Sunday, November 18, 2012

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] The Amazing Spider-Man (2012)

"We all have secrets: the ones we keep, and the ones that are kept from us." ~ Peter Parker

Apa reaksi anda jika sebuah saga yang baru seumur jagung di-reboot kembali? Tentu akan banyak mengundang reaksi banyak orang yang menganggap sebelah mata bahwa reboot ini hanyalah sebagai alat pengeruk dollar sebanyak-banyaknya, terlebih saga tersebut masih punya banyak penggemar. Dan itu pulalah yang terjai pada saga superhero Marvel, Spiderman milik Sam Raimi, yang baru 5 tahun lalu menggenapkan triloginya lewat Spider-Man 3. Dan apakah benar bahwa reboot yang berjudul The Amazing Spider-Man ini hanyalah akal-akalan Sony Pictures Entertainment untuk kembali menggaet para fanboy, setelah proyek Spider-Man 4 sebelumnya terpaksa telah dibatalkan? 

Di reboot terbaru ini, tak ada lagi nama Sam Raimi di bangku sutradara. Yang ada merupakan nama Marc Webb yang akhirnya menggantikan Sam Raimi. Tunggu, siapa Marc Webb? Bagi anda penggemar film-film drama komedi romantis atau pun fillm-film indie, mungkin anda sudah pernah menonton salah satu karyanya, (500) Days of Summer, yang mendapat sambutan meriah dari kritikus. Ya, sutradara film independen banting setir menjadi sutradara film blockbuster? Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi ingat Rian Johnson? Sutradara Looper yang baru-baru ini rilis juga mengalami hal sama (well, saya memang menonton Looper terlebih dahulu daripada film ini), dan berhasi dengan baik. Akankah Marc Webb melakukan hal yang sama? Atau bahkan lebih baik?


The Amazing Spider-Man dibuka dengan flashback kehidupan Peter Parker di masa kecil (Max Charles). Diceritakan, ayahnya yang merupakan seorang ilmuwan, Richard Parker (Campbell Scott) dan ibunya, Mary Parker (Embeth Davidtz) menghilang setelah menitipkan Parker ke paman dan bibinya, Ben (Martin Sheen) dan May (Sally Field) karena alasan yang misterius. Ketika beranjak dewasa, tepatnya di masa SMA, Peter Parker (Andrew Garfield) secara tak sengaja menemukan sebuah tas peninggalan ayahnya. Di dalamnya terdapat dokumen yang ternyata merupakan petunjuk yang mungkin akan mengarahkannya ke jawaban mengapa orang tuanya selama ini menghilang. Dari dokumen-dokumen itu pula, ia menemukan bahwa ayahnya pernah bekerja sama dengan Dr. Curt Connors (Rhys Iffans) dari OSCORP.

Peter pun akhirnya menyelinap ke OSCORP dan bertemu dengan Connors. Tak hanya Connors, ia juga bertemu dengan teman sekelas sekaligus love-interst-nya, Gwen Stacy (Emma Stone), yang ternyata merupakan kepala magang di sana. Di sana, ia masuk diam-diam ke sebuah laboratorium di mana banyak terdapat laba-laba yang telah dimodifikasi secara genetik. Secara tak sengaja, salah satu laba-laba tersebut menggigit Peter yang akhirnya menjadikannya seorang manusia super.


Siapa? Gwen Stacy? Ya, The Amazing Spider-Man kali ini memang lebih setia terhadapa komiknya. Sebagai contoh adalah Gwen Stacy tadi. Dalam komiknya, pacar Peter semasa SMA adalah Gwen Satcy, berbeda dengan Spider-Man versi Raimi. Dan mungkin, faktor 'lebih setia terhadap komik' inilah yang menjadi salah satu obat ampuh untuk menggaet para penggemar baru yang mungkin saja tak suka terhadap Spider-Man versi Raimi yang mereka anggap sedikit menyimpang.

'Reinkarnasi' saga Spider-Man yang satu ini memang berbeda dengan kakak pendahulunya. Dari cerita, memang hampir sama, tapi dengan beberapa pengubahan. Perbedaan yang paling mencolok di antara keduanya adalah pendalaman cerita. Dalam The Amazing Spider-Man, cerita yang naskahnya kuak lebih mendalam, bahkan hingga ke masa kecil Peter Parker sendiri. Belum lagi usaha Peter untuk menguak kebenaran dari hilangnya kedua orangtua Peter dan karakterisasi yang lebih mendalam bagi Peter Parker. Hasilnya? film ini dapat menyajikan sosok Spider-Man yang jauh lebih manusiawi juga terasa lebih muda dibanding pendahulunya.


Adegan aksi dengan bergelantungan dari satu gedung ke gedung lainnya memang merupakan trademark dari Spider-Man, dan rasanya kurang jika kita tak mengupasnya. Karena naskahnya sendiri lebih mengedepankan unsur drama lewat dalamnya cerita yang ia tawarkan, maka tentu saja aksi yang ditawarkan harus 'mengantri' lebih lama dari biasanya. Namun begitu, bagi saya sah-sah saja, karena apa yang ditawarkan lewat aksinya sudah cukup membuat hati saya puas.

Jika anda pernah menonton film drama komedi Marc Webb berjudul (500) Days of Summer, maka rasanya tak lengkap jika di film terbarunya ini, ia tak menyisipkan humor-humor segar. Untungnya saja, humor ini hadir dalam porsi yang pas dan terasa tak terlalu berlebihan. Dan lebih untung lagi, karena humornya mampu membuat kita tersenyum. Salah satu hal yang sukai adalah bagaimana Marc Webb menyisipkan adegan jenaka yang dilakukan oleh para figuran di belakang para aktor utamnya. Konyol? Tentu. Tapi itulah yang saya suka dari humor sisipan tersebut.


Seluruh aspek yang telah saya sebut di atas tentu tak akan berhasil jika tak didukung oleh departemen akting yang baik. Sebagai sosok baru sang manusia laba-laba, Andrew Garfield berhasil memerankannya dengan baik. Ia juga berhasil memanfaatkan segala ruang yang diberikan oleh naskahnya hingga akhirnya menumbuhkan suatu karakterisasi yang lebih mendalam. Emma Stone, mampu menampilkan penampilan yang baik sebagai Gwen Stacy. Chemistry yang dihasilkan keduanya pun terjalin erat tanpa adanya kesan hambar, mungkin karena didukung fakta pula bahwa mereka berpacaran di dunia nyata.

