300x250 AD TOP

Tuesday, July 1, 2014

Tagged under: , , , , ,

[Review] The Fault in Our Stars (2014)

"That’s the thing about pain. It demands to be felt." ~ Gus

Ada banyak film yang mengambil sebuah sudut pandang penderita kanker. Tahun ini, mereka kedatangan anggota baru, The Fault in Our Stars. Diadaptasi dari novel berjudul sama dari John Green, The Fault in Our Stars adalah sebuah romcom pahit-manis tentang romasa dua remaja pederita kanker, yang naskahnya ditulis oleh kolaborasi Scott Neustadter dan Michael H. Weber. Di bangku sutradara, ada nama Josh Boone, yang mungkin terdengar cukup asing, mengingat ini adalah karya kedua sang sutradara muda setelah romcom Stuck in Love. Sementara itu, lini cast-nya dipimpin oleh dua bintang muda, Shailene Woodley dan Ansel Elgort, plus pelakon veteran yang juga merupakan anak aktor Bruce Dern, Laura Dern.

Mengambil latar di Indianapolis, Indiana, The Fault in Our Stars adalah kisah dari sudut pandang seorang gadis 16 tahun, Hazel Graze Lancaster (Shailene Woodley). Ia bukanlah gadis biasa, di tengah usianya yang belia, ia harus berjuang melawan kanker tiroid yang kini telah menjalar hingga paru-parunya, yang memaksa Hazel untuk terus bernapas melalui selang dari tabung oksigen yang selalu ia bawa kemanapun. Ibunya, Frannie Lancaster (Laura Dern), percaya bahwa Hazel tengah mengalami depresi, dan memutuskan untuk memasukkan Hazel ke dalam support group di mana orang-orang seperti dia berkumpul. Meski Hazel awalnya menolak, dengan terpaksa ia pun bergabung dengan kelompok tersebut, hanya agar ibunya senang.


Ketika telah bergabung dengan support group tersebut, ia tak merasa banyak perubahan dalam kehidupannya yang ia anggap membosankan, kecuali ia harus pergi ke support group, yang menurutnya malah membuat hidupnya tambah membosankan. Tapi, itu tak bertahan lama. Hidupnya seketika berubah, setelah pertemuannya dengan anggota baru kelompok tersebut, Augustus 'Gus' Walters (Ansel Elgort), seorang penderita kanker tulang yang berhasil bertahan hidup setelah ia mengamputasi kaki kirinya. Tak seperti lainnya, Gus adalah pribadi menyenangkan, yang membuat mereka berdua menjadi cepat akrab. Mereka bertukar pikiran, hingga bertukar hobi masing-masing. Salah satunya adalah saat Hazel memberi Gus novel favoritnya yang berjudul An Imperial Affliction karya Peter Van Houten (Willem Dafoe). Sampai di titik ini, Hazel mungkin saja akan mendapatkan kejutan terbesar dalam hidupnya.

Ya, sebagai romansa remaja berbumbu drama pilu, ini mungkin sedikit cheesy. Tapi, apakah ini dangkal? Sama sekali tidak. Naskahnya begitu sederhana, tak banyak kompleksitas secara cerita, namun itu sama sekali bukan masalah, karena kisahnya sendiri telah menawarkan kompleksitas secara emosi yang mampu digali dengan baik. Di tengah tragedi yang datang silih berganti, ia rupanya masih punya banyak kekuatan untuk membawa humor-humornya yang penuh tawa. Takaran pengaduk emosi hadir dengan porsi pas, tanpa pernah terasa dikemas dengan berlebihan. Akhirnya, ini bukan melodrama yang luar biasa manipulatif, memang banyak mengunang air mata, namun The Fault in Our Stars lebih memilih membawa semuanya dengan kejujuran, membiarkan penonton hanyut dalam tiap karakter. The Fault in Our Stars memang dekat dengan kematian, namun ini sama sekali bukan tentang itu.


Tapi, meski memang tak memiliki struktur teramat kompleks, The Fault in Our Stars tetaplah menyimpan sebuah belokan tajam yang seketika merubah pandangan penonton. Awalnya, ini memang terlihat kisah tentang bagaimana agar permintaan terakhir Hazel dapat terpenuhi, namun ketika kita hampir sampai di titik itu, semuanya seketika berubah. Well, not that kind of shock you got from The Prestige, but still pretty shocking. Ada perubahan atmosfer yang benar-benar drastis, namun di sisi lain, ini membuat segala hal menjadi lebih berwarna, membuat The Fault in Our Stars tak melulu menyampaikan sebuah kisah yang itu-itu saja. Meski memang, secara keseluruhan naskahnya bukanlah hal yang luar biasa.

