Thursday, June 19, 2014

Tagged under: , , , , ,

[TV Review] Fargo (Season 1)

"He's not gonna stop. You know that, right? A man like that, maybe not even a man." ~ Molly

Tahun ini, jujur merupakan tahun di mana TV series berkualitas tumbuh menjamur. Sekalipun saya tak mengikuti seluruhnya, namun tentu beberapa di antaranya. Salah satunya, adalah Fargo. Dari namanya, tentu anda dapat menebak bahwa series ini didasari dan berlatar sama dengan sebuah film berjudul sama, Fargo, karya Coen Brothers, yang sampai sekarang dikenal sebagai salah satu dark comedy terbaik, if not the best. Well, show ini telah mencapai penghujung episodenya, dan layaknya sang pendahulu, Fargo versi modern adalah salah satu TV show terbaik yang pernah ada, and here's why. Oops, dan satu lagi peringatan, spoilers bertebaran di mana-mana. 

'THIS IS A TRUE STORY. The events depicted took place in Minnesota in 2006. At the request of the survivors, the names have been changed.' Ya, itulah yang akan anda lihat setiap menonton tiap episode dari Fargo, hal yang sama juga dilakukan Fargo versi Coen Brothers. Tapi, jangan tertipu, karena keduanya sebenarnya murni kisah fiktif. Ya, tak ada Lorne Malvo dan Lester Nygaard, yang artinya pula, tak ada Marge Gunderson, Jerry Lundergaard, dan Carl 'funny-looking-guy' Showalter. Jadi, untuk apa ini semua? Well, Coen Brothers are geniuses. Mereka tahu cara agar penonton dapat lebih terhubung ke dalam suatu cerita, and i must say, this is the way, and it's brilliant! But, it's not the only way.


Dari sisi screenplay, Fargo is pretty much the same with the old Fargo: ia menyampaikan kisah sederhana, namun penuh studi karakter yang mempesona mengenai sekumpulan manusia yang menghadapi sesuatu hal yang tak biasa (bahkan tergolong luar biasa), dan memperlihatkan apa yang akan para karakter itu hadapi, dan bagaimana reaksi mereka terhadapnya. Latar belakang suatu lingkungan yang masih cukup konvensional juga berperan besar dalam membangun tone komedi gelap yang juga kaya akan cucuran darah di tengah shock tragedy yang terjadi dalam masyarakat. Ini bukan sebuah kisah kriminal biasa, ini adalah kisah kejatahatan yang down-to-earth, namun penuh kecerdasan yang luar biasa kompleks.

Tapi, Fargo juga bukan Fargo yang lama, mereka masih punya batas yang jelas di antara keduanya. Noah Hawley selaku penulis naskah tak sekadar menciptakan sebuah penceritaan ulang, namun lebih dari itu, menceritakan kisah berbeda namun masih dengan nafas yang sama dengan pendahulunya. Tentu, kisah ini lebih kompleks dengan 10 episodenya, lebih banyak karakter, lebih banyak darah, lebih sadis, tapi apa yang membuat TV series ini begitu istimewa adalah membawa kisah itu dengan nafas Fargo yang dulu, menggabungkan sebuah kisah modern namun dengan tone penuh nostalgia. 


Perlu diingat, kendati merupakan sebuah kisah kriminal, Fargo tetaplah sebuah dark comedy. And, Fargo still has that vibe, sekalipun dengan porsi yang lebih sedikit dibanding pendahulunya. Dialog-dialog hadir dengan pengemasan cerdas, tetap memancarkan sebuah komedi hitam, namun kadang mempertanyakan berbagai pertanyaan yang memutar otak. Di lain sisi, beberapa scene tampil komikal dan awkward khas dark comedy, tapi di saat yang sama, tetap dapat mempertahankan tone kriminalnya. Yeah, hitting a wife with an axe till death has never been this 'funny'. Tapi, berbicara soal humor seperti ini, rasanya tak akan lengkap tanpa membicarakan sang villain, Lorne Malvo. He has such a great sense of humor! What a villain.

Membicarakan Fargo memang berarti membicarakan para karakternya. Ya, apalah arti Fargo tanpa karakter-karakter yang kaya cerita itu. Fargo memusatkan perhatianya kepada Lester Nygaard, yang boleh jadi merupakan orang tersial yang pernah ada. Berangkat dari seorang lelaki biasa dengan istri bermulut lebar, yang kemudian kehidupannya berubah setelah sebuah tragedi secara 'tak sengaja' terjadi, yang membawanya pada satu sisi yang ia pun tak pernah sangka merupakan bagian dari dirinya. Kita dapat melihat definisi 'good guy gone bad' di dalam dirinya. Martin Freeman adalah orang yang tepat melakonkan Lester. Lester tampak seperti Bilbo Baggins, seorang pengecut dengan gaya bicara gagap, namun dengan keadaan yang memaksa keduanya berubah, Bilbo berubah menjadi seorang antihero yang pemberani, sementara Lester perlahan memunculkan sisi monsternya yang makin terasah.


Meskipun begitu, Lorne Malvo-lah yang menguasai semuanya dan pada dia lah semua mata tertuju. Ia merupakan orang yang mengontrol segalanya, penyebab dari tragedi demi tragedi, dan orang yang selalu mampu mengalihkan perhatian penonton. Dimainkan dengan sempurna oleh Billy Bob Thornton, ia layaknya seorang peneliti yang mempraktekkan langsung teorinya tentang sebuah studi karakter manusia. Ia kriminal yang jenius, tahu apa yang ia lakukan, tapi apa yang paling istimewa dari sosok ini adalah bagaimana cara ia berhadapan dengan tiap masalah, ketenangannya, hingga cara bicaranya yang manipulatif. Dandanannya mungkin menyedihkan, tapi dibalik gaya rambut dengan poni yang buruk itu, terselip salah satu otak kriminal terhebat sepanjang sejarah. It's a good thing he's a fictional character.

Sebagai sutradara, the 5 directors did a great job. Mereka sukses dalam menyeimbang dua tone Fargo yang saling bertolakbelakang. Ini bukan melulu soal kejahatan, ini adalah gabungan dari banyak genre yang saling terdepan dalam tiap sisi. Intensitas mampu terjaga dengan cukup konsisten, meski tak bisa dipungkiri lows itu tetap ada. Tapi, lihat bagaimana semua itu dikemas. Lihat bagaimana (oops, spoiler) Lorne membantai sebuah gedung dengan kamera yang hanya mengikutinya dari luar gedung, bergerak dari lantai ke lantai, hingga diakhiri klimaks fantastis. Lalu, lihat pula bagaimana Lorne mengelabui para pihak berwajib dengan sebuah masterplan luar biasa. Belum cukup, ini hanyalah dua dari banyaknya eksekusi brilian penuh ledakan intens yang mewarnai 10 episode Fargo ini.


Well, Fargo bukan berarti hadir tanpa cacat. Sekalipun screenplay racikan Noah Hawley memang cerdas, padat, dan merupakan salah satu yang terbaik di tahun ini, namun ini tidak membebaskannya dari beberapa detil yang tertinggal dan terasa janggal. Ada beberapa karakter di awal yag terlihat cukup krusial, namun nyatanya memang tak sekrusial itu. Selain itu, mungkin ada beberapa aspek di klimaks yang tak ditemani oleh detail yang lebih jelas. Sure, i'm not going to tell you which aspect. Meski begitu, terlepas dari kekurangan minor tersebut, Fargo tetaplah sebuah penghidupan karya klasik yang sangat berhasil. 

Ya, Fargo telah bangkit kembali, lewat sebuah lika liku kriminalitas yang tak hanya kompleks dan unpredictable seperti kisah crime yang lain, namun juga cerdas sembari tetap sukses dalam menggali tiap sisi humornya. Tone-nya terjaga baik, dengan sisi gelap dan terang yang cukup seimbang, membawa penonton kembali pada karya Coen Brothers. Karakter-karakter hadir dengan ciri tersendiri, lekat di ingatan, dan mampu berkembang dengan baik, dengan Billy Bob Thornton serta Martin Freeman yang berada pada lampu sorot. Lewat screenplay-nya yang berlatar sederhana di tengah masyarakat yang tak terbiasa kasus serupa, ini membuat penonton mudah terhubung dengan kisahnya yang cukup kompleks. Belum lagi, setiap kisah mampu dikemas dengan brilian yang disertai kemampuan teknis level atas, thanks to the wonderful directors. Hats off!


Monday, June 16, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Edge of Tomorrow (2014)

"Come find me when you wake up!" ~ Rita Vrataski

Siapa bilang membuat sebuah blockbuster merupakan hal mudah? Bermodal budget besar, dan voila! Semuanya bisa terwujud. Well, mungkin kalau ingin membuat suatu blockbuster murahan ber-budget besar, that's the way. Tapi, jika ingin suatu hidangan yang berhasil pada dua sisi: menghibur luar biasa serta cerdas dalam bercerita, itu adalah urusan lain. Tak sedikit memang blockbuster yang hanya menghibur tapi tak memiliki apa-apa di dalamnya. Contohnya? Yang jelas, bukan film ini, Edge of Tomorrow, yang datang dari sutradara The Bourne Identity, Doug Liman.