Martin Sheed dan Sally Field yang memerankan paman dan bibi Peter Parker juga dapat menyelesaikan tugasnya tanpa celah berarti. Mereka mampu menyajikan hubungan 'orangtua-anak' dengan Peter yang erat, meski beberapa konflik memang tak bisa terhindarkan. Tak hanya itu, si pemeran rekan kerja ayah Peter terdahulu alias Dr. Connor yang diperankan oleh Rhys Iffans berhasil menampilkan sosok seorang ilmuwan dua sisi.


Salah satu hal yang tak terlupakan dari The Amazing Spider-Man adalah visualnya yang luar biasa. Adegan aksinya yang banyak melibatkan visual-effect hadir dengan kualitas yang maksimal. Tak hanya unggul dalam CGI-nya, film ini juga unggul dalam hal sinematografi yang merupakan arahan dari John Schwartzman yang dulu pernah mendapat nominasi Oscar lewat film tahun 2003, Seabiscuit. Dari momen-momen romantis, menegangkan, hingga menyedihkan dapat ditangkap dengan indah lewat sinematografinya.

Dalam hal musik latar, bidang ini digarap oleh James Horner. Sosoknya sendiri bukanlah orang sembarangan dalam meng-compose berbagai musik scoring untuk film. Bukan hanya pernah mendapatkan 8 nominasi Oscar saja, tapi juga pernah menyabet 2 Oscar untuk Titanic yang fenomenal itu. Dalam The Amazing Spider-Man pun, sekali lagi ia membuktikan tajinya lewat penyajian musik yang tak hanya megah, tapi juga begitu menusuk.


The Amazing Spider-Man adalah reboot yang tergolong baik. Memang tak sebaik Batman Begins versi Christopher Nolan, namun apa yang disajikan Marc Webb lewat penyutradaraannya juga naskah yang digarap oleh trio James Vanderbilt, Alvin Sargent, dan Steve Kloves serta bagian cast dan teknisnya yang mampu bertugas dengan baik sangat patut diacungi jempol. Segala usaha yang mereka hasilkan memang berhasil untuk menghidupkan kembali sang superhero dari 'mati surinya' yang baru seumur jagung. Jadi, apakah The Amazing Spider-Man adalah ajang pengerukan dollar sebanyak-banyaknya? Tentu, tapi kali ini hadir dengan kualitas yang sangat mumpuni.

Lalu, mana yang lebih baik? Versi Sam Raimi atau Marc Webb? Well, menurut saya, kualitas keduanya hampir imbang dan punya kekurang-kelebihannya masing-masing. Namun, jika anda pengagum aksi-aksi yang super cool dengan segala aksi loncatan-loncata supernya, maka Spider-Man ala Sam Raimi tentu merupakan pilihan terbaik. Namun, jika anda lebih suka kepada pendalaman cerita atau film yang lebih setia terhadap komiknya, maka tentu saja The Amazing Spider-Man ala Marc Webb merupakan keputusan yang cermat sekaligus cerdas.

8.0/10


Saturday, November 17, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Ted (2012)

"Back off, Susan Boyle!" ~ Ted

Ted, dari judulnya saja telah tertebak, bahwa film ini merupakan film tentang teddy bear, bedanya teddy bear di sini hidup! Tapi, jangan lupakan, bahwa hampir seluruh departemen utama Ted diisi oleh nama seorang Seth MacFarlane. Bagi anda penggemar animasi serial TV nyeleneh Family Guy maupun American Dad! tentu tahu siapa sosok dan bagaimana tipe film-filmnya. Lalu, bagaimana jika Seth MacFarlane membuat sebuah film tentang teddy bear? Tentu hasilnya akan nyeleneh dan di luar dugaan pula.

Seperti yang saya bilang tadi, Seth MacFarlane memang banyak ambil bagian dalam film ini. Bukan hanya sebagai produser, tapi juga sutradara, penulis naskah, bahkan hingga salah seorang pemeran utama. Selain dibintangi oleh Seth MacFarlane sendiri, film ini juga dibintangi oleh Mila Kunis, Jessica Barth, Giovanni Ribisi, serta Joel McHale. Tapi, yang menjadi sorotan tentunya adalah sang pemeran utama, Mark Wahlberg yang biasanya membintangi film aksi maupun thriller, namun kali ini bermain dalam film komedi kotor.


John Bennett (Bretton Manley) merupakan seorang bocah yang tak pernah merasakan persahabatan sekalipun. Teman pun, ia tak pernah punya. Ia selalu dijauhi oleh anak-anak di lingkungannya. Sampai suatu saat, ia akhirnya mempunyai sebuah sahabat. Ya, bukan seorang, melainkan sebuah, karena sahabatnya itu hanyalah sebuah boneka teddy bear. Tentu, ia tak bisa diajak mengobrol seperti sahabat lainnya. Suatu malam, John membuat sebuah harapan agar Ted berubah menjadi hidup. Keajaiban pun terjadi, Ted berubah menjadi beruang lucu nan menggemaskan. Seluruh dunia menyorotnya dan menjuluki Ted sebagai sebuah keajaiban.

Tapi, semua orang makin hari bertambah dewasa, itu pula yang terjadi pada Ted. Sampai John (Mark Wahlberg)  berusia 35 tahun pun, Ted (Seth MacFarlane) masih setia menjadi sahabatnya. Namun, Ted bukanlah satu-satunya 'orang' dalam kehidupan John, ada pula Lori Collins (Mila Kunis) yang tak lain merupakan kekasih Lori. Mereka bertiga tinggal di apartemen milik Lori. Masalah datang ketika Lori merasa terganggu kehidupan cintanya karena kehadiran Ted yang ia rasa selalu merusak momen-momennya dengan John. Lori pun membuat sebuah pilihan kepada John: pilih Ted atau dirinya.


Jangan pernah tertipu dengan openingnya yang lebih mirip sebuah film fantasi anak-anak. Jangan pula pernah mengira bahwa film ini akan menjadi sebuah film keluarga menjelang natal dengan boneka teddy bear hidup yang bersikap manis, ramah, nan, menggemaskan. Mengapa? Karena setelah opening itu kita akan disuguhkan sajian yang sangat bertolak belakang dengan segmen awalnya. Tak ada lagi Ted yang imut dan bersuara lembut.

Ted yang awalnya merupakan boneka ramah dan lucu, berubah menjadi boneka, yah memang masih lucu dan menggemaskan. Tapi tunggu sampai dia membuka mulutnya dan mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Lihat pula kelakuannya yang sembrono bahkan terkesan vulgar. Ya, Seth MacFarlane memang harus diacungi jempol karena ini. Layaknya Hercule Poirot yang punya jutaan sel kelabu di otaknya, ia juga punya pikiran-pikiran liar yang ia tunjukkan dalam film ini, khususnya dialog-dialog cerdas nan ajaib ciptaannya yang sering kali menyentil berbagai hal namun dapat membuat kita tertawa terbahak-bahak.


