari kejauhan, kemudian perlahan tampak seperti rupa gerhana, yang akhirnya menampilkan visual mata manusia, yang ditemani suara Johansson berlatih bahasa manusia. Ya, ini mungkin adalah sekuen penciptaan alien terbaik yang pernah ada. Dengan hanya mengandalkan visual cantik itu, Glazer mencoba menggali imajinasi liar kita tentang sebuah penciptaan alien yang benar-benar lain dari pada yang lain. Ia menuntun kita ke sebuah awal perjalanan epik yang nantinya akan mengawali kisahnya yang misterius dan dingin. Ini mungkin sederhana, tapi di balik itu, pembuka ini menimbulkan sensasi yang luar biasa.

Ketika masuk ke kisah utama, Glazer tak pernah sekalipun kehilangan pesonanya. Dengan diiringi sinematografi tenang serta musik latar mencekam penuh bunyi-bunyi aneh yang siap menciutkan nyali (one of the best soundtracks i've ever heard!), ia memerangkap pikiran kita ke sebuah rollercoaster yang tak henti-hentinya merangsang otak untuk terus berpikir. Dingin, itulah kata yang muncul pertama kali ketika mendeskripsikan arahan Glazer. Glazer memang tak memikirkan akal sehat penonton yang mungkin terus bergejolak sepanjang film, sebaliknya, penonton lah yang harus terus mengikuti menit tiap menit, mengikuti alam liar dalam kepala Glazer, mengikuti alur gila yang akan ia ceritakan. Ia mampu menggambarkan tiap plot hanya dengan visual. Lihat bagaimana transisi Johansson, yang awalnya tak mengindahkan tangisan seorang bayi sekalipun. Tapi, momen terbaik ada ketika Johansson telah menemukan mangsa yang tepat. Seketika itu pula, Under the Skin menghipnotis penonton ke dalam dunia femme fatale yang sunyi, dingin, kaku, dan menghipnotis. Scene-scene ini banyak mengalami pengulangan, namun dengan tambahan ornamen di tiap sekuennya, mampu membuat hal ini begitu menarik dan makin menghipnotis. 


Tapi, siapa pun rasanya akan terhipnotis dengan pesona Scarlett Johansson. Di sini, ia adalah kebalikan dari Samantha dalam Her yang hanya menampilkan suara tanpa wujud. Sebagai seorang alien sekaligus perwujudan femme fatale, ia sangat hemat dalam berbicara, sebaliknya ia benar-benar memanfaatkan tiap bahasa tubuh, lengkap dengan pandangan kosong namun tetap tajam. Sebagai seorang wanita seduktif, ia ganas tanpa harus berkata-kata. Taktiknya cerdas tanpa perlu usaha berlebih. Sebagai seorang alien, ia seperti bayi yang baru lahir. Kita dapat merasakannya terasing di dunia yang ia belum kenali, ia harus beradaptasi dengan tiap perubahan. Tapi, perlahan sifatnya mulai tergerus dengan sifat-sifat manusia. Ia memang masih berlaku layaknya robot yang super kaku, tapi ia juga seperti manusia lain yang memiliki simpati. Dan ketika itu terjadi, pelan-pelan penonton membalasnya dengan simpati pada sang alien, dan merasakan yang ia rasakan. Ini jelas bukan suatu pekerjaan yang mudah dilakukan, namun Johansson mampu membuatnya terlihat begitu mudah. Scarlett Johansson, once again, with this mesmerizing work, she gives us a proof that she's the one to watch in this biz. 

Salah satu yang saya kagumi dari film ini adalah Glazer tak pernah menceritakan apa yang terjadi. Semuanya terjadi mengalir begitu saja. Ia memberikan kuasa bagi kita untuk terus meraba-raba, menerka apa yang sedang ia ceritakan. Kemudian merangkai dengan berbagai petunjuk yang ia berikan. Belum lagi, dengan dialog-dialog miskin di dalamnya, yang membuat penonton hanya mengandalkan visual-visualnya yang absurd. Menonton Under the Skin tak ubahnya sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle yang berserakan di mana-mana. Kita harus menemukan tiap kepingan itu terlebih dahulu, mencari dan meraba tiap ruang dan sela, kemudian menyusunnya. Tentu, dalam hal ini, ini merupakan pekerjaan susah-gampang.


