Saturday, September 8, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Contagion (2011)

"The average person touches their face three to five times every waking minute. In between that we're touching door knobs, water fountains, and each other." ~ Dr. Erin Mears

Hampir seluruh aktivitas manusia dilakukan dengan tangan. Baik itu membuka pintu, makan, berjabat tangan, berbelanja, bahkan hingga menulis review ini. Scott Z. Burns selaku screenwriter Contagion ternyata tak ingin melupakan kesempatan besar ini dan menjadikannya sebagai naskah film. Entah terinspirasi dari iklan produk D**tol atau apapun itu, jelas ini merupakan ide yang brilian namun tetap realtistis.

Contagion adalah salah satu diantara beberapa film yang mengetengahkan medical thriller disaster. Jenis film ini sebelumnya pernah dipakai oleh M. Night Shyamalan dalam filmnya The Happening, juga ada sineas asal Korea Selatan, Jeong-woo Park lewat Deranged yang baru saja rilis Juli kemarin. Berbeda dengan The Happening yang hanya berfokus pada kehidupan keluarga Moore, Contagion berfokus pada banyak kehidupan yang berbeda-beda.


Film dibuka dengan 'Day 2', yang memperkenalkan kita dengan Elizabeth Emhoff atau Beth (Gwyneth Paltrow), yang terlihat sedang tak enak badan setelah baru saja pulang dari Hong Kong dan sedang menuju ke Minneapolis di Minnesota. Selain di Minneapolis, hari kedua ini juga berfokus pada tiga karakter lain yang berada di Hong Kong, Tokyo, dan London yang sama-sama terlihat sedang dalam keadaan tak sehat. Ketiga karakter ini akhirnya tewas tanpa diketahui sebabnya. Ya, dari sini semuanya bermula.

Hari demi hari, wabah yang belakangan diketahui disebabkan oleh semacam virus ini terus menjalar ke seluruh dunia. Kita juga mulai dikenalkan dengan berbagai karakter, seperti suami Beth, Mitch Emhoff (Matt Damon), seorang blogger ambisius dan konspiratif Alan Krumwiede (Jude Law), perwakilan WHO Dr. Leonora Oranter (Marion Cotilard), Dr. Ellis Cheever dari Centers of Disease Control and Prevention (CDC), Dr. Erin Mears dari Epidemic Intelligence Service, Dr. Ally Hextall (Jennifer Ehle) yang mencoba menemukan vaksin wabah tersebut, hingga pekerja cleaning-service di CDC, Roger (John Hawkes).


Adalah suatu hal yang luar biasa mengingat Contagion tak butuh virus yang terlalu muluk-muluk untuk membuat sebuah thriller yangs sangat efektif. Virus MEV-1 bukanlah virus yang mengakibatkan seseorang yang terinfeksi menjadi seorang pembunuh berdarah dingin dengan penyebaran lewat apa saja. Sebaliknya, MEV-1 merupakan sebuah virus yang sebenarnya lebih simple, dengan gejala sederhana seperti demam dan batuk, namun sangat mematikan dengan penyebaran yang sangat cepat.

Salah satu faktor film dikategorikan masuk dalam film yang baik, adalah film yang berhasil membawa penonton masuk ke dalam cerita. Contagion, menjadi salah satunya. Buktinya, sepanjang durasi film yang selama 106 menit, Contagion sukses membuat saya berpikir dua kali untuk menyentuh apapun, bahkan hingga wajah sendiri. Mungkin agak terdengar konyol, tapi memang karena Contagion merupakan sebuah thriller yang efektif, efektif karena kerealistisannya.


Contagion sekilas memang terlihat datar karena tak memiliki klimaks yang benar-benar membuat kita bergidik dengan intensitas yang naik dengan drastis. Itu semua bukan karena ada kesalahan dari naskah Burns ataupun Sodenbergh yang tak mampu mengeksekusi film dengan baik, tapi karena Contagion memanglah tak memerlukannya. Rupanya, Steven Sodenbergh tak mau membuang waktunya dengan begitu saja. Buktinya, film ini sendiri menjadikan 106 menitnya yang berharga itu menjadi 106 menit yang membuat semua penonton bergidik, sejak awal hingga akhir. 

Contagion memang dibintagi oleh segudang aktor kelas A dari Hollywood. Ada Gwyneth Paltrow, Marion Cotilard, Jude Law, Matt Damon, Kate Winslet, Laurence Fishburne, Jennifer Ehle, hingga John Hawkes. Beruntung,  meski banyak aktor level Oscar ini yang jarang muncul, kesemua karaktenya memiliki peranan penting dan beruntungnya lagi, kesemua aktor dapat memerankan karakternya dengan sangat baik. Jelas, Kate Winslet lah yang paling memberikan kemampun aktingnya sebagai seorang Dr. Mears. Jangan lupakan Jude Law yang sukses membuat siapapun akan berbalik membenci karakternya yang ambisius dan kerap melontarkan pernyataan konspiratif. Lalu ada Jennifer Ehle, yang berperan sebagai sosok seorang 'pahlawan' dalam usahanya menemukan vaksin virus MEV-1 ini.


Sebagian penonton pasti akan menyadari bahwa film ini diawali dengan hari kedua, kemudian dilanjutkan dengan hari ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Pertanyaannya, mana hari pertamanya? Yup, ini merupakan salah satu faktor plus film ini. Tentu tak akan seru dengan mengungkapkan secara gamblang hari pertama yang tak lain adalh hari dimana virus ini mulai berkembang, bukan?