Dari awal hingga akhir durasinya, Ted selalu menyajikan komedi yang sangat sukses untuk mengocok perut penonton. Segala komedi kotor dan jorok memang ada di dalamnya. Ya, dan hampir semuanya merupakan andil dari kelakuan Ted yang aneh-aneh. Bagaimana ia diterima di tempat kerjanya, bagaimana ia dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi, dan segala joke-joke dan ucapan-ucapan kotor darinya memang sangat menghibur.

Jangan lupakan pula bahwa film ini punya narasi yang disuarakan Patrick Stewart dengan gemilang. Sesuai genrenya yang memang komedi, tentu narasi dari Patrick Stewart ini juga punya joke-joke andalannya. Memang hanya muncul di awal dan ending filmnya saja, namun harus diakui narasi ini memang benar-benar juara untuk menghibur penonton, khususnya ketika di akhir film.


Tapi, Ted tidak sepenuhnya merupakan komedi, film ini juga punya porsi drama dan romance. Dramanya sendiri sebenarnya cukup klise dan tak sekuat porsi komedinya yang pol-polan. Di bagian dramanya, ia punya romansa antara John dan Lori, meski sebenarnya bukanlah jualan utama seperti komedinya, namun dapat dinikmati dengan baik, karena chemistry antara Mark Wahlberg dan Mila Kunis yang terjalin kuat. Bukan hanya John yang bisa punya kekasih, Ted juga tak ingin kalah. Ted sendiri menjalin asmara dengan Tami-Lynn yang sama-sama bekerja di supermarket. Lain dari hubungan asmara John dan Lori yang lebih romantis, maka dapat dipastikan bahwa hubungan Ted dan Tami-Lynn akan lebih nyeleneh dan vulgar.

Seth MacFarlane juga menyisipkan sebuah side-story mengenai penculikan Ted. Dan yah, penculiknya juga sudah pasti menyimpang dari penculik biasanya. Side-story ini sebenarnya terkesan agak dipaksakan, meski komedi yang terselip di antaranya tetap dapat menghibur. Bahkan, salah satu dialog terbaiknya terdapat dalam segmen ini. Beruntung, Giovanni Ribisi yang memerankan sang penculik bermuka preman namun punya kelakuan agak menyimpang dapat berakting dengan baik.


Giovanni Ribisi tentu tak sendiri. Di depannya, ada Mark Wahlberg yang juga dapat memberikan penampilan yang memuaskan. Bersamanya, ada pula Mila Kunis yang juga mampu tampil baik. Dan sebagai orang yang bersembunyi di balik Ted si mulut kotor, tentu Seth MacFarlane benar-benar berhasil memberikan nyawanya kepada Ted, yang membuat kita merasakan bahwa Ted benar-benar nyata dan hidup. Ya, meski kita hanya dapat mendengar suaranya. Ada pula beberapa cameo seperti Ryan Reynolds, Tom Skerritt, dan Norah Jones.

Ted adalah film drama komedi yang sangat menarik. Dengan berkamuflase sebagai teddy bear yang menggemaskan, ia dapat keluar dengan menyebarkan setumpuk lelucon-lelucon segar yang didukung pula oleh departemen akting yang baik. Ted mampu membuktikan bahwa film komedi kasar dan kotor tak hanya melulu melibatkan hal yang itu-itu saja. Berangkat dari ide basi, Ted dapat merombaknya kembali dan tetap mampu menjadi sebuah alat pengocok perut yang benar-benar efektif.

8.0/10

Thursday, November 15, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000)

"No growth without assistance. No action without reaction. No desire without restraint." ~ Li Mu Bai

Jika di tahun ini Ang Lee akan merilis film terbarunya, Life of Pi, maka marilah sejenak kita pergi 12 tahun ke belakang, di saat Ang Lee merilis film wuxia alis seni bela diri ala Cina yang berjudul Crouching Tiger, Hidden Dragon atau WòhÇ” Cánglóng dalam judul aslinya. Semenjak rilisnya, film asal Cina ini sukses besar dalam kuantitas maupun kualitas.Crouching Tiger, Hidden Dragon bahkan berhasil meraup keuntungan sebesar $213.525.736 dari seluruh dunia. Soal kualitas pun tak usah diragukan lagi, film ini bahkan memenangkan 4 Oscar yang salah satunya merupakan Best Foreign Languange Film, dan juga sempat dinominasikan untuk Best Picture dan Best Director, suatu hal yang jarang bagi film berbahasa asing, karena film ini sendiri juga merupakan produksi Negeri Paman Sam tersebut.

Selain ada nama Ang Lee dalam daftar sutradaranya, ia juga duduk di kursi produser bersama Hsu Li-Kong dan William Kong. Dalam daftar penulis naskahnya, juga ada beberapa nama seperti Wang Hui-Ling, James Schamus, dan Tsai Kuo-Jung yang bertugas menerjemahkan film ini dari sebuah bentuk novel berjudul sama ke dalam bentuk naskah film. Novelnya sendiri merupakan novel keempat dari pentalogi Crane-Iron karya Wan Dulu yang ditulisnya dari 1938 hingga 1942. Crouching Tiger, Hidden Dragon ini dibintangi para aktor kelas A asal Negeri Tirai Bambu, seperti Michelle Yeoh, Chow Yun-Fat, Zhang Ziyi, dan Chang Chen.


Film ini bercerita tentang Li Mu Bai (Chow Yun-Fat), seorang pendekar yang namanya sudah dikenal seantero negeri. Ia punya ambisi untuk memburu pembunuh gurunya, Jade Fox, meski akhirnya hasilnya nihil.  Saat itu, ia berniat untuk mundur dari dunia bela diri yang selama ini ditekuninya. Karenanya, ia pun memberikan pedangnya yang terkenal akan kesaktiannya, Green Destiny, kepada salah satu teman baik wanitanya yang juga merupakan seorang pendekar, Lien Yu Shu (Michelle Yeoh), yang nantinya akan mereka beri kepada teman mereka sebagai hadiah, Sir Te (Lung Sihung) di Kota Peking. Sesampainya di sana, saat Lien Yu Shu memberikan hadiah itu kepada Sir Te, ia juga bertemu dengan putri Gubernur Yu (Fa Zeng Li), yaitu Jen (Zhang Ziyi), yang nantinya akan akrab dengannya. Namun, suatu malam, sebuah tragedi terjadi. Pedang legendaris itu ternyata telah dicuri oleh seorang wanita yang misterius.

