Monday, August 20, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Hot Fuzz (2007)

"I may not be a man of God, but I know right and I know wrong and I have the good grace to know which is which." ~ Nicholas Angel

Setelah pada tahun 2004 Edgar Wright menyutradarai film horor zombie komedi, Shaun of the Dead yang sukses secara kritik maupun finansial (khususnya untuk Inggris dan Amerika Serikat), 3 tahun kemudian ia muncul kembali lewat Hot Fuzz. Kali ini, tak ada zombie lagi, namun ia masih bekerja dengan dua pemeran dalam Shaun of the Dead, Simon Pegg, yang merangkap sebagai pemeran utama sekaligus penulis naskah bersama dengan Edgar Wright serta Nick Frost, yang lagi-lagi sebagai partner Simon Pegg.

Hidup Nicholas Angel sebagai seorang polisi rasanya sangatlah sempurna. Bagaimana tidak? Unggul latihan medan khususnya dalam hal keamanan kota dan kontrol kerusuhan, unggul pula dalam bidang akademis, mendapat 9 penghargaan khusus dalam 12 bulan terakhir, cepat membangun kefektifan dan popularitas di masyarakat, jago dalam hal mengendarai mobil dan sepeda, pemegang rekor lari 100m hingga kini, dan yang terpenting, merupakan petugas dengan rekor penangkapan penjahat tertinggi, 400% diatas petugas lainnya. Sayangnya, kehidupan percintaannya tidaklah sesempurna kehidupan profesinya.


Suatu hari, berita baik datang. Ia diangkat menjadi sersan. Tapi, ada pula berita buruknya. Ia dimutasi dari London ke sebuah desa bernama Sanford, Gloucestershire. Sandshire sendiri merupakan sebuah desa kecil yang memenangkan Village of the Year berkali-kali serta memiliki tingkat kriminalitas yang sangat rendah. Tentu saja awalnya Angel (ya, mungkin sebaiknya kita panggil Nicholas saja, haha) tak setuju akan ini, namun tak ada pilihan lain, ia harus pindah ke Sandford. 

Di Sandford, ia bekerja dengan rekan-rekan kerja baru, seperti PC Danny Butterman (Nick Frost), polisi berbadan subur yang nantinya (seperti biasa) akan menjadi partner Nicholas. Selain Danny, juga ada ayah Danny, Inspektur Frank Butterman (Jim Broadbent). Selain keluarga polisi ini, ada pula PC Doris Thatcher (Olivia Colman), PC Bob Walker (Karl Johnson), Detektif Sersan Wainwright (Paddy Considine), Detektif Constable Cartwright (Rafe Spall), dan Sersan Tony Fisher (Kevin Eldon).


Keadaan antara London dengan Sandford tentulah sangat berbeda. Ini pula lah yang dirasakan oleh Nicholas. Tak ada kasus-kasus besar seperi biasanya, paling-paling hanya kasus kehilangan, dan yang hilang pun bukan manusia, melainkan seekor angsa. Sampai suatu hari, pengacara kondang Martin Blower dan selingkuhannya Eve Draper yang merupakan seorang pekerja di dewan lokal, ditemukan terpenggal kepalanya. Nicholas meyakininya sebagai pembunuhan daripada kecelakaan, apalagi setelahnya banyak lagi kasus 'kecelakaan' bermunculan, tapi sayangnya, polisi lain malah menganngap ini hanyalah sebuah kecelakaan.

Hot Fuzz mungkin salah satu film komedi yang tak hanya menjual kekonyolan, tapi juga mengajak penontonnya berpikir, layaknya film komedi lawas sejenis tahun 1985, Clue. Tak hanya menonjolkan sisi misteri dan crime yang membuat kita penasaran sekaligus berpikir, Hot Fuzz juga menggabungkan unsur action ke dalam film ini, unsur yang tak ada dalam film Clue.


Awalnya, Hot Fuzz memang terlihat film tentang polisi yang paling manusiawi: tak ada penjahat besar, kejar-kejaran dengan buronan, maupun baku tembak antar polisi dengan pelaku kriminal. Namun perlahan, Hot Fuzz mulai menampakkan batang hidungnya. Jika diibaratkan, Hot Fuzz bagaikan sebuah bom waktu, yang dapat meledak sesuai dengan waktu yang ditentukan dan ketika waktunya tiba, maka BLAM! 'Bom' tersebut akan mengeluarkan segalanya, sekaligus action seru dan layaknya film detektif-detektifan lainnya: twist, meski memang tak se-shocking Incendies ataupun The Prestige.

Hot Fuzz sebenarnya mengingatkan saya kepada Shaun of the Death, selain karena adanya trio Wright, Pegg, serta Frost, juga terutama pada teknik hip-hop montage dinamisnya yang mendominasi. Selain di Shaun of the Death, hip-hop montage pernah dipakai oleh Darren Aronofsky dalam film Requiem for a Dream (2000) yang kemudian menjadikan teknik ini populer. Hip-hop montage sendiri merupakan teknik yang merupakan hasil dari pemotongan editing yang cepat, close-up (sesekali juga memakai frantic zoom), serta suara tajam. Bukan hanya itu, film ini juga memakai match cut yang juga pernah dipakai dalam 2001: A Space Odyssey milik Stanley Kubrick.