Contagion merupakan sentuhan mematikan dari kolaborasi sutradara Steven Sodenbergh dan screenwriter Scott Z. Burns. Meski bertabur bintang-bintang Hollywood, Contagion tetap terasa membumi dan berhasil membuktikan bahwa film ini baik bukan karena punya banyak nama-nama besar terpampang di posternya, tapi karena Contagion memiliki apa yang kita sebut dengan kualitas. Singkatnya, Contagion adalah medical thriller disaster dengan cast bertabur bintang yang berhasil membawa atmosfer kengerian dalam kesederhanaan dan kerealistisannya. Di film mana lagi anda dapat melihat suatu hal sederhana seperti berjabat tangan menjadi hal yang begitu mengerikan bahkan berujung mematikan?

7.5/10

Wednesday, September 5, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Aliens (1986)

 
"Get away from her, you b*tch!" ~ Ripley

Sebelumnya, kita akan mundur 7 tahun sebelum film ini rilis, tepatnya di tahun 1979. Di tahun itu, Ridley Scott kembali muncul setelah pada tahun 1977 ia muncul dengan film drama berjudul The Duellists. Saat itu, Scott 'banting' genre dari drama ke film horror-scifi yang berlatar belakang di angkasa luas, Alien. Film yang menghadirkan sosok monster jelek dari planet LV-426 ini sukses berat dimana-mana. Alien mendapat keuntungan besar dan berhasil menjadi bulan-bulanan pujian dari kritikus dunia. Puncaknya, Alien memenangkan Best Visual Effects di Oscar 1980.

Mengekor kesuksesan Ridley Scott dengan Alien-nya, tepatnya pada tahun 1986, James Cameron muncul dengan sekuelnya yang diberi judul sangat sederhana, yaitu hanya dengan menambah huruf 's' dibelakang judul menjadi Aliens. Sama halnya dengan Alien, Aliens mendapat sambutan hangat dari para penonton dan kritikus, meski keuntungannya sendiri lebih kecil daripada Alien. Sesuai judul, Aliens memang punya lebih banyak alien daripada di Alien yang hanya ada satu ekor. Apa itu artinya? Bigger and more intense!


Kita masih dipertemukan dengan Ellen Ripley (Sigourney Weaver), satu-satunya orang yang selamat dari tragedi Nostromo. Ripley diselamatkan dan ditemukan setelah selama 57 tahun melanglang buana di angkasa luar selama berada dalam stasis. Meski 57 tahun telah berlalu, ternyata Ripley masih belum dapat melupakan kejadian mengerikan yang pernah menimpanya. Keadaan makin buruk, ketika Ripley mengetahui bahwa anaknya yang saat itu (57 tahun yang lalu) masih berusia 11 tahun telah meninggal 2 tahun yang lalu pada usia 66 tahun. Apalagi orang-orang tak ada yang mau mempercayai Ripley tentang kronologis tragedi Nostromo yang ia ceritakan, terlebih sekarang planet tempat alien itu tinggal, LV-426 telah ditinggali para terraformer serta keluarganya dan tak pernah ada kasus satupun. 

Namun, suatu hari kontak dari planet LV-426 tersebut terputus. Ini memaksa Carter Burke (Paul Reiser), perwakilan Weyland-Yutani Corp. mengajak Ripley untuk ikut dengan para marinir yang akan pergi ke planet LV-426 untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di sana. Awalnya, tentu Ripley menolak, namun akhirnya ia pun setuju untuk ikut. Di sana, sepeti yang Ripley kira, para alien ternyata telah menyerang sebanyak lebih dari 70 keluarga yang tinggal di planet tersebut, menyisakan Newt (Carrie Henn), seorang gadis kecil sekaligus satu-satunya orang yang selamat dari serangan para alien.


Sama dalam hal judul Aliens yang hanya dikembangkan dari kata 'alien', Aliens sendiri sebenarnya mengambil hampir seluruh komponen yang Scott gunakan dalam Alien, namun dengan banyak pengembangan disana-sini. Dengan amunisi utamanya tersebut, Aliens berhasil mengantarkan teror yang lebih besar dari pendahulunya dengan makhluk jelek yang lebih banyak pula. Hasilnya? Aliens tampil dengan keseruan yang melebihi kadar prekuelnya. Tak banyak sekuel yang dapat mampu tampil sebaik ini.

Sigourney Weaver, sang aktor utama yang memerankan Ripley mampu tampil dengan begitu gemilang sebagai seorang wanita tangguh, pantang putus asa, dan tak kenal rasa takut. Di sini, bersama dengan karakter lainnya, ia dapat menghadapi dan menghajar alien-alien jelek itu dengan gagahnya. Alhasil, Oscar 1980 mengganjar Sigourney Weaver dengan nominasi Best Actress.


Ripley bukanlah sosok yang sepenunhnya hanya mengandalkan ketangguhan. Di balik sosoknya itu, sebagai seorang ibu, apalagi yang telah ditinggal mati oleh buah hati, tentu Ripley mempunyai sesuatu yang dimiliki ibu sejagat raya: rasa kasih sayang. Nah, di sinilah letak pentingnya karakter Newt, yang berhasil menjadi semacam jembatan yang mengantarkan sisi emosional Ripley kepada penonton, apalagi dengan chemistry kuat seperti antar ibu-anak diantara mereka. Selain itu, karakter Newt juga merupakan obat bagi kesedihan dan kepedihan yang dirasakan Ripley pasca mengetahui anaknya telah meninggal. 

Meski mengusung formula ending yang mirip, namun Alien dan Aliens memang berbeda. Salah satunya merupakan genre. Kali ini, Aliens lebih mengedepankan unsur action ketimbang horor yang dikedepankan oleh Alien. Dalam hal action yang kental dengan suasana yang thrilling, James Cameron berhasil membangun intensitas yang mampu terjaga dengan kuat. Hingga akhirnya, kita akan diteror gila-gilaan oleh 'sesuatu' yang juga tak kalah gila.


