Sunday, January 13, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , , , , , , , ,

[Part 1] 2012: 20 Best Movies


Tahun 2012 telah berlalu, banyak di antaranya menyisakan film-film yang tak terlupakan, namun beberapa ada pula film yang akhirnya dilupakan. Banyak sutradara ternama Hollywood kembali menelurkan karyanya, sebut saja Steven Spielberg, Kathryn Bigelow, Ben Affleck, Ang Lee, Wachowski bersaudara, David O. Russell, maupun Quentin Tarantino, yang untungnya tampil dengan hasil yang memuaskan. Selain itu, ada pula beberapa sutradara debutan yang hasilnya memuaskan pula. Dan dari film-film itu, saya merangkum 20 film terbaik dan tak terlupakan selama 2012, dan inilah 10 dari mereka (list ini updatable)By the way, maaf kalau ulasan untuk setiap filmnya terlalu panjang, karena saya juga sekaligus mereviewnya sedikit, hehe.


20. Cloud Atlas

"Our lives are not our own. We are bound to others. Past and present. And by each crime; and every kindness we birth our future." ~ Sonmi-451 (Doona Bae)
Penerimaan dari adaptasi novel unfilmable ini tak cukup baik, meski masih bisa dibilang cukup positif. Namun, saya malah begitu menyukai film ini, dan tak habis pikir Time menempatkannya sebagai film terburuk dalam 2012, bahkan lebih buruk dari Abraham Lincoln: Vampire Hunter, saya dapat mengerti kalau ada yang tak menikmatinya, tapi menempatkannya sebagai yang terburuk sangatlah berlebihan. Cloud Atlas sendiri terdiri dari 6 cerita yang berbeda dengan latar waktu dan genre yang saling bertolak belakang pula. Sains fiksi, drama, romansa, hingga komedi. Uniknya, setiap segmen hampir semuanya memiliki aktor yang sama, namun dengan karakter berbeda-beda. Menonton Cloud Atlas memang lebih terasa seperti sedang bermain puzzle. Kita sendirilah yang menyusun kepingan-kepingan puzzle itu menjadi puzzle lengkap. Akhirnya? Ketika kita selesai menyusunnya, seluruhnya menjadi satu kesatuan utuh, dan itulah yang saya rasakan ketika menonton Cloud Atlas, meski beberapa kisah bahkan tak berhubungan sama sekali. Film ini makin mantap dengan visual-effect dan sinematografi. Tapi, pekerjaan terberat pastinya berada di pundak departemen makeup dan editing-nya. Tak mudah mendandani aktor yang sama dalam karakter yang berbeda-beda. Saya bahkan pernah tak sadar bahwa di salah satu cerita, Halle Berry menjadi seorang wanita berkulit putih dan Ben Whisaw menjadi wanita! Hal yang sama juga terjadi pada editing. Tak ada yang tak setuju, bahwa menyatukan 6 cerita berbeda adalah hal yang teramat sulit. Screw the critics, i love this movie!

Best moment(s): Sekelompok manula melarikan diri! Lucu, konyol, sekaligus menghibur. Belum cukup? Para manula itu masih beraksi di sebuah cafe. Kekonyolan kembali dimulai. Jujur, bukan cerita terbaik, tapi paling menghibur.


19. Frankenweenie

"They like what science gives them but not the questions no, not the questions the science asks." ~ Mr. Rzykruski (Martin Landau)
Tim Burton, sutradara eksentrik ini memang dikenal lewat karya-karyanya yang tak kalah eksentriknya. Bukan hanya dalam film-film live action-nya saja, bahkan keeksentrikan tersembut juga merambah dalam karya-karya animasinya. Corpse Bride adalah contohnya. Namun, Corpse Bride kedatangan teman baru, Frankenweenie yang masih membawa aroma nyeleneh Burton dengan sangat kuat. Frankenweenie sendiri adalah remake dari karya film pendek live-action-nya terdahulu yang berjudul sama dan dirilis tahun 1984. Ya, meremake karyanya sendiri dan menjadikannya sebuah film animasi stop-motion? Bukankah itu adalah hal yang sangat berani, sama halnya denga kembali ke masa lalu? Well, untungnya ia mampu mengisi langkah berani itu dengan kualitas. Tim Burton rupanya masih gemar untuk menggambarkan karakter animasinya dengan gaya gothic, yang mungkin saja dapat menakutkan bagi anak-anak, apalagi Tim Burton rupanya lebih memilih untuk membuat Frankenweenie dalam format hitam-putih. Itu juga belum termasuk dengan langkah Burton yang mengambil sedikit inspirasi dari film horor klasik ternama, Frankenstein. Dari dubbing, tak ada yang dapat dicela, semuanya tersa begitu pas. Animasi? Tak ada pula, malah animasi hitam-puti dari stop-motion ini begitu menghibur mata. Dari cerita, Tim Burton mampu membuat kisah dalam Frankenweenie begitu menyentuh namun juga menghibur. Sederhana, namun dikemas dengan sepenuh hati.

Best moment(s): Pernah lihat godzilla dalam bentuk kura-kura? Kalau sudah pernah menonton Frankenweenie, tentunya sudah. Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi!


18. Prometheus

"Big things have small beginnings." ~ David (Michael Fassbender)
Masih lekat diingatan kita, sosok Ripley oleh Sigourney Weaver yang ikonik dengan monster Alien menyeramkan (batas menyeramkan dan menjijikkan memang sangat tipis) dalam Alien, film yang telah dirlis beberapa dekade lalu. Dan Ridley Scott adalah dalang dibalik teror itu. Kini, ia kembali lagi dengan film yang mirip dengan Alien, entah itu sebuah reboot atau prequel, Prometheus. Bedanya, tak ada lagi monster menjijikkan yang dulu kita kenal, melainkan misi gila sekelompok peneliti yang meneliti "The Engineers", begitu mereka menyebut sosok yang menurut mereka telah menciptakan manusia. Noomi Rapace yang berkharisma hadir menggantikan sosok Weaver, namun dalam versi yang lebih feminim dan religius. Prometheus memang tak menjual aksi-aksi hebat pemacu adrenalin, meski itu menjadi salah satu bagian penting film ini. Lain dari Alien atau sekuelnya Aliens, Prometheus memberikan cerita yang memiliki hakikat lebih dalam dari pendahulunya. Masih menimbulkan beberapa pertanyaan di akhirnya, namun saya sudah sangat puas dengan Prometheus ini, mungkin ada baiknya kita menunggu jawaban Scott dalam sekuel Prometheus nantinya, yang menurut saya mungkin akan menyambungkan kisah Alien dengan Prometheus. Jadi, prekuel atau reboot? Belum ada yang tahu pasti, both, maybe?