Frost, sebagai penyumbang porsi komedi terbanyak terbilang berhasil dalam membuat penontonnya untuk tak menahan tawanya. Tak hanya Frost tentunya, aksi-aksi konyol karakter lain juga cukup membuat tawa membludak, tak terkecuali para rekan Danny dan Nicholas. Belum cukup? Tampaknya action yang dibawakan Hot Fuzz juga efektif untuk membuat anda tertawa. Dalam hal komedi, Hot Fuzz tidaklah menawarkan komedi yang kasar, kotor, dan brengsek, namun lebih menawarkan komedi yang lebih sopan namun berhasil mengundang tawa. Salah satu yang saya suka adalah scene 'not Janine'.

Wright dan Pegg selaku screenwriter ternyata belum mau melepas unsur dari Shaun of the Dead yang satu ini. Darah, potongan tubuh, mayat, dan segala hal yang berbau gory. Meski menawarkan komedi yang terbilang sopan, unsur gorynya justru tampil lebih sadis dan eksplisit, meski tidak kebagian banyak porsi. Semua kesadisan ini juga berkat andil special effectnya yang sangat bagus, khususnya untuk film dengan budget 8 juta euro. Sebenarnya jejak Shaun of the Dead bukan hanya sentuhan gory, masih ingat pub?


Berbicara tentang Hot Fuzz maupun Shaun of the Dead tentu tak akan afdol jika tak membicarakan bromace dari Pegg dan Frost. Chemistry yang dihasilkan keduanya tampil dengan sangat solid sebagai sepasang partner. Bukan hanya tampil solid dalam setiap adegan komedi serta action, namun juga dalam porsi emosional yang ditampilkan. Di Hot Fuzz bukan hanya ada bromance antara Nicholas dan Danny, tapi juga antara duo Andes, meski sayangnya tak terlalu dikembangkan.

Hot Fuzz, memang belum sefenomenal si horor zombie Shaun of the Dead, namun tetap saja Hot Fuzz sangat berhasil bukan hanya dalam hal membuat penonton tertawa, namun juga dalam actionnya yang seru dan bagaikan bom waktu itu. Jangan pula lupakan chemistry kuat antara Pegg dan Frost plus nuansa gory yang ditawarkan. Sungguh suatu perpaduan yang luar biasa.

8.0/10

Thursday, August 16, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Dark Knight Rises (2012)

"I do fear death. I fear dying in here, while my city burns, and there's no one there to save it." ~ Bruce Wayne

Batman dan Christopher Nolan. Suatu hal yang sampai saat ini kita tahu tak akan dapat terpisahkan. 'Kolaborasi' ini memang begitu fenomenal. Karirnya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah dimulai pada tahun 1997 dengan film pendek Doodlebug. Doodlebug merupakan film yang aneh, mungkin salah satu film paling aneh yang pernah saya tonton. Di balik kata 'aneh'-nya itu, sebenarnya Doodlebug memiliki cerita yang sangat-sangat sederhana, bahkan mungkin semua orang pernah melakukannya. Oke, saya mulai out of the topic

Semua kisah Batman yang legendaris itu dimulai saat tahun 2005, saat film berjudul Batman Begins yang dibintangi Christian Bale sebagai Batman rilis. Film ini tentu mendapatkan sambutan yang sangat hangat. Di tahun 2008, akhirnya rilis sekuel dari Batman Begins, yaitu The Dark Knight. Dalam film ini, muncullah The Joker yang diperankan oleh mendiang Heath Ledger. Semua orang pasti tahu dengan karakter y ang tak terlupakan ini. Sesuai judul film yang pertama, yaitu Batman Begins, pastilah akan ada sebuah penutup. Ya, sebagai penutup dari trilogi Batman ini, pada tahun 2012, rilislah The Dark Knight Rises.


The Dark Knight Rises bercerita tentang kehidupan Kota Gotham setelah jaksa Harvey Dent, yang dianggap sebagai pahlawan Kota Gotham tewas di tangan Bruce Wayne alias Batman (Christian Bale). Delapan tahun sejak kematiannya, delapan tahun pula Batman tak pernah menampakkan batang hidungnya. Delapan tahun pula, Batman terus-terusan dianggap sebagai penyebab utama tewasnya Harvey Dent. Di sisi lain, muncullah Bane (Tom Hardy), teroris sekaligus villain baru bagi Kota Gotham. Keadaan inilah yang akhirnya memaksa Batman untuk keluar dari persembunyiannya.