Pendahulunya, Alien merupakan film yang tampil sederhana dan tenang namun dengan horor yang sangat efektif. Berbending terbalik, Aliens merupakan sekuel yang meledak-ledak, lebih intens, dengan action dan keseruan yang lebih nendang, juga plot yang lebih rumit. Meski kedua film ini memang sama sekali tak dapat dibandingkan, secara pribadi saya memang lebih menyukai Alien. Meski begitu, tentu saja upaya James Cameron untuk membuat Aliens sebagai sekuel yang baik sangat berhasil. Sangat baik malah.

Secara keseluruhan, Aliens merupakan film yang istimewa. Salah satu keistimewaannya, yaitu Aliens yang mengambil banyak unsur dari Alien ternyata malah menghasilkan dua film yang jauh berbeda. Hadir pula Sigourney Weaver yang memimpin jajaran cast yang mampu tampil memukau di kedua sisi yang ditampilkan.  Aliens memang tampil lebih besar dan serba lebih banyak daripada Alien yang berhasil membawa sebuah ketegangan yang kuat. Aliens sudah barang tentu merupakan contoh sekuel idaman yang sempurna.

8.5/10

Tuesday, September 4, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Martha Marcy May Marlene (2011)

"I'm a teacher and a leader." ~ Martha

Mungkin Martha Marcy May Marlene merupakan salah satu judul film terunik dan teraneh yang pernah ada (sekaligus lumayan susah untuk diingat). Martha Marcy May Marlene (MMMM) yang memiliki poster unik ini merupakan film panjang debut Sean Durkin yang sebelumnya pernah mengarahkan 2 film pendek. Naskahnya sendiri juga ditulis oleh sang sutradara sendiri. MMMM juga dibintangi oleh adik dari si kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen, yaitu Elizabeth Olsen.

Film indie karya sutradara muda kelahiran 1981 ini memang mendapat sambutan hangat dari para kritikus film  juga cukup banyak memenangkan penghargaan, diantaranya adalah penghargaan Directing Award dari Sundance Film Festival juga nominasi dari Cannes Film Festival. Suatu hal yang terbilang langka, terlebih bagi film pertama (dalam hal ini film panjang) bagi seorang sutradara muda, film indie pula.


Adalah Martha (Elizabeth Olsen), salah satu anggota dari sekte ajaran sesat yang dipimpin oleh seorang pria tua bernama Patrick (John Hawkes). Sekte ini mengajarkan hal-hal yang memang aneh dan menyimpang dari yang lainnya, termasuk adanya ritual 'pembersihan' sampai menyelinap ke rumah orang asing. Martha sendiri telah mengikuti sekte ini selama dua tahun, dan selama itu, ia tak pernah memberi kabar kepada kakaknya sekaligus keluarga Martha satu-satunya,  Lucy (Sarah Paulson). Karena tidak kuat dengan tekanan yang ada, Martha pun memutuskan untuk kabur dan menetap di rumah kakaknya.

Masalah belum selesai. Martha, yang selama dua tahun otaknya 'dicuci' dengan kebiasaan-kebiasaan aneh ternyata masih membawa sedikit kebiasaan itu ke kehidupan normal. Bukan hanya itu, yang lebih parah, ia pun merasakan depresi dan paranoid berat karena merasu ketakutan dan terbayang-bayang terhadap kelompok tersebut. Ia kadang berteriak, meronta-ronta, bahkan mengira orang lain sebagai anggota sekte sesat itu.


Martha Marcy May Marlene memang sengaja dibuat dengan suasana yang sangat kelam, hitam, sunyi, dan depresif, salah satunya dengan memakai tone yang tak terlalu cerah juga dengan dukungan sinematografi yang tenang, pelan, sunyi, damai, indah, dan terasa begitu angelic. Hasilnya, penonton pun bahkan dapat merasakan apa yang Martha rasakan, berkat andil dari akting Elizabeth Olsen juga pastinya. Kehidupan Martha di sekte tersebut sendiri ditampilkan melalui flashback-flashback yang disajikan diantara alur majunya.

Soal jajaran cast, para pemerannya menghadirkan akting yang lumayan baik. Tentu saja penampilan terbaik berada di tangan Elizabeth Olsen. Mungkin memang namanya tak setenar duo kakaknya, tapi soal akting? Elizabeth jelas berada di atas kedua kakaknya tersebut. Ia berhasil memberikan segalanya dengan begitu emosional, ketakutan, penderitaan, paranoid, dan depresi dengan amat baik. Karakternya memang menarik, lihat saja bagaimana ia dapat dengan tiba-tiba 'meledak-ledak' bagaikan orang yang jiwanya terganggu, namun seketika itu pula ia dapat berubah menjadi seorang gadis yang ramah.


Dibelakangnya, ada John Hawkes yang juga berhasil memerankan seorang pemimpin sekte dengan baiknya. Karakternya memang menarik, mungkin karena karakternya yang seperi 'musang berbulu domba', diawalnya, ia seperti orang baik-baik dengan kehidupana baik pula, namun lama-kelamaan ia dapat berubah menjadi 'monster' dengan segala ajarannya yang menyimpangnya itu.

MMMM penuh dengan ambiguitas. Ini merupakan salah satu yang saya suka dari film ini. Karakter bahkan hingga endingnya pun sengaja dibuat begitu ambigu. Endingnya itu memang unik dan bisa juga dikatakan aneh. Sangat mewakili apa yang kita sebut dengan ambiguitas. Sean Durkin tampaknya memang sengaja membuat MMMM diakhiri dengan ending yang ambigu, tak terlalu tegas, dan terbuka, hingga para penontonnya sendirilah yang akhirnya menyimpulkan apa yang terjadi.


