Wednesday, September 21, 2011

Tagged under: , , , ,

[Review] Noroi - The Curse (2005)


"No matter how terrifying, I want the truth." ~ Masafumi Kobayashi


Mockumentary, sebutan bagi film fiksi yang dikemas ala film dokumenter. Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan agar filmnya terlihat lebih realistis. Bukan itu saja, pengemasan film ala film dokumenter ini juga bisa menjadi solusi bagi film low-budget untuk menarik perhatian masyarakat. Sebut saja [REC], Noroi, Lake Mungo, Paranormal Activity, The Blair Witch Project, Haunted Changi, hingga film horor asal Indonesia sendiri, Keramat yang memakai konsep film mockumentary. Meski kerap dicibir, bukan berarti setiap film mockumentary memiliki kualitas buruk. [REC] contohnya, saking bagusnya film mocku asal Spanyol ini, sampai-sampai Hollywood membuat versi mereka sendiri dengan judul Quarantine. Bukan hanya [REC] yang memiliki kualitas bagus, film-film mocku yang saya sebut diatas tadi kesemuanya merupakan film mocku berkualitas. Di Indonesia sendiri, selain Keramat, juga terdapat satu lagi film mocku (yang sayangnya sampah) berjudul te[rekam] (deja vu? judulnya saja sudah nyontek abis film [REC]).


Kali ini, saya akan coba me-review salah satu film bergaya mocku asal Jepang, Noroi yang disutradarai oleh Kôji Shiraishi. Siapa tak kenal industri perfilman horor Jepang? Jepang memang dikenal sebagai rajanya Asia (bahkan dunia) soal membuat film-film yang membuat para bulu kuduk penontonnya berdiri. Mulai dari One Missed Call, Ju-On, Audition, Pulse, Suicide Club (Suicide Circle), hingga film yang mempopulerkan hantu berambut panjang mirip kuntilanak bernama Sadako, yaitu Ringu yang bernasib sama dengan [REC], yaitu di-remake oleh Hollywood (meskipun hasilnya tidaklah jelek). 

Memang, Hollywood masa kini dikenal sudah (hampir) tidak bisa membuat film horor lagi. Apalagi dengan munculnya film-film remake yang (sering kali) bukannya lebih berkualitas dari film originalnya, malah (sering kali lagi) tampil dengan memalukan. Dengan budget dan efek gila-gilaan jika dibandingkan dengan film originalnya bahkan tak membantu kualitas film remake pada umumnya. Berbanding terbalik dengan horor Jepang yang tampil lebih sederhana serta tak menghambur-hamburkan uang dapat menghadirkan atmosfer yang lebih mengerikan dan mencekam padahal hantu-hantunya tidaklah narsis (nunjuk film-film horor norak Indonesia).


Noroi dibuka dengan narasi seorang pria yang menjelaskan tentang Masafumi Kobayashi (Jin Muraki), seorang ahli supranatural yang telah menyelidiki berbagai misteri mengerikan dan tak terpecahkan, termasuk sebuah kasus yang sempat ia dokumentasikan sebelum Kobayashi dinyatakan hilang yang berjudul "Noroi". Kemudian film dilanjutkan dengan diputarnya video dokumentasi "Noroi" yang berawal saat Kobayashi dimintai bantuan oleh seorang wanita terhadap tetangganya yang misterius yang sering kali terdengar suara tangisan bayi dari arah rumah tentangganya yang bernama Junko Ishii (Tomono Kuga) tersebut. Belum selesai misteri aneh ini, muncullah misteri lain yang tak kalah misteriusnya, mulai dari hilangnya seorang anak bernama Kana (Rio Kanno), kelakuan aneh seorang paranormal, kejadian-kejadian mengerikan yang dialami seorang aktris, hingga kasus bunuh diri massal yang pada akhirnya mengantarkan kita pada satu titik yaitu sebuah ritual masyarakat setempat bernama "Kagutaba".


Bisa dibilang, Noroi atau The Curse (kutukan) merupakan salah satu film mockumentary terbaik yang pernah ada dan mockumentary terbaik asal Negeri Sakura sekaligus Tanah Asia, dengan menggabungkan kepercayaan mistik penduduk setempat dengan gaya penyampaian ala-ala dokumenter. Memang, gaya penyampaian dengan found-footage ini justru menambah ketegangan dalam film terlebih Noroi tidak takut untuk menambahan scoring musik, yang biasanya dihindari oleh film mocku sejenis karena dapat mengurangi kesan "asli" dalam film.