Best moment(s): Operasi caesar di atas pesawat luar angkasa? Well, setidaknya Noomi Rapace pernah mengalaminya. Tapi, kali ini benar-benar jauh berbeda dari biasanya. Salah satu adegan tercerdas, terkreatif, dan paling thrilling dalam tahun 2012. 


17. Rust and Bone

"Can't a wh*re train whales?" ~ Stephanie (Marion Cotillard)
Tahun 2007 lalu, aktris cantik asal Prancis, Marion Cotillard berhasil membawa pulang Oscar sebagai penyanyi Edith Piaf dalam biopik Le Vie en Rose. Kini, ia kembali memperlihatkan kemampuan aktingnya dalam sebuah melodrama romantis berjudul Rust and Bone. Ia sudah bukan seorang penyanyi Prancis ternama lagi, melainkan menjadi Stephanie, seorang pelatih paus pembunuh yang karena sebuah kecelakaan, akhirnya harus kehilangan kedua kakinya. Sebelum kecelakaan, ia pernah bertemu dengan Ali (Matthias Schoenaerts), seorang penjaga klub malam (yang nantinya menjadi streetfighter) sekaligus seorang ayah penyayang meski kadang kurang hati-hati, yang meleraikan perkelahiannya dengan seorang lelaki. Setelah kecelakaan, ia menelepon Ali, yang ternyata akan merubah kehidupan cinta Stephanie untuk selamanya. Seperti yang saya bilang tadi, penampilan Marion Cotillard memang sangat menakjubkan: emosional namun kuat. Chemistry erat yang dijaliinya bersama Matthias Schoenaerts juga menjadi salah satu faktor penting. Memang ada beberapa momen yang mengganggu, seperti penggunaan lagu Katy Perry yang janggal, meski tak terlalu menjadi masalah. Pada akhirnya, Rust and Bone berhasil menjadi melodrama dengan perpaduan yang sangat unik. Di satu sisi, ia indah, emosional, penuh cinta, dan hati, tapi di sisi lain, ia kaya akan segala kekerasan.

Best moment(s): Jangan pernah melepaskan pandangan saat anak sedang bermain, jangan pernah. 


16. Looper

"This time travel crap, just fries your brain like an egg." ~ Abe (Jeff Daniels)
Joseph Gordon Levitt adalah Bruce Wiliis dan Bruce Willis adalah Joseph Gordon Levitt. Keren? Sudah pasti, apalagi akting mereka juga sudah tidak usah diragukan lagi. Kolaborasi aktor dari dunia mimpi dengan aktor dari franchise yang tak pernah mati bersama sutradara indie ini mampu melahirkan karya yang hebat dan cerdas dari segi cerita, meski sebenarnya Looper berbicara tentang sesuatu yang sudah tak asing lagi dalam telinga, yaitu perjalanan lintas waktu. Meski  sempat kehilangan intensnya karena transisi dari action ke drama dalam pertengahan, setidaknya ini memberikan Emily Blunt kesempatan untuk mengembangkan karakternya, dan untungnya Blunt berhasil dengan menakjubkan. Aktor cilik Pierce Gagnon, secara mengejutkan, ternyata mampu memberikan akting super creepy, namun tetap manis. Ini membuat dirinya menjadi salah satu aktor cilik dengan penampilan terkuat dalam tahun 2012, bersanding dengan Wallis. Sebuah drama hebat yang dikemas secara unik dalam science fiction dan action yang cukup membuat adrenalin terpacu, yang didukung pula oleh 2 aktor lintas generasi serta cast lainnya yang membntuk penampilan kuat. Ini adalah blockbuster, namun dengan rasa indie.

Best moment(s): "Mommy loves you", dan best moment itu pun berakhir. Eh, ternyata tidak, masih ada lagi yang bahkan cukup mengejutkan.


15. The Cabin in the Woods

"Ok, I'm drawing a line in the f*cking sand. Do not read the Latin!" ~ Marty (Fran Kranz)
Masih ingat Scream? Film horor satir ini memang sukses mempermalukan horor di zamannya. Dalam 2012 ini, kita kedatangan satu lagi horor serupa, The Cabin in the Woods. Ini adalah proyek film gila dari Drew Goddard (Cloverfield) dan Joss Whedon (The Avengers). The Cabin in the Woods adalah wujud bahan olokan mereka berdua kepada ranah horor yang makin hari makin payah dan basi. Ide cerita di awal sangatlah klise dan kadaluarsa, sekelompok mahasiswa yang berlibur ke sebuah kabin di tengah hutan, yang selanjutnya sudah bisa ditebak jalan ceritanya, meski akhirnya salah. The Cabin in the Woods sejak awal memang dimaksudkan untuk menjadi olok-olokkan, tapi duo Goddard dan Whedon tentu tak pernah main-main dalam filmnya ini, meski sebatas olok-olokkan. Mereka mampu meramu horor, komedi gelap, fiksi sains, dan misteri menjadi kesatuan yang terasa begitu pas. Cast-nya memang tak istimewa, tapi semuanya mampu menjalankan perannya dengan sangat baik. Ditutup dengan twist berlapis, membuktikan bahwa The Cabin in the Woods adalah satir yang luar biasa. Horor satir hebat terhadap horor klise yang dibuat dengan penuh keklisean pula, namun malah membuat kadar satir yang ada terasa lebih kuat dan tepat sasaran. Kreatif, unik, aneh, gila, sinting, dan kawan-kawannya. Masih berpikir bahwa horor hanya itu-itu saja? Kalau iya, saya sarankan untuk cepat-cepat menonton The Cabin in the Woods, karena ia akan membuktikan bahwa pendapat anda salah besar.

Best moment(s): Hanya dengan mantra, "Let's get the party started!", dan tada! Ada kejutan dibalik semua pintu.


14. Skyfall

"Enjoying death. 007 reporting for duty." ~ James Bond (Daniel Craig)
Daniel 'Bond' Craig is back! Sam Mendes is back! Dan mereka berkolaborasi di film yang sama! The tough guy tampil dalam film yang diarahkan oleh sutradara pemenang Oscar dari American Beauty? Wow, tentu sebuah kesalahan besar untuk tak pernah menontonnya, dan merupakan salah satu 143 menit termahal dalam hidup yang telah menontonnya. Daniel Craig masih tak kehilangan kharismanya yang dingin dan manusiawi sebagai sebagai agen MI6, serta penuh magnet bagi para bond girls. Judi Dench kembali menunjukkan kemampuan aktingnya yang emas, sementara Javier Bardem sukses menjadi villain mega-sinting (dalam arti sebenarnya ataupun kiasan, bagi saya keduanya sama saja). Lalu, Ben Wishaw juga sukses menjelma menjadi Q, mungkin Q termuda yang pernah ada. Sam Mendes juga kembali menunjukkan taringnya, dan memberi ruang luas bagi setiap karakternya, yang membuahkan karakterisasi luar biasa, terutama bagi Dench yang membuat penampilan emosional di akhir film. Action yang dihadirkan begitu intens dan membuat adrenalin berpacu cepat, berkejaran dengan visual indah yang dinamis. Di hari jadi James Bond yang ke-50 ini, sudah pasti Skyfall adalah kado terindah.