Naskah terjemahan novel dari ketiga screenwriter tadi dapat berjalan kuat. Wang Hui-Ling, James Schamus, dan Tsai Kuo-Jung mampu mencampuradukkan unsur action, drama, hingga romansa menjadi sebuah kesatuan kuat dan tak dapat terpisahkan. Aksinya sudah jelas, mampu berjalan dengan sangat mulus. Dramanya? Saya sendiri suka dengan porsi dramanya yang muncul dengan emosi kuat, meski awalnya agak terganggu bagaimana Yu Shu Lien tak mengetahui pencuri pedang Green Destiny. Untungnya, dipertengahan film kita diberitahu jawaban yang memuaskan tentang itu. 


Tak hanya itu, Crouching Tiger, Hidden Dragon juga punya dialog-dialog ciamik. Dengan dialognya yang terasa sangat cantik dan puitis, namun dengan kadar yang tak berlebihan, mampu menghasilkan jalinan dialog yang seimbang satu sama lain, dan tak terasa corny sama sekali. Dan sekedar saran saja, ada baiknya jika menonton film ini dalam audio yang original alias berbahasa Mandarin, karena saya sendiri lebih menyukai versi ini ketimbang versi dubbingnya.

Romansa mungkin merupakan slaah satu bagian yang terkuat pula dalam film ini. Romansa 'malu-tapi-mau' antara Li Mu Bai dengan Yu Shu Lien dapat ditampilkan dengan lumayan baik, meski sebenarnya tak terlalu menarik perhatian saya. Yang lebih menarik perhatian justru adalah kisah cinta antara Jen dengan Lo, karena memang keduanya tidaklah malu mengungkapkan isi hati, juga karena romansa keduanya ditampilkan mulai dari pertemuan pertama mereka hingga akhirnya saling jatuh cinta. Romansa mereka juga muncul citarasa yang lebih muda ketimbang Li Mu Bai-Yu Shu Lien yang lebih dewasa.


Crouching Tiger, Hidden Dragon memang menampilkan aksi bela diri yang sangat indah. Koreografi yang diciptakan oleh Yuen Wo Ping terasa begitu dinamis, cepat, dan sedap dipandang mata. Terlebih ditambah dengan aksi loncatan-loncatan yang mungkin terkesan tak masuk akal bagi yang tak terbiasa dengan film bela diri khas Cina. Hebatnya lagi, aksi loncatan-loncatan yang melawan hukum gravitasi ini benar-benar nyata, dilakukan tanpa efek CGI, hanya bermodalkan kabel pengaman yang mengikat para aktornya, dan hampir tanpa stuntman sekalipun. Tentu itu menambah esensi bela diri yang terkandung dalam Crouching Tiger, Hidden Dragon.

Aksi-aksi indah ini juga didukung oleh sinematografi yang mumpuni dan fantastis. Setiap menitnya kita disuguhkan angle-angle yang sangat cantik dan sesekali berjalan dinamis seiring dengan adegan-adegan aksi yang datang silih berganti. Visual yang indah itu juga dapat dirasakan ketika sesekali film ini menyorot indahnya bentangan alam dari pegunungan hingga gurun pasir sekalipun. Hasilnya, sinematografi arahan Peter Pau ini diganjar Best Cinematography dalam Academy Awards tahun 2001 lalu.


Tak hanya unggul dalam urusan visualnya, musik latar hasil racikan Tan Dun yang juga berhasil meraih Oscar berkat film ini juga tak dapat diremehkan sama sekali. Dengan menggabungkan berbagai musik megah ala orkestra dengan unsur-unsur musik etnik yang kental, Tan Dun berhasil menyajikan sebuah musik latar yang bukan hanya indah, namun dapat membius siapa saja yang mendengarnya. 

Dalam ceritanya sendiri, Crouching Tiger, Hidden Dragon mempunyai hakikat mendalam dalam setiap segmennya. Setiap unsur-unsur yang dibawa oleh film ini melalu naskahnya mampu diinterpretasikan dengan baik oleh Ang Lee. Bagaimana Ang Lee meracik berbagai issue seperti kesetaraan gender, tipu daya, dendam, pengkhianatan, rasa bersalah, kesetiaan, hingga sikap pengecut ke dalam waktu yang bersamaan tentu merupakan hal yang tak mudah untuk dilakukan, namun nyatanya ia dapat menggabungkannya dengan sangat gemilang.


Dalam departemen akting, Crouching Tiger, Hidden Dragon juga tak menemui kendala berarti. Zhang Ziyi hadir dengan akting paling bersinar diantara kesemua cast, muncul dengan karakter yang manis, tapi juga punya rasa pemberontak di dalamnya. Michelle Yeoh dan Chow Yun-Fat juga mampu memerankan karakter pendekar protagonis yang dingin. Chang Chen juga mampu memerankan seorang bandit yang kerap berkelakuan konyol.

Crouching Tiger, Hidden Dragon merupakan contoh film aksi yang baik, dengan tidak meninggalkan cerita.  Antara aksi dan dramanya mampu berbaur dengan sangat baik. Setiap esensi cerita dari naskah mampu diantarkan dengan baik oleh Ang Lee ke para penonton. Adegan aksinya sangat menakjubkan namun juga indah. Sinematografinya membuat sebuah pengalam sinematik tak terlupakan untuk siapa saja. Castnya juga dapat hadir tanpa masalah yang begitu berarti. Indah, lembut, dinamis, dan dingin, itulah 4 kata yang rasanya pas untuk mendeskripsikan film ini.

8.5/10

Wednesday, November 14, 2012

Tagged under: , , , ,

[Coming Soon] Life of Pi (2012)

"It was a time filled with wonder that I'll always remember." ~ Pi

Masih ingat sutradara ini? Ia pernah sukses dengan film martial-arts nya, Crushing Tiger, Hidden Dragon yang berjaya dan menjadi box-office di mana-mana, bahkan sempat membawa pulang 4 Oscar, termasuk Best Foreign Languange Film, serta film cowboynya yang bertema tentang biseksual, Brokeback Mountain, yang berhasil membawa namanya memenangkan Best Director dalam ajang Oscar dan menjadikannya sebagai satu-satunya sutradara Asia yang pernah memenangkan penghargaan bergengsi itu. Ialah Ang Lee, yang kini kembali dengan sebuah film drama petualangan, yang berjudul Life of Pi.

Film yang akan dirilis 21 November di wilayah Amerika Serikat ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Yann Martel dan dipublikasikan paa tahun 2001. Nantinya, film yang naskahnya ditulis oleh David Magee ini akan dirilis alam format 3D. Life of Pi ini merupakan debut aktor pendatang baru berdarah India, Suraj Sharma yang memerankan pemeran utama. Bukan hanya Suraj Sharma saja yang merupakan aktor berdarah India dalam film ini, ada pula Irrfan Khan, Tabu, hingga Adil Hussain.