Selain itu, terdapat pula Selina Kyle alias Catwoman. Karakter 'abu-abu' ini diperankan oleh Anne Hathaway. Tak ketinggalan, terdapat pula aktor veteran dari Inception, seperti Joseph Gordon-Levitt yang berperan sebagai polisi muda yatim piatu John Blake serta Marion Cotillard sebagai Miranda Tate, salah seorang anggota Wayne Enterprises. Sementara karakter Alfred dan Lucius Fox masih diperankan oleh dua aktor kawakan, Michael Caine dan Morgan Freeman.


Memang, tak akan ada yang dapat menggantikan karakter Joker versi Heath Ledger. Bahkan, sampai-sampai Oscar pun mengapresiasi peran mendiang Heath Ledger ini dengan memberinya penghargaan Best Supproting Actor. Karakternya yang licik, gila, sintang, namun cerdas memang sangat melekat di ingatan kita. Apalagi didukung oleh penampilannya yang khas itu: tubuh berbalut overcoat ungu dengan mulut robek dan make-up ala badut yang amburadul plus rambut acak-acakan. Lalu, apakah karakter villain gila dari film sebelumnya ini tetap ada dalam The Dark Knight Rises?

Ya, tentu saja. Seperti yang saya bilang sebelumnya, terdapat tokoh villain baru dalam The Dark Knight Rises, yaitu Bane. Lantas, bagaimana dengan Bane ini, mampukah ia menandingi Joker? Karakter yang diperankan oleh Tom Hardy ini jelas belum dapat mengungguli kesintingan Joker di The Dark Knight. Bane juga mempunya penampilan khas: kepala plontos, tubuh besar kekar, serta pengubah suara berbentuk aneh yang terpasang di kepalanya. Ya, meski tetap saja penampilannya yang super sangar itu masih belum dapat  mengalahkan kharisma Joekr yang bertubuh jauh lebih kecil itu. Tapi, tak dapat dipungkiri bahwa tetap saja Bane mampu meneror seluruh isi bioskop, sekaligus seluruh penduduk Kota Gotham pastinya.


Selain ada Bane, ada dua karakter lagi yang dapat kita highlight. Ada Selina Kyle si Catwoman serta John Blake si polisi muda. Di balik muka cantiknya, Selina Kyle merupakan seorang pencuri ulung. Karakter ini  unik, karena merupakan karakter 'abu-abu' dalam film. Di satu sisi, ia memang seorang pencuri serta kerap membantu Bane. Di sisi lain, ia juga kerap membantu Batman dalam setiap aksinya. Ya, bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda.

Nah, selain pencuri 'abu-abu' ini, juga terdapat John Blake, polisi muda yang kebetulan juga sama seperti Bruce Wayne yang yatim piatu. Awalnya, memang John Blake terasa tak terlalu ikut andil dalam film ini, alias tak terlalu penting. Namun, perlahan bersamaan dengan durasinya yang terus bergulir, siapa sangka bahwa tokoh protagonis ini menyimpan sesuatu? Ada lagi satu tokoh yang misterius, yang ternyata juga menyimpan rahasia, untuk kali ini, saya rahasiakan, haha.


Memang belum dapat mengalahkan masterpiece trilogi ini, The Dark Knight Rises. Namun, The Dark Knight tentu bukanlah The Dark Knight Rises. Kita tak dapat membandingkannya secara gamblang, apalagi mengingat The Dark Knight Rises hanya bertugas untuk menutup trilogi fenomenal Nolan ini. Tentulah ceritanya tak akan menandingi kakaknya, The Dark Knight.

Untuk masalah teknis, tentu anda akan puas dengan sajian Batman khas Nolan ini. Kendaraan serta senjata-senjata yang super duper canggih serta visual-effect yang juga tak kalah canggih, apalagi setiap momen itu ditemani oleh scoring-scoring jenius yang membahana karya Hans Zimmer, partner setia Nolan. Ya, semua itu makin terasa sempurna apalagi kalau bukan dilengkapi oleh teknologi sekelas IMAX. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, bukan?


The Dark Knight Rises saya akui merupakan sebuah penutup trilogi yang luar biasa. Christopher Nolan berhasil memberikan sebuah salam perpisahan yang sangat manis, pilu, sekaligus masih menyisakan misteri. Huh, sesuatu yang sangat khas Nolan. Terlebih The Dark Knight Rises ini merupakan film penutup yang juga ditutup oleh twist yang mengejutkan. Benar-benar perpaduan yang pas.

Ya, ternyata waktu yang saya butuhkan untuk menonton film ini, yaitu selama hampir 3 jam, tak terbuang dengan sia-sia. Nah, apakah proyek selanjutnya Nolan sebagai penulis naskah di kisah Superman, Man of Steel yang disutradarai Zack Snyder, yang rilis tahun depan akan sefenomenal kisah Batman ini? Atau bahkan akan ada pula trilogi dari Man of Steel? Well, kita tunggu saja.