Best moment(s): Daniel 'Bond' Craig berkelahi di atas kereta api! Jatuh tertembak, dan suara Adele tiba-tiba terdengar dengan begitu menyihir. Tapi, Bond tak pernah mati, kan? Anyway, cool opening.


13. Les Misérables


"I had a dream, my life would be so different from this hell I'm living!" ~ Fantine (Anne Hathaway)
Adaptasi drama musikal yang sebenarnya diadaptasi dari novel karya Victor Hugo ini memang sudah berulang kali difilmkan. Yang paling dikenal mungkin Les Misérables yang rilis tahun 1998, apalagi karena filmnya bertabur bintang Hollywood papan atas seperti Uma Thurman dan Liam Neeson, meski tak terlalu sukses dalam finansial. Namun, nampaknya film tersebut harus bergeser sedikit, dan memberi Les Misérables karya Tom Hooper ini menjadi  yang paling banyak dikenal, dengan raihan box-office hingga 190 juta dollar, yang pastinya masih akan terus bertambah. Bukan hanya yang paling populer, mungkin juga yang terbaik. Tom Hooper tentu tak usah diragukan lagi, apalagi setelah kemampuan yang ditunjukkannya dalam King's Speech. Kekuatan terbesar Les Misérables sebenarnya terletak pada jajaran cast. Hugh Jackman memberikan penampilan yang heart-warming, while Anne Hathaway gives a very, very, very heart-breaking performance. Eddie Redmayne tampil dengan penuh kekuatan. Hal yang sama terjadi pada Russel Crowe (meski suaranya tak sebagus cast lain), Samantha Barks, Amanda Seyfried, dan cast lainnya. Salah satu film dengan ensemble cast terbaik sepanjang 2012, terutama Jackman dan Hathaway. Selain itu, Hooper yang menerapkan seluruh cast untuk menyanyi live juga tepat, sehingga para aktor dapat menyesuaikan setiap emosi dengan setiap lirik dan nada. Hasilnya? Dapat dilihat saat Hathaway menyanyikan I Dreamed a Dream. Les Misérables adalah salah satu musikal terbaik dalam 2012 dengan penampilan para cast yang pitch-perfect, menghasilkan kekuatan magis yang dapat membius dan menghantui anda kapan saja.

Best moment(s): Anne Hathaway dreamed a very emotional dream. Inilah yang terjadi ketika menyanyi dengan berakting dilebur menjadi satu dengan sepenuh hati.


12. The Perks of Being Wallflower

"And in this moment I swear, we are infinite." ~ Charlie (Logan Lerman)
Setelah tidak lagi menjadi anak Poseidon, setelah lulus dari Hogwarts, dan setelah tak lagi menjadi remaja psycho; Logan Lerman, Emma Watson, dan Ezra Miller bertemu dalam sebuah drama SMA berjudul The Perks of Being Wallflower yang disutradarai Stephen Chbosky. Uniknya, The Perks of Being Wallflower diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Stephen Chbosky sendiri. Dalam drama remaja ini, karakter-karakter yang dihadirkan cukup berbeda dan menarik, namun tetap dapat terlihat realistis.  Logan Lerman merefleksikan karakter remaja canggung dengan masa lalu kelam dengan sangat baik. Emma Watson sebagai seorang senior yang punya hubungan dengan Lerman juga bermain baik dengan chemistry erat. Ada pula saudara tiri Emma yang penuh rahasia besar yang diperankan Ezra Miller. Ia kembali menunjukkan kemampuan aktingnya selepas We Need to Talk About Kevin. Dengan screenplay hasil adaptasi novel yang kuat, makin menambah kualitas The Perks of Being Wallflower. Jarang-jarang saya melihat drama remaja seperti The Perks of Being Wallflower ini. Complicated dan lebih kelam dari drama sekolah lainnya, namun anehnya, justru dengan begitu, The Perks of Being Wallflower terasa lebih realistis dan dekat dengan kehidupan nyata. Drama yang banyak mengangkat isu-isu sosial remaja yang mengalir dengan begitu kuat dan emosional. Salah satu yang terbaik di antara drama SMA yang lainnya. 

Best moment(s): The sweet ending.


11. Moonrise Kingdom

"We're in love. We just want to be together. What's wrong with that?" ~ Suzy (Kara Hayward)
Wes Anderson kembali dengan Moonrise Kingdom yang merupakan sebuah film keluarga yang berpusat pada karakter Sam yang kabur dari perkemahan pramukanya. Hadir dengan komedi Wes Anderson yang sangat khas, dengan screenplay yang kuat, dialog-dialog cerdas, serta cast pendukung bertabur bintang seperti Edward Norton, Bruce Willis, Frances McDormand, Tilda Swinton, dan Bill Murray yang mampu mendukung kedua kekuatan utama film ini, Jared Gilman dan Kara Hayward, yang juga dapat mengimbangi pemain-pemain bintang ini. Chemistry yang diciptakan Jared Gilman dan Kara Hayward sangatlah erat, membuat kisah cinta monyet ini semakin menarik, belum lagi kelakuan mereka berdua yang aneh-aneh, cukup gila, dan tak lazim untuk umur mereka. Hal yang sama juga terjadi dalam teknis film dari costume design hingga sinematografi. Visualnya begitu indah dengan tone pas, membuat atmosfer film menjadi vintage a la tahun 60anKonyol, lucu, aneh, dan sedikit tak masuk akal, tapi hal itulah yang membuat Moonrise Kingdom masuk dalam daftar ini, dan yang terpenting, Wes Anderson untungnya tak menyia-nyiakan supporting cast kelas papan atasnya tersebut.

Best moment(s): The awkward suicide scene.

