Friday, June 15, 2012

Tagged under: , , ,

[Review] Frozen (2010)

"Hmmm, smell that mountain air. You know what it smells like?... Cancer." ~ Joe Lynch

Frozen, merupakan film besutan sutradara Adam Green, yang juga merangkak sebagai penulis naskah. Premisnya benar-benar sederhana, kalau tak mau dibilang klise. Yah, tipikal film-film horor-thriller biasanya lah. Itu jugalah yang membuat saya tak terlalu mengekspektasikan film ini dengan ekspektasi setinggi langit. Nah, dengan premis sederhana itu apakah berarti Frozen seketika menjadi film low-budget ini menjadi buruk? Let's see!

Kisah mereka dimulai ketika sekelompok orang tak bermodal, Dan Walker (Kevin Zegers) serta kekasihnya, Parker O'Neil (Emma Bell) juga sahabatnya, Joe Lynch (Shawn Ashmore) memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan mereka dengan ber-snow-boarding ria di Gunung Holliston. Mengapa tak bermodal? Lihat saja tingkah Parker, satu-satunya perempuan diantara mereka yang terpaksa merayu petugas chairlift, Jason agar dapat naik chairlift tersebut bersama teman-temannya, hanya karena uang mereka tak mencukupi. Dan rencana gila itu akhirnya berhasil juga. Dalam perjalanan menuju atas gunung, chairlift itu sempat berhenti sejenak, namun akhirnya dapat kembali berjalan dan mengantarkan mereka sampai ke tujuan.


Malam hari telah tiba, mereka akhirnya memutuskan untuk turun gunung dengan chairlift itu lagi. Namun, ternyata chairlift tersebut telah tutup karena cuaca buruk. Beruntung, mereka bertemu kembali dengan petugas chairlift itu lagi dan kembali diperbolehkan untuk menaikinya. Beberapa saat kemudian, Jason dipanggil oleh bosnya yang kemudian ia digantkan oleh Rifkin. Sayangnya, terjadi sebuah kesalahpahaman dan Rifkin pun menutup tempat tersebut.


Sementara Dan dan kawan-kawannya masih berada dalam chairlift tersebut. Tentu saja chairlift itu mati. Mereka bertiga awalnya mengira bahwa kejadian ini sama seperti yang mereka alami sebelumnya. Tapi, tiba-tiba saja seluruh lampu dimatikan, pertanda tempat itu akan ditutup. Mereka panik, tak bisa kemana-kemana. Tak ada yang bisa menolong mereka, apalagi chairlift tersebut akan tutup selama 5 hari. Mereka hanya punya 2 pilihan: hidup atau mati. Mereka hanya bisa berdiam diri dan membeku pada akhirnya atau meninggalkan 'gondola udara' tersebut untuk menyelamatkan diri.

Sebelum membicarakan kekurangannya, mari bicarakan dulu kelebihannya. Departemen akting merupakan salah satu nilai plus film ini. Sama sekali tidak murahan, apalagi kalau dibandingkan film thriller atau horor lain.


Emma Bell berhak kita beri sedikit highlight dibading yang lain. Kepanikan dan ketakutan dapat tergambar jelas dari akting Emma Bell, yang sayangnya tak terlalu tampak saat ia membintangi Final Destination 5. Hal yang sama juga terjadi pada Shawn Ashmore, namun dengan karakter yang lebih berbeda. Kita dapat melihat evolusi karakter Shawn Ashmore, yang mula-mula merupakan badboy, perlahan berubah menjadi karakter hero. Dan terakhir, ada Kevin Zegers yang tentu tak bisa kita lupakan, meski hanya muncul sebentar.