8.5/10

Sunday, August 12, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Psycho (1960)

"Mother! Oh God, mother! Blood! Blood!" ~ Norman Bates

Memang sangat tak salah jika menyebut Alfred Hitchcock sebagai 'The Master of Suspense'. Sutradara kelahiran 13 Agustus 1899 ini memang mendunia berkat karya-karya suspensenya. Tercatat, ia bahkan telah menyutradarai lebih dari hampir 70 judul film dan tv series. Dari seluruh karyanya, ada beberapa yang begitu diingat para pecinta film, seperti Rear Window, Vertigo, The Bird, Dial M for Murder, serta North by Northwest merupakan film-film thriller klasik jenius yang sampai sekarang pun tak tergerus oleh jaman. 

Dari kesemua karyanya tersebut, mungkin Psycho merupakan karya jeniusnya yang paling diingat. Selain disutradari oleh Hitchcock, naskah film ini ditulis oleh Joseph Stefano. Filmnya sendiri merupakan adaptasi dari novel tahun 1959 berjudul sama karya Robert Bloch. Film yang rilis tahun 1960 dan berformat hitam putih ini mungkin memang memiliki momen momen paling memorable dari Hitchcock. Ada dua momen paling memorable sebenarnya dalam film ini, yaitu shower scene-nya serta... ah, tak istimewa rasanya jika saya beritahu secara blak-blakan di sini.


Wajah cantik dan tubuh langsing terawat, masih muda pula seakan merupakan senjata utama yang dapat membuat setiap wanita iri pada Marion (Janet Leigh). Tapi jangan tertipu dengan wajah cantik serta pakaian   putinya yang terasa begitu angelic itu. Seminggu sudah ia menghilang setelah mencuri uang milik klien bosnya.  Lila Crane (Vera Miles), kakaknya serta kekasih Marion, Sam Loomis (John Gavin) mencarinya. Bersama dengan seorang detektif swasta, Milton Arbogast (Martin Balsam), mereka berusaha mencari keberadaan Marion.

Penyelidikan Milton membawanya ke sebuah motel kecil yang dimilik sekaligus dikelola oleh Norman Bates (Anthony Perkins) yang tinggal berdua bersama ibunya di rumah besar yang terletak di belakang motel. Motelnya sendiri biasanya saja, tak ada sesuatu yang terlalu misterius. Kesan misterius malah ditampakkan oleh rumah besar 3 lantai milik keluarga Bates yang hanya ditempati Norman dan ibunya. Bukan hanya rumahnya, penghuninya, Norman serta ibunya pun tak kalah misteriusnya.


Di sisi lain, Lili bersama Sam memutuskan untuk berdiri sendiri untuk mencari keberadaan Marion. Dengan menyamar menjadi suami istri, mereka menginap di motel kecil milik Norman tadi. Mereka pun akhirnya menyelidiki kamar Marion dan menemukan sesuatu yang misterius. Tetapi, itu belum seberapa misteriusnya ketimbang apa yang akan mereka lihat nantinya.

Jenius. Setelah 109 menit menonton film ini, hanya kata itulah yang terucap dalam hati saya. Rasanya memang tak berlebihan orang-orang di luar sana yang mengelu-elukan film ini. Film ini memang tipe film yang mengajak penontonnya berpikir dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun saya yakin, bagi yang menonton film ini tanpa mengetahui spoilernya terlebih dahulu serta tak pernah menonton film sejenis, akan menebaknya dengan tidak tepat.


Setiap adegan thrill-nya selalu ditemani dengan tata musik yang psychedelic (ya, akhirnya saya tahu namanya) yang apik. Tata musik karya Bernard Herrmann yang membuat detak jantung bertambah cepat itu berhasil membawa saya ke sebuah suasana yang begitu menegangkan. Apalagi, scoring yang berada di ending juga shower scene. Tak hanya karena psychedelicnya yang begitu terasa, namun juga scene itu merupakan salah satu scene yang paling memorable, mengejutkan, sekaligus membuat penasaran. Ah, tapi bagi saya shower scene-nya memang merupakan scene yang paling fenomenal.

Tak hanya itu, sinematografi yang didukung oleh formatnya yang hitam putih itu juga turut andil dalam memberikan suasana menegangkan. Ya, meski sebenarnya Hitchcock mengaku bahwa alasan mengapa film ini berformat hitam putih adalah untuk menekan budget film serta mengurangi unsur gory dalam film. Hasilnya, film ini 'hanya' berbudget US$800.000, namun berpendapatan berkali-kali lipatnya, yaitu di atas angka 40 juta, dalam dollar tentunya.


Namun, entah mengapa, saya malah merasakan bahwa efek hitam putih ini sangat berperan untuk menambah ketegangan dan suasana misteriusnya. Efek hitam putih ini dapat dirasakan di endingnya, bahkan sinematografi tersebut lebih 'menggigit' lagi dapat anda temui saat 'shower scene', terlebih didukung oleh angle-angle yang tampak begitu apik di mata penonton. Tak ayal lagi, sinematografi arahan John L. Russell berhasil masuk nominasi Best Cinematography di ajang Oscar 1961, meski harus mengakui keunggulan sinematografi dari Sons and Lovers.