Memang, film ini bukan untuk semua orang, segmented, terbatas. Kalau anda salah satu orang yang melakukan walkout ketika menonton Tree of Life, maka ini bukan film untuk anda. Kalau anda adalah orang yang tidur sepanjang menonton 2001: A Space Odyssey, makan anda bukan orang yang tepat. Kalau anda adalah orang yang mencaci maki Holy Motors hanya karena tak mengerti apa yang sedang terjadi, anda juga bukan sasaran film ini. Under the Skin memang membutuhkan kesabaran yang tinggi, tak hanya membutuhkan penonton yang sekadar menonton dan menerima apa yang mereka lihat, film ini  butuh penonton yang siap merasa bosan, bukan hanya mengambil apa yang ada di depan mata, namun dapat memproses setiap pergerakan di dalam layar.

Pada akhirnya, Under the Skin adalah momentum selebrasi bagi siapapun penggemar jenis film ini. Pengarahan Glazer banyak dipengaruhi para sineas pemikir lain, dari Stanley Kubrick yang penuh metafora, sampai David Lynch yang sudah benar-benar di luar batas kewajaran (meski di sini Glazer tak pernah benar-benar memasuki dunia David Lynch yang luar biasa absurd). Menonton karya Glazer tak ubahnya mendapatkan sensasi absurd dari Holy Motors, menegangkan a la The Shining, sunyi sesunyi Amour, penuh permainan metafora layaknya 2001: A Space Odyssey, hingga kaya musik mencekam seperti Upstream Color. Tapi, sejujurnya, Under the Skin juga lebih dari itu. Hal-hal itu hanyalah impresi yang dihasikan oleh sebuah kisah mencekam yang dapat menceritakan kisahnya tanpa kata-kata. Penuh pemikiran, kental akan esensi-esensi artistik, seduktif, atmosfernya dingin dengan Scarlett Johansson yang tak kalah dingin, Under the Skin berhasil mencerminkan sebuah karya yang menuntut ketelitian dan kesempurnaan di tiap aspek (nearly, at least).

Tagged under: , , , , , , , ,

[Review] How to Train Your Dragon 2 (2014)

 "You have the heart of a chief. And the soul of a dragon." ~ Valka

Kalau saja tak rilis di tahun yang sama, DreamWorks bisa jadi membawa pulang Oscar untuk How to Train Your Dragon. Memang tak bisa disalahkan, karena di tahun itu ada Pixar dengan Toy Story 3 yang amat luar biasa. Tapi, siapa sangka How to Train Your Dragon mampu tampil luar biasa tahun itu, baik secara kualitas dan kuantitas. Meski harus mengalah dengan studio kompetitor terbesarnya, siapa pun tak dapat melupakan bagaimana How to Train Your Dragon, yang dari judulnya saja terdengar aneh, mampu menjelma menjadi salah satu karya terbaik yang pernah studio animasi ini hasilkan.

Kini, mengekor kesuksesan 'sang kakak', DreamWorks Animation menelurkan sekuelnya, How to Train Your Dragon 2. Selama ini kita selalu mendengar asumsi bahwa sekuel selalu buruk dan dibuat hanya untuk mengejar pundi-pundi dollar semata. Well, that's half true, sebagian besar sekuel hadir dengan kualitas menyedihkan dibanding pendahulunya. But, that's also half not-true. Beberapa di antaranya, mampu dikemas dengan kualitas yang dapat menyamai, bahkan dapat melampaui kualitas si predcessor. Aliens, Evil Dead 2, Spiderman 2, X-Men 2, Before Sunset, The Dark Knight, that legendary Godfather: Part II, and the list goes on... Pertanyaannya, mampukan How to Train Your Dragon 2 mengisi daftar sekuel mumpuni lain, atau sebaliknya, makin memperbanyak daftar sekuel gagal yang tak ada habisnya?