Soal cerita, Frozen seperti berhasil menghadirkan cerita yang awalnya mungkin sederhana, namun karena simplicity-nya itu pulalah, kesan realistis-nya makin terasa. Jangan lupa, tata musiknya benar-benar pas menggambarkan segala suasana mencekam, kengerian, hingga kesedihan, bahkan juga hingga kita dapat seolah merasakan kesakitan karena fraktura. Ngilu! Tentu saja kombinasi semua ini berhasil menghadirkan thriller yang cukup menegangkan. Satu level diatas film thriller-thriller low-budget lainnya lah.

Frozen bukanlah film yang sempurna. Ada satu hal sebenarnya yang sangat mengganggu menurut saya, yaitu dialog. Dialognya bertele-tele, terlalu panjang, tak terlalu penting, tak to-the-point, bahkan terkesan hanya untuk memperpanjang durasi, apalagi saat awal-awal film. Tentu ini menimbulkan perasaan kebosanan bagai beberapa orang, termasuk juga bagi saya.


Sebenarnya, Frozen sangat berpotensi untuk menjadi film thriller yang sangat istimewa, hanya saja dialognya menjadi penghalang utama (tapi bukan berarti jelek, lumayanlah). Terlepas dari itu, Frozen tetaplah thriller low-budget yang cukup bagus dengan premisnya yang menawarkan sederhana namun realistis, dengan dukungan akting para pemerannya yang tidak murahan. Tentu saja film survival ini sangat patut untuk kita apresiasi.

6.5/10

Friday, June 8, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Adventures of Tintin (2011)

 "Failed. There are plenty of others willing to call you a failure. A fool. A loser. A hopeless souse. Don't you ever say it of yourself. You send out the wrong signal, that is what people pick up. Don't you understand? You care about something, you fight for it. You hit a wall, you push through it. There's something you need to know about failure, Tintin. You can never let it defeat you." ~ Kapten Haddock

Tintin. Siapa tak kenal dengan tokoh jurnalis muda ciptaan komikus Belgia, Hergé yang terkenal akan jambul pirangnya itu. Siapa pula tak kenal anjing lucu piaraannya, Milou (dikenal juga dengan nama Snowy) yang kerap membantunya dalam setiap penyelidikannya. Well, meskipun saya bukanlah salah satu penggemarnya (ya, meski pun saya memang pernah sih baca komiknya, itu pun sudah lupa baca komik yang mana, hehe), tapi siapa yang tak akan semangat bila kisah serial Tintin ini diangkat ke dalam sebuah film? Apalagi filmnya merupakan gabungan dari 3 episode sekaligus, yaitu 'The Crab with the Golden Claws' (1941), 'The Secret of the Unicorn' (1943), dan 'Red Rackham's Treasure' (1944).

Belum lagi filmnya dibuat menggunakan teknologi canggih, motion capture. Dan yang lebih hebatnya lagi, The Adventures of Tintin ini digarap oleh dua nama besar Hollywood, Steven Spielberg (Schindler's List, 1993) dan Peter Jackson (The Lord of the Rings trilogy, 2001, 2002, 2003). Kolaborasi dua sosok yang sama-sama pernah memenangkan 3 Oscar ini pastinya menjadi keistimewaan dan ketertarikan tersendiri. 


Filmnya diawali opening credit dengan Tintin versi 2 dimensi yang colorful, kemudian dilanjutkan dengan scene 'pamer' CGI (ya, meski jujur saja ini ada di seluruh durasi film). Betapa tidak, The Adventures of Tintin menghadirkan visual animasi yang bener-benar terlihat nyata. Setiap scene memperlihatkan animasinya yang benar-benar detail, bahkan hingga texture pakaian Tintin sekalipun. Wajar saja, karena film ini memakai teknologi motion-capture, sama seperti yang dipakai oleh The Polar Express, Avatar, ataupun Rise of the Planet of the Apes. Apalagi animasinya merupakan kreasi dari Weta Digital milik Peter Jackson, yang sudah tak usah lagi dipertanyakan kualitasnya.


Dalam film ini, tentu saja karakter Tintin, Snowy, dua detektif kembar identik Thomson dan Thompson, serta Kapten Haddock, menjelma menjadi makhluk 3 dimensi, dimana sebelumnya kita hanya bisa melihatnya dalam 2 dimensi saja, alias hanya dalam kertas.