Noroi memang menyampaikan alur cerita yang cenderung lambat, namun berkat teka-teki misterius membingungkan sekaligus mistik yang terus berdatangan hingga akhir film plus dengan ketegangan yang telah dibangun sejak awal film dimulai membuat saya tak pernah bosan menonton film ini dari awal hingga akhir sambil melongo karena takjub akan kualitas film ini. Akting serta ekspresi para pemainnya pun, benar-benar patut diacungi jempol, terlihat begitu realistis dan benar-benar natural seolah mereka benar-benar mengalami kejadian tersebut yang pastinya turut ikut serta membangun intensitas ketegangan film dan juga memberantas rasa bosan. Penontonnya pun makin dimanjakan matanya dengan pergerakan kamera yang lumayan bersahabat. Belum cukup? Tunggu sampai anda melihat ending-nya yang begitu mengerikan dan tetap saja mengundang tanda tanya besar di kepala para penontonnya. Percayalah, saya jamin anda pasti akan tetap setia duduk berlama-lama untuk menjadi salah satu saksi dari sebuah "kejadian" mengerikan sekaligus mencekam ini.

 8.0/10

Thursday, August 25, 2011

Tagged under: ,

[Review] Kick-Ass, No Power?! No Problem!

"Okay, you c**ts, let's see what you can do now. Eeny, meeny, miny, moe." ~ Hit-Girl
Pernah dong nonton film-film bertema superhero, seperti "Superman", "Spiderman", sampai yang teranyar, kisah si superhero playboy yang kaya raya, apalagi kalau bukan Batman yang berjudul "The Dark Knight"? Yup, dengan ciri khasnya yang memakai kostum serba aneh, menjadi pusat perhatian masyarakat, dan yang terpenting, memliki kekuatan super yang tak tertandingi dan musuh yang kekuatannya juga sama hebatnya. Mustahil? Tentu saja. Tapi bagaimana jadinya jika superhero tersebut tidak memilik kekuatan super sama sekali? Bagaiman jika superhero itu hanyalah seorang anak SMA payah dan cupu yang terobsesi dengan kisah superhero? Mustahil? Tentu saja tidak, termasuk bagi Kick-Ass!


"Kick-Ass", sebuah film tahun 2010 bertema superhero yang disutradarai Matthew Vaughn yang diadaptasi dari seri komik sadis berjudul sama, "Kick-Ass". Film ini bisa dibilang membawa angin baru dalam film bertema serupa. Berbeda dengan film superhero lainnya yang cenderung serius, kisah yang disajikan "Kick-Ass" lebih fun, fresh, super sadis dan tentunya dengan humor-humor segar dan renyah plus anak muda banget.

Film dibuka dengan scene yang konyol sekaligus mengundang gelak tawa para penontonnya, meskipun tetap saja, sadis. Kemudian kisah berlanjut ke kisah Dave Lizewski (Aaron Johnson), seorang anak muda biasa yang payah, cupu, gak gahol, dan teman-temannya yang sangat terobsesi dengan kisah komik superhero. Dia tak punya reputasi di sekolahnya, dia tidak punya penggemar rahasia, apalagi dikejar-kejar seluruh anak cewek di sekolahnya, dia tidak jago dalam hal olahraga serta matematika, dan ia juga tidak punya 3.000 teman di situs jejaring sosial MySpace. Singkatnya, dia tidak bisa dan tidak punya apa-apa. Mungkin, yang hanya dia bisa dan dia punya hanyalah otak yang penuh dengan pikiran mesum dan kedua teman yang sama-sama cupunya serta kemampuan super untuk "tidak terlihat" di depan gadis-gadis. Dave sendiri tinggal berdua dengan ayahnya, sedangkan ibunya telah meninggal karena aneurysm (mengingat film ini adalah film komedi, ibunya pun meninggal dengan cara kematian yang sangat konyol).


Kembali ke ambisi Dave. Saking terobsesi menjadi seorang superhero, sampai-sampai ia membeli sebuah pakaian ketat berwarna hijau yang sebenarnya lebih tepat jika dibilang kostum senam murahan yang didapatinya dari internet untuk mewujudkan mimpinya menjadi superhero. Dengan senjata seadanaya dan tanpa kekuatan sama sekali (kecuai yang saya sebutkan di atas tadi) ia nekat menjadi superhero. Sayangnya, menjadi superhero ternyata tidaklah mudah. Di hari pertamanya menjadi superhero, ia malah ditikam para pencuri mobil dan malangnya lagi, setelah itu ia tertabrak mobil. Namun rupanya Dave tidak pernah kapok, ia kembali dan menjalankan misinya sebagai Kick-Ass versi 2.0 setelah ia sembuh. Misi awalnya kali ini adalah mencari kucing bernama Mr. Bitey (ya, ini bukanlah sebuah lelucon). Kali ini, tampaknya ia beruntung, ia berhasil menemukan Mr Bitey di depan sebuah restoran. Kebetulan juga, saat itu ternyata ada seorang pria yang dikejar-kejar oleh sekawan preman kekar bertato. Kesempatan! Dengan mati-matian ia membela pria tersebut. Saat itu pula, para pengunjung restoran menonton dan mencoba merekam kejadian tersebut. Kali ini, dewi fortuna ternyata berpihak pada Kick-Ass. Si pahlawan "super" ini berhasil mengalahkan para preman tersebut, dan video yang direkam oleh pengunjung restoran tersebut juga berhasil menjadi video yang terbanyak ditonton di situs YouTube. Itulah awal dari kisah superhero kita, Kick-Ass.