Thursday, January 10, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , ,

[List] Nominees for the 85th Academy Awards

"Really, really bad surprises! No woman and 'the next Eastwood' in Best Director! Lincoln leads (again!) with 12 nominations, and Life of Pi follows with 11, while Les Miserables and Silver Lining Playbook get 8, and Argo gets 7 without (once again), Ben Affleck."
Apa jadinya Oscar tanpa kejutan? That will be totally boring, tapi tentu penuh kontroversi. Dan hal yang sama terjadi pada Oscar tahun ini. Di luar dugaan, nama Ben Affleck dan Kathryn Bigelow, sutradara Argo dan Zero Dark Thirty, hilang dari daftar nominasi Best Director. Banyak yang kecewa? Tentu, termasuk saya yang kecewa berat. Untungnya, rasa kekecewaan saya sedikit terbayar (sedikit log, sedikit), karena pengganti mereka, menurut saya juga pantas mendapatkannya. Adalah Benh Zeitlin dan Michael Haneke, untuk Beasts of the Southern Wild dan Amour. Ya! Kejutan lain datang dari Amour. Meski merupakan front-runner untuk Best Foreign Languange, tapi Amour memang termasuk kuda hitam dalam nominasi utama, karena Amour bukanlah film berbahasa Inggris. Seingat saya, terakhir kalinya sebuah film berbahasa asing yang masuk dalam Best Picture dan Best Director adalah Crouching Tiger, Hidden Dragon dari Ang Lee, yang masuk juga karena filmnya termasuk produksi AS. Sedangkan Amour? Sama sekali bukan tak ada ikut campur AS, namun secara mengejutkan berhasil menembus Best Picture, Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Actress. Well, meski Best Director cukup mengecewakan, Best Actress hadir dengan pilihan yang sangat tepat sekaligus paling unik: Chastain, Lawrence, Wallis, Riva, dan Watts. Unik? Ya, dari nominator termuda Wallis, hingga nominator tertua Riva, semuanya mendapatkan tempat tersendiri.

Dan seperti yang orang lain perkirakan, Lincoln kembali mendominasi kali ini dengan 12 nominasi, diikuti oleh Life of Pi yang mengantongi 11. Sedangkan, musikal (Les Miserables) dan komedi (Silver Lining Playbook) mendapat bagian yang sama rata, 8 nominasi. Thriller dari Affleck, Argo berdiri sendiri dengan 7 nominasi. Lima nominasi juga didapatkan oleh Amour, Django Unchained, Zero Dark Thirty, dan Skyfall. Anna Karanina mengantongi 4 nominasi, yang seluruhnya merupakan teknis, berbanding terbalik dengan Beasts of the Southern Wild, yang juga mendapat 4 nominasi pula, namun seluruhnya merupakan penghargaan utama. Dan inilah daftar nominasi selengkapnya beserta prediksi saya (hanya untuk awards non-teknis, bukan film pendek, dan dokumenter, yang bukan hanya didasarkan pendapat saya, tapi juga buzz yang mereka terima), mulai dari Amour dan Argo, hingga Silver Linings Playbook serta Zero Dark Thirty.

Best Picture
Amour
Argo
Beasts of the Southern Wild
Django Unchained
Lincoln
Les Misérables
Life of Pi
Silver Linings Playbook
Zero Dark Thirty

Will win: Lincoln

Best Director
Michael Haneke – Amour
Ang Lee – Life of Pi
David O. Russell – Silver Linings Playbook
Steven Spielberg – Lincoln
Benh Zeitlin – Beasts of the Southern Wild

Will win: Steven Spielberg 

Best Actor
Bradley Cooper – Silver Linings Playbook
Daniel Day-Lewis – Lincoln
Hugh Jackman – Les Misérables
Joaquin Phoenix – The Master
Denzel Washington – Flight

Will win: Daniel Day-Lewis 

Best Actress
Jessica Chastain – Zero Dark Thirty
Jennifer Lawrence – Silver Linings Playbook
Emmanuelle Riva – Amour
Quvenzhané Wallis – Beasts of the Southern Wild
Naomi Watts – The Impossible

Will win: Jennifer Lawrence or Jessica Chastain

Best Supporting Actor
Alan Arkin – Argo
Robert De Niro – Silver Linings Playbook
Philip Seymour Hoffman – The Master
Tommy Lee Jones – Lincoln
Christoph Waltz – Django Unchained

Will win: Philip Seymour Hoffman or Tommy Lee Jones

Best Supporting Actress
Amy Adams – The Master
Sally Field – Lincoln
Anne Hathaway – Les Misérables
Helen Hunt – The Sessions
Jacki Weaver – Silver Linings Playbook

Will win: Anne Hathaway

Best Writing – Original Screenplay
Amour – Michael Haneke
Django Unchained – Quentin Tarantino
Flight – John Gatins
Moonrise Kingdom – Wes Anderson and Roman Coppola
Zero Dark Thirty – Mark Boal

Will win: Django Unchained

Best Writing – Adapted Screenplay
Argo – Chris Terrio
Beasts of the Southern Wild – Lucy Alibar and Benh Zeitlin
Life of Pi – David Magee
Lincoln – Tony Kushner
Silver Linings Playbook – David O. Russell

Will win: Lincoln

Best Animated Feature
Brave
Frankenweenie
ParaNorman
The Pirates! Band of Misfits
Wreck-It Ralph

Will win: Brave, Frankenweenie, or Wreck-It Ralph

Best Foreign Language Film
Amour
Kon-Tiki
No
A Royal Affair
War Witch

Will win: Amour

Best Documentary – Feature
5 Broken Cameras
The Gatekeepers
How to Survive a Plague
The Invisible War
Searching for Sugar Man

Best Documentary – Short Subject
Inocente
Kings Point
Open Heart
Redemption
Mondays at Racine

Best Live Action Short Film
Asad
Buzkashi Boys
Curfew
Death of a Shadow (Dood Van Een Schaduw)
Henry

Best Animated Short Film
Adam and Dog
Fresh Guacamole
Head over Heels
The Longest Daycare
Paperman

Best Original Score
Anna Karenina – Dario Marianelli
Argo – Alexandre Desplat
Life of Pi – Mychael Danna
Lincoln – John Williams
Skyfall – Thomas Newman

Best Original Song
“Before My Time” from Chasing Ice – J. Ralph
“Everybody Needs a Best Friend” from Ted – Walter Murphy and Seth MacFarlane
“Pi’s Lullaby” from Life of Pi – Mychael Danna and Bombay Jayashri
“Skyfall” from Skyfall – Adele Adkins and Paul Epworth
“Suddenly” from Les Misérables – Claude-Michel Schönberg, Herbert Kretzmer and Alain Boublil

Best Sound Editing
Argo – Erik Aadahl and Ethan Van der Ryn
Django Unchained – Wylie Stateman
Life of Pi – Eugene Gearty and Philip Stockton
Skyfall – Per Hallberg and Karen Baker Landers
Zero Dark Thirty – Paul N. J. Ottosson

Best Sound Mixing
Argo – John Reitz, Gregg Rudloff and Jose Antonio Garcia
Les Misérables – Andy Nelson, Mark Paterson and Simon Hayes
Life of Pi – Ron Bartlett, D. M. Hemphill and Drew Kunin
Lincoln – Andy Nelson, Gary Rydstrom and Ronald Judkins
Skyfall – Scott Millan, Greg P. Russell and Stuart Wilson