How to Train Your Dragon 2 dibuka dengan narasi khas sekuel: sebuah perkenalan yang mengisahkan apa yang terjadi setelah kejadian di prekuelnya. Tepatnya, apa yang 5 tahun kemudian terjadi setelah Hiccup mampu menaklukkan Toothless. Ya, bangsa Viking telah berubah, tak ada lagi 'mindset' 'kill-or-be-killed', mereka telah mampu hidup berdampingan dengan para naga. Tak sampai di situ, sebagai ganti perlombaan menaklukkan naga, diadakanlah perlombaan menangkap domba-domba 'terbang' sembari menunggang naga peliharaan mereka.

Tapi, Hiccup (Jay Baruchel) berbeda dengan Astrid (America Ferrera), Snotlout (Jonah Hill), Fishlegs (Christopher Mintz-Plasse), Tuffnut (T.J. Miller), dan Ruffnut (Kristen Wiig) yang sibuk dengan permainan mereka. Ia lebih memilih menyendiri bersama Toothless, dan asyik sendiri dengan dunianya, menunggangi Toothless sembari memperlihatkan aksi-aksi akrobatik dan menjelajahi dunia yang belum pernah siapapun pijaki. Dunia ini mengarahkannya pada sebuah daerah rahasia tempat naga-naga liar tinggal, di saat itu pula ia mengetahui bahwa ada seorang kejam bernama Drago Bludvist (Djimon Hounsou) yang ingin menguasai seluruh naga itu. Hiccup dan kawan-kawannya pun terjebak dalam sebuah peperangan yang bukan hanya mempertaruhkan kelangsunganhidup para naga, tapi juga dapat mengorbankan nyawa bangsa Viking.


Secara keseluruhan, How to Train Your Dragon 2 memang tak menghadirkan plot yang imaginatif dan out-of-the-box a la saingannya Pixar. Sebaliknya ia memanfaatkan plot yang sebenarnya cukup sederhana mengenai lost parent plus perjalanan bersama naga-naga, namun Dean DeBlois punya langkah-langkah istimewa dan di luar aman untuk menjadikannya sekuel yang dapat menandingi kualitas prekuelnya yang sudah sangat istimewa. DeBlois berhasil dalam bermain-main dengan porsi drama yang lebih digali, selagi makin mengukuhkan nama Hiccup sebagai sang pemberani sekaligus Toothless sebagai naga loyal dan tak kenal rasa takut. Penuh suka cita, dengan suntikan-suntikan emosi yang hadir meyakinkan. Hasilnya, sebuah kisah tak baru namun punya daya magis yang mampu membuat siapapun tak kuasa menolak pesonanya.

Ini adalah eksploitasi drama yang pas, emosional dan mengaduk perasaan penonton, namun dapat diimbangi dengan porsi humor yang menggelitik dan aksi-aksi akrobatik yang menawan. Semuanya hadir dengan dosis rasional, membuat siapapun mampu tertawa terbahak-bahak meski dengan keadaan mata sembab. Mungkin kita dapat mengkritisi plot 'alpha' yang jelas-jelas merupakan sebuah plot device untuk mencapai titik emosional yang diperlukan, tapi toh akhirnya hal itu mampu mengaduk-aduk emosi dengan baik, jadi tak ada yang harus dipermasalahkan. Tapi, di luar itu, sekuel ini juga sebenarnya bukanlah karya sempurna. Karakter Astrid hadir dengan ruang yang kurang untuk berkembang lebih jauh, masalah juga ada pada sifat keras kepala Hiccup, yang kadang memang terasa menyebalkan karena kurangnya penjelasan.