Diangkat dari light novel asal Jepang, All You Need is Kill, karangan Hiroshi Sakurazaka, Edge of Tomorrow mengisahkan tentang ras alien bernama Mimics telah mengambil alih daratan Eropa. Mayor William Cage (Tom Cruise), adalah seorang mayor yang tak pernah terjun langsung ke pertempuran, tiba-tiba dipanggil untuk bertemu Jendral Brigham (Brenda Gleeson). Ia memerintahkan Cage untuk ikut misi bunuh diri dalam menumpas ras alien tersebut. Cage yang belum berpengalaman dalam pertempuran tentu menolak dan memeras Jendral Brigham. Namun, usahanya sia-sia, karena segera setelahnya, ia langsung dilucuti pangkatnya dan dikirim paksa ke Bandara Heathrow, di mana ia bertemu Sersan Farell (Bill Paxton) dan skuad barunya, Skuad J.


Cage harus menerima kenyataan bahwa ia tak dapat mengubah keadaan, meski beragam cara konyol untuk kabur telah dilakukannya. Dengan rasa takut luar biasa, ia terjun ke pertempuran, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Sesaat setelahnya, ia diserang oleh makhluk raksasa bernama Alpha, meski akhirnya ia berhasil menghancurkannya dengan bom. Ketika Alpha mulai roboh, darahnya bercucuran di tubuh Cage, menyebabkannya 'tewas' dan terbangun kembali di depan Bandara Heathrow. Tanpa ia sadari, ia telah masuk sebuah mesin waktu yang akan terus mengulang pertempuran yang sama, kemudian tewas, bertempur, dan tewas lagi. Keadaan ini memaksa Cage menerima bahwa hanya dialah yang dapat menghentikan serangan musuh, dengan belajar dari kesalahannya, mati, dan memulainya dari awal lagi.

Baca sinopsis di atas, teringat sesuatu? Bagi para penggemar science fiction, Source Code jelas muncul di ingatan. Bagi yang menggemari genre horor yang tergolong cult, mungkin mengingatkan dengan horor Inggris, Triangle. Tapi, yang jelas, semuanya berakar dari Groundhog Day. Namun, di balik idenya yang bukanlah hal baru lagi, Edge of Tomorrow nyatanya bukanlah sekadar pengekor Groundhog Day, ia juga tidak sekadar mengikuti Starship Troopers. Ya, ada pula unsur Starship Troopers di dalamnya, menjadikan Edge of Tomorrow bagaikan Starship Troopers yang terjebak dalam dunia Groundhog Day. Tapi, kalau anda menganggap film ini sebagai pengekor keduanya pun, maka ini adalah pengekor yang sangat bagus, dan ini sama sekali bukanlah hal buruk.


Lewat premis gabungan ini, Edge of Tomorrow mendapatkan poin plusnya. Ia adalah film yang terus berulang, terjebak dalam 24 jam dan hanya bisa kembali ketika menghadapi kematian, membuat Edge of Tomorrow menjadi tontonan yang unik. Tak sampai di situ, memanfaatkan pola ini, Christopher McQuarrie, Jez Butterworth, dan John-Henry Butterworth melakukan sebuah kawin silang antara (tentunya) science fiction dan action, dengan banyak kromosom dari romansa dan komedi. Hasilnya, ini bukan hanya kisah tentang menumpas alien dan menyelamatkan dunia belaka, lebih dari itu, naskah ini kaya akan humor menyegarkan yang memanfaatkan pola Groundhog Day dan Tom Cruise yang sebagai perwira canggung, dan romansanya absurd dengan Cage yang merasa telah mengenal Rita ribuan kali, meski mereka sebenarnya baru saja bertemu. Namun, naskah yang kelihatannya menyenangkan ini bisa menjadi angan belaka jika berada di tangan yang salah.

Ya, melihat naskahnya, Edge of Tomorrow bisa berakhir di dua kemungkinan: repetitif dan membosankan, atau kesenangan yang tak berujung. Beruntung, proyek ini jatuh di tangan yang tepat, Doug Liman. Well, you can't mess with Jason Bourne, huh? Lewat tangan Doug Liman, Edge of Tomorrow bukanlah sebuah ripoff dari Groundhog Day, ini menjadi sesuatu 'baru', segar, dan menyenangkan. Liman berhasil mengarahkan semuanya. Yang anda lihat sepanjang 113 menit sebenarnya berada di set yang sama, kisah yang kurang lebih sama, dan tujuan yang sama persis: menyelamatkan dunia. Tapi, di sini lah peran seorang Liman. Ia membawa Edge of Tomorrow menjadi perjalanan melawan waktu dan tak kenal kata 'membosankan', dengan mencampuradukkan semuanya dengan kadar yang pas dan tak menjemukkan.


Temponya dinamis dan bergelora, meski pada dasarnya ini semua hanyalah pola yang terus berulang. Tapi, tak hanya berulang-ulang pada satu titik, karena pada tiap pola, film ini menambahkan ornamen-ornamen berbeda yang berhasil mengurangi tingkat repetitif dan rasa bosan dengan efektif, yang semuanya bergantung pada keputusan Cage. Sikapnya yang pelan-pelan belajar dari kegagalan membawa Edge of Tomorrow ke titik keseruan level dahsyat. Memang, sifatnya sebagai perwira payah dan tak tahu apa yang harus ia lakukan mengganggu di awal, tapi di lain sisi, hal inilah yang membuat Edge of Tomorrow makin kaya akan lapisan cerita, dan makin kaya akan ketegangan dan... tawa. Kita mungkin bisa mengkritisi bagaimana film ini mengakhiri kisahnya dengan cara yang sangat 'Hollywood'. Tapi, di luar itu, Edge of Tomorrow tetap mampu menjalankan 2 sisinya dengan sangat baik: entertaining as ever and thought-provoking as hell.

Edge of Tomorrow bisa jadi merupakan film di mana para penggemar dan haters Tom Cruise bersatu dan akur dalam gedung bioskop. Kalian bisa setia melihat wajahnya yang terus terpampang selama 113 menit, atau melihat (dan menertawannya) yang terus mati konyol dengan frekuensi yang tak terhitung lagi. Dan, jika anda tertawa, itu artinya Tom Cruise berhasil sebagai Cage yang pengecut dan komikal berkat kepayahannya. Ya, melihat Tom Cruise sebagai seorang pahlawan badass memang sudah biasa, tapi di sini, kita akan melihat bagaimana sang badass berasal, seorang perwira menyebalkan yang tak tahu apa-apa. Awalnya ketidaktahuan Cage mengganggu, tapi lama-kelamaan, ini terasa menyenangkan.


Tapi, sekeras apapun usaha Cruise, rasa-rasanya tak akan mampu menutupi pesona the real badass, the Full Metal B**ch, the Angel of Verdun, Rita Vrataski, yang dengan gemilang diperankan oleh Emily Blunt. Yes, the ice-cold office b**ch from The Devil Wears Prada is now the 'Full Metal B**ch'! Kemunculannya misterius, komikal, dingin, dan tak terlupakan. Ia boleh jadi not a fan of talking, but she's definitely a fan of stealing. Tepat, ia adalah pencuri momen yang selalu berhasil mengambil setiap lampu sorot di mana pun ia berada. Karakternya dingin dengan pedang raksasa yang selalu siaga, namun karismanya begitu appealing hanya lewat sekali push upChemistry Blunt dengan Cruise juga berlangsung canggung, aneh, ganjal, (dan memang seharusnya seperti itu) tapi tetap kokoh, menghasilkan romansa tak biasa, manis namun tetap dingin.

Ini mungkin adalah peranakan Groundhog Day dengan Starship Troopers, tapi ini keturunan istimewa, with the good genes, and it's totally okay. Justru, bermain dengan waktu a la Groundhog Day memberikan film ini banyak waktu untuk membangun apa saja, dari sekuen aksi, romansa unik, karakterisasi, hingga komedi pengundang tawa besar. Ia membawa nama besar Tom Cruise dan Emily Blunt yang mampu bersatu membentuk departemen akting matang. Kisah yang dibawa memang tak orisinal, namun pengemasannya cerdas dan menyenangkan dengan plotting berulang namun kompleks dan tak menjemukkan. Akhirnya, Edge of Tomorrow memang presentasi yang penuh keseruan, lucu, cerdas, blockbuster tak ber-otak yang dikawinkan dengan kisah penuh otak. Salah satu yang terbaik tahun ini!

