300x250 AD TOP

Sunday, January 6, 2013

Tagged under: , , , ,

[Review] Life of Pi (2012)

"God, thank you for giving me my life. I am ready now." ~ Pi Patel

Ang Lee adalah salah satu sutradara terhebat masa kini yang serba bisa. Coba lihat, film seni bela diri? Crouching Tiger, Hidden Dragon memiliki segalanya. Drama romansa yang agak nyeleneh? Ada Jake Gyllenhaal dan Heath Ledger di Brokeback Mountain. Dan sekarang, adaptasi dari novel unfilmable? Maka Life of Pi lah yang merupakan jawaban paling tepat. Oke, mari sejenak lupakan nilai merahnya dalam Hulk. Bukankah setiap sutradara, bahkan yang sehebat Steven Spielberg sekali pun, punya catatan buruk? Kecuali Stanley Kubrick, mungkin. Kembali ke Life of Pi, rasanya setiap orang harus menghapus setiap embel-embel novel yang tak akan bisa diadaptasi dalam bentuk film. Contoh lain, ada Cloud Atlas yang akhirnya juga muncul dalam layar perak dengan sambutan yang lumayan positif, meski tak sehangat Life of Pi. Atau sebelum-sebelumnya, sebut saja ada Watchmen yang fenomenal dengan durasi panjang itu.

Sebelumnya, mungkin bagi beberapa orang yang begitu asing dengan novelnya akan bertanya-tanya, "mengapa orang-orang mengkategorikan Life of Pi sebagai novel unfilmable?". Pertanyaan bagus. Pertama, tema yang penulis novel ini, Yann Martel, sampaikan sebenarnya cukup berat, tentang eksistensi Tuhan, dan ini tentu harus menyinggung persoalan agama. Kedua, siapa yang bisa memfilmkan sebuah novel tentang  seorang remaja yang terjebak di tengah lautan dengan zebra, orangutan (biasa saja?), hyena (mulai terdengar mengerikan..), dan harimau bengal (ini klimaksnya)? Di tengah perjalanan kisahnya pun, banyak terdapat adegan yang membutuhkan visual hebat. Butuh CGI yang benar-benar hebat, tentunya dana yang besar pula. Lalu, siapa yang bisa? Mungkin dulu, jawabannya tak ada, tapi kini, Ang Lee tentu bisa mengadaptasi novel yang bukan hanya secara teknikal sangat sulit, tapi juga ketidakbiasaan novelnya.


Life of Pi, tak usah membaca sinopsis pun, mungkin anda sudah akan tahu akan bercerita tentang apa film ini. Tapi, mungkin harus anda pikirkan lagi kalau anda merasa tahu akan dibawa kemana kisah Pi ini, karena sungguh, kisahnya benar-benar menakjubkan dan sulit dipercaya. Film dibuka oleh opening credits yang menujukkan tenangnya suasana kebun binatang, sambil memamerkan teknologi 3D-nya. Pi Patel (Suraj Sharma) memang merupakan seorang remaja dan anak dari seorang pemilik kebun binatang, Shantosh Patel (Adil Hussain) dan seorang ahli botani, Gita Patel (Tabu). Pi juga memiliki seorang kakak bernama Ravi (Vibish Sivakumar). Pi, sejatinya bukan diambil dari konstanta matematika, tetapi dari nama sebuah kolam renang di Paris, Piscine (bukan pissin') Molitol. Masa kecilnya bukan dihabiskan dengan bermain dan bermain. Berbeda dengan anak seusianya saat itu, ia malah tertarik dengan agama. Meski terlahir sebagai seorang Hindu, namun karena ketertarikannya pada Tuhan dan agama, ia pun akhirnya memeluk 2 agama lain sekaligus, Kristen dan Islam.