Arahan seorang Josh Boone sejujurnya, juga bukanlah suatu hal yang sangat istimewa. Tapi, perlu diakui, bahwa ia telah melakukan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Boone mampu membawa The Fault in Our Stars sebagai kisah yang bukan hanya dipenuhi kisah pilu dan kematian, tapi tetaplah sebuah romansa manis dan penuh cinta. Ia mampu bertutur sebuah kisah tentang sekumpulan manusia yang bergelut dan mencoba bertahan dari penyakitnya, namun di satu sisi tetap mampu menuturkan kisah yang kaya akan spirit positif dan ketika mencoba menggali sisi romansa, ia mampu membuat siapapun tersenyum sednri. Ini tetaplah sebuah tearjerker sejati, namun arahan Boone selalu ampuh dalam mengundang tawa yang hadir dengan ruang yang cukup banyak.


Sebagai sentral film ini, ada Shailene Woodley, yang telah teruji lewat The Descendants, sekali lagi memberikan penampilan manis dan memilukan sebagai Hazel Grace. Dengan tabung oksigen yang ia bawa kemanapun, ia bukan tipe wanita cengeng yang hanya ingin dikasihani, Woodley berhasil mendefinisikan sosok wanita pemberani dalam dunia 'nyata', tanpa harus bergulat dengan stereotip wanita berfisik sempurna, tanpa perlu terus terjebak dengan karakter sejenis Erin Brockovich atau Natasha Romanoff. Well, although the buzz is not that strong, this role might give her another chance for her first Oscar nomination, after AMPAS failed to recognize her in The Descendants.

Shailene Woodley bukan satu-satunya penampil memukau di sini. Ya, di lain sisi, karakter Shailene Woodley sendiri juga hidup berkat kharisma Ansel Elgort. Lewat Augustus, Elgort mampu membawa tiap keceriaan dalam kisah pedih ini. Diluar keadaannya, ia adalah sosok kharismatik, ceria, doyan berkelakar dengan senyuman pembunuh. Ia adalah penggombal luar biasa dengan perkataan-perkataan puitis, namun kita tahu bahwa itu semua memang datang dari dalam dirinya. Bagian terbaiknya ada ketika Woodley dan Elgort berada dalam satu frame. Tak hanya kokoh, chemistry yang terbentuk terasa sangat tulus, yang mungkin mampu membuat siapun lupa bahwa apa yang ada di depan mata mereka bukanlah sesuatu yang nyata.


Tapi, adalah Laura Dern yang memberikan penampilan 'menyakitkan', meski ia merupakan salah satu karakter yang hadir dengan keadaan sempurna. Seperti yang Hazel katakan sendiri, "the only thing worse than biting it from cancer was having a kid bite it from cancer," dan ia memang benar. Look at her facial expressions. Setiap saat, ia mungkin terlihat ceria. Ia selalu tersenyum, tapi tentu senyum itu semua hanyalah cerminan dari apa yang ia telah lewati selama ini. Semua tahu bahwa di wajahnya tersembunyi sakit yang luar biasa, namun ajaibnya senyum dan optimisme itu tetap ada. Screentime yang ia miliki boleh jadi tak lama, tapi dengan penampilan memukaunya, ia mampu membekas di hati siapa saja.

Ini memang bukan romansa coming-of-age terbaik yang pernah ada. Sebagai tontonan coming-of-age pula, ini belum bisa menyentuh level yang pernah diraih The Spectacular Now atau pun The Perks of Being Wallflower. Tapi, sebagai sebuah romansa tearjerker khas remaja, The Fault in Our Stars is an emotional rollercoaster anyone could ask for. Cengeng? Ya. Tapi, apa salahnya? Toh, ia tak pernah melakukannya dengan berlebihan. Hadir dengan porsi cukup seimbang, banyak tawa yang tercipta di perjalanannya menuju sebuah kisah cinta manis-pahitnya. Cast-nya gemilang dengan chemistry Shailene Woodley dan Ansel Elgort yang tak terpisahkan serta Laura Dern yang tak boleh dilewatkan. Naskahnya mungkin bukan sebuah terobosan, tapi sebagai sebuah adaptasi novel, kesetiannya sudah lebih dari cukup. Sementara itu, arahan dari Boone juga mampu membawa penonton terhanyut dalam kisahnya, merasakan apa yang mereka rasakan, bersuka cita dan berduka bersama para karakternya. And, that's what matters most.



0 comments:

Post a Comment