Friday, June 13, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Maleficent (2014)

"Oh dear, what an awkward situation." ~ Maleficent

Siapa tak kenal tahu Sleeping Beauty? Kisah klasik yang pernah difilmkan oleh Disney pada tahun 1959 ini sampai sekarang memang dikenang sebagai salah satu film terbaik Disney. Tahun ini, kisah itu kembali, namun hadir dengan sudut pandang berbeda. Bukan lagi berpusat pada kisah Aurora, melainkan memusatkannya pada perspektif sang antagonis, Maleficent. Dengan kulit hijau, penampilan gothic, serta rasa tak kenal ampunnya, Maleficent memang dikenal sebagai salah satu villain tersohor dari universe Disney. Dan, kini ia hadir lewat naskah dari Linda Woolverton dan arahan dari sutradara Robert Stromberg.

Di awal kisah, narasi yang dibacakan Janet McTeer memperkenalkan penonton dengan seorang peri kecil baik hati bernama Maleficent (Isobelle Molloy) yang tinggal di Moors, wilayah penuh makhluk aneh yang memisahkan mereka dengan dunia manusia. Suatu hari, ia bertemu seorang anak manusia bernama Stefan, di mana hubungan mereka akhirnya berkembang dari pertemanan menjadi percintaan. Tapi, ketika keduanya telah dewasa, ambisi Stefan untuk menaklukkan kerajaan manusia membuatnya berhenti mengunjungi Maleficent (Angelina Jolie). Tak sampai disitu, demi menjadi seorang raja dan membalaskan dendam King Henry yang sakit-sakitan kepada Maleficent yang menggagalkan langkahnya dalam menaklukkan Moors, ia akhirnya memotong sayap Maleficent dan meninggalkan Maleficent dalam dendam.


Maleficent yang kehilangan sayap, kini larut dalam sakit hati dan kesedihan, yang membuat hatinya menjadi hitam dan penuh dendam terhadap manusia, khususnya King Stefan. Rasa sakit hati dan dendamnya makin menjadi, saat Stefan menikah dengan putri King Henry, apalagi ketika ia diberitahu oleh tangan kanannya, Diaval (Tom Riley), bahwa kerajaan akan mengadakan pembaptisan besar-besaran terhadap Aurora, anak King Stefan yang baru saja lahir. Di tengah meriahnya acara, Maleficent datang secara tiba-tiba dan memberikan 'hadiah' kepada Aurora, bahwa ia akan jatuh tertidur selamanya dan hanya dapat dibangunkan oleh true love's kiss.

Breaking the rules dalam industri film sekarang ini memang sedang marak. Lihat Frozen, Despicable Me, atau yang sangat ekstrim: The Cabin the Woods. Hal yang sama dilakukan pula oleh Maleficent, meski reaksinya memang campur aduk. Yeah, i mean, it's Maleficent. Who's supposed to be evil as hell, who's supposed to have no heart, who's supposed to be a villain. Perubahan signifikan yang ada dalam filmnya mungkin mengganggu bagi sebagian orang, tapi mungkin yang ingin melihat Maleficent sebagai sosok antihero yang belum pernah kita lihat sebelumnya, pasti dapat menerimanya. Lagipula, perubahan ini dimaksudkan untuk mencapai nilai moralnya tentang true love dan sebelumnya kita telah diwarnai latar belakang sang peri jahat yang dulunya merupakan seorang innocent little fairy. Bagaimana dengan saya? Well, i don't really mind it anyway, it's kind of fun to see Maleficent as a nicer person, as a human, and as a villain, all at once. Am i the only one? 


But, here's one thing. Kalau menarik ide aslinya yang berasal dari Sleeping Beauty, idenya mungkin terlampau lancang dan berani dalam membongkar-pasang kisah Maleficent yang telah kita kenal selama ini. Tapi, kembali lagi, hal itu sebenarnya kembali ke penilaian penonton yang bisa menerimanya maupun tidak. Saya sendiri, cukup menerima kelembutan yang ditawarkan Maleficent, meski sayangnya, hal itu terkesan ditambahkan dalam porsi yang berlebihan, hingga banyak merenggut sisi villain kejam yang selama ini selalu (dan harus) identik dengan sosok Maleficent. Ya, sekalipun tapi Maleficent tetap saja berhasil meraih simpati saya sebagai sisi hero maupun sisi villain, penampilan sangar dari sang villain sejati terkesan terabaikan dengan sisi humanis yang mungkin terlalu manis.

Tapi, masalah utama bagi saya bukanlah datang dari lancang atau tidaknya perubahan yang dilakukan, namun terlalu bertele-telenya naskah racikan Linda Woolverton. Narasi yang dibacakan Janet McTeer dengan berwibawa di awal film memang amat memikat, bagian awalnya memperlihatkan sisi Maleficent kecil yang tentu masih asing bagi kita terasa manis, kisah bagaimana seorang Maleficent kehilangan sayapnya penuh kepedihan, hingga di saat sang villain mengutuk Aurora di acara pembaptisannya dengan bahasa tubuh khas villain. Tapi, dari situ Linda mulai menawarkan rangkaian kisah yang cukup bertele-tele. Entah mungkin maksudnya hanya untuk mengisi durasi 97 menitnya atau menumbuhkan chemistry Aurora-Maleficent, namun memang cukup mengganggu melihat Maleficent yang hanya duduk dan melihat Aurora kecil yang tumbuh sambil mengerjai 3 peri kecil yang merawatnya (it's funny though).


Hal repetitif ini jelas dapat menghalangi banyak hal, terutama dalam memberikan ruang bagi karakter lain untuk berkembang. Pangeran Phillip yang diperankan Brendon Thwaites hanya sekedar muncul dan 'sekali lewat' saja. Akibatnya, chemistry yang terjalin dengan Aurora pun hanya 'sekali lewat' pula, dan twist yang coba dihadirkan pun dapat diterka sebelumnya (meski twist-nya sendiri memang tak baru dan ide dibaliknya memang pernah dipakai dalam salah satu film Disney). Sementara itu, King Stefan yang harusnya menjadi villain sebenarnya dan menjadi motivasi terkuat Maleficent dalam membalaskan dendamnya, hadir dengan waktu yang kurang dalam menunjukkan tajinya sebagai seorang raja haus kekuasaan.

Ya, dan banyaknya kekurangan ini, kekuatan seorang Angelina Jolie bekerja. Ia jelas merupakan bagian terbaik dari semua yang Maleficent bisa tawarkan. Lengkap dengan penampilan yang begitu mendukung: tanduk spiral panjang berbalut headdress hitam yang menawan, mata tajamnya yang cantik namun menunjukkan citranya sebagai seorang villain, lipstick merah merona yang makin menegaskan posisinya, hingga tulang pipi menonjol itu, Jolie jelas tak menyia-nyiakan hal itu dengan menunjukkan performa luar biasa, yang kalau boleh jujur, performa terbaik yang pernah saya lihat di tahun ini, dan pastinya salah satu performa terbaik yang pernah pemenang Oscar ini tawarkan (even though i haven't watched Changeling and Girl, Interrupted yet, what a shame).


Angelina Jolie adalah nyawa dan bintang yang bersinar terang. Ya, tak ada yang mampu menghidupkan setiap dialog, termasuk dialog sesederhana 'Well, well,' dan memberikan aroma gloomy yang luar biasa. Di awal, kita diperlihatkan ketangguhan Jolie dengan gaya bicaranya yang tegas dan garang namun tetap anggun dengan kedua sayap cantiknya. Kita dapat melihat dengan jelas betapa pedihnya ia ketika harus menerima kenyataan bahwa sayapnya telah dicuri, tapi bukan sekadar itu, kita juga dapat melihat kepedihan setelah dirinya dikhianati. Lalu, lihat bagaimana ia bertransformasi menjadi peri jahat berbalut pakaian serba hitam, dengan tatapan tajam dan senyumnya yang infeksius, lengkap dengan intonasi yang mampu membuat siapapun bergidik hanya dengan mendengarnya. A+ for you, Jolie!

Sekalipun saya tak terlalu mempermasalahkan langkah Linda Woolverton dalam mengubah konstruksi kisah aslinya, sayangnya langkah untuk mengubah Maleficent menjadi antihero ini terlalu jauh dengan porsi yang mampu menutupi sisi jahat Maleficent itu sendiri. Tapi, masalah utama ada dalam cara film ini mengantarkan penonton menuju konklusinya. Awalnya tergolong sukses, namun lama-kelamaan, langkahnya sangat repetitif dan bertele-tele, yang mengakibatkan beberapa karakter menjadi mentah dan twist-nya cukup predictable, karena keputusan Robert Stromberg yang terlalu asyik bermain-main dengan Maleficent-nya. But, thank God, ada Angelina Jolie yang bermain sangat apik dan magical sebagai Maleficent yang didukung pula oleh kekuatan CGI yang megah. Ya, potensinya begitu besar: sebuah penghidupan kembali kisah klasik yang diambil dari perspektif berbeda, bukan sembarang sudut pandang, namun datang dari perspektif sang antagonis. Sayang, potensinya terenggut dengan naskah mentah, tapi, untungnya Angelina Jolie hadir sebagai penyelamat di tengah potensi yang tak berhasil dieksekusi dengan baik.