Berawal dari kisah Tintin (Jamie Bell) serta anjing kesayangannya, Snowy yang sedang berjalan-jalan ke sebuah pasar. Saat itu, Tintin tertarik dengan sebuah miniatur kapal perang tua dari abd ke-17 bernama Unicorn dan akhirnya memutuskan untuk membelinya, apalagi harganya tergolong sangat murah. Setelah membelinya, ia kedatangan seorang pria bertubuh tambun yang mengatakan bahwa miniatur tersebut akan menggiring Tintin ke dalam bahaya besar.


Dan benar saja, selepas orang itu pergi, datanglah lagi seorang pria bernama Sakharine (Daniel Craig, and yes, as you can see, dialah tokoh antagonisnya) yang ingin membeli miniatur tersebut dari Tintin. Tentu saja, ia menolaknya mentah-mentah. Ternyata Sakharine belum puas jika miniatur tersebut belum ada di tangannya, hingga ia memakai segala cara untuk mendapatkan miniatur ini. Petualangan ini terus bergulir, hingga mempertemukan Tintin dengan seorang kapten kapal yang hobi mabuk-mabukan, Kapten Haddock (Andy Serkis), dan dari sinilah petualangan yang sesungguhnya terjadi.

The Adventures of Tintin saya akui memang merupakan film yang sangat seru. Seluruh petualangannya begitu kental dengan kesan 'have fun'. Tak ketinggalan juga dengan unsur-unsur komedinya, apalagi celetukan-celetukan Kapten Haddock yang pemabuk itu. Duo detektif kembar Thomson dan Thompson yang lugu dan bodoh. Serta Tintin dengan pembawaannya yang agak datar. Tak ketinggalan pula si Snowy alias Milou yang penuh loyalitas dan super lucu.


Kolaborasi yang berhasil. Steven Spielberg serta Peter Jackson berhasil menghidupkan kembali kisah lama ini. sekaligus sebuah penghormatan bagi Herge. Petualangan yang seru dan sangat komikal, dengan tetap tak meninggalkan segala kekhasannya, meski memang tak ada momen-momen yang mengetuk sisi emosional, segalanya pure petualangan. Salah satu film animasi favorit saya. Dan masih, Haddock dan Snowy tetap menjadi karakter paling favorit!

7.5/10


Wednesday, May 9, 2012

Tagged under: , , , ,

[Part 3] 15 Best Puzzling Plot Movies

This is the last part! And here are our choiches...


David Lynch memang masternya dalam bidang film-film surreal super aneh. Eraserhead inilah contohnya.  Ceritanya aneh, unik, dan gak biasa. Sampai saat ini, masih segudang pertanyaan yang belum terjawab dari film yang masih berformat hitam putih serta super duper miskin dialog ini. Mengapa anak mereka mutan? Apa sebenarnya benda menjijikkan itu? Siapakah sosok sebenarnya tetangga Henry? Mengapa ayam yang digoreng itu bisa bergerak-gerak sendiri dan mengeluarkan cairan menjijikkan? Apa hubungannya kepala manusia dengan pensil?




The Holy Mountain merupakan film berikutnya. Film karya Alejandro Jodorowsky ini memang aneh, dari awal hingga akhir durasinya. Layaknya El Topo, film ini juga kental akan aroma spiritual serta memang dipenuhi simbolisasi-simbolisasi aneh, bahkan terkadang terkesan erotis. Terserah anda mau bilang film ini unik, keren, jelek, aneh, gak jelas, erotis, dan lain-lain. Yang pasti, karya satu ini merupakan sebuah mahakarya yang luar biasa. Apalagi ditutup dengan quote memorable dari Jodorowsky. Ending yang sebenarnya sederhana sekaligus membuat anda berpikir, "loh, segini doang?". Dan, seperti yang saya katakan tadi, film ini gak jauh-jauh dari El Topo. Sama-sama film sakit, tapi film ini satu level lebih sakit daripada El Topo!




