300x250 AD TOP

Monday, November 26, 2012

Tagged under: , , , , ,

[Review] Argo (2012)

"The whole country is watching you, they just don't know it." ~ Jack O'Donnell

Hampir semua orang punya bakat terpendam. Tak terkecuali bagi aktor Ben Affleck. Malang melintang di dunia seni peran sejak tahun 1981 hingga akhirnya menjadi salah satu aktor kondang Hollywood. Kemudian, lewat film Good Will Hunting yang rilis 1997, ia mencoba peruntungan menjadi seorang screenwriter bersama dengan Matt Damon. Hasilnya? Di luar dugaan, di debutnya itu, ia langsung diganjar Oscar untuk Best Original Screenplay. Merasa belum puas, ia memulai debutnya menjadi setingkat lebih tinggi, yaitu menjadi seorang sutradara. Dalam debutnya ini, ia menyutradarai film berjudul Gone Baby Gone. Dan sekali lagi, ia mendapat sambutan yang luar biasa hangat. Sambutan yang sama juga diekor oleh film-film Affleck setelahnya, seperti The Town dan yang paling 'bungsu' yang diangkat dari peristiwa sejarah, Argo.

Tentu, mengkonversi sebuah peristiwa sejarah ke dalam 'gulungan' film memang selalu menjadi bahan yang menarik, menantang, sekaligus menjadi pekerjaan berat. Selain butuh hal-hal pokok dalam film non-sejarah lainnya, juga butuh detail yang sebenarnya menjadi nyawa film itu sendiri. Tanpa detail yang mendalam, maka film sejarah ini malah akan terkesan hambar dan mubazir, seakan mengabaikan begitu banyak hal kecil dalam  sebuah perisitwa penting. Chris Terrio, sang penulis naskah, tentu memikul beban berat dalam hal ini. Mampukah ia menjadikan kisah sejarah menarik menjadi suatu hal yang lebih menarik dan intens?


Berlatar di Tehran, Iran, pada akhir 1979, tepatnya 4 November, di saat revolusi Iran telah mencapai puncaknya, militan Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Iran dan menyandera lebih dari 50 staf kedutaan. Namun rupanya, masih ada yang selamat dari peristiwa itu. Mereka adalah Bob Anders (Tate Donovan), Mark Lijek (Christopher Denham) dan istrinya, Cora Lijek (Clea DuVall), Joe Stafford (Scoot McNairy) serta istinya, Kathy Stafford (Kerry Bishé ), dan Lee Schatz (Rory Cochrane). Sebagai tempat pelarian, mereka pun akhirnya bersembunyi di rumah duta besar Kanada, Ken Taylor (Victor Garber).

Dengan situasi yang dirahasiakan, Departemen Luar Negeri AS mencoba mencari cara untuk menngeluarkan 6 orang ini dari Iran. Untuk itu, didatangkalah seorang spesialis CIA, Tony Mendez (Ben Affleck) untuk membantu penyelamatan. Inspirasi Tony Mendez mulai muncul ketika menonton Plante of the Apes di televisi. Dari situ, ia mengeluarkan ide yang sebenarnya agak gila namun cerdas, menyelamatkan sisa 6 orang staf kedutaan tersebut dengan membuat mereka seolah-olah merupakan kru asal Kanada yang berniat membuat sebuah film sci-fi palsu, Argo, yang akan memulai syutingnya di Iran.


Salah satu yang membuat Argo menjadi sangat menarik adalah karena modal ceritanya sendiri, sudahlah menarik. Ya, penyelamatan rahasia lewat dalih sedang dalam proses pembuatan film? Siapa pun tak akan menyangkal bahwa ide itu adalah ide yang sangat cemerlang. Dan ya, itu adalah kisah nyata. Konyol? Mungkin iya. Keren? Mungkin juga. Kreatif? Sangat. Tapi, terlepas dari itu, membuat premis menarik ini menjadi sebuah film tentu merupakan keputusan fatal. Salah sedikit, maka hanguslah seluruh premis menarik itu. Beruntung, film ini ditangani oleh tangan-tangan dingin, sebut saja Ben Affleck, George Clooney, hingga Chris Terrio. Hasilnya pun, sangat memuaskan.