Wednesday, June 4, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] The Grand Budapest Hotel (2014)

"I go to bed with all my friends." ~ M. Gustave

Tak banyak film yang dapat kita ketahui secara langsung siapa sutradara di baliknya hanya dengan menontonnya dengan cukup seksama. Salah satu di antaranya adalah Quentin Tarantino. Selama ini, Tarantino memang dikenal dengan dialog-dialognya yang ceplas-ceplos, penuh dengan humor hitam, dan yang pasti: penuh kekerasan. Sementara Alfred Hitchcock, di samping film-filmnya yang kebanyakan melibatkan 3 formula wajib: intensitas tinggi, romansa matang, dan wanita pirang, ia juga dikenal cukup narsistik, karena sering muncul sebagai cameo di sebagian besar film-filmnya. Tapi, mungkin ada lagi sutradara lain yang dapat dikenali karyanya bukan lagi dengan menontonnya secara seksama, melainkan cukup dengan melihatnya saja: Wes Anderson.

Bagi para penggemar karyanya, pasti tahu mengapa film-film hasil racikannya mampu diidentifikasi dengan sangat mudah. Bagi yang belum, kami akan membicarakannya nanti. Yang jelas, ia memang dikenal lewat komedi-komedi yang digarapnya. Ia adalah orang dibalik suksesnya Fantastic Mr. Fox, The Royal Tenenbaums, hingga Rushmore. Dua tahun yang lalu, ia sempat kembali lewat salah satu film terbaik di tahun itu, Moonrise Kingdom, komedi tentang anak pramuka yang kabur bersama kekasihnya, di mana filmnya dipuji habis-habisan berkat kemasana dan komedinya yang unik dan memanjakan mata. Kini, masih setia dengan komedinya yang khas, ia hadir lagi dengan The Grand Budapest Hotel.


Jangan tertipu namanya, The Grand Budapest Hotel bukan terletak di Budapest, melainkan sebuah republik bernama Republik Zubrowka. Dikelola oleh seorang concierge profesional bernama Monsieur Gustave (Ralph Fiennes), di tangannya ia mampu menjadikan hotel ini menjadi hotel kenamaan dengan fasilitas bintang lima. Dengan ketertarikannya dengan wanita yang jauh (sangat jauh) lebih tua, ia menjalin hubungan dengan nenek berusia 84 tahun, Madame D. (Tilda Swinton). Tragedi datang ketika Madame D. ditemukan tewas diracun, dan anak Madame yang gila harta, Dmitri (Adrien Brody), menuduh Gustave telah membunuhnya. Bersama anak buah kepecayaannya, seorang lobby boy baru bernama Zero Moustafa (Tony Revolori), mereka memulai petualangan dan lari dari kejaran sang pembunuh berdarah dingin suruhan Dmitri, Jopling (Willem Dafoe).

Salah satu kekuatan Wes Anderson dalam mengemas setiap filmnya adalah visual storytelling. Tak sekadar dengan naskah baik dan cast yang mumpuni, setiap aspek dalam film terasa begitu krusial. Setiap unsur dalam film turut ambil bagian dalam menceritakan setiap kisah. Jadi, bagi anda yang masih asing dengan namanya, jangan heran kalau The Grand Budapest Hotel dikemas dengan visual tingkat tinggi. Ya, bukan hanya dikenal karena narasinya yang identik dengan kata 'quirky', signature work khas Anderson juga memiliki hal lain yang begitu mencolok, yaitu visualnya yang memanjakan mata, tapi tanpa meninggalkan kata 'quirky' itu sendiri.


Sekalipun Budapest memang merupakan ibukota Hungaria, tapi Grand Budapest Hotel memang hotel fiktif di wilayah fiktif, Republik Zubrowka. Dari sini, itu hanyalah awal bagi Anderson untuk menghidupkan dunia fiktifnya menjadi sebuah dunia yang sesak akan imajinasi liar. Ya, dunia dongeng a la Anderson dalam The Grand Budapest Hotel lagi-lagi hadir dengan tone yang unik, terkesan vintage namun digarap secara fresh dan hangat. Sinematografinya melibatkan angle-angle rupawan yang menawarkan banyak side tracking shot cantik dengan proporsi simetris sempurna. Production design hingga costume design dikemas dengan penuh warna dan seksama. Musiknya muncul untuk memeriahkan suasana '60an yang telah kental dengan lantunan nada orkestra penuh permainan musik old-fashioned Eropa karya Alexander Desplat yang makin mengukuhkan suasananya. Hasilnya? Sebuah perpaduan visual menawan, cantik, antik, tapi tetap unik.

Tapi, semua tentang Grand Budapest Hotel tak terbatas pada bagaimana ia mengemas visual film ini dengan imajinasi ajaib Wes Anderson. Ini juga bagaimana ia menciptakan sebuah kisah komikal tak biasa yang berbalut kemasan absurd. Narasinya cukup unik yang dibuka dengan seorang wanita yang membaca sebuah novel, kemudian point-of-view akan terus berganti, hingga mencapai mata seorang lobby boy bernama Zero. Komedinya menawan dengan dry humor yang offbeat dan unik, ampuh menghasilkan banyak tawa dalam atmosfer yang awkward serta plot yang hadir tanpa memikirkan akal sehat. Porsi 'kucing-kucingan' mampu dibubuhi dengan petualangan menyenangkan dan humor yang meledak-ledak. Ada sedikit kegelapan di dalamnya, di mana Wes melibatkan beberapa kekerasan dan tragedi: dari darah, pembunuhan, potongan jari, hingga kepala yang terpenggal. Tapi, di samping semua itu, ada drama yang emosional dan jujur, memancarkan kehangatan dan hati yang sebenarnya dalam kisah ini.


Goal-nya bukan untuk membuat film dengan kisah serealistis mungkin, melainkan membuatnya seimajinatif mungkin, menyesuaikan dunia liar ajaib yang dibentuk oleh Wes Anderson. Hasilnya, seperti yang kita lihat pada Moonrise Kingdom, beberapa subplot memang tampil nonsense dan terkesan mengabaikan akal sehat. Namun, tentu ini sama sekali bukan masalah, dan bukan pula berarti ia lantas meninggalkan nalar. Ada satu waktu ketika ia membangun suasana satirikal, dengan tetap mempertahankan atmosfer komikal, namun pada akhirnya sukses menyentil isu-isu nyata tersebut dengan lembut. Ya, The Grand Budapest Hotel memang tak hanya bertumpu pada dry humor yang efektif, ia punya segudang amunisi: ide-idenya yang dihiasi parodi, satir komikal, petualangan menyenangkan, tragedi kelam, sejarah hitam Eropa, romansa melankoli, hingga drama jujurnya. Sekalipun tak menghadirkan plot yang benar-benar baru, namun setiap lapisan kisahnya begitu menggigit dengan imajinasi liar dan pacing lembut yang membuat keseluruhan film meniupkan hawa segar.

Tak sampai di situ, ada hal lain yang membuat The Grand Budapest Hotel tampil kokoh: karakter. Lewat narasinya kita diperkenalkan dengan Zero, seorang lobby boy canggung berdarah India yang sangat patuh dengan topi bertuliskan 'lobby boy' yang selalu setia berda di kepalanya, berhasil diperankan dengan baik oleh aktor remaja Tony Revolori. Lewat mata Zero pula, kita dikenalkan dengan sang karakter utama yang lovable, Monsieur Gustave, seorang cocierge sebuah hotel kenamaan, The Grand Budapest Hotel, yang merupakan pribadi tangkas, penuh perhitungan, profesional, harum, dengan gaya bicara cepat dan ceplas-ceplos, namun dengan intonasi yang begitu lembut. Mampu dipotret dengan sempurna oleh Ralph Fiennes, ia adalah sosok charming, eksentrik, sopan meski mulutnya penuh lontaran F-bomb, hati dari keseluruhan film



Sisanya, anda akan melihat para cast langganan Wes Anderson. Nama pertama tentunya adalah Bill Murray, yang entah sudah berapa kali mendapat tempat di film karya Anderson. Porsinya kecil, namun tetap menonjol dengan pembawaan tenangnya. Ada pula Tilda Swinton yang penuh make up, dengan menakjubkan berhasil memerankan seorang nenek 84 tahun, Madame D. yang mencuri perhatian, yang tak lain merupakan kekasih M. Gustave. Di lain pihak, ada Saoirse Ronan, aktris muda pemegang nominasi Oscar yang baru pertama kali ambil bagian dalam film garapan Wes, sebagai Agatha, love interest Zero yang tangguh dengan tanda lahir berbentuk negara Meksiko (yes, literally!). Tak perlu dibahas satu-persatu, tapi dengan cast yang begitu besar dan penuh akan talenta, Wes Anderson mampu memberikan ruang cukup bagi para karakternya. Salah satu ensemble cast terbaik tahun ini!