MMMM jelas bukanlah merupakan tipe film yang fun to watch, bahkan mungkin bagi beberapa orang film ini sangat membosankan. Namun, MMMM berhasil menghadirkan sebuah tontonan yang menyerang sisi psikologis seorang manusia dengan atmosfer dingin serta penuh dengan ambiguitas namun dengan cara yang begitu anggun. Dengan ini semua, pastinya akan membuat siapapun dapat tenggelam dalam keparanoid-an yang luar biasa dari sosok Martha.

Memang belum dapat dikatakan benar-benar sempurna, namun terlepas dari segala kekurangannya, MMMM mampu tetap tampil dengan memukau, terlebih lagi di barisan terdepan castnya ada Elizabeth Olsen juga John Hawkes yang mempersembahkan penampilan terbaiknya disini. Sean Durkin juga berhasil memberikan segala sentuhannya dengan sangat maksimal. Yang jelas, Martha Marcy May Marlene merupakan semua tentang kegelapan dan kekelaman dalam balutan keindahan.

8.0/10

Monday, August 27, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Kahaani (2012)

"There's no difference. We do it for the law and he does it against the law. That's why we are right and he's wrong." ~ Mr. Khan 

Apakah anda termasuk salah satu dari orang-orang yang sudah bosan dengan film Bollywood yang kebanyakan merupakan drama musikal? Kahaani merupakan salah satu alternatifnya. Kahaani, yang berarti 'cerita' ini merupakan film thriller yang disutradarai oleh Sujoy Ghosh. Memang bukan film thriller pertama produksi Bollywood, tapi memang Kahaani menawarkan sesuatu yang sangat menarik dan mengejutkan.

Sebenarnya, film dengan konsep seperti Kahaani, yaitu mencari orang yang tak diketahui keberadaanya telah banyak. Bahkan, film Bollywood lain, 3 Idiots, juga menawarkan hal yang kurang lebih sama. Tapi, sepertinya hanya Kahaani yang menawarkan sesuatu yang agak berbeda dari film sejenis, yaitu orang yang mencari adalah seorang ibu hamil.


Vidya Bagchi (Vidya Balan) merupakan seorang insinyur perangkat lunak yang datang jauh-jauh dari London ke Kalkuta seorang diri dan dalam keadaan hamil. Ia datang ke Kalkuta, India hanya untuk mencari keberadaan suaminya yang hilang bagai ditelan bumi. Suaminya, Arnab Bagchi (Indraneil Sengupta) seharusnya telah pulang ke London setelah ditugaskan di National Data Center (NDC). Dua minggu pertama tugasnya, suaminya terus menghubungi Vidya setiap hari. Anehnya, setelah itu kontak mereka langsung terputus. Tak ada kabar, telepon, maupun SMS.

Dibantu oleh Inspektur Satyaki Sinha, atau yang lebih dikenal dengan Rana (Parambrata Chatterjee), Vidya terus menyelidiki keberadaan suaminya. Anehnya, dari semua orang yang mereka tanyakan, termasuk penginapan tempat Arnab tinggal, paman, hingga sekolahnya pun tak mengenal seorang Arnab. Tempat Arnab ditugaskan pun, National Data Center mengatakan bahwa mereka tak mempunyai karyawan bernama Arnab Bagchi. Anehnya, Agnes D'Mello (Colleen Blanche), selaku manager HRD di NDC menyatakan bahwa suaminya mirip dengan Milan Damji, mantan karyawan NDC 2 tahun lalu yang menghilang tiba-tiba. Lebih aneh lagi, karena 2 tahun yang lalu, suaminya berada di London.


Film ini menggabungkan sebuah misteri yang menyangkut konspirasi lalu dibalut dalam ketegangan ala thriller kemudian dengan dibumbui lagi oleh drama termasuk romansa (tak ada musikal kali ini, haha). Kahaani memang seperti film ala-ala detektif. Ghosh akan menyuguhi kita bagaimana Vidya bersama Rana mencari keberadaan Arnab, yang juga sedikit mengingatkan saya akan Extremely Loud & Incredibly Close, namun bedanya, di EL & IC tokoh utamanya mencari pemilik sebuah kunci tua. Satu lagi, Kahaani selevel lebih baik (atau mungkin dua level) dari film Hollywood tersebut. 

Tak hanya itu, Kahaani juga menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar pencarian. Dalam perjalanan mereka mencari petunjuk mengenai suami Vidya, juga diiringi dengan konflik ketegangan dari 'kejar-kejaran' antara Vidya dengan pihak yang entah mengapa merasa terancam dengan pencariannya. Unsur drama yang tampil dengan porsi pas pun ditambahkan dalam Kahaani.


Vidya Balan yang memerankan seorang ibu muda yang sedang hamil bernama Vidya pula berhasil memberi penampilan yang begitu memukau. Ia tampil begitu meyakinkan dari segala segi, termasuk dari sisi emosional dan kesan depresi yang ia alami setelah suaminya menghilang. Chemisty yang terlain antara Vidya dengan Rana (Parambrata Chatarjee) pun terjalin dengan erat. Tak ada karakter yang rasanya hanya dijadikan tempelan alias pemanis saja, layaknya Sandra Bullock di Extremely Loud & Incredibly Close (meski ia berakting dengan sangat baik).

Ada satu hal pula yang tak akan bisa dilupakan dari Kahaani. Selama dua jam kita mengikuti pencarian Vidya, kita akan disuguhi kenyataan yang sangat mengejutkan di akhirnya, yang saya sendiri tak pernah perkirakan. Padahal, sebelumnya pun kita telah disajikan kepingan-kepingan 'puzzle' yang sengaja ditebar, namun anehnya, saya sendiri tidak pernah menyadarinya sampai Sujoy Ghosh menyampaikannya dengan begitu meyakinkan.