Tentu saja tak lengkap jika tak ada film bisu surreal legendaris ini. Film pendek tahun 1929 yang disutradarai oleh Luis Bunuel serta ditulis oleh Salvador Dali juga Luis Bunuel sendiri ini memang merupakan salah satu film surreal terbaik yang pernah ada. Seperti film surreal lainnya, Un Chien Andalou atau An Andalusian Dog ini memang dibumbui oleh simbolisasi-simbolisasi. Momen terbaik? Tentu saja saat scene mata yang diiris dengan pisau itu. Bunuel+Dali=Sinting!




2001: A Space Odyssey, bisa dibilang merupakan film sci-fi terbaik yang pernah ada. Dibuka dengan scene monyet-monyet purbakala yang kala itu menemukan sebuah benda hitam yang dikenal dengan nama 'monolith'. Setelahnya, kita diajak untuk maju secepat kilat ke tahun 2001, dimana manusia telah mencapai puncak kejayaannya, terlebih dalam bidang teknologi. Tapi, ternyata teknologi lah yang kemudian menghancurkan manusia itu sendiri. Endingnya? Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bukannya menjelaskan segalanya, malah menambah ruwet segalanya. Tapi, itulah yang membuat film dengan visual-effect 'wah' ini istimewa.





Mulholland Drive bisa dibilang merupakan film dengan puzzling plot favorit saya (termasuk yang salah satu terbaik juga menurut saya). Sekali lagi, David Lynch masih setia untuk menyuguhkan sebuah tontonan absurd, aneh, unik, dan menghibur (bagi saya). Mulholland Drive bagaikan batasan abu-abu antara dunia fantasi dengan dunia nyata. Dan seperti film Lynch lainnya, Lynch tetap saja meninggalkan tanda tanya besar di otak saya. Yah, dalam menonton film jenis plot memusingkan seperti Mulholland Drive, otak adalah segalanya, layaknya karya prestisius dari Lynch ini yang memang segalanya!

Saturday, April 28, 2012

Tagged under: , , , , , , ,

[Part 2] 15 Best Puzzling Plot Movies


Masih merupakan lanjutan dari bagian pertama 15 film puzzling plot atau mindf*** terbaik. Enjoy!






L'Age d'Or merupakan film nyeleneh lagi karya Luis Bunuel. Di film ini, ia masih berkolaborasi dengan Salvador Dali setelah sebelumnya bersama dalam film Un Chien Andalou. Hasilnya? Film komedi yang digabungkan dengan unsur surrealis satu ini berhasil menyajikan tontonan yang menghibur (jarang loh ada film surreal yang menghibur), tapi tetap tak ketinggalan rasa 'Bunuel dan Dali'-nya yang abnormal dan ajaib. Kolaborasi yang emang gak ada matinya! 



Donnie Darko merupakan salah satu film absurd favorit saya. Film yang disutradarai Richard Kelly ini merupakan film yang menyoroti tentang kisah aneh tentang 'akhir dunia' yang terbungkus dalam kisah seorang remaja bermasalah. Donnie Darko merupakan perpaduan antara tema berat dengan tema ringan seperti percintaan remaja. Menarik, aneh, gila, membingungkan, mengharukan, dan mengerikan. Well don(ni)e!



El Topo merupakan film yang disutradarai, ditulis, bahkan juga dibintangi oleh Alejandro Jodorowsky.  Ceritanya kental akan unsur spiritual namun juga kental akan kesadisan dan sensualitas (yang sudah menjadi trademark Jodorowsky). El Topo bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. El Topo menyajikan tontonan yang religius, penuh kasih sayang, penuh moralitas, sekaligus juga menyajikan tontonan nonmoralitas, mistik, sadis, berdarah, penuh dendam, sensusal, serta tragis dalam satu waktu. Film ini sakit!



