300x250 AD TOP

Thursday, May 29, 2014

Tagged under: , , , , , , ,

[Review] X-Men: Days of Future Past (2014)

"You're afraid. I remember." ~ Professor Charles Xavier

Pamor X-Men, dengan tokoh andalannya Wolverine, boleh jadi tak seterang Spider-Man, Superman, Batman, atau komik superhero lainnya. Tapi, perlu diingat, eksistensi selama 13 tahun dalam industri perfilman itu bukan main-main. Di mulai dari X-Men (2000) yang pertama kali mempertemukan kita dengan Wolverine, Professor X, dan Magneto, kemudian berlanjut pada sekuel-sekuelnya hingga dihidupkannya kembali franchise ini lewat X-Men: First Class (2011), dan yang teranyar, sebuah standalone dari Wolverine dan tentunya sekuel bagi X-Men: First Class dan X-Men: The Last Stand sekaligus, yaitu X-Men: Days of Future Past.

Tak hanya dibintangi Jennifer Lawrence, James McAvoy, dan Michael Fassbender dari X-Men: First Class, kini bergabung pula Hugh Jackman, Ian McKellen, Patrick Stewart, dan Halle Berry dari X-Men sebelum-sebelumnya. Untuk menangani proyek krusial ini, mengingat ada beban berat yang dipikulnya, tentu bukan sembarang orang yang dipilih. Dengan menggaet kembali Bryan Singer, orang yang berada di balik kesuksesan X-Men serta X-Men 2, di bangku sutradara, dan gagasan cerita dari trio Jane Goldman, Simon Kinberg, dan Matthew Vaughn, yang sebelumnya berjasa dalam menghasilkan X-Men: First Class, ini adalah winning team yang benar-benar ampuh. Namun, benarkah?


Dibuka dengan penuh ketegangan, kita diperkenalkan dengan dunia dystopian di mana mesin pembunuh bernama Sentinel berkeliaran untuk membasmi para mutan serta menindas para keturunan mutan-manusia. Ketika populasi mutan telah terancam, sekelompok kecil mutan, yang terdiri dari Bishop (Omar Sy), Blink (Fan Bingbing), Sunspot (Adan Canto), Warpath (Booboo Stewart), Colossus (Daniel Cudmore), serta Iceman (Shawn Ashmore), selamat berkat bantuan Kitty Pryde (Ellen Page), mutan yang mampu memproyeksikan pikiran seseorang ke masa lalu.

Untuk menyelatkan mutan dari ancaman Sentinel, kelompok ini kemudian bertemu dengan Wolverine (Hugh Jackman), Professor X (Patrick Stewart), Magneto (Ian McKellen), serta Storm (Halle Berry) di sebuah biara di Cina. Caranya, adalah dengan mengirim kesadaran Wolverine kembali ke tahun 1973 dan menggagalkan usaha Mystique (Jennifer Lawrence) untuk membunuh Dr. Bolivar Trask (Peter Dinklage), otak dibalik terciptanya Sentinel, yang sebenarnya tercipta berkat DNA Mystique yang diambil setelah ia membunuh Trask. Untuk mencegah Sentinel diciptakan dan mencegah kepunahan para mutan di masa mendatang, Wolverine juga membutuhkan bantuan versi muda dari Professor X (James McAvoy) dan Magneto (Michael Fassbender).


Goal-nya sederhana: menghentikan langkah Raven yang dapat membahayakan dunia mutan di masa depan. Tapi, tak sesederhana kedengarannya: narasi sesak akan puzzle yang terpecah, penuh layer, dan lompatan waktu di sana-sini. Dalam merangkai tiap bagian dalam naskahnya, upaya Simon Kinberg terbilang sukses besar dengan mengangkat drama matang yang dikelilingi kekuatan super plus humor-humor komikal, sekalipun tak sepenuhnya mulus. Tak sampai di situ, upayanya untuk membuat para fanboy berteriak histeris patut diacungi jempol, dari mengirim Wolverine, karakter paling dikenal dari universe X-Men, ke masa lalu ketimbang Kitty seperti dalam komik aslinya, merangkul karakter-karakter lintas generasi sekaligus, hingga mempertemukan Charles Xavier dengan Charles Xavier dalam 1 frame! Dengan mengambil latar belakang perjalanan waktu yang dihiasi suasana dystopian yang juga membawa banyak aroma humanity di dalamnyaX-Men: Days of Future Past hadir tidak hanya dengan narasi menghentak dan serba besar a la film superhero tipikal, tapi juga cerdas dan thought-provoking. The smartest X-Men film to date!