Tentu saja saya tak akan lupa membahas departemen aktingnya. Seluruh jajaran pemainnya berhasil bermain dengan sangat baik, terlebih bagi Janet Leigh serta Anthony Perkins. Janet Leigh bahkan dinominasikan untuk Best Supporting Actress, tentu saja di Oscar 1961. Anthony Perkins? Best momentnya sendiri berada di menit terakhir film. 


Psycho merupakan pelopor film-film thriller psikologis. Setelah film ini rilis dan mendapat sambutan hangat dari banyak orang, banyak bermunculan film-film yang thriller serupa bahkan hingga saat ini. Namun, tetap saja tak ada yang mampu mengalahkan pesona film ini sendiri, bahkan sekuel dan juga remakenya. 

Film ini seakan menjadi legenda yang tak akan tergerus oleh jaman, yang akan diingat terus bahkan sampai berabad abad kemudian. Ending mengejutkan, murder scene yang begitu memorable, scoring juara, sinematografi apik, hingga akting ciamik semua menjadi satu dalam film ini. Ah, tentu saja, penyutradaraan yang juga tak kalah apiknya. Sebuah karya jenius dari seorang sutradara jenius pula, Alfred Hitchcock. 

9.0/10

Sunday, July 29, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] Pi (1998)

"Restate my assumptions: One, Mathematics is the language of nature. Two, Everything around us can be represented and understood through numbers. Three: If you graph the numbers of any system, patterns emerge. Therefore, there are patterns everywhere in nature." ~ Max Cohen

Siapa yang tak tahu pi? Salah satu konstanta dalam matematika ini sampai sekarang masih menjadi misteri. Konstanta yang merupakan perbandingan antara keliling lingkaran dengan diameternya ini telah dipakai selama lebih dari 4000 tahun. Anehnya, sampai sekarang belum diketahui siapa penemunya. Menarik bukan? Ah, itu belum ada apa-apanya. 

Selama ini, kita mengenal pi hanya dengan 3,14 saja. Tetapi, sebetulnya 3,14 itu hanyalah pembulatan. Mau tau berapa angka yang sebenarnya? Sampai sekarang pun, belum ada yang berhasil memecahkannya. Hingga saat ini, rekor perhitungan nilai pi 'hanyalah' 5 triliun angka di belakang koma. Setelah itu? Tak ada yang tahu, bahkan mungkin saja pi ini memanglah tak berujung. 


Misteri inilah yang menarik seorang matematikawan yahudi, Maximilian Cohen (Sean Gullette) untuk menyingkap misteri ini. Max sangat yakin bahwa semua yang ada disekitar kita, dapat dijelaskan dengan alam, karena itu, baginya matematika adalah bahasa alam. Bisa dibilang, Max adalah orang jenius yang sangat terobsesi dengan angka. Bayangkan, ia mampu menghitung perkalian ratusan hanya dalam waktu 2 detik. Tanpa kalkulator,  tanpa menghitungnya di kertas, hanya dengan otaknya saja.


Tapi kehidupan Max tidaklah sesempurna itu. Ia adalah pengidap paranoid dan sering berhalusinasi mengenai hal-hal aneh. Ia juga merupakan tipe orang yang anti bersosialisi. Beralih ke pi. Ternyata, Max bukanlah satu-satunya orang yang ingin mengetahui angka pi sebenarnya. Ada Lenny Meyer (Ben Shenkmen) dan Marcy Dawson (Pamela Hart). Tentu saja tujuan mereka berbeda-beda. Marcy merupakan seorang wanita berjas yang menginginkan angka itu untuk (mungkin) tujuan ekonomi (karena memang tak pernah disebutkan tujuan ia sebenarnya. Sebaliknya, Lenny, seorang yahudi taat menginginkan angka itu untuk mengungkap nama asli Tuhan yang akan digunakan dalam sebuah ritual agama. Di sisi lain, ada pula Sol Robeson (Mark Margolis), mentor Max yang juga pernah berusaha menyingkap misteri pi ini, namun menyerah pada akhirnya.


Adalah sebuah perpaduan yang cerdas dari Aronofsky, yaitu ia menyelipkan tentang hal berbau mistis (dalam hal ini merupakan agama yahudi) di antara ilmu pasti (matematika) yang menjadi topik utama. Merupakan cara yang cerdas pula bagaimana Aronofsky menggambarkan karakter utamanya, Max yang super jenius, namun anti sosial dan paranoid. Di sini, ia menggambarkan tokoh yang mungkin terlihat sempurna, namun ternyata kenyataannya ia hidup dalam kesengsaraan, hal yang sama dengan apa yang kita lihat di film Black Swan. Keberhasilan ini tentu saja tak terlepas dari andil dari Sean Gullette.