Argo adalah film yang sangat istimewa. Ia merupakan salah satu film yang punya kekuatan emosional tersendiri terhadap penontonnya. Argo dapat mengajak penontonnya untuk merasakan apa yang karakter film itu sendiri rasakan. Bagaimana mereka melewati jalanan Kota Teheran sambil menyembunyikan rasa takutnya. Argo dapat mengajak kita bereuforia bersama 'menikmati' setiap adrenalin, hingga kecemasan dan ketakutan dari setiap 'incinya'.


Ya, itu hanyalah satu dari sekelumit faktor yang membuat Argo istimewa, khususnya bagaimana Ben Affleck mengarahkan film ini. Ben Affleck mampu menghadirkan segala suspense menegangkan yang dipadukan dengan momen historis. Meski merupakan perpaduan fiksi dan non-fiksi, namun Argo tetap dapat tampil dengan detail-detail memukau. Segala momen yang thrilling memang benar-benar dimanfaatkan oleh Ben Affleck dengan baik. Hasilnya? Sebuah porsi suspense yang cool, menegangkan, dan 'nail-biting'.

Segala momen-momen menegangkan ini tentu juga merupakan berkat dari editing cemerlang dari William Goldenberg. William Goldenberg memang sangat tahu bagaimana meramu berbagai scene dan menggabungkannya menjadi satu kesatuan, dan hadirlah sebuah adegan suspenseful yang selalu membuat penasaran, mendebarkan, namun tetap dapat menghibur. Ini semua menjadikan Argo menjadi sebuah thriller yang bukan hanya luar biasa, tapi juga sangat memorable.


Selain itu, tak lupa, screenwriter Chris Terrio juga menambahkan porsi komedi segar dan sukses membuat saya, minimal tersenyum. Komedinya itu ditampilkan lewat dialog-dialog kocak yang sebagian besar 'diambilalih' oleh Alan Arkin juga John Goodman. Naskahnya tak hanya jago dalam membuat orang terhibur dengan line-line humornya, dalam dialog lain, ia juga hadir dengan dialog-dialog nan cerdas. Kembali lagi ke tugas Ben Affleck, ia mampu mengarahkan setiap lembaran naskah dan baris dialog ke dalam bentuk audio visual dengan tetap menarik, namun tak kehilangan setiap esensinya.

Ben Affleck telah berhasil dalam penyutradaraannya, ia pun tak ingin sia-sia dalam hal akting. Ben Affleck dapat menghadirkan sesosok karakter 'muka kayu' yang dingin dan tanpa ekspresi dengan sangat baik. Begitu pula keseluruhan cast. John Goodman sekali lagi menampilkan penampilan classy sebagai John Chambers. Jangan lupakan Alan Arkin yang tampil kocak dengan dialog-dialog ajaibnya. Penampilan dari Clea DuVall, Christopher Denham, Kerry Bishé, Kyle Chandler, Rory Cochrane, dan Tate Donovan juga ikut tampil meyakinkan dalam menginterpretasikan segala ketakutan mereka.


Once again, Ben Affleck membuktikan bahwa ia bukanlah sutradara sembarangan. Ia bukanlah aktor yang sekedar curi-curi kesempatan dalam memulai karirnya sebagai sutradara. Ia bukanlah seorang aktor yang merasa kebosanan dan ingin mencoba hal baru dengan setengah-setengah. Dan, Argo lah puncaknya. Lewat Oscar-Buzz yang satu ini, ia mampu menggabungkan segala sesuatunya dengan takaran serba pas, baik itu humor, suspense, hingga dramanya sekalipun. Tentu, itu bukanlah sebuah pekerjaan mudah. His first Oscar nomination for Best Director? Why not?

Argo adalah dramatisasi sejarah yang luar biasa. Seluruh jajaran akting, naskah, penceritaan, suspense, humor, hingga editing mampu tampil sangat memuaskan tanpa celah berarti. Naskahnya tampil kuat didukung dengan cerita yang unik, terlebih seluruh script-nya mampu diterjemahkan dengan baik oleh Ben Affleck. Ensemble cast juga mampu hadir dengan sangat solid. Suspensenya mampu memacu jantung lebih lagi, yang juga didukung kekuatan editing yang mumpuni. Ya, hanya disini jantung saya berdetak kencang hanya karena  sisa mesin penghancur kertas. Semua itu dipermanis lagi dengan porsi humor pas yang menggelitik. Argo is more than thrilling and entertaining, it's powerful and fantastic.

0 comments:

Post a Comment