Best Production Design
Anna Karenina – Sarah Greenwood & Katie Spencer
The Hobbit: An Unexpected Journey – Dan Hennah, Ra Vincent and Simon Bright
Les Misérables - Eve Stewart & Anna Lynch-Robinson
Life of Pi – David Gropman & Anna Pinnock
Lincoln – Rick Carter & Jim Erickson

Best Cinematography
Anna Karenina – Seamus McGarvey
Django Unchained – Robert Richardson
Life of Pi – Claudio Miranda
Lincoln – Janusz Kaminski
Skyfall – Roger Deakins

Best Makeup and Hairstyling
Hitchcock
The Hobbit: An Unexpected Journey
Les Misérables

Best Costume Design
Anna Karenina – Jacqueline Durran
Les Misérables – Paco Delgado
Lincoln – Joanna Johnston
Mirror Mirror – Eiko Ishioka
Snow White and the Huntsman – Colleen Atwood

Best Film Editing
Argo – William Goldenberg
Life of Pi – Tim Squyres
Lincoln – Michael Kahn
Silver Linings Playbook – Jay Cassidy and Crispin Struthers
Zero Dark Thirty – Dylan Tichenor and William Goldenberg

Best Visual Effects
The Hobbit: An Unexpected Journey – Joe Letteri, Eric Saindon, David Clayton and R. Christopher White
Life of Pi – Bill Westenhofer, Guillaume Rocheron, Erik-Jan De Boer and Donald R. Elliott
Marvel’s The Avengers – Janek Sirrs, Jeff White, Guy Williams and Dan Sudick
Prometheus – Richard Stammers, Trevor Wood, Charley Henley and Martin Hill
Snow White and the Huntsman – Cedric Nicolas-Troyan, Philip Brennan, Neil Corbould and Michael Dawson

Sunday, January 6, 2013

Tagged under: , , , ,

[Review] Life of Pi (2012)

"God, thank you for giving me my life. I am ready now." ~ Pi Patel

Ang Lee adalah salah satu sutradara terhebat masa kini yang serba bisa. Coba lihat, film seni bela diri? Crouching Tiger, Hidden Dragon memiliki segalanya. Drama romansa yang agak nyeleneh? Ada Jake Gyllenhaal dan Heath Ledger di Brokeback Mountain. Dan sekarang, adaptasi dari novel unfilmable? Maka Life of Pi lah yang merupakan jawaban paling tepat. Oke, mari sejenak lupakan nilai merahnya dalam Hulk. Bukankah setiap sutradara, bahkan yang sehebat Steven Spielberg sekali pun, punya catatan buruk? Kecuali Stanley Kubrick, mungkin. Kembali ke Life of Pi, rasanya setiap orang harus menghapus setiap embel-embel novel yang tak akan bisa diadaptasi dalam bentuk film. Contoh lain, ada Cloud Atlas yang akhirnya juga muncul dalam layar perak dengan sambutan yang lumayan positif, meski tak sehangat Life of Pi. Atau sebelum-sebelumnya, sebut saja ada Watchmen yang fenomenal dengan durasi panjang itu.

Sebelumnya, mungkin bagi beberapa orang yang begitu asing dengan novelnya akan bertanya-tanya, "mengapa orang-orang mengkategorikan Life of Pi sebagai novel unfilmable?". Pertanyaan bagus. Pertama, tema yang penulis novel ini, Yann Martel, sampaikan sebenarnya cukup berat, tentang eksistensi Tuhan, dan ini tentu harus menyinggung persoalan agama. Kedua, siapa yang bisa memfilmkan sebuah novel tentang  seorang remaja yang terjebak di tengah lautan dengan zebra, orangutan (biasa saja?), hyena (mulai terdengar mengerikan..), dan harimau bengal (ini klimaksnya)? Di tengah perjalanan kisahnya pun, banyak terdapat adegan yang membutuhkan visual hebat. Butuh CGI yang benar-benar hebat, tentunya dana yang besar pula. Lalu, siapa yang bisa? Mungkin dulu, jawabannya tak ada, tapi kini, Ang Lee tentu bisa mengadaptasi novel yang bukan hanya secara teknikal sangat sulit, tapi juga ketidakbiasaan novelnya.


Life of Pi, tak usah membaca sinopsis pun, mungkin anda sudah akan tahu akan bercerita tentang apa film ini. Tapi, mungkin harus anda pikirkan lagi kalau anda merasa tahu akan dibawa kemana kisah Pi ini, karena sungguh, kisahnya benar-benar menakjubkan dan sulit dipercaya. Film dibuka oleh opening credits yang menujukkan tenangnya suasana kebun binatang, sambil memamerkan teknologi 3D-nya. Pi Patel (Suraj Sharma) memang merupakan seorang remaja dan anak dari seorang pemilik kebun binatang, Shantosh Patel (Adil Hussain) dan seorang ahli botani, Gita Patel (Tabu). Pi juga memiliki seorang kakak bernama Ravi (Vibish Sivakumar). Pi, sejatinya bukan diambil dari konstanta matematika, tetapi dari nama sebuah kolam renang di Paris, Piscine (bukan pissin') Molitol. Masa kecilnya bukan dihabiskan dengan bermain dan bermain. Berbeda dengan anak seusianya saat itu, ia malah tertarik dengan agama. Meski terlahir sebagai seorang Hindu, namun karena ketertarikannya pada Tuhan dan agama, ia pun akhirnya memeluk 2 agama lain sekaligus, Kristen dan Islam.

Suatu saat, ia dan keluarganya harus pergi ke Kanada, dan menjual binatang-binatang di kebun binatang mereka. Dengan kapal bernama Tsimtsum, mereka pun berlayar mengarungi Samudera Pasifik. Namun, di tengah perjalanan, sebuah badai yang sebenarnya tak terlalu besar terjadi. Meski diperkirakan takkan membuat kapal tersebut karam, akhirnya kapal itu karam juga. Tak banyak yang selamat dari tragedi itu. Yang selamat hanyalah seekor hyena, zebra berkaki patah, Orange Juice (jangan tertipu, ini adalah nama orangutan), Richard Parker (yang sebenarnya merupakan nama seekor harimau bengal), dan remaja India bernama Pi Patel yang semuanya berhasil masuk sekoci. Sisanya? Mereka telah tenggelam ke dasar laut. Tinggalah Pi sendiri sebagai satu-satunya manusia yang selamat. Entah bagaimana hewan-hewan ini bisa lepas, namun Pi harus menghadapi kenyataan, bahwa ia harus bertahan, bertahan hidup dari kerasnya alam dan ganasnya Richard Parker yang dapat menerkamnya kapan saja. Tapi, di atas semua itu dan yang terpenting, kisah ini akan membuat anda percaya akan keberadaan Tuhan.