Ya, ini memang sebuah trilogi dari Jean Cocteau yang terdiri dari The Blood of a Poet (1932), Orpheus (1950), dan The Testament of Orpheus (1960). Sebenarnya saya ingin menempatkan ketiga film ini dalam list. Namun, hanya saja kalau saya menempatkan ketiga film ini, pastilah akhirnya menjadi lebih dari 15 film. Saya pun tak bisa membuang salah satu film yang lainnya. So, akhirnya jadilah ide memasukkannya dalam bentuk trilogi (hahaha). Menonton tiga karya Jean Cocteau ini tak ubahnya sedang menghadiri sebuah pertunjukan puisi. Trilogi ini merupakan puisinya. Sedangkan Jean Cocteau sendiri merupakan penyairnya. Cantik, indah, dan puitis.



The Exterminating Angel merupakan film karya Luis Bunuel ini memang agak berbeda dari filmnya yang lain. Dengan mengambil tema film 'survival', The Exterminating Angel memang lebih memiliki plot yang lebih jelas dari film-film Bunuel lainnya, namun tentu saja plot itu masih saja surreal. Selain itu, film ini juga sedikit mengingatkan kita dengan L'Age d'Or yang menggabungkan unsur absurd dengan sentuhan komedi. Bercerita tentang para tamu sebuah perjamuan makan malam kelas atas yang entah mengapa mereka terperangkap di dalam ruang musik tanpa alasan yang jelas. Meski bertema 'survival', jangan samakan film ini dengan sejenis film Saw. Secara kasat mata mereka bahkan sama sekali tak terperangkap, bahkan kita bisa melihat bahwa pintu ruangan tersebut terbuka dengan lebarnya. Dengan ditutup ending yang gokil, The Exterminating Angel ternyata berhasil memerangkapkan hati saya (loh?). 
Tagged under: , , , , , ,

[Part 1] 15 Best Puzzling Plot Movies


Puzzling plot, atau bahasa kasarnya film mindf*** merupakan salah satu jenis film yang biasanya mempunyai alur film membingungkan dan sangat sulit untuk diikuti. Yah, bisa (bahkan sangat bisa) dikategorikan sebagai film berat lah. Biasanya, film-film ini termasuk ke dalam film-film surreal, meski tak menutup kemungkinan film ini merupakan film-film dengan plot non-linear ataupun film dengan plot yang memang memusingkan, namun belum sememusingkan film surreal (nah loh? belum apa-apa aja udah bingung duluan) yang biasanya bergenre sci-fi ataupun fantasi. Umumnya (atau mungkin seluruhnya), ide cerita film ini merupakan ide-ide cerita yang out of the box dan nonsense.

Sebelumnya, inilah random list dari beberapa film yang juga memiliki plot cukup memusingkan, namun sayangnya tak dapat masuk ke 15 film terbaik. So, here we go!
  • Inception (2010) Dir: Christopher Nolan 
  • The City of Lost Children (1995) Dir: Marc Caro & Jean-Pierre Jeunet
  • Open your Eyes/Abre los Ojos (1997) Dir: Alejandro Amenabar
  • Eternal Sunshine of the Spotless Mine (2004) Dir: Michel Gondry
  • Being John Malkovich (1999) Dir: Spike Jonze
  • Synecdoche, New York (2008) Dir: Charlie Kaufman
  • Magnolia (1999) Dir: Paul Thomas Anderson
  • The Matrix (1999) Dir: Andy & Lana Wachowski
  • Opera Jawa (2006) Dir: Garin Nugroho
  • Triangle (2009) Dir: Christopher Smith
Sekarang, mari kita beralih ke top 15, in no particular order too!


The Grandmother merupakan salah satu film pendek karya David Lynch. Ceritanya bisa dibilang benar-benar nyeleneh dan aneh. Bercerita tentang seorang anak yang menanam sebuah bibit aneh diatas kasurnya (ya, dia menanam tanaman di atas kasur, tanpa pot sama sekali). Perlahan, sesuatu yang sangat aneh pun muncul secara tiba-tiba. Absurd!