Kembali, Wes Anderson menghadirkan sebuah karya yang berbalut dunia ciptaannya yang kaya visual maha cantik dan imajinasi tingkat tinggi. Narasinya unik dengan pengemasan quirky yang diisi oleh karakter-karakter loveable dan eksentrik yang mampu dimainkan dengan baik oleh para cast-nya. Sebagai komedi, ia menawarkan sense of humor khas Wes Anderson yang penuh warna dan tak biasa. Katakanlah aneh, tapi berkat keanehannya pula, komedi ini mampu bersinar terang dibanding lainnya. Petualangannya begitu seru dengan segala keabnormalannya yang berhasil dengan gemilang. Namun, dibalik itu semua, ada drama yang memikat, emosional dan penuh cinta, yang menjadi pondasi kokoh dari segala yang Anderson angkat dalam film ini. Nonsense, liar, imaginatif, aneh, cerdas, menyenangkan, memikat, hingga infeksius, itu hanyalah sekian dari banyak alasan mengapa The Grand Budapest Hotel pantas dikatakan sebagai salah satu komedi terbaik yang pernah ada.

Sunday, June 1, 2014

Tagged under: , , , , , , , ,

[Review] Godzilla (2014)

"Look, Mommy! Dinosaurs!" ~ Sam Brody

Berbicara tentang karakter monster fiktif, maka tak akan ada habisnya. Kita mengenal Graboid dari Tremors, Kraken dari Clash of the Titans, Clover dari Cloverfield, hingga Mr. Stay Puft dari Ghostbusters yang begitu menggemaskan. Sementara Korea memiliki Gwoemul yang muncul di The Host, Swedia juga memiliki Trollhunter dengan monsternya Troll. Tapi, dari semua itu, maka dapat dipastikan ada 2 nama dari 2 industri film berbeda yang tak akan tertinggal: Hollywood dengan King Kong-nya dan Jepang dengan Gojira (atau yang lebih dikenal sebagai Godzilla di Hollywood). Kali ini, tentu kita tak akan membicarakan King Kong, tapi salah satu reboot summer blockbuster yang paling ditunggu untuk tahun ini: Godzilla.

Tenang, bukan nama Roland Emmerich yang kali ini bertanggung jawab dalam membangunkan makhluk yang sudah terlalu sering dibangunkan di industri perfilman ini. Adalah Gareth Edwards yang menduduki bangku sutradara, bersama Max Borenstein dan Dave Callaham yang bertanggungjawab dalam menangani naskahnya. Tapi tunggu, siapa Gareth Edwards? Tenang, anda bukan satu-satunya, karena ia memang baru menelurkan 1 film sebelumnya, sebuah critically acclaimed science fiction bertema alien invasion, Monsters. Dibintangi Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Ken Watanabe, hingga Juliette Binoche, can this reboot live up to its high expectation?


Tahun 1954, sebuah proyek nuklir Amerika Serikat rupanya membangunkan sesosok raksasa yang belum teridentifikasi yang sempat muncul ke permukaan. Maju ke tahun 1999, dua ilmuwan Projek Monarch, Dr. Ishiro Serizawa (Ken Watanabe) dan Dr. Vivienne Graham (Sally Hawkins), berhasil menemukan sebuah fosil radioaktif di sebuah pertambangan di Filipina. Sementara itu, di Jepang, reaktor nuklir Janjira mengalami aktivitas seismik aneh berupa gempa bumi yang berpola, yang akhirnya berakhir pada tragedi besar yang menewaskan Sandra Brody (Juliette Binoche) di depan mata suaminya sendiri, seorang fisikawan Joe Brody (Bryan Cranston).

Lima belas tahun kemudian, Joe kembali untuk menuntaskan apa yang dulu ia tinggalkan. Bersama sang anak yang telah dewasa dan menjadi perwira United States Navy, Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson), mereka kembali dan menemukan bahwa daerah karantina bekas reaktor Janjira ternyata tak terkontaminasi radioaktif seperti yang telah dilaporkan sebelumnya. Kejadian aneh ini bukanlah salah satunya, karena ini hanyalah segelintir 'peringatan' yang menuntun kita pada bangunnya makhluk besar bersayap yang siap memporakporandakan apapun. Godzilla? Bukan, ini baru sekadar pemanasan untuk bertemu sang monster abadi.


Size does matter, dan itulah yang Gareth Edwards terapkan pada Godzilla: expand the scope. Ia menambah segalanya. Godzilla sudah bukan monster yang sekadar menitipkan telurnya di Madison Square Garden New York, sekarang ia adalah makhluk serupa stegosaurus versi karnivor setinggi lebih dari 100 meter. Melebarkan cakupan wilayahnya, kita akan berkelanana dari Filipina, Jepang, Las Vegas, hingga San Fransisco, ditemani pula dengan 2 makhluk raksasa mirip serangga yang makin menambah bombardirnya Godzilla versi Gareth Edwards ini. Tentu, CGI sangat vital di sini, dan dengan kualitas CGI mengagumkan, sosok Godzilla itu sendiri kembali hadir sebagai salah satu monster fiksi mengerikan yang pernah ada.

Dari opening film, kita ditawarkan bukan hanya ketegangan, tapi juga drama yang dipresentasikan dengan cukup menarik. Hanya dengan durasi sekitar 12 menit, duo Bryan Cranston dan Juliet Binoche mampu memberikan koneksi matang pada tiap karakternya. Berkat ruang gerak yang Edwards berikan pula, mereka dapat menyajikan porsi yang cukup efektif dalam kadar emosionalnya, di tengah ruang waktu yang begitu terbatas. Di dalam singkatnya waktu itu juga, Gareth Edwards mampu memompa intensitas, memberikan combo yang cukup berhasil dalam dua sisi: menghentak secara emosi sekaligus menghentak dalam adrenalinnya. Tapi, apakah ini akan bertahan lama? Sayangnya tidak.


Masalah besar datang ketika Edwards mulai menggiring penonton pada drama intinya, kolaborasi antara Aaron Johnson dengan Elizabeth Olsen. Walaupun memiliki waktu yang jauh lebih banyak, sayangnya kemampun Edwards perlahan melempem dan terlihat tak memberikan ruang yang cukup bagi para karakternya untuk berkembang lebih, sebaliknya ia terkesan lebih menikmati bermain-main dengan sang monster, dan mengacak-acak seluruh penjuru kota Honolulu, Las Vegas, dan San Fransisco. Hasilnya, sebuah drama prematur yang masih terasa masam dengan ikatan emosi yang kurang menonjol, porsi yang tak terlalu menarik dan terkesan menjemukkan. Tapi, dibalik timpangnya drama ini, seperti yang saya bilang tadi, Edwards sukses besar dalam menghidupkan kembali sosok Godzilla dan mengembalikannya menjadi makhluk garang nan gagah.

Tsunami, 'gempa bumi', ledakan masif, kereta hancur, hingga pertarungan para raksasa, itu masih segelintir kecil dari banyak kehancuran yang Gareth Edwards tawarkan. Ya, sebagai sebuah film tentang Godzilla, semua terasa sempurna. Setiap langkah dalam memperkenalkan raksasa ini begitu tepat. Di paruh awalnya, anda tak akan melihat sesosok Godzilla. Sebagai gantinya, Edwards 'menyentil' penonton dengan kehadiran raksasa lain, M.U.T.O (Massive Unidentified Terrestrial Organism). Dengan menyembunyikan sang tokoh utama, tentu Edwards mempunyai banyak waktu untuk menyiapkan moment of the truth. Dan ketika waktunya tiba, boom! Sebuah 'reinkarnasi' masif dan fantastis, diiringi kehancuran dan pompaan intensitas maksimal yang mampu mengernyitkan mata dan meninggalkan penggemar dalam kekaguman. Ada kata 'God' dalam Godzilla, dan Gareth Edwards tahu betul bahwa ia harus memperlakukan Godzilla layaknya dewa.


Sisanya, adalah one-man-show, di mana Godzilla mendominasi frame dan mengendalikan semuanya. Ada peran manusia di baliknya, tapi tak terlalu krusial. Pada satu sisi, hal ini berimbas pada peran para karakter yang 'terbuang', namun di sisi lain, ini adalah kesempatan bagi bintang utama untuk bersinar terang. Dan, memang, kesempatan bagi Gojira untuk bersinar terbuka lebar dan Edwards berhasil mempertahankan itu. Hingga pada akhirnya, ia membawa kita pada konklusi yang membuat siapapun bersorak sorai gembira sekaligus makin mengagumi monster Jepang ini. Well, meski Gareth tak berhasil mengangkat drama humanisnya, tapi yang terpenting, ia sukses membawa kita pada kecintaan terdalam terhadap sang bintang utama. And it's a good thing!