Melalui alur cerita serta editing yang cepat, tata musik yang.. (entah apa namanya) berhasil menggiring kita ke   rasa paranoid Max. Ke sebuah dilema yang dihadapinya. Belum lagi penggunaan warna hitam putih yang juga menambah kesan kelam dalam film. Yah, menonton film ini bagaikan menyelam sedalam-dalamnya ke dalam otak Max, merasakan apa yang dia rasakan, merasakan pula apa yang ia pikirkan.


Pi adalah film yang cerdas tanpa harus berpura-pura cerdas. Aronofsky berhasil menyajikan semua yang ada dalam film ini tanpa harus berpikir terlalu keras (yah, meski 'berpikir' itu tetap ada). Kelam, hitam, sengsara, cerdas, namun menarik. Itulah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan debut film panjang Darren Aronofsky ini. Tak ada kekurangan yang saya cium dari film ini, kecuali (mungkin) satu-satunya kekurangan yang saya sadari dalam film ini adalah bagaimana 'HCl' (dengan L kecil), dilafalkan dengan 'HCI' (dengan i kapital), LOL.

9.0/10


Friday, June 15, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] Frozen (2010)

"Hmmm, smell that mountain air. You know what it smells like?... Cancer." ~ Joe Lynch

Frozen, merupakan film besutan sutradara Adam Green, yang juga merangkak sebagai penulis naskah. Premisnya benar-benar sederhana, kalau tak mau dibilang klise. Yah, tipikal film-film horor-thriller biasanya lah. Itu jugalah yang membuat saya tak terlalu mengekspektasikan film ini dengan ekspektasi setinggi langit. Nah, dengan premis sederhana itu apakah berarti Frozen seketika menjadi film low-budget ini menjadi buruk? Let's see!

Kisah mereka dimulai ketika sekelompok orang tak bermodal, Dan Walker (Kevin Zegers) serta kekasihnya, Parker O'Neil (Emma Bell) juga sahabatnya, Joe Lynch (Shawn Ashmore) memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan mereka dengan ber-snow-boarding ria di Gunung Holliston. Mengapa tak bermodal? Lihat saja tingkah Parker, satu-satunya perempuan diantara mereka yang terpaksa merayu petugas chairlift, Jason agar dapat naik chairlift tersebut bersama teman-temannya, hanya karena uang mereka tak mencukupi. Dan rencana gila itu akhirnya berhasil juga. Dalam perjalanan menuju atas gunung, chairlift itu sempat berhenti sejenak, namun akhirnya dapat kembali berjalan dan mengantarkan mereka sampai ke tujuan.


Malam hari telah tiba, mereka akhirnya memutuskan untuk turun gunung dengan chairlift itu lagi. Namun, ternyata chairlift tersebut telah tutup karena cuaca buruk. Beruntung, mereka bertemu kembali dengan petugas chairlift itu lagi dan kembali diperbolehkan untuk menaikinya. Beberapa saat kemudian, Jason dipanggil oleh bosnya yang kemudian ia digantkan oleh Rifkin. Sayangnya, terjadi sebuah kesalahpahaman dan Rifkin pun menutup tempat tersebut.


Sementara Dan dan kawan-kawannya masih berada dalam chairlift tersebut. Tentu saja chairlift itu mati. Mereka bertiga awalnya mengira bahwa kejadian ini sama seperti yang mereka alami sebelumnya. Tapi, tiba-tiba saja seluruh lampu dimatikan, pertanda tempat itu akan ditutup. Mereka panik, tak bisa kemana-kemana. Tak ada yang bisa menolong mereka, apalagi chairlift tersebut akan tutup selama 5 hari. Mereka hanya punya 2 pilihan: hidup atau mati. Mereka hanya bisa berdiam diri dan membeku pada akhirnya atau meninggalkan 'gondola udara' tersebut untuk menyelamatkan diri.

Sebelum membicarakan kekurangannya, mari bicarakan dulu kelebihannya. Departemen akting merupakan salah satu nilai plus film ini. Sama sekali tidak murahan, apalagi kalau dibandingkan film thriller atau horor lain.


Emma Bell berhak kita beri sedikit highlight dibading yang lain. Kepanikan dan ketakutan dapat tergambar jelas dari akting Emma Bell, yang sayangnya tak terlalu tampak saat ia membintangi Final Destination 5. Hal yang sama juga terjadi pada Shawn Ashmore, namun dengan karakter yang lebih berbeda. Kita dapat melihat evolusi karakter Shawn Ashmore, yang mula-mula merupakan badboy, perlahan berubah menjadi karakter hero. Dan terakhir, ada Kevin Zegers yang tentu tak bisa kita lupakan, meski hanya muncul sebentar.


Soal cerita, Frozen seperti berhasil menghadirkan cerita yang awalnya mungkin sederhana, namun karena simplicity-nya itu pulalah, kesan realistis-nya makin terasa. Jangan lupa, tata musiknya benar-benar pas menggambarkan segala suasana mencekam, kengerian, hingga kesedihan, bahkan juga hingga kita dapat seolah merasakan kesakitan karena fraktura. Ngilu! Tentu saja kombinasi semua ini berhasil menghadirkan thriller yang cukup menegangkan. Satu level diatas film thriller-thriller low-budget lainnya lah.