Dibintangi dua bintang besar Hollywood, Hugh Jackman dan Rachel Weisz serta disutradarai seorang Darren Aronofsky tentu saja menjadikan The Fountain ini begitu istimewa. Merupakan perpaduan absurd dari film drama, fantasi, dan sci-fi yang keren!



The Shining merupakan film horor yang disutradarai oleh Stanley Kubrick. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stephen King. Film horor aneh ini bercerita tentang Jack Torrance (Jack Nicholson) yang baru saja mendapat pekerjaan baru sebagai penjaga hotel yang memaksanaya untuk pindah ke hotel tersebut bersama keluarganya selama 5 bulan. Entah dari mana datangnya, perlahan Jack mulai memperlihatkan perilaku yang aneh, bahkan hinggat terkesan psycho. Bukan hanya penyebab perilakunya tersebut yang membuat bingung, tapi endingnya pun sukses membuat otak saya ini benar-benar bekerja keras. Salah satu ending favorit saya!



Inland Empire merupakan film karya David Lynch yang dibintangi Laura Derm dan Justin Theroux. Ceritanya? Hm, sebenarnya saya bingung kalau mau menceritakan plot film ini dengan tulisan. Film ini mengambil sedikit adegan dari 'sitkom' yang juga karya David Lynch berjudul Rabbits. Jangan tertipu dengan kata 'sitkom', karena 'sitkom' yang satu ini bahkan tak akan pernah membuat anda tertawa, yang ada hanya membuat anda kebingungan. Inland Empire memang merupakan film yang sangat low-budget. Lihat saja sinematografi-nya yang terkesan amatiran. Terlepas dari itu, Inland Empire tetaplah salah satu karya terbaik David Lynch.



Davin Lynch rules! Belum apa-apa saja ia telah mengisi 3 tempat dalam list ini. Dan salah satunya adalah Lost Highway. Lost Highway yang dibintangi Bill Pullman dan Partricia Arquette ini terkesan plotnya agak mirip dengan salah satu film Indonesia (oke, saya gak sebut merk). Berawal dari sepasang suami istri Fred (Bill Pullman) dan Renee (Patricia Arquette) yang kerap mendapat kiriman tape yang berisi rekaman rumah mereka yang sedang diintai. Ya, tentu misterinya tak sampai disitu saja. David Lynch pastinya telah menyiapkan misteri dan kejutan yang lebih absurd dan make no sense pastinya!
Tagged under: , , , , ,

[Review] Pan's Labyrinth/El Laberinto del Fauno (2006)

"You're getting older, and you'll see that life isn't like your fairy tales. The world is a cruel place. And you'll learn that, even if it hurts." ~ Carmen

Merupakan suatu hal yang sangat jarang bagi film berbahasa asing untuk dikategorikan 6 Oscar sekaligus. Tapi itulah yang terjadi pada Pan's Labyrinth. Film asal Meksiko yang disutradarai Guillermo del Toro ini berhasil dinominasikan untuk 6 Oscar, yaitu Best Foreign Languange Film, Best Original Score, Best Cinematography, Best Makeup, Best Art Direction, hingga Best Original Screenplay yang kita kenal sangat jarang ada film asing yang dinominasikan di nominasi yang satu ini. Film ini sendiri berhasil memenangkan 3 diantaranya, yang kesemuanya merupakan bidang teknikal, yaitu Best Makeup, Art Direction, dan Cinematography. Meski dikalahkan The Lives of Others dari Jerman di film bahasa asing terbaik, tetap saja 3 Oscar itu merupakan sebuah prestasi yang langka.


