Wednesday, February 8, 2012

Tagged under: , , , ,

[Review] The Girl with the Dragon Tattoo (2011)

"You need to stop talking." ~ Lisbeth Salander

Tahun 2011 kemarin mungkin menjadi tahun dimana kita dihujani film-film berkualitas. Tahun 2011 kemarin kita juga kembali disuguhkan oleh satu lagi karya David Fincher. Sutradara kawakan Hollywood yang terlebih dahulu telah terkenal lewat film-film thrillernya seperti Se7en, Fight Club, dan Zodiac. Dan kali ini, Fincher kembali lagi dengan The Girl with the Dragon Tattoo yang mengadaptasi sebuah seri novel pertama berjudul sama dari sebuah trilogi yang ditulis oleh Stieg Larsson (bisa juga dibilang remake dari sebuah film Swedia, Män som hatar kvinno yang juga telah terlebih dahulu mengadaptasi novel ini).


Film ini menceritakan tentang seorang wartawan majalah Millenium, Mikael Blomkvist (Daniel Craig), yang terpaksa harus terlibat dengan hukum dan dituntut untuk membayar bayaran sebesar 600.000 kronor akibat dituduh memfitnah seorang pengusaha sekaligus milyuner, Hans-Erik Wennerström. Sesuai judulnya, The Girl with the Dragon Tattoo memang menceritakan seorang gadis bertato naga. Disamping ada kisah Mikael ini, di lain sisi, ada kisah tentang seorang hacker wanita, Lisbeth Salander (Rooney Mara). Ya, dialah si wanita bertato naga ini. Wanita ini memang berpenampilan berbeda dengan manusia lainnya. Rambut yang sering dimodel dengan model rambut aneh-aneh, wajah penuh tindikan, gaya berpakaian yang 'punk', dan caranya bergaul dengan orang lain yang cenderung cuek serta sifatnya yang cenderung sembrono namun juga cerdas. Terlepas dari penampilannya yang nyeleneh, tersimpan sebuah masa lalu kelam yang tersembunyi.


Suatu hari, Henrik Vanger (Christopher Plummer), seorang pengusaha tua kaya memutuskan untuk menyewa Mikael untuk menyelidiki sebuah kasus 40 tahun lalu yang bahkan sampai sekarang belum terungkap. Mikael yang masih berada dibawah bayang-bayang hukum ini ternyata menerimanya dan ia pun terpaksa harus pindah ke Hedestad, tempat dimana keluarga Vanger tinggal. 40 tahun lalu, terjadi sebuah tragedi dimana cucu Henrik Vanger, Harriet menghilang secara tiba-tiba. Henrik sendiri, mengira bahwa cucunya tersebut telah dibunuh oleh salah satu dari anggota keluarga Vanger yang katanya serakah ini. Jika memang benar, maka mungkin saja, pembunuh Harriet masih hidup dan masih berkeliaran di kawasan kediaman keluarga Vanger.


Tak ada yang mengira dan memperkirakan, bahwa karakter Lisbeth Salander berhasil dibawakan dengan sempurna oleh Rooney Mara. Ya, layaknya sebuah twist ending, tapi itulah kenyataannya. Tak kalah dengan Noomi Rapace, pemeran Lisbeth sebelumnya, Mara mampu tampil sebagai karakter hitam dan kelam dengan segala aura misterius yang mengemasnya. Satu hal lagi yang patut diacungi jempol, Rooney Mara dapat menyelami karakter Lisbeth tanpa adanya 'unsur-unsur' Noomi di dalamnya. Selain dari kemampuan aktingnya yang memukau, ia juga rela mengubah penampilannya dengan gila-gilaan. Lihat saja perubahan penampilannya yang benar-benar ekstrim jika dibandingkan dengan film yang sebelumnya ia bintangi, The Social Network dimana ia berpakaian 'normal'. Tentu saja, kerja kerasnya ini sangat pantas untuk diapresiasi, termasuk oleh Oscar yang telah memberinya sebuah nominasi pertamanya dalam penghargaan tertinggi bagi film-film Hollywood ini.


Oh, tak adil rasanya kalau kita hanya memuji Rooney Mara disini. Tentu saja kita tak melupakan Daniel Craig sebagai Mikael Blomkvist. Daniel Craig juga menampilkan performa memukaunya sebagai seorang wartawan sebuah majalah sekaligus detektif, meskipun tak dapat dipungkiri karakternya tak dapat tampil begitu bersinar mengingat disini ada Rooney Mara yang memerankan karakter Lisbeth dengan amat baik.

Fincher memang benar-benar hebat. Dengan penyutradarannya yang tingkat dewa, ia berhasil membawa kisah gadis betato naga di punggungnya ini tampil dengan lebih mencekam dan hitam serta lebih thrilling dari versi Swedianya. Terang saja, ini memang bidangnya, yaitu membuat film-film yang memang berhiaskan tensi-tensi menegangkan. Tak ketinggalan, demi menaikkan tensi ketegangan tersebut, Fincher menambah porsi kekerasan seksual yang dihadirkan dengan kadar yang lebih eksplisit ketimbang Män som hatar kvinn. 


Belum puas? The Girl with the Dragon Tattoo juga menyajikan musik pengiring yang dahsyat dan teatrikal yang juga menjadi pengiring diantara adegan-adegan sarat tensi ketegangan. Diimbagi dengan sinematografinya yang menyajikan visual artistik. Tak ketinggalan dengan editingnya yang mumpuni. Oscar pun tak ragu lagi untuk memberikan 4 nominasinya untuk Sound Mixing, Sound Editing, Cinematography, dan Film Editing kepada film ini. Ah, betapa lengkapnya.

Tak peduli ini merupakan adaptasi novel ataupun remake dari film Swedia, tapi yang pasti Fincher kembali menghasilkan tontonan menghibur dengan tak meninggalkan sesuatu yang memang 'kekhasan' Fincher. Kalau boleh membandingkan, jujur saja, saya lebih menyukai film ini ketimbang versi Swedianya. Namun, tak dapat dipungkiri, versi Swedianya juga tetap memiliki kharismanya sendiri. Yang jelas, Fincher did it again!

8.5/10

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This mvie ws so cool and I loved to watch it :)
    esp abt watch er habit, style, and everything she did... :)

    uu,, Cool. "U need 2 stop talking" ;)

    ReplyDelete