Frozen bukanlah film yang sempurna. Ada satu hal sebenarnya yang sangat mengganggu menurut saya, yaitu dialog. Dialognya bertele-tele, terlalu panjang, tak terlalu penting, tak to-the-point, bahkan terkesan hanya untuk memperpanjang durasi, apalagi saat awal-awal film. Tentu ini menimbulkan perasaan kebosanan bagai beberapa orang, termasuk juga bagi saya.


Sebenarnya, Frozen sangat berpotensi untuk menjadi film thriller yang sangat istimewa, hanya saja dialognya menjadi penghalang utama (tapi bukan berarti jelek, lumayanlah). Terlepas dari itu, Frozen tetaplah thriller low-budget yang cukup bagus dengan premisnya yang menawarkan sederhana namun realistis, dengan dukungan akting para pemerannya yang tidak murahan. Tentu saja film survival ini sangat patut untuk kita apresiasi.

6.5/10

Friday, June 8, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Adventures of Tintin (2011)

 "Failed. There are plenty of others willing to call you a failure. A fool. A loser. A hopeless souse. Don't you ever say it of yourself. You send out the wrong signal, that is what people pick up. Don't you understand? You care about something, you fight for it. You hit a wall, you push through it. There's something you need to know about failure, Tintin. You can never let it defeat you." ~ Kapten Haddock

Tintin. Siapa tak kenal dengan tokoh jurnalis muda ciptaan komikus Belgia, Hergé yang terkenal akan jambul pirangnya itu. Siapa pula tak kenal anjing lucu piaraannya, Milou (dikenal juga dengan nama Snowy) yang kerap membantunya dalam setiap penyelidikannya. Well, meskipun saya bukanlah salah satu penggemarnya (ya, meski pun saya memang pernah sih baca komiknya, itu pun sudah lupa baca komik yang mana, hehe), tapi siapa yang tak akan semangat bila kisah serial Tintin ini diangkat ke dalam sebuah film? Apalagi filmnya merupakan gabungan dari 3 episode sekaligus, yaitu 'The Crab with the Golden Claws' (1941), 'The Secret of the Unicorn' (1943), dan 'Red Rackham's Treasure' (1944).

Belum lagi filmnya dibuat menggunakan teknologi canggih, motion capture. Dan yang lebih hebatnya lagi, The Adventures of Tintin ini digarap oleh dua nama besar Hollywood, Steven Spielberg (Schindler's List, 1993) dan Peter Jackson (The Lord of the Rings trilogy, 2001, 2002, 2003). Kolaborasi dua sosok yang sama-sama pernah memenangkan 3 Oscar ini pastinya menjadi keistimewaan dan ketertarikan tersendiri. 


Filmnya diawali opening credit dengan Tintin versi 2 dimensi yang colorful, kemudian dilanjutkan dengan scene 'pamer' CGI (ya, meski jujur saja ini ada di seluruh durasi film). Betapa tidak, The Adventures of Tintin menghadirkan visual animasi yang bener-benar terlihat nyata. Setiap scene memperlihatkan animasinya yang benar-benar detail, bahkan hingga texture pakaian Tintin sekalipun. Wajar saja, karena film ini memakai teknologi motion-capture, sama seperti yang dipakai oleh The Polar Express, Avatar, ataupun Rise of the Planet of the Apes. Apalagi animasinya merupakan kreasi dari Weta Digital milik Peter Jackson, yang sudah tak usah lagi dipertanyakan kualitasnya.


Dalam film ini, tentu saja karakter Tintin, Snowy, dua detektif kembar identik Thomson dan Thompson, serta Kapten Haddock, menjelma menjadi makhluk 3 dimensi, dimana sebelumnya kita hanya bisa melihatnya dalam 2 dimensi saja, alias hanya dalam kertas.

Berawal dari kisah Tintin (Jamie Bell) serta anjing kesayangannya, Snowy yang sedang berjalan-jalan ke sebuah pasar. Saat itu, Tintin tertarik dengan sebuah miniatur kapal perang tua dari abd ke-17 bernama Unicorn dan akhirnya memutuskan untuk membelinya, apalagi harganya tergolong sangat murah. Setelah membelinya, ia kedatangan seorang pria bertubuh tambun yang mengatakan bahwa miniatur tersebut akan menggiring Tintin ke dalam bahaya besar.


Dan benar saja, selepas orang itu pergi, datanglah lagi seorang pria bernama Sakharine (Daniel Craig, and yes, as you can see, dialah tokoh antagonisnya) yang ingin membeli miniatur tersebut dari Tintin. Tentu saja, ia menolaknya mentah-mentah. Ternyata Sakharine belum puas jika miniatur tersebut belum ada di tangannya, hingga ia memakai segala cara untuk mendapatkan miniatur ini. Petualangan ini terus bergulir, hingga mempertemukan Tintin dengan seorang kapten kapal yang hobi mabuk-mabukan, Kapten Haddock (Andy Serkis), dan dari sinilah petualangan yang sesungguhnya terjadi.