Suatu saat, ia dan keluarganya harus pergi ke Kanada, dan menjual binatang-binatang di kebun binatang mereka. Dengan kapal bernama Tsimtsum, mereka pun berlayar mengarungi Samudera Pasifik. Namun, di tengah perjalanan, sebuah badai yang sebenarnya tak terlalu besar terjadi. Meski diperkirakan takkan membuat kapal tersebut karam, akhirnya kapal itu karam juga. Tak banyak yang selamat dari tragedi itu. Yang selamat hanyalah seekor hyena, zebra berkaki patah, Orange Juice (jangan tertipu, ini adalah nama orangutan), Richard Parker (yang sebenarnya merupakan nama seekor harimau bengal), dan remaja India bernama Pi Patel yang semuanya berhasil masuk sekoci. Sisanya? Mereka telah tenggelam ke dasar laut. Tinggalah Pi sendiri sebagai satu-satunya manusia yang selamat. Entah bagaimana hewan-hewan ini bisa lepas, namun Pi harus menghadapi kenyataan, bahwa ia harus bertahan, bertahan hidup dari kerasnya alam dan ganasnya Richard Parker yang dapat menerkamnya kapan saja. Tapi, di atas semua itu dan yang terpenting, kisah ini akan membuat anda percaya akan keberadaan Tuhan.


Jujur, saya tahu novelnya setelah mendengar film ini akan rilis (dan segera membacanya), dan reaksi pertama saya adalah heran. Entah heran atau terkesima, karena bagi saya, cerita yang ditawarkan memang sedikit out-of-the-box. Dengan mengambil sedikit unsur a la James Cameron dalam Titanic dengan Robert Zemeckis dengan Cast Away-nya, namun hasilnya malah sangat unik dan bahkan punya nilai orisinalitasnya tersendiri. Saya juga pernah mendengar bahwa novelnya sendiri menyentil sisi-sisi agama. Mungkin bukan menyentil lagi, tapi sudah menyentuh hampir keseluruhannya, karena tema novelnya sendiri memang tentang itu, hanya saja dengan media kisah Pi tadi. Saya pun, belum tahu nantinya di bagian mana akan ada sisi-sisi agama yang ditonjolkan, dan mungkin saja, akan mengundang kontroversi karena temanya sensitif.

Saya salah total tentang itu. Film ini (dengan novelnya, tentu saja), benar-benar cerdas! Ia memang menampilkan sisi sensitif itu, namun caranya benar-benar cerdas dan berbeda dengan film mainstream bertema sama. Ya, dengan cara memakai sudut pandang seorang anak kecil yang masih lugu, Life of Pi dapat menyampaikannya secara berbeda, dan tentu saja tanpa perlu kontroversi besar-besaran. Mengambil setting India yang kaya akan agama, Pi menjalani masa kecilnya yang 'labil' dalam sebuah perjalanan spiritual yang unik. Dengan 'menjelajahi' satu agama ke agama lain, Pi kecil mencoba untuk mengenal Tuhan secara dekat. Cara yang manis dan lugu, meski di satu sisi, itu aneh.


Sebagai sutradara, Ang Lee sangat berhasil mengarahkan setiap aspek penting dan detail-detail film ini, terutama Suraj Sharma yang untuk pertama kalinya membintangi sebuah film. Dan sekali lagi, ia membuktikan kapasitasnya sebagai seorang sutradara serba bisa, dan (sangat) mungkin merupakan sutradara berdarah Asia terbaik saat ini. Ia kembali memberikan penyutradaraan yang kuat sekaligus emosional, layaknya film-film terdahulunya seperti Brokeback Mountain yang tenang atau Crouching Tger, Hidden Dragon yang indah. Segala kesengsaraan mampu dihadirkan Ang Lee dengan sangat baik lewat atmosfernya yang cukup sepi, namun tak jatuh membosankan karena Ang Lee memang pandai menjaga tensi film ini sendiri.

Tapi, pekerjaan Ang Lee akan terbuang sia-sia jika tak ada skenario yang ditulis oleh David Magee juga sia-sia. Tentu saja ini tidak terjadi. David Magee tetap dapat 'menerjemahkan' lembaran-lembaran kertas menjadi frame demi frame film. Tak lupa, ia tak meninggalkan dialog-dialog pengundang tawa yang ada dalam beberapa dialog dalam novelnya, bahkan kali ini, ia menambahkan lebih banyak lagi dialog-dialog yang cukup membuat anda, minimal tersenyum. Penambahan tokoh Anandi dalam film yang sebenarnya tak ada dalam novel juga merupakan langkah tepat bagi saya. Selain menujukkan sisi remaja Pi, side story ini juga memberikan kontribusi besar bagi cerita serta esensi yang lebih dalam, meski porsi tokoh Anandi ini tak terlalu banyak.