Life of Pi bukanlah sekuel dari Pi milik Darren Aronofsky. Jelas, karena Pi di sini bukanlah sebuah konstanta matematika yang sampai sekarang misterinya belum terpecahkan itu. Dalam Life of Pi, Pi adalah nama seorang remaja 16 tahun (Suraj Sharma) yang menjadi satu-satunya orang yang berhasil bertahan hidup dari kecelakaan tenggelamnya sebuah kapal barang. Dengan sebuah sekoci, ia berusaha untuk terus bertahan. Mungkin terdenger biasa. Namun, apa yang terjadi jika dalam sekoci itu Pi tidaklah seorang diri? Dia memang satu-satunya manusia yang selamat, tapi dia bukanlah satu-satunya makhluk yang selamat dari kecelakaan tersebut, masih ada orangutan, hyena, zebra, dan harimau bengal!

Bagaimana? Menarik? Menilik dari berbagai kritikan dari para kritikus dunia yang menyambut positif film yang sebelumnya telah wara-wiri di berbagai festival film dunia ini, rasanya karya teranyar Ang Lee tersebut akan menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Best Picture? Best Adapted Screenplay? Best Director lagi? Mungkin akan dicapai oleh film ini di Academy Awards nantinya dengan cukup mudah. Well, let's see the trailer first. And hey! We can watch it in 3D too! Wanna try?

Saturday, November 10, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Looper (2012)

"Loopers are well paid, they lead a good life." ~ Joe

Sedari awal, saya sudah sangat mengharapkan ekspektasi lebih ke film ini. Dari ceritanya, sangat menarik,  idenya termasuk segar, meski dari temanya, yaitu tentang perjalanan waktu sudah banyak kali difilmkan. Poster? Menarik. Tapi yang lebih menjadi daya tarik film ini adalah kolaborasi dua aktor beda generasi, Joseph Gordon-Levitt dan Bruce Willis. Siapa yang tak ingat aksi Bruce Willis di film action Die Hard yang fenomenal itu? Siapa pula yang tak ingat aksi Levitt di science fiction milik Nolan, Inception? Nah, bagaimana kalau Levitt dan Willis dipertemukan dalam satu frama, yang juga merupakan gabungan science fiction dan action.

Menilik nama seorang Rian Johnson, sutradara sekaligus penulis naskah Looper, sebenarnya ia bukanlah sutradara film-film blockbuster dengan budget yang bahkan terhitung banyaknya. Sebaliknya, ia merupakan seorang sutradara indie yang memulai debutnya lewat film misteri, Brick. Berkat Brick, ia banyak mendapatkan penghargaan dari sana sini. Dalam lika-liku perfilman Indie, saya rasa dia sudah cukup berpengalaman lewat Brick-nya. Lantas, bagaimana dengan Looper, yang tak lain merupakan blockbuster pertamanya? Apakah akan sebaik Brick yang juga merupakan debut filmnya sebagai sutradara indie?


Looper? Ya, inilah sebutan untuk kaum pembunuh gila di tahun 2044 yang dibayar dengan bar-bar perak yang terikat di setiap punggung korbannya. Cara kerjanya sangat unik. Memanfaatkan teknologi perjalanan waktu. Tapi, tunggu dulu, karena di tahun 2044, belum ditemukan teknologi semacam ini. Lantas, bagaimana mereka bekerja? Looper ini tinggal membunuh targetnya yang telah dikirimkan dari tahun 2074 lewat mesin waktu, meski sebenarnya teknologi itu dilarang. Ketika target telah mereka bunuh, mereka dapat langsung menikmati bar-bar perak yang menjadi 'gaji' mereka. Tak heran, hanya dengan bekerja sebagai looper, seseorang mampu menjadi kaya raya.

Dari banyaknya looper yang ada pada tahun itu, salah satunya adalah Joe Simmons (Joseph Gordon-Levitt). Sebagai seorang looper, tentu saja ia telah menyimpan ratusan bar perak yang ia simpan dalam brankas bawah tanahnya. Namun, malam itu kehidupannya tak seperti biasanya. Salah seorang rekan sesama looper,  Seth (Paul Dino) tiba-tiba saja datang ke rumahnya dalam penuh ketakutan dan mengatakan bahwa ia baru saja membebaskan seorang targetnya, yang tak lain merupakan dirinya sendiri dari masa depan. Suatu hari, ia juga harus bernasib sama seperti Joe, ia dihadapkan bahwa ia harus membunuh dirinya sendiri dari masa depan. Apa yang harus dilakukannya? 


Kembali lagi, Looper merupakan film yang unik. Rian Johnson berhasil melebur unsur aksi, drama, romansa, dan fiksi sains dengan sangat baik. Meski memang, transisi yang dipilih Rian untuk beralih dari aksi ke drama terasa membosankan di awalnya (dan jujur, saya tertidur), karena dari aksinya yang melibatkan senjata-senjata api, kemudian kita langsung dialihkan ke drama yang sunyi. Namun, lambat laun, dramanya mampu berkembang menjadi sebuah drama yang kuat dengan romansa yang tumbuh setapak demi setapak. Di sisi lain, unsur fiksi sains yang Rian Johnson tonjolkan, yaitu perjalanan waktu dan telekinesis juga mampu mendorong kuatnya seluruh jajaran kisah-kisah dalam Looper yang saling mengisi.

Menelusuri porsi action-nya, sesungguhnya Looper tidaklah menawarkan aksi yang benar-benar nendang. Karena, Rian Johnson memang tidaklah ingin meng-highlight adegan aksi tersebut. Sama halnya dengan science fiction, Johnson juga tak ingin membuat film blockbuster pertamanya ini terjebak dalam  Sekelumit unsur yang Johnson tambahkan itu hanyalah semacam jembatan yang akan mengantarkan kita ke makna Looper sebenarnya. Lebih dari sekedar film aksi yang hanya mengandalkan adrenalin yang terpacu atau sci-fi yang menjual teknologi aneh-aneh, Looper punya esensi yang lebih kental dan kuat di balik kisah kucing-kucingannya itu.


Seperti yang telah saya bilang tadi, drama dalam Looper terasa lebih leluasa dieksplorasi oleh Rian Johnson. Dramanya terbangun dengan atmosfer yang sangat dalam dan sunyi. Diantara dramanya, Johnson juga sengaja menyelipkan unsur-unsur misteri yang menambah kekompleksan drama itu sendiri, sehingga terbangunlah intensitas yang tetap terjaga. Dengan bumbu-bumbu romansa yang didukung oleh chemistry kuat Levitt dengan Blunt, Looper berhasil menghadirkan sebuah drama kuat yang penuh dengan dilema, cinta, dan pengorbanan tanpa harus mengorbankan berliter-liter air mata, namun tetap dapat mengharukan.