Tapi hal-hal itu tak mengurangi kenyataan bahwa film ini adalah animasi yang solid. Salah satu alasannya, adalah karena DeBlois memegang tiap kuasa di sini. Ia bukan hanya sekadar penulis yang berkutat dengan bagaimana membuat sebuah cerita berkelas, ia juga seorang sutradara, seorang pemegang kunci dan penerjemah tiap lembar naskah dan menjadikannya tontonan istimewa sesuai dengan visinya. Dengan kekuasannya yang 'tak terbatas', DeBlois mampu memanfaatkan itu untuk menjadikan How to Train Your Dragon 2 sebuah perjalanan combo genre, lengkap dengan pacing halus. Letupan-letupan emosi yang mengisi tiap drama mampu dikemas dengan sangat baik, bergantian dengan aksi-aksi yang kian mengokohkan intensitasnya. Dengan kemampuannya pula, ia berhasil mengembangkan konflik yang kian dewasa dan besar, yang tak hanya melibatkan krisis diri Hiccup seorang saja, tapi menampilkan perjalanan karakter luar biasa dari sang tokoh utama, Toothless. Bukan lagi from zero to hero, melainkan from hero to even greater hero. From an exciting adventure to more exciting adventure.

Kualitas voice cast-nya masih hadir dengan kualitas gemilang, di tambah kehadiran beberapa 'pendatang baru' dalam franchise ini. Salah satunya adalah Cate Blanchett, yang hadir dengan performa menakjubkan sebagai the lost mother sekaligus the true badass, seorang pahlawan yang bukan hanya menumpas kegelapan, tapi di sisi lain, ia punya depth dan kekuatan emosi yang tinggi. Salah satu hal yang patut dipuji adalah bagaimana DeBlois perlahan memasukkan karakter ini dalam cerita. Di awal memang canggung, namun perkenalan ini membawa hawa misterius yang begitu sesak sekaligus memancing tanda tanya besar penonton. Suatu hal yang luar biasa dalam memperkenalkan seorang badass! Jangan tanya lainnya, karena yang pasti, semua mampu menjalankan tiap tugasnya begitu baik. Dari Jay Baruchel hingga Gerard Butler, mampu mengisi porsi drama dengan baik, sementara trio Kristen Wiig, Jonah Hil, dan Christopher Mintz-Plasse juga sukses membawa relief-relief komikal yang menghibur dan sesak tawa.


Salah satu peningkatan pesat lain, tentunya ada di tangan teknis. Dibanding kualitas animasi predecessor yang dulu dikritisi kualitasnya karena tak mencerminkan studio sebesar DreamWorks Animation, kini tentu mereka belajar lebih jauh, dengan kualitas yang lebih halus dan eye-candy di atas sang pendahulu. Lihat rupa Hiccup serta Astrid yang kini kian matang dan lebih realistis. Tak berhenti di situ, How to Train Your Dragon juga punya jajaran-jajaran teknis lain yang tak kalah solid. John Powell, komposer langganan DreamWorks nyatanya memiliki ribuan cara yang tak habis-habisnya menemani tiap aksi agar berjalan lebih epik, dengan lantunan nada orkestra megah yang menggebu-gebu dan ornamen etnik di sana-sini.

Ini memang luar biasa. How to Train Your Dragon 2 bukan hanya melulu tentang sebuah animasi penghibur segala umur yang mujarab. Di sisi lain, film ini tetap membawa drama penuh kehangatan dan pesan moral yang tetap kaya, yang semuanya mampu ditata rapi dalam screenplay-nya yang padat dan arahan DeBlois yang memikat. Secara kisah, tak ada sesuatu yang inventif, namun dengan pengemasan mumpuni, How to Train Your Dragon 2 adalah perjalanan menyenangkan dan penuh daya magis, mampu bermain di luar aman dengan ornamen-ornamen yang kian matang dan menyenangkan dengan bantuan jajaran teknis yang jauh di atas level pendahulunya. Yeah, this is an extremely fun ride, and also a proof that 'the sequel curse' is an outdated assumption!