Namun "Kick-Ass" tak hanya menceritakan tentang Kick-Ass seorang diri saja, karena diluardugaan Kick-Ass sendiri ternyata ada superhero yang "sebenarnya" di luar sana, mereka adalah Hit-Girl (Chloë Grace Moretz), anak polos berumur 11 tahun bermulut kotor (tapi cantik) namun pandai berkelahi yang tak segan-segan membunuh para penjahat dengan cara yang sangat sadis beserta ayahnya, Big Daddy (Nicolas Cage) seorang superhero sekaligus pelatih Hit-Girl yang notabene merupakan seorang mantan polisi yang nantinya akan berevolusi menjadi seorang superhero dengan pakaian yang mirip Batman. Ketegangan akan tambah terasa dengan kehadiran superhero yang "sebenarnya" ini. Jujur saja, saya lebih menikmati penampilan mereka berdua (khususnya Hit-Girl) jika dibandingkan dengan Kick-Ass sendiri. Mungkin saja, film ini lebih cocok jika diberi judul "Hit-Girl and Big Daddy" ketimbang "Kick-Ass". Oke, lupakan saja ide buruk dan gila saya tadi. Belum cukup? Masih ada superhero lain, yaitu Red Mist alias Chris D'Amico (Christopher Mintz-Plasse) yang tak lain merupakan anak dari Frank D'Amico (Mark Strong) yang merupakan villain utama dalam film ini.


Soal akting, Chloë Grace Moretz adalah yang patut diacungi jempol. Dengan akting yang natural tanpa ada paksaan sama sekali berhasil membuat saya jatuh hati sama Hit-Girl ini (mungkin lebih tepat sama Moretz-nya, hehe). Nicolas Cage pun juga berhasil membawakan karakter ayah sekaligus seorang superhero. Sedangkan Mark Strong, menunjukkan performa yang sangat baik apalagi dengan wajahnya sendiri yang memang "jahat" itu. Begitu pula dengan si Red Mist, Christopher Mintz-Plasse. Namun, Aaron Johnson justru "kalah" dibandingkan pemeran lainnya, padahal sebagai pemeran utama ia seharusnya bisa menujukkan performa terbaiknya  dengan perannya sebagai Dave alias Kick-Ass ini.


Dengan berbagai scene-scene sadis dan berdarah yang siap membuat gigi anda ngilu, terutama bagi yang tidak biasa menonton film dengan banyak adegan darah dan "potong-potong tubuh" namun tetap mengundang gelak tawa, "Kick-Ass" berhasil menyajikan sebuah tontonan menarik dengan tema superhero yang berbeda dari yang lainnya. Mari kita sambut film superhero terbaik di tahun 2010, inilah... "Kick-Ass"!

8.0/10

Friday, August 19, 2011

Tagged under: ,

[Part 2] Top 12 Best Movie Posters!

Suka nonton film-film klasik? Apa film-film klasik yang anda sukai? The Exorcist, The Shining, Psycho, Poltergeist, The Omen (kok horor semua ya?), atau yang lain? Ngomong-ngomong soal film klasik, kali ini saya akan memberitahu anda 12 film klasik dengan poster terbaik, sekaligus melanjutkan bagian pertama yang telah saya posting kemarin.

12. E.T. : The Extra-Terrestrial (1982)
Siapa tidak tahu lukisan terkenal karya Michalangelo yang berjudul "Penciptaan Adam"? Ya, itulah sumber inspirasi (kalau tidak mau dibilang "memelesetkan") poster film karya Steven Spielberg. Namun, tangan siapakah itu yang berada di sebelah kiri? Alien?!

11. Jaws (1975)
Bisakah anda membayangkan jika anda berenang di tengah laut dan ternyata di bawah anda ada seekor hiu yang siap menyerang anda dengan kapan saja?!