Duo aktor dua generasi, Joseph Gordon-Levitt dan Bruce Willis mampu menjalankan setiap tugasnya dengan baik. Joseph Gordon-Leitt, meski muncul dengan make-up yang ugh, cukup mengganggu tetap dapat menampilkan performa yang baik seperti biasanya. Begitu pula Bruce Willis yang terpaksa harus melawan dirinya sendiri dalam film. Ada pula Emily Blunt, seorang ibu yang tangguh dan sanggup berkorban apapun untuk anaknya. Sang anak pun, Kamden Beauchamp mampu menampilkan performa menawan.


Karakterisasi mungkin merupakan salah satu nilai positif dalam film ini. Tak ada satu pun dari keempat karakter yang paling banyak disorot tersebut merupakan karakter antagonis. Sebaliknya, tak ada pula yang Rian Johnson gambarkan sebagai karakter serba baik-baik alias protagonis. Keempat karakter tersebut berada dalam garis persimpangan yang abu-abu, yang malah menjadi salah satu daya tarik terbesar dari Looper. Sayangnya, ada beberapa karakter yang mendapat porsi sangat sedikit, sehingga tak mampu membuat kontribusi banyak untuk ceritanya sendiri.

Selain unggul dalam cerita dan castnya, film yang satu ini juga unggul dalam urusan teknis. Visualnya diolah  dengan penggunaan angle yang sangat indah dengan penambahan tone yang sangat pas dengan atmosfer film ini sendiri. Berbeda dengan film action lain, Looper malah banyak menghadirkan scoring-scoring lembut nan melankolis yang relaxing. Tentu saja, Looper juga tak pernah absen menghadirkan scoring yang terkesan megah pula.


Selain itu, rasanya keadaan masa depan versi Johnson juga cukup menarik untuk dikupas. Sangat berbeda dengan  sci-fi lainnya, Looper tak menggambarkan masa depan bumi yang serba futuristik, modern, dan selalu menimbulkan kesan wah. Sebaliknya, Looper menggambarkannya dengan cukup sederhana, dengan tidak memvisualisasikan penggambaran bumi yang terlalu berlebihan. Bahkan, kita masih bisa merasakan kentalnya suasana pedesaan, lengkap dengan rumah klasik ala amerika dan ladang jagungnya.

Looper memang punya beberapa kekurangan kecil, namun tak mampu membendung bahwa Looper tetaplah karya yang luar biasa. Rian Johnson berhasil memadukan berbagai unsur genre di dalamnya menjadi sebuah perpaduan cantik. Dengan cerita yang sangat menarik namun sedikit membingungkan (bagi beberapa orang), kisahnya tetap bergulir rapi, meski ada kalanya terasa agak membosankan. Perjalanan menegangkan Looper ini kemudian diakhiri oleh ending dengan makna mendalam. Sebuah film aksi plus fiksi sains yang tidak biasanya: tragis, dramatis, dan menyentuh. Ya, Looper adalah blockbuster dengan berbagai sentuhan indie di setiap sudutnya. Hasilnya? Karya yang indah namun tetap dapat tampil megah.

8.0/10

Tuesday, November 6, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Brave (2012)

"Legends are lessons. They ring with the truth." ~ Elinor

Setelah dihajar habis-habisan oleh para kritikus dunia lewat Cars 2, kini Pixar kembali dengan Brave. Awalnya, dilihat dari kemasannya, saya kira Brave akan menjadi Cars 2 versi dongeng. Dari trailer? Jujur, tak menarik, apalagi karena saya tak terlalu suka kisah ancient. Jujur lagi, saat ingin menontonnya, saya tak menaruh ekspektasi apa-apa. Saya juga tak tau Brave ini akan bercerita tentang apa dan nantinya akan menjadi sebuah film animasi yang seperti apa. Satu-satunya yang saya tahu dari Brave saat itu adalah karakter utamanya merupakan seorang gadis berambut merah panjang nan lebat. Itu saja, tak ada yang lain.

Well, tapi tak ada salahnya mencoba bukan? Brave yang dibintangi oleh Kelly Macdonald (Gosford Park, 2001) dan Emma Thompson (Nanny McPhee, 2005) ini tetaplah membuat penasaran. Siapa yang tidak penasaran dengan produk-produk Pixar? Terlebih setelah dihujat akibat Cars 2, tentu rasa penasaran kita akan makin bertambah: apakah karya Pixar teranyar ini akan menjadi sebuah film konyol, atau sebaliknya, membuktikan bahwa Pixar tetaplah Pixar yang dulu kita kenal?


Berlatar sebuah kerajaan zaman dahulu di Skotlandia, seorang Raja dan Ratu, Fergus dan Elinor mempunyai seorang putri kecil bernama Merida. Ayah Merida, Fergus mendidiknya menjadi seorang pemanah. Saat Merida kecil, mereka bertiga pernah diserang oleh seekor beruang besar bernama Mor'du, yang akhirnya memangsa kaki kiri Fergus.

Saat Merida beranjak dewasa dan ia telah menjadi kakak dari 3 setan kecil, yaitu Hamish, Hubert, dan Harris yang usil, orangtuanya (khususnya ibu Merida) memutuskan untuk mengadakan kompetisi yang diikuti setiap putera dari setiap klan untuk memperebutkan Merida. Tentu saja ia memberontak. Ia tidak ingin hidup dalam kekangan dan ia ingin kebebasan. Apa yang dilakukan Merida untuk mengubah takdirnya? Apakah jalan hidupnya harus tetap dituntun sang ibu? Atau ia dapat menentukan jalan takdirnya sendiri?


Sebenarnya, dari opening, tak terlalu menarik. Dari openingnya pula, saya dapat menyimpulkan akan dibawa kemana kisah Brave ini (mengingat saya tak pernah mengetahui cerita dari Brave sebelum menontonnya). Saya mengira bahwa Mor'du akan kembali dan membalaskan dendamnya kepada ayah Merida, Fergus. Namun, saya salah besar. Lalu, bagaimana?

Seiring dengan berjalannya durasi, kita mulai ditampakkan hubungan tak harmonis Merida dengan ibunya, Elinor. Mulai terlihatlah kisah yang ingin diangkat oleh Pixar. Namun, dipertengahan film, Brave membuat satu gebrakan alias inovasi di antara tema kisah hubungan ibu dan anak yang terdengar pasaran itu. Suatu hal yang berbeda dari yang lainnya. Dan dari sinilah saya mulai yakin: Pixar telah kembali!