Katakanlah dramanya setengah matang, tapi coba tutup sebelah mata dan lihat Godzilla sebagai sebuah paket blockbuster penuh: keseruannya bertubi-tubi, kehancuran yang tiada henti, Sang Gojira pun tampak gagah berani, ditambah ending cheerful yang makin menyiratkan bahwa ini jelas adalah sebuah surat cinta sekaligus obat hati bagi para penggemar Gojira yang sebelumnya pernah sakit hati berkat Godzilla versi Roland Emmerich yang memperlakukan sang monster abadi seenaknya. Dengan skala serba raksasa, Godzilla versi Gareth Edwards ini tentu adalah presentasi yang pas bagi sosok Godzilla. Di sini, Edwards bukan hanya mengandalkan kekuatan komputer semata, tapi juga mengandalkan hati seorang penggemar Godzilla sejati. Jauh dari sempurna, tapi jika anda adalah orang yang mengutamakan hiburan di atas segalanya atau seorang penggemar Godzilla yang tak mau dikecewakan lagi, maka film ini adalah untuk anda, karena dijamin, it's one hell of a ride!


Friday, May 30, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Oculus (2014)

"I've met my demons and they are many. I've seen the devil, and he is me." ~ Alan Russell


Berapa banyak film yang mengkambinghitamkan benda mati sebagai medium para makhluk supernatural? Sangat banyak. Oculus, adalah salah satunya. Berasal dari Bahasa Latin yang berarti mata, film horor ini mengangkat cermin sebagai highlight-nya. Disutradarai oleh Mike Flanagan, Oculus didasarkan dari sebuah film pendek yang ia sutradarai pula pada 2006 lalu. Naskahnya, adalah karya kolaborasi Flanagan dengan Jeff Howard. Berbekal itu semua, mampukah Oculus muncul sebagai horor berkualitas di tengah ide kisahnya yang jauh dari kata segar?

Semua fokus tertuju pada sebuah cermin. Berawal dari Alan Russell, seorang pengembang komputer yang pindah ke rumah baru bersama istrinya, Marie, dan kedua anaknya, Tim dan kakanya, Kaylie. Alan sendiri membeli sebuah cermin antik sebagai dekorasi dalam ruang kerjanya. Tragedi besar pun terjadi yang menewaskan Alan dan Marie, sementara Tim harus masuk ke instalasi jiwa. Sebelas tahun kemudian, Tim kembali, dan berkumpul lagi dengan sang kakak, Kaylie, yang rupanya telah menghabiskan bertahun-tahun untuk menyelidiki sejarah cermin tersebut. Berkat pekerjaan Kaylie sebagai pegawai dalam rumah pelelangan, mereka berhasil mendapatkan cermin itu kembali. Sekarang, goal-nya terdengar cukup sederhana: menghancurkan si cermin dan memutuskan segala kutukan dalam benda antik itu.


Lihat baik-baik kisahnya: Apa yang baru dari ide cerita Oculus? Nyaris tak ada, sudah banyak film horor yang mengangkat benda-benda semacam ini. Lantas, apa itu membuat Oculus menjadi film horor yang buruk? Sama sekali tidak! Justru, jujur saja, Oculus adalah salah satu horor terbaik tahun ini. Setelah rilisnya The Conjuring (well, setidaknya), definisi horor modern bagus berubah: mampu meneror seisi bioskop, sekalipun menawarkan cerita usang. Oculus pun, melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari itu, ada hal istimewa lain yang menjadi alasan kuat mengapa Oculus sangat patut untuk diapresiasi. 

Mengembangkan kisah layaknya Oculus memang bukan pekerjaan mudah. Sepanjang 104 menit, hampir semuanya berada di bawah kendali sebuah cermin antik. Selama itu pula, film ini mengambil setting di tempat yang itu-itu saja. Belum lagi, dengan ide cerita yang sebenarnya bukanlah hal baru dan sangat sederhana. Akibatnya, seluruh ruang gerak untuk mengembangkan film ini menjadi horor yang berbeda menjadi sempit dan sangat terbatas. Salah-salah, ia bisa saja tampil mediocre dan berakhir tanpa kesan. Tapi, akal dari duo screenwriter, Mike Flanagan serta Jeff Howard, memiliki ruang gerak tak terbatas. Lewat hal ini, mereka berhasil menawarkan sebuah trik sulap yang menarik: pengemasan narasi secara paralel.


Dengan menerapkan narasi yang secara hampir bersamaan memaparkan dua garis cerita berbeda, masa lampau dan sekarang, Oculus berhasil menarik minat saya. Ini bukan hanya menambal kisah sederhananya, bahkan mampu menutupinya dan membuat saya melupakan betapa usang ceritanya. Sekali, hal ini pun bukanlah hal baru, tapi dengan eksekusi mendekati sempurna, elemen inilah yang terus 'memaksa' saya untuk terus mengarungi sekaligus menikmati perjalanan dua bersaudara ini. Dengan langkah ini, Flanagan dengan cerdas mampu memompa intensitas, menegakkan atmosfer gelapnya, menipu siapa pun dengan berbagai ilusinya, menyuntikkan letupan-letupan yang efektif dan meledak-ledak, dan tentunya meneror penonton.

Hingga second act-nya, semua terasa baik-baik saja. Arahan dari Flanagan mengalir cukup lancar dan sukses menggiring film ini menjadi pemacu adrenalin mujarab. Oculus mampu menawarkan apa yang harusnya ditawarkan oleh sebuah horor, khususnya horor psikologis: bukan hanya ampuh dalam menakut-nakuti, tapi juga sukses membuat penonton terlarut dalam lautan teka-teki yang penuh tanda tanya sekaligus tertipu dengan trik-triknya. Dengan kejutan yang datang lapis demi lapis, membuat penonton sedikit menutupi mata dengan kedua tangan, tapi secara bersamaan, mata tetap setia menatap layar dengan rasa penasaran yang kian menit makin terusik dan menggebu-gebu. 


Tapi, menjelang akhir, Flanagan terasa kebingungan membawa Oculus ke titik puncak. Ilusi maupun trik-triknya mulai menjadi repetitif dengan narasi yang dibawanya juga mulai berputar-putar. Ini tentu berakibat pada setiap kejutan menjadi less surprising dan ketegangan yang tadinya telah terjaga cukup baik, perlahan mengendur. Pada akhirnya, dengan intensitas yang perlahan menurun, Oculus masih bisa berakhir dengan kejutan yang saya kira cukup mengejutkan, namun sayangnya terlampau sederhana dan straight-forward, sehingga tak mampu menyamai apa yang telah dibangun dengan susah payah dalam first hingga second act-nya. Meskipun, ending seperti ini malah makin menegaskan peran mengerikan cermin keramat ini.

Keseluruhan Oculus memang berada dalam kendali benda mati: sebuah cermin, namun tak berarti departemen cast-nya dapat kita lupakan. Justru, masing-masing dari mereka berhasil besar dalam melakonkan setiap perannya. Karen Gillan tampil meyakinkan sebagai pemimpin cast yang tangguh, penuh persiapan, dan ambisius. Di sisi lain, Annalise Basso serta Garrett Ryan tak kalah andal dalam memainkan duo Russell kecil bersaudara. Tapi, penampilan magnetik datang dari Katee Sackhoff, yang gemilang sebagai seorang ibu dengan dua sisi: sisi lembut dan sisi garang yang ia tampakkan ketika makhluk supernatural mulai merasukinya.


Dari segala hal mengenai Oculus, ada satu hal lain yang begitu krusial bagi film ini. Bukan cermin, cast, naskah, ataupun penyutradaraan. Jika anda telah menonton film ini, pasti anda akan sadar akan hal itu: editing. Ya, film ini memang bergantung banyak pada porsi tersebut, terutama dalam hal menjaga intensitas ketegangan. Dengan suntingan gambar yang dilakukan dari bangku sutradara sendiri, yaitu Mike Flanagan, ia hadir dengan cemerlang dalam membungkus Oculus menjadi sebuah perjalanan 'menyenangkan' penuh lompatan waktu dengan transisi amat halus, bahkan kita bisa saja tak menyadarinya. Bravo!

Memadukan kisah konvensinal dan mengemasnya dalam sebuah konsep yang sebenarnya bukan hal baru, Oculus berhasil menjadi suatu angin segar dengan eksekusinya yang matang. Penampakan hantunya jujur tak terlalu menakutkan, namun arahan dari Flanagan lah yang berhasil membuat Oculus menjadi mesin teror efektif lewat ilusi dan trik-trik tipuannya dengan naskah ditulis mumpuni dan kreatif dengan segala keterbatasan ruang geraknya. Dengan kejutan yang berlapis-lapis, letupan-letupan intens, atmosfer yang begitu dingin di tengah kegelapan, cast-nya yang bertalenta hebat, hingga bintang utamanya, sang cermin, terus menerus mengeluarkan aura misteriusnya, Oculus bukanlah sekadar horor kemarin sore yang sama sekali buta tentang cara menakuti-nakuti, terlepas dari segala kekurangannya, ini adalah horor yang dipupuk dengan cukup solid dan sepenuh hati.