Adalah Ofelia (Ivana Baquero), gadis belia yang pikirannya telah 'terkontaminasi' dengan dongeng-dongeng anak. Ia adalah seorang anak yatim yang ditinggal mati oleh ayahnya karena perang. Berlatar jatuhnya fasis di Spanyol pada tahun 1944, saat itu Ofelia dan ibu Ofelia yang sedang hamil, Carmen (Ariadna Gil) terpaksa harus tinggal di pemukiman tentara, tempat Kapten Vidal (Sergi Lopez), suami baru Carmen tinggal. Vidal sendiri dikenal sebagai sosok yang kejam, keji, bahkan terkadang tak berperikemanusiaan.


Suatu hari, saat sedang perjalanan menuju pemukiman tentara tersebut, ia menemukan seekor serangga. Ternyata, serangga itu merupakaan jelmaan dari peri. Ia menuntun Ofelia ke sebuah labirin. Di dalam labirin tersebut, ia bertemu Faun, makhluk tinggi besar bertanduk berwarna biru. Ia mengatakan bahwa Ofelia merupakan Putri Moanna, dan bukan bagian dari bangsa manusia. Faun tersebut menugaskan Ofelia untuk menjalankan 3 misi yang harus diselesaikan seblum bulan purnama terjadi.


Awalnya, mungkin kita akan mengira bahwa film ini akan menjadi tipikal film-film magikal ala anak-anak seperti Spiderwick Chronicles, Narnia, Alice in Wonderland, atau bahkan Harry Potter. Dari posternya saja sudah sangat terlihat film ini pastiah tipe-tipe film anak-anak dengan bumbu-bumbu fantasi dunia khayal. Tapi ternyata saya salah besar. Plot film ini jauh lebih complicated dari itu semua. Bahkan bisa dibilang film ini juga bukanlah tipikal film keluarga sama sekali, mengingat beberapa scene yang mengekspos banyak kekerasan dan darah di sini. 

Ada lagi yang saya suka dari film ini, yaitu endingnya. Endingnya yang (spoiler?) unpredictable dan tragis itu seolah mematahkan tradisi film fantasi anak yang seakan wajib diakhiri dengan ending 'happily ever after'.


Dalam membuat film fantasi, tentu saja urusan costume-design, cinematography, makeup, effect, dan art direction menjadi sorotan. Dan pastinya Pan's Labyrinth mampu memuaskan segala unsur diatas. Makeupnya begitu mumpuni, lihat saja bagaimana tampang Doug Jones ketika telah berubah menjadi Faun ataupun si Pale Man. Lihat pula visual indah dengan cinematography arahan Guillermo Navarro yang berhasil mengantarkan Pan's Labyrinth memenangkan Oscar untuk Best Cinematography.

Untuk urusan tata musik, Pan's Labyrinth juga menjadi juaranya. Tata musik dari Javier Navarrete ini sukses menjadi penggeak mood penontonnya. Menjadi penuntun dalam film menuju klimaksnya seiring dengan bertambahnya degup jantung yang beriringan dengan scoringnya tersebut.


Beralih ke departemen akting. Untuk urusan ini, semua pemerannya mampu memberikan akting yang meyakinkan. Ivana Baquero yang menjadi pemegang karakter terpenting, yaitu Ofelia yang sangat terobsesi dengan dongeng, tentu saja menyajikan akting yang sangat memuaskan. Begitu pula Maribel Verdu yang berperan sebagai Mercedes yang lembut namun memiliki sesuatu dibaling kelembutannya. Tak ketinggalan pula Sergi Lopez sebagai Vidal yang kejam dan keji itu. Jangan lupakan ada Ariadna Gill yang memainkan peran sebagai ibu Ofelia yang penyayang, Carmen.

Guillermo del Toro berhasil menggabungkan fantasi anak dengan unsur-unsur dark. Ya, menonton film ini bagaikan menonton Alice in Wonderland tapi dalam versi yang lebih gelap, lebih berdarah, dan tentunya penuh dengan kekerasan (untuk ukuran film tipe seperti ini pastinya).

8.5/10