Jujur, saya tahu novelnya setelah mendengar film ini akan rilis (dan segera membacanya), dan reaksi pertama saya adalah heran. Entah heran atau terkesima, karena bagi saya, cerita yang ditawarkan memang sedikit out-of-the-box. Dengan mengambil sedikit unsur a la James Cameron dalam Titanic dengan Robert Zemeckis dengan Cast Away-nya, namun hasilnya malah sangat unik dan bahkan punya nilai orisinalitasnya tersendiri. Saya juga pernah mendengar bahwa novelnya sendiri menyentil sisi-sisi agama. Mungkin bukan menyentil lagi, tapi sudah menyentuh hampir keseluruhannya, karena tema novelnya sendiri memang tentang itu, hanya saja dengan media kisah Pi tadi. Saya pun, belum tahu nantinya di bagian mana akan ada sisi-sisi agama yang ditonjolkan, dan mungkin saja, akan mengundang kontroversi karena temanya sensitif.

Saya salah total tentang itu. Film ini (dengan novelnya, tentu saja), benar-benar cerdas! Ia memang menampilkan sisi sensitif itu, namun caranya benar-benar cerdas dan berbeda dengan film mainstream bertema sama. Ya, dengan cara memakai sudut pandang seorang anak kecil yang masih lugu, Life of Pi dapat menyampaikannya secara berbeda, dan tentu saja tanpa perlu kontroversi besar-besaran. Mengambil setting India yang kaya akan agama, Pi menjalani masa kecilnya yang 'labil' dalam sebuah perjalanan spiritual yang unik. Dengan 'menjelajahi' satu agama ke agama lain, Pi kecil mencoba untuk mengenal Tuhan secara dekat. Cara yang manis dan lugu, meski di satu sisi, itu aneh.


Sebagai sutradara, Ang Lee sangat berhasil mengarahkan setiap aspek penting dan detail-detail film ini, terutama Suraj Sharma yang untuk pertama kalinya membintangi sebuah film. Dan sekali lagi, ia membuktikan kapasitasnya sebagai seorang sutradara serba bisa, dan (sangat) mungkin merupakan sutradara berdarah Asia terbaik saat ini. Ia kembali memberikan penyutradaraan yang kuat sekaligus emosional, layaknya film-film terdahulunya seperti Brokeback Mountain yang tenang atau Crouching Tger, Hidden Dragon yang indah. Segala kesengsaraan mampu dihadirkan Ang Lee dengan sangat baik lewat atmosfernya yang cukup sepi, namun tak jatuh membosankan karena Ang Lee memang pandai menjaga tensi film ini sendiri.

Tapi, pekerjaan Ang Lee akan terbuang sia-sia jika tak ada skenario yang ditulis oleh David Magee juga sia-sia. Tentu saja ini tidak terjadi. David Magee tetap dapat 'menerjemahkan' lembaran-lembaran kertas menjadi frame demi frame film. Tak lupa, ia tak meninggalkan dialog-dialog pengundang tawa yang ada dalam beberapa dialog dalam novelnya, bahkan kali ini, ia menambahkan lebih banyak lagi dialog-dialog yang cukup membuat anda, minimal tersenyum. Penambahan tokoh Anandi dalam film yang sebenarnya tak ada dalam novel juga merupakan langkah tepat bagi saya. Selain menujukkan sisi remaja Pi, side story ini juga memberikan kontribusi besar bagi cerita serta esensi yang lebih dalam, meski porsi tokoh Anandi ini tak terlalu banyak.


Suraj Sharma, yang terpilih diantara lebih dari 3000 peserta casting lain, memang merupakan pilihan tepat untuk Pi. Ang Lee memang (hampir) selalu benar, kan? Dengan segala emosi dan mimik yang sangat mendukung, Sharma berhasil menghidupkan tokoh Pi. Indikator keberhasilan Suraj Sharma juga terletak pada posisinya yang merupakan sebuah jembatan para penonton untuk mendapatkan setiap materi film ini. Kerasnya alam, kesengsaraan, hingga kesendirian ditumpukan hanya pada karakternya, (meski Richard parker juga ikut andil di dalamnya) sebagai satu-satunya makhluk hidup berakal yang selamat dari tragedi tenggelamnya Kapal Tsimtsum. Lalu, apakah kita dapat merasakan apa yang Sharma berikan? Jawabannya sudah tentu, ya. Dan itu, bagi saya adalah indikator, bahwa Suraj Sharma telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Irrfan Khan, mungkin sebagai satu-satunya aktor yang bukan aktor tak dikenal dalam Life of Pi yang pernah bermain dalam reboot Spiderman, The Amzaing Spider-Man, juga tak pantas dilupakan. Sebagai Pi Patel dewasa, ia dapat merefleksikan Pi muda, meski sifatnya tentu sudah tak liar lagi. Tapi, mungkin Shuraj Sharma harus memberikan rasa terima kasih terbesarnya pada sang harimau bengal, Richard Parker, meski sebagian besar scene yang kita lihat merupakan hasil olahan komputer alias CGI (anyway, it looks very real!). Tapi terbukti, meski hampir full-CGI, namun nyatanya Richard Parker tetap mampu menjalin hubungan erat dengan Suraj Sharma, hubungan dengan makhluk alpha dan omega.


Ya, Life of Pi memang sangat berhutang budi pada visual-effects yang dipimpin oleh Bill Westenhofer, yang telah terbukti kehandalannya lewat The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe; dan bahkan Oscar yang diraihnya lewat The Golden Compass. Sulit dipercaya bahwa Richard Parker adalah makhluk semi-CGI, meski kalaupun dalam semua scene yang melibatkan Richard Parker bukanlah hasil komputer, semuanya malah lebih sulit dipercaya lagi. Bukan hanya Richard Parker kreasi departemen ini, dari makhluk sekecil hyena dan ikan terbang, hingga paus bungkuk dan cumi-cumi raksasa, semuanya adalah CGI. Sulit dipercaya? Huh, sangat sesuai dengan taglinenya, "Believe the unbelievable".

Life of Pi adalah film dengan tema mainstream yang bertutur dengan cara anti-mainstream. Ang Lee dan kawan-kawannya mampu menghadirkan esensi emosional yang ada tanpa kehilangan setiap esensi novelnya, dan memberikan anda sebuah pengalaman sinematik dan visual yang maha dahsyat. Tanpa perlu penuh jajaran aktor yang sangat populer (kecuali Irrfan Khan), Life of Pi ternyata dapat menghadiahkan sebuah performa yang sangat baik dari cast-nya. Kredit terbesar jatuh pada Suraj Sharma yang berhasil menghidupkan karakter Pi dengan sebaik-baiknya, juga Richard Parker dan Irrfan Khan. Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas Life of Pi telah berhasil menghidupkan tema eksistensi Tuhan tanpa menggurui sama sekali yang hadir dengan cara yang unik dan orisinil. Didukung oleh visual-effects dan teknologi 3D yang hebat pula, Life of Pi berhasil menjelma menjadi salah satu film terbaik dalam dekade ini. Sebuah masterpiece langka yang unbelievable, yang bukan hanya muncul sekali dalam beberapa tahun saja, tapi mungkin juga hanya muncul hanya sekali ini, dan tak akan pernah ada lagi.