Kahaani tampil dengan sinematografi yang cukup apik. Saya suka bagaimana Kahaani menampilkan kekayaan kultur negaranya serta kehidupan masyarakat Kalkuta dalam frame-framenya yang cantik itu. Bukan hanya itu, Kahaani juga menyajikan potret kemiskinan India dalam sinematografinya, yang terasa malah seperti sebuah ironi bagi saya, dimana potret kemiskinan yang disajikan dengan begitu indahnya, namun dengan tetap meninggalkan sedikit kepedihan. Hal itu juga terasa dalam momen-momen kegelisahan dan ketakutan karakter Vidya Bagchi yang juga tak terlepas dari akting meyakinkan Vidya Balan.

Kahaani memang merupakan salah satu contoh dari thriller cerdas produksi Bollywood. Naskah Kahaani memang belum dapat dikatakan sempurna namun tak dapat disangkal bahwa naskahnya memang cerdas. Kahaani juga memiliki porsi thriller yang mendebarkan dan seru, serta departemen akting yang solid. Sujoy Ghosh pun masih menyiapkan satu hal yang lebih menarik lagi, ia memilih menutup 'cerita'-nya dengan misteri yang terpecahkan dengan begitu mengejutkan. Jelaslah sudah Kahaani merupakan salah satu dari kandidat film terbaik tahun ini.

8.0/10

Thursday, August 23, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] The Hunger Games (2012)

"Thank you... for your consideration." ~ Katniss 

Masih ingat Battle Royale? Yup, film asal Negeri Sakura ini memang fenomenal. Rilis 12 tahun yang lalu, film ini  mendapat sambutan yang baik. bahkan mendapat nominasi Best Picture di Japanese Academy Awards 2001. Filmnya sendiri dikenal sadis, penuh darah, brutal, dan penuh kekerasan. Yang pasti, Battle Royale menghadirkan premis yang luar biasa menarik dan itu semua berhasil dibayar dengan keseluruhan film yang memang sesuai dengan yang saya harapkan.

Kemudian, apa hubungannya Battle Royale dengan The Hunger Games? Selain sama-sama diangkat dari novel, kedua film ini memiliki tema (termasuk cerita) yang hampir sama, yaitu survival. Kalau Battle Royale merupakan sekelompok siswa sekelas yang dikumpulkan di suatu pulau untuk memainkan suatu 'permainan', maka The Hunger Games bercerita tentang 12 distrik dari sebuah negeri masa depan bernama Panem yang masing-masing distrik mengirimkan 2 wakilnya untuk bermain di suatu 'permainan' pula. Entah ini termasuk plagiarisme atau tidak, yang pasti, kedua film adaptasi ini sama-sama menarik untuk ditonton.



Seperti yang saya katakan tadi, The Hunger Games bercerita tentang suatu 'permainan' hidup-mati. The Hunger Games? Ya, judul yang menurut saya cukup aneh itu merupakan nama 'permainan' mengerikan ini. 'Permainan' ini mengandalkan kemampuan para pesertanya untuk bertahan hidup, termasuk, dalam 'game' ini juga para peserta diperbolehkan (atau mungkin diharuskan) untuk membunuh satu sama lain, yang pada akhirnya nanti akan terpilih 1 orang pemenang. Dengan premis yang mirip dengan Battle Royale, apakah The Hunger Games mampu membuat tontonan yang 'menyenangkan'? Apalagi dengan tambahan yang lebih menarik bahwa 'permainan' sadis ini (The Hunger Games) disiarkan live di televisi!

Naskah The Hunger Games ini ditulis oleh sutradaranya sendiri, Gary Ross, Billy Ray, dan juga novelisnya sendiri, Suzanne Collins. Filmnya sendiri sendiri berpusat pada karakter Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence). Berbeda dengan Battle Royale, para wakil setiap distrik di The Hunger Games dipilih melalui undian. Dari distrik 12, tempat Katniss tinggal, terpilihlah 2 wakil, yaitu Peeta Mellark (Josh Hutcherson) dan Primrose Everdeen (Willow Shields), yang tak lain merupakan adik Katniss. Sebagai seorang kakak, pastilah berkewajiban untuk melindungi adiknya, dan itulah yang dilakukan Katniss. Demi melindungi nyawa adiknya, ia pun akhirnya harus rela berkorban dengan taruhan nyawa. 



Di Capitol, tempat di mana 'permainan' itu diadakan, Katniss dan Peeta diharuskan untuk bertahan hidup, bukan hanya bertahan terhadap alam, tapi juga dari serangan rival-rivalnya seperti Cato (Alexander Ludwig), Clove (Isabelle Fuhrman), Glimmer (Leven Rambin), Marvel (Jack Quaid), Foxface (Jacqueline Emerson), serta perserta lainnya. Meski merupakan film yang menjanjikan kebrutalan, sebagai film yang menjadikan remaja sebagai target penontonnya, tentu saja The Hunger Games tak melupakan rasa remajanya, yaitu percintaan. Bukan antara 2 remaja, melainkan 3 sekaligus, yaitu antara Katniss, Peeta, dan Gale Hawthorne (Liam Hemsworth). 

The Hunger Games nyatanya memang menarik untuk diikuti. Apalagi dengan adanya bumbu romansa cinta segitiganya (plus faktor Jennifer Lawrence pula, haha). Tapi, sebagai film yang menjadikan 'kekerasan' sebagai jualan utamanya, saya rasa agaknya The Hunger Games masih terlalu 'lembek' alias kurang brutal. Bukan dengan maksud membandingkan, tapi dengan cerita yang mirip dengan Battle Royale (dan tentu tanpa disadarari akan terbayangi oleh Battle Royale), The Hunger Games rasanya seperti film 'brutal' yang masih terlalu remaja, meskipun saya sadar The Hunger Games memang ditujukan untuk penonton remaja. Intinya, dalam hal kesadisan dan kebrutalan, The Hunger Games masih kurang 'menggigit'.