10. A Clockwork Orange (1971)
Walaupun menurut saya posternya sangat kontroversial (pasti tahu dong maksud saya?), tapi dengan konsep minimalis plus dengan efek tangan menyembul keluar dari sebuah segitiga menjadikan poster ini menjadi istimewa.

9. Breakfast at Tiffany's (1961)
Dengan background putih yang dihiasi warna-warna full color membuat suasana poster ini begitu ceria. Terlebih dengan pose ikonik Audrey Hepburn yang pastinya masih terngiang-ngiang di kepala sampai sekarang.

8. 2001: A Space Odyssey (1968)
Dengan konsep poster embryo manusia yang (pastinya) akan dilahirkan, menandakan sebuah perjalanan manusia menuju masa depan, sesuai dengan isi film ini. Selain itu, konsep embryo ini juga memberi suasana tenang, sama seperti filmnya yang juga tenang dan minim dialog.

7. Rosemary's Baby (1968)
Sederhana saja dan tanpa perlu basa-basi (termasuk tanpa penggunaan ukuran font besar-besaran) menjadikan poster ini bagaikan sebuah isyarat bisu dari sebuah film horor yang pastinya tak pernah bisu dari teriakan-teriakan ketakutan (Anyway, akhirnya kemarin saya berhasil menonton film ini, dan yey! Sama seperti yang saya ekspekstasikan, meskipun dengan ending yang bikin telinga panas).

6. All About Eve (1950)
Sama seperti poster film "Breakfast at Tiffany's" yang memiliki background putih yang dipermanis dengan warna-warna cerah. Namun, bukan itu yang membuat poster ini menjadi tidak biasa, yaitu dengan konsep yang kreatif yang mengemas poster ini.

5. The Birds (1963)
Apa yang membuat saya mengagumi poster ini? Apalagi kalau bukan desain simpel dan teks "The Birds" yang mengikuti pola bulu burung? Artistik!

4. Casablanca (1942)
Meskipun typical poster ini sama seperti poster pada jamannya, tapi Casablanca berhasil membawa passion tersendiri ke dalam posternya. 

3. Straw Dogs (1971)

Meskipun hanya dengan sebuah lensa kacamata yang pecah, bisa membuat poster ini terasa penuh dengan emosi!

2. Vertigo (1958)
Dengan efek yang tampak berputar-putar berhasil menghipnotis saya!

1. Anatomy of A Murder (1959)
Sederhana, tapi itulah yang membuat saya menaruh poster film ini di urutan pertama!

Well, itulah film-film dengan poster terbaik menurut saya. Sampai jumpa di entri selanjutnya!

Friday, August 12, 2011

Tagged under: ,

[Part 1] Top 12 Best Movie Posters!


Poster suatu film merupakan salah satu modal utama untuk menarik perhatian orang-orang untuk monontonnya. Kadang, poster suatu film bisa saja 'menipu', atau bisa dibilang tidak sebagus yang anda harapkan. Tanpa perlu basa-basi lagi,  inilah 12 poster film terbaik dari film-film tahun 2000an, dan tentu saja menurut pendapat saya! 

12. Cloverfield (2008)
Apa yang membuat poster ini begitu menarik? Hancurnya New York? Ya, itu salah satunya, tapi bukan itu maksud saya. Lalu? Apalagi kalau bukan kepala Patung Liberty yang terpenggal!

11. Lord of War (2005)
Siapa sangka rupa Nicolas Cage ini tersusun dari kumpulan peluru? Kreatif!

10. Paris, Je T'Aime (2006)
Sesuai dengan judulnya, "Paris, Je T'Aime" atau kalau diartikan menjadi "Paris, Aku Mencintaimu", posternya terdiri atas gambar hati yang mewakilkan "Je T'Aime". Lebih uniknya lagi, hati tersebut tersusun dari kumpulan menara eiffel yang mewakilkan kata "Paris".

9. District 9 (2009)
 Menggambarkan sebuah sasaran tembak berupa makhluk angkasa luar yang telah tertembak banyak kali. Apalagi dengan kesan lecek yang menambah keartistikan poter ini. 

8. Premonition (2007)
Sesuai dengan tagline film ini, It's not your imagination!

7. Rabbit Hole (2010)

Kehilangan seorang anak, mungkin awal dari momok menakutkan bagi pasangan suami istri, Howie (Aaron Eckhart) dan Becca (Nicole Kidman). Tak hanya meninggalkan luka mendalam, tapi juga berdampak pada hubungan mereka berdua. Dari hari ke hari hubungan mereka mulai goyah dan seperti berada di ujung tanduk. Kisah dalam film Rabbit Hole ini selain berhasil dikisahkan di dalam filmnya, posternya pun, juga berhasil menjabarkan hubungan antara suami istri yang kian hari makin goyah.