Sebagai sebuah film action, aksinya begitu infeksius. Tak sekadar menghancurkan apapun yang ada di depan mata, tapi lebih dari itu, ketegangan ditingkatkan pula secara intensif. Bryan Singer secara cerdas berhasil menawarkan porsi berimbang bagi aksinya, tanpa menutupi narasinya secara keseluruhan. Mencapai bagian klimaks, mungkin tak akan ada pertarungan yang benar-benar masif seperti film-film sejawatnya (sekalipun pertarungan itu tetap ada dan melibatkan sebuah stadion), namun tak berarti klimaks yang dihadirkan begitu mentah. Bukan Bryan Singer namanya kalau ia tak dapat mengemasnya secara apik dan epic. Dengan pengemasan penuh lapisan dari 2 waktu sekaligus serta suntikan emosional yang bertubi-tubi, klimaks ini tak hanya mampu dibungkus dengan penuh keseruan, tapi juga meninggalkan emosi yang mendalam. Sebuah hal yang mungkin jarang kita temui di tengah serbuan film pahlawan super akhir-akhir ini yang meninggalkan penonton hanya dengan keseruan belaka.


Adalah tugas berat bagi Bryan Singer untuk menggabungkan sebuah cast raksasa dalam 131 menit. Bahkan lebih berat ketimbang The Avengers yang menggabungkan 6 pahlawan super sekaligus, X-Men menawarkan jauh lebih banyak mutan, dan tak tanggung-tanggung, mereka hadir dalam 2 generasi yang berbeda. Ya, dan Bryan Singer sukses memberi ruang bagi para aktornya untuk berkembang, meski halangan itu tak bisa dipungkiri. Ada banyak aktor langganan Oscar di sini. Dari Wolverine, Magneto, Mystique, Kitty, Storm, hingga Rogue, beberapa dari mereka setidaknya hampir merasakan rasanya memegang Oscar statue, bahkan beberapa telah membawanya pulang (Jennifer Lawrence, Halle Berry, dan Anna Paquin), meski sayang, Halle Berry dan Anna Paquin terkesan dihadirkan hanya untuk menghapus rasa haus para diehard fans

Jennifer Lawrence, tentu menjadi fokus, karena posisi vitalnya dalam narasi. Sebagai Raven/Mystique yang hidup dalam ketakutan dan kehilangan arah, ia dingin, manipulatif, tangguh, dan tak banyak omong. Hugh Jackman sebagai si easy-going Wolverine, James McAvoy sebagai Professor X versi putus asa, Michael Fassbender sebagai mutan abu-abu, hingga Peter Dinklage si villain mungil juga hadir memuaskan. Namun, dari sekian banyak mutan berseliweran, Quicksilver alias Evan Peters adalah sang scene stealer. Dengan pembawaan eksentrik, penampilan komikal, hingga kemampuannya yang membuat siapapun berdecak kagum, ia mungkin merupakan everybody's favorite now. Mungkin hanya satu kekurangannya: screentime yang harusnya lebih banyak!


Sedikit berbeda dengan film superhero pada umumnya, tak ada karakter yang benar-benar berada di jalur hitam. Mystique, sekalipun ia merupakan ancaman besar bagi dunia mutan, ia tetaplah tak lebih dari sekedar gadis yang kehilangan jati dirinya. Sama halnya dengan Magneto, di luar mindset 'kill-or-be-killed'-nya, kita selalu tahu hubungan frenemy-nya dengan Professor X. Sedangkan villain lain dalam film ini, Bolivar Trask, pria di balik mesin pembunuh Sentinel, juga tak bisa dikatakan sebagai villain sejati. Di balik tubuh 4 kakinya, ia bukan seseorang yang benar-benar hidup dalam area hitam. Ia hanyalah seorang manusia yang tak mampu memahami para mutan, dan terperangkap dalam ketakutan. Dengan memanfaatkan batas hitam-putih ini, Bryan Singer dengan cerdik mampu meraih simpati dari siapapun karakternya, termasuk dari sang antagonis itu sendiri.

Lewat Days of Future Past, X-Men kembali membuktikan eksistensinya di tengah serbuan para karakter Marvel Comics lain seperti Avengers, Guardians of the Galaxy, hingga si individualis Spider-Man. Tajam, namun menyenangkan. Garang, namun emosional. Ini jelas bukan lah kualitas Bryan Singer yang kita temukan pada Superman Returns apalagi Jack the Giant Slayer, ini adalah Bryan Singer baru yang pernah kita lihat di karya-karya terdahulunya. Didampingi departemen teknikal kelas wahid dan labelnya yang serba lebih; lebih besar hingga lebih kacau (in a good way), X-Men kali ini bukan hanya sebuah pengeruk dollar di tengah musim panas, di saat yang sama ia juga menawarkan keseruan tak terbatas dalam drama mutannya yang kompleks dan penuh pemikiran serta emosi, pacing cepat dan tepat dari Bryan Singer, sampai mega-cast bertabur bintang yang mampu bersinar tanpa henti. Epic, epic, epic!



0 comments:

Post a Comment