Tapi, setidaknya, hal itu masih bisa terbayar dengan Jennifer Lawrence yang menjadi 'rising-star' dalam film ini. Dengan memerankan seorang remaja yang memiliki dua sisi, lembut dan tangguh. Lembut dan emosional  di saat ia menjadi seorang kakak penyayang dari Primrose, termasuk momen-momennya bersama Rue (Amandla Stenberg). Tangguh, saat di mana ia menjelma menjadi sosok yang berani dan seakan tak punya rasa takut. Si aktris cantik yang sempat mendapat nominasi Oscar untuk perannya di Winter's Bone ini berhasil memberikan performa terbaiknya. Sedangkan, para pemain lainnya mampu tampil dengan meyakinkan pula, termasuk Stanley Tucci, Wes Bentley, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Liam Hemsworth, dan Josh Hutcherson.

Sebenarnya, saya suka dengan kostum para penduduk Capitol yang eksentrik, colorful, dan nyeleneh itu. Entah itu memang berasal dari novelnya sendiri atau apa, tapi yang jelas kostumnya sedikit mengingatkan saya akan kostum di A Clockwork Orange, film lawas yang sinting (dalam arti sesungguhnya) dari Stanley Kubrick. Plus, saya juga kaget dengan penampilan yang benar-benar berbeda dari Stanley Tucci dan Elizabeth Banks sebagai Caeser Flickerman dan Effie Trinket. Benar-benar total. Saya bahkan hampir tak menyadari bahwa itu adalah mereka. Ada satu lagi yang menjadi poin plus dari The Hunger Games, yaitu dengan permainan tone-nya yang bagi saya membuat kesan lebih dramatis.



Namun, adalagi poin minusnya, yaitu di beberapa adegan menggunakan pergerakan kamera yang shaky, yang sebenarnya membuat saya sedikit pusing. Satu lagi, dengan durasi yang lebih dari 2 jam yang cukup menyenangkan, The Hunger Games malah diakhiri oleh ending yang sedikit mengecewakan. Bukan, ini bukan masalah happy atau sad ending, tapi lebih ke arah Gary Ross yang tampaknya belum bisa mengeksekusi endingnya dengan begitu baik, sehingga terkesan agak hambar bagi saya, atau mungkin saja itu sengaja agar para penonton makin penasaran akan sekuelnya? 

The Hunger Games masih jauh dari kata sempurna memang, dengan kebrutalan yang terlalu remaja dan kurang menggigit serta eksekusi ending yang kurang baik hingga terasa hambar dan kurang dramatis serta di beberapa tempat pergerakan kamera yang cukup shaky yang sedikit membuat saya pusing. Namun, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki termasuk isu plagiarisme, The Hunger Games tetap mampu menyajikan tontonan yang menarik, menghibur, dan tak membosankan untuk ditonton. Can't wait for Catching Fire!


7.5/10

Wednesday, August 22, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Witness for the Prosecution (1957)

"Wilfrid the Fox! That's what they call him, and that's what he is!" ~ Miss Plimsoll

Siapa pun para maniak misteri pasti tahu sosok Agatha Christie. Siapa pun pula para penggemar Agatha Christie (termasuk saya) pasti tahu pula karakter ciptaannya yang sangat terkenal, Hercule Poirot, si detektif berkepala bulat dengan sel otak abu-abu. Karya-karyanya, mulai dari novel hingga cerpen banyak yang diangkat ke drama-drama bahkan juga film layar lebar dan tv series. Mulai dari Murder on the Orient Express hingga Ten Little Indians.

Di antara seluruh karyanya, cerpen Witness for the Prosecution merupakan salah satunya. Film adaptasi ini disutradarai oleh Billy Wilder dan naskahnya ditulis Billy Wilder pula serta Harry Kurnitz. Sebelum diangkat menjadi film, cerpen ini terlebih dahulu diangkat menjadi sebuah drama teater. Sama seperti versi dramanya, versi film dari cerpen ini juga mendapat respon yang bagus, bahkan sempat mendapat 6 nominasi Oscar, termasuk Best Picture dan Best Director.


Seorang pengacara terkenal, Wilfrid Robart (Charles Laughton) baru saja (hampir) sembuh dari sakitnya. Meski belum sembuh total, ia memutuskan untuk menerima Leonard Vole (Tyrone Power) sebagai kliennya. Leonard Vole dituduh telah melakukan pembunuhan atas wanita tua kaya Emily French (Norma Varden). Dengan terus ditemani oleh suster privatnya, Miss Plimsoll (Elsa Lanchester), ia pun menjalani persidangan menemani sang terdakwa, Leorand Vole.

Konfilk dalam persidangan makin menjadi setelah istri Vole, seorang aktris asal Jerman bernama Christine Vole (Marlene Dietrich) yang secara mengejutkan dijadikan saksi, karena sebelumnya Wilfrid memutuskan untuk tak menjadikan ia saksi. Lebih mengejutkan lagi, karena sang istri ternyata menyampaikan kesaksian palsu, berbeda 180 derajat dengan apa yang ia sampaikan ketika ia datang ke rumah Wilfrid. Kemudian, apakah Vole bersalah? Apalagi setelah sang istri memberikan kesaksian palsu yang makin memberatkan Vole.


Film ini didukung oleh ensemble cast yang luar biasa. Ada Charles Laughton yang tampil dengan sangat meyakinkan dengan memerankan tokoh pengacara hebat yang banyak bicara dan agak konyol (ya, hebat tapi sedikit konyol, sangat Poirot). Belum lagi si suster privat, Miss Plimsoll yang juga tak kalah banyak bicaranya yang diperankan Elsa Lanchester juga tampil dengan sangat baik. Hasilnya? Chemistry antara kedua tokoh yang sering bertengkar ini terjalin dengan sangat klop. Oh, jangan pula lupakan dua nominasi Oscar untuk mereka. 