The Adventures of Tintin saya akui memang merupakan film yang sangat seru. Seluruh petualangannya begitu kental dengan kesan 'have fun'. Tak ketinggalan juga dengan unsur-unsur komedinya, apalagi celetukan-celetukan Kapten Haddock yang pemabuk itu. Duo detektif kembar Thomson dan Thompson yang lugu dan bodoh. Serta Tintin dengan pembawaannya yang agak datar. Tak ketinggalan pula si Snowy alias Milou yang penuh loyalitas dan super lucu.


Kolaborasi yang berhasil. Steven Spielberg serta Peter Jackson berhasil menghidupkan kembali kisah lama ini. sekaligus sebuah penghormatan bagi Herge. Petualangan yang seru dan sangat komikal, dengan tetap tak meninggalkan segala kekhasannya, meski memang tak ada momen-momen yang mengetuk sisi emosional, segalanya pure petualangan. Salah satu film animasi favorit saya. Dan masih, Haddock dan Snowy tetap menjadi karakter paling favorit!

7.5/10


Wednesday, May 9, 2012

Tagged under: , , , ,

[Part 3] 15 Best Puzzling Plot Movies

This is the last part! And here are our choiches...


David Lynch memang masternya dalam bidang film-film surreal super aneh. Eraserhead inilah contohnya.  Ceritanya aneh, unik, dan gak biasa. Sampai saat ini, masih segudang pertanyaan yang belum terjawab dari film yang masih berformat hitam putih serta super duper miskin dialog ini. Mengapa anak mereka mutan? Apa sebenarnya benda menjijikkan itu? Siapakah sosok sebenarnya tetangga Henry? Mengapa ayam yang digoreng itu bisa bergerak-gerak sendiri dan mengeluarkan cairan menjijikkan? Apa hubungannya kepala manusia dengan pensil?




The Holy Mountain merupakan film berikutnya. Film karya Alejandro Jodorowsky ini memang aneh, dari awal hingga akhir durasinya. Layaknya El Topo, film ini juga kental akan aroma spiritual serta memang dipenuhi simbolisasi-simbolisasi aneh, bahkan terkadang terkesan erotis. Terserah anda mau bilang film ini unik, keren, jelek, aneh, gak jelas, erotis, dan lain-lain. Yang pasti, karya satu ini merupakan sebuah mahakarya yang luar biasa. Apalagi ditutup dengan quote memorable dari Jodorowsky. Ending yang sebenarnya sederhana sekaligus membuat anda berpikir, "loh, segini doang?". Dan, seperti yang saya katakan tadi, film ini gak jauh-jauh dari El Topo. Sama-sama film sakit, tapi film ini satu level lebih sakit daripada El Topo!




Tentu saja tak lengkap jika tak ada film bisu surreal legendaris ini. Film pendek tahun 1929 yang disutradarai oleh Luis Bunuel serta ditulis oleh Salvador Dali juga Luis Bunuel sendiri ini memang merupakan salah satu film surreal terbaik yang pernah ada. Seperti film surreal lainnya, Un Chien Andalou atau An Andalusian Dog ini memang dibumbui oleh simbolisasi-simbolisasi. Momen terbaik? Tentu saja saat scene mata yang diiris dengan pisau itu. Bunuel+Dali=Sinting!




2001: A Space Odyssey, bisa dibilang merupakan film sci-fi terbaik yang pernah ada. Dibuka dengan scene monyet-monyet purbakala yang kala itu menemukan sebuah benda hitam yang dikenal dengan nama 'monolith'. Setelahnya, kita diajak untuk maju secepat kilat ke tahun 2001, dimana manusia telah mencapai puncak kejayaannya, terlebih dalam bidang teknologi. Tapi, ternyata teknologi lah yang kemudian menghancurkan manusia itu sendiri. Endingnya? Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bukannya menjelaskan segalanya, malah menambah ruwet segalanya. Tapi, itulah yang membuat film dengan visual-effect 'wah' ini istimewa.





Mulholland Drive bisa dibilang merupakan film dengan puzzling plot favorit saya (termasuk yang salah satu terbaik juga menurut saya). Sekali lagi, David Lynch masih setia untuk menyuguhkan sebuah tontonan absurd, aneh, unik, dan menghibur (bagi saya). Mulholland Drive bagaikan batasan abu-abu antara dunia fantasi dengan dunia nyata. Dan seperti film Lynch lainnya, Lynch tetap saja meninggalkan tanda tanya besar di otak saya. Yah, dalam menonton film jenis plot memusingkan seperti Mulholland Drive, otak adalah segalanya, layaknya karya prestisius dari Lynch ini yang memang segalanya!