Friday, January 4, 2013

Tagged under: , , , , , , , , , , ,

[Part 2] 30 Greatest Twist Endings of All Time


Dalam bagian pertama, ada Murder on the Orient Express, Citizen Kane, The Others, hingga Arlington Road. Kini, random list ini masih berlanjut ke 15 film lain dengan ending paling mengejutkan. Dari suspense klasik hingga thriller modern, dari horor jadul hingga horor masa kini, dari Alfred Hitchcock hingga David Fincher, dan dari pembalasan dendam sampai pembunuh berantai, bahkan menjulur sampai rasa gengsi. Darah, kera, alkitab, ibu, sabun, penjara, hotel, kolam renang, serangan jantung. Semuanya ada di sini. So, here they are... Oh, sebelumnya, happy new year!





Planet of the Apes sesungguhnya memiliki premis yang sangat menarik. Empat orang astronot berkelana ke sebuah planet, meski akhirnya salah satu dari mereka harus meninggal dalam perjalanan. Di planet itu terdapat banyak sekali keanehan. Bukan hanya atmosfirnya yang dapat dihirup manusia, tapi juga bagaimana kehidupan di sana begitu terbalik jika dibandingkan dengan bumi. Ya, di sana ada manusia memang, tetapi manusia tidak lagi menjadi makhluk tertinggi tingkatannya, melainkan para kera lah yang menguasai planet tersebut. Anehnya lagi, kera tersebut dapat berbicara dan bernalar, sedangkan manusia? Berbicara saja tak bisa, bagaimana mau bernalar? Pada akhirnya, Planet of the Apes membawa kita ke kesimpulan mengejutkan (tips: jika ingin menontonnya, jangan sekali-kali melihat poster film ini). What a conclusion!




Oldboy mungkin adalah film asal Korea Selatan terbaik yang pernah saya tonton (atau kalau ingin lebih lebar, Asia?). Kali ini bukan soal romansa komedi, tapi soal pembalasan dendam. Merasa seorang maniak film bertema sama, tapi belum pernah menonton Oldboy? Kalau begitu, anda tidaklah semaniak itu. Saran? Segera tonton ini, karena Oldboy adalah sebuah keharusan. Plot yang diberikan benar-benar cerdas dan sama sekali tak dapat diterka, menghasilkan sebuah tamparan hebat yang menyedihkan. Ini adalah pencapaian terbaik yang pernah ada dalam film bertemakan balas dendam... and guess what? It's not Hollywood.



Sama seperti Psycho, ending film ini memang sudah seperti legenda tersendiri. Ini adalah masa ketika M. Night Shyamalan masih belum dicerca para penikmat film dunia, saat ia disangka-sangka akan menjadi salah satu sutradara terhebat dalam sejarah. Lupakan saja The Last Airbender atau The Happening, The Sixth Sense berkali-kali lipat lebih baik. Dalam film ini, Bruce Willis bukan lagi seorang yang susah mati seperti Die Hard, ia sudah bertransformasi menjadi seorang yang lebih lembut. Ada pula Haley Joel Osment yang tampil gemilang. M. Night Shyamalan berhasil mengelabui kita semua. Ia membuat hal-hal yang kita kira sebenarnya terjadi, namun sebenarnya, kenyataannya bukanlah seperti itu.




The Prestige memang merupakan salah satu film terbaik Christopher Nolan, yang seluruh filmnya, memang terbaik, tanpa terkecuali. The Prestige adalah ketika kawan menjadi lawan. Dibintangi oleh dua aktor kenamaan Hollywood, Hugh Jackman dan Christian Bale sebagai dua magician, The Prestige tampil sebagai film misteri thriller yang menakjubkan. Siapa pun rasanya tak akan bisa mengungkapkan trik sulap Bale, bahkan rivalnya sendiri, Jackman, juga tak pernah tahu trik dibalik sulapnya, sampai ketika Nolan memilih untuk mengakhiri kisahnya, mengejutkan semua orang. Bukan hanya semua orang, Hugh Jackman pun pastinya juga terkejut.



Saya menonton film ini tanpa ekspektasi apa-apa. Satu-satunya alasan saya menonton film ini hanya karena Witness for the Prosecution ini diangkat dari salah satu karya Agatha Christie. Dan alangkah terkejutnya, ketika kita mulai digiring ke akhir film, di saat Witness for the Presecution membuka lembaran-lembaran rahasia miliknya secara perlahan. Itu pun, bukan hanya satu, tapi dua! Ya, anda akan dikejutkan oleh dua lapisan twist yang sangat spektakuler. Konklusi hebat ini juga masih dihias oleh satu lagi hal yang begitu tragis. 



Psycho adalah salah satu pelopor twist ending dalam perfilman dunia. Bahkan, hingga sekarang masih banyak film yang memakai ending serupa. Saking populernya film ini (terutama endingnya), adalah sebuah keajaiban jika anda berhasil menonton Psycho tanpa bocoran atau spoiler sama sekali. Ya, thriller karya seorang Alfred Hitchcock ditambah dengan sebuah akhir yang unpredictable? Karya yang rasanya sangat sempurna. Sepanjang durasinya, Psycho terus menjalar menjadi sebuah 'pembunuh' psikologis yang amat menakjubkan. Psycho adalah satu-satunya film yang membuat siapa saja tak pernah berani membiarkan pintunya tak terkunci ketika sedang mandi. Siapa tahu...



Vertigo adalah salah satu film terbaik persembahan Alfred Hitchcock. Memang masih kalah pamor dengan Psycho, karyanya yang paling populer. Padahal, saya pribadi menganggap Vertigo sedikit lebih baik daripada Psycho, lengkap dengan ending yang tak kalah mengejutkannya. Dalam Vertigo, Alfred Hitchcock membawa kita ke sebuah 'peranakan' genre, yaitu romansa dan suspense. Hasilnya pun, benar-benar menakjubkan dan semuanya mampu mendapat porsi dan bercamur dengan sangat baik. Perpaduan ini menghasilkan salah satu plot terkompleks yang pernah ada, yang kemudian ditutup dengan one of the greatest conclusion ever.