Di sisi lain, ada Tyrone Power sebagai terdakwa yang menghasilkan penampilan dengan baik. Jangan lupakan Marlene Dietrich yang memerankan tokoh istri yang penuh kebohongan yang dapat diperankan dengan sangat baik pula. Yang jelas, bersama dengan Laughton dan Lanchester, Dietrich berhasil memberikan penampilan terbaiknya.


Film ini sedikit mengingatkan saya akan 12 Angry Men. Sama seperti 12 Angry Men, Witness for the Prosecution sama-sama menawarkan dialog panjang di setiap scene-nya (meski Witness for the Prosecution ini lebih 'cerewet', mungkin juga karena karakter utamanya yang cerewet). Sisamping karena dialognya yang cerdas, namun juga disampaikan oleh aktor-aktris kelas satu, menjadikan film ini tak membosankan sama sekali.

Dimulai dengan perkenalan dua tokoh, Wilfrid dan susternya, Plimsoll, kita sudah disuguhkan sesuatu yang menarik di sini. Saya suka dengan karakter keduanya yang sama-sama keras kepala dan banyak bicara, sehingga sering kali berakhir pertengkaran yang sedikit konyol. Menarik pula (dan konyol) ketika Wilfrid sesekali berhasil mengelabui Plimsoll. Yah, lumayan untuk sedikit menghibur kita, apalagi mengingat konflik di tengah pengadilan yang cukup berat.


Jika diawali dengan apik, maka Witness for the Prosecution pastinya harus diakhiri pula dengan apik, bukan hanya apik, tapi juga harus dikemas dengan sangat baik, dan itulah yang terjadi. Film ini diakhiri dengan sesuatu yang begitu mengejutkan. Saya yakin semua penontonnya (yang belum pernah membaca cerpen maupun menonton dramanya), akan merasa terkejut dengan ending ini. Ini semua tak terlepas dari bagaimana Billy Wilder menutup semuanya rapat-rapat dan mengungkapkan kenyataan di akhirnya dengan sangat meyakinkan.

Witness for the Prosecution adalah semua tentang kejujuran, kebohongan, dan pengkhianatan. Seluruh aspek berhasil dimanfaatkan oleh Billy Wlider semaksimal mungkin melalui sebuah persidangan yang rumit. Dengan menghadirkan ensemble cast luar biasa, dialog cerdas, penyutradaraan yang sangat baik, karakter menarik, dan yang pada akhirnya ditutup oleh ending yang unpredictable (dan terdapat sesuatu yang lebih gila di credit-nya), Witness for the Prosecution berhasil menyuguhkan segalanya dengan sempurna yang membuat saya tak ingin beranjak dari tempat duduk, dan yang terpenting, membuat saya tak akan pernah melupakan film ini.

9.0/10

Tuesday, August 21, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] The Cabin in the Woods (2012)

"Any of army of nightmares, huh? Let's get this party started." ~ Dana

Film horor yang satu ini termasuk salah satu yang saya tunggu-tunggu dalam tahun 2012. Tentu saja karena melihat rating di IMDb dan tomatometer di Rotten Tomatoes yang menggiurkan. Bukan hanya itu, berangkat pula dari Joko Anwar yang memuji film ini habis-habis di akun twitternya, membuat hasrat saya untuk menonton film ini semakin menggebu-gebu.untuk menonton film ini. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah rating tinggi film ini  dan pujian dari sutradara sekelas Joko Anwar mampu mengatakan segalanya?

Seberapa banyak film horor yang menyajikan cerita tentang beberapa anak muda yang pergi berlibur ke suatu tempat? Banyak! Sudah tak terhitung lagi, bahkan film horor slasher legendaris tahun 1975, Texas Chainsaw Massacre pun telah memakai formula yang sama. Selanjutnya? Mudah ditebak. Satu-persatu dari mereka pasti akan tewas, entah itu diserang oleh seorang psychopath berdarah dingin atau bahkan makhluk halus sekalipun. Akhirnya, pasti akan tersisa satu/dua orang yang pulang dengan selamat sentosa.


Itu pula formula yang ditawarkan oleh The Cabin in the Woods. Film ini tak menawarkan premis yang sangat menarik. Sesuai judulnya, filmnya bercerita tentang sekelompok 5 mahasiswa, Dana (Kristen Connolly), Curt (Chris Hemsworth), Jules (Anna Hutchison), Marty (Fran Kanz), dan Holden (Jesse Williams). pergi berlibur ke sebuah kabin tua di tengah hutan. Klise, stardar, dan nothing special. Kelima mahasiswa ini memiliki kepribadian yang berbeda-beda, Holden merupakan seorang kutubuku, Marty merupakan pecandu mariyuana, Curt merupakan seorang pria yang atletis karena ia memang atlit, Jules merupakan tipe wanita yang agak b*tchy, sebaliknya Dana merupakan wanita yang kalem.

Saat sedang bermain suatu permainan, mereka menemukan sebuah basement yang penuh dengan barang usang berdebu. Marty menemukan roll-roll film tua, Holden menemukan sebuah music box, Jules menemukan sebuah liontion, Curt menemukan suatu benda mirip rubik namun berbentuk bola, dan yang paling menarik, Dana menemukan sebuah buku harian tua tahun 1903 milik Anne Patience Buckner. Tulisan-tulisannya sangat mengerikan. Darah,  Di akhir buku tersebut, terdapat dua kalimat dalam bahasa latin. Dana memutuskan untuk membacanya, meski Marty tak ingin kalimat itu dibaca. "Dolor supervivo caro. Dolor sublimis caro. Dolor ignio animus," itulah bunyi kalimat tersebut. Tanpa mereka ketahui, ternyata kalimat tersebut akan mengubah hidup mereka, atau... 