6. The Dark Knight a.k.a. Batman Begins 2 (2008)
Dengan konsep matang seperti filmnya, kartu joker yang ditumpuk membentuk gambar Batman (Christian Bale) yang menandakan pertarungan sengit antara Batman dan Joker (Heath Ledger). Ditambah lagi dengan darah di sekitar mulut Batman yang tampak seperti riasan mulut Joker. Keren!

5. Vacancy (2007)
Apa jadinya jika anda melihat papan motel di pinggir jalan? Biasa saja, mungkin itulah yang anda rasakan. Tapi apa jadinya jika melihat papan motel seperti papan di atas? Ya, hanya dengan sebuah papan motel yang terkesan biasa saja dan tidak ada istimewanya, dapat dirubah menjadi sesuatu yang keren dan istimewa!

4. Buried (2010)
Filmnya sebenarnya cukup sederhana, hanya bersetting di satu tempat saja, yaitu peti. Kedengarannya memang membosankan, tapi percayalah film ini menjadi brillian karena akting Ryan Reynolds yang benar-benar matang. Di sisi lain posternya menampilakan Ryan Reynolds di dalam peti yang dikelilingi oleh quote-quote pujian dari berbagai pengamat film, majalah, maupun situs-situs di internet. Menarik?! Tentu saja!

3. Cold Souls (2009)
Dengan konsep seperti boneka matryoshka yang bertumpuk berhasil membuat poster ini menjadi tidak biasa. Cool!

2. The Dark Knight Rises (2012)
Filmnya memang belum rilis, tetapi melihat sutradaranya, Nolan serta jajaran pemainnya pasti langsung membuat semua orang berekspektasi tinggi terhadap film ini. Bukan hanya itu saja, posternya yang kreatif dan menggunakan tipuan mata membuat para penggemar film-film Nolan semakin tidak sabar menunggu rilisnya film ini.

1. Pintu Terlarang a.k.a. Forbidden Door (2009) 
Dan pilihan saya jatuh pada poster film dari negeri sendiri, "Pintu Terlarang". Posternya sendiri terdiri dari  berbagai ilustrasi sekaligus wajah para pemainnya yang membentuk wajah psycho Gambir (Fachri Albar). Kemudian dipermanis lagi dengan warna-warna full color agak gelap yang menambah kesan vintage. Brillian!

Bagaimana? Sependapat dengan saya?
Berhubung list diatas diambil dari film-film tahun 2000an, jadi saya akan membuat list lagi yang khusus untuk film-film klasik. So, see you again next time!

Saturday, July 16, 2011

Tagged under: , , ,

[Review] The Shining, Salah Satu Film Horor Klasik Terbaik!

"I wish we could stay here, forever... and ever... and ever." ~ Jack Torrance 
Setelah melihat daftar Top 250 di situs IMDB, mata saya tiba-tiba saja tertarik dengan salah satu film horor klasik tahun 1980 yang bertengger di rank ke 48 dengan rating yang lumayan tinggi, 8.5/10. Wow. Gimana ya kira-kira isi film ini? Mengingat film ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya "Raja Novelis Thriller", Stephen King. Terlebih lagi film ini disutradarai oleh Stanley Kubrick, yang lebih dulu sukses dengan film sci-fi yang sering dianggap sebagai film sc-fi terbaik sepanjang masa, "2001: A Space Odyssey" (bukan hanya yang terbaik, melainkan juga film yang sangat susah dimengerti).


Pekerjaaan baru Jack Torrance (Jack Nicholson) sebagai penjaga di sebuah hotel mewah, Overlook Hotel, memaksanya untuk pindah selama 5 bulan ke hotel tersebut bersama istri, Wendy (Shelley Duvall) dan anak laki-lakinya, Danny (Danny Lloyd) yang ternyata memilik kemampuan supranatural yang disebut "Shining". Namun, dibalik pekerjaan baru itu, ternyata tersimpan sebuah tragedi mengerikan. Karenanya, sebelum Jack diterima sebagai penjaga, manager hotel, Ullman terlebih dahulu menceritakan tragedi itu. Beberapa tahun yang lalu, seorang pria bernama Grady juga diterima untuk bekerja sebagai penjaga di Overlook Hotel yang juga memaksanya untuk memboyong serta keluarganya untuk tinggal di hotel itu. Awalnya tak ada yang aneh dengan kelakuan Grady, ia terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Namun, semakin hari, sifat Grady mulai berubah. Puncaknya, ia ahirnya menghabisi satu-persatu anggota keluarganya dengan sadis. Jack Torrance yang diberitahu kisah tersebut dari manager hotel, Ullman, tampaknya sudah tak peduli lagi. Tanpa pikir panjang ia langsung menerima pekerjaan itu.