Thursday, May 29, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] X-Men: Days of Future Past (2014)

"You're afraid. I remember." ~ Professor Charles Xavier

Pamor X-Men, dengan tokoh andalannya Wolverine, boleh jadi tak seterang Spider-Man, Superman, Batman, atau komik superhero lainnya. Tapi, perlu diingat, eksistensi selama 13 tahun dalam industri perfilman itu bukan main-main. Di mulai dari X-Men (2000) yang pertama kali mempertemukan kita dengan Wolverine, Professor X, dan Magneto, kemudian berlanjut pada sekuel-sekuelnya hingga dihidupkannya kembali franchise ini lewat X-Men: First Class (2011), dan yang teranyar, sebuah standalone dari Wolverine dan tentunya sekuel bagi X-Men: First Class dan X-Men: The Last Stand sekaligus, yaitu X-Men: Days of Future Past.

Tak hanya dibintangi Jennifer Lawrence, James McAvoy, dan Michael Fassbender dari X-Men: First Class, kini bergabung pula Hugh Jackman, Ian McKellen, Patrick Stewart, dan Halle Berry dari X-Men sebelum-sebelumnya. Untuk menangani proyek krusial ini, mengingat ada beban berat yang dipikulnya, tentu bukan sembarang orang yang dipilih. Dengan menggaet kembali Bryan Singer, orang yang berada di balik kesuksesan X-Men serta X-Men 2, di bangku sutradara, dan gagasan cerita dari trio Jane Goldman, Simon Kinberg, dan Matthew Vaughn, yang sebelumnya berjasa dalam menghasilkan X-Men: First Class, ini adalah winning team yang benar-benar ampuh. Namun, benarkah?


Dibuka dengan penuh ketegangan, kita diperkenalkan dengan dunia dystopian di mana mesin pembunuh bernama Sentinel berkeliaran untuk membasmi para mutan serta menindas para keturunan mutan-manusia. Ketika populasi mutan telah terancam, sekelompok kecil mutan, yang terdiri dari Bishop (Omar Sy), Blink (Fan Bingbing), Sunspot (Adan Canto), Warpath (Booboo Stewart), Colossus (Daniel Cudmore), serta Iceman (Shawn Ashmore), selamat berkat bantuan Kitty Pryde (Ellen Page), mutan yang mampu memproyeksikan pikiran seseorang ke masa lalu.

Untuk menyelatkan mutan dari ancaman Sentinel, kelompok ini kemudian bertemu dengan Wolverine (Hugh Jackman), Professor X (Patrick Stewart), Magneto (Ian McKellen), serta Storm (Halle Berry) di sebuah biara di Cina. Caranya, adalah dengan mengirim kesadaran Wolverine kembali ke tahun 1973 dan menggagalkan usaha Mystique (Jennifer Lawrence) untuk membunuh Dr. Bolivar Trask (Peter Dinklage), otak dibalik terciptanya Sentinel, yang sebenarnya tercipta berkat DNA Mystique yang diambil setelah ia membunuh Trask. Untuk mencegah Sentinel diciptakan dan mencegah kepunahan para mutan di masa mendatang, Wolverine juga membutuhkan bantuan versi muda dari Professor X (James McAvoy) dan Magneto (Michael Fassbender).


Goal-nya sederhana: menghentikan langkah Raven yang dapat membahayakan dunia mutan di masa depan. Tapi, tak sesederhana kedengarannya: narasi sesak akan puzzle yang terpecah, penuh layer, dan lompatan waktu di sana-sini. Dalam merangkai tiap bagian dalam naskahnya, upaya Simon Kinberg terbilang sukses besar dengan mengangkat drama matang yang dikelilingi kekuatan super plus humor-humor komikal, sekalipun tak sepenuhnya mulus. Tak sampai di situ, upayanya untuk membuat para fanboy berteriak histeris patut diacungi jempol, dari mengirim Wolverine, karakter paling dikenal dari universe X-Men, ke masa lalu ketimbang Kitty seperti dalam komik aslinya, merangkul karakter-karakter lintas generasi sekaligus, hingga mempertemukan Charles Xavier dengan Charles Xavier dalam 1 frame! Dengan mengambil latar belakang perjalanan waktu yang dihiasi suasana dystopian yang juga membawa banyak aroma humanity di dalamnyaX-Men: Days of Future Past hadir tidak hanya dengan narasi menghentak dan serba besar a la film superhero tipikal, tapi juga cerdas dan thought-provoking. The smartest X-Men film to date!

Sebagai sebuah film action, aksinya begitu infeksius. Tak sekadar menghancurkan apapun yang ada di depan mata, tapi lebih dari itu, ketegangan ditingkatkan pula secara intensif. Bryan Singer secara cerdas berhasil menawarkan porsi berimbang bagi aksinya, tanpa menutupi narasinya secara keseluruhan. Mencapai bagian klimaks, mungkin tak akan ada pertarungan yang benar-benar masif seperti film-film sejawatnya (sekalipun pertarungan itu tetap ada dan melibatkan sebuah stadion), namun tak berarti klimaks yang dihadirkan begitu mentah. Bukan Bryan Singer namanya kalau ia tak dapat mengemasnya secara apik dan epic. Dengan pengemasan penuh lapisan dari 2 waktu sekaligus serta suntikan emosional yang bertubi-tubi, klimaks ini tak hanya mampu dibungkus dengan penuh keseruan, tapi juga meninggalkan emosi yang mendalam. Sebuah hal yang mungkin jarang kita temui di tengah serbuan film pahlawan super akhir-akhir ini yang meninggalkan penonton hanya dengan keseruan belaka.


Adalah tugas berat bagi Bryan Singer untuk menggabungkan sebuah cast raksasa dalam 131 menit. Bahkan lebih berat ketimbang The Avengers yang menggabungkan 6 pahlawan super sekaligus, X-Men menawarkan jauh lebih banyak mutan, dan tak tanggung-tanggung, mereka hadir dalam 2 generasi yang berbeda. Ya, dan Bryan Singer sukses memberi ruang bagi para aktornya untuk berkembang, meski halangan itu tak bisa dipungkiri. Ada banyak aktor langganan Oscar di sini. Dari Wolverine, Magneto, Mystique, Kitty, Storm, hingga Rogue, beberapa dari mereka setidaknya hampir merasakan rasanya memegang Oscar statue, bahkan beberapa telah membawanya pulang (Jennifer Lawrence, Halle Berry, dan Anna Paquin), meski sayang, Halle Berry dan Anna Paquin terkesan dihadirkan hanya untuk menghapus rasa haus para diehard fans

Jennifer Lawrence, tentu menjadi fokus, karena posisi vitalnya dalam narasi. Sebagai Raven/Mystique yang hidup dalam ketakutan dan kehilangan arah, ia dingin, manipulatif, tangguh, dan tak banyak omong. Hugh Jackman sebagai si easy-going Wolverine, James McAvoy sebagai Professor X versi putus asa, Michael Fassbender sebagai mutan abu-abu, hingga Peter Dinklage si villain mungil juga hadir memuaskan. Namun, dari sekian banyak mutan berseliweran, Quicksilver alias Evan Peters adalah sang scene stealer. Dengan pembawaan eksentrik, penampilan komikal, hingga kemampuannya yang membuat siapapun berdecak kagum, ia mungkin merupakan everybody's favorite now. Mungkin hanya satu kekurangannya: screentime yang harusnya lebih banyak!


Sedikit berbeda dengan film superhero pada umumnya, tak ada karakter yang benar-benar berada di jalur hitam. Mystique, sekalipun ia merupakan ancaman besar bagi dunia mutan, ia tetaplah tak lebih dari sekedar gadis yang kehilangan jati dirinya. Sama halnya dengan Magneto, di luar mindset 'kill-or-be-killed'-nya, kita selalu tahu hubungan frenemy-nya dengan Professor X. Sedangkan villain lain dalam film ini, Bolivar Trask, pria di balik mesin pembunuh Sentinel, juga tak bisa dikatakan sebagai villain sejati. Di balik tubuh 4 kakinya, ia bukan seseorang yang benar-benar hidup dalam area hitam. Ia hanyalah seorang manusia yang tak mampu memahami para mutan, dan terperangkap dalam ketakutan. Dengan memanfaatkan batas hitam-putih ini, Bryan Singer dengan cerdik mampu meraih simpati dari siapapun karakternya, termasuk dari sang antagonis itu sendiri.

Lewat Days of Future Past, X-Men kembali membuktikan eksistensinya di tengah serbuan para karakter Marvel Comics lain seperti Avengers, Guardians of the Galaxy, hingga si individualis Spider-Man. Tajam, namun menyenangkan. Garang, namun emosional. Ini jelas bukan lah kualitas Bryan Singer yang kita temukan pada Superman Returns apalagi Jack the Giant Slayer, ini adalah Bryan Singer baru yang pernah kita lihat di karya-karya terdahulunya. Didampingi departemen teknikal kelas wahid dan labelnya yang serba lebih; lebih besar hingga lebih kacau (in a good way), X-Men kali ini bukan hanya sebuah pengeruk dollar di tengah musim panas, di saat yang sama ia juga menawarkan keseruan tak terbatas dalam drama mutannya yang kompleks dan penuh pemikiran serta emosi, pacing cepat dan tepat dari Bryan Singer, sampai mega-cast bertabur bintang yang mampu bersinar tanpa henti. Epic, epic, epic!