Naskahnya tampil dengan begitu rapi. Lewat cerita yang sebenarnya bukanlah hal baru lagi, ternyata Brave mampu berkembang menjadi sebuah cerita yang lebih kompleks, namun tetap ringan. Ceritanya sendiri merupakan gabungan dari kisah dongeng dengan dunia magis. Jangan lupakan pula bagaimana karakteristik Pixar yang selalu mempunyai unsur emosional dengan moral mendalam, yang juga masih ada menjadi salah satu bagian terkuat dari Brave. Komedi-komedinya juga berhasil memancing tawa, meski beberapa komedinya terkesan agak dewasa.

Saya juga amat terkesan dengan bagaimana cara para screenwriter-nya, Mark Andrews, Steve Purcell, Brenda Chapman, dan Irene Mecchi menyelipkan unsur tribut kepada mendiang Steve Jobs. Tak usah secara eksplisit, cukup dengan cara tersirat. Dan saya akui, cara itu begitu cerdas, meski memang terlihat sangat sederhana. Cara yang dipilah Elinor untuk menceritakan kisah kerajaan yang hilang dengan menggunakan catur juga patut diacungi jempol. Kreatif dan efektif.


Mark Andrews dan Brenda Chapman sebagai duo sutradara juga sangat berhasil menjalan tugasnya. Mereka mampu mengeksekusi cerita Brave dengan baik. Terlebih didukung pula oleh naskah yang kuat. Duo sutradara ini dapat menyampaikan setiap emosi-emosi terdalamnya kepada tiap penonton, juga menggabungkan dengan joke-jokenya. Hasilnya? Intensitas mampu terjaga dari awal hingga akhir film, menjadikannya sebuah film yang sama sekali tak membosankan, bahkan untuk ditonton berkali-kali pun.

Meski hanya terdengar suaranya sepanjang film, para dubber tentu tak dapat dilupakan. Di jajaran utamanya terdapat Kelly Macdonald yang sukses menyuarakan seorang putri kerajaan yang bersifat pemberontak. Sang raja berkelakuan konyol, Fergus, juga mampu tampil gemilang berkat penyuaraan Billy Connoly. Emma Thompson yang juga telah berpengalaman memerankan seorang nanny juga mampu berubah menjadi ibu sekaligus ratu yang selalu ingin menjadikan putrinya seorang putri kerajaan yang sempurna.


Dalam animasinya, tentu telah tertebak. Ya, Pixar memang selalu terdepan dalam hal seperti ini. Namun kini Pixar selangkah lebih maju dalam animasinya. Dala Brave, tampak sekali bahwa animasinya kini tampil lebih matang dari sebelum-sebelumnya. Lihat saja tekstur rambut merah mengembang Merida yang terlihat begitu ruwet dan rumit sekaligus cantik. Setiap ekspresi juga dapat disampaikan dengan baik lewat animasinya. Scoringnya juga mampu hadir dengan meyakinkan dengan scoring yang terdengar ancient dan etnik.

Brave tampil tanpa kekurangan berarti. Dari mulai animasi, cerita, eksekusi, hingga naskah. Meski memang masih berada di bawah film-film Pixar lain seperti Up, WALL•E, The Incredibles, dan trilogi Toy Story. Brave sendiri sebenarnya masih kurang di cita rasa Pixarnya, namun untungnya tetap mampu melebihi ekspektasi. Ya, tampaknya jalannya akan cukup mulus di Oscar, meski besar kemungkinan Frankenweenie akan memperterjal jalannya. Terlepas dari Oscar, yang penting Pixar telah menemukan will-o'-the-wisp-nya di kegelapan hutan. Will-o'-the-wisp yang menuntun Pixar menuju jalan yang lebih baik lagi. Welcome back, Pixar!


7.5

Saturday, November 3, 2012

Tagged under: , , , , , ,

[Review] Gosford Park (2001)

"I'm the perfect servant. I have no life." ~ Mrs. Wilson

Memfilmkan kehidupan aristokrat tampaknya merupakan suatu hal yang menarik, termasuk bagi Robert Altman. Sosoknya memang telah tiada sejak 2006 lalu, namun tentu tak dapat menyurutkan setiap orang untuk terus-terusan mengulas karya-karyanya yang luar biasa. Dan salah satunya adalah buah kerjasamanya dengan penulis naskah Julian Fellowes, Gosford Park, drama komedi misteri yang mengangkat kehidupan serba mewah bangsawan Inggris pada zaman dahulu.

Film British yang rilis 2001 ini memang fenomenal. Mengeruk total pendapatan sebesar 87,7 juta dollar  dari seluruh dunia dengan budget hanya 19,8 juta dollar, membuatnya sukses di tangga box-office. Secara kritk, film ini juga sukses besar. Dalam perhelatan Oscar, Gosfor Park berhasil membawa pulang 1 piala untuk Best Original Screenplay serta mendapat 6 nominasi lain. Di BAFTA, film ini lebih sukses lagi. Gosford Park berhasil memborong 9 nominasi, dan membawa pulang 2 diantaranya.


Berlatar di antara Perang Dunia I dan II, tepatnya di tahun 1932, kita diperkenalkan dengan seorang wanita tua aristokrat, Countess of Trentham (Maggie Smith) dan pembantu wanitanya, Mary Maceachran (Kelly Macdonald) sedang dalam menuju perjalanan ke pertemuan di Gosford Park. Di Gosford Park, mereka disambut oleh sang pemilik rumah, Sir William McCordle dan istrinya Lady Sylvia McCordle. Ada pula tamu lainnya yang diundang, seperti aktor, Ivor Novello (Jeremy Northam), produser film Hollywood, Morris Weissman (Bob Balaban), saudara Lady Sylvia, Louisa Stockbridge (Geraldine Somerville) dan Lady Lavinia Meredith (Natasha Wightman) serta suami mereka, Raymond Stockbridge (Charles Dance) dan Komandan Anthony Meredith (Tom Hollander). Hadir pula tamu lainnya seperti Freddie Nesbitt (James Wilby) serta istrinya, Mabel (Claudie Blakley), dan masih banyak lagi.

Uniknya, sama dengan Countess of Trentham, seluruh tamu undangan ini datang dengan pelayan masing-masing. Para pelayan ini ditempatkan di lantai bawah, berbaur dengan pembantu rumah tangga Sir William, sedangkan para tamunya ditempatkan di laintai atas. Yang lebih unik, para pelayannya dipanggil dengan nama majikannya. Setelah beberapa waktu, semuanya terlihat begitu lancar. Namun, suatu malam, di saat yang para tamu sedang asyik bermain bridge dan para pembantu sedang berjoget norak sembari mendengarkan alunan merdu dari nyanyian Ivor Novello, sesuatu yang tak terduga terjadi. Sir William ditemukan tewas tertikam pisau.