Satu bulan berlalu, mulai terlihat perubahan sifat dari Jack. Jack yang awalnya sangat "family-oriented" menjadi bukan Jack Torrance yang sebenarnya karena sebuah pengaruh supranatural jahat yang berasal dari hotel tersebut. Ia menjadi seorang pemarah (terlebih dengan mimik wajahnya yang terlihat garang dan kejam, mungkin karena bentuk alisnya?). Karena terus menerus dihantui pengaruh jahat untuk memberi "pelajaran" pada istri dan anaknya, makin hari, sifatnya makin berubah. Ketegangan bertambah dengan kemampuan Danny, anak Jack serta misteri di balik kamar nomor 237. Ya, kisah yang pernah diceritakan manager hotel, Ullman, ternyata terulang kembali.


Peran Jack Nicholson sukses membuat ketegangan sepanjang film. Sedangkan Duvall yang sekitar 4 bulan mengalami sakit karena stress berkepanjangan selama syuting berlangsung juga telah terbayar dengan hasil perannya sebagai Wendy. Dan tak lupa juga, anda juga akan dimanjakan dengan sebuah twist ending yang akan membaut anda bertanya-tanya apakah yang telah terjadi.
 

Tak salah memang kalau banyak maniak horor yang memasukkan film ini sebagai daftar film horor klasik terbaik yang pastinya akan dikenang sepanjang masa. Ya, meskipun sudah 29 tahun lamanya sejak film ini rilis, pastilah masih teringat di otak kita sampai sekarang. Berterimakasihlah pada Stanley Kurbick dengan arahannya dan Stephen King dengan dasar ceritanya. Oh! Tak ketinggalan pula para jajaran pemainnya! Highly recommended movie, forever... and ever... and ever!

Saturday, June 11, 2011

Tagged under: ,

[Review] Scream 4, Kembalinya Sang Peneror Woodsboro!

 "You forgot the first rules of the remakes. Don't f*** with the original!" ~ Sidney Prescott

Directed by Wes Craven Produced by Kevin Williamson, Wes Craven, Iya Labunka Written by Kevin Williamson (screenplay), Kevin Williamson (characters) Starring David Arquette, Neve Campbell, Courteney Cox, Emma Roberts, Hayden Panettiere, Anthony Anderson, Adam Brody, Rory Culkin, Mary McDonnell, Marley Shelton, Alison Brie, Marielle Jaffe, Nico Tortorella, Erik Knudsen, Anna Paquin, Kristen Bell, Lucy Hale, Shenae Grimes, Britt Robertson, Aimee Teegarden, Roger L. Jackson Music by Marco Beltrami Cinematography Peter Deming Editing by Peter McNulty Studio Dimension Films/Corvus Corax Productions/Outerbanks Entertainment Distributed by Dimension Films Running time 111 minutes Country United States Language English 

Yieppee! Salah satu film horor franchise favorit saya kembali muncul setelah sekitar 10 tahun 'mati suri', apalagi kalau bukan Scream 4! Walaupun awalnya agak takut akan kualitas filmnya yang sejelek Scream 3. Tapi ternyata anggapan itu 100% salah! Tampaknya, Om Wes Craven benar-benar bekerja keras untuk proyek 'balas dendam'nya akan kegagalan terhadap Scream 2 maupun Scream 3.

Setelah 10 tahun terjadinya tragedi Woodsboro pada Scream 3, Sidney Prescott (Neve Campbell) kembali ke Woodsboro, kota kelahirannya yang mendadak terkenal karena tragedi buruknya itu, untuk mempromosikan buku barunya yang berjudul Out Of Darkness. Di sisi lain, keretakan mulai menggerogoti rumah tangga Dwight 'Dewey' Riley (David Arquette) dan Gale Weathers (Courteney Cox). Gale yang dulunya adalah seorang wartawan kini menjadi seorang penulis kisah-kisah fiksi. Dewey, kini telah menjadi sheriff di Woodsboro. Saat Sidney datang, tampaknya mimpi buruk itu juga kembali datang menghampirinya setelah 10 tahun 'mati suri'. Disaat para remaja-remaja merayakan mimipi buruk masa lalu yang menjadi lelucon dan guyonan di masa sekarang, disaat itu pula teror itu datang kembali. Ghostface is back! Selain tiga tokoh tersebut, Scream 4 kini juga banyak dibintangi para bintang-bintang muda, seperti Emma Roberts yang berperan sebagai Jill, sepupu Sidney dan Hayden Panettiere sebagai Kirby, sahabat Jill yang maniak film horor yang tampaknya menjadi 'Randy' versi wanita.