Dalam hal perfilman tanah Eropa, Prancis memang surganya film-film juara. Dari klasik Diabolique hingga romansa zaman sekarang, Rust and Bone, semuanya memiliki kualitas juara. Di antara rentang waktu kedua film ini yang begitu panjang, Tell No One merupakan salah satunya. Film ini merupakan sebuah adaptasi novel karya Harlan Coben yang disutradarai oleh Guillaume Canet dan dibintangi  François Cluzet. Tell No One merupakan sebuah thriller yang intens dan solid, dramanya miris dan manis, dan penuh dengan misteri. Secara keseluruhan, cerita yang dituturkan Tell No One benar-benar di luar dugaan. Sama seperti judul filmnya, jangan katakan apapun kepada siapapun mengenai isi film ini, kecuali kalau anda ingin mengatakan bahwa François Cluzet mirip dengan Dustin Hoffman.



Pernah menonton Psycho dari Alfred Hitchcock? Terserah sudah pernah atau belum, tapi sekedar info saja, Diabolique lah film yang membantu inspirasi seorang Hitchcock hingga akhirnya ia berhasil dengan Psycho-nya. Diabolique juga merupakan suspense favorit dari penulis novel Psycho, Robert Bloch. Kalau boleh jujur, saya sebenarnya lebih menyukai Diabolique ketibang Psycho. Diabolique memiliki sebuah misteri yang benar-benar menggiurkan. Siapa yang tidak penasaran, membuang mayat dalam sebuah kolam renang, namun beberapa hari kemudian, mayat itu menghilang secara tiba-tiba? Kemana perginya mayat itu? Apakah mayat tersebut berubah menjadi zombie yang siap menerkam siapa saja? Ataukah ada orang lain yang mengambilnya? Berbagai macam spekulasi tentang misteri ini terus bermunculan seiring misteri yang dituturkan, tapi tak ada satupun dari spekulasi itu yang benar...



Brad Pitt dan Morgan Freeman dalam satu frame, sepasang partner detektif! Ah, hampir lupa, ada pula Kevin Sacey! Gwyneth Paltrow! Who's excited?! Ya, meski judulnya sedikit alay, tapi Se7en memiliki ensemble cast berkelas dengan sutradara kelas A, David Fincher. Se7en sendiri terinspirasi dari salah satu kisah dalam alkitab, Seven Deadly Sins, yang menjadi sebuah 'modus operandi' seorang pembunuh berantai dalam film ini. Ya, kita ditampilkan para mayat yang bertebaran dalam Se7en, dengan embel-embel sifat -sifat alami setiap manusia. Namun, ada sesuatu yang kita semua tak ketahui, termasuk Brad Pitt dan Morgan Freeman sendiri. "What's in the box?!"





Brad Pitt kembali beraksi, namun kali ini, tak ada Morgan Freeman, Kevin Spacey, ataupun Gwyneth Paltrow. Sebagai gantinya, ada Edward Norton dan Helena Bonham Carter. Setelah Brad Pitt pensiun sebagai seorang detektif, kini ia banting setir menjadi seorang sales sabun dan mengganti namanya menjadi Tyler Durden. Sedangkan Edward Norton adalah seorang pekerja kantoran tak bernama yang bosan hidup,  dan Helena Bonham Carter adalah wanita semrawut yang tak takut mati. Brad Pitt dan Edward Norton kemudian secara tak sengaja bertemu dan membentuk sebuah klub tinju bawah tanah yang super gila. Akhirnya? Bahkan jauh lebih gila lagi.





Rosemary's Baby sebenarnya mengambil tema yang kontroversial dan sangat berani. Mengambil sebuah tema satanisme atau pemujaan setan, Roman Polanski sebagai sutradara mampu menggiring kita ke sebuah horor klasik berkelas yang dipimpin oleh aktris Mia Farrow yang diceritakan baru saja menikah dan sedang mengalami kehamilan. Tapi, ada satu rahasia besar yang ia tak ketahui. Mungkin beberapa orang telah tahu bagaimana Rosemary's Baby akan mengalir, tapi ketika satu-persatu rahasianya mulai terbuka dengan perlahan, ternyata apa yang terjadi malah melebihi perkiraan. Tak salah lagi jika menobatkan Rosemary's Baby sebagai salah satu film dengan ending yang paling memorable yang pernah ada.



Inilah awal masa bersinarnya seorang Edward Norton. Lewat film yang berhasil membuahkannya sebuah nominasi Oscar ini, ia memerankan seorang anak altar yang dituduh telah menghabisi nyawa uskupnya sendiri. Ia sendiri dibantu oleh seorang pengacara ambisius yang diperankan Richard Gere. Primal Fear berhasil tampil gemilang dengan dialog-dialog cerdas dan akting memukau Ed, meski sebenarnya, pertanyaan dalam film ini cukup sederhana: "Apakah benar ia membunuh sang uskup, atau tidak? Lalu, siapa yang melakukannya?" Dan pada akhirnya, Primal Fear menjawab segala pertanyaan itu dengan sebuah fakta menghenyakkan.




Stanley Kubrick kini mencoba ranah horor, dengan mengungkapkan sebuah misteri aneh tentang sebuah hotel besar yang dibintangi aktor beralis aneh pula, Jack Nicholson. Apa yang membuat ini lebih istimewa? Stephen King! Ya, The Shining adalah sebuah adaptasi dari novel kenamaan milik Stephen King. Dengan membawa angin yang agak bernuansa puzzling dan surreal, Stanley Kubrick mampu membuktikan bahwa dirinya memanglah salah seorang sutradara hebat, bukan hanya pada masanya, tapi juga sepanjang zaman. Jack Nicholson tampil gemilang dalam menampilkan peran ayah yang penuh ambigu. Saya bukan hanya berbicara bagaimana transformasinya menjadi seorang ayah berdarah dingin, tapi juga bagaimana film ini mengungkapkan sebuah akhir yang mengundang tanda tanya besar.



Star Wars episode ke-5 yang sejatinya merupakan film Star Wars kedua setelah episode 4 (episode 1 hingga 3 difilmkan sekitar tahun 2000an karena teknologi yang ada lebih memungkinkan) ini berhasil menjadi film science fiction paling memorable dengan salah satu villain paling memorable pula sepanjang sejarah Hollywood, Darth Vader, yang terkenal dengan kostum khasnya itu. Di sini, Putri Leia, Han Solo, dan Luke Skywalker kembali beraksi ditemani R2-D2, Chewbacca, dan (lagi), salah satu robot paling memorable, si android cerewet C-3PO. Oh, jangan lupa, Star Wars episode ini juga diakhiri oleh (lagi dan lagi) salah satu ending paling memorable, juga sama sekali tak terduga, kecuali bagi yang fasih berbahasa Jerman (well, if you know what i mean).
_______________________________________________________________