Suraj Sharma, yang terpilih diantara lebih dari 3000 peserta casting lain, memang merupakan pilihan tepat untuk Pi. Ang Lee memang (hampir) selalu benar, kan? Dengan segala emosi dan mimik yang sangat mendukung, Sharma berhasil menghidupkan tokoh Pi. Indikator keberhasilan Suraj Sharma juga terletak pada posisinya yang merupakan sebuah jembatan para penonton untuk mendapatkan setiap materi film ini. Kerasnya alam, kesengsaraan, hingga kesendirian ditumpukan hanya pada karakternya, (meski Richard parker juga ikut andil di dalamnya) sebagai satu-satunya makhluk hidup berakal yang selamat dari tragedi tenggelamnya Kapal Tsimtsum. Lalu, apakah kita dapat merasakan apa yang Sharma berikan? Jawabannya sudah tentu, ya. Dan itu, bagi saya adalah indikator, bahwa Suraj Sharma telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Irrfan Khan, mungkin sebagai satu-satunya aktor yang bukan aktor tak dikenal dalam Life of Pi yang pernah bermain dalam reboot Spiderman, The Amzaing Spider-Man, juga tak pantas dilupakan. Sebagai Pi Patel dewasa, ia dapat merefleksikan Pi muda, meski sifatnya tentu sudah tak liar lagi. Tapi, mungkin Shuraj Sharma harus memberikan rasa terima kasih terbesarnya pada sang harimau bengal, Richard Parker, meski sebagian besar scene yang kita lihat merupakan hasil olahan komputer alias CGI (anyway, it looks very real!). Tapi terbukti, meski hampir full-CGI, namun nyatanya Richard Parker tetap mampu menjalin hubungan erat dengan Suraj Sharma, hubungan dengan makhluk alpha dan omega.


Ya, Life of Pi memang sangat berhutang budi pada visual-effects yang dipimpin oleh Bill Westenhofer, yang telah terbukti kehandalannya lewat The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe; dan bahkan Oscar yang diraihnya lewat The Golden Compass. Sulit dipercaya bahwa Richard Parker adalah makhluk semi-CGI, meski kalaupun dalam semua scene yang melibatkan Richard Parker bukanlah hasil komputer, semuanya malah lebih sulit dipercaya lagi. Bukan hanya Richard Parker kreasi departemen ini, dari makhluk sekecil hyena dan ikan terbang, hingga paus bungkuk dan cumi-cumi raksasa, semuanya adalah CGI. Sulit dipercaya? Huh, sangat sesuai dengan taglinenya, "Believe the unbelievable".

Life of Pi adalah film dengan tema mainstream yang bertutur dengan cara anti-mainstream. Ang Lee dan kawan-kawannya mampu menghadirkan esensi emosional yang ada tanpa kehilangan setiap esensi novelnya, dan memberikan anda sebuah pengalaman sinematik dan visual yang maha dahsyat. Tanpa perlu penuh jajaran aktor yang sangat populer (kecuali Irrfan Khan), Life of Pi ternyata dapat menghadiahkan sebuah performa yang sangat baik dari cast-nya. Kredit terbesar jatuh pada Suraj Sharma yang berhasil menghidupkan karakter Pi dengan sebaik-baiknya, juga Richard Parker dan Irrfan Khan. Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas Life of Pi telah berhasil menghidupkan tema eksistensi Tuhan tanpa menggurui sama sekali yang hadir dengan cara yang unik dan orisinil. Didukung oleh visual-effects dan teknologi 3D yang hebat pula, Life of Pi berhasil menjelma menjadi salah satu film terbaik dalam dekade ini. Sebuah masterpiece langka yang unbelievable, yang bukan hanya muncul sekali dalam beberapa tahun saja, tapi mungkin juga hanya muncul hanya sekali ini, dan tak akan pernah ada lagi.

2 comments:

  1. Life of Pi tuh film yang bener2 bikin kita…merenung tntang iman & harapan ..
    ane pikir Suraj Sharma sbg aktor yg bner2 pendatang baru jga oke, terutama selama monolognya di akhir2 tuh..

    ReplyDelete
  2. yap, life of pi ini emang keren dan unik bgt perjalanan spiritualnya. suraj sharma jg emang oke. saya jg suka bgt sm twistnya, hehe. anyway, thanks for the comment! :)

    ReplyDelete