Pada awalnya memang banyak yang meragukan kelanjutan franchise Scream ini. Mengingat bahwa Scream 3 yang kualitasnya sangat jauh dengan Scream 1. Selain itu karena jalan cerita atau plotnya memang klise. Tapi ternyata tidak seburuk itu kok. Bahkan kalau dibandingkan, Scream 4 ini memang lebih baik daripada Scream 2 apalagi Scream 3 yang bagi saya hanya 11/12 dengan Scary Movie (haha). Yah, walaupun memang belum sebagus Scream 1, tapi ini sudah sangat memuaskan. Good Job Wes!

Bukan hanya Wes Craven yang patut diacungi jempol, jajaran-jararan pemain pun sangat layak diacungi jempol. Mereka berakting dengan maksimal. Terlebih bagi Emma Roberts yang memang mendalami karakter Jill dengan apik. Lalu, bagaimana dengan lainnya? Hayden di sini juga berakting sangat baik di film ini. Rory Culkin dan Eric Knudsen juga sama, mereka berakting sangat pas dan berhasil. Bagaimana dengan Neve, Cox, dan Arquette? Tidak usah ditanyakan lagi, memang karakter mereka masing-masing telah menempel di diri mereka sedari dulu. Tapi tampaknya mereka punya saingan baru nih, Emma Roberts! Ya, pada intinya seluruh pemain dapat menghidupkan karakter-karakternya masing-masing seolah benar-benar hidup.


Salah satu ciri khas Scream adalah, seringnya mereka mengolok-ngolok film-film horor. Sebut saja Saw, Final Destination, bahkan Stab sendiri, dan masih banyak lagi. Yang menjadi penyegar suasana di tengah ketakutan dan kekalapan yang bisa menyerang mereka kapan saja. Ya, memang guyonan-guyonan khas Scream merupakan salah satu penyegar diantara galonan darah dan kucing-kucingan antara para calon korban dengan 'ghostface' yang memenuhi scene setiap scene dalam film ini. Salah satu yang saya suka adalah omongan Kirby saat sedang diinterogasi oleh polisi dan dialog ibu Jill dengan Kirby dan Jill. Scream 4 memang bukan film yang perfect. Tapi setidaknya Wes Craven telah berhasil membalaskandendamnya terhadap Scream 2 dan 3.


Ada satu yang membuat film ini bertambah menarik, opening. Ya, opening film ini benar-benar cerdas! Kita disuguhkan tayangan menarik selama 10 menit awal. Tidak seperti di seri-seri sebelumnya yang hanya menampilakan perempuan cantik yang mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenal sembari menanyakan "What's your favourite scary movie?" atau "Who is this?" lalu kemudian telepon ditutup kemudian sang 'ghostface' segera datang dan bermain kucing-kucingan dengan sang calon korban, yang tak lupa berteriak ria dan tiba-tiba saja di tubuh mereka hinggap sebuah pisau dan... fade out, layar segera menghitam dilanjutkan dengan munculnya teks "Scream". Lebih dari itu semua.

Penasaran? Tonton saja sendiri.

RATE :

Tagged under: ,

[Review] 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Kembali Mengangkat Tema Sensitif

 "Kita lihat aja nanti!" ~ Rosid dan Delia

Directed by Benni Setiawan Produced by Putut Widjanarko Written by Benny Setiawan Starring Reza Rahadian, Laura Basuki, Arumi Bachsin, Henidar Amroe, Rasyid Karim, Ira Wibowo, Robby Tumewu, Zainal Abidin Domba, Jay Wijayanto, M Assegaf, Gesi Silvia, Haddad Alwi Music by Thoersi Argeswara Cinematography Roy Lolang Editing by NCesa David Luckmansyah Studio Mizan Production Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Hey, readers! Kali ini saya mencoba mereview, salah satu film Indonesia, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, film yang diadaptasi dari novel bestseller karya Ben Shohib, The Da Peci Code. Sebenarnya, saya tertarik nonton film ini karena film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini, telah meraih berbagai penghargaan, contohnya di IMA dan FFI, walaupun sebenarnya, pada awalnya saya sedikit ragu, takutnya filmnya mengecewakan, karena mendapat berbagai penghargaan bukan berarti bagus, bukan? Ternyata, hasilnya tidak mengecewakan kok, tidak istimewa tapi cukup bagus, hehe.