Sunday, May 4, 2014

Tagged under: , , , , , ,

[Review] The Raid 2: Berandal (2014)

"Sini bolanya." ~ Baseball Bat Man

Apa yang telah dicapai The Raid adalah pencapaian yang begitu luar biasa. Sebuah pencapaian yang mendekati sempurna dari kacamata genre action. Dengan lingkup sempit, The Raid mampu membangkitkan kembali gairah action negeri, bahkan dunia hanya lewat 10 lantai penuh ketegangan. Tentu, membuat sebuah sekuel dari pendahulu yang begitu kuat adalah pekerjaan yang jauh dari kata mudah. Tapi, Gareth Evans punya sejuta cara untuk menyempurnakan kesempurnaannya. Tapi, bagaimana?

Dimulai dua jam setelah film pertamanya berakhir, The Raid 2 meneruskan kisah Rama (Iko Uwais) yang berhasil selamat dari operasi penyerbuan sarang gembong narkoba yang berakhir gagal. Selepas kemenangan 'kecil'-nya, ia mengira ia dapat meneruskan hidupnya seperti biasanya, tapi rupanya apa yang terjadi sebelumnya hanyalah umpan yang mengarahkannya pada dunia kriminal besar-besaran yang dipimpan dua kekuatan masif: keluarga Bangun serta keluarga Jepang, Goto. Cepat atau lambat, nyawa keluarganya ada di ujung tanduk. Ia tak punya pilihan selain menyamar dan masuk sendiri ke dalam dunia kejam yang haram itu demi menciduk kepala kriminal-kriminal kelas kakap.


Mau tidak mau, ia harus berganti identitas dengan memakai nama 'Yuda', dan memulai segalanya dari awal: penjara. Tujuannya kala itu hanya untuk mendapatkan kepercayaan Uco (Arifin Putra), putra dari Bangun (Tio Pakusadewo), kepala geng kriminal terbesar di Jakarta, dan berusaha menyusup ke dalam sarang mematikan. Artinya? Sama saja ia menjerumuskan dirinya sendiri ke dunia brutal tak kenal ampun, sebuah kekuatan besar yang membayangi Kota Jakarta selama puluhan tahun.

Ya, inilah langkah Evans dalam menyempurnakan kesempurnaannya, meluaskan segala lingkup. Bukan lagi menawarkan mega-action ditengah cerita yang setipis kertas, tapi menawarkan cerita yang lebih kaya dan besar, meski tidaklah baru. Tapi, ini adalah sebuah film action, yang jelas bergantung pada semua adegan pemacu adrenalin, dan Gareth Evans telah terbukti kredibilitasnya dalam karya-karya sebelumnya. Memanfaatkan 150 menit yang ia punya, Evans tak pernah setengah-setengah mengerahkan kemampuannya, apalagi didukung duo koreografer, Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais, yang tak pernah kehabisan ide dalam menciptakan gerakan-gerakan indah namun mematikan. Mereka menghiasi 150 menit dengan keseruan tiada tara, keseruan setelah keseruan. Tak tanggung-tanggung, baru pada menit pertamanya, kita telah disajikan darah, dan darah.


Makin jauh, imajinasi seorang Evans makin liar. Sambil menggelitik kita dengan satir-satir tentang negeri sendiri dan juga dengan black comedy-nya, kita makin dibawa ke sebuah wadah imajinasi penuh darah. Semuanya berskala besar di sini, dari lingkup hingga pertarungan. Adegan kejar-kejaran mobilnya mungkin merupakan salah satu yang terbaik yang pernah dibuat, subway scene mengantarkan kita ke gerbong berdarah dipimpin karakternya yang dingin, muddy fight yang kotor, brutal, dan 'messy' mendefinisikan istilah 'break a leg' dalam arti sebenarnya, hingga pertarungan klimaksnya yang berlapis-lapis. Digarap penuh kesempurnaan dengan production design apik serta cinematography cantik, Evans seakan tak memberikan waktu bagi penonton untuk bernapas, dan itu berarti pula, ia tak membiarkan kata 'menjemukkan' keluar dari mulut penonton.

Berbalik ke kisah yang diangkatnya: sebuah kota besar, dikendalikan pula oleh 2 rival mafia besar dan bengis. Tentu, hal seperti ini tidaklah asing lagi bagi telinga. Sineas kawakan layaknya Martin Scorsese dan Francis Ford Coppola sudah pernah menggunakan formula mafia macam ini, bahkan sudah sejak 42 tahun yang lalu. Ya, anda memang tak salah jika menemukan kemiripan saga The Godfather atau Goodfellas di dalamnya, namun Berandal tetaplah Berandal. Meski Evans telah mempunyai modal cerita yang lebih besar, ia tak mau membuat Berandal hanyut dalam cerita kompleks dan kita berlari meninggalkan tujuan utama Evans: menghadirkan bela diri heboh dengan kekerasan di mana-mana. So, inilah The Raid: Berandal: sebuah kisah yang menonjolkan kekerasan dan darah dalam lingkup mafia-mafia bengis, and it's a good thing, really.



Setiap hal memiliki konsekuensi, termasuk untuk langkah ini. Tapi, Gareth Evans bukanlah sineas bodoh yang tak pernah berpikir ke arah situ. Well, yes, Evans memang bukanlah pencerita expert, namun ia punya kunci ampuh: menciptakan karakter-karakter eksentrik dan 'sakit jiwa' (literally and figuratively) yang mampu membuat kisah mafia ini jauh lebih menarik. Dari situ, lahirlah karakter-karakter baru yang gila: duo pembunuh kakak beradik yang terdiri dari pria yang doyan menyeret bat metalnya dan wanita tuna wicara yang selalu membawa kapak di tangan kanan-kirinya, seorang assassin misterius tak bernama dan bahkan tak pernah berbicara, namun punya tatapan tajam dan kemampuan matang, hingga titisan Mad Dog yang bergaya gembel.

Mereka bukan sekedar pemanis. Baseball Bat Man, dengan kemampuan memukul bola yang impresif, mampu membuat semua berlari kencang hanya karena mendengar bunyi seretan metal bat-nya. Hammer Girl, adalah gadis unik yang masa bodoh ketika semua orang melihatnya mengeluarkan dua kapaknya di tengah keramaian subway dan dengan tenangnya menghabisi jajaran pria berjas hitam (what.. a.. scene!). Prakoso, family-oriented man (well, kind of) yang mungil adalah titik emosional di tengah sunyi dan dinginnya salju Jakarta yang tropis. Sementara, The Assassin adalah pemegang puncak kebrutalan, grand finale yang digarap maksimal selama 6 minggu, yang membuat dahaga setiap orang akan kebrutalan terbayar lunas.


The Raid 2 punya amunisi tangguh dalam cast-nya, tentu kita memiliki Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan yang telah kita kenal ke-badass-annya di The Raid pertama. Cecep Arif Rahman mampu mempertahankan kemisteriusannya dan memberikan duel maha dahsyatnya di klimaks film. Very Tri Yulisman, dengan satu quote-nya yang begitu memorable, mampu membawa Baseball Bat Man ke puncak keberingasannya (dan ketenangannya). Julie Estelle, yang mungkin tidak asing lagi dengan bau anyir darah (Rumah Dara), namun benar-benar buta tentang silat, berhasil menyajikan kejutan menyenankan dengan bermain apik sebagai si wooden face Hammer Girl yang sedingin es. Di lain sisi, selain para penendang bokong ini, The Raid 2 mempunyai cast impresif lain. Tio Pakusadewo tentu tak menemui masalah sedikit pun, luar biasa seperti biasanya. Arifin Putra mendapatkan lampu sorot lebih di sini, dengan porsi yang lebih banyak serta didukung kemampuannya mengubah Uco menjadi mafia haus kekuasaan.

Besar, mencengangkan, dan meledak-ledak, ini jauh lebih agresif dan matang ketimbang pendahulunya. Evans tahu betul bagaimana membuat sebuah sekuel yang dengan mudah lepas dari bayang prekuelnya yang tak kalah membabibutanya. Ini jelas membuat penggemar action garis keras bersorak-sorai gembira dan menjadikan siapa pun jatuh hati pada setiap adegan 'bag big bug' untuk pertama kalinya. Keseruannya tak terbantahkan, dengan storyline yang meski tidaklah baru, namun yang jelas bukan lagi setipis kertas. Selepas The Raid yang memunculkan gairah baru dalam action genre, sekuelnya hadir kembali tak ubahnya zombie kelaparan yang siap 'menelurkan' korban baru hanya dengan sekali gigitan, dan salah satu 'korbannya' adalah anda.