Plot yang super klise itu mungkin akan menimbulkan kepesimisan penonton akan film ini. Eits, tapi jangan remehkan film ini. Tentu saja dan screenwriternya Drew Goddard (yang juga.menyutradarai film ini) serta Joss Whedon tak akan membiarkan hal itu terjadi. The Cabin in the Woods merupakan sebuah horor dengan balutan komedi satir yang secara tak langsung menyinggung film-film horor masa kini yang terbilang sangat klise dan tak kreatif. Tak ada yang salah sebenarnya dengan sesuatu yang klise, tapi dengan dialog dangkal, naskah buruk, akting amatiran, dan hanya mengumbar tubuh wanita? No, no, no, no.

Nah, inilah apa yang dicoba oleh duo director-screenwriter ini. Mereka mencoba untuk out of boundaries. Tapi, cara mereka lain daripada yang lain. Bukan dengan cara membuat cerita yang tak pernah orang lain pakai, tapi dengan memakai cerita yang kita anggap sebagai formula klise tersebut. Unik bukan? Tentu.


Departemen aktingnya, walau tidaklah terlalu istimewa, tapi tentu saja tetap menarik untuk dikupas. Jajaran castnya dipimpin oleh si wanita kalem berambut cokelat, Dana alias Kristen Connolly yang mampu menghasilkan penampilan yang terbilang baik. Begitu pula dengan seluruh cast dibelakangnya yang juga memberikan penampilan yang sama-sama baiknya dan ikut pula memperkuat departemen akting yang tampil cukup solid. Tapi, tak pas rasanya jika saya tak punya karakter favorit dalam film ini.

Saya rasa hampir semua orang akan menyebut Marty sebagai karakter favorit mereka. Dia mungkin saja merupakan seorang pecandu mariyuana dan yang terbodoh diantara semua, tapi karakternya memang sangat mencuri perhatian. Ia sangat sering muncul dengan dialog-dialog alias celetukan ringan nan kreatif dan pastinya memancing tawa. Siapa sangka pula bahwa karakter yang awalnya terlihat tak penting ini sebenarnya memegang peranan yang sangat penting dalam film? Ya, inilah salah satu bentuk dari apa yang saya maksud dengan 'keluar dari batas-batas', keluar dari formula horor yang biasanya menempatkan karakter bodoh sebagai sekedar lewat saja.


Sebagai sebuah horor komedi satir, tentu The Cabin in the Woods sangat berhasil. The Cabin in the Woods merupakan tontonan horor yang menghibur namun cerdas dan kreatif. Sangat jarang ada film horor yang seperti ini, karena saat ini memang perfilman horor selalu diisi dengan cerita yang meh.. itu-itu saja. Kalau pun ada film horor yang benar-benar cerdas (bukan hanya horor satir saja), mungkin kita harus mundur lagi berpuluh-puluh tahun ke jajaran film-film horor klasik, contohnya film-film yang diangkat dari novel Stephen King. Horor 1990an? Ada Scream milik Wes Craven yang dahulu sukses mengolok-olok horor mainstream, atau kalau tak mau mundur terlalu lama alias horor masa kini, mungkin Saw juga bisa dijadikan contoh. Ya, meski filmnya sendiri keluaran 8 tahun yang lalu.

Film ini merupakan proyek sinting dari duo Goddard-Whedon. Dimulai dengan premis yang jujur saja tak menjanjikan dan sudah basi. Namun perlahan, ternyata mampu menjadi sebuah tontonan yang apik. Apalagi dengan balutan science-fiction-nya yang makin menambah ketegangan yang ada dari horor berdarah ini. Science-fiction-nya juga mendapat nilai plus dengan penggunaan CGI-nya yang cukup menawan. Belum cukup? Sekarang, silahkan nikmati 20 menit terakhir film ini dan rasakan sensasinya! Tentu, belum termasuk dengan twist yang ada dalam film. Ah, jangan pula lupakan pula endingnya yang menurut saya salah satu ending terbaik yang pernah saya tonton, dan yang paling saya suka, ending ini pun juga out of boundaries


The Cabin in the Woods merupakan mimpi buruk. Ya, mimpi buruk bagi kelima orang tersebut, namun menjadi mimpi indah yang menjadi kenyataan bagi dunia perfilman, khususnya film horor. Seluruh aspek mampu memainkan bagiannya masing-masing dengan lumayan baik. Entah itu dari cerita yang tak terduga, intensitas film yang berhasil terbangun dengan baik, hingga ke bagian teknisnya sekalipun, seperti visual-effect dan scoring-nya yang setia menemani intens yang terbangun. 

Jelas bukan tipe Best Picture ala Oscar, tapi apalah artinya Oscar, jika The Cabin in the Woods ini telah bisa memenangkan hati jutaan dari penggila horor di seluruh dunia? Tapi yang jelas, The Cabin in the Woods merupakan gebrakan baru (namun dengan menggunakan cara lama) dalam perfilman horor. Sebuah horor yang awalnya terlihat sangat konvensional dan mainstream, membuat anda akan berpikir bahwa film ini nantinya akan menjadi sebuah horor bodoh pada umumnya, namun seiring dengan berjalannya waktu, ia akan membuka sedikit demi sedikit lembaran-lembaran rahasianya dan... bam! Bagaikan sebuah bom, ia akan meledakkan anda semua. Film ini merupakan angin segar yang mungkin akan memulai berbagai horor cerdas lain yang nantinya akan banyak bermunculan. Ya, mungkin saja. Satu lagi, untuk menjawab pertanyaan di akhir paragraf pertama tadi, saya harus mengatakan, Ya! 

You think you know the story? Think again.

8.5/10