Tema film ini berkisah tentang dua insan manusia yang dipisahkan oleh perbedaan keyakinan. Tema ini telah terlebih dahulu diangkat salah satu film indie, cin(T)a. Bedanya, film ini disampaikan dengan cara yang lebih 'halus' melalui drama komedi, berbeda dengan cin(T)a yang disampaikan dengan cara yang lebih serius. Ya, memang hal yang serius tidak melulu harus disampaikan dengan cara yang serius pula, mungkin dengan drama komedi, pesan yang disampaikan akan lebih masuk, setuju? Walaupun saya rasa komedi dalam film ini masih agak terasa 'dangkal'.


Oke, beralih ke tema cerita. Rosid (Reza Rahardian), seorang penyair muslim muda berambut layaknya brokoli (baca : kribo) yang terobsesi dengan WS Rendra yang mengalami konflik dengan ayahnya, Mansur (Rasyid Karim) karena ayahnya menginginkan anaknya untuk memakai peci, karena ayahnya menganggap peci adalah salah satu lambang kesetiannya bagi agama. Sedangkan Rosid beranggapan bahwa peci hanyalah salah satu dari lambang tradisi keagamaan para leluhurnya dan Rosid tidak ingin mencampur-baurkan agamanya dengan tradisi-tradisi leluhur layaknya peci tersebut. Dalam hal ini, sosok ibu dari Rosid yang penyabar, Muzna (Henidar Amroe), mencoba untuk menengahkan konflik antara Rosid dengan Ayahnya. Belum selesai masalahnya dengan sang ayah, ditambah lagi dengan masalah yang ia alami dengan kekasihnya, seorang gadis nasrani kaya raya, Delia (Laura Basuki) yang terhalang tebalnya dinding perbedaan keyakinan. Pedihnya lagi, orang tuanya memustuskan untuk menjodohkan Rosid dengan seorang gadis muslimah, Nabila (Arumi Bachsin).


Film ini memang bukan film yang istimewa tapi cukup bagus. Mungkin karena adanya beberapa adegan komedi yang terlihat terlalu dipaksakan dan sebenaranya tidak penting sama sekali juga garing jaya. Juga tidak mulusnya jalan cerita dalam film ini. Kadang baik dan berjalan mulus, kadang tidak, kadang baik, kadang juga tidak, dan seterusnya. Tampaknya, sutradara kurang serius dalam menyampaikan jalan cerita dalam film ini. Terlebih lagi untuk film dengan tema berat namun disampaikan dengan santai, pasti sulit untuk menyusun naskah film ini, harus disampaikan dengan cara santai namun juga masuk ke kepala para penontonnya sekaligus tidak terkesan menggurui.


Soal akting, tidak ada yang terlalu menonjol dalam film ini. Akting Reza Rahardian saya rasa belum maksimal dalam film ini. Mungkin hanya Henidar Amroe dan Arumi Bachsin yang berakting cukup maksimal, terlebih Henidar Amroe yang membawakan karakter ibu penyayang sekaligus penyabar dengan sangat baik. Sayangnya disini Arumi Bachsin terasa hanya sebagai 'stiker' karena ketebatasan porsinya, sehingga masih terbatas untuk menunjukkan kemampuan aktingnya sebagai gadis muslimah berjilbab yang lugu. Untuk Laura Basuki, sepertinya ia masih  kaku membawakan karakternya sebagai Delia, mungkin lebih tampak sedang bermain sinetron kali ya? .

[Warning! : Bagi yang belum nonton film ini, disarankan jangan baca kalimat-kalimat dibawah ini, karena agak sedikit spoiler]
Ada sebagian orang yang tidak suka dengan ending film ini, tidak termasuk saya. Sebenarnya saya suka kok dengan ending film ini. Adil (walaupun endingnya seharusnya bisa lebih baik lagi). Terlebih di Indonesia, coba mereka memilih ending lain, pasti langsung ricuh seluruh negeri, hehe. Mengingat tema yang diangkat film ini memang cukup sensitif di Indonesia. Mungkin salah satu faktor yang membuat beberapa orang kecewa adalah, karena pada awalnya salah satu tokoh diceritakan mulai mendekati salah satu agama pasangannya, kali ya?
[Spoiler berakhir, hehe]

Ya, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta memang salah satu film Indonesia berkualitas, tidak seperti film asal-asalan yang disutradarai oleh KK Dheeraj ata Nayato Fio Nuala (alias Koya Pagayo, Ian Jacobs, Pingkan Utari dan Ciska Doppert) yang selalu saja membuat film-film sampah nan gak berkualitas sama sekali plus nol kreatifitas (sadis). Sayangnya bumbu komedi di dalamnya terkesan garing jaya, hehe. Layak tonton? Pasti!

RATE :
Klik gambar untuk memperjelas

By the way, untuk pertama kalinya saya bikin kayak beginian. Cuma buat lebih kelihatan ekslusif aja, haha.