Gosford Park memiliki begitu banyak aktor, yang hampir seluruhnya merupakan British. Jadi, jangan heran jika sedikit sulit menentukan pemeran utama, karena sang sutradara sendiri memang tidaklah menyorot lebih salah satu karakter. Ya, di antara kesemua karakter ini, Altman sendiri berhasil memberikan porsi yang hampir sama rata, tak ada yang rasanya kurang, tak ada pula yang rasanya terlalu tersorot. Altman juga dapat memberikan karakterisasi yang sangat baik pada tiap karakternya. Bahkan, Altman juga tidak memakai cerita sebagai "peluru peraknya", melainkan memakai fokus pada tiap karakternya.

Gosford Park itu unik. Film ini membiarkan para aktor-aktornya ini berseliweran di setiap durasinya. Mungkin memang membingungkan di awalnya, karena sejak awal memang kita telah diserbu banyaknya karakter, juga terbilang sulit untuk mengingat nama setiap karakternya (saking banyaknya!). Namun, inilah yang membedakan Gosford Park dengan film lainnya, mengalir dengan plot yang cenderung lambat dan mengalir begitu saja dengan karakter yang berserakan dimana-mana serta cerita yang betumpuk, namun tetap dapat terlihat rapi.


Para aktor dalam film ini juga berhasil menyajikan penampilan yang sama sekali tak dapat diremehkan, apalagi karakternyalah yang merupakan sajian utama film ini. Maggie Smith tentu harus diapresiasi lebih. Ia dapat menyelami karakternya yang menyebalkan, plin-plan, banyak maunya, dan punya banyak dialog-dialog ajaib. Yah, benar-benar dapat menggambarkan karakter orang kaya yang hidupnya serba ingin dilayani. Tapi, siapa sih yang dapat menyangkal bahwa karakternya lah yang paling banyak disukai? None of us.

Helen Miller juga mampu berakting dengan sangat baik. Karakternya sebagai kepala pelayan yang dingin, mungkin saja tak terlalu menarik perhatian penonton. Namun, muncul dengan akting yang sangat mumpuni, tampaknya porsi Helen Miller ini juga tak dapat diacuhkan begitu saja. Sebagai seorang kepala pembantu rumah tangga yang mempunyai hubungan khusus dengan Sir William, Elsie alias Emily Watson memerankan perannya dengan sangat baik. Kadang, ia merupakan seorang wanita yang kaku dan cuek, namun ketika sesuatu datang bersangkutan dengan perasaannya, maka seketika itu pula ia dapat menangis dan mengeluarkan sisi emosionalnya.


Ryan Phillipe juga tampaknya tak dapat dilupakan, meski aktingnya sendiri tak dapat dikatakan benar-benar hebat, namun ia dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai karakter super menyebalkan dan selalu bertingkah aneh. Karakternya yang selalu muncul dimana-mana ini (bahkan beberapa kali mondar-mandir di belakang scene) memang membuat pertanyaan-pertanyaan baru. Untungnya, kita mendapat penjelasaan yang worth it mengapa si Ryan Phillipe ini doyan bertingkah aneh.

Film semacam ini memang bukan sebuah film yang cocok untuk para penyuka misteri. Karena misterinya sendiri, menurut saya tidaklah terlalu istimewa dan juga Altman sendiri tidaklah menjadikan misteri menjadi sajian utamanya, apalagi misteri ini baru muncul setelah setengah durasi. Meski misterinya sendiri tidak terlalu berliku, bukan berarti Gosford Park adalah film misteri yang buruk, malah film ini dapat menjadi film misteri yang lebih natural.


Dalam komedinya pun, film ini juga bukan makanan yang tepat untuk para penyuka komedi. Film ini terbilang jarang menawarkan komedi lewat adegan-adegan konyol nan bodoh, melainkan lewat beberapa dialog-dialog yang kebanyakan dilontarkan dari mulut Maggie Smith. Dalam bagian dramanya, Gosford Park juga unggul, bahkan dramanya terasa sedikit mendominasi. Dramanya tak dihiasi dengan dramatisasi berlebihan yang malah akan membuat filmnya akan berakhir menjadi drama tak berarti. Film ini juga dapat menggambarkan kehidupan para aristokrat beserta para pelayannya dengan sangat baik, yang terbungkus dalam kisah misteri dan sentilan-sentilan komedi.

Gosfor Park sebenarnya juga merupakan singgungan sosial, utamanya terhadap para kelakuan aristokrat yang terlalu manja terhadap para pelayannya, seakan mereka tak akan bisa hidup lagi jika tak dapat dilayani oleh pelayan mereka. Gosford Park juga menampilkan isu rasisme dalam ceritanya, lihat bagaimana para pelayan di tempatkan di lantai bawah, sedangkan para majikan ditempatkan ke lantai bawah. Ada pula sedikit sentilan terhadap perilaku orang Amerika yang begitu berbeda dengan orang Inggris.


Tak hanya itu, film yang satu ini juga unggul dalam hal teknis. Sinematografinya terbilang cantik dan memanjakan mata, apalagi didukung oleh kostum dan art-direction yang membuat kita serasa berada langsung di Inggris tahun 1930an. Scoringnya juga patut dipuji. Tergolong tak monoton, terkadang terdengar komikal, lembut dengan alunan pianonya, hingga yang terdengar jazzy sekalipun. Saya juga suka bagaimana Gosfor Park menyajikan murder scene-nya tanpa scoring sekalipun, hanya ditemani nyanyian ceria dari Ivor Novello yang terdengar sampai seluruh penjuru rumah.  

Gosford Park adalah cinta, persahabatan, dendam, kekerasan, seksualitas, kekayaan, kemunafikan, keserakahan, dan pengkhianatan yang dikemas ke dalam sebuah film dengan sangat baik. Dengan ensemble cast luar biasa yang menjadi tumpuan utamanya serta seluruh bagian teknis yang nyaris sempurna di segala sisi: sinematografi, kostum, scoring, hingga art-direction. Juga dengan naskah hasil Jullian Fellowes yang berhasil merangkum segala sisi sosial, humor, misteri, dan drama dengan menakjubkan yang didukung eksekusi hebat dari Robert Altman. Segala aspek itu menjadikan Gosford Park sebagai film terbaik Altman dari seluruh karyanya yang terbaik. Hebatnya lagi, ia menghasilkannya dalam salah satu karya terakhir dalam